CHAPTER 8

Saat Ino membuka mata, dia berada di ruang gelap. Ino bingung sedang berada dimana. Yang Ino ingat adalah tadi dia sedang menulis lagu di ruang tamu. Ino megerjapkan matanya beberapa kali hingga ia menyadari bahwa ia berada di kamarnya sendiri.

Ah ya, Sasuke. Dimana Sasuke?

Ino mengedarkan matanya ke seluruh sudut kamar gelapnya, tapi tidak ada Sasuke.

Ino memejamkan mata lalu mengehela nafas panjang. Seharusnya Ino tau ini akan terjadi. Ia merasa hubungannya dengan Sasuke hanyalah ilusi.

Saat menurunkan kaki ke lantai dingin kamarnya. Tak sengaja Ino menginjak notebooknya.

Ada yang aneh dengan notebooknya. Sehelai kertas berwarna hijau menyala menjuntai dari sela – sela halaman notebook.

Ino mengambil notebooknya, membuka halaman yang ditandai oleh kertas hijau itu. Sebuah sticky note yang ditempelkan pada halaman terakhir catatan Ino, halaman dimana dia menulis lagu tentang Sasuke Tidur. Ino tertawa dengan pikirannya sendiri. Sejak kapan lagunya berjudul Sasuke Tidur?

"Please be patient a little bit more. I'll be all yours soon." Ino tersenyum membaca pesan pada sticky note tersebut.

Setidaknya Ino tau dia tidak punya kebiasaan tidur sambil berjalan. Karena tersangka yang membawanya kemari adalah kekasihnya sendiri.

Hanya dengan selembar kertas kecil sudah bisa membuat Ino melupakan kekecewaannya.

Hal – hal kecil yang Sasuke lakukan, selalu berhasil membuat hati Ino ringan.

Masih dalam gelap, Ino meraih gitar yang terletak di sebelah notebooknya.

.

"Kalian mau keluar?" tanya Ino saat melangkahkan kakinya keluar kamar, pada Shikamaru dan Chouji melihat mereka berpenampilan cukup rapi.

"Kau di rumah?" Tanya Chouji terkejut. "Kami pikir kau masih di studio"

"Hari ini aku tidak ke studio." Jawab Ino. "jadi?"

"Kami akan menonton balap jalanan. Ikut?" Jawab Shikamaru.

"Kalian mau menungguku?"

"Cepatlah." Dan dengan cepat Ino mandi dan ganti baju. Sweater lengan panjang, rok jeans sepaha, sepasang sneakers, dan rambut dikuncir kuda.

Dan jadilah mereka berangkat bertiga ke lokasi balap jalanan.

"Kenapa baru sekarang kalian mengajakku kemari?" tuntut Ino pada kedua sahabatnya.

"Karena kau selalu sibuk dengan Sasuke, atau kalau tidak, kau sibuk mengasihani dirimu sendiri." Jawab Shikamaru yang hanya mendapat tatapan bosan dari Ino. Ino sedang sangat bersemangat, ia tidak mau moodnya memburuk hanya oleh perkataan tajam Shikamaru.

"Ini baru kedua kalinya kami kesini, Ino." Jelas Chouji menyambung Shikamaru berusaha mencairkan keadaan. Well, Chouji tidak perlu melakukannya karena Ino tidak mengambil pusing perkataan Shikanaru. Pedas memang, tapi yang dia katakan benar adanya.

Di lokasi start balapan sudah ramai oleh para penonton. Sedangkan para pembalap sibuk pamer mobil mereka atau menggoda para gadis yang ada di sana.

Seandainya Ino bisa mengemudikan mobil, Ino akan pertandingan ini.

Tapi, Ino tidak harus jadi pengemudi untuk ikut balapan.

Ino menuju salah satu mobil balap yang berada paling dekat dengannya. Dia membungkuk dan mengetuk jendela mobil itu untuk mendapatkan perhatian si pengemudi. Pengemudi berambut merah bata dan tato "ai" di keningnya menurunkan kaca jendela mobilnya.

"Kau keberatan?" tanya Ino.

"Masuklah." Jawab si pengemudi mengerti maksud Ino.

"Apa yang kau lakukan, Ino?" protes Shikamaru khawatir.

"Bersenang – senang." Jawab Ino sebelum menutup kaca jendela mobil.

"Aku Ino." Ino memperkenalkan diri.

"Gaara." Balas si pengemudi santai tanpa memperdulikan kehadiran Ino di sebelahnya. Dan Ino tidak masalah dengan itu. Ino rasa Ino tiidak perlu berbasa – basi mencari topik bahasan dengan pria ini.

