CHAPTER 5

"Tadaima." Sapa Ino lemah saat memasuki apartemennya.

"Okaeri." Jawab seorang wanita dari dalam. Seketika Ino mengangkat pandangannya kepada sosok yang sedang duduk di depan TV bersama Shikamaru dan Choji. Ibu Ino.

Beberapa detik Ino berpandangan dengan ibunya.

"Aku harus segera ke bar. Para pelanggan sudah menungguku." Ino sengaja menekankan kata 'bar' dan 'pelanggan'. Karen dua kata tersebut berkonotasi negatif bagi sebagian orang, apalagi seorang ibu dari keluarga terpandang.

Selama 2 bulan terakhir, Ino bekerja sebagai bartender di sebuah bar tak jauh dari apartemennya. Ino bekerja dari jam 7 malam sampai jam 1 pagi. Sebelumnya Ino juga pernah bekerja sebagai kasir di sebuah mini market, menjadi penjaga toko buku, bahkan Ino pernah mencobah untuk bekerja sebagai baby sitter seekor anjing poodle milik istri seorang pengusaha kaya. Tapi karena Ino bosan, Ino memutuskan untuk keluar dan bekerja sebagai bartender yang Ino tau akan membuat ayah dan ibunya marah besar.

Dan benar saja. Ibunya bahkan sempat mengancam bertemu dengan pemilik bar untuk memecat Ino. Ino dengan santai menjawab ancaman ibunya dengan "Aku selalu bisa menjual diri jika kehabisan uang." menyebabkan ibunya menangis yang sudah pasti jika ayahnya disini, sudah menampar Ino saat itu.

Sejak keluar dari rumah, Ino tidak pernah menggunakan uang yang diberikan oleh ibunya. Ino bahkan sudah tidak ingat di tempat sampah mana dia membuang kartu kredit dan debit yang diberikan ayah dan ibunya. Tapi satu hal yang harus Ino akui, Ino tidak pernah protes saat ibunya membayar biaya kuliah dan apartemennya. Bagaimana bisa Ino menolak jika ibunya mentransfer semua biaya tersebut tanpa sepengeahuan Ino? Tapi sebenarnya Ino tidak pernah berusaha untuk membayar kuliah maupun apartemennya. Ino tidak keberatan jika harus keluar dari universitas. Ino juga selalu bisa mencari apartemen lain jika ia diusir dari apartemennya yang sekarang.

Dengan cepat Ino kembali memakai sepatunya dan keluar dari pintu apartemen.

"Ino, tunggu!" panggil Shikamaru, yang kemudian berlari mengejar Ino. sementara Choji tinggal di apartemen untuk menemani ibu Ino.

"Ino" panggil Shikamaru saat berhasil mengejar Ino di depan pintu keluar darurat gedung apartemen mereka.

"Sampai kapan kau akan terus merasa menjadi korban dan mengasihani dirimu sendiri, Ino?"

Ino menatap mata Shikamaru tajam sesaat. Lalu berjalan meninggalkannya.

Merasa tak dihiraukan, Shikamaru mengejar Ino dan menarik lengannya sehinga tubuh Ino berputar menghadap Shikamaru.

"Menyingkir dariku, Nara!" Ino berusaha menarik lengannya.

"Berhentilah berusaha menyakiti orangtuamu, Ino. Itu tidak akan pernah membuatmu puas, bahagia. Berhenti playing victim. Berhentilah merasa bahwa kau adalah manusia paling menderita di muka bumi. Berhenti menyiksa dirimu sendiri!" Shikamaru menghela napas. "Move On, carilah kebahagianmu sendiri, Ino." Shikamaru melepaskan lengan Ino. Tanpa berpikir panjang, Ino lari dari hadapan Shikamaru.

.

Ino berjalan tanpa arah dengan banyak hal di pikirannya. Hingga akhirya Ino sampai di sebuah gedung yang belum selesai dibangun, belum memiliki dinding pembatas. Ino naik ke lantai kedua gedung tersebut, dan duduk di pinggiran gedung.

