Lotto

GINTAMA

Rated M

HijiGin

WARN : AU, YAOI, AND I DON'T GIVE A ..!..

Note : Saya akan berterima kasih sekali jika reviewer mengoreksi jika terjadi kesalahan bahasa inggris yang dipakai di dialog di fict ini!

AN : Khusus chapter dua ini untuk intro Hijikata, jadi sementara Gintoki ngga ada di chapter ini.

Think this *may* be become bi-sexHijikata lol

REPLY!

dirty-notso-littleshit : Ahh thank you so much! Please enjoy this chp 2!

Rinki : Zeeb udah dibaiki! Sekali-kali mami jadi tipe anak durhaka wkwkwk.

Hinter EBrille : Ngga papa ngga dijelasin, yang penting Hinter bisa nikmatin ceritanya lol.

livanna shin : Zeeeb! Udah lanjut bu!

Terima kasih yang udah reply!

.

Tuhan, aku memenangkan tiket lotre kehidupan, tapi aku tidak menginginkan hadiahnya.

Apa yang harus aku lakukan?

.

.

"Hi-Hijikata-kun...!"

Perempuan yang berbaring di bawahnya mengerejap nikmat saat laki-laki yang berada di atasnya mengirimnya ke langit ke tujuh setelah pelepasan tertingginya. Disusul oleh lelaki bernama Hijikata di atasnya yang juga mencapai puncak kenikmatan.

Sepuluh menit kemudian, perempuan itu kembali memakai pakaiannya. Dia tersenyum manis kepada Hijikata yang masih belum mengenakan apapun kecuali celana panjang yang tidak dia lepas saat berhubungan badan tadi. Tubuh yang begitu perkasa dan juga menggoda itu membuat siapapun betah untuk bermanja-manja di atasnya. Tidak terkecuali wanita itu. Sayang sekali kali ini dia harus segera pergi dari dekapan Hijikata.

Tidak lupa dia memberikan sebuah amplop cokelat.

"Lain kali, hubungi aku jika kau membutuhkan uang, Hijikata-kun." Perempuan dengan tampang high class itu menyentuh pipi pria muda nan tampan yang sudah memuaskan dirinya tadi.

Mengangguk sopan, Hijikata mengiyakan perkataan wanita dengan dress merah itu. "Terima kasih, Nyonya. Itu juga berlaku untuk Anda. Jika Anda membutuhkan saya, silahkan hubungi saya."

Perempuan berumur tiga puluhan itu meninggalkan Hijikata di ambang pintu hotel bernomer 403 di Hotel Suite Crown tempatnya berdagang jasa untuk kaum hawa yang membutuhkan sentuhan lelaki jantan untuk kepuasan lahir dan batin itu.

Dia kembali ke dalam kamar setelah navy miliknya sudah tidak lagi melihat pelanggannya di lorong hotel. Berbaring di atas ranjang, Hijikata melirik amplop cokelat yang dia dapatkan wanita berumur tadi. Dia lalu mengambil bungkusan cokelat persegi panjang yang tadi sempat dia lemparkan di atas kasur king size-nya.

"Kalau aku tahu menjual diri bisa menyelamatkan kalian berdua..."

.

.

Di bandara internasional Tokyo, perempuan dengan rambut pirang bergelombang menggeret kopernya. Perempuan berdarah Jerman itu kembali lagi ke Negeri Sakura untuk seseorang. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Gintoki?

Dengan high heels-nya dia melangkah dengan anggun keluar dari ruang kedatangan. Di depan pelataran ruang kedatangan. Dia mengangkat pergelangan tangannya. Jam tangan bermerek Channel berharga ratusan ribu dolar itu menunjukkan angka sembilan di jarum kecilnya. Saat akan berdecak kesal, karena sekiranya dia akan lebih lama menunggu kedatangan orang itu tapi tiba-tiba mobil dengan merek Koenigsegg Agera R berhenti tepat di hadapannya.

Tidak lama kaca mobil itu pun turun.

"Did i late, dear sister?"

"I sure want to kick your ass if you were late, asshole."

Akhirnya keduanya pun pergi ke hotel langganan pewaris nama Sakata yaitu hotel Suite Crown untuk menitipkan Lisha di sana. Tidak mungkin untuk Gintoki menginapkan Lisha di rumahnya. Dia tidak ingin sahabatnya itu juga menjadi korban ambisi membabi buta ayahnya.

Bahkan pernah sang ayah berujar; tak masalah baginya untuk Gintoki menikahi seorang pelacur, selama dia bisa menghasilkan keturunan. Tapi tentu ayah dari si rambut perak itu akan sesegera mungkin untuk melenyapkan wanita dengan status hina tersebut.

