Kneelx Present
Chanyeol
Hay haaay..
'loh cecan kok update disini, ini kan udah end?'
Iya udah end memang. Gimana ya jelasinnya, author mau buat kayak season gitu. Cuma bawain satu cerita terus tamat. Tapi cerita selanjutnya punya keterkaitan dengan chapter sebelumnya /ya kenapa gak buat berchpter kaya biasa aja sekalian -_-/
HOPE YOU ENJOY IT^^
EXO Baekhyun - Beautiful
HE'S NAME [BEAUTIFUL]
~,~
"Revisi lagi"
"Tapi pak-,"
"Revisi Lagi. l a g i! Ngerti?"
"Tapi seenggaknya cek dulu hitungan yang sudah saya perbaiki kemarin. Biar sekalian saya revisi sama yang sekarang pak"
"Jangan mentang-mentang ayahmu pengusaha terkenal kamu bisa seenaknya ya! Yang jadi dosen disini itu saya!"
'Yang bilang bapak mahasiswa siapa?' pikirku jengah.
Tak ingin bertambah rumit, aku mengiyakan semua perkataan pria paruh baya yang berstatus sebagai dosen struktur dan sialnya dia juga menjadi dosen pembimbing dalam pengerjaan skripsiku.
Entah karena nasib buruk atau bagaimana. Sejak semester satu, dosen itu selalu mengajar di kelasku, yang mana itu membuat aku dan pastinya teman-teman sekelasku terpaksa belajar lebih ekstra untuk memahami semua materi yang mungkin hanya dia bahas 1/8nya saja.
Kalian mau tahu siapa dosenku? Dia, Cho Kyuhyun. Dosen yang secara pribadi kuyakini sebagai titisan iblis. Karena sifatnya yang kadang membuatku ingin berkata kasar tepat dihadapan wajah jerawatannya.
Setelah selesai berurusan dengan pak Cho. Aku berjalan keluar ruangannya setelah sempat membungkuk hormat sedikit. Drafting tube yang terselempang di pundak kiriku dan tas ransel berisi berkas-berkas hasil uji lab dan lainnya tak pernah terasa seberat ini sebelumnya.
"Anyeonghaseo Sunbaenim panutanque"
"Annyeong bocah"
"Anda terlihat Lelah sunbae"
"Benarkah?"
"Heeum. Dan karena sunbae beruntung aku baru kembali dari kantin dan tadi aku membeli air lebih. Jadi satunya buat sunbae"
"Kkk makasih V"
"Siap. Tapi jangan lupa pinjamkan aku tugas mekanika teknik 2 mu ya sunbae"
"Ck bocah ini. Sudah kuduga jika kau berlaku baik seperti ini pasti ada maunya"
Bocah pemilik nama Taehyung yang memaksa orang disekelilingnya untuk memanggilnya dengan sebutan V ini menunjukkan cengir lebar.
"Besok kubawakan"
"Asaaa.. terimakasih banyak sunbae panutan ku. Junior cakepmu ini undur diri untuk masuk kelas" dan dia berlalu sambil lompat-lompat menyusul teman-temannya.
Melihat V serasa melihat diriku senidiri tahun lalu. Saat-saat tugas akhir belum menghantui setiap malam, pagi, siang, sore dan kembali malam lagi. Tapi menurutku sebelum tugas akhir, jika kau berada di jurusan ini, kau pasti mengerti seberapa banyak tugas dan laporan yang harus kau kerjakan setiap semester.
Harusnya aku sudah terbiasa dengan ini. Tapi entah kenapa saat pengerjaan skripsi ini aku sering kelelahan dan terkadang malas untuk mengerjakannya. Kulangkahkan kakiku menuju sekretariat oraganisasi. Setelah menyapa beberapa mahasiswa lain, aku masuk dan mengambil posisi tiduran. Akhir-akhir ini punggung ku sering nyeri. Baiklah aku merasa tua sekarang.
Maaf buat kalian yang mungkin bosan membaca bacotan tak guna ini.
Drrt drrrtt..
