Masashi Kishimoto-sensei


Revival

.

.

4

.

.


Tayuya mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan nya. Berekelana di sekitar gurun pasir memang bukan ide yang bagus. Wanita itu melirik kearah sang suami yang terlihat tak terganggu sama sekali dengan udara terik. Tayuya hampir bertanya mengapa dia begitu nampak biasa saja, namun seketika Tayuya tersadar asal muasal suaminya tersebut memang dari desa suna. Desa dimana surga nya gurun pasir, matahari terik macam seperti ini tentu sudah bukan tandingan nya lagi.

"Aw" Tayuya terjengit, agak tersandung batu yang bersembunyi dibalik pasir. Beruntung Gaara segera menahan lengan kanan Tayuya, kalau tidak pasti wajahnya akan berlumur pasir panas sekarang.

"Dehidrasi ya?" Gaara tak segera melepas lengan Tayuya, menariknya mendekat dan meletakan telapak tangan nya pada leher Tayuya-sekedar mengecek suhu tubuh wanita itu.

Tayuya menggeleng sambil tersenyum, tak mau merepotkan lagi sang suami yang sejak tadi membawa dua tas-miliknya dan milik Gaara-

"Kita bisa beristirahat setelah sampai perbatasan Konoha. Hutan disana ada jalur sungai, kita akan mengambil air disana. Kau masih kuat?" Gaara mengusap poni di kening tayuya yang kini lengket bercampur keringat. Wanita itu mengangguk dan berjalan kembali, tangannya masih nyaman menggapit lengan Gaara.

Beberapa saat kemudian, bunyi kepakan sayap elang mendekat kearah mereka berdua. Gaara dengan sigap mengulurkan tangan nya sebagai tempat pendaratan elang yang ia yakini milik Sasuke itu.

"Dari Sasuke?" Tayuya bertanya ketika Gaara sedang sibuk membaca pesan yang ia ambil di belakang cakar burung elang tersebut.

Gaara mengangguk, kerutan di dahinya bertambah ketika ia melihat sebuah segel pengaman di ujung surat tersebut.

"Tayuya? bisa lepaskan segel ini? Sepertinya Sasuke mengirimkan sesuatu"

Tayuya mengagguk, dengan merapalkan beberapa mantra, jari telunjuknya pun seketika bersinar dan ketika ditempelkan pada surat itu, tiba-tiba seekor burung besar muncul dihadapan mereka.

"Well, Sasuke bekerja sama dengan dokter Sai, eh?" Tayuya mendengus melihat burung raksasa hidup yang terbuat dari tinta itu, sangat dikenal nya-dulu Sai dan Tayuya adalah teman sekelas.

"Ayo, kita naik" Gaara mengulurkan tangan nya untuk membantu Tayuya memanjat badan burung itu.

"Kenapa kita harus menaiki burung ini? Apa yang Sasuke tulis disurat itu?" Tayuya bertanya setelah Gaara ikut naik bersamanya.

Gaara memeluk pinggang Tayuya dari belakang, mendekatkan wajahnya keceruk leher Tayuya dan menghirup aroma khas Tayuya yang sangat dicintainya itu.

"Janji kau bisa menahan diri hingga kita sampai ke Konoha bila aku memberitau isi surat itu?" Ujar pria berambut merah itu-agak seperti gumaman.

Tayuya mengerutkan dahinya, lalu mengangguk ragu-ragu.

Gaara menghirup nafas panjang,

"Sepertinya Sasuke telah menemukan asal muasal bakat Sakura"

"Hah?! Ap-"

Gaara menaruh jari telunjuk di depan bibir Tayuya.

"Kau sudah janji akan menahan diri tadi. Sekarang, diamlah. Aku juga tak tau bagaimana ia bisa menemukan nya begitu saja" Gaara menaruh tangan nya di sekitar panggul Tayuya kembali.

"Uchiha memang mengerikan" Tayuya mendengus, lalu membiarkan Gaara terkekeh bersamanya.


