Di ufuk timur, sang mentari mulai merangkak naik ke atas permukaan. Bersiap menjalankan tugasnya untuk menyinari bumi selama 12 jam. Embun-embun menempel di dedaunan hijau, terlihat segar.
Aroma roti panggang menyerobot masuk ke indra penciuman. Bunga-bunga ditata sedemikian rupa agar menarik perhatian peminat, suara besi yang ditempa merambat ke telinga siapa saja yang lewat di depan toko pedang. Anak-anak berlarian kesana-kemari, menabrak tanpa sengaja paha orang dewasa yang berlalu-lalang di sekitar. Pusat kota Kerajaan Humanuous yang permai.
Sayang, keadaan itu tak berlangsung lama. Suara terompet yang familiar menggema ke seluruh pelosok. Tak lain tak bukan berasal dari menara pengawasan di wilayah paling luar Kerajaan. Kain hitam digoyangkan dengan cepat dari atas sana. Hitam yang menandakan keadaan darurat.
Burung-burung terbang tak beraturan melewati langit Kerajaan Humanuous. Suara yang hewan itu keluarkan membuat bergidik para manusia. Berusaha tenang, mereka perlahan berjalan menuju rumah masing-masing tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Toko-toko yang tadinya ingin dibuka dengan segera ditutup kembal, tak ada waktu untuk mengevakuasi barang dagangan. Keringat dingin yang mengalir di pelipis tak dipedulikan.
"SERANG DAN HANCURKAN SEGALA YANG ADA! HAHAHA!"
Dan tepat setelah itu, teriakan mulai bersahutan. Tentu saja, tak akan ada yang merasa tenang saat musuh mulai menyerang.
Bala pasukan Kerajaan dikerahkan untuk melawan. Sepatu kuda bersuara nyaring beriringan dengan suara gagah para prajurit. Pedang berpadu dan menimbulkan suara yang tak kalah keras.
Penyihir melemparkan bola api dari atas, pasukan iblis membantu dari belakang. Kerajaan Humanuous dikepung di segala penjuru arah. Terdesak di pertempuran dalam kurun waktu singkat.
"AAAAAAAKH!"
"TOLONG AKU! TO-HMMPP-"
"MMHHMPP... LEPASKAN!"
.
.
.
Halilintar POV
"Hah!"
Bangun pagi yang seharusnya membahagiakan malah jadi suram begini.
"Sial, ...mimpi itu lagi,"
Aku benci iblis, sangat-sangat benci.
Di mataku, mereka semua adalah makhluk paling rendah dari kami para manusia. Iblis itu kejam, tidak punya hati. Bagi mereka, melenyapkan tiap jiwa manusia seakan seperti permainan seru yang tidak akan membuat bosan. Seringai menjijikan yang mereka tampilkan saat menikmati detik-detik kematian manusia sungguh membuatku marah. Psikopat tingkat tinggi.
Masih teringat dalam kenanganku saat penyihir-penyihir gila memasuki wilayah Kerajaan Humanuous dan mulai menghancurkan apa saja yang terpampang di hadapan mereka. Menyerang secara brutal, merenggut nyawa manusia saat itu dengan cara menghisapnya secara kasar melalui ciuman.
Aku menyaksikannya melalui jendela. Tubuhku didorong paksa ke dalam sebuah lemari oleh Ibu saat pintu utama tiba-tiba hancur oleh hempasan angin yang kuat. Kusen lemari menimbulkan bunyi yang memekakan telingaku ketika Ibu menutupnya dengan satu hentakan. Kemudian lengkingan teriakan menyusul, jantungku kembali berpacu.
Suara memilukan itu tak berlangsung lama, aku memberanikan diri mengintip pada sedikit celah yang ada.
Sunyi.
"Anak kecil, keluarlah,"
Lirihan itu membuat bulu romaku berdiri. Tubuhku bergetar hebat, hampir ambruk jika aku tak menahannya.
SRAT
"Aku tidak ingat bagaimana aku membunuh penyihir itu. Ugh,"
Kepalaku langsung berdenging saat berusaha mengingat ingatan yang penting itu. Aku merasa gagal sebagai anak. Jika saja bakal begitu akhirnya, aku tidak akan mau didorong ke dalam lemari itu dan ...membiarkan orang yang paling kusayangi meregang nyawa.
"Itu salahku... maaf Ibu,"
Kejadian itu berlangsung 300 tahun lalu saat umurku masih sangat muda, 15 tahun. Dan umurku sekarang... hah, tak perlu disebutkan.
