Masashi Kishimoto-sensei


Revival

.

.

6

.

.


Wangi roti panggang tersebar ke seluruh penjuru ruangan, belum lagi sup jamur yang sebentar lagi matang, seorang wanita berambut biru dongker sedang hilir-mudik menyiapkan makanan yang sebentar lagi selesai. Sesekali, wanita berkulit putih susu itu bersenandung ringan, menikmati pagi nya dengan ditemani kicauan burung gereja yang melompat-lompat di tepian jendela-meminta serpihan roti lebih banyak.

Namun, sebuah suara benda terjatuh pun seketika menon-aktifkan mood baik putri dari peramal ternama Hyuga itu, dengan langkah cepat ia langsung menghampiri 'benda' yang mengakibatkan lantainya berdebum itu. Dengan menahan gemas, ia pun memukulkan sendok panjang yang sedang ia bawa ke atas kepala kuning yang ternyata penyebab kebisingan itu terjadi.

"NARUTOOO! Cepatlah banguun! Aku sudah membangunkan mu 9 kali sejak tadi pagi!" Hinata, istri dari Naruto Uzumaki itu berteriak nyaring. Untung saja mereka tinggal di tengah hutan-tak ada tetangga yang akan marah bila teriakan bak terompet peringatan gempa itu muncul tiba-tiba.

"Aku lelah sekaliiii sayaaangg" Naruto, yang malah meringkuk di atas lantai kayu itu berusaha membujuk istrinya dengan mengusap-usap kaki Hinata yang malah dibalas dengan sepakan dingin darinya.

"Bangun, atau aku akan membuang semua koleksi katak buncit mu itu ke sungai!" Hinata berkata sekali lagi, lebih menyentak. Membuat Naruto seketika bangun dan hampir terpeleset oleh selimut yang berserakan di lantai, jemari pria kuning itu pun spontan meraih lengan Hinata dan membawanya ikut terjatuh ke atas kasur.

"Kyaaaa!" Hinata berteriak, memejamkan matanya karena gerakan tiba-tiba yang mengagetkan itu. Saat dirasa ia sudah mendarat dengan aman, barulah mata berwarna bening itu mengerjap pelan. Senyum manis suaminya menjadi gambar pertama yang ia tangkap di indera penglihatan nya. Lalu seketika ia pun menyadari bahwa posisi dimana ia berada sangatlah 'berbahaya'.

"Hei, jangan pergi. Seperti ini saja dulu" Naruto menggenggam pinggang hinata dan mendorongnya lebih dekat dengan Naruto. Hinata menahan nafas, sudah lama ia dan Naruto berhadapan sedekat ini.

"Aku akhirnya pulang setelah 3 bulan perjalanan, Hinata. Apakah kau tak merindukan ku?" Naruto mengarahkan jemarinya kearah pelipis Hinata, lalu menyingkirkan anak rambut yang tak ikut terkuncir ke arah belakang telinga.

"Aku sangat merindukan mu.." Naruto menarik Hinata lebih dekat, sehingga ia bisa menghirup aroma wanitanya itu lebih dekat. Kini, Hinata pun tak melawan. Kalau boleh jujur, ia pun merasakan apa yang kini di ungkapkan Naruto. Ia sangat merindukan suaminya. Namun Hinata tak mahir berkata-kata, ia tak bisa menunjukan apa yang ia inginkan. Hinata selalu menunggu Naruto melakukan nya terlebih dahulu, baru setelah itu ia akan membalasnya dengan perasaan yang sebanding pula.

"Kau sangat manis, sayang" Naruto mengusap-usap punggung Hinata, membuat wanita bermarga Hyuga itu merinding seketika.

Namun, tiba-tiba Hinata bangkit, menoleh ke seluruh penjuru arah, lalu menatap Naruto dengan pandangan waspada.

"Ada apa?" Pria berambut kuning itu bertanya kebingunga.

"Aku mencium bau seseorang. Jaraknya sudah beberapa meter dari rumah kita. Sial, aku tak menyadarinya sejak tadi" Hinata pun bergegas menuju jendela rumah, mengambil serpihan kaca yang sering ia gunakan untuk mengamati 'tamu' di dekat rumah nya.

"Ada dua ekor kuda, tapi yang satu tak ada penunggang nya. Mungkin dikaitkan dengan kuda yang disebelahnya" Hinata bergumam. Naruto yang memutuskan untuk mengikuti istrinya itu mengangguk cepat.

"Siapa mereka?" Naruto bertanya.

Hinata pun melepaskan serpihan kaca itu dan menatap Naruto sambil mengerjapkan mata dengan cepat. Lalu ia bergegas ke arah pintu depan dan berlari menuju pekarangan. Naruto yang panik pun langsung mengikuti Hinata yang kini beridiri tak sabar di dekat pintu pagar.

"Siapa-"

"Sahabat bodoh mu, Sasuke. Dan satu lagi-gadis berambut merah muda-dia anak dari Tayuya" Hinata memotong perkataan Naruto sekaligus menjawab pertanyaan pria kuning itu. Naruto pun tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya lagi.

