Disclaimer: Masashi Kishimoto.


And if you broken, You don't have to stay broken

-Selena Gomez-


REVIVAL

.

.

2

.


Sakura pov.

Aku.. hancur.

Aku tak tau apa lagi yang akan ku perbuat agar bakat ku muncul. Aku lelah menjadi yang tak terlihat. Aku kesal saat semua orang mengatakan bahwa aku adalah 'hasil gagal' dari kedua orangtua ku.

Dada dan Momma adalah salah satu dari penyihir dengan bakat alami yang terkenal. Orang-orang selalu mencemooh ku dan memandang ku dengan kasihan. Seolah-olah aku adalah mahluk paling menyedihkan di muka bumi ini.

Dada dan Momma selalu berkata 'tak apa', 'jangan difikirkan', 'tetap lah menjadi dirimu sendiri'. Dan kata-kata penyemangat lain nya yang ku tau bahwa itu adalah bentuk untuk menyembunyikan kekecewaan mereka.

Kemarin, Kakek mendatangkan guru (lagi), untuk mencari tau kemampuan asal ku. Namanya, Uchiha Sasuke.

Aku tau, dari namanya saja dia adalah anggota klan yang terkenal dengan bakat alami api. Mereka salah satu klan terhebat sepanjang sejarah, aku suka membaca tentang sejarah klan mereka, karena seolah mereka adalah klan yang tak terkalahkan.

Sangat berbanding terbalik dengan ku. Entah apa alasan kakek memberikan ku guru dari klan Uchiha. Namun, tak seperti biasanya, hati ku seolah yakin dengan guru baru ku ini.

Aku sangat menantikan saat dimana dia menemukan bakat ku. Atau, saat dia menyerah.

Bukan sesuatu yang baru lagi bila ada seorang guru yang menyerah dengan ku.

"Sakura?" Aku terlonjak dari tempat duduk ku dan melihat seorang wanita memasuki ruang perpustakaan dengan senyum lebar darinya.

"Karin?" Dahi ku berkerut saat dia duduk di hadapan ku. Karin adalah adik dari dada, bisa dibilang dia itu adalah tante ku. Namun, aku dan dirinya sudah seperti saudara kandung.

"Kenapa wajah mu seperti itu?Kau tak senang melihat ku disini?" Karin memukul pipi ku dan tertawa lebar, penjaga perpustakaan pun segera menegur kami berdua.

"Jangan berisik, bodoh! Apa yang kau lakukan disini? bukan kah kau sedang pelatihan? Jangan-jangan kau kabur?!" Karin menendang kaki ku sehingga aku mengaduh kesakitan.

"Aku tidak kabur! lagi pula, disana aku mendapatkan lelaki yang sangat tampan, namanya kimimaro! Oiya, Gaara dan kakak ipar mengajak ku untuk kembali kesini" Aku melongok mendengar penuturan nya.

"Maksud mu, Dada dan Momma ada disini?" Karin mengangguk semangat.

"Ya, mereka sedang menunggu mu di ruangan kakek" Aku segera bangkit dan berlari menuju ruangan kakek Jiraya. Tak memperdulikan teriakan Karin yang menggema di sepanjang lorong.


Hampir 6 bulan tak bertemu dengan kedua orang tua ku, mereka sibuk mengurusi departemen sihir yang berada jauh di daratan eropa.

Ketika ku masuk ke ruangan kakek, terlihat Dada sedang sendirian sambil membaca buku. Dada memang hobi membaca, kegemaran yang diturunkan kepada ku.

"Dada?" Aku terengah di ambang pintu. Dada bangkit dari tempat duduk nya dan membentangkan kedua tangan nya.

Aku pun berlari menuju dekapan nya, Dada memeluk ku erat dan menggendong ku seperti anak kecil.

Aku tertawa sambil menahan air mata yang ingin keluar.