Tidak perlu terkejut, manusia di Kerajaan Humanuous adalah manusia spesial yang bisa hidup selama ratusan tahun. Bahkan Raja kami terdahulu, Raja Aba, hidup selama ribuan tahun. Seharusnya begitu jika ia tidak mati terbunuh pada 300 tahun lalu saat melancarkan serangan balasan ke Kerajaan di negeri seberang.
Raja Aba adalah Raja yang paling aku kagumi. Raja yang sangat menentang keberadaan iblis. Awalnya aku tidak peduli dengan adanya iblis, namun sejak kejadian yang merenggut jiwa Ibu, aku mulai merubah pola pikirku.
Kini tahta Kerajaan Humanuous dikendalikan oleh putra Raja Aba, Gopal Singh. Menurutku Raja Gopal tidak menuruni sifat berani ayahnya. Bukti dari asumsiku itu adalah diadakannya suatu perjanjian, yang isinya menjatuhkan Kerajaan Humanuous.
Salah satu isi dari perjanjian itu adalah menjadikan Hutan Athroluth sebagai wilayah netral dimana kaum iblis maupun kaum manusia bisa mondar-mandir disana. Imbasnya wilayah kekuasaan Kerajaan Humanuous menjadi kecil. Dan oh, isi dari perjanjian lainnya juga menegaskan untuk mempererat kerja sama antar kerajaan. Hah, aku sangat yakin itu hanya alasan agar iblis tidak menyerang manusia lagi. Raja Gopal memang mengecewakan.
Daripada berperang mempertahankan harga diri, ia lebih memilih main aman dan membiarkan derajat kaum manusia menjadi rendah di hadapan iblis. Geez.
"Andai aku jadi Raja,"dagu kutopang sambil menatap ramainya pusat kota "...akan kupastikan iblis-iblis itu mendapat balasan yang setimpal. Ibu...," tangan kiri terkepal reflek, "Aku akan membalas apa yang telah mereka lakukan padamu,"
"Halilintar~!"
"Waa!"
DUK
"Aduh sakitnya. Oi Yaya, tidak bisa ya masuk lewat pintu depan?" aku terjungkal ke belakang saat tiba-tiba gadis ini mengagetkanku. Belakang kepalaku terbentur cukup keras, "Huh, dasar...,"
"Hihi, ayolah kau tau kan aku bukan tipe gadis sopan yang akan masuk lewat benda yang bernama pintu itu. Kau sangat mengenalku Halilintar~" Yaya mengibaskan kedua tangannya, "Huh? Kau masih pakai piyama? Jangan bilang kau baru bangun? Demi biskuitku yang lezat, apa kau lupa hari ini ada latihan di Amaris?"
"Kau mau membohongiku? Jadwal latihannya itu minggu depan," aku berdiri, berniat menuju dapur. Meninggalkan gadis itu yang masih saja berdiri di atas tiang balkon.
"Huh! Zen pasti akan kecewa jika kau tak datang hari ini~"
"Uhuk!" ugh, tersedak air itu tak mengenakkan, "Z-zen? Maksudmu Tuan Zen? D-dia sudah kembali?"
"Sampai jumpa!"
Aku terkejut melihat Yaya yang tiba-tiba pergi begitu saja. Dengan langkah panjang aku berlari ke arah balkon lagi, "Yaya! Apa kau serius? Zen benar-benar sudah kembali? Oi!" percuma saja meneriakinya, ia melompat dari atap ke atap dengan gerakan cepat, "Hahh...,"
"Aku harus siap-siap!"
Halilintar POV-End
.
.
.
Wrong Choice by nattfrei
Genre: Fantasy, Drama, a bit Romance/?
Rate: PG-15+
.
.
.
Chapter 2: The Beginning
.
.
.
"Tuan Zen Rushjang! Selamat datang kembali di Humanuous!"
"Aku bersyukur tidak ada hal buruk yang terjadi padamu,"
"Kami sudah lama menunggumu,"
"Terima kasih. Baiklah, ayo kita mulai latihannya," senyum tipis terpatri di wajah putih pemuda yang diketahui bernama Zen Rushjang.
"A-a-a tidak Tuan...," salah satu ahli pedang angkat bicara, "Kami mohon, istirahatlah di dalam dan pantau kami dari sana. Perjalanan yang Anda tempuh pastilah sangat jauh yang artinya menguras banyak tenagamu. Jadi...,"
Sebelah alis hitam milik Zen terangkat, "Apa itu tidak apa-apa? Aku merasa tidak bertanggung jawab jika tidak ikut berlatih dengan kalian,"
"Jangan merasa begitu. Beristirahatlah dan lihat perkembangan yang kami alami selama kau pergi!"
