Awan gelap disertai muatan airnya yang deras menyelimuti wilayah bagian timur hutan Athroluth. Gemuruh sesekali bersahutan menambah kesan kelam Kerajaan dimana iblis menjadi para iblis biasa hingga bangsawan anggota Kerajaan tengah berjalan perlahan-lahan sembari membawa bunga mawar hitam di tangan kiri ke dalam ruang terbuka luas yang berada di area Kerajaan.
Odyssey tengah berduka.
Semuanya kompak tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Hiks,"
Kecuali satu iblis cantik yang baru saja dianugerahi kekuatan memanipulasi waktu itu.
"Hiks hiks,"
Dalam hati, rakyat iblis yang melihatnya merasa tidak tega dan ingin menenangkannya. Namun melihat bagaimana para anggota Kerajaan yang berjalan tanpa mempedulikkan tangisan salah satu anggota keluarganya, membuat nyali mereka ciut dan memilih menenangkan cucu Lord mereka yang baru saja gugur dalam doa.
"Letakkan semua bunga yang kalian bawa di samping peti mati Lord Fehua,"
Sebuah titah segera disanggupi dalam satu anggukan. Satu per-satu rakyat iblis mulai mendekati peti mati berwarna hitam pekat itu, menaruh simbol khas berkabung Kerajaan Odyssey di sisi kanan dan kiri. Dan hanya bangsawan Kerajaan yang berhak menaruh bunga yang dibawanya di atas peti yang menjadi tempat peristirahatan terakhir pemimpin tertinggi mereka.
"Putri Ying, sekarang giliran Anda menaruh bunga mawar hitam itu," suara berat mengusik iblis yang sedari tadi tenggelam dalam kesedihan. Ia melirik bunga yang dibawanya, tersenyum pahit.
"Cepatlah Putri...,"
Dan dengan tangan yang bergetar sang putri menaruh bunga itu dengan hati-hati. Keadaannya saat ini seperti porcelain, yang jika tidak dijaga baik-baik akan retak dan hancur kapan saja.
"Dengarlah semua wahai iblis! Para manusia hina itu telah berani membunuh Lord Fehua yang agung. Namun jangan takut dan yakinkan pada diri kalian bahwa kejadian ini adalah kali pertama dan terakhir...,"
Rakyat iblis merasa tubuhnya tegang mendengar suara lantang pemuda yang surai hitamnya basah akibat guyuran hujan.
Pemuda itu menenggelamkan iris kelabunya kemudian menarik napas, "Aku akan memimpin Kerajaan ini sampai akhir. Dan hingga tiba waktunya, kita akan menuntut balasan atas apa yang manusia perbuat. Aku bersumpah...,"
JGARRR
Petir disertai gemuruh yang kencang menambah api semangat, "AKU BERSUMPAH BAHWA AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBUNUH RAJA KAUM MANUSIA DENGAN TANGANKU SENDIRI!"
"HIDUP LORD KAIZO!"
"HIDUP!"
Sang putri dan bangsawan lainnya ikut terbakar mendengar sumpah yang disuarakan Lord mereka yang baru, "Camkan pada diri kalian bahwa manusia adalah kaum yang tak pantas hidup di dunia ini...,"
.
.
.
Wrong Choice by nattfrei
Genre: Fantasy, Drama, a bit Romance/?
Rate: PG-15+
.
.
.
Chapter 3: Suspicious
.
.
.
"Anda darimana saja, Putri?"
"Bukan urusanmu,"
"Hahh... Putri, Lord Kaizo memanggil Anda. Jadi mohon-"
"Aku sedang tidak ingin bertemu Ayahanda,"
"Putri Ying...,"
"Ck!"
Langkah anggunnya terpaksa terhenti kala tangan kirinya digenggam erat. Ying memandang kesal pemuda dengan kacamata violet yang membingkai wajahnya itu, "Lepaskan, aku lelah dan ingin cepat-cepat pergi ke kamar,"
"Sudah kubilang Putri. Lord Kaizo memanggil Anda," raut serius tercetak, tangan pemuda itu berpindah ke bahu sang putri, "Jangan buat ini sulit,"
Ying menantang netra kelam itu yang dengan senang hati diladeni oleh lawannya. Namun nyatanya tatapan tajam sang putri tak mampu membuat nyali pemuda yang lebih tinggi darinya itu ciut, "Geez, baiklah aku akan kesana. Sekarang lepaskan!" sekali hentak telapak tangan yang lebih besar darinya, Ying lepaskan.
"Putri, gantilah pakaian Anda. Tidak pantas jika Anda menemui Lord dengan pakaian seperti itu," ia melipat lengannya. Bukan tanpa alasan pemuda itu menganjurkan Ying untuk berganti pakaian. Blouse lengan pendek corak kuning-biru yang memperlihatkan bahu mulusnya ditambah celana pendek 10 cm dari pinggul juga sepatu boots. Ergh, Lord Kaizo pasti murka.
