maaf author baru pulang liburan, makanya baru sempat update sekarang. enjoy...


CHAPTER 5

"Singkirkan kakimu dari mejaku." Karin melipat kedua tangannya di dada, berdiri di samping sofa yang Ino duduki.

Dengan lollipop di mulut notebook dan ballpoint di di tangannya, serta kedua kaki di atas meja, Ino melirik Karin sesaat dengan bosan.

Sejak kejadian di The Catalyst satu bulan yang lalu, Ino sudah beberapa kali masuk ke apartemen Sasuke dan bandnya. Tapi ini adalah pertama kali Ino menginap di apartemen mereka karena semalam mereka melanjutkan menulis lirik untuk lagu baru Taka bersama anggota band lainnya di apartemen mereka. Malas pulang, Ino lanjut tidur di apartemen mereka. karena tempat tidur mereka semua berukuran single yang jelas tidak muat untuk tidur berdua, Sasuke mengalah tidur di futon di lantai kamarnya sedangkan Ino tidur di tempat tidur Sasuke. Ya, Karin memang sangat dewasa sehingga dia tidak mau Ino tidur dengannya, dan Sasuke tidak mungkin membiarkan Ino di kamar Suigetsu/Juugo (karena apartemen mereka hanya memiiki 3 kamar, Saugetsu dan Juugo terpaksa tinggal dalam satu kamar, kamar yang paling besar).

Karin tidak menyukai Ino, tapi Karin memang tidak menyukai siapapun. Khususnya wanita, khususnya lagi wanita yang disukai oleh semua angota bandnya.

Belum Karin mengomel lagi, Suigetsu datang, duduk di sebelah kiri Ino dan mengkopi posisi kaki Ino di atas meja.

"Arrgh." Karin mengacak rambutnya semakin kesal, pergi dari hadapan mereka untuk mengadu pada Sasuke.

"Sasuke! Kenapa kau menambah bebanku?" Karin menggedor pintu kamar Sasuke sambil berteriak yang terdengar sampai ke ruang tamu tempat Ino dan Suigetsu duduk.

Suigetsu tertawa di sebelah Ino. Entah kenapa dia sangat suka menggoda Karin. mengangkat tangannya kepada Ino untuk high five, yang disambut oleh Ino dengan perhatian masih fokus pada notebook.

"Kau seharusnya berhenti membuatnya marah, Suigetsu." Juugo dengan bijaksana menasehati Suigetsu, datang dengan ekspresi datar lalu duduk di sebelah kanan Ino dengan posisi yang sama. Kedua kaki di atas meja.

Suigetsu semakin tertawa terbahak – bahak. Sedangkan Ino masih tidak peduli dengan sekitarnya, melanjutkan menulis lirik lagunya.

"Kalian harus belajar mendengarkan Karin." Sasuke datang, dengan ekspresi datar menasehati Ino, Suigetsu dan Juugo. Dengan patuh mereka menurunkan kaki dari meja.

"Juugo, kita berangkat."

Berangkat?

Ino mengalihkan perhatiannya dari notebook dan lirik lagu ke Sasuke yang berdiri di belakang mereka. Notebook Ino terjatuh, dan mulutnya terbuka.

Sasuke memakai seragam. Seragam SMA Konoha. Begitu pula dengan Juugo.

"Kau masih SMA?" Tanya Ino kaget.

"Kau tidak tau?"

Ino kehabisan kata – kata. Bagaimana bisa Ino tidak sadar bahwa Sasuke masih SMA? Sasuke masih anak – anak. Sial.

"Berapa umurmu?" Tanya Ino, berdiri di depan Sasuke.

"Apa itu penting? Umur hanya angka, Ino."

"Berapa umurmu Sasuke?" ulang Ino dengan nada lebih tinggi.

Tidak mau terlibat dalam masalah Sasike – Ino, Karin, Suigetsu dan Juugo berjinjit meninggalkan ruang tamu.