"Ada apa Sasuke menuju kemari? Dan juga..anak dari Tayuya? Maksud mu Sakura?" Naruto menggenggam kedua pundak Hinata dan mengguncangkan nya.

Hinata mengangguk pasti, lalu menatap ke arah pepohonan yang sebentar lagi menunjukan wujud dari kedua orang yang sedang mereka tunggu itu.

"Aku sudah merasakan nya dari kemari. Sebuah warna hitam dan merah muda saling berbaur, bunga mawar yang layu pun akhirnya mekar kembali, suara penderitaan perlahan lenyap, tergantikan oleh senyap nya malam, akan ada dua manusia yang saling berbaur, akan ada dua manusia yang akan terpisah, akan ada yang mati..."

Hinata membacakan visi yang hinggap beberapa hari lalu dalam mimpinya seperti orang kesetanan, lalu ia pun menatap Naruto yang kini membulatkan kedua matanya,

"Siapa yang akan mati..." Naruto tak bermaksud memberi pertanyaan, ia hanya bergumam lalu menggantungkan kalimatnya ketika ia melihat kedua kuda itu telah muncul dari balik pepohonan. Kini ia dapat melihat dengan jelas wajah sahabatnya itu, yang aneh disini adalah, wajah Sasuke tidak datar seperti biasanya. Wajah itu penuh kekhawatiran dan tergesa-tak pernah Naruto melihat Sasuke berwajah cemas seperti itu.

"Hinata, cepat siapkan ruangan medis. Sepertinya Sakura terluka" Hinata yang telah melihat wujud Sakura yang berada dalam rangkulan Sasuke itu pun mengangguk dan segera masuk kedalam rumah, menyiapkan ruangan medis yang selalu ia gunakan ketika mengobati Naruto setelah peperangan usai.

Naruto yang memiliki sihir angin pun segera mengembuskan sihirnya ke arah Sasuke dan Sakura berada, lalu perlahan mereka pun terombang-ambing terbawa angin yang Naruto kirim agar mereka dapat sampai lebih cepat.

"Naruto, terima-"

"Nanti saja terimakasih nya, bodoh. Cepat taruh Sakura di atas berth, Hinata sudah di ruang medis saat ini." Naruto pun segera memotong perkataan Sasuke dan memanggil berth terapung ke hadapan mereka. Pria berambut raven itu pun dengan sigap namun tetap hati-hati membaringkan Sakura ke atas berth yang seketik terbang menuju ruang medis.

Sasuke yang hendak menyusul pun tiba-tiba dihentikan oleh Naruto, pria kuning itu menatap sahabat karibnya dengan tatapan serius.

"Kau harus menjelaskan ini semua."

Sasuke yang telah mengerti arti dari tatapan itu pun mengalah dan mengikuti Naruto. Tatapan jenaka dan bodoh pria kuning itu suatu saat bisa menjadi sangat serius dan menyeramkan. Hanya ada beberapa kesempatan Sasuke dapat melihatnya-di medan pertempuran atau saat sesuatu yang sangat serius datang menghampiri mereka.

Naruto memilih sebuah pohon tumbang di pinggir hutan sebagai tempat 'ngobrol' mereka berdua. Sasuke pun melihat ke arah sekitar, pilihan tempat Naruto sangat bagus. Di tempat ini, tidak ada siapapun yang bisa mendengar percakapn mereka-karena masih dikelilingi oleh mantra pelindung milik Naruto dan Hinata, namun bila sesuatu terjadi di dalam rumah, mereka bisa langsung menuju tempat tersebut, dikarenakan jalan yang mudah ditempuh dari sini.

"Jadi.. apa yang sedang kau lakukan bersama puteri dari Tayuya dan Gaara itu?" Naruto memulai pembicaraan-sangat 'Naruto sekali' karena langsung ke inti pembicaraan, tak ingin basa-basi lagi.

Sasuke menarik nafas dan menghembuskan nya dengan berat, ia pun duduk disamping Naruto dan menaruh kedua lengan nya diatas paha.

"Awalnya ini hanya tugas biasa. Melatih seorang gadis yang belum memiliki kekuatan. Namun perlahan-lahan situasinya pun menjadi semakin membingungkan.." Sasuke menaruh sedikit jeda, lalu melanjutkan nya kembali setelah melakukan tarikan nafas bak orang menerawang.

"Pertama, Sakura dapat menetralisir kekuatan api ku. Kedua, alam seperti selalu berpihak dengan nya..."

"Apa maksud mu?" Naruto memutuskan untuk langsung memberi pertanyaan langsung ketika jeda itu.

"Ia seperti... kau tau, bahkan bunga-bunga yang sudah layu pun hidup disekitarnya. Hanya disekitarnya. Lalu para binatang pula, Sakura seperti sedang menggunakan kekuatan khusus untuk memanggil dan mengakrabkan diri sengan mereka. Padahal bakatnya saja belum diketahui."