Kenapa ponsel terkutuk ini harus bergetar tepat sebelum aku hampir memasuki alam mimpi? Dan kenapa aku sering sekali mengumpat?
"Ya appa. Ada apa?"
"..."
"Aku masih di kampus"
"..."
"Sunbae kami balik dulu" pamit salah satu junior yang berada di organisasi yang sama denganku .
"Ah ya. Hati-hati" balasku dan kembali fokus ke panggilan.
"Kenapa appa? Suaramu tak jelas"
"..."
"Arraseo. Mungkin dua atau tiga bulan lagi selesai"
"..."
"Siap kapten Park. Ah appa-,"
Dimatikan -_-
Mungkin ayahku dapat wangsit bahwa dia mengganggu tidurku sehingga dia mematikannya secara sepihak agar aku bisa lanjut tidur. Postif thinking saja.
Baru sepersekian detik kedua mataku terpejam, benda persegi itu kembali bergetar. Kupastikan ini ayahku dan tanpa melihat nama kontaknya aku menjawabnya "Ada apa lagi appa?"
Namun tak ada suara balasan yang terdengar dari sebrang "Hallo? Appa?"
"Chanyeol-ah"
Kuarahkan ponsel ke hadapan wajahkku dan baru kusadari kalua bukan Mr. Park yang menelpon. Sekarang, aku akan menyesal karena mengangkat panggilan ini.
"Kenapa Seolhyun-ah?"
"Apa kau sibuk?"
"Ya, sangat. Ada perlu apa?"
"Tak ada. Hanya ingin mendengar suaramu saja"
Kalian bertanya kenapa aku menyesalinya? Karena jika dia sudah berkata seperti itu, suara selanjutnya adalah isak tangis "Hiiks"
Sudah kuduga "Kemarin kau mengirim pesan bertanya kenapa aku tak pernah mengangkat telponmu kan? Inilah alasannya. Berhentilah Hyun. Kumohon"
"Shireo! Kumohon satu kesempatan lagi Channie-ah"
"Haah.. kututup"
Selesai dengan percakapan yang membuat kepalaku bertambah penat. Aku baru sadar kalau sekarang hanya aku sendiri di sini. Kurebahkan lagi tubuhku, menerawang langit-langit putih yang mulai menguning karena usia.
Pikiranku terbawa untuk kembali mengingat sosok mungil itu. Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang?
Wohoo.. apa yang terjadi pada diriku? Aku hanya mengingatnya sekilas dan moodku langsung terasa sangat bagus. Seandainya aku sempat menanyai namanya. Ya yaa.. seandainya..
"Lah hyung, ternyata kau disini. Aku dan Jongin mencarimu dari tadi"
"Kenapa? Kangen? Iya tau, aku ngangenin memang"
"Sepertinya kau kerasukan sesuatu hyung"
"Yo whatsep ma brader. Jongin tampan disini. Hyung, kau di cariin Pak Jung tadi"
"Pak Jung yang mana?" tanyaku malas
"Jung Yunho" ucap keduanya serempak dan tanpa bertanya lebih lanjut aku memasang sepatu dan langsung meluncur pergi.
Setelah beberapa meter berlari, aku baru sadar jika drafting tube ku ketinggalan. Dengan kecepatan di atas rata-rata, aku kembali ke dalam secretariat, mengambil benda itu dan bergegas pergi lagi.
"Sisakan untukku" ucapku pada Sehun dan Jongin yang menjeda suapannya tepat di depan mulut masing-masing. Mungkin kaget karena aku yang masuk tiba-tiba tadi.
"Dia punya banyak uang tapi masih suka makan makanan sisa"
"Sisain saja Hun. Itung-itung sedekah. Siapa tau nilai bajamu bisa berubah jadi A"
Aku masih dipintu, berkutat dengan sepatu adidas hitam ini karena kakiku yang tak kunjung masuk seutuhnya dan percakapan mereka membuat sepatu ini terasa semakin susah dimasuki.
"Kedengeran mpret" sahutku keras, dan kembali meluncur untuk mencari bapak Jung Yunho yang terhormat. Semoga tanduknya belum keluar. Kakiku sudah masuk secara utuh dan nyaman jika kalian ingin tahu.