"Merepotkan...," lirih Ying, "Dimana pelayan? Suruh mereka untuk cepat ke kamarku, Tuan Fang,"
Dan dengan sekali kedipan mata, sosok Putri sudah menghilang dari depan penglihatannya. Fang tersenyum tipis, "...tentu Putri,"
.
.
.
"Anda memanggilku Lord?" Ying berlutut kala berhadapan dengan pemimpin tertinggi Kerajaan sekaligus Ayahnya. Ia terlihat elegan dengan gaun hitam yang membungkus tubuhnya dari atas hingga bawah. Hawa dingin menusuk punggungnya yang terbuka. Ia mengumpat dalam hati. Gaun sial. Tapi kenapa aku tidak menolaknya tadi?
"Apa kau jalan-jalan di Hutan Athroluth? Apa disana ada sesuatu yang 'spesial' hingga membuat Putri Kerajaan Odyssey ketagihan untuk pergi kesana?" Netra abu berkilat, Kaizo meminum suguhan air yang dibawa pelayan disampingnya.
Ying menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak terlihat terintimidasi dengan pertanyaan simpel yang Ayahnya katakan, "Hhh.. apa yang Lord bicarakan? Hutan Athroluth? Aku tidak pergi kesana,"
Kaizo menyeringai, "Lalu kemana saja kau hampir seharian ini hm?" lengan kanannya menaruh gelas kosong ke samping, "Jawablah!"
Ying meneguk ludahnya kasar. Intonasi Ayahanda-nya sudah berubah dari lembut ke berat, "...hutan Athroluth,"
"Well..., untuk hari ini aku akan berpikir positif. Aku percaya bahwa kau ada disana belakangan ini karena sibuk membantu menyiapkan Fur de sesar atau apalah itu,"
Sang putri mengangkat wajahnya. Ekspresi lega terpancar, "Fleur de Cerisier. K-kau benar Ayahanda,"
Lord tersenyum lembut. Tapi percayalah, dibalik senyum itu ada rencana licik yang ia rencanakan, "Pergilah dan panggil Fang Ascher untuk menghadapku,"
"Baik Lord,"
Ying bangkit dan memberi hormat sebelum berjalan keluar dari ruang khusus Lord. Di luar ia bertemu pandang dengan Fang, dengan isyarat mata Fang langsung mengerti dan menganggukan kepalanya sesaat.
TAK TUK
Suara sepatu menggema di ruangan yang hanya diberi lilin sebagai alat pencahayaan. Fang lantas membungkuk dengan posisi lutut kiri membentur lantai sedang yang satunya ditekuk membentuk sudut siku, "Ya Lord,"
"Fang Ascher... awasi Putriku. Kau kuberi kepercayaan penuh,"
"Baik Lord,"
.
.
.
"Tahun ini kau dipilih jadi panitia acara itu Hali,"
"Tidak minat,"
"A-a-a, tidak boleh menolak. Sudah keputusan bulat, benar begitu Zen?"
"Benar,"
Yaya tersenyum puas sembari menatap jahil pemuda yang sedang mengasah belatinya. Halilintar membuang muka dan semakin menggerakkan tangannya untuk mengasah belati kesayangannnya dengan brutal.
"Pfft... hahaha. Sudah kubilang jika kau yang menyuruhnya, dia...," sang gadis menunjuk pemuda yang tak jauh duduk di depannya, "...takkan protes. Lagipula Hali, jika kau yang jadi panitianya pasti para gadis disini atau bahkan iblis wanita dari kerajaan sebelah akan datang dengan jumlah lebih banyak-"
"Kenapa bisa begitu?" Halilintar sebenarnya malas untuk bertanya lebih lanjut. Namun anehnya, mulutnya seakan bergerak sendiri.
"Seriously? Kau masih tanya kenapa? Tentu saja karena wajahmu yang tampan!"
Gerakan tangan Zen yang sedang mengupas buah Zruith terhenti sesaat. Ia menoleh dan mendapati Yaya dan Halilintar yang saling adu mulut. Zen menutup matanya, menghembuskan napas pelan.
"Zen! Kenapa buang napas begitu hm?!" jika bukan karena ia tengah duduk, sudah pasti tubuhnya akan jatuh terlentang ke belakang. Pendengaran gadis yang ada persis di hadapannya ini sangat tajam, "Wajahmu lesu Zen, kau okay?"
"Aku baik Yaya, dan singkirkan tanganmu dari keningku," andai saja Yaya tahu bahwa daritadi Zen menahan napasnya.
"Uuhh, iya baiklah...," Yaya menarik tangannya, "...dasar, aku kan cuma khawatir," ia menggerutu.