"Dan yang paling mencengangkan adalah, kekuatan Sakura dan kekuatan ku dapat bergabung."

"APA?!" Naruto hampir berteriak saat mendengar perkataan Sasuke.

Pria berambut raven itu memilih untuk tidak melihat kearah Naruto. Pria kuning yang telah mengendalikan dirinya pun segera memberikan argumen nya.

"Kau pasti tau kan hanya ada 2 hal yang memungkinkan bila kekuatan kalian itu dapat bersatu?" Naruto melirik kearah Sasuke, hanya untuk melihat Sahabatnya itu menganggukan kepala.

"Pertama, kalian memang sudah ditakdirkan dari awal untuk saling mencintai atau kedua, kalian memang sudah ditakdirkan untuk saling mematikan"

Sasuke mengusap wajahnya frustasi. "Maka dari itu aku kemari. Aku ingin ka dan Hinata membantu kami berdua. Awalnya ku pikir hanya Sakura yang memiliki masalah. Namun ternyata, aku pun ikut terlibat di dalamnya."

Naruto mengangguk, lalu menepuk punggung Sasuke beberapa kali, berusaha menenangkan.

"Tenang saja, kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama."

Sasuke memberikan senyuman getir sebagai jawaban untuk Naruto.

"Tapi, ada masalah terbesar kini..."

Naruto menoleh kearah Sasuke lagi, wajahnya yang tenang seketika berubah menjadi horror kembali.

"Apa itu?" Tanya Naruto dengan nada penuh kehati-hatian.

Sasuke memalingkan wajahnya tepat kearah Naruto berada, senyum miring khasnya tak bisa disembunyikan kembali,

"Aku telah jatuh cinta padanya."

"..."

"eh?"

"APAA?!"

"KAU GILA YA?" Naruto kini benar-benar berteriak, disertai bogem mentah yang reflek mengenai pipi kanan Sasuke.

"Sakit, bodoh!" Sasuke meringis, namun tak marah sedikit pun saat mengusap pipi kanan nya yang pasti sebentar lagi akan berganti warna.

"KAU!" Naruto menunjuk Sasuke dengan bringas, lalu perlahan mengatur nafasnya dan mencoba untuk tetap tenang. Sasuke yang melihat aura serius Naruto pun ikut terdiam, terbawa suasana hutan yang sunyi dan mata biru Naruto yang menghakimi.

"HAHAHAHAHA"

Tiba-tiba saja Naruto tergelak, memukul-mukul pundak Sasuke dengan keras.

"Sangat Sasuke sekali! Selalu melibatkan diri di kondisi membingungkan, selalu berani mengambil resiko" Naruto masih tergelak, mengabaikan ringisan Sasuke yang kesakitan dipukul beberapa kali dengan tangan kuat Naruto.

"Bagaimana dengannya? Apakah dia sudah tau? Atau Gaara? Pria rambut merah itu cukup menyeramkan, apakah dia setuju?"

Sasuke menyingkirkan lengan Naruto yang bersandar pada bahunya, "Sudah semua. Sakura maupun Gaara. Mereka sudah mengetahuinya."

Naruto tak kuasa menahan dagu nya agar tak jatuh begitu saja. "Serius?" Tanyanya meyakinkan.

"Cintamu berbalas?" Lanjut Naruto lagi.

Sasuke mengagguk sekali, lalu berpaling berlawanan arah dengan posisi Naruto sekarang. Terlalu memalukan mengakui hubungan percintaan nya dengan sahabat sendiri.

"Kau harus-"

Perkataan Naruto terputus ketika mendapat sebuah bisikan yang berasal dari Hinata.

"Sakura sudah sadarkan diri." Ujar Naruto, membuat Sasuke segera menoleh lalu pergi dengan tergesa-gesa begitu saja.

Naruto menggelengkan kepalanya lalu terkekeh ringan, "Dasar kasmaran"


.

.

.

See ya next chapter..


Heloo! Ini Nala~

Maafkan keterlambatan dan kehiatusan yang sangat sangat sangat hiatus ini*gomeeennnn*

Banyak alasan yang pengen nya aku sebutin satu-satu, tapi gajadi deh soalnya nanti dibilang banyak alesan lagi aku nya *pretendsobbing*

Pokonya... mudah-mudahan aku bisa apdet cerita lagi kaya dulu-dulu~

Daannnn makasih bangettt buat yang udah sempetin review, baca dan love tulisan akyuu, maafin aku gabisa bales review kalian semua karena sesekali doang bisa nemu wifi-soalnya pake kuota data udah gabisa buka - hiks hiks kenapa di ban yaa *weeping*

.

.

.

Pokonya makasih lagii yang udah appreciate tulisan ku ini~

Untuk sekarang, aku udah bisa bales-balesin review kalian kokk karena sekarang akyu sudah stay tune~

.

.

.

Babayyy

See ya next chapter!

Love yaaa~

-NalaKenny-