CHAPTER 10
Dengan terburu – buru, gitar kesayangan di punggung, Ino berlari ke lokernya untuk mengambil perlengkapan mandi lalu ke toilet lantai dasar training center untuk cuci muka dan menggosok giginya, kemudian berlari menuju kelas musik. Seperti yang Ino duga, Genma – sensei sudah datang.
"Maaf Sensei, aku terlambat." Ino membungkuk pada Genma.
Genma mengamati Ino dengan seksama. Matanya mengedar dari kaki sampai puncak kepala Ino.
Selain mendapat ceramah 15 menit dari Genma, tidak ada yang istimewa dari kelas ini. Selama 4 jam Ino melatih kemampuan vokalnya.
20 menit istirahat makan siang, lanjut kelas dance. Jika Kakashi sedang tidak mengawasi setiap gerak gerik Ino, Ino akan membolos kelas ini.
"Hai Ino. Suatu kehormatan melihatmu di kelasku 5 hari berturut – turut." Ungkap Maito Gai, guru dance mereka. Boleh dibilang Gai adalah orang yang 'unik', tapi dia adalah koreografer dan dancer profesional.
Ino mengambil posisi diantara para trainee muda.
"Perhatikan langkahmu, Yamanaka!"
"Rentangkan tanganmu dengan benar!"
"Ulangi gerakan kalian dari awal!"
"Lagi!"
"Lagi!"
"Lagi!"
Ino lelah dan merasa dipermalukan. Ino juga merasa kesalahannya membuat tim jatuh bersamanya.
Sudah cukup.
Ini tidak bergerak. Mematung pada tempatnya. Kepalanya menunduk, menatap lantai dengan keras.
"Ulangi gerakan kalian!"
"Aku yang seharusnya mengulangi gerakan. Bukan mereka."
"Kalian semua akan terus mengulang gerakan sampai tidak ada seorangpun yang melakukan kesalahan."
"Tapi ini salahku."
"Ini kesalahan tim."
Ino semakin merasa bersalah. Ketidakhadiran Ino melukai mereka semua. Ino tau membuatnya merasa bersalah adalah trik Gai.
"Jika satu orang jatuh, semua akan jatuh. Ulangi lagi sampai tidak ada lagi kesalahan!"
Latihan yang seharusnya selesai jam 4 sore, hari ini selesai sampai jam 7 malam. 6 jam latihan dance bukan hal yang mudah.
Tanpa berkata apa – apa baik pada Gai ataupun timnya, Ino mengambil tas peelengkapannya dan langsung meninggalkan ruang latihan.
Saat memasuki studio rekaman, Kakashi sudah ada disana. Berbaring di sofa sambil cekikikan membaca novel favoritnya.
"Aku melihatmu latihan." Aku Kakashi tanpa mengalihkan perhatian dari novelnya.
CCTV. Ino tidak lagi terkejut.
Ino melemparkan tasnya ke lantai, dan langsung ke menuju ke komputernya.
"Kau sudah mandi?"
"Iya sensei." Jawab Ino datar. Sebenarnya Ino malas menjawabnya karena Ino sedang marah padanya. Karena Kakashilah yang memaksa Ino untuk ikut kelas dance. Tapi Ino tidak ingin tidak menghormati senseinya.
"Kau sudah makan?"
"Belum sempat."
"Aku membelikanmu pizza. Makanlah dulu."
Ino ingin bilang 'tidak' karena masih jengkel pada Kakashi, tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi. Ino meninggalkan komputernya dan duduk di lantai di depan meja kopi tempat Lalashi menaruh pizzanya.
Meletakkan novelnya, Kakashi mengikuti Ino duduk di lantai.
Kakashi mengambil sepotong pizza. "Kau sangat jelek." Ungkap.
Ino memberinya tatapan datar. "Um, Oke?"
Kakashi tertawa, melihat Ino salah paham terhadap perkataannya. "Bukan wajahmu Ino. Semua orang tau kau tidak jelek. Tapi dance-mu. Sangat jelek."