"Dada! Aku sudah besar! hiks.. Aku sangat merindukan mu" Aku mencengram erat leher Dada yang sedang terbahak.

"Tapi, kau selalu menjadi putri kecil ku! Aku juga sangat merindukan mu!" Dada menurukan ku dan mengecupi dahi ku dengan kencang.

"kenapa dahi mu tak kunjung menyusut, Sakura?" Aku terbahak dan mengusap bekas ciuman dada yang berlebihan di dahi ku.

"Dimana Momma?" Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, Dada menggedikan kedua bahunya.

"Dia ada urusan dengan kakek, sebentar lagi dia akan-"

"SAKURA!" Momma berteriak nyaring dan langsung menerjang ku hingga kami jatuh bersamaan.

"Mom! Aku sangat merindukan mu!" Aku berguling dan memeluk nya dengan erat, Dada dan kakek hanya tertawa melihat tingkah kami.

"Oh sayang! Aku juga sangat merindukan mu!" Momma menghujani seluruh permukaan wajah ku dengan ciuman nya.

"Hei, kalian masih ingin tidur disana atau melanjutkan urusan yang sebenarnya?" Kakek Jiraya mengunterupsi kami dan Dada segera membantu kami berdua berdiri.

"Papa tidak seru"Momma berbisik kepada ku.

"Aku dengar itu, Tayuya" Kakek mendudukan dirinya di bangku kebesaran nya. Momma mencibir dan langsung dihadiahi senggolan sikut dari Dada.

"Baiklah, aku mengundang kalian disini untuk menyetujui perihal guru yang akan melatih Sakura" Kakek mulai pembicaraan serius nya. Kami bertiga seketika terdiam sambil menempati tempat duduk yang tersedia.

"Jadi, siapa lagi yang kau tunjuk kali ini, papa?" Dada bertanya mewakili rasa penasaran Momma.

"Uchiha Sasuke" Satu nama tesebut seketika membuat Dada dan Momma terkisap kaget.

Baru saja aku ingin bertanya mengapa reaksi mereka bisa seterkejut itu, Momma sudah menyela dengan nada yang antusias.

"Maksud mu, Sasuke anak dari Miss Mikoto?! Astaga! Tak ada penolakan lagi! Aku sangat menyetujui bila dia yang melatih Sakura! Bagaimana dengan mu, Gaara?"

Dada mengangguk "Tentu saja, nama Uchiha sudah tak diragukan lagi. Apalagi, seorang Sasuke Uchiha" Dada mendengus kasar.

"Memang nya ada apa dengan Sasuke itu, Dad?" Aku menyeruakan pertanyaan ku dan Dada segera memasang wajah berfikir nya yang aneh.

"Dia adalah teman Karin semasa sekolah. Bisa dibilang, mereka satu geng yang selalu berbuat onar. Tapi, dari yang ku lihat, Sepertinya Sasuke sudah banyak berubah. Dia menjadi lebih dewasa dan bertambah kuat. Tapi, walaupun begitu. Aku akan terus mengawasi nya" Momma dan kakek menganggukan kepalanya.

"Apakah Karin dan Sasuke itu pernah menjalin cinta?" Aku bertanya penasaran, karena Karin adalah pecinta lelaki tampan. Dan menurutku, Sasuke masuk dalam kriteria nya.

Momma dan Dada terbahak, "Karin dan Sasuke bagaikan minyak dan air. Mereka tak dapat bersatu meskipun mereka bersahabat, tapi mereka selalu bertengkar. Bahkan, Momma pernah menciptakan dinding suara ilusi untuk mereka, agar tak selalu bertengkar." Dada mengangguk membenarkan ucapan Momma.

"Karin adalah mantan kekasih Suigetsu, teman sekelompok mereka yang lain nya. Yang ku tau, Sasuke tak pernah terlibat jalinan kasih dengan siapa pun. Jangan bilang, kau terpikat oleh nya?" Dada menyipitkan matanya ke arah ku, aku menggeleng grogi.