.
.
Suara riuh tepukkan tangan membuat senyumku terkembang. Tubuhku membungkuk berkali-kali ke segala penjuru arah. Aku baru saja selesai menyampaikan kesan dan pesan sebagai wakil dari mahasiswa yang akan yudisium pada hari ini. Dua minggu lalu pak Cho memanggilku ke ruangannya dan menyuruhku untuk membawakan pidato yudisium. Aku tak tau kenapa dia memberiku amanah untuk melakukan ini.
Kalian sudah tau kan apa itu yudisium? Jika kalian belum tau, googling sana. Kkk.. bercanda.
Menurut KBBI yu·di·si·um adalah penentuan nilai (lulus) suatu ujian sarjana lengkap (di perguruan tinggi). Atau Yudisium adalah proses akademik yang menyangkut penerapan nilai dan kelulusan mahasiswa dari seluruh proses akademik. Yudisium juga berarti pengumuman nilai kepada mahasiswa sebagai proses penilaian akhir dari seluruh mata kuliah yang telah di ambil mahasiswa dan penetapan nilai dalam transkrip akademik, serta memutuskan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam menempuh studi selama jangka waktu tertentu, yang ditetapkan oleh pejabat berwenang yang dihasilkan dari keputusan rapat yudisium.
Perbedaannya dengan Wisuda?
Wisuda adalah proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik pada perguruan tinggi. Sebagai tanda pengukuhan atas selesainya studi, diadakan prosesi pelantikan melalui rapat senat terbuka Universitas. Upacara wisuda ini diadakan untuk semua lulusan program studi di Univesirtas.
Singkatnya, yudisium itu seperti akad nikah dan wisuda adalah resepsi pernikahannya. Kenapa aku jadi menjelaskan hal-hal seperti ini?
"Selamat hyung" ujar Sehun sambil memakaikan selempengan bertulis namaku dengan gelar sarjana Teknik di belakangnya.
"Yo pak Park Chanyeol, S.T. Tunggu aku dan Sehun di perusahaanmu tahun depan" kali ini Jongin melemparkan bunga berwana putih padaku.
"Apa-apaan ini? Hahaha" aku tertawa saat melihatnya. Tak biasanya bocah-bocah ini mau melakukan hal-hal seperti ini. "Tapi kenapa warna putih? Kau fikir aku mau mati?"
"Putih itu melambangkan keberanian hyung"
"Itu warna merah Jong, bukan putih"
"Masa? Serius Hun?"
"Aiuh.. ckckck" aku memukul pelan kepala keduanya dengan bunga yang Jongin berikan tadi.
"Kenapa aku juga di pukul hyung?"
"Pukul rata Hun" ucapku dan mengangkat bahu lalu terkikik pelan.
"Permisi, bisa fotokan kami?"
"Ah ne sunbaenim" seorang yeoja dengan potongan rambut pendek itu mengambil kamera dari Jongin dengan sopan dan mengambil posisi untuk memotret kami bertiga.
"Urat malu mu benar-benar sudah putus Jong"
"Sepertinya hyung, cepat senyum. Hun cepetan. Ngurus rambut terus kau dari tadi"
Cekrek..
Aku di tengah, Jongin di sisi kiri dan Sehun di sisi kanan ku. Baru kusadari kalau tulang pipiku mulai terlihat. Setelah ini aku harus makan banyak-banyak.
SELAMAT KAMI UCAPKAN KEPADA ANGGOTA ORGANISASI HIMPUNAN MUDA-MUDI SIPIL UNIVERSITAS SEOUL YANG TELAH YUDISIUM.
P.S, Nama tak dicantumkan karena terlalu banyak.
P.S, Khusus untuk senior Park Chanyeol, S.T kami menagih janji traktiran.
Setelah banner itu terlihat di mataku, aku tau kalau aku harus mengeluarkan uang dengan jumlah yang banyak.
.
.
Selesai dengan acara makan-makan yang membuat dompetku meringis sedikit. Kini aku, Jongin dan Sehun berada di salah satu kafe langganan kami.
