CHAPTER 3
Ino, dengan gitar di punggungnya, berjalan menuruni tangga darurat gedung apartemennya. Ibunya menghubunginya untuk bertemu malam ini. Setelah 2 bulan terus mencari alasan untuk menghindari pertemuan mereka, sekarang Ino sudah kehabisan alasan lagi. Keluar dari pintu tangga darurat, Ino disambut oleh ibunya dan suami ibunya di lobi.
"Ino." Ibu Ino menghampiri Ino dengan senyum lebar, memeluk Ino dengan erat. Ino membiakan Ibunya tanpa melakukan apapun.
Suami ibunya menyapa Ino dengan senyum dan anggukan. Ino hanya membalasnya dengan tatapan datar.
Mereka membawa Ino makan malam ke sebuah restoran keluarga, yang membuat semua tamunya merasa nyaman, kecuali Ino.
Menunggu makanan datang, Ino menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat kedua tangannya, melalui dinding kaca mengedarkan pandangannya pada orang – orang yang berlalu lalang di jalanan di luar restoran.
Ino merasakan tatapan orang – orang di sekitarnya. bagaimana penampilan ibunya dan suami ibunya yang rapi, sedangkan Ino? Rambut pirang dengan segaris warna ungu dan pink (ya, Ino sengaja mewarnai rambutnya dengan pewarna rambut sementara) dan topi baseball terbalik di kepalanya (sengaja Ino tidak melepasnya). Anting stud di lingkar telinga atas yang sengaja dia tunjukkan dengan menyisihkan rambutnya ke belakang telinga. T-shirt longgar berwarna hitam dengan tulisan "FXXK IT" (maaf, author g tahan buat nyempilin lagu baru Big Bang) besar di depan, yang sengaja lengannya Ino tarik ke atas sehingga seperti seorang preman yang akan berkelahi. Turun ke bawah, ripped jeans dan sepasang sneakers. Kesimpulan: penampilan Ino berteriak BERANDAL.
"Jadi, bagaimana kuliahmu, Ino?"
Ino ingin mengatakan 'Biasa.', tapi Ino menahanya. Mencoba jawaban yang sedikit ia elaborasi "Tidak ada yang spesial."
"Kau betah di apartemen barumu?"
""Yup." Jawab Ino malas. Sudah pasti ibunya menginginkan Ino pindah mengetahui bahwa Ino tinggal dengan 2 orang pria.
"Ibu tau ada apartemen yang bagus Ibu yakin kamu pasti suka."
"Tidak tertarik."
"Kamu bisa melihatnya dulu, siapa tau tertarik?" Yah, ibu Ino sama keras kepalanya dengan Ino.
"Apa kita akan membahas ini lagi?" Ino menatap mata ibunya. "Kalau Ibu mau aku pindah, ok. Aku sudah melihat apartemen di distrik C." Distrik C, kawasan yang tak bernama di pinggiran Konoha merupakan kompleks pelacuran. "Kapan Ibu mau aku pindah?"
"Bulan depan kami ada kunjungan bisnis ke US. Kamu mau ikut? Kalau kamu ikut, kita bisa singgah dulu ke Brazil untuk bertemu ayahmu." Merasa suasana memanas, suami ibu Ino mengalihkan pembicaraan, menawarkan dengan antusias.
Ini mengembalikan perhatiannya keluar pada jalanan Sedikitpun Ino tidak tertarik. Ino tidak ingin menemui ayahnya seperti Ino tidak ingin menemui ibunya. Baginya mereka berdua sama.
"Aku tidak bisa meninggalkan kuliah." Ino ingin tertawa mendengar jawabannya sendiri.
"Ino," Ibunya menghela napas, tau yang Ino katakan adalah bohong, berusaha bersabar menghadapi fase pemberontakan Ino yang semakin menjadi. "Ibu dan ayahmu akan selal mendukung apapun yang kamu lakukan. Tapi ibu mohon, Ino, jangan menyia – nyiakan waktumu. Lakukan sesuatu untuk masa depanmu."
"Kukira Ibu membawaku kesini bukan untuk menceramahiku." Ino memandang ibunya tepat di mata.
"Ino, ibumu hanya - " perkataan suami ibunya terputus oleh kedatangan waiter yang membawa makanan mereka.