"Tidak sopan, beraninya kau menyentuh kulitnya. Kemari kau, akan kutebas tangan kotormu itu,"
"Kyaaaa, Halilintar seram~~~"
"Kalian berdua... hmm,"
Zen menyukai... tidak, ia mencintai Yaya. Tapi sepertinya, gadis 'urakan' itu lebih tertarik dengan Halilintar yang notabene memang lebih tampan darinya. Ada yang bilang kalau semua orang atraktif dengan caranya sendiri tapi..., "Ha! Omong kosong,"
.
.
.
"Halilintar, tolong bawa ini dan pasang di sudut wilayah sana ya?"
"...baiklah,"
Menyeret langkahnya, Halilintar menerima beberapa lampion yang menurutnya berbentuk gumpalan absurd berwarna putih yang teksturnya empuk. Wajahnya penuh dengan senyum paksaan. Dasar Yaya! Bisa-bisanya ia menghasut Tuan Zen? Ukh.
"Kenapa acara ini harus dirayakan? Aku bahkan tidak suka bunga...," ia bergumam pelan, tak ingin ada orang yang mendengar.
Semak belukar yang lebat ia pangkas tak beraturan dengan belatinya. Setelah menemukan pohon dengan ranting yang pas, Halilintar meletakkan lampion itu disana, "Dan sekarang, aku hanya harus membuat api,"
"Itu tidak perlu,"
FWOOSH
Seketika, api sedang menyala di sebelah kiri kaki Halilintar. Pemuda corak hitam-merah mengadah dan mendecak kesal saat hanya siluet ramping berwarna hitam yang terlihat, "Tunjukkan dirimu,"
"Tak ada ucapan terima kasih? Kaum manusia memang sombong sekali," siluet itu mulai turun dari atas pohon.
"Hoo ternyata kau Tuan Putri. Kenapa kau ada disini? Aku merasa sedang dikuntit," Halilintar melipat lengannya. Dihapadannya kini tengah berdiri Putri Kerajaan Odyssey lengkap dengan gaunnya, "Hm, gaun yang bagus,"
"Cih, aku? Menguntitmu? Jangan bercanda," Ying mendekat ke arah api, "Don't take it wrong way. Aku kemari untuk memeriksa wilayah ini karena daritadi sudut ini gelap, tadinya kukira tak ada orang yang memasang lampionnya disini tapi ternyata ada kau,"
"Kau tidak perlu menjelaskannya secara detil Tuan Putri, itu hanya membuatku semakin berpikir bahwa kau berusaha menutupi kebenaran kalau kau menguntitku," netra merah berkilat ditengah bulan purnama.
"K-kubilang bukan seperti itu!" sang putri membalikkan tubuhnya. Angin yang berhembus lumayan kencang menerbangkan rambut gelapnya yang panjang membuat tubuhnya yang terbuka bergetar kedinginan.
Halilintar melirik ke samping, "Benar-benar gaun yang bagus,"
Huh? Ying baru sadar bahwa ia belum mengganti pakaiannya, "Dasar manusia hina! Mesum!"
"Hey, aku tengah berusaha, lihat? Aku bahkan menundukkan wajahku," Halilintar tak bohong, "...dan lagi, bukankah aku sudah memberitahukan namaku Putri? Kenapa kau terus memanggilku 'manusia hina'?"
"Apa kau tersinggung?"
"...tidak juga,"
Ying mengapit bibirnya. Padahal ia berharap bahwa manusia di depannya ini tersinggung, dengan begitu ia akan semakin memojokannya. Tapi ternyata reaksinya jauh dari bayangannya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada iblis yang tengah duduk santai diatas burung elang raksasa berwarna violet yang terbang tak jauh dari mereka. Ia memperhatikan keduanya dengan tampang yang sangat serius, "Pemuda itu mencurigakan...,"
.
.
.
.
.
#WrongChoiceTrivia
Fleur de Cerisier: Festival bunga sakura yang hanya tumbuh pada saat bulan purnama. Diadakan karena desakan Lulu Sythern (adik bungsu Ying) terhadap Lord Kaizo karena tak tahan melihat bunga yang jarang tumbuh itu disia-siakan dan dibiarkan gugur begitu saja. Akhirnya Lord Kaizo menemui Raja Gopal dan itulah bagaimana acara ini terbentuk. Lord Kaizo bekerja sama dengan Raja Gopal karena ia terlalu malas untuk menyiapkan acara, Raja Gopal pun tak curiga dan menuruti semua yang dikatakan Lord Kaizo.
.
.
.
.
.
A/N
Ya~~~ terharu sekali ada yang menunggu ff ini up. Yosh, terima kasih. Dan saya akan berusaha keras agar ff ini tetep lanjut dan gak terlalu lama menjamur di ffn. Haha^^;;