Jangankan dengan status pelacur, wanita berkelas seperti alamarhum ibu Gintoki pun dilenyapkan begitu saja demi mendapatkan pewaris untuk keluarga raksasa itu.

Setelah sampai di kamar hotel bernomer 705, di mana Lisha akan tinggal sementara di Jepang, keduanya berbicara seperti biasa selayaknya seperti seorang sahabat.

"So you want me to search that person?" Lisha membuka kaleng bir yang sebelumnya dia beli di supermarket pinggir jalan tadi.

Gintoki yang bersandar di dinding jendela hotel mengiyakan. "Yeah. 'Cause you are good with that kind of business."

Menenggak bir yang tadi dia buka, Lisha menganggukkan kepalanya. Tentu pengalaman Lisha begitu banyak jika harus dipertemukan oleh dunia malam seperti itu. Perempuan dengan manik safir itu juga ahli membaca kepribadian orang walaupun dia juga sering apes dalam hubungan percintaan.

Si pirang itu memiringkan kepalanya. "Okay. Do you have any specific criteria for your partner in crime-to be?"

"You know what the best for your best friend, Lisha. I'll leave it to ya."

Bibir mungil berwarna merah jambu itu menarik senyumnya. "Don't worry, this is i'm good at."

.

.

Mencari laki-laki yang hidup dari dunia malam untuk memuaskan birahi untuknya memang perkara yang mudah untuknya. Tapi kali ini dia harus mencari laki-laki yang bisa diajak untuk bekerja sama demi menyelamatkan sahabat peraknya. Dan itu masalah yang lain.

Segelas Chivas Regal di tangannya, Lisha menyicipi salah satu minuman beralkohol favoritnya itu. Bar yang berada di Hotel Crown Suite kali ini menjadi tempat si pirang bergelombang itu mencari calon rekan kerja Gintoki. Pastinya orang itu haruslah orang yang baik. Menikmati minumannya, tiba-tiba sepasang safir biru lautnya mengekor kepada sosok laki-laki dengan suite hitam yang lewat di belakangnya bersama seorang pengunjung wanita.

Dari jauh, Lisha melihat pria tampan itu sedang dicium pipinya oleh seorang perempuan yang kira-kira umurnya lebih tua. Lalu tidak lama perempuan itu memberikan sebuah amplop cokelat yang diyakini olehnya bahwa itu adalah uang hasil kerja si lelaki tadi.

Sebagai rasa terima kasih, pria dengan surai gelap itu sedikit membungkukkan badannya. Lisha yang melihat kejadian itu sedikit terkejut. Laki-laki itu masih memiliki sopan santun rupanya!

Ini aneh baginya.

Setelah mengantarkan pelanggannya ke pintu keluar, Hijikata kembali ke dalam bar sekaligus tempat hiburan malam itu. Beristirahat sebentar di meja bar yang sama dengan Lisha untuk memesan minuman. Masih merasakan hangatnya alkohol yang lewat dari tenggorokannya, Lisha tidak hentinya memandang pemuda yang menangkap pandangannya itu.

"Red Label," sebut Hijikata pada si bartender.

Memangku wajahnya, Lisha tersenyum nakal pada Hijikata. 'Seems this one worth to try...', perempuan berdarah Jerman itu menghampiri Hijikata yang di sebelah kirinya masih ada satu bangku kosong. "Excuse me, may i sit in here?"

Hijikata menoleh ke sebelah kirinya. Walaupun dentuman musik lumayan keras, telinganya masih bisa mendengar ada seseorang yang menyapanya. Navy itu sedikit mengembang saat melihat perempuan berwajah kebarat-baratan itu menghampirinya. Perempuan dengan mini dress berwarna royale blue itu menangkap perhatiannya.

Seringkali Hijikata mampir kemari untuk melayani tamu-tamunya, tapi baru kali ini dia melihat Lisha di bar sekaligus klub malam hotel ini.

"Please miss," Hijikata tersenyum ramah dan mempersilahkan Lisha untuk duduk di sampingnya.

Lisha pun duduk di bangku samping kiri Hijikata. "Are you free now? Sorry bothering you while you still rest like this."

Sejujurnya Hijikata agak gelagapan saat ada orang asing yang berbicara dengannya. Karena dia tidak terlalu fasih berbahasa inggris. Tapi dia berusaha semampunya menjawab apa pertanyaan Lisha. "No problem, miss. Theres something i can help you with?"

