Masashi Kishimoto-sensei
Revival
.
.
5
.
.
Sasuke menatap gadis yang kini sedang terlelap disampingnya. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju hutan barat. Butuh 4 hari dengan menunggang kuda sehingga bisa sampai kesana. Ini baru hari ke 2, dan Sakura nampaknya tidak banyak mengeluarkan keluhan yang berarti. Bisa dibilang, Sasuke salut dengan pertahanan diri Sakura yang kuat. Gadis itu bisa menyembunyikan segalanya dengan apik, seperti saat ia ketakutan dengan seekor lintah yang menempel pada betisnya, namun ia bisa mengatur wajah sedemikian rupa sehingga orang lain bisa menganggap nya baik-baik saja.
Namun tidak dengan Sasuke, pria itu tak dapat dibohongi oleh raut wajah Sakura yang seperti sudah terlatih 'menyembunyikan' perasaan itu.
Sasuke mengambil kesimpulan, bahwa 'bakat' Sakura yang hebat ber akting itu timbul dari anggapan orang-orang yang selama ini membicarakan perihal buruk tentang nya.
Entah itu tentang bakatnya yang belum juga nampak, keturunan dua orang hebat dalam dunia sihir yang 'sial' atau karena perbuatan usil nya yang membuat sebagian orang tidak menyukai Sakura.
Apa pun itu, yang pasti semuanya telah membangun seorang Sakura yang pintar menyembunyikan segala perasaan nya. Dengan arogansi dan tawa tanpa beban, Sakura seakan dapat mengelabui seluruh dunia.
"Dingin" Sakura seperti mengigau, kedua tangan nya meraih selimut tipis yang menjadi penghalang udara dingin dengan kulitnya. Sasuke melepas jubah miliknya dan menyelimuti Sakura dengan itu. Sasuke sama sekali tidak terganggu dengan udara dingin mana pun, tubuhnya dapat menghasilkan panas yang puluhan kali lebih hebat untuk mengalahkan udara dingin itu. Bahkan bila ia telanjang sekarang pun, ia tak akan mati.
Samar-samar terdengar suara Sakura yang bersin beberapa kali, lalu gadis itu nampak terbangun dari tidur nya.
"Eh, Sasuke tidak tidur?" ujar Sakura sambil mengucek mata kanan nya, lalu bangkit sehingga bersandar pada bagang pohon-sama seperti Sasuke.
"Belum mengantuk" Sasuke menjawab, sambil menjentikan jari ke arah api unggun yang sudah mulai mengecil-agar api nya bertambah besar.
"Terimakasih" Sakura bergumam, namun bisa didengar oleh pendengaran Sasuke. Pria itu bergumam sebagai balasan nya.
"Eh, jubah mu kenapa ada disini? kau tidak kedinginan-"
Perkataan Sakura seketika berhenti, ketika melihat Sasuke yang tersenyum mengejek ke arahnya, seakan berkata 'kau sudah lupa apa bakat ku?'
Sakura pun merengut, "Oh iya aku lupa kau bisa memamaskan tubuhmu sendiri" sambil mengeratkan selimut serta jubah 'sumbangan' itu pada dirinya sendiri. Angin di hutan perbatasan memang dikenal ganas, bahkan ia tak mendengar suara binatang malam disekitar sini. Mungkin berlindung di sangkar semua, karena angin bisa saja menerbangkan mereka.
"Kemarilah" Ujar Sasuke, menyuruh Sakura untuk mendekat.
"Kenapa?" Sakura bertanya, tanpa arti yang jelas. Membuat Sasuke menaikan salah satu alisnya, "Aku tau kau kedingingan. Jangan mencoba berbohong kepada ku. Itu tidak mempan"
Sasuke menepuk rumput kering yang tumbuh di samping nya, menyuruh Sakura cepat kesana. Gadis itu menunduk ketika mendengar jawaban Sasuke tadi. Memang benar, ia tak dapat berbohong di depan pria yang akhir-akhir ini memenuhi hampir seluruh isi kepalanya itu.
"Sakura?" Sasuke memanggilnya, gadis itu segera bangkit dan merapat kearah Sasuke. Pria itu membentangkan tangan kirinya, sehingga Sakura bisa menelusup ke dalam dekapan nya. Telapak tangan Sasuke memunculkan hawa hangat yang mengahantarkan kulit lengan Sakura langsung keseluruh tubuh gadis itu. Perasaan hangat, nyaman dan terlindungi, seketika itu juga muncul dalam hati Sakura.