Ino merasa sangat senang dan bersemangat. Adrenalinnya benar – benar terpacu. Ino berteriak lalu tertawa setiap kali mereka di tikungan karena drift yang Gaara lakukan menurut Ino sangat keren. Well, karena memang ini pertama kalinya Ino nerasakan drift.

Sesekali Gaara memperhatikan Ino di sela konsentrainya pada jalanan. Memenangkan balapan ini bukan lagi prioritas Gaara.

"Terimakasih padamu aku menang di urutan ke tiga." Ucap Gaara sambil menghitung uang yang ia dapat. Balapan di sini hanya untuk bersenang – senang. Sudah hal biasa jika pemenang balapan membagi uang taruhan dengan partisipan lain.

"Terimakasih kembali." Jawab Ino santai, paham bahwa Gaara sedang sarkas. Ino menyusul Gaara duduk di moncong mobil. "Sebagai ucapan terimakasih, kau cukup mentraktir kami makan."

"Kami?" Gaara menaikkan sebelah alis(?)nya.

Ino tersenyum, menganggukkan kepalanya ke arah kedatangan Shikamaru dan Chouji, yang mendapat tatapan datar dari Gaara.

Dan Ino membawa mereka ke minimarket 24 jam terdekat untuk makan ramen instan.

"Jadi disini tempatmu kencan dengan, Sa, kekasihmu?" tanya Chouji drngan mulut penuh ramen. Chouji rabu untuk menyebutkan nama Sasuke. Sasuke sudah debut, ia tau bahwa hubungan mereka tersembunyi.

"Tidak. Ini terlalu jauh dari tempat kami tampil." Jawab Ino masih menikmati mangkok pertama ramennya.

"Tampil?" Gaara penasaran.

"Kami biasa bernyanyi di jalanan dekat stasiun Konoha."

"Ini pertama kalinya aku melihat Ino tanpa gitar."

Ino memutar bola matanya. Kadang Chouji bisa sangat berlebihan. Ino tidak selalu membawa gitarnya.

"Kau unik."

Unik, spesial, bagi Ino memiliki makna yang sama.

"Terimakasih."

"Aku bisa mengantar kalian, jika kalian mau."

"Ah kau baik sekali Gaara – san." – Chouji

"Bagaimana kami bisa yakin kau bukan pembunuh berantai.?" – Shikamaru

Gaara mengalihkan pandangannya dari Chouju ke Shikamaru bergantian, karena mereka bicara pada waktu yang bersamaan.

"Aku tidak perlu meyakinkan kalian. Kalian bisa jalan pulang." Jawab Gaara bosan.

"Jawaban yang bagus. Kau bisa mengantar kami pulang." Jawab Ino, berdiri lalu berjalan dan masuk ke mobil Gaara.

"Kurasa kami akan membutuhkan tumpangan dari Gaara – san." Chouji menggaruk kepala belakangnya.

Gaara masuk ke kursi kemudi, yang diikuti Shikamaru dan Choiji di kursi belakang.

"Aku kira Gaara – san hanya bisa ngebut saja. Ternyata bisa juga mengemudi dengan kecelatan normal." Aku Chouji memecah keheningan. Usaha yang bagus, meski hanya mendapat lirikan melalui kaca spion dari Gaara. Shikamaru dan Ino masih sibuk melihat jalanan di luar jendela mereka masing – masing.

"Kami bertiga seumuran, tinggal bersama dan kuliah di kampus yang sama juga." Aku Choiji ceria, berhasil mendapatkan perhatian Gaara. "Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka. Mereka tidak pernah komplain jika rumah kotor. Sekarang aku bisa bermain gitar berkat Ino." Cerocos Chouji.

"Kalian tinggal bersama?" Tanya Gaara.

"Iya. Awalnya Shikamaru tinggal di kamar yang paling besar, tapi karena perlengkapan musik Ino lumayan banyak, sekarang Ino yang di kamar paling besar. Shikamaru dan Ino sangat lucu, karena Ino suka memakai kemeja yang longgar, terkadang dia salah ambil dan memakai kemeja Shikamaru, begitu pula sebaliknya." Chouji tertawa. Cerocosnya mendapat tatapan datar dari Shikamaru.

"Hahaha, maaf, kurasa aku bicara terlalu banyak ya. Haha"

"Kau sendiri bagaimana Gaara – san?"

"Aku tinggal sendiri."

"Aku tidak bisa membayangkan jika harus tinggal tanpa Shika dan Ino. Selain balapan, apa lagi yang Gaara – san lakukan?"