Ruangan Jiraya kini dipenuhi oleh atmosfir tak mengenakan. Semuanya tegang seketika, saat Sasuke menjelaskan kemungkinan bakat Sakura berasal.

"Jadi, Tayuya sebenarnya adalah anak dari dewi Kurenai?" Jiraya membuka mulut, untuk menghilangkan aura ketegangan dalam diam itu. Sasuke mengangguk pasti, matanya melirik kearah Tayuya yang masih bergeming, tatapan nya hampa kearah jendela.

"Itu sebenarnya menjelaskan beberapa fakta tentang kelahiran anda, Tayuya-san. Selama 2 minggu ini aku mencari tentang beberapa fakta yang terkait, lalu ketika aku mengunjungi panti asuhan yang dulu kau tinggali, kata seorang ibu asuh disana, saat kedatangan mu diiringi oleh semerbak wangi bunga khas musim semi, juga disekitar gendongan mu terdapat beberapa kelopak bunga yang tak bisa ditemui di musim panas-saat kelahiran mu itu"

Tayuya menatap kearah Sasuke, mengangguk perlahan. "I-ya.. tapi aku tak pernah terpikir sampai kesitu... " Gaara mengusap punggung istrinya, untuk menenangkan.

"Berapa persen kau yakin dengan kesimpulan mu ini, Sasuke?" Gaara bertanya, Sasuke membenarkan posisi duduknya-agak menjorok kearah depan, agar kedua sikunya bisa diletakan diatas kedua paha.

"89%" ujar Sasuke lugas. Gaara mengangguk, "Apa yang membuat mu ragu 11% nya lagi?"

Sasuke mengerutkan dahi, matanya agak menerawang kearah dinding, "Aku kesulitan memcari 'pemicu' yang tepat untuk Sakura"

"Apa maksud mu dengan pemicu?" Tayuya menyela Gaara yang hendak bertanya.

"Tuan Jiraya mungkin sudah tau perihal ini, bila seseorang yang mempunyai darah keturunan murni seorang dewi, akan mempunyai kekuataan setidaknya batas hingga umur 15 tahun. Namun, bila lebih dari itu, mau tak mau kekuatan terpendam itu harus segera dipicu agar keluar"

Sasuke menjelaskan, kerutan di dahinya tak kunjung menipis.

"Apa yang terjadi bila ia kekuatan itu tak dipicu?" Gaara langsung bertanya, agak memelankan suaranya agar tak terdengar panik.

"Pemilik darah murni itu akan meledak" Sasuke menjawab, berusaha mengabaikan wajah membeku Gaara dan Tayuya yang tercenganh mendengarnya.

Tayuya terkekeh grogi, "A-apa yang dimaksud dengan m-meledak? "

"Itu akibat luapan kekuatan hebat yang tak kunjung keluar. Ibarat sebuah bak mandi yang terisi air, kini kekuatan dalam diri Sakura telah meluap dan hampir melebihi batas yang ditentukan" Ujar Sasuke.

"BUKAN! BUKAN ITU! AKU BERTANYA, APA YANG DIMAKSUD DENGAN MELEDAK?!" Tayuya bangkit dari tempat duduknya, membalikan meja penghalang dirinya dan Sasuke, angin kencang samar-samar meniup ujung rambut Tayuya.

"Kendalikan dirimu Tayuya!" Gaara menggenggam lengan Tayuya erat, wanita itu masih menunduk dalam, samar-samar terdengar suara isakan. Lalu angin itu pun sirna seriring Gaara menenangkan Tayuya kembali.

"Apa maksudnya?" Tayuta bertanya kembali, ke arah Jiraya.

Jiraya yang sejak tadi terdiam kini tak kuasa menahan airmata nya.

"Itu berati, Sakura akan mati. Meledak bersama kekuatan itu" jawab Jiraya gamang.

Tayuya terisak tak berdaya, seluruh dunianya seakan hancur saat itu juga. Suara mendengung memenuhi pendengaran nya, atensi Gaara seakan pudar bersama dengungan yang semakin mengeras.