Sasuke berusaha menghindari mata Ino, "16"

Ino tidak percaya ini. Ino benar – benar marah. Bagaimana bisa Sasuke tidak mengatakan ini dari awal.

Berusaha menahan emosinya, Ino mengambil gitar dan notebooknya. Lalu beranjak pergi.

"Ino tunggu!" Sasuke menahan lengannya saat Ino berusaha membuka pintu apartemen. "Kupikir kau tau, Ino."

Ino ingin tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa Ino tau jika Sasuke tidak pernah mengatakannya?

"Lepaskan tanganku!" desis Ino.

Sasuke melepaskan tangan Ino. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini, Ino." Sasuke memijat keningnya, tidak tau harus memulai darimana. "Sungguh, aku pikir kau sudah tau."

"Ino, selisih usia kita hanya satu tahun, atau mungkin dua. Entahlah. Aku tidak tau berapa umurmu. Tapi intinya, aku tidak peduli Ino. Umur hanya angka."

Memang Sasuke benar, selisih umur mereka hanya sedikit, 2 tahun. Dan benar, mereka tidak tau apa – apa tentang satu sama lain.

"Setiadaknya aku sudah legal, Sasuke. Sedangkan kau masih minor." Ino menghela napas. "Aku tidak akan peduli jika umurmu 26 atau 36 atau 50." Tentu saja Ino peduli jika umur Sasuke 36 atau 50. Tapi, yah, well, itu bukan inti permasalahan di sini.

"Ini hanya satu. Entah tau apa lagi yang tidak aku tau, Sasuke."

"Ino aku mohon."

Ino menutup pendengarannya. Meninggalkan Sasuke yang hanya bisa mematung di depan pintu apartemennya.

.

Ino duduk di tangga darurat antara lantai 5 dan 6 gedung apartemennya.

16 tahun. Bagi Ino, Sasuke masih anak – anak. Itu yang pertama.

Yang kedua, Ino benci berada di tempat gelap. Tidak tau apa yang sedang terjadi di sekitarnya, lalu saat sepercik cahaya masuk, kenyataan yang pahit akan menghancurkan halusinasinya.

Sepeti halusainasi dimana dia tinggal selama 12 tahun di awal hidupnya.

Saat Sasuke menyusulnya, masih lengkap dengan seragam SMAnya, Ino sedang memainkan gitarnya.

"Aku mencarimu ke kamarmu dan atap gedung."

Ino tidak menjawab. Melanjutkan memetik gitarnya.

Sasuke duduk di sebelahnya. "Maafkan aku."

"Tidak." Jawab Ino. Dia meletakkan gitarnya. Menatap mata Sasuke. "Maafkan aku. Tak seharusnya aku marh seperti tadi." Ino kembali menatap dinding di hadapannya. "Kurasa kita tidak tau apa – apa satu sama lain."

"Aku Uchiha Sasuke, 16, anak kedua keluarga Uchiha. Kelas 2 SMA. Musik adalah hidupku. Tujuan hidupku adalah menjadi musisi yang diakui."

Ino tersenyum lelah. "Yamanaka Ino, 18, anak tunggal dari ayah dan ibu kandungku. Aku kuliah jurusan Arkeologi. Musik adalah hidupku. Aku tidak tau apa tujuan hidupku selain membuat marah ayah dan ibuku."

Sasuke tertawa. Kemudian menggenggam tangan kanan Ino.

"Aku bersama anggota Taka yang lain, kami adalah trainee di Sound Entertainment."

Ino menarik tangannya, memandang Sasuke bimbang.

"Aku tidak tau kapan kami akan debut. Apa yang kulakukan selama ini, bernyanyi di jalanan dan tampil di kafe, itu semua aku, kami lakukan untuk berlatih."

"Lalu setelah kalian debut?" kita apa? Ino tidak melanjutkan pertanyaannya.

