CHAPTER 4

Kesekian kalinya dalam lima minggu terakhir, Ino menyaksikan penampilan Sasuke di jalanan, tak pernah sekalipun Sasuke berhenti membuat Ino kagum.

Dari awal Ino tau tujuan Sasuke bernyanyi di jalanan bukanlah uang, karena uang yang dia dapat selalu mereka habiskan untuk makan mi instan, jajan di pinggir jalan, atau nonton film kelas C (atau film dari zaman prasejarah, tergantung mood petugas malam) di bioskop remang – remang, karena di jam – jam mereka selesai tampil, tidak ada lagi bioskop normal dengan film kelas A yang masih buka. Saat menanyakannya pada Sasuke kenapa, jawabannya adalah "Aku butuh pengalaman dan inspirasi."

Ino juga beberapa kali bertemu Sasuke di atap gedung apartemen mereka. Pertemuan tidak sengaja. Yang kemudian saling mempertemukan teman – teman mereka: Karin, Juugo, Suigetsu, Choji, dan Shikamaru. Dari pertemuan – pertemuan mereka itulah, lagu Ino sudah hampir selesai.

"Aku takut kalian bosan dengan penampilanku." Aku Sasuke selesai menyanyikan satu lagu, membuat penontonnya ribut, mengatakan bahwa mereka tidak akan bosan dengan penampilannya.

"Bagaimana kalau kita saksikan penampilan rekanku disana," Sasuke memandang Ino yang berdiri di antara penonton yang lain, membuat semua mata tertuju kepada Ino, "untuk tampil bersamaku?" penonton Sasuke semakin riuh, mendukung Ino untuk tampil bersama Sasuke.

"Tidak, aku…" Ino mencoba menghindar.

"Ino! Ino!" Sasuke memulai, yang kemudian diikuti oleh semua penontonnya.

Akhirnya Ino mau tampil bersama Sasuke. Mereka menyanyikan lagu Jason Mraz "I'm Yours" dengan alunan gitar dari keduanya.

.

"Wow, malam ini kita dapat banyak." Ino dengan semangat menghitung uang yang mereka dapat.

"Artinya kita harus makan di tempat yang lebih mahal dari emperan mini market."

"Tidak tidak. Aku akan menyimpan uang ini."

"Apa? Aku juga berperan dalam mendapatkan uang itu, Ino."

"Tidak. Kita bisa makan di tempat mahal dari penampilan berikutnya. Tapi untuk uang ini, aku akan menyimpannya."

Sasuke kehabisan kata – kata mendengarkan Ino.

"Ok. Karena aku ingin makan makanan sungguhan, kita makan dengan uangku."

"Aku juga ingin nonton."

"Ok. Kita nonton." Sasuke pasrah.

.

Setelah nonton film kelas C, yang Ino ingat hanya ada wanita telanjang yang dikejar oleh seorang pembunuh berantai, mereka memutuskan untuk makan.

"Jadi ini yang kau maksud dengan makanan sungguhan? Makanan mahal?" protes Ino. Jadi makanan sungguhan yang mahal yang Sasuke maksud adalah ramen di kedai Ichiraku. Yak karena memang sudah tidak ada lagi

"Beggar can't be chooser." Jawab Sasuke santai di sela – sela kegiatan makannya.

Ino memutar bola matanya.

Selesai dengan ramen mereka, masih di kedai Ichiraku, Ino mengeluarkan notebooknya dari gitar casenya.

Ino menulis, entah apa yang dia tulis, pada notebooknya sambil bergumam melodi lagunya. Sasuke memperhatikan dengan diam. Memperhatikan Ino dan juga kata – kata dan not balok balok pada notebook Ino.

"Ino, di sini," Sasuke menunjukkan baris melodi pada notebook Ino "bukankah lebih baik jika …"

.

"Jadi besok, er, nanti kau akan menunjukkan lagumu pada dosenmu." Tanya Sasuke.

Mereka berjalan pulang beriringan setelah menyelesaikan lagu Ino.

"Uh huh."

Sunyi.

"Aku, Karin, Juugo dan Suigetsu kami berada dalam satu band."

"Aku tau."

"Oh ya?"

"Kau jago bermain gitar dan bernyanyi. Suigetsu jago bermain gitar, dan Karin juga bisa bermain gitar. Juugo, mungkin dia drummer? Karena aku tidak pernah melihatnya bermain gitar."

"Kau benar. Aku vokalis sekaligus gitaris, Suigetsu bassist, Karin keyboardist, dan Juugo drummer."

"Leader dan pencipta lagu." tambahku.

"Behind the scene, iya."

"Hei, itu posisi penting."

"Kau tau The Catalyst?" Tanya Sasuke yang bagi Ino cukup random.

"Kafe underground itu? Iya tau."

"Hari sabtu kami tampil disana. Kalau ada waktu datanglah."

