CHAPTER 9

Sudah 10 menit Ino duduk diam di depan Kakashi di studionya. Ino mengedarkan pandangan ke seluruh ruang, kecuali Kakashi.

Dari awal Ino datang, Kakashi hanya duduk dengan kedua tangan terlipat di dada dan menatap Ino dengan tatapan kecewa.

Ini adalah permainan mental oleh Kakashi. Kakashi mencoba menekan mental Ino dengan taktik diamnya.

"Tiga kali Ino?" akhirnya. Mmeskipun sebuah bentakan, setidaknya Kakashi sudah mau bicara. Dan Ino lega karena itu.

Ino memang salah. Selama 1 bulan Ino menjadi trainee, sudah 3 kali Ino tidak ikut latihan.

"Aku perlu inspirasi, Sensei." Jawab Ino dengan menunduk.

"Jangan gunakan alasan itu lagi Ino. Kau sudah dua kali berjanji akan berubah."

"Sensei tau kalau aku tidak bisa menulis lagu di bawah tekanan. Aku tidak bisa mendapatkan inspirasi dengan duduk di studio, Sensei."

"Tentu saja kau bisa. Runaway kau tulis saat kau dalam tekanan."

Ah ya, benar juga. Ino harus memutar otaknya untuk mencaru alasan lain.

"Tidak mungkin aku menulis 1000 Runaway, Sensei." Ino berkelit. Ino tersenyum dalam hati, dia memang cerdas.

Kakashi memijat keningnya. Kakashi tau benar bahwa Ino mengatakan yang sebenarnya. Runaway memang Ino tulis dalam tekanan, selesai dalam satu bulan minus instrument. Dan hasilnya memang bagus. Lalu ada lagi lagu yang sedang Ino kerjakan berjudul "Sleeping Beauty" (yang sebenarnya Ino ingin memberi judul "Sleeping Sasuke", tapi Ino sedang tidak ingin mencari masalah dengan Tsunade). Lagu yang Ino tulis di luar studio yang haruas Kakashi akui juga bagus. Berbeda dengan Runaway yang merupakan lagu 'depresi' yang membuat hati pendengarnya terenyuh, Sleeping Beauty adalah lagu mid tempo yang santai dan cantik. Setidaknya itulah pendapat Kakashi dari potongan lagu itu. Lagu yang membuat Kakashi khawatir. Kakashi berharap Tsunade tidak curiga akan sumber inspirasi Ino.

Kakashi tau anak ini sangat berbakat, tapi sayangnya sangat sulit dikendalikan.

"Tidak bisakah kau mencari inspirasi setelah jam latihanmu berakhir?"

"akan aku usahakan, Sensei."

"Kau juga mengatakan itu minggu lalu, Ino."

Ino menggigit bibir bawahnya.

Kakashi menghela nafas panjang.

"Tsunade sangat marah. Meski aku yang memutuskan debutmu, aku perlu tanda tangan Tsunade, Ino. Kumohon jangan menantangnya."

"Iya, Sensei."

Kakashi kembali menghela nafas panjang. Dia ingin mengatakan banyak hal pada Ino. Tapi hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Ino. Anak ini memerlukan istirahat setelah semua kerja kerasnya selama satu bulan. Satu hal yang membuat Kakashi salut adalah kritik yang dia terima dia jadikan tantangan untuk dia takhlukkan.

"Penampilanmu tadi tidak terlalu buruk." Sangat bagus "tingkatkan lagi untuk penilaian bulan depan."

"Terimakasih, Sensei."

"Pulanglah."

Ino membungkuk pada Kakashi, lalu beranjak meninggalkan ruangan.

"Dan Ino,"

Langkah Ino terhenti, membalikkan tubuhnya kembali menghadap Kakashi.

"Berhati – hatilah Ino. Jangan melakukan hal bodoh."

Ino bertemu tatapan mata Kakashi.