"Hyung hyung hyung ayo ikut, fakultas seni dan music ngadain acara tahunan. Tempatnya di lapangan fakultasnya"
Aku yang tengah menyedot jus apel tersedak karena Jongin menepuk-nepuk pundakku dengan semangat.
"Oh oh hyung, maaf maaf. Hehe.." dan dengan sigap dia memberikanku air putih.
"Kampret bener kau Jong"
"Maaf maaf. Ayo datang hyung. Terbuka untuk umum, ada makanan gratisnya juga"
"Ogah, aku mau tidur"
"Ayolah hyung. Sehun juga ikut. Iyakan Hun?"
Sehun yang kebingungan menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan bahwa Jongin menyebut namanya. Kulihat Jongin membisikkan sesuatu ke Sehun.
"Ne Aku juga ikut. Hyung, siapa tau kau akan bertemu lagi dengan lelaki mungil yang kau ceritakan itu"
Oke, aku sedikit tergiur sekarang.
"Bukannya kau bertemu dengannya saat ada acara parade. Mungkin sekarang kau akan bertemu dengan si mungil itu lagi di festival ini"
Bisakah aku berharap sekarang?
.
.
"HALLOO HYUNG. KAU DIMANA?"
Kujauhkan ponsel persegi ini dari telingaku saat suara Jongin terdengar begitu memekkakan.
"Pelankan suaramu Jong. Kau membuatku kaget"
"HAH? KAU BILANG APA HYUNG?"
Pandanganku beralih untuk melihat jam. Ah, festival itu. Pantas saja terdengar sangat berisik. Kumatikan sambungan Jongin dan mengiriminya sebuah pesan.
"Sent to : Jongin temsek
Aku ketiduran. Sebentar lagi otw
19.47"
.
.
Selesai memarkir mobil, aku bergegas menuju lokasi yang diberitahu Jongin. Katanya mereka berada depan stand americano.
"Woy"
"Wuasem hyung. Bikin kaget sumpah"
"Lebay Seh"
"Bodo. Ah Luhan hyung, kenalin. Ini Chanyeol hyung. Nah hyung, ini Luhan. Pacarku"
"Annyeonghaseo Chanyeol-ssi"
"Annyeonghaseio Luhan-ssi. Kenapa anda mau sama bocah ingusan seperti makhluk ini?"
"Hyuung -_-"
"Entahlah, mungkin saya kena pelet kkk.."
"Dede Sehun sudah besar ternyata" mengejek Sehun sangat menyenangkan untukku. "Jongin mana?"
"Tiba-tiba dia pergi tadi. Nah itu dia"
Kulihat Jongin datang kearah tempat kami berdiri bersama seseorang.
"Hyung. Kan sudah kubilang jam 5"
"Sudah kubilang aku ketiduran Jong"
"Dasar ngebo"
"Hai Kyung" sapaku pada Kyungsoo, kekasih Jongin dan tak mengindahkan ocehan bocah gelap itu.
"Hai juga Yeol"
"Hyung, kau tak berniat selingkuh dengan yoda ini kan?" seharusnya aku menyiapkan perekam suara tadi. Karena suara merajuk Jongin benar-benar menyeramkan, mungkin ini bisa mengusir kecoa yang entah dari mana bisa masuk kedalam kamarku.
Jujur saja, sekarang aku menyesal datang kesini. Sehun sibuk dengan Luhan, dan Jongin manja-manjaan dari tadi sama Kyungsoo. Aku? Kalian tanya aku sama siapa? Sama angin. Puas kalean?
Bunyi khas mic yang tengah diatur membuat irisku mencari sumbernya dan berhenti pada panggung yang berada di tengah lapangan.
"Hyung ayo kesana" ajak Jongin, tapi dia malah jalan duluan dengan kekasihnya yang pasti. Sehun juga sama saja.
Kampret.
Beberapa lagu mulai dimainkan oleh band-band yang tampil. Mulai dari lagu beat, rock, jazz, pop sampai mello. Terkadang ada beberapa yeoja yang menghampiriku dan bertanya basa-basi, seperti dari fakultas mana, namanya siapa, dll.