"Apa setelahnya kau akan mentraktriku makanan sungguhan yang mahal?"

Sasuke tertawa, aku tersenyum. "Deal."

.

"Tadaima." Gumam Ino saat melepas sepatunya di apartemen.

"Okaeri."

Masuk ke dalam apartemen, Ino menemukan Choji sedang di dapur melakukan hobinya: memasak. Jelas saja Choji sudah membuat sarapan, ini sudah jam 7 pagi.

Ino meletakkan gitaranya di salah satu kursi ruang makan, lalu dia dudu di kursi sebelanya, menyandarkan kepalanya di meja makan dan memejamkan matanya.

"Malam yang sibuk, Ino?" Tanya Choji sambil memotong sayuran.

Pertanyaan Choji mengingatkan Ino pada sesuatu. Ino membuka case gitarnya lalu mengambil gumpalan sapu tangan Sasuke yang berisi uang hasil penampilannya semalam dengan Sasuke.

"Kami dapat banyak." Ino memamerkan uangnya kepada Choji.

Choji mengalihkan perhatiannya dari memotong sayuran kepada uang yang Ino hamburkan di atas meja makan.

"Kau mencari apa, Ino?" Tanya Choji memperhatikan Ino membuka dan menutup kitchenette.

Ino tak menghiraukan pertanyaan Choji, lanjut mengobrak – abrik kitchenette, sampai Ino menemukan yang dia cari.

"Ini dia." Ino mengeluarkan sebuah toples kaca kosong. Kemudian mengisi toples tersebut dengan uang yang dia dapatkan.

Shikamaru masuk ke dapur, melihat Ino bosan, lalu duduk di kursi di seberang Ino, dan meletakkan kepalanya di atas meja.

"Kau darimana Ino pagi baru pulang?"

"Mini market." Jawab Ino santai dengan kepala tergeletakdi meja makan dan mata terpejam.

Shikamaru membuka matanya sekilas untuk melihat Ino, sebelum kembali menutupnya. Sebenarnya, Shikamaru hanya khawatir pada Ino. Dia sering pulang malam, bahkan pagi. Shikamaru hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Ino.

"Kau sangat berani Ino. Malam – malam sendirian di mini market."

"Aku tidak sendiri, Choji."

Shikamaru dan Choji tau pasti orang yang bersama Ino adalah Sasuke. Mereka pernah tidak sengaja bertemu dengan Sasuke, bersama Ino, saat mereka bermain shogi di atap gedung apartemen.

Shikamaru yang berkonsentrasi bermain shogi, sesekali memperhatikan interaksi antara Sasuke dengan Ino. Tidak terlalu banyak kata – kata di antara mereka. Ino memainkan gitarnya mengalunkan melodi, Sasuke memberikan input kepada Ino, dan sebaliknya.

Ino mengangkat kepalanya dari meja makan, "Hari sabtu kalian ada acara?"

"Tidak. Hari sabtu kami kosong." Jawab Sahikamaru, mengerti Ino ingin melakukan sesuatu bersama mereka.

Ino mengangguk "Sasuke dan bandnya akan tampil di The Catalyst."

"Sasuke anak Band? Wow, kau benar Shika." Choji bersemangat.

Ino menatapnya penasaran.

Shikamaru memberi Choji sebuah tatapan penuh arti.

"Ah, apa aku bisa mengajak Karui?" Choji mengalihkan pembicaraan. "Kalian tau, gadis yang aku temui di perpustakaan."

"Choji, sebaiknya kau segera mengutarakan perasaanmu sebelum orang lain mendahuluimu."

"Aku tau Shika, Tapi, …"

Dan pagi di apartemen mereka berlanjut dengan cerita Choji tentang Karui di sela – sela kegiatan memasaknya, yang dibalas dengan "Benarkah?", "Wow", "Oh." Oleh Shikamaru dan Ino dengan kepala tertanam di meja makan.

.

"Aku senang kau bisa menulis lagu seperti ini." Puji Kakashi setelah mendengarkan lagu Ino. Kakashi mengatakannya dengan nada seolah dia tau sesuatu yang Ino tidak tau.

"Bagaimana kau mendapat inspirasi untuk menulis lagu ini, Ino?"

"Aku keluar bersama seorang teman, lalu menulis lagu itu dengannya."

"Ah. Aku mengerti."

Entah kenapa Ino tidak suka dengan nada bicara dan ekspresi i-know-it-all Kakashi.

"Kuharap kau selalu mendapatkan inspirasi untuk menulis lagu seperti ini, Ino."

Ino mengangguk.

"Jangan salah paham, lagu – lagu tragis yang kau buat sangat bagus. Aku hanya ingin kau merasakan 'sudut pandang lain' dari dunia."

Terjemahan: aku ingin kau bahagia. Ino mengangguk.

.