'Kakashi tau.' Pikir Ino.

"Tentu Sensei."

.

Sasuke menyuruh Ino untuk menunggunya di minimarket yang bisa ditempuh 15 menit jalan kaki dari Leaves Ent. Training Center. Ino merasa tempat itu lebih aman dari mata – mata Tsunade daripada training center.

Aneh memang Sasuke menjemputnya. Karena itu sangat berisiko.

'Aku ada kejutan untukmu.' Tulis Sasuke dalam chat terakhirnya.

Karena itu, Ino berjalan menuju minimarket yang dimaksud. Jam 11 malam. Sudah cukup larut memang, sehingga jalanan juga sudah sepi. Tapi bukan hal baru bagi Ino berkeliaran malam – malam seperti ini.

Dari arah berlawanan, Ino melihat Hinata berjalan cepat, diikuti oleh seorang pria. Hinata terlihat tidak nyaman. Berusaha menepis tangan pria itu.

"Hinata-san." Sapa Ino saat sudah berada di deoan Hinata.

"Ino-san." Balas Hinata lega bertemu dengan Ino.

Hinata berlari ke arah Ino, tapi pria itu meraih tangan Hinata dan menariknya. Ketakutan tersorot dari nata Hinata.

Melihat itu, Ino menarik tangan kiri Hinata yang bebas, menarik Hinata ke tubuhnya. Namun pria itu malah menarik lengan Hinata dengan kuat.

"Kau bisa bergabung bersenang – senang dengan kami. Tapi jangan menghalangi ka-"

Ino mengayunkan gitarnya ke wajah pria itu.

"BAJINGAN!" Pria itu terhuyun – huyun memegangi hidung berdarahnya. Ino menggunakan kesempatan itu untuk menarik Hinata dan lari dari tempat itu kembali ke Training Center.

"Kau baik – baik saja, Hinata – san?" tanya Ino saat mmereka sudah berada di dalam lobi gedung. Duduk di sofa yang ada di sana.

Sudah tidak ada orang di lobi. Tapi setidaknya mereka sudah aman di dalam gedung, karena pintu hanya bisa dibuka dengan akkses finger print.

Tanpa menjawab, Hinata memeluk Ino. Menangis di pundaknya. Ino membiarkannya, karena saat ini Hinata membutuhkannya.

"Ma – maafkan aku, I – Ino – san." Hinata melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. "Aku me – mengotori ba – bajumu."

"Kenapa kau masih disini?" desak Ino tanpa perduli permintaan maaf Hinata, karena bagi Ino tidak ada yang perlu dimaafkan dari hal sepele semacam baju yang basah. Aneh bagi Ino jika Hinata, debutee, masih di training center, karena hanya satu atau dua traenee dan komposer yang masih bertahan disini.

"Aku ma – masih berlatih bernyanyi." Akunya. Ah iya, Ino dengar Cherry Blossom akan comeback tahun ini. Jika semua sesuai jadwal, seharusnya mereka bisa melakukannya di bulan Februari tahun depan, 5 bulan lagi.

"Aku lapar, jadi aku pergi ke mininarket untuk me – membeli bu – buah."

Persiapan comeback + lapar + buah = diet.

"Seharusnya a – aku terbiasa dengan hal seperti ya – yang tadi." Hinata tertawa kecut.

"Terbiasa? Hinata, what the fuck?" hilang sudah '-san' yang biasa Ino gunakan untuk menyebut nama Hinata. "Kau tidam bisa terbuasa dengan hal semacam itu. Itu kejahatan, Hinata."

Lapor polisi hanya akan membuat skandal bagi Hinata. "Kau seharusnya ppergi bersama bodyguard, atau setidaknya manajer, Hinata."

"Ini adalah ta – tanggung jawabku untuk berlatih, karena ke – ketidak becusanku. Bu – bukan salah bodyguard ataupun ma – manajer."