Senyum nakal nan menggoda itu pun terbit dari bibir yang terpulaskan lipstik merah di atasnya."I need you to come in my"

.

.

Di kamar hotel tempat Lisha tinggal sementara, kini keduanya duduk sambil berhadapan. Hotel yang menyerupai apartemen mewah itu memiliki ruang tamu yang cukup luas untuk ditinggali sendiri. Hijikata pun terperangah melihat kamar sekelas VVIP di Hotel Suite Crown. Biasanya umtuk kamar sekelas VVIP di hotel termegah seantero Jepang ini hanya di sewa untuk kalangan keluarga pejabat pemerintahan, atau tamu-tamu terhormat dari luar negeri.

"Don't be so stiff. Make yourself at home." Lisha masih di mini bar mengambil sebuah botol dari rak penyimpanan wine.

Hijikata gugup untuk kali pertamanya dia masuk di kamar super duper mewah dengan fasilitas VVIP seperti ini. Sudah mendapatkan apa yang dia cari, Lisha kembali ke ruang tamu di mana Hijikata masih duduk manis di sana.

"So, i want you to introducing yourself." Lisha memerintah Hijikata dengan wajah yang ramah.

Hijikata tidak mengerti apa yang diminta perempuan yang dipikirnya butuh jasanya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi. Memperkenalkan diri? Apakah ini bagian dari foreplay? Tapi dia kemari karena dengan tujuan untuk melayani calon pelanggan yang akan membeli jasanya. Dia tidak punya hak untuk menolak. Apalagi hanya untuk berkenalan.

"I'm Hijikata Toushiro," jawabnya sambil mempertahankan tanda tanya yang ada di kepalanya.

"I see. Hijikata-kun right? Your age honey?"

"22."

Si pirang tidak menyangka bahwa umur Hijikata jauh lebih muda daripada dirinya maupun Gintoki. Kalau dilihat-lihat dari rupa menawan Hijikata, mungkin banyak yang berpikir anak itu sebaya dengannya. "Wow, you're so young!" Lisha membuka botol Bollinger Rose dan menuangkannya di dalam gelas bertangkai yang ada di atas meja tamunya.

'Perempuan ini... dia orang kaya ya?Apa dia simpanan pejabat?' NavyHijikata melihat gelas wine itu sudah hampir penuh terisi oleh champagne yang barusan dituangkan oleh si tuan rumah.

Lisha menggeser gelas wine berisi champagne itu ke arah Hijikata. "Here we go." Dia mempersilahkan hidangannya pada laki-laki penghibur yang baru dia temui di bar tadi.

Kepala hitam itu sedikit menunduk. "Thank you, Miss."

"You're really cute, Hijikata-kun." Lisha menuangkan champagne ke gelasnya sendiri yang masih kosong. "Just call me Lisha. I'm Lisha Heartnet. No need formalities. I'm nobody in here." Dengan kakinya yang jenjang, dia menyilangkan kakinya. Memperlihatkan betis indah yang tersingkap dari gaun malam mini yang dipakai perempuan itu.

"Thank you, Lisha."

Setelah gelasnya terisi dengan champagne, Lisha meletakkan botol yang sudah berkurang isinya di samping gelasnya. "Seems you're diffrent from any man that i saw tonight in that club. Isn't that true, Hijikata-kun?"

"Yes, i..."

Lisha mengangkat tangannya untuk menghentikan Hijikata berbicara. Sesuai dengan instruksi perempuan berambut pirang itu, dia memutus ucapannya. "I know what you're doing, Hijikata-kun. We're in same boat afterall." Lisha menyicip sedikit champagne yang barusan dia tuangkan sendiri.

Garnet opal milik laki-laki bersurai hitam itu sedikit membulat. 'Apa maksudnya?'

"Forget that. Can we talk like we were friends? I need someone who i can to talk to." Senyum Lisha dengan permintaanya. "You also can rest here. I'm feel bad cause you should rest after you doing your job, but i'm interuppted you back then."

Pria berumur dua puluhan itu merasa sedikit aneh dengan permintaan wanita berwarga negara Jerman tersebut. Tapi dia tidak punya pilihan lain selain melayani pelanggannya yang cantik itu. Ini kali pertamanya dia menerima pelanggan yang tidak menginginkan jasanya untuk memuaskan nafsu birahi yang didambakan oleh wanita, seperti wanita lain yang selalu dia temui tiap malam.

Lisha hanya menginginkan dirinya untuk berbicara tentang kehidupannya.

.

.