Ino, Shikamaru dan Choji (Karui tidak bisa ikut karena sudah ada janji kencan. Ya, Choji patah hati) berdiri bersama puluhan penonton lainnya tidak sabar menantikan penampilan band Sasuke. Taka.

Saat MC mengumumkan Taka yang akan tampil berikutnya, suasana dalam kafe semakin riuh menyambut mereka.

Penonton menjadi tenang saat Sasuke mulai memainkan gitarnya. Penonton seperti dihipnotis oleh penampilan mereka. penampilan yang memukau dengan lagu rock mengagumkan dan lirik yang indah. Mereka tau bagaimana mengambil perhatian penontonnya. Karisma mereka di atas panggung sudah seperti professional.

"Kalian menyukainya?" Tanya Sasuke pada penonton setelah selesai menyanyikan dua lagu, yang mendapat jawaban riuh dari penonton.

"Lagu berikutnya adalah lagu terbaru kami." Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh penonton. Saat matanya bertemu dengan Ino, dia memberi Ino senyuman. "Aku mulai menulis lagu ini satu bulan yang lalu, dan ini adalah pertama kalinya kami membawakannya pada kalian. Aku harap kalian menyukainya."

Sejenak Sasuke memejamkan matanya, "Finding You".

Lagu ketiga yang mereka bawakan adalah lagu rock ballad romantis dengan lirik yang indah. Membuat setiap penonton wanita yang ada tersentuh (baper keles. Maaf, author nggak tahan).

Bukannya Ino terlalu percaya diri, tapi Ino tau lagu ini Sasuke tulis untuknya. Satu bulan yang lalu, awal mereka bertemu. Sesekali Sasuke menatap mata Ino saat terdapat kata 'kau' dalam lirik lagunya merupakan petunjuk yang terlalu nyata. Dan perkataan Shikamaru "Kalian sebaiknya segera kencan." juga tidak menolong.

.

"Aku suka penampilan kalian." Aku Ino, pandangannya ke jalanan di bawahnya, tubuhnya menyandar pada railing tangga darurat The Catalyst.

"Tentu saja. Semua orang menyukainya." Sasuke meraih tangan kiri Ino dengan tangan kanannya.

Ino memandang tangan mereka, kemudian melepaskan pegangannya pada railing, untuk menggenggam tangan Sasuke.

Beberapa saat mereka hanya diam sambil berpegangan tangan, pandangan masih ke jalanan di bawah mereka.

"Sebaiknya kita masuk, yang lain pasti menunggu." Ajak Ino, mulai beranjak dari railing.

Sasuke menarik lengan Ino, sehingga tubuh Ino berputar berhadapan dengan Sasuke. Tangan kiri Sasuke mengelus pipi Ino, dan perlahan Sasuke mencium bibirnya. Ino memejamkan matanya, membalas ciuman Sasuke.

Mereka saling menatap dengan kening bersentuhan. Kemudian mereka tersenyum. Lalu tertawa.

Dari awal Ino tau bahwa Sasuke sangat tampan. Tapi saat melihatnya dari dekat seperti ini, Ino bisa melihat dengan detail wajah sempurna Sasuke.

"Berikan handphonemu."

tanpa bertanya, Ino memberikan handphonenya pada Sasuke. Mengira bahwa Sasuke akan menggunakannya untuk menghubungi seseorang.

Setelah beberapa saat mengetik sesuatu di handphone Ino, Sasuke mengembalikannya dengan senyuman sok polos. Saat melihat ke layar handphonenya, disana tertera 'My Sexy Boyfriend' di ayas sederet nomor. Membuat Ino tertawa.

"Seksi? Aku tidak melihat ada boyfriend seksi disini."

"Lihat!" Sasuke menunjukkan layar handphonenya pada Ino. "Aku juga punya nama panggilan untukmu."

Ino membaca teks yang ada di layar handphone Sasuke.'My Ugly Girlfriend'. Ino tertawa, lalu memukul pelan lengan Sasuke. "Kau benar - benar pria paling brengsek yang pernah aku temui."

Sasuke memegang kedua tangan Ino, untuk menghentikan pukulan Ino. "Sudah kubilang aku tau seleramu, Ino."

Ino tersenyum memandang Sasuke. "Ayolah, yang lain pasti sudah menunggu."

"Sebentar. Sasuke menarik tubuh Ino untuk mendekat padanya, lalu memeluknya dengan mata terpejam.

"Aku pernah berjanji akan mentraktirmu makanan sungguhan yang mahal." Bisik Sasuke "Bagaimana dengan besok?"

"Bagaimana kalau sekarang?"

Sasuke tertawa. 'Sekarang' artinya adalah makanan sungguhan yang mahal yang akan mereka makan adalah ramen instan. Jam 1 pagi, makanan mahal apa lagi yang ada selain ramen instan?

"Ok."