Angin malam berhembus lembut. Menusuk kulit siapa saja dengan sentuhannya. Hewan nokturnal keluar satu-persatu dari tempat persembunyian, berusaha mencari makan kesana kemari untuk mengisi perut setelah tidur seharian.
Langit 'bersih' dari awan tapi sayangnya masih tak mampu menerangi sudut hutan yang menjadi saksi bisu ajang bertatap antara manusia dan iblis sekarang ini.
Ruby dan sapphire beradu tajam.
"Halilintar! Disini kau rupa- oh?"
Keduanya reflek memutuskan kontak mata, mengalihkan pandangannya menuju objek yang baru saja bersuara. Halilintar mendecak sementara sang Putri mengedip pelan beberapa kali.
"Kenapa kau kesini?"
"Kenapa? Kau tak suka? Apa aku mengganggu?"
Halilintar mendesah, rambut hitamnya digaruk pelan, "Kalau kau disini lalu siapa yang bersama Tuan Zen sekarang? Ah, keterlaluan,"
"Aish, kau pikir dia masih anak kecil yang harus selalu ditemani? Apa kau lupa dia sudah bertualang selama 50 tahun?" Yaya memberi jeda, "Sendirian."
Lawan bicara seketika diam. Ia kalah.
Gadis yang pandai membuat biskuit (beracun) itu tersenyum puas dan tak lama mulai ingat kembali pada sosok yang sempat dianggap tembus pandang, "Oh maaf telah mengabaikanmu Tuan Putri," Yaya sedikit memberi hormat, "Perkenalkan, aku Yaya Azalea,"
Ying membalasnya dengan elegan, khas seorang Putri kerajaan, "Senang bertemu denganmu,"
Yaya tersenyum namun entah kenapa Ying merasa gadis di depannya ini sekilas menyeringai. Ia mengernyitkan dahinya.
"Omong-omong..., aku ada sedikit keperluan dengan orang aneh ini Tuan Putri. Boleh aku membawanya?"
Ying memicingkan mata, agak tersinggung dengan nada bicara Yaya. Apa-apaan itu? Kenapa tiba-tiba berubah?
"Hm? Tidak boleh?"
"Bicara apa sih? Ayo pergi!"
"Haha, permisi!"
Yaya dan Halilintar melenggang pergi meninggalkan sang Putri iblis seorang diri. Ying melipat tangannya, entah kenapa merasa kesal dengan apa yang terjadi barusan. Sudut imajiner muncul di kepalanya yang tertutupi mahkota berwarna hitam legam yang panjang.
"Aku tak suka dia,"
.
.
.
Wrong Choice by nattfrei
Genre: Fantasy, Drama, a bit Romance/?
Rate: PG-15+
.
.
.
Chapter 4: Raven vs Silver
.
.
.
"Mereka berdua pergi. Haruskah aku ikuti?"
Sayap gagah elang berwarna violet mengepak angkuh. Netra burung itu menerawang jauh layaknya mencari mangsa. Hewan itu bersuara, sang pemilik langsung mengusap kepalanya, "Tapi..., prioritasku Putri Ying 'kan?"
Pemuda itu terdiam. Tapi hei, orang itu baru saja bicara dengan Putri. Aku tak mau berpikir negatif tapi tampangnya mencurigakan.
"Mencari sesuatu Tuan? Perlu bantuan?"
Fang sedikit terkejut. Iris kelamnya melirik, masih belum menoleh ke arah belakang.
"Sedang ada persiapan untuk menyambut festival Fleur de Cerisier di bawah sana, aku memang bukan panitia tapi aku akan membantumu. Katakan, apa yang kau cari,"
Beberapa kata telah dilontarkan namun Fang masih terpaku di tempat. Sang lawan bicara mulai mendekati pemuda yang duduk dengan nyaman di atas elang.
"Hei Tuan," suaranya mulai terdengar dekat, "Aku tidak sedang bicara dengan patung 'kan? Kenapa diam saja? Apa jangan-jangan kau bisu?"
SRAT
Hah, gotcha!
"Aku hanya sedang mengawasi persiapan ini. Dan sepertinya urusanku sudah selesai, jadi aku akan pergi sekarang. Permisi,"
"Tentu saja sudah selesai...,"
"Maaf?"