"T-tidak, Dad! Aku hanya penasaran" Dada terbahak melihat reaksi ku.

"Well, Sasuke adalah lelaki yang bertanggung jawab. Tapi, melihat jarak usia kalian yang terlampau jauh, kurasa kau harus mengubah sikap mu menjadi sedikit dewasa" Dada menyeringai menggoda ke arah ku. Aku pun bersungut menjauhi nya, namun Momma malah mengahadang ku di samping.

"Ku dengar, Sasuke itu suka dengan wanita yang dewasa" Momma menaik-turun kan alis nya sambil tersenyum aneh.

Aku menggembungkan pipi ku kesal " Aku tak menyukai nya! lagipula, dia terlihat biasa saja!"

Dada menaikan kedua alis nya "Benarkah?bukan kah dia memberimu 'kejutan' panas di tangan nya saat kalian bersalaman?" Aku mengerutkan dahi ku dan menggeleng.

"Dia tak melakukan apa pun padaku. Hanya bersalaman biasa"

Perkataan ku membuat Momma dan Dada serentak melihat ke arah Kakek yang menampilkan raut meyakinkan nya.

"Ini... aneh" Dada mengusap dagu nya sambil berfikir. "Dia tak pernah seperti ini sebelum nya. Bahkan, aku pun dibakar oleh nya" Dada melanjutkan pembicaraan nya. Momma mengangguk setuju.

"Well, Tayuya, Gaara. Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat yang 'lebih tertutup'. Sakura? Kau harus memulai pelajaran pertama mu hari ini. Jangan terlambat!"

Momma dan Dada mengangguk mengerti.

Aku mengerenyitkan dahi ku, kenapa mereka seolah merahasiakan sesuatu dari ku?

Apa yang mereka rahasiakan sehingga harus membicarakan hal ini di ruangan tertutup?

"Sakura? cepatlah. Sasuke telah menunggu mu di lapangan bawah!" Kakek mengagetkan ku dengan suara keras nya.

Aku mengangguk panik dan segera menuju tempat dimana Sasuke berada.

end of Sakura pov.


Sakura mengerenyitkan dahi nya ketika mendapati pagar sekitar lapangan bawah terbakar hangus.

Apakah ada petir yang menyambar semalam?

Sakura bergumam kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, dia mendengar suara keras dari arah lapangan.

CTARR! BRUSHHHH!"SASUKE! KEMBALI KE SINI DAN HADAPI AKU! PENGECUT!" Suara Karin terdengar menggelegar dari tengah lapangan, sekitar tubuh nya sudah membuat perisai angin yang membuat rambut nya berkibar menakutkan.

"Sudah kubilang, kalau angin hanya akan membuat api semakin besar!" Sasuke muncul dari balik pepohonan dan segera menyambar Karin dengan kobaran api nya. Sangat cepat.

Tapi, perisai angin Karin lebih cepat menutup dan memantulkan kilatan api tersebut ke arah lain.

Sakura membulatkan matanya ketika api berkekuatan besar tersebut melesat ke arahnya.

Sekujur tubuh nya telah lemas dan kaku, dia telah pasrah dengan takdir nya yang harus terbakar dengan api tersebut.

Seperkian detik sebelum api menyambar, Sakura melindungi wajah nya dengan kedua lengan nya.

"SAKURA!" Karin dan Sasuke berlomba untuk menjangkau tubuh Sakura. Mereka baru menyadari bahwa Sakura berada di tempat yang sangat membahayakan.

"Tak akan bisa!" Karin membatin sambil terus berlari menuju Sakura.

"Tak akan sempat!" Sasuke berusaha berlari lebih cepat dan menyesali kebodohan nya yang melontarkan api besar ke arah Karin dan dipantulakan nya menuju Sakura.