Tanpa sadar, Sakura semakin menelusup kedalam dekapan Sasuke. Sehingga kedua nya bisa mendengar degupan jantung satu sama lain. Mula-mula beriringan, namun kelamaan degupan Sakura mulai bertambah cepat seiring kecupan-kecupan halus yang dihantarkan bibir Sasuke kearah pucuk kepala Sakura.
Berusaha memejamkan mata, dan menghalau degupan aneh tersebut. Sakura malah semakin tidak tenang dan beringsut bangkit dari tidurnya.
"Tidak bisa tidur?" Sasuke bertanya, Sakura menjawab hanya anggukan kecil. Matanya mencari-cari objek lain untuk dipandang, selain kedua bola mata berwarna hitam yang kini terasa menatap dirinya lekat-lekat.
Kedua bola mata emerald itu berhasil menemukan langit malam yang kini berhiaskan kumpulan rasi bintang.
"Indah... "Ujar Sakura tanpa sadar, Sasuke pun ikut menatap langit malam, "Sedari tadi mereka yang menemaniku" Sasuke berkata sambil terus menatap bintang yang tak terhitunh jumlah nya itu.
"Berterimakasih lah" Ucap Sakura, diiringu kekehan lembut dari Sasuke.
"Aku pernah membaca sebuah puisi indah tentang patah hati, entah mengapa rasanya begitu pas dengan suasan malam dingin yang penuh bintang ini..." Sakura berujar, Sasuke memilih untuk diam sampai gadis itu melanjutkan perkataan nya.
"Tell me that story again-the one where the world ends how it began with a boy who loves a girl and a girl who loves a boy. And she is deaf and he is blind, and he tells her he loves her over and over and she writes him everyday but never hears a thing back"*
Sasuke mengangguk, meresapi sebuah puisi yang baru saja dibacakan oleh Sakura itu. Jelas ia tau darimana kutipan puisi itu berasal, Sasuke pun menggeluti hal sama berbau puisi.
"Sedih sekali bukan? Mereka sebenarnya saling mencintai, namun tak bisa menyampaikan perasaan mereka. " Sakura berkata lalu mendengus pelan.
"Setidaknya mereka mempunyai orang untuk dicintai" Sasuke menyahut, membuat Sakura menoleh ke arah Sasuke yang entah mengapa jarak mereka bisa sedekat ini-terlalu dekat.
Namun itu tak membuat keduanya menjauhkan diri masing-masing. Sasuke mematap kedalam mata Sakura, sementara gadis itu menatap balik kearah dahi Sasuke yang beberapa hari yang lalu pernah dikecup nya.
"Kau pernah jatuh cinta?" Sakura bertanya-berbisik kearah Sasuke. Uap dingin dari mulutnya langsung menerpa bibir Sasuke yang ikut gemetar.
"Ya, satu kali." Jawab pria itu pasti.
"Kapan?"
Sasuke menelusupkan tangan kanan nya kedalam leher Sakura, menghantarkan perasaan nyaman diceruk leher tersebut.
"Sekarang" Ujar Sasuke, satu detik sebelum kedua bibir itu bertabrakan. Mula-mula bibir itu hanya saling menempel, lalu perlahan Sasuke mengecup beberapa kali bibir Sakura, agar ikut berdansa bersama nya.
Sakura membuka bibirnya sedikit, membuat Sasuke menghisap bibir bawah Sakura dengan lembut, lalu Sakura memagut balik bibir itu. Diiringi kecapan manis dari buah beri yang baru saja dimakan gadis berambut merah muda, membuat Sasuke ketagihan.
Lidah nya menelusup jauh kedalam rongga mulut Sakura, membuat gadis itu mendesah rendah bersamaan dengan usapan halus lidah Sasuke di langit-langit mulut milik Sakura.
Gadis itu mencengkram kerah baju Sasuke, menariknya terus mendekat sehingga Sakura hampir duduk diatas pangkuan Sasuke. Pagutan lembut berubah menjadi liar, tak ada yang mau mengalah. Keduanya sibuk memberi kenikmatan pada si lawan jenis. Sasuke memindahkan tangan nya kearah pinggang Sakura, mencengkram erat pinggang tersebut dan membawanya kearah pangkuan. Sasuke memagut kedua bibir Sakura dengan ganas, cengkraman di pinggang Sakura turun hingga ke pinggul. Membuat gadis itu menggeram tertahan, antara nikmat dan nyeri disana.