Ino memutar bola matanya. "Sensei tau aku benci dance. Aku tidak ingin menjadi da-"
"Ya ya, kau tidak ingin menjadi dancer bla bla bla. Kau hanya ingin menulis lagu bla bla bla." Kakashi memberi Ino tatapan bosan. "Dapat kupastikan bahwa kau tidak akan debut sebagai dancer, um, jika kau debut."
" "
"Dan bisa aku pastikan, tanpa debut, lagu-lagu yang kau ciptakan tidak akan pernah bisa melihat cahaya." Ancam Kakashi dengan lebai dan diiringi senyuman menyebalkan. Ya, Kakashi melepas maskernya setiap kali makan, dan Ino sudah melihatnya beberapa kali. Bukan hal aneh melihat wajah Kakashi bagi rekan kerjanya. Tidak seperti yang orang bayangkan, Kakashi tidak terlalu jelek. Jika harus memberinya nilai, Ino akan memberinya nilai 110/100.
Ah ya, kembali pada masalah debut. Memang benar Ino tidak peduli dengan debutnya. Tapi Ino harus debut. Hanya dengan debut setidaknya Ino tidak akan merasa terlalu inferior terhadap Sasuke. Dan hanya dengan debut, Ino bisa terus melakukan hal yang dicintainya seumur hidup: membuat musik.
"Aku dengar hari ini kau datang terlambat. Di kelas vokal. Dengan masih mengenakan baju kemarin."
Sial. Tentu saja Genma akan mengadu kepada Kakashi. "Aku – aku bangun kesiangan."
"Mau berbagi kenapa kau bisa bangun kesiangan?"
"Tidak?"
Kakashi tersenyum "Sayang sekali aku memaksa."
"Uh, aku bertemu dengan teman, dan, uhm, aku lupa waktu."
Kakashi menghela napas. "Ino, kau masih muda, aku tau itu, kau ingin mengeksplor dan berekperimen. Ingin menemukan jati dirimu, " Kakashi menangkap tatapan bosan Ino. "ehem. Oke. Jadi, aku paham kau masih muda, tapi bukan berarti kau bisa melalaikan kewajibanmu, Ino. Aku menghormati hakmu – urusan pribadimu, dan kau juga harus melaksanakan kewajibanmu."
"Aku mengerti sensei. Aku tau aku terlalu sering menggunakan alasan. Tapi untuk kali ini, aku benar - benar tidak bermaksud melakukannya." Ino menundukkan wajahnya menyesal, menghindari tatapan Kakashi yang menunggunya untuk melanjutkan ceritanya.
"Tapi?"
"Tapi... tapi temanku ini sangat sibuk. Jadi kami hanya bisa bertemu sesekali saja."
Kakashi mengangguk mendengar penjelasan Ino.
"Aku janji ini tidak akan terulang lagi." Mungkin Ino telah banyak berjanji untuk tidak mengulang banyak hal kepada Kakashi. Tapi kali ini Ino benar – benar menyesal dan bersungguh – sungguh dengan janjinya.
"Siapa temanmu itu, hm?" Tanya Kakashi menekankan kata teman dengan menaikkan alisnya genit.
Ino memutar bola matanya, tak menghiraukan Kakashi lanjut menghabiskan potongan terakhir pizza di tangannya.
"Berhati – hatilah." Pesan Kakashi dengan serius.
"Tentu, sensei." tentu saja Ino sudah tau itu. Karena karir Sasuke dipertaruhkan disini.
"Kita bisa mulai bersenang – senang."
Kakashi selalu menggunakan kata bersenang – senang untuk menggantikan kata bekerja. Yup, bagi Kakashi, dan juga Ino dan mungkin musisi lainnya, membuat musik bukanlah bekerja, melainkan bersenang – senang.
Kali ini mereka membuat aransemen untuk Runaway. Lagu yang menurut Kakashi akan masuk ke dalam album debut Ino. Jika Ino debut. Bold, italic, underline pada kata 'jika'.