Bukankah itu sedikit memalukan? Seharusnya pria yang bertanya seperti itu kepada mereka. Dunia benar-benar sudah terbalik.
annyeong naege dagawa
(Hello, kau datang padaku)
sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo
(Memberikan aku aroma malumu)
Alunan indah itu menyapa telinga lebarku. Bagaikan video slow motion, perlahan namun pasti aku memfokuskan pandanganku pada seseorang yang tengah bernyanyi diatas panggung itu.
huimihan kkumsogeseo
(Dalam mimpi samarku)
nuni busidorok banjjagyeosseo
(Kau terihat bersinar dan mempesona)
Rasanya sama seperti saat itu. Perutku tergelitik dengan sensasi yang menyenangkan, dan duniaku serasa terhenti untuk sejenak kemudian seakan berpindah mengitarinya. Dan jangan lupakan bagaimana mempesonanya lelaki mungil itu di mataku.
seolleime nado moreuge, hanbaldubal nege dagaga
(Dengan hati yang berdebar, tanpa kuketahui aku mendekatimu, selangkah demi selangkah)
neoui gyeote nama
(Dan aku akan tinggal disisimu)
Degupan jantungku dapat kudengar hingga ke telingaku dan tanpa sadar aku melangkah maju. Aku tak tau berapa banyak orang yang ku senggol karena fokusku hanya tertuju padanya.
neoui misoe nae maeumi noganaeryeo
(Hatiku meleleh saat kau tersenyum)
nuni majuchyeosseulttaen
(Saat mata kita bertemu satu sama lain)
dugeungeoryeo
(Hatiku berdebar)
Aku tak bisa menerobos lebih jauh karena penonton dibagian depan sangat padat. Namun dari sini aku bisa melihat senyum yang kurindukan itu. Pandangan kami bertemu dan saat itu juga tanganku terangkat, menempel pada dada bagian kiriku, merasakan betapa cepatnya debar jantungku saat ini.
oh~ neoui gaseume nae misoreul gieokhaejwoi
haruedo myeoccbeonssik
saenggakhaejwo
(Ingatlah senyumku dalam hatimu)
(Pikirkan tentang itu beberapa kali dalam sehari)
oh~ neoege hago sipeun geu mal
youre beautiful
(Oh kata-kata yang ingin kukatakan padamu adalah, Kamu cantik)
"You're beautiful" gumamku mengulang lirik yang dia lantunkan
gomawo. nal mannaseo
(Terima kasih telah bertemu denganku)
hangyeol gatassdeon ni moseubi boyeo
(Aku melihatmu, dan akan selalu melihatmu
Entah bagaimana ekspresiku saat ini. Yang kutau adalah, tubuhku tak bisa digerakkan, layaknya membeku dan memandanginya penuh kagum.
nareul gidaryeo wassdeon
(Aroma khasmu yang menungguku)
neoui jiteun hyanggi gipeun ullim
(Itu sangat mendalam untukku)
al su eopsneun ganghan ikkeullim
(Dengan daya tarik yang misterius dan kuat ini)
neoreul hyanghan naui dunalgae pyeolchyeojugo sipeo
(Aku ingin melebarkan sayapku untukmu)
Mungkin jika aku punya sayap, hal yang pertama kulakukan adalah terbang kehadapannya dan merengkuhnya dengan lembut.
neoui misoe naemaeumi noganaeryeo
(Hatiku meleleh saat kau tersenyum)
nuni majuchyeosseulttaen
(Saat mata kita bertemu satu sama lain)
dugeungeoryeo
(Hatiku berdebar-debar)
Lagi, iris kami saling bertubrukkan, apa dia mengingatku? Tentu saja tidak
oh~ neoui bomnare nae noraereul deullyeojulge
(Oh aku akan bernyanyi untukmu pada hari musim semimu)
haruedo myeoccbeonssik saenggakhaejwo
(Pikirkan tentang itu beberapa kali dalam sehari)
oh~ ireohge neoreul saenggakhae
(Oh ini adalah hal yang kupikirkan tentangmu)
youre beautiful
(kamu begitu cantik)
Pipiku mulai terasa sakit karena senyumku yang tak kunjung luntur sejak saat aku berdiri disini. Beruntungnya aku tak tersenyum dengan lebar, karena itu akan membuat gigiku kering.