Sakura melepas ciuman mereka, Sasuke menatap gadis yang kini tengah terengah dihadapan nya-diatas pangkuan nya- Sakura tersenyum lembut lalu menjatuhkan kepala nya keatas pundak milik Sasuke.
Mereka terengah bersama, tak ada yang berbicara setelah itu. Hanya berbagi kecupan di leher satu sama lain, tak ingin berbuat lebih jauh, walaupun si gadis telah merasakan benda keras yang menyenggol pahanya beberapa kali-yang terletak pas dibawahnya- dicelah antara kaki jenjang Sasuke.
Sasuke sesekali menggeram tertahan, mencengkram pinggul Sakura untuk meredakan hasrat nya. Sakura menggigit bahu Sasuke agar tak mengaduh saat tangan kekar itu mencengkram pinggulnya erat. Sakura tau, setelah kejadian ini, segalanya pasti tak akan seperti sebelum nya.
Gadis itu mengecup perempatan leher Sasuke dengan lembut, bernafas lega karena ternyata bukan hanya dirinya seorang yang memiliki getaran asing di dada, saat mereka berdua saling bertemu.
Cintanya terbalaskan.
Sakura menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sasuke, mengabaikan batang pohon sebagai sandaran keduanya, yang tadi masih berwarna coklat khas kayu, kini telah berwarna hitam, hangus sebagian karena ulah Sasuke yang sedang bersusah payah meredakan hasratnya itu.
samar-samar, Sakura bisa mendengar Sasuke bergumam pelan,
" I loved you once and now i must spend my whole life explaining why"*
Lalu Sakura terlelap dalam diam, kearah tidur tanpa mimpi yang membuat nya menuju kegelapan abadi.
"Sakura?" gadis berambut merah muda itu segera tersadar dari lamunan nya. Sasuke memegang pinggang nya dan mengangkat Sakura keatas kuda. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, sebenarnya dia bisa naik sendiri, tak perlu digendong seperti itu.
Tapi samar-samar Sakura tersenyum tipis, Sasuke yang memberikan nya perhatian walaupun sedikit itu terlihat sangat manis.
Sasuke menaiki kuda miliknya sendiri, Sunrise namanya. Itu adalah kuda pemberian dari mendiang kakak nya dulu, walaupun berkulit hitam legam entah mengapa ia bisa diberi nama Sunrise. Sakura mengusap kepala Strawhat-kuda betina berbulu cream miliknya- ia memejamkan mata seranya menikmati semilir angin pagi yang sejuk ini. Sasuke berada di sampingnya, mereka berjalan beriringan disepanjang jalur hutan.
Sesekali berhenti untuk memetik buah berry yang menjalar disekitar pepohonan, atau di pinggir sungai untuk mengisi kantung air yang semakin berkurang. Walaupun udara hutan bisa dibilang sejuk, tetap saja dehidrasi harus dihindari. Sasuke selalu mengingatkan nya untuk meminum air walaupun tak terasa haus.
Sejak kejadian tadi malam, sepertinya tak ada perubahan yang signifikan. Mereka masih mengobrol seperti sebelumnya, Sakura masih senang mengejek Sasuke dan pria itu masih saja berkata sarkas kepadanya. Untuk itu Sakura merasa bersyukur, karena tak usah mengalami kondisi canggung sehabis ciuman itu.
"Aku ingin mengambil air untuk persediaan, kau bisa menungguku disana" Tiba-tiba Sasuke menghentikan sunrise dan menepi kearah pinggiran hutan. Sakura mengangguk dan menuju tempat yanh ditunjukan Sasuke tadi.
Sunrise masih terlihat dari tempat Sakura berteduh sekarang, jadi dia rasa semuanya akan baik-baik saja.