Ctak!

Tayuya terengah, nyeri di dahi menbuat nya tersadar kalau Jiraya telah memakai sihir andalan nya bila Tayuya sedang berada di dunia 'suara'.

"Kendalikan dirimu Tayuya. Kita pasti bisa menemukan solusinya" Jiraya bangkit dari hadapan Tayuya dan kembali ke kursinya. Sasuke terlihat yang paling tak terpengaruh dengan reaksi kedua orangtua Sakura yang memang sudah ia prediksi akan seperti ini.

"Lalu, langkah apa yang akan kau tempuh, Sasuke?" Gaara bertanya kembali, Sasuke menganggukan kepalanya.

"Aku akan pergi ke hutan barat. Menemui sahabat lama" Sasuke mengerling kearah Jiraua, yang langsung tau apa maksud dari tujuan Sasuke.

"Naruto dan Hinata ya?" Jiraya mengusap dagunya perlahan, lalu mengangguk menyetujui.

"Aku pun akan membawa Sakura kesana. Jadi, aku ingin meminta izin dari kalian semua. Karena ini tentunya bukan perjalanan yang singkat."

Gaara dan Tayuya saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan. "Tentu saja kami mengizinkan nya."

Sasuke mengangguk, lalu berdiri hendak pergi. "Terimakasih atas waktunya untuk mendengarkan penjelasan ku. Aku sangat menghargai itu." Sasuke membungkuk, diiringi Gaara, Tayuya serta Jiraya yang ikut memberi terimakasih.

"Tolong jaga Sakura, Sasuke" Tayuya meminta Sasuke dengan pandangan yang berkaca-kaca. Sasuke mengangguk pasti, sambil mengenakan jubahnya, ia berpamitam dengan ketiga orang diruangan tersebut.

"Jaga putriku, Sasuke" Gaara menepuk pundak Sasuke ketika pemuda Uchiha itu melewatinya.

Sasuke berhenti sesaat, lalu berbicara pelan-seperti berbisik- kearah Gaara.

"Pasti, tapi jangan salahkan bila aku jatuh hati dengan nya"

Gaara tercenung, bahkan hingga pintu tertutup meninggalkan mereka bertiga di ruangan tersebut.

Gaara mendengus, lalu terkekeh pelan.

"Mempunyai menantu pria Uchiha kedengaran nya bagus" Gaara berkata pada dirinya sendiri.


"Kita mau pergi kemana, Sasuke?" Sakura bertanya penuh semangat. Semenjak kunjungan dari profesor Shino 2 minggu yang lalu, Sakura memutuskan untuk memanggil Sasuke dengan nama depan nya. Tanpa embel-embel sensei lagi. Sasuke pun nampak setuju-setuju saja dengan panggilan yang dilontarkan muridnya tersebut. Mendengar nama nya disebut oleh Sakura, entah mengapa rasanya nyaman didengar.

"Ke hutan barat. Sebaiknya kau segera mengemasi barang-barang mu. Besok sore kita berangkat" Jawab Sasuke sambil mengaitkan tali kekang kuda miliknya ke batang pohon besar.

"Kau lama sekali. Habis dari mana?" Sakura bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari-entah apa yang sedang ia kerjakan-

"Ada sedikit urusan. Ngomong-ngomong, selama menungguku tadi, apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke, pemuda itu pun melangkahkan kaki nya ke arah Sakura.

Gadis berambut merah muda itu kini sedang duduk dibawah pohon besar berdaun lebat, kedua tangan nya terlihat sedang merangkai sesuatu. Dihadapan nya, terbentang padang bunga yang kini sudah menjadi tempat favorite gadis itu. Disekitar Sakura terlihat beberapa bunga bermekaran, padahal seluruh padang bunga pun masih terlihat kuncup.

"Membuat ini" Sakura berujar semangat, sambil menunjukan hasil tangan nya pada Sasuke, sebuah mahkota bunga.