Memang seharusnya dia bekerja, tapi Ino sedang tidak ingin bekerja malam ini. Ino tidak membenci pekerjaannya. Menjadi bartender, Ino hanya perlu membuatkan minuman untuk pelanggannya, pura – pura tuli saat pelanggannya berkata kurang ajar, menghubungi rekan dari pelanggan yang mabuk. Ino bisa mengatasinya. Tapi Ino harus mengakui, Ino merasa jenuh.

Jauh di dalam hatinya, Ino tau bahwa yang dikatakan Shikamaru adalah benar. Semua yang Ino lakukan hanyalah untuk menyakiti orangtuanya. Tapi, harga diri Ino terlalu tinggi untuk mengakuinya.

Ino sengaja mengacuhkan semua panggilan masuk maupun sms yang masuk ke handphonenya. Pasti semua itu dari bosnya. Atau Shikamaru dan Choji. Atau Sasuke, jika konferensi persnya sudah selesai.

Selama setahun terakhir, harus diakui bahwa Ino tidak mengabdikan seluruh hidupnya untuk membuat orangtuanya menderita. Karena selama setahun ini perhatiannya teralihkan oleh kehadiran Sasuke, Shikamaru, dan Choji. Ino akan menenggelamkan dirinya ke dasar palung Mariana sebelum mengakuinya, tapi kehadiran mereka membawa warna di kehidupan Ino.

Ino merenungkan apa saja yang telah dia lalui bersama Shikamaru, Choji, Sasuke bahkan Taka selama setahun ini. Ino merasa beruntung telah bertemu mereka. Dan membuat Ino merasa seperti orang brengsek terhadap perlakuannya pada Shikamaru barusan.

Shikamaru bukanlah Choji yang selalu menggunakan bahasa sahalus mungkin untuk menjaga perasaan lawan bicaranya. Tapi semua yang Shikamaru katakan memang benar. Ino tidak berani melangkah ke depan. Mengahabiskan hidupnya untuk hal sia – sia yaitu membuat orangtuanya menderita.

.

Dengan berat Ino melangkahkan kakinya menaiki tangga darurat gedung apartemennya.

"Semua orang mengkhawatirkanmu." – Aku mengkhawatirkanmu. –

Ino mengangkat pandanganya untuk bertemu dengan Sasuke yang duduk di ujung atas tangga antara lantai 5 dan 6.

Perlahan, Ino melangkahkan kakinya untuk menghampiri Sasuke, lalu duduk disampingnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Sasuke. Sasuke mengenggam tangan kiri Ino dengan kedua tangannya.

"Kami mencarimu ke tempatmu kerja. Meski aku tidak bisa masuk."

"Anak – anak." ledek Ino. "Aku sedang tidak ingin bekerja."

"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan Ino, asalkan itu membuatmu bahagia. Bartender, musisi jalanan, bintang film porno atau apapaun aku tidak peduli. Selama kau melakukannya karena kau ingin melakukannya. Selama itu membuatmu bahagia." Aku Sasuke "Uangku akan cukup untuk kita berdua, kalau kau memutuskan untuk menjadi pengangguran." Tambahnya sombong membuat Ino tertawa.

Ino bahkan tidak tau apa yang ingin dia lakukan.

"Bicaralah dengan Shikamaru. Dia merasa bersalah kepadamu, Ino."

Ino mengangguk. Tapi dia masih belum mau bergerak dari posisi nyamannya.

"Aku ingin tidur denganmu."

"Benarkah?" Mulut Sasuke terbuka dan matanya melebar, pura – pura terkejut yang berlebihan. Sasuke paham bahwa 'tidur' yang diminta Ino bermakna literal. Ino sedang butuh kenyamanan.

Ino mendorong wajah Sasuke menjauh. Sasuke tertawa.

Mereka biasa melakukan ini. Tidur bersama dalam arti literal. Tidak lebih. Hanya bicara atau mendengarkan suara nafas satu sama lain. Mereka sama – sama ingin mengahabiskan waktu bersama setiap ada kesempatan di sela – sela kesibukan Sasuke bersama Taka.