"Ah, makanan datang." Segera Ino menyambut waiter yang membawa makanan mereka. Baru kali ini Ino merasakan bahwa kedatangan seorang waiter serasa seperti datangnya Sang Penyelamat di hari akhir. Pfft.
Selama makan, ibu dan suami ibunya berusaha mencairkan suasana dengan pembicaraan ringan yang sama sekali tidak menarik bagi Ino.
Saat sedang 'menikmati' makanannya, Ino melihat Pria Lift, Uchiha Sasuke, melintas berjalan di luar restoran. Tapi pria Uchiha itu tidak melihat Ino. Segera Ino mengambil gitarnya dan dengan "Maaf, aku lupa aku ada janji." Ino kabur untuk mengejar si pria Uchiha.
Ino berlari ke arah pria Uchiha itu pergi. Karena terburu – buru, Ino menabrak seorang pria paruh baya.
"Hai cantik." Pria itu memegang tangan Ino. "Tidak perlu tergesa – gesa. Ikutlah dulu bersenang – senang dengan Om."
"Fvck you!" Ino mengacungkan jari tengahnya pada pria itu, sebelum kembali berlari mengejar Uchiha Sasuke.
"Uchiha!" panggilnya terengah.
Si pria Uchiha menoleh. "Yamanaka?"
Dan malam itu kembali Ino menjadi penonton pertama penampilan musik jalanan Uchiha Sasuke.
.
"Aku tidak menyangka ada bioskop yang buka sampai selarut ini." aku Ino pada Uchiha saat mereka sedang menunggu film tayang di layar bioskop. Ino bahkan tidak tau film apa yang akan mereka tonton, selain 'kejutan' seperti yang Uchiha katakan.
Pendapatan Uchiha malam ini lumayan banyak, sehingga cukup untuk membeli 2 porsi burger + soda dan bonus nonton bioskop.
Penonton yang ada di dalam bioskop hanya sedikit, itupun semua adalah sepasang kekasih yang memilih untuk duduk menjauh dari penonton lain.
Dan akhirnya filmpun dimulai. E.T? Si Uchiha mengajaknya nonton E.T? Bukan bermaksud merendahkan film tersebut, E.T adalah film yang bagus, tapi, nonton E.T di bioskop di tahun ini?
"Hal seperti ini tidak akan ada jika kau nonton di jam – jam normal."
Dalam remang – remang cahaya dalam bioskop, Ino menatapnya penasaran, si Uchiha membalas tatapan dengan senyum miringnya.
"Lihat!" si Uchiha memutar kepala Ino ke arah tempat duduk di ujung baris tempat duduk mereka.
Ino ingat, tadi yang duduk di ujung sana adalah sepasang remaja laki – laki dan perempuan yang saling berpegangan tangan dan berpelukan, yang Ino prediksi adalah pasangan kekasih. Ino tidak bisa melihat dengan jelas, tapi Ino bisa melihat bahwa di ujung sana, seorang sedang duduk di atas orang yang lain dan dari suara aneh yang mereka timbulkan sepertinya mereka sedang sangat 'sibuk'.
Kemudian si Uchiha kembali memutar kepala Ino ke arah yang lain, yang masih bisa terlihat dari tempat duduk mereka walaupun samar, ke arah yang lain lagi, dank e arah yang lain lagi. Dengan samar Ino melihat 'kesibukan' orang – orang di dalam bioskop.
"Jadi kau membawaku kesini untuk nonton AV secara live, Uchiha?" tuduh Ino dengan menatap si Uchiha dengan bosan.
"Panggil aku Sasuke." Pinta Sasuke. "Uchiha adalah nama ayahku. Dan aku tidak terlalu suka pada ayahku."
"Ino." balas Ino."dengan alasan yang sama." Lanjutnya, membuat Sasuke tertawa.
"Jadi kau membawaku kesini untuk nonton AV secara live, Sasuke?" Ino mengulangi pertanyaannya, dengan menekankan 'Sasuke'.
Sasuke menangguk dengan antusias, seolah Ino berhasil menjawab teka – teki besar yang bisa menyelamatkan dunia.
"Kau lihat pasangan yang paling depan?"
"Bagaimana aku bisa melihatnya dari sini?" aneh. Mereka duduk di tempat duduk di tengah, mereka tidak bisa melihat ke penonton yang berada di paling depan karena terlalu jauh dari mereka.