Memang harus diakui bahwa Kakashi adalah seorang jenius. Kakashi tau apa yang dilakukannya. Ino seolah melihat sosok Kakashi yang berbeda. Kakashi sebagai seorang dosen, Kakashi sebagai seorang penggemar novel porno, Kakashi sebagai atasan, Kakashi sebagai komentator musik, dan sekarang Ino melihat sosok Kakashi yang bagi Ino adalah Kakashi yang paling keren. Kakashi sebagai seorang musisi. Tidak salah jika Ino pernah menyukainya. Ups, sepertinya Ino kelepasan.
Just a little crush by a teenage girl over an attractive grown up man. Tidak perlu heran jika suatu hari nanti Ino rilis lagu tentang Kakashi.
Ah, Ino merasa memiliki selera yang superior terhadap pria.
"Senyummu menbuatku takut?"
Ino menjatuhkan senyumnya, kembali mrmasang wajah datar. "Aku tidak mengerti apa yang sensei bicarakan."
"dan kau tinggal bersama dua orang pria?" tanya Kakashi. Kakashi mengantar Ino pulang dengan mobilnya. Sekarang mereka sedang berhenti di depan apartemen Ino, untuk menginterogasinya.
"ayolah sensei, aku tidak melihat dimana masalahnya. aku bukannya tidur dengan mereka."
Kakashi menatapnya keras.
"oke maaf. Kurasa penyusunan kataku tidak terlalu baik. Ehem, aku tidak tidur dengan mereka, jadi aku tinggal dengan mereka bukanlah masalah, sensei."
Kakashi menghelas napasnya mendengar penyusunan kata Ino yang masih seburuk sebelumnya. "Kau akan menjadi seorang idol, Ino. Jika ka-"
"jika aku debut, aku tau."
"Jika orang tau bahwa kau tinggal serumah dengan pria, dua orang pria, karirmu akan langsung hancur."
"Jika orang tau."
"Ino, bisakah kau menganggap ini serius?"
"Tentu sensei. Tapi aku tidak tidur dengan mereka." Ino bersikeras.
Kakashi menghela napas kesekian kalinya. "aku tidak akan kaget jika suatu hari nanti kau menjadi penyebab kematianku.
"Ayolah sensei, aku tidak-"
"tidur dengan mereka." Potong Kakashi dengan tangan kanan memijat keningnya. "Masuklah. Kau perlu istirahat. Besok, maksudku hari ini, kau harus rekaman. Aku tunggu kau di studio jam 1 siang. Aku tau ini hari sabtu. Tapi jangan mengeluh."
"iya sensei, iya. Dan terimakasih telah mengantarku."
Jam 7 pagi. Satu – satunya hal yang ingin Ino lakukan adalah tidur sampai Ino harus bangun karena jadwal mengharuskannya.
Masuk apartemen, Ino mendengar suara dari dapur.
"Hai Chouji." Sapa Ino memasuki dapur, menyandarkan gitar pada kursi makan, mengambil jus, bersandar pada pintu lemari es, lalu meminumnya langsung dari kotaknya.
"Sasuke tidur di kamarmu."
Ino memasukkan kembali kotak jusnya ke dalam lemari es. "Uhum." Lalu beranjak meninggalkan dapur untuk menuju ke kamarnya.
"Kau sudah membaca berita?"
Langkah Ino terhenti. Mengeluarkan handphonenya lalu mencari berita terupdate.
'TAKA', 'Finding You' dan 'Plagiat'. Secara ringkas, seorang penyanyi senior yang cukup disegani karena prestasinya mengaku bahwa Finding You sebenarnya adalah lagunya yang akan dia rilis tahun ini, namun telah diplagiat oleh Taka. Penyanyi itu bahkan menunjukkan bukti dengan memperlihatkan lagunya. Melodi yang sama persis, namun ada perbedaan pada beberapa bagian komposisi musiknya. Kemudian Ino membaca komentar – komentar netizen. Ya Tuhan. Ino tidak sanggup melanjutkannya karena komentar – komentar itu terlalu jahat untuk dibaca.