Sakura pun mengerutkan dahi, perasaan apa itu? kenapa dirinya seperti tak ingin jauh dari Sasuke? Aneh. Sakura menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba menepis pikiran bodoh yang terus bercabang. Gadis itu membenarkan ikatan rambut miliknya yang terasa mengendur, rambut Sakura telah memanjang hingga mencapai punggung. Sakura memang sedang berusaha memanjangkan rambutnya akhir-akhir ini, dia telah terpesona dengan rambut indah milik Tayuya yang senantiasa memikat itu.
kresekk
Sebuah suara asing dari balik rerumputan membuat Sakura waspada, rambut yang belum sepenuhnya terikat pun ia biarkan tergerai begitu saja. Sakura tak punya peralatan senjata untuk bertarung, ia hanya membawa pisau potong berukuran mini-yang ia gunakan untuk menyiangi sisik ikan.
Kresek
Suara daun terinjak pun terdengar kembali, namun asalnya berbeda arah. Kini dari arah jam 3. Pisau pun sudah Sakura genggam dibalik jubah, Strawhat bergerak risih-tanda ada sesuatu yang mengganggu nya.
"K-keluar siapa ka- pffmmm!"
Sakura terjungkir ke arah belakang, tubuhnya menabrak tubuh seseorang. Mulutnya dibekap dengan sebuah kain- yang entah kenapa membuatnya pusing.
Sakura melihat 3 orang pria berbadan besar yang penuh tato, masing-masing membawa pedang panjang yang terlihat sangat berbahaya.
Tato..
Tunggu dulu, tato itu pernah ia lihat dulu. Saat perjalanan menuju Konoha bersama Gaara dan Tayuya, Sakura waktu itu masih berusia 7 tahun. Namun ia tau bagaimana sulitnya menghadapi para bandit yang terkenal di area hutan lembap ini.
Sakura memberontak, tubuhnya mendadak lemas ketika makin menghirup udara dari sarung tangan yang membekap mulutnya tersebut. Bisa ia simpulkan, ada sebuah obat bius yang dituangkan keatas kain.
"Diam dan berikan harta mu, gadis manis" orang yang membekap Sakura akhirnya berbicara juga, pedang sudah berada hampir mendekati kerongkongan Sakura. Gadis itu berteriak meminta pertolongan, Strawhat sudah mengikik sejak tadi, kuda itu ketakutan karena ditarik paksa oleh pria berambut orange-rekan bandit tersebut.
"Oyaoya? ada kawanan anjing liar rupanya" Sasuke keluar dari semak blukar, dengan santainya sambil meminum dari kantung air, lalu bersandar di dahan pohon.
"Siapa kau? jika berani mendekat, aku akan tebas kepala gadis ini! Jadi sebaiknya, berikan semua harta benda mu, Sekarang!" Pria bertubuh pendek berkoar sambil menjulurkan pedangnya kearah Sasuke, pria Uchiha itu menyeringai lalu berubah menjadi dengusan jengkel.
"Kau mengancam ku eh? know your place" Ujar Sasuke sambil menaruh kantung air miliknya kedalam jubah.
"Sombong sekali kau! Cepat! berikan saja harta benda mu!" Pria berambut orange lagi-lagi menggertak Sasuke. Sasuke pun menghembuskan nafas lelah, mengangkat tangan kanan nya dan jarinya membentuk pola seperti ingin menjentikan jari.
"Dengar, aku tak ingin berkeringat gara-gara menghadapi kalian. Dan juga, aku tak akan memaafkan kalian karena telah mencoba membius murid kesayangan ku. Jadi, mari kita selesaikan ini dengan 5 detik saja, oke?"
Ketiga pria itu mengerutkan dahinya bingung. Saat hendak berbicara, tiba-tiba Sasuke menjentikan jarinya sekali. Dan api pun muncul dari tubuh ketiga bandit tersebut. Sontak saja, mereka langsung berteriak minta tolong sambil terus mengibas-ngibaskan baju mereka dengan panik.
"Kau akan tau siapa aku setelah ku membakar habis kalian" Sasuke berkata dengan aura dingin, ketiga bandit itu saling pandang dan segera bersujud dihadapan Sasuke-mengabaikan tubuh mereka yang sedang terbakar.
"MOHON JANGAN BAKAR KAMI! KAMI TIDAK TAU KALAU KAU ADALAH ANGGOTA KLAN UCHIHA!" Ketiga bandit itu berteriak memohon seperti orang kesetanan, si tubuh kerdil telah berguling kesana kemari untuk mencari cara agar memadamkan api yang sudah merambat ke kulit mereka.