"Itu alasan yang sangat bodoh. Aku akan sampaikan inaiden barusan pada Tsunade."

Mata Hinata terbelalak.

"Kumohon jangan Ino." Hilang sudah prefiks – san diantara mereka. "A – aku tidak ma – mau Sa – Sakura marah."

Ah, Sakura.

Ino tidak tau seberapa besar pengaruh Sakura dalam grup mereka. Dari sekali pertemuannya dengan Sakura, gadis itu cukup cerdas. Dan licik.

"Jam segini, aku hampir selalu di studio. Setidaknya, bisakah kau mengajakku jika kau ingin keluar?"

"Be – benarkah? Aku bisa mengajakmu?"

"Kau HARUS mengajakku."

Hinata mengangguk senang.

Handphone Ino berbunyi mengganggu percakapan mereka. Sasuke. Ino rasa karena sudah tidak ada orang, akan aman saja jika Sasuke menjempunya kesini.

"Aku masih di training center. " "Bisakah kau kesini?" "Ada sedikit masalah.""Tidak perlu khawarir." "Sebentar" Ino menurunkan handphonenya.

"Bagaimana kau pulang, Hinata?"

"A – aku akan naik ta – taksi."

Ino kembali membawa hanphonenya ke telinganya. "Bisakah dia ikut bersama kita?" "Baiklah." "Sampai jumpa."

"Kami akan mengantarmu." Ini melihat Hinata akan menolak tawarannya. "Aku tidak menerima penolakan."

"Baiklah."

" "

"Uh, apakah yang ba – barusan I – itu kekasih – uh – kekasihmu?"

Ino tersenyum. "Tsunade melarang pacaran." Jawab Ino mengambang. Ino yakin Hinata bisa menangkap maksudnya.

'Aku di depan' bunyi pesan Sasuke.

Ino kaget melihat mobil yang ada di depan gedung training center yang pasti adalah mobil yang Sasuke kendarai. Karena mobil itu adalah satu – satunya mobil disana. Honda Jazz keluaran tahun, entahlah Ino tidak tau, yang jelas bukan keluaran terbaru. Mobil itu bukanlah mobil Itachi, yang biasa mengantar jemput Sasuke ke apartemennya.

Sedikit ragu, Ini membuka pintu depan. Untuk memastikan Sasuke benar berada di dalam.

Yang Ino temukan adalah pria – Sasuke, yang pegang kemudi mengenakan masker dan jaket berhoody. Ino tertawa melihatnya. Pertama kalinya Ino melihat Sasuke menyamar secara langsung.

"Masuklah Hinata." Hinata masuk ke dalam kurai penumpang belakang, sedangkan Ino di kursi penumpang depan. "Meskipun orang ini berpenampilan seperti penjahat, tapi tenang saja, kau aman brsamaku."

Hinata adalah pemalu natural. Dia hanya menunduk di belakang. Sesekali bicara untuk menunjuka jalan ke dorm Cherry Blossom. Dan Ino menghargai itu.

.

.

"Jadi?" Ino ingin penjelasan. Tentu saja. Sasuke mengendarai mobil sendiri dan membawanya ke bukit Hokage, sebutan untuk walikota Konoha. Dan Ino tidak mengerti.

Sasuke keluar dari mobilnya, bersandar pada mobil disebelab Ino untuk menikmati pemandangan kota. "Kau suka mobilnya?"

Ino melirik Sasuke. "Tentu saja. Kau tau aku suka berkendara." Ya, Ino pernah sekali memceritakan pengalaman balapannya dengan Gaara.

"Karena itu aku membeli mobil ini?"

"Apa?" Ino tersentak. Dia menatap Sasuke (senyumnya, ya Tuhan. Kadang Ino lupa bahwa Sasuke masih anak – anak), kemudian menatap mobilnya, Sasuke, mobilnya, Sasuke.

"Kau serius?"