"Entahlah Ino, aku tidak tau. Aku tidak tau apakah mereka akan mengijinkan 'ini' atau tidak. Tapi bisakah kita memikirkannya nanti? Tidak bisakah kita jalani 'ini' dulu?"

Nanti. Saat semuanya sudah terlalu dalam. Saat semuanya semakin menyakitkan. Seharusnya Ino mengatakan tidak. Seharusnya Ino menghindari luka yang akan tercipta di kemudian hari.

"OK." jawab Ino lemah. "Kita coba."

Sasuke menghela napas lega, kembali menggenggam tangan kanan Ino. "Terimakasih." Bisiknya, kemudian mencium telapak tangan kanan Ino.

"Apapun 'ini' yang kita coba, tidak mengubah kenyataan bahwa kau masih di bawah umur." Sasuke memutar bola matanya. "Kau tidak bisa melakukan hal – hal yang tidak diizinkan untuk anak di bawah umur."

"Ino yang benar saja." Protes Sasuke, "Lagi pula, hal terjauh yang pernah aku lakukan adalah menciummu."

"Tepat sekali. No touching, no kissing, no nothing."

Sasuke membelalakkan matanya. "Saat ini, siapa yang tidak berciuman Ino? Bahkan anak SDpun berciuman." Protesnya.

Ino meletakkan kepalanya pada bahu Sasuke. "Ceritakan lebih banyak lagi tentang dirimu?"

Dam Sasuke menceritakan semua tentangnya kepada Ino, begitu pula sebaliknya.

Sekarang Ino tau bahwa sebenarnya Sasuke adalah anak dari pasangan konglomerat Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Ino tentu saja pernah mendengar tentang keluarga Uchiha, tapi saat pertama kali mengenal Sasuke, Ino tidak berpikir bahwa Sasuke adalah anak dari pimpinan Uchiha itu sendiri. Kakanya Uchiha Itachi adalah pewaris Uchiha Enterprise. Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi.

Dari kecil Sasuke sudah menyukai musik. Tapi bagi keluarga terpandang seperti mereka, menjadi seorang musisi, apalagi musik rock seperti yang Sasuke geluti, merupakan pencemaran nama keluarga. Keluarganya memaksanya masuk ke sekolah prestigius. Sampai akhirnya Sasuke memberontak.

Usia 13 tahun, Sasuke kabur dari rumah. Lalu mengikuti audisi di Sound Entertainment yang akhirnya mempertemukannya dengan Karin, Suigetsu dan Juugo.

Karin dan Suigetsu seumuran dengan Ino, 18 tahun, sedangkan Juugo yang paling muda tapi dengan badan yang paling besar, 15 tahun. Meskipun begitu, mereka bertiga respek dan patuh pada Sasuke sebagai leader mereka.

Mereka tinggal di apartemen yang difasilitasi oleh Sound. Tapi untuk kebutuhan mereka sehari – hari mereka sendiri yang menanggungnya. Beruntung Itachi mendukung keinginan Sasuke, sehingga dia tetap bersedia membiayai kebutuhan Sasuke, sekaligus ketiga rekannya.

Meski sudah tidak tinggal di rumahnya lagi, Sasuke masih berhubungan baik dengan ibu dan kakaknya. Saat libur hari besar Sasuke masih pulang ke rumahnya meskipun ayahnya tak pernah menganggapnya ada.

"Bukankah kau ada kelas musik hari ini?" Tanya Sasuke. Tangannya masih menggenggam tangan Ino, dan Ino juga masih meletakkan kepalanya di bahu Sasuke.

Ino mengangguk. "Mau ikut?"

.

Hubungan Sasuke dan Ino baik – baik saja. Ino masih selalu menjadi penonton pertama Sasuke saat dia bernyanyi di jalanan maupun di kafe – kafe underground.

Sampai satu tahun kemudian, saat Sasuke bersama Taka debut.