"Hanya itu?" Sasuke menjawab, mencoba dengan nada meremehkan. Namun sepertinya tidak mempan untuk Sakura, gadis itu malah bangkit dan tiba-tiba saja memakaikan mahkota bunga itu keatas kepala Sasuke.

"Sifat jelek!" Sakura berkacak pinggang, lalu jari telunjuk nya mengetuk hidunh bangir Sasuke beberapa kali.

"Jangan suka meremehkan pekerjaan orang lain. Orang yang kau remehkan itu siapa tau baru saja membuatkan mu sesuatu dengan sepenuh hati mereka" Sakura menatap Sasuke sengit, namun akhirnya mendengus geli.

"Lagipula kau tampak manis dengan mahkota itu" Sakura mengedipkan sebelah matanya, membuat Sasuke merotasikan kedua bola matanya jengkel, lalu hendak melepaskan mahkota bunga itu dari kepalanya. Namun Sakura segera mencegah nya dengan jurus 'tatapan memohon' yang setidaknya mempan untuk Sasuke.

Sasuke pun mengurungkan niatnya, menghembuskan nafas lelah, "Aku ini pria dewasa, Uchiha pula. Tidak ada manis-manis nya" Ujar Sasuke sambil melipat kedua tangan nya didapan dada.

Sakura terkekeh ringan, "Iya-iya. Kau tidak manis, tapi tampan. Bagaimana?" Sakura menaikan salah satu alisnya-menggoda Sasuke.

"Bisakah kau menunduk sedikit?" Pinta Sakura kemudian, tanpa pikir panjang pria Uchiha itu pun menundukan punggungnya sedikit ke arah Sakura.

Tiba-tiba Sakura meraih leher Sasuke, dengan cepat gadis itu mengecup dahi Sasuke. Kejadian nya sangat cepat, sehingga rasanya pria berambut legam itu belum siap menghadapi hantaman manis di rongga dadanya, yang berkesinbungan kearah wajah yang seketika itu juga timbul kemerahan samar.

Sasuke menyentuh bekas ciuman Sakura di dahinya, entah mengapa masih terasa hangat dan mendebarkan. Sudah pasti jauh berbeda dengan sensasi yang ia rasakan saat Ibunya-Nyonya Mikoto- mengecup keningnya. Ciuman Sakura lebih terasa jauh kearah debaran membingungkan namun terasa nyaman, dan sialnya membuat Sasuke ketagihan.

"Pfftt.. kawaii " Sakura berujar sambil menahan tawa.

"Ck" Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain, ketika semburat kemerahan di pipi tak ingin berkompromi dengan harga dirinya.

"Satu sama" Sakura berujar kembali, kini Sasuke sudah bisa menatap gadis merah muda yang tersenyum jahil ke arah nya.

"Waktu itu, kau membuat ku malu setengah mati. Sekarang, kita impas ya?" Sakura tertawa puas, lalu berlari menunu padang bunga yang seketika seluruhnya bermekaran seiring putaran gadis itu di tengahnya.

Sasuke membulatkan kedua bola matanya menatap Sakura yang masih bermain di tengah padang bunga. Dalam diam, ia mencatat dalam hati.

Bila Sakura sedang bahagia, ia mampu memekarkan seluruh padang bunga sekaligus.

Pria bermarga Uchiha itu pun menghembuskan nafasnya lega. Lega karena dirinya, menjadi salah satu alasan mengapa Sakura bahagia sekarang.


See ya next chapter!


Halo minna-san!

makasih udah baca dan nunggu dan review dan like cerita ini!

beribu-ribu maaff karena gak bisa bales review dari kalian *bow*

Ada kerusakan di laptop dan ngebuat segalanya serbaa lemot, jadi cuman bisa upload aja, dan ini juga lewat hp sebagian edit nya*sob*

.

So sorry juga kalau ada typo atau salah kata disini~

.

Makasih lagi yg udah baca sampe sini, udah baca curhatan ga penting Nala *lemparbatu*

.

.

Pokonya, mudah2an bisa update secepatnya ya!

.

Love you!

God bless Us!

.

Nala. K

.

.