::Empat hari kemudian::

"But Lisha, this is too much..." Hijikata menerima segepok uang dengan nominal sepuluh ribu yen yang berjumlah empat ratus ribu yen. Pria yang semalam suntuk menemani sahabat Gintoki itu tidak percaya dengan apa yang barusan dia terima. "Beside i didn't do anything to you last night... and again"

"No worries, baby. I'm happy that we have conversation last night. Believe that, maybe you also bored with your work right?" Lisha dengan santainya membuka pakaian di depan Hijikata yang baru saja bangun dari tidurnya.

Ini tidak benar, pikir Hijikata.

Perempuan ini memintanya datang ke kamarnya beberapa hari belakangan ini. Dia tidak melakukan apapun kecuali berbicara tentang kehidupannya. Lisha tidak meminta dirinya untuk melayaninya, atau perbuatan semacam itu. Lisha hanya mendengarkannya berbicara.

Dan yang lebih tidak benar lagi, setiap malam pertemuan mereka, Lisha memberikan uang yang jumlahnya sampai ratusan ribu yen. Jumlah uang yang diterima olehnya tentu bukan jumlah yang sedikit bagi pria yang bekerja di dunia malam yang serba gemerlap itu. Jika tamu lain hanya bisa memberikannya sampai lima ribu sampai sepuluh ribu yen, tapi Lisha memberinya lebih dan banyak daripada itu.

Hijikata masih duduk di ranjang Lisha. Dia masih tidak mengerti apa yang diinginkan oleh wanita cantik berambut pirang yang saat ini berdiri dengan jarak kira-kira tiga meter darinya. Sejujurnya dia merasa tidak enak jika hal ini akan terus berlangsung.

"Lisha, maybe theres something you want me to do?" Tanya si lelaki bersurai gelap itu kepada Lisha. "This is wrong. You always gave me money when i'm not do anything to you. At least, if theres something i can help, please just tell me."

Lisha yang berdiri di depan lemari pakaian hanya diam. Lalu dia tersenyum dan membalik tubuhnya. "What are you talking about, Hijikata-kun? Isn't that honesty is not cheap? So what's wrong if i gave you few bucks?"

Entah kenapa Hijikata merasa dengan cerita kehidupannya yang jujur menjadikan dirinya hanya bahan iba untuk Lisha. Laki-laki dengan tubuh proposional nan menggoda itu menaruh uang yang barusan saja dia terima dari si pirang di meja nakas. Dia menghela nafas pelan sambil berjalan menuju ke arah Lisha yang masih setia berdiri bak manequin yang belum dipakaikan apapun di tubuhnya.

"Lisha, i'm really grateful to your concern for me. And you're really nice person. But i'm felt pissed because you didn't tell me what i should i do for you. I'm a man you know and i—"

Tangan Lisha menyentuh wajah pria yang selisih tingginya dua puluh senti darinya itu. "Actually i really want your's in mine. I want that so badly, Hijikata-kun. Just thinking about you make me want to fuck yours."

Hijikata segera menyambar leher putih nan mulus milik Lisha dan menciumnya. Menyesap aroma mawar yang begitu sensual untuk wanita seksi yang ramah dan baik hati itu. Lisha pun tidak menolak kecupan-kecupan sementara yang mampir di lehernya oleh Hijikata. Tangan kokoh Hijikata menjelajah di setiap lekukan tubuh perempuan yang diam-diam sudah mencuri hatinya itu.

Yah, siapa yang tidak terpesona dengan Lisha?

Dia memiliki semua klasifikasi perempuan idaman yang diinginkan laki-laki.

Cantik, kaya, baik hati, jelas itu semua dambaan laki-laki manapun menginginkan perempuan seperti Lisha.

Tapi berbeda dengan Hijikata. Dia merasa ada kesamaan dirinya dengan Lisha. Hal itu benar-benar mirip. Sehingga Hijikata merasa Lisha adalah bagian dari dirinya yang lain.

"So why you didn't tell me faster?I also want to put dick inside your pussy, and make you scream my name."

"Because i need you to fuck someone else world."

Hijikata melepaskan pelukannya dari tubuh Lisha. "Someone else?"

Kini giliran tangan Lisha yang menjelajahi tubuh perkasa Hijikata yang begitu membuatnya lapar mata. Dada bidang Hijikata yang terpampang jelas di depan mata. Jari-jari lentiknya bermain di atas sana. Lisha pun mendongakkan kepalanya ke pria pekerja malam itu.

"I need you to fuck Sakata Gintoki's world... Hijikata-kun..."

.

.

To Be Countinued