Kali ini Fang menoleh, didapatinya pemuda bersurai silver yang diikat satu tengah melayang di udara tanpa perantara apapun. Ia tersenyum kambing membuat Fang menaikkan sebelah alisnya.
"Orang yang kau pantau sudah pergi, tentu saja 'urusan' yang kau bilang tadi sudah selesai," balas pemuda silver santai, "...Benar begitu?"
"Ha-haha..," Fang membuang wajah lalu melipat tangannya di dada, "HAHAHAHAHAHAHAH!"
Suara tertawa seorang ksatria itu menggema di atas langit. Lawan bicaranya merasa atmosfer mulai berat tapi itu tak membuatnya gentar.
"HA-HAHA...," rasa geli yang menggelitiknya mulai berkurang, "Apa ini? Apa aku sedang dituduh? Hahaha, oh astaga," ia menyeka sedikit air yang keluar dari sudut matanya.
"Tidak, aku tak menuduh siapapun disini,"
"Hei, silver," tatapan Fang berubah, "Kau mempermainkanku?"
"Haha, Zen Tuan, namaku Zen," tangan dinginnya mulai merambat ke ujung gagang pedang.
Fang sadar dengan pergerakan tangan Zen yang perlahan tapi pasti, "Cih, terserah," ia berbalik hendak memberikan aba-aba pada burung elangnya.
TRANG
SRET
Dua pedang beda bahan beradu menimbulkan percikan api berwarna biru pekat. Fang menyeringai sementara Zen menggertakan giginya. Sial, darimana pedangnya muncul?
"Petarung macam apa yang menyerang dari belakang? Cih, pengecut!"
Fang menangkis serangan dadakan Zen dengan mudah, "Kau yang duluan memintanya, silver," kakinya melangkah mendekati Zen. Elangnya menghilang seperti asap, kini Fang juga melayang di udara, "Baik, akan aku ladeni. Tapi jangan sampai kau menyesal, mengerti?"
"Tch!"
"Bersiaplah,"
SWUSH
Pedang yang tadinya diseret sudah berpindah posisi. Kaki yang terbalut kain yang terbuat dari sutra itu melesat cepat, Fang merasa senang kala merasakan ujung pedangnya telah merobek kulit lawannya.
Zen terdorong mundur, bahunya terluka terkena tusukan pedang hitam milik Fang. Meskipun cuma sedikit tapi rasa sakitnya luar biasa. Tipe petarung provokator. Lebih bahaya dari yang aku kira.
"Kau tidak mau menyerang lagi?" pedang Jian itu digenggamnya erat, "Silver...?"
Teriakan menggema disusul suara pedang yang saling bertabrakan. Pergerakan mereka sangat cepat layaknya petir ketika hujan. Tidak terlihat apapun kecuali cahaya biru.
Zen kian terdesak, dalam keadaan seperti itu otak jeniusnya dituntut berpikir cepat. Tubuhnya hampir jatuh, sisa kekuatannya hanya tinggal setengah. Fang sendiri hanya terluka sedikit. Wajahnya masih dihiasi seringai lebar.
"Mana rasa percaya dirimu tadi hah?!"
Tiba-tiba saja Fang sudah berada di belakang Zen, mencoba menusuk kembali bagian tubuh lawannya yang hampir sekarat.
"Khh!"
"Ayo, balas! HAHAHAHHA!"
Mereka kembali bertatap muka dalam jarak dekat. Pedang Jian dan pedang Xyphos menjadi pemisah antara keduanya. Zen masih mempertahankan posisi itu dengan sisa tenaganya sembari terus memikirkan jalan untuk kabur. Aku harus membuatnya lengah.
"Hei, sampai berapa lama kau akan terus tersenyum lebar seperti itu?" celetuk Zen tiba-tiba.
Fang makin memperlebar tarikan mulutnya, "Jangan sok cool, silver. Napasmu terengah-engah daritadi," bayangan hitam violet mulai berkumpul di tangan kirinya, "AKHIR PERTARUNGAN INI SUDAH BISA DILIHAT AHAHAHA!"
Pedang yang baru saja terbentuk itu diayunkan ke arah Zen dengan keras. Kali ini cahaya hitam mendominasi. Zen terkejut, pupilnya reflek mengecil. Ia mundur dengan cepat berusaha untuk menghindari serangan dadakan yang Zen yakini sebagai balasan atas apa yang dilakukannya beberapa menit yang lalu.