nareul bangyeojwo
(Saat kau senang bertemu denganku)
ttuttutturururu seolleyeo
(Hatiku berdebar-debar)
gureumwireul geotneundeus
(Rasanya seperti berjalan diatas awan)
geojismalgati nan nege dagaga hanbal deo~
(Seperti sihir, aku mengambil satu langkah lagi mennju kamu)
Dengan kedua tangan yang kutaruh disaku celana levis ku, kepalaku bergerak pelan kiri kanan mengikuti irama nyanyiannya. Telapak kakiku juga seperti tak ingin berhenti menikmati suara indah ini.
dasi chajaon neowa naui gyejeore
(waktu untuk kau dan aku telah datang kembali)
gieokhal su issgessni
(Dapatkah kau mengingatnya? )
ttururururuttuttuttu oh yeh all right
neoreul mannan geol haengunira saenggakhaeuri
(Aku sangat beruntung telah bertemu denganmu)
dasi mannamyeon, malhae jullae
(Jika kita bertemu lagi, aku ingin memberitahumu)
fly to you naegyeote isseojwo
(Aku akan datang padamu, dan memintamu untuk tinggal disisiku)
youre beautiful
(Kamu yang cantik)
Dia tersenyum lebar dan membungkukkan badannya lalu mengucap terimakasih. Kulihat dia bergegas turun panggung dan dengan kecepatan kilat aku berbalik keluar dari ramainya penonton untuk menyusulnya. Dan sialnya, aku tak sengaja menabrak seseorang hingga minumannya jatuh dan mengenai pakaian orang tersebut.
Jangan salahkan aku, tapi salahkan orang-orang yang tak memberiku jalan dari tadi.
"Kau cari mati hah?!"
"Maaf saya lagi gak cari mati. Ah, minumannya kena baju anda?" kukeluarkan dompetku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang 100.000 won "Itu lebih dari cukup. Sekali lagi maaf"
Kubungkukkan tubuhku sekilas dan kembali berlari menuju backstage panggung. Sesampainya ku di backstagenya, kepalaku berputar kiri kanan mencari keberadaannya, namun dia sudah tidak ada. Bermodal nekat, aku mengelilingi beberapa ruangan, bahkan ruangan yang dipintunya jelas-jelas tertulis 'Khusus Panitia' atau 'Khusus Bintang Tamu'.
Oh ayolah, apa aku tak bisa bertemu dengannya atau setidaknya namanya saja. Aku mencoba bertanya pada panitia yang ada, tapi setiap aku mau bertanya handy talky mereka selalu berbunyi.
Damn it!
.
.
"Kau dari mana saja hyung? Kami mencarimu dari tadi" Jongin bertanya dengan nafas ngos-ngosan.
"Kupikir kau tersesat" tak jauh beda dengan Jongin, Sehun juga sama.
Bukannya menjawab pertanyaan Jongin, aku malah mendekat ke arah Kyungsoo "Kyungsoo-ah, kau jurusan musik kan?"
"A aa.. ne. kenapa Yeol?"
"Kau kenal yang nyanyi barusan?"
"Yang mana?"
"Mungil, manis, cantik euum imut juga" deskripsiku cepat
"Mungil?"
Aku mengangguk semangat "Dia juga punya suara yang indah" tambahku
"Maksudmu Baekhyun?"
"Baekhyun?" sebut ku ulang
"Ya, Byun Baekhyun. Dia seangkatan denganku"
Ingin rasanya aku sujud syukur saat ini juga.
Akhirnyaa..
Baiklah, Byun Baekhyun, sampai bertemu lagi. Kuharap secepatnya.
.
.
END
Karena ini selalu author akhiri dengan kata 'end'. Jadi semisal author gak update-update cerita ini lagi berarti itu derita kalian. Huehuehee /ketawa jahat.
REVIEWWW JUSEYOO..