Pasti ada kesalahan. Ino mengenal Sasuke, musik, melodi dan liriknya. Benar Ino tidak melihat dengan matanya sendiri saat Sasuke menulis Finding You, tapi Finding You sangatlah Taka. Tak sedikitpun Ino meragukan lagu Sasuke. Bukan karena pendapat Ino yang bias. Bukan juga karena Ino ppercaya pada Sasuke dengan membabi buta. Tapi secara rasional, orang yang punya otak seharusnya tau bahwa Finding You adalah milik Taka, bukan hasil plagiat.
"Terimakasih, Chouji." Ino buru – buru menuju ke kamarnya.
Sasuke tidur di kasur single Ino membekanginya, menghadap ke dinding.
Dengan masih mengenakan celana jins panjang dan t-shirt lengan penek, perlahan Ino menyisipkan dirinya ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut, memeluk Sasuke dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggungnya.
Sasuke memutar tubuhnya menghadap Ino. Menggenggam tangan Ino dan menciumnya. "Aku menulis Finding You untukmu, Ino." Akunya dengan suara parau.
Ino tidak menjawab. Menunggu Sasuke melanjutkan perkataannya. Di dalam keadaan kamar yang remang – remang, Ino bisa melihat wajah lelah Sasuke. Terlihat jelas bahwa dia tidal tidur.
"Bagaimana mungkin aku memberimu lagu curian Ino? Aku tidak serendah itu. Aku bisa saja plagiat lagu, tapi bukan lagu yang aku ciptakan untukmu."
"Aku tau." Ino meraih kepala Sasuke ke pelukannya. "Aku percaya padamu."
"Aku hanya ingin bernyanyi."
"Kau akan tetap bernanyi." Ino mencium puncak kepala Sasuke. "Semua ini akan terlewati. Orochimaru bukan orang bodoh, dia akan mengatasi ini semua."
Sasuke mengangguk di pelukannya.
"Kau mau sarapan? Chouji masak untuk kita."
"Nanti saja. Kau makanlah dulu jika kau lapar."
"Tidak. Aku makan terlalu banyak pizza di studio."
Ino merasakan Sasuke tersenyum di lehernya.
Posisi tidur mereka tidak nyaman bagi Ino dengan setengah tubuh Sasuke di atas tubuh Ino, tangan kiri melingkar pada pinggang Ino, serta kepala Sasuke pada leher Ino dengan nafas yang menyapu kulitnya.
"Kau tidak mengizinkanku menciummu. Padahal kita sudah tidur bersama." Guman Sasuke. Suaranya mulai melemah karena kesadarannya sudah mulai hilang.
Ino terkekeh. "Kau masih di hawah umur. Tak sepantasnya bicara seperti itu."
"17 tahun." Balas Sasuke lemah.
Ino mengelus kepala Sasuke dan menggumamkan melodi Sleeping Beauty.
"Apa yang terjadi denganmu hari ini? Kau tidak bisa fokus?" tanya Kakashi sambil mendengarkan hasil rekaman Ino, di dalam studio.
Ino duduk bersandar di kursi di sebelah Kakashi, seperti Kakashi, kedua kaki di atas dasboard, kedua tangan terlipat di dada. "Sensei tau tentang plagiasi yang dilakukan Taka?"
"Hal itu yang membuatmu tidak fokus?"
"Kurasa."
Kakashi menghela nafas. "Iya aku tau. Beritanya ada dimana – mana."
"Bagaimana menurut sensei?"
"Mereka tak seharusnya melakukan itu."
Ino memutar bola matanya. "Sensei tau bukan itu maksudku." Ino menghela nafas. "Aku tau sensei pasti sudah mendengarkan album mereka. Menurut sensei, sebagai musisi, apakah Finding You adalah plagiasi?"