Mundur. Batinnya dalam hati. Ia mengambil sesuatu dari saku kirinya, memasukannya dalam mulut lalu berharap agar benda itu dapat mengenai sedikit saja kulit Fang.
PUH
DUAR!
Asap tebal yang timbul dari ledakan besar itu perlahan memudar. Siluet pemuda bersurai raven samar-samar terlihat. Ia menoleh ke sekeliling tapi tetap tak bisa menemukan musuh yang dilawannya tadi.
"Kabur...? Benar-benar pengecut- Akh!"
Sebuah jarum emas yang berukuran cukup tebal jatuh ke bawah tanah. Di ujung jarum tercampur dua cairan berbeda warna. Merah dan silver, darah dan racun khusus.
Rasa nyeri menyerang. Fang panik, ia segera meraba tengkuknya. Sempat meringis saat lukanya tak sengaja tertekan. Irisnya melebar ketika cairan berwarna merah menempel di jari telunjuk dan jari tengahnya. Kepala serasa berputar, penglihatannya agak kabur, "Sial, aku lengah...,"
.
.
.
BRAKK
"Ah siapa i- ASTAGA ZEN!"
"TUAN ZEN!"
Yaya dan Halilintar langsung berlari menghampiri Zen yang masuk melalui jendela dengan keadaan yang hampir sekarat. Ia segera dirangkul menuju tempat tidurnya dengan cepat.
"Apa yang terjadi padamu?! Zen!" Yaya berteriak histeris, menampar pipi Zen berkali-kali karena matanya terus saja menutup.
Tangan Halilintar terkepal kencang, syaraf terlihat kontras di kulitnya yang putih. Irisnya berkilat tajam. Ia marah, sangat marah, "Siapa?"
"Halilintar bukan saatnya! Panggil tabib!"
"Aku akan membalasnya!"
"Halilintar aku mohon-"
Ucapannya terpotong suara pintu yang ditutup kasar, Yaya kembali meraung-raung.
"HALILINTAR! ARGH BODOH! ZEN SADARLAH! ZEN!"
.
.
.
Kakinya terasa ringan, ia tak sadar dengan kekuatan asing yang mengalir dari tubuhnya. Bergerak cepat diantara pohon-pohon Zruith tanpa sadar ada beberapa helai daun yang terbakar akibat ulahnya. Ia berhenti saat melihat bagaimana porak-porandanya bagian tengah Hutan Athroluth ini.
Mata elangnya beraksi, ia sapu seluruh sudut bekas pertarungan untuk mencari jejak. Tak butuh waktu lama bagi Halilintar untuk menemukan petunjuk siapa yang telah membuat Zen terluka parah.
Sedikit api hitam-violet yang masih menyala di salah satu batang pohon menarik perhatian Halilintar. Ruby-nya memicing, sangat yakin bahwa ini adalah salah satu kekuatan iblis.
Kemampuannya membaca huruf Odys di buku yang ia temukan di ruang rahasia di rumahnya sangat membantu. Beberapa tahun Halilintar habiskan untuk mengupas habis buku yang tebalnya hampir mencapai tingginya ketika berumur 1 tahun. Walaupun begitu hanya 200 dari 1050 halaman yang baru dipahaminya.
"Pengendali bayangan...," gumamnya, "Jika lawannya iblis aku tak bisa langsung menyerangnya,"
Jangan gegabah, Halilintar.
"Siapa itu?!" sebuah suara menginterupsinya, Halilintar segera memasang kuda-kuda.
Siapa aku bukan hal yang penting. Sekarang ini, kau ingin tahu siapa pemilik kekuatan itu bukan?
.
.
.
.
.
.
.
A/N
Duh maaf, ga ada #WrongChoiceTrivia di chapter kali ini. (Itupun kalo ada yang sadar).
Uh, senang sekali bisa menyapa kalian lagi... saya penasaran, apa masih ada yang menunggu ff ini? Hahaha. Saya ga pede sama adegan action-nya, jadi saya mohon, beri saya kritik dan saran yang membangun untuk ff ini ke-depannya ya~
Terima kasih!^^