Tangan kiri masih di genggaman Sasuke, Ino mengirim pesan singkat kepada Shikamaru dengan tangan kanannya.

To: Shika

- Aku baik2 saja. Maaf telah membuatmu khawatir. -

- Aku menginap di tempat Sasuke, jangan menungguku. -

From Shika:

- Syukurlah. Sampaikan salamku pada Sasuke. -

"Hai juga, Nara." kata Sasuke dari sebelah Ino, meski Shikamaru tidak bisa mendengarnya.

"Ino," panggil Sasuke pelan. Sasuke berbaring di samping Ino di tempat tidur singlenya. Mereka sama – sama berbaring sambil menatap langit – langit ruangan.

Awalnya saat Ino menginap di tempa Sasuke atau sebaliknya, Sasuke akan tidur di lantai, tapi karena suatu malam Ino sakit, Sasuke tertidur dengan posisi duduk saat menjaga Ino di tempat tidur Ino. setelah itu, Sasuke tidak pernah lagi tidur di lantai.

"Hm?"

"Kami sudah menyelesaikan semua rekaman." Ungkap Sasuke.

Ino tidak berkomentar. Hanya memberikan respon dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Sasuke.

"Kami akan rekaman MV akhir bulan ini."

Semakin Sasuke mendekati mimpinya, semakin Ino merasa jarak di antara mereka semakin besar.

"Paling lama tiga bulan lagi kami akan debut."

" "

"Kami juga akan pindah ke apartemen yang lebih besar dengan 4 kamar."

Setidaknya, malam ini mereka masih bersama.

Keesokan harinya saat Ino kembali ke apartemennya, dia langsung menuju ke kamar Shikamaru. Menyesuaikan diri duduk di tempat kosong di sebelah kaki Shikamaru di tempat tidurnya.

"Okaeri."suara Shikamaru parau.

"Tadaima."

Shikamaru mengubah posisinya, duduk di sebelah Ino. "Maaf atas yang aku katakan semalam. Tak seharusnya aku ikut campur."

"Maaf karena aku bereaksi berlebihan dan membuat kalian semua khawatir."

Tiba – tiba pintu kamar Shikamaru terbuka, menampilkan Choji "Aku mendengar suara pintu depan terbuka."

Melihat Ino di dalam, Choji tersenyum lebar, lalu bergabung dengan mereka di tempat tidur sempit Shikamru. "Kau sudah kembali."

.

15 bulan Sasuke dan Ino saling kenal, 14 bulan mereka menjalin hubungan. Ino tidak pernah mengira hubungan mereka bisa bertahan selama ini. Apa lagi mengingat selama setahun terakhir Taka persiapan debut, pertemuan mereka sangat terbatas. Hingga Ino sering mempertanyakan, apakah hubungan diantara mereka masih ada.

Pagi hari Sasuke sibuk dengan sekolahnya. Sepulang sekolah, Sasuke sibuk di studio musik bersama Taka. Bahkan Sasuke menghentikan penampilannya di jalanan untuk lebih fokus dalam persiapan debut bandnya. Sehingga Sasuke hanya bisa bertemu dengan Ino saat Taka sedang ada penampilan di kafe, dan itupun sekarang sudah tidak lagi mereka lakukan. Ditambah lagi Taka sudah tidak tinggal di gedung apartemen mereka lagi.

"Ino, Kemarilah!" panggil Shikamaru dari ruang tengah.

Saat Ino menghampiri Shikamaru diikuti. Shikamaru sedang fokus menyaksikan siaran TV. Konferensi pers debut Taka bersama Kabuto, tangan kanan Orochimaru, CEO Sound Ent. Ino berdiri di belakang Shikamaru yang duduk di sofa.

Ino tau bahwa dalam waktu dekat Taka akan debut. Tapi Ino tidak pernah siap untuk menghadapinya.