Sasuke menyipitkan mata, tak ada niatan untuk memadamkan api, "Bagaimana aku bisa memaafkan kalian, bila kalian telah menyakiti Sakura, hah?"
"MAAFKAN KAMI! TOLONG PADAMKAN API INI! KAMI TIDAK TAHAN LAGI!" si rambut orange meraung panik, tangan nya merogoh kantung air didalam tas miliknya, diguyurkan air tersebut ke arah tubuh yang terbakar, namun api tak kunjung padam.
"Percuma saja kalian memadamkan api tersebut dengan air. Api Uchiha adalah api abadi" Sasuke menyilangkan kedua tangan nya di depan dada, sorot mata melihat ketiga bandit itu kesakitan membuat jiwa 'lama' nya seakan kembali. Jiwa yang senang membunuh dan menikmati penderitaan orang lain.
"SASUKE!" Sakura berteriak, sedang berjalan kelimpungan kearah Sasuke yang masih memperhatikan ketiga bandit yang sedang terbakar itu.
"Matikan apinya!" Sakura berteriak lagi, menjangkau jubah Sasuke dan terjatuh karena pusing yang semakin menghantam kepalanya.
"Sakura?!Sial kau sudah terkena efek bius nya" Sasuke merangkul Sakura kedalam dekapan nya, namun gadis itu menolak dan menunjuk kearah para bandit.
"Padamkan apinya" ujar Sakura, Sasuke menggeleng "Mereka telah mencoba untuk membunuh mu"
Sakura menggeleng, membantah perkataan Sasuke "Tidak, tolong padamkan apinya, mereka akan mati... " Sakura berbicara seperti orang mabuk.
"Sasuke... " Sakura memegang pipi kanan Sasuke, pria Uchiha itu langsung membelakan kedua matanya ketika ia merasakan aliran aneh yang merasuki tubuhnya.
Tangan Sakura berjalan menuju jemari Sasuke yang sedang merangkulnya, lalu menggenggam jemari tersebut erat, mengarahkan tangan Sasuke yang sudah ia genggam kearah para bandit tersebut.
Lalu Sakura berbicara pelan,
"Padam"
Dan tiba-tiba api yang membakar tubuh ketiga bandit itu membeku, beberapa saat kemudian menguap menjadi sekumpulan asap. Ketiga bandit itu langsung pingsan dengan baju yang sudah terbakar setengah.
Sekumpulan bunga pun ikut tumbuh diantara tubuh pingsan mereka.
Sasuke menatap tak percaya dengan kejadian yang baru saja ia saksikan itu, terlebih lagi berasal dari kekuatannya sendiri-dan kekuatan Sakura.
Sasuke memalingkan wajahnya kearah gadis yang kini sudah tak sadarkan diri didekapan nya.
Sasuke memejamkan matanya erat, lalu menciumi wajah Sakura yang terlelap.
"Bagaimana bisa... kekuatan mu dan kekuatan ku terhubung seperti itu?" ujar Sasuke sendirian.
Dirinya tak habis fikir lagi, selalu saja dikejutkan dengan anak yang ia yakini sebagai cucu dari dewi musim semi itu. Sasuke tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya, saat dua kekuatan bersatu dan membentuk kekuatan baru yang mengagumkan.
Jika memang benar kekuatan nya dan Sakura bisa digabungkan, boleh jadi pemicu yang sedang mereka cari sebenarnya adalah dirinya sendiri. Pemicunya adalah seorang Uchiha Sasuke.
Sasuke mengusap wajah nya lelah, tak ingin berspekulasi tanpa fakta dan bukti yang jelas terlebih dahulu. Lebih baik ia tanyakan kepada yang tau banyak soal percampuran darah antar penyihir.
Siapa lagi kalau bukan Hinata Hyuga, si peramal sekaligus istri dari sahabat bodohnya itu.
See ya next chapter...
* puisi Sakura: Book: "The Universe of Us" by: LangLeav. Page; 81 "Lovers Paradox"
*Puisi Sasuke : Book: "The Universe of Us" by: Langleav. Page; 99 "Once"
Helooo minna-san! Makasih udah baca dan review cerita ini!
Maafa kalau review kalian belum sempat ku balas *bow*
pokonya beribu2 makasih yang udah support cerita ini!
Love ya!
God bless Us
Nala. K