"Jika sedang tidak malas, aku kuliah."

"Oh, ya? Dimana?"

"Suna University."

"Wah, lumayan jauh juga. 30 menit dari kampus kami, Konoha University."

"Sebenarnya aku dulu – "

"Perempatan di depan, belok kanan." Potong Ino.

"– ingin kuliah di Suna juga, tapi karena Shikamaru lanjut ke Konoha University, aku juga ikut kesana. Tapi aku bersyukur memutuskan untuk – "

"gedung dengan hiasan lampu norak seperti rumah bordil itu adalah apartemen kami." Potong Ino lagi, menunjuk gedung apartemen mereka yang sudah dekat dari posisi mereka sekarang.

"– ikut Shika karena aku bisa bertemu dengan Ino." Chouji mengakhiri ceritanya tepat saat Gaara menghentikan mobilnya.

"Wah, kita sudah sampai." Chouji terheran, pandangannya pada gedung apartemen mereka. "Terimakasih Gaara – san. Maaf sudah merepotkan."

"Terimakasih Gaara." Ucap Shikamaru dan Ino bersamaan.

Gaara membalas mereka dengan anggukan. Lalu Mereka keluar dari mobil Gaara.

"Yamanaka!" panggil Gaara dari dalam mobilnya.

Ino yang sudah beranjak meninggalkan mobil Gaara, berbalik. Dia tersentak saat mendapat lemparan gumpalan kertas.

"Hubungi aku jika kau ingin menguji adrenalinmu." Kemudian Gaara tancap gas.

Ino membuka gumpalan kertas dari Gaara, yang berisikan nomor telepon.

.

.

"Kau skip training lagi?" tanya Gaara saat menghentikan mobilnya di depan Ino sedang berdiri di depan Leaves Ent.

"Tidak juga." Ino membuka pintu belakang mobil dan meletakkan gitarnya di jok belakang mobil Gaara. "Aku sedang mencari inspirasi. Membuat lagu juga bagian dari trainingku, kau tau?"

Gaara memandangnya datar saat Ino masuk ke kursi penumpang di sebelah Gaara.

"Hei itu benar. Aku tidak sedang mencari alasan."

"Aku tidak mengatakan apa – apa."

Ino melipat kedua tangannya di dada, meletakkan kedua kakinya pada dasbor mobil Gaara.

"Apa yang ingin kau lakukan?"

"Surprise me!"

.

Jika 4 pertemuan sebelumnya Gaara membawa Ino balapan, kali ini Gaara membawa Ino berkendara dengan santai tanpa arah tujuan.

Hingga suasana sudah mulai gelap, Gaara menghentikan mobilnya di pantai di pinggiran Konoha, dengan kecepatan minim, mereka menempuhnya dalam dua jam.

Ino duduk di atap mobil Gaara sambil menyanyikan potongan lagu dengan petikan gitarnya. Sedangkan Gaara berbaring di sebelah Ino, menikmati suara Ino dan pemandangan bintang yang tidak bisa ia temui di kota.

Baru kali ini Gaara mendengar Ino bernyanyi. Tidak heran di usia Ino yang terlalu-tua-untuk-menjadi-trainee masih diterima di Leave Ent. Dari sudut pandang Gaara yang bukan seorang expert dalam musik, suara Ino memiliki warna yang unik, yang menurut Gaara membuat pendengarnya nyaman mendengarkannya.

Lagu yang sedang Ino nyanyikan terdengar santai. Liriknya sederhana, manis tapi dalam.

"Apa judul lagu ini?"

"Sleeping Beauty." Jawab Ino tanpa menghentikan petikan gitarnya.

"Untuk kekasihmu?"

Ino tertawa, menghentikan petikan gitarnya.

"Ya, dia inspirasiku dalam menulis lagu ini." Ino meletakkan gitarnya bersandar di samping mobil, kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Gaara.

" "

"Aku ingin kencan seperti ini."

"Kaubisa menganggap ini kencan."

Ino tertawa "Baiklah."

"Seandainya aku jatuh cinta kepadamu" Ino menghela nafas.

"Tidak ada yang menghalangimu, Ino."

Ino tersenyum "Seandainya semudah itu."

Entah kenapa dada Gaara terasa sangat sempit.

"Haah" Ino menghela nafas panjang. Lalu menutup matanya. Menikmati suasana pantai yang jarang bisa Ino rasakan.

Gaara memperhatikan Ino. Ino selalu terlihat kuat dan tegar. Kali ini Gaara melihat sisi lain gadis itu. Ino yang rileks. Sisi lain yang membuat Ino seperti gadis lain seusianya.