Api menyerubungi tubuh Sakura, Karin dan Sasuke berhenti di tempat mereka masing-masing dengan jantung berdetak keras dan membelalakan kedua matanya.

Mereka sangat terkejut melihat kejadian yang baru saja mereka saksikan.

Api tersebut. Bukan nya membakar tubuh Sakura, malah menyerap ke dalam tubuh mungil yang sedang meringkuk ketakutan itu.

Api super besar itu seketika lenyap dari pandangan mereka.

Karin berlari menuju Sakura yang sedang merunduk ketakutan dan mendekap gadis itu dengan erat.

Sakura mendongkakan kepala nya dan membalas pelukan Karin yang sedang terisak ketakutan.

"A-aku sangat takut. Aku k-kira aku akan m-mati" Sakura tergagap sambil mengeratkan pelukan nya pada Karin.

Karin mengagguk sambil mengecupi dahi lebar Sakura "Maafkan aku, Sakura. Maafkan kecerobohan ku"

Sakura menggeleng sambil mengusap air matanya " Tidak, Karin. Justru aku ber terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa ku"

Karin melepas pelukan nya dan mengerenyitkan dahi " Tidak ada yang menyelamatkan mu, Sakura"

Sakura terkejut " A-apa? Lalu bagaimana api tadi bisa menghilang seketika?!"

"Yang pasti. Itu bukan kekuatan dari kami berdua. Posisi kami barusan sangat tak memungkinkan untuk menyelamatkan mu" Sasuke menghampiri kedua gadis itu. Sakura menggeleng tak mengerti.

"Lalu, siapa?" Sakura bertanya kepada Sasuke dan Karin.

"Kau yang memberhentikan nya. Kau menyerap seluruh api ku" Sasuke menatap Sakura dengan yakin.

Sakura menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin, aku tak memiliki kekuatan apa pun, aku-"

"justru itu, aku ada disini untuk membantu mu mengetahui kekuatan apa yang kau miliki" Sasuke memotong perkataan Sakura.

Karin mengusap rambut Sakura dengan keras "Itu berati, setidak nya kita telah mengetahui ada satu orang yang bisa menyerap kekuatan api Sasuke"

Sasuke merengut ke arah Karin yang menyeringai meledek nya.

Melupakan Sakura yang masih mematung tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"Lihat? Sakura menyerap api itu" Jiraya berkata bangga kepada Gaara dan Tayuya yang masih membeku tak percaya setelah melihat kejadian beberapa detik yang lalu itu.

Mereka sedang berada di balkon utara sekolah, tepat menghadap ke arah lapangan bawah tempat Sakura, Karin dan Sasuke berada.

Tadinya, mereka berniat untuk melihat bagaimana Sasuke melatih Sakura. Namun, yang mereka dapatkan melebihi ekspektasi nya. Mereka melihat bagaimana Sakura menyerap api super besar itu secara misterius.

"Bagaimana itu bisa terjadi?" Gaara angkat bicara sambil mengerjapkan mata nya tak percaya.

"Sudah lebih dari 5 abad tak ada yang bisa melakukan hal tersebut pada Uchiha." Tayuya berbicara sambil terus memfokuskan pandangan nya ke arah Sakura yang sedang bercanda dengan Karin di lapangan bawah dan Sasuke yang terus terdiam mengamati kedua gadis tersebut.

"Tak ada yang bisa menyerap kekuatan api Uchiha. Menangkis, memang wajar. Tapi menyerap. Seperti yang Sakura lakukan, tak ada yang bisa melakukan hal itu sebelum nya" Tayuya memalingkan wajah nya sambil mengeratkan genggaman tangan nya pada lengan Gaara.

"Darimana dia mendapatkan nya?" Gaara bertanya kepada Jiraya, lelaki tua itu menggedikan bahu nya.

"Kalian orangtua nya. Mengapa bertanya kepada ku?"