Kakashi memutar kursinya untuk menghadap Ino. "Oke. Aku akan berpura – pura bahwa aku tidak tau menau tentang mereka berdua. Aku hanya akan menyampaikan pendapatku sebagai musisi dan menilai Finding You berdasarkan track record musik yang telah nereka rilis."
"Yang paling khas dari Taka adalah lirik mereka yang puitis dan makna yang tersirat. Akuma juga menulis lirik dengan sangat indah, tapi lirik Akuma lebih tersurat dengan ritme yang konstan."
"Secara melodi, jika lagu ini memang ditulis oleh Akuma, kurasa Akuma sedang bereksperimen, dan dia berhasil."
"Jadi, menurut sensei?"
"Aku tidak tau kenyataannya bagaimana, siapa yang plagiat siapa. Satu hal yang bisa aku katakan adalah, saat aku mendengar lagu ini, sama selali tidak terbesit di pikiranku bahwa Akuma menulis lagu ini. But, who knows? Right?"
"Jadi?"
Kakashi menghela nafas karena Ino terus menekannya. "Finding You lebih sesuai dengan warna musik Taka."
Ino mengangguk. Dia merasa sedikit lebih tenang. Jika kasus mereka nantinya akan sampai ke persidangan, setidaknya pendapat saksi ahli bisa digunakan untuk memperkuat Taka.
"Kau penggemar mereka?"
"Bisa dibilang begitu."
Meski Akuma akan mendapat dukungan publik lebih banyak, masih ada harapan bagi Taka untuk menang di persidangan.
"Kau mengenal mengenal mereka?"
"Bisa dibilang begitu."
Hanya saja, dengan reputasi Akuma yang bagus, Ino masih khawatir jika nantinya publik malah akan membenci Taka.
"Apa mereka juga yang tadi mengantarmu?"
"Bisa dibilang begitu."
Dan itu akan sangat berpe-
Wait, what? Ino menyadari apa yang baru saja dia katakan pada Kakashi. Matanya terbelalak memandang senseinya yang terseyum penuh arti.
"Sensei, aku-"
Kakashi melambaikan tangannya. "Sudahlah. Sudah aku katakan aku tidak peduli dengan urusan pribadimu. Kau hanya perlu hati – hati, Ino. Apalagi mereka adalah public figure. Jika sampai publik tau, apalagi mereka memiliki banyak penggemar gadis remaja, kau yang akan menjadi sasaran kebencian mereka."
"Tentu saja sensei. Tadi dia mengantarku karena aku sudah terlambat."
"Jadi, Sasuke?"
"Apa?"
"Temanmu." Kata Kakashi dengan mengisyaratkan tanda kutip dengan jarinya.
"Kupikir sensei tidak tertarik dengan urusan pribadiku." Ino memutar bola matanya. "Kenapa sensei pikir Sasuke?"
"Karin? Kurasa kau bukan lesbian. Maksudku kau pernah menyukaiku. So,"
Ino tersedak ludahnya sendiri "Sensei tau?"
"Semua wanita menyukaiku." Kakashi tersenyum menyebalkan, memaksa Ino kembali memutar bola matanya.
"Suigetsu? He is too much. Terlalu banyak bicara, terlalu banyak tingkah. Just too much. Bukan tipemu."
"Sensei bahkan tidak tau bagaimana tipeku.
"Juugo, kebalikan Suigetsu."
"Juugo anak yang baik."
"Jadi, apa aku benar?"
Ino tidak ingin menjawab Kakashi, karena itu hanya akan menambah egonya.
"Aku bangga padamu." Kakashi menepuk pundak Ino. "Kau punya selera yang bagus terhadap laki – laki." Yap, Kakashi hanya ingin memuji dirinya sendiri.
Ino memberinya tatapan datar, dan Kakashi tersenyum polos.
"Kau sudah bisa fokus lagi sekarang? Bisa kita lanjut?"