Hembusan napas pelan terbuang dari mulut pemuda dengan iris emerald yang terlihat berkilauan itu, "...Baiklah,"
Zen membalikkan badannya dan berjalan perlahan menuju rumah khas Kerajaan. Pintu terbuka begitu saja tanpa disentuh oleh tangan dingin miliknya. Tanpa panjang lebar, ia naik ke lantai atas tepatnya ke ruang latihan pribadi miliknya sekaligus sebagai kamar tidur. Jendela yang tidak kecil maupun besar tertutupi kain putih, cahaya matahari memantul akibatnya. Zen menyingkap kain itu lalu terpampanglah lapangan yang luasnya cukup untuk sekedar berlatih pedang dan alat perang lainnya.
Tenggorokan yang kering memaksa Zen untuk mengambil benda berwujud cair yang sudah tersedia di meja sebelah tempat tidur. Teko berbahan kayu lengkap dengan gelasnya. Dari dalam teko, uap panas masih keluar menandakan minuman belum lama dimasak.
"Hmm...," aroma teh jasmine menyeruak masuk ke penciuman. Orang-orang disana sudah tahu betul apa yang disukai pemuda bersurai abu-abu itu.
SWUSH
Angin berkecepatan sedang menghembus masuk ke dalam kamar. Zen menutup mata sebentar untuk meresapi rasa dari teh yang disesapnya, "Masih sama seperti setengah abad dulu. Masuk melalui jendela? Dasar murid tak sopan...,"
"Eheheheh, oh Zen~ kau sangat mengenalku,"
"Yaya, sudah kubilang untuk memanggilku dengan sebutan-"
"Eit! Ya~ Zen, kau kan sudah tahu kalau aku tidak suka memanggilmu dengan tambahan embel di depannya. Lagipula kita hanya terpaut 100 tahun, jadi terima sajalah, okay?" 100 tahun dan kau bilang 'hanya'? Ada yang salah dengan pikiran gadis ini. Yaya yang ceria itu tersenyum lebar tanpa mempedulikan teguran dari Zen.
"Hahh... terserah," oh, tahukah kau saat ini jantung Zen sedang berdebar dengan wajah bersemu tipis?
"Bagaimana petualanganmu, Zen? Aku rutin menitipkan surat pada Vine, tapi sepertinya tak pernah sampai. Kupastikan sangat menyenangkan hm? Sampai-sampai kesayanganku itu tidak bisa menemukanmu,"
Zen berjalan mendekati Yaya, meletakkan kedua tangannya di balkon lalu memantau para prajurit yang sedang berlatih, "Dimana Halilintar? Kau sudah memberitahukannya kalau hari ini aku kembali kan?"
Yaya melirik ke samping, "Mengalihkan pembicaraan...,"
"..."
DRAP DRAP DRAP
"Tuan Zen!"
"Panjang umur... Halilintar,"
Halilintar mendekati Zen dan dengan cepat berlutut di hadapannya, "Anda sudah kembali...,"
"Halilintar, sudah kubilang untuk tidak lagi berlutut. Bangkit," Zen mengulurkan tangannya, membantu pemuda yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu berdiri, "Yang satu memanggilku tanpa embel dan yang satunya terus-terusan berlutut. Kalian berdua memang bukan tipe orang yang mendengarkan,"
"M-maaf,"
"Aw Zen~ itu memang benar haha,"
Menggelengkan kepalanya, pemuda yang umurnya itu kembali memusatkan pandangannya pada prajurit, "Persiapan kita hampir selesai. Selama aku pergi, aku banyak bertemu orang dan belajar sedikit pengetahuan mereka. Mulai dari pengobatan hingga strategi bertarung,"
Halilintar dan Yaya diam, menunggu Zen untuk selesai bicara, "...aku punya beberapa rencana tambahan untuk memperlancar serangan kali ini. Dan jika ini berhasil, kita akan mendapat balasan yang setimpal atas apa yang iblis perbuat!"
"Pastikan juga diantara prajurit itu tidak ada pengkhianat," ujar Yaya pelan, mahkota panjangnya tersentuh angin namun tidak ada satu helai pun surai coklat itu yang kusut, "Raja penakut itu tidak boleh ikut campur,"
"Tentu saja, Yaya. Dan Halilintar...,"
"Ya Tuan?"
"Aku akan mengajarimu kekuatan baru...,"
.
.
.
.
.
#WrongChoiceTrivia
Vine: Burung elang milik Yaya. Ayah Yaya menemukannya hampir mati di hutan Athroluth karena terjatuh dari pohon. Tanpa pikir panjang langsung membawanya pulang ke rumah kemudian diobati. Lalu beliau meminta Yaya untuk merawatnya.
.
.
.
A/N
Author akhir-akhir ini lagi main MM. Maaf deh bagi kamu-kamu yang nungguin ff ini update /kayak ada yang nunggu aja/ haha~