"Maksudku, apakah ada dari keluarga mu yang memiliki kekuatan seperti itu?" Gaara mengulangi pertanyaan nya dan Tayuya segera menjawab nya dengan tergesa.

"Tidak ada! tak ada yang berkekuatan seperti itu sebelum nya"

Jiraya menggelengkan kepalanya "Kita masih belum mengetahui keluarga mu, sweetheart" Tayuya membelalakan matanya dan mengangguk pelan "Ya, kau benar papa. Kita masih belum tau siapa keluarga ku yang sebenarnya"

Gaara berdeham menetralisir suasana yang mendadak canggung itu.

"Kalau begitu, sebaiknya kita lakukan penelitian terhadap siapa keluarga Tayuya yang sebenarnya"

Jiraya dan Tayuya mengagguk serempak. Gaara mendekap Tayuya yang masih memikirkan tentang keluarga nya.

"Gaara, bisakah kau mengambilkan mantel ku di dalam ruangan?" Gaara mengangguk dan membiarkan Tayuya dan Jiraya sendirian

"Tayuya, maafkan papa. Papa tak bermaksud untuk mengungkit kembali siapa keluarga-"

"Aku tau, pa. Aku tau bahwa saat ini pasti akan terjadi. Sebenarnya, aku pun sudah mulai mengerti mengapa Sakura tak memiliki kekuatan nya sampai sekarang. Tapi, bila menilik ulang siapa keluarga kandung ku. Mungkin saja mereka memiliki jawaban atas semua ini"

Tayuya tersenyum kepada Jiraya yang terlihat sedang mengepalkan kedua tangan nya.

"Jadi, sepertinya kita harus berusaha lebih keras lagi untuk menemukan jawaban nya, iya kan, pa?" Jiraya mengagguk dan memalingkan wajah nya. Dirinya sangat sensitif bila membahas perihal keluarga asli Tayuya.

Dia hanya tak mau Tayuya pergi dari nya dan memilih untuk kembali kepada keluarga asli nya.

Gaara kembali sambil menenteng mantel Jiraya di lengan nya.

"Terimakasih, Gaara" Jiraya menerima mantel tersebut dan segera memakai nya.

"Papa, aku dan Tayuya akan berangkat menuju kerajaan selatan. Siapa tau, Ratu Mei mengetahui asal-usul keluarga Tayuya" Jiraya mengangguk, Tayuya segera menghampiri Gaara.

"Aku berangkat, papa" Tayuya tersenyum sambil menahan tangis nya, mengeratkan pegangan nya pada Gaara.

Jiraya mengangguk dan membiarkan kedua pasangan itu pergi.

"Tayuya!" Sebelum mereka menghilang dibalik pilar, Jiraya memanggil Tayuya yang segera bertoleh ke arah nya.

"Apapun yang terjadi, kau akan selalu menjadi putri kecil kesayangan ku" Jiraya berteriak sambil menahan tangis nya.

Terdengar isakan pelan dari arah Tayuya yang segera tersenyum dan mengangkat tangan kanan nya ke atas. Jari nya terkepal sempurna kecuali jari kelingking nya yang mengacung.

Itu adalah simbol perjanjian antar Jiraya dan Tayuya.

Jiraya terkekeh dan melakukan hal yang sama seperti Tayuya. Tayuya pun mengangguk dan melambaikan tangan nya ke arah Jiraya.


See yaa next Chapter!


.

.

.

.

.

.

.

Umm, well. Gimana buat Chapter sekarang? Apakah semakin gaje? wkwkwkw

I'm so sorry kalau belum memenuhi kriteria menulis yang baik ~

Akan ditemukan banyak sekali Typo dan salah kosa kata disini. Kosa kata ku masih terlalu dangkal. Dan aku meminta bantuan nya untuk mengoreski nya kembali!

Sankyuuu~

.

.

.

And Don't forget to like and Review!

God Bless Us!

.

.

-Nala-

.