Ino menyaksikan Kabuto menjawab sebagian besar pertanyaan yang dilontarkan wartawan. Seputar waktu debut, lagu, video klip, album, konser, dan larangan berpacaran.

"Mereka masih rookie, mereka sibuk membangun karir dari titik terendah. Tidak ada waktu bagi satupun anggota Taka untuk memikirkan hal – hal diluar musik." jelas Kabuto tanpa mendapat bantahan apapun dari Sasuke ataupun anggota Taka yang lain.

Sasuke semakin tak terjangkau bagi Ino. Dan pernyataan Kabuto membuat Ino sadar, bahwa sekarang dunia mereka sudah berbeda. Ino hanya beban yang akan menghambat perjalanan Sasuke.

Shikamaru mematikan TV, memandang Ino khawatir "Ino?"

Ino duduk di sandaran sofa membelakangi Shikamaru. "Aku merasa semakin jauh dari Sasuke. Setiap saat, Sasuke bergerak maju. Sedangkan aku selamanya berhenti disini tanpa tau apa yang aku inginkan." Ino tertawa sinis "aku merasa seperti sampah berada di sampingnya."

"Kau bisa berhenti menjadi sampah, Ino. Kau hanya tidak mau mencobanya." Musik. itulah maksud Shikamaru.

Iya, Ino menyukai musik. Tapi Ino tidak tau apakah itu yang diinginkannya dalam hidup.

.

Di atas gedung apartemenya, sendiri Ino menggumamkan meodi dengan iringan petikan gitarnya. Ino tidak baik dalam komunikasi dengan orang lain. Tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaan da nisi hatinya. Maka hal seperti inilah yang bisa mencegah Ino menjadi gila.

Saat Sasuke datang, sesaat Ino mengangkat pandangannya, kemudian mengembalikan perhatiannya pada melodinya.

Sasuke duduk d lantai di sebelah Ino. Menikmati suara dan alunan gitar dari Ino.

"Maaf tentang Kabuto." Ujar Sasuke saat Ino meletakkan gitarnya.

Ino menyandarkan kepalanya di railing gedung. Tak memberikan respon apapun kepada Sasuke.

"Tujuh tahun, Ino. Aku mohon kau bersabar selama tujuh tahun masa kontrakku. Setelah itu aku bisa melakukan apapun yangaku inginkan."

Ino masih tidak merespon.

"Kau, musik. Aku tidak bisa kehilangan salah satu dari kalian. Aku tau aku egois, tapi kumohon Ino, tunggu aku."

Akhirnya Ino menatap mata Sasuke "Kau pikir ini semua tentang apa yang dikatakan Kabuto? Kau terlalu dangkal Sasuke." Ino menghela napas, berusaha tidak berteriak pada Sasuke. "Kau harus tau aku tidak akan pernah membuatmu memilih, Sasuke. Aku tidak peduli jika aku harus sembunyi seumur hidupku."

"Ino,"

"Apa yang kita jalani ini absurd. Dunia kita berbeda Sasuke. Ini seperti mimpi yang saat aku terbangun, semuanya akan lenyap."

"Hubungan kita, aku tidak akan menyerah Ino."

Ino menghela napas. "Aku perlu waktu sendiri, Sasuke." Ino bangkit dari duduknya, membawa serta gitarnya. "Pulanglah, Suigetsu sudah menunggu."

Sejak Taka pindah ke apartemen baru mereka, setiap kali Sasuke berkunjung, Suigetsulah yang selalu mengantarnya karena Sasuke belum memiliki SIM. Jika Sasuke ingin menemui Ino sepulang latihan tengah malam, Sasuke menyetir sendiri karena jalanan sudah sepi.

"Aku akan menghubungimu." Ino meninggalkan Sasuke terdiam di tempatnya.

.

Dua minggu tanpa komunikasi sama sekali, akhirnya Ino menghubungi Sasuke melalui pesan singkat.

To: My Sexy Boyfriend

- Aku akan menemui Kakashi – sensei. Aku sudah mempertimbangkan tawarannya. -

Satu detik kemudian, Sasuke menelponnya.