Sasuke mengangguk senang. Senyumnya itu seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang Uchiha. Tapi jarena tidak ada orang, Sasuke bisa melakukannya.

"Er, maksudku, ini mobil yang bagus, tapi bukannya uangmu sangat banyak?" Ino tau kadang pemilihan kalimatnya memang tidak bagus.

Senyum di wajah Sasuke jatuh, diganti dengan manyun.

'Ya Tuhan. Kenapa Sasuke malam ini cute sekali?'

"Aku tidak ingin terlihat mencolok. Dengan mobil ini kita bisa membaur tanpa menyita perhatian." Jelas Sasuke. "Sudah mulai membosankan selalu kencan kalau tidak di apartemenmu, ya apartemenku."

Sasuke tersenyum pada Ino.

"Aku ingin seperti pasangan normal lainnya. Senormal mungkin yang kita bisa. Hanya Taka yang tau, jadi kita aman jalan – jalan kemanapun dengan mobil ini."

Ino meleleh mendengar pengakuan Sasuke dan melihat senyumannya. Dia memikirkan cara bagi mereka untuk bisa bersama.

"Memang kau mau mobil apa? Aku janji, jika keadaanku, kita, sudah stabil aku akan membelikannya untukmu."

Ino memeluk Sasuke. Melingkarkan kedua tangannya pada leher Sasuke, yang menyusupkan kepalanya pada leher Ino, memejamkan matanya menikmati momen. "Aku suka mobil ini."

Perlahan, Ino mengelus kepala Sasuke. Sasuke tidak mau diperlakukan seperti anak kecil. Tapi kadang secara tidak sadar, dia masih bertingkah seperti anak kecil. Dalam hati terdalamnya, Ino senang karena hal itu. Ini senang bahwa Sasuke masih bisa melakukan hal – hal yang anak sesusianya lakukan.

"Ceritakan bagaimana harimu." Bisik Ino masih memeluk Sasuke.

"Aku menemui Itachi untuk mengambil mobil. Sekolah, lalu latihan bersama Taka." Setelah debut, Sasuke dan Juugo tidak lagi sekolah di sekolah umum, melainkan mengikuti homeschooling. Besok mereka akan tampil di acara tv nasional. Debut Taka disambut sangat baik. Semua orang, terutama para remaja menggilai mereka. Meski masih baru, title track mereka Finding You sudah merajai berbagai tangga lagu Jepang. Mereka diundang ke berbagai acara musik dan permintaan konser sudah tinggi. Itulah kenapa Taka sedang melakukan Arena Tour hingga 3 bulan ke depan, dengan total 14 konser.

"Apa yang kau lakukaan hari ini?"

"Kakashi tau hubungan kita."

"Benarkah?" tidak ada kepanikan pada nada suara Sasuke. Sasuke cukup mengenal Kakashi melalui cerita Ino sehingga dia tau bahwa Kakashi tidak mungkin mengadukamnya kepada Tsunade, apalagi pers.

"Maksudku, aku yakin dia tau aku sedang kencan dengan seseorang."

"Dia tidak keberatan?"

"Tidak. Dia bukan tipe orang yang peduli dengan masalah pribadi irang lain, selama tidak mengganggu profesionalitas."

" "

"Kau tidak capek?"

"Uhum. Itulah sebabnya aku menemuimu."

Ino tidak menjawab. Hanya membiarkan Sasuke melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ino dan semakin menenggelamkan kepalanya pada leher Ino.

.

Pada akhirnya mereka tertidur di jok belakang mobil Sasuke, hingga mereka bangun kesiangan jeesokan harinya. Sasuke langsung mengantar Ino ke Leaves Ent. Training Center karena Ino tidak mau melewatkan kelas pertamanya hari itu. Kelas teknik vokal.

Setelah "Hati – hati di jalan." dan mengacak rambut Sasuke, Ino buru – buru keluar dari mobil dan berlari ke dalam gedung.