"2 minggu yang lalu, dia kesini dengan wanita lain. Anggap saja Wanita B."
Ino menatap Sasuke bosan. "Jadi kau mengamati penonton di sini, lalu bergosip?"
"Hei, aku hanya mengamati." Protes Sasuke. "dan setiap aku berpapasan dengan pria itu di kereta, dia dengan wanita lain lagi, Wanita C."
"Sasuke?"
"Hm?"
"You need a life."
"Aku perlu inspirasi untuk menulis lagu." Sasuke berusaha membela diri "dan terimaasih pada pria itu, aku bisa menyelesaikan laguku."
"Itu justru membuatmu menjadi lebih brengsek dari pria itu." Tuduh Ino. "dan wanita tidak suka pria brengsek."
"Aku tau tipe wanita sepertimu, Ino."
"Oh ya?" Ino menantang Sasuke untuk melanjutkan perkataannya.
"Wanita sepertimu, suka pria brengsek."
Itu membuat Ino tertawa dan melempar segenggam popcorn ke wajah Sasuke.
"Harus ku akui, Ino," Sasuke memungut popcorn di wajahnya, dan memakannya "Wajahmu tidak terlalu jelek, 6 dari 10 lah" Sasuke mendapat tatapan bosan dari Ino "dan proporsi tubuhmu, 6.5 dari 10." Lagi, tatapan bosan "Tapi, masalah utamamu adalah kau tidak bertingkah imut, kami pria suka wanita imut."
6/10?
6.5/10?
Pfft. Sasuke punya mata yang sehat. Semua orang yang punya mata tau bahwa secara fisik, Ino jauh diatas rata – rata.
"Kurasa perlu sebuah perayaan karena satu kandidat orang brengsek sudah berkurang."
Sasuke melempar segenggam popcorn ke wajah Ino, mengkopi apa yang Ino lakukan. "Itu adalah perayaanmu." Dan mereka tertawa. Penonton lain tidak ada yang protes dengan suara mereka, karena semua orang jelas sedang 'sibuk' sendiri – sendiri.
"Kau tau," Sasuke mengangkat kedua kakinya untuk bersandar di kursi di depannya "pegawai yang bertugas malam disini, hanya memeriksa penonton yang masuk. Mereka tidak pernah memeriksa keadaan di dalam bioskop dan penonton yang keluar."
"Hm.."
"Oleh karena itu, saat sedang banyak pikiran aku selalu kesini. Tidur disini sampai petugas shift siang datang."
"Apa kau sedang banyak pikiran."
"Kurasa." Suara Sasuke melemah. Sepertinya dia sudah sangat lelah.
Ino tak membalas. Dia menyamankan dirinya menyandarkan tubuhnya ke kursinya dan mengikuti Sasuke mengangkat kakinya untuk bersandar di kursi di depan mereka.
Ino memandang Sasuke yang sudah tertidur di sebelahnya. Ino kembali menyamankan duduknya dan mengembalikan perhatiannya pada film.
.
Ino membuka matanya saat merasakan sesuatu menepuk pelan pipinya.
"Bangun Ino." bisik Sasuke "Film terakhir di shift malam sudah berakhir."
"Saat bangun tidur, nilaimu jadi 3." Dan Sasuke berhasil mendapatkan lemparan jaketnya sendiri tepat diwajahnya. Ya, jaket Sasuke yang menyelemuti tubuh Ino entah sejak kapan.
Saat mereka keluar, hari sudah terang karena sudah jam 6 pagi. Jalanan masih sepi, hanya beberapa orang rajin yang jogging, dan beberapa yang juga keluar dari bioskop tentunya, yang terlihat.
Mereka berjalan beriringan menuju halte bis. Tak peduli dengan penampilan mereka yang berantakan. Tak peduli bagaimana jaket Sasuke yang kebesaran di tubuh Ino.
"Aku tidak akan lagi tidur di tempat ini." Ino berusaha merengangkan otot – ototnya yang terasa kaku karena posisi tidur yang sangat tidak nyaman.
"Aku selalu mengatakan itu, tapi setelahnya selalu kemali kesini lagi."
"Aku tau sarapan yang lumayan di dekat apartemen kita."
"Oh ya?"
"Dan kita akan makan di sana."
"Benarkah?"
"Terimakasih sudah mau mentraktirku sarapan." Ino tersenyum lebar.
