Lotto
Rated M
HijiGin
WARN : AU, YAOI, I DON'T GIVE A ..!..
AN : Mohon jangan sungkan-sungkan untuk mengoreksi kata-kata yang salah, karena di sini saya juga masih belajar :D
HYAAAAA! AKHIRNYA BISA KEMBALI MELANJUTKAN HASRAT TERPENDAM SETELAH VAKUM UNTUK MENG-CLEANERKAN PIKIRAN, JIWA, DAN RAGA! Mohon maaf sekali karena kemarin-kemarin benar-benar takada NAFSU untuk menulis, dan karena satu dan lain hal.
But I'M BACK, BITCHES!
REPLY :
Hellonee-san : Hahaha makasih sarannya. Maaf, saya lebih suka update di fanfict :3
Scalytta : Huhu plis koreksikan misal ada yang salah, jadi diriku bisa memperbaikinyaa TTwTT
livanna shin : Yeey sudah ketemu di chapter ini :D
Guest : Maaf harus bersabar (sekali), mulai dari bulan September sampe sekarang bau di update XD
ana : Yes please!
Thanks buat yang sudah sempat mbaca dan ngereply 3
Special thanks for my beloved sister Gitalara F.S!
.
Tuhan, aku memenangkan tiket lotre kehidupan, tapi aku tidak menginginkan hadiahnya.
Apa yang harus aku lakukan?
.
.
Suara dering ponsel memecah konsentrasi pria perak yang sedang memperhatikan kata-kata yang berbaris di kertas putih di atas mejanya. Melirik ke arah ponsel yang barusan saja berbunyi. Sebenarnya dia malas untuk mengangkat panggilan masuk yang entah dari siapa itu. Tapi dia mengabaikan rasa malas itu. Mungkin saja seseorang yang penting seperti staff yang sedang dia tugaskan di Okinawa sekarang.
Saat mengambil ponsel yang berada di sisi mejanya, dia melihat nama Lisha yang tertera di layar.
Ya, dia harus mengangkat telfon itu.
/"Good afternoon, Sakata-sama! How are you today?"/ Sapa Lisha ceria saat panggilan telfon miliknya diangkat oleh Gintoki.
Pria yang mengenakan kaca mata baca itu menghela nafas. "You just made my day worse than before, bitch."
/"Is that your way to thank me after i've helped you, huh?"/ Perempuan pirang yang merupakan sahabat karib Gintoki sedang protes di ujung sana.
"You just slept all day and didn't gave me report or something, and i should say thanks to you? Say to my ass." Tukas Gintoki setelah mendecih dengan apa yang barusan Lisha katakan.
Lisha bangkit dari ranjang king size-nya berjalan menuju kaca kamar hotel yang sudah dia tempati selama seminggu belakangan. /"Calm your tits down, Gintoki. I found right person for your partner in crime."/
Pupil merah delima itu mendelik. Pemilik nama besar Sakata itu tidak mengatakan apapun lagi. Dia lalu menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi dengan santai. Dia merasa bisa rileks untuk sejenak. Dia pejamkan kelopak mata yang sedari tadi lelah karena harus bekerja untuk memenuhi nafsu duniawi si ayah.
"I will give my thank to your bank account later," lanjut Gintoki kepada Lisha dengan suara yang lembut.
.
.
Malam harinya, Gintoki memutuskan untuk tidak kembali ke Kediaman Sakata. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan Kepala Keluarga Sakata yang termahsyur itu. Cukup melelahkan hari yang dihadapinya bertemu dengan klien-klien yang membutuhkan kerja sama kontrak untuk membangun perusahaan-perusahaan kecil mereka. Sebenarnya tanpa bantuan dari perusahaan-perusahaan kecil seperti itu, Sakata Corp. bisa berdiri dengan gagah di antara ribuan perusahaan yang berdiri di Jepang sana.
Namun Gintoki sadar betul tentang sesuatu. Dia tidak bisa mengabaikan sesuatu yang kecil namun berpotensi menjadi kekuatan yang besar di masa depan. Setidaknya, jika perusahaan skala kecil itu bisa menjadi sekutu di bawah naungannya, kelak ke depan dia berharap akan mendapat timbal balik yang setimpal dengan apa yang dia berikan.
Walaupun jika suatu saat mereka berkhianat nanti, melenyapkan mereka adalah hal yang mudah bagi Gintoki. Karena laki-laki bersurai perak itu mempunyai berbagai macam cara untuk menghukum siapapun yang berani berkhianat padanya.
Sekecil apapun sebuah kerikil, itu merupakan salah satu bagian penting untuk membagun jalan ke masa depannya yang kokoh.
Langkah kaki Gintoki menuju dengan pasti ke kamar bernomor 403 di Hotel Suite Crown. Sepasti dirinya menemukan sesuatu alat yang bisa dia manfaatkan untuk meninggalkan masa depannya yang terkurung di sangkar emas Sakata.
Tidak perlu mengatakan permisi, Gintoki membuka kode kunci pintu masuk ruangan yang ditinggali sahabat wanitanya yang sudah tinggal di sana kurang lebih seminggu.
Gintoki lalu mendorong pintu kamar hotel. "I'm coming, Lisha."
Menyapu ke seluruh sudut ruangan, tidak ada tampak wanita berdarah Jerman itu di ruangan tengah. Si kepala perak itu berpikir mungkin Lisha masih berada di pub dan diskotik bagian lantai bawah hotel. Dengan cueknya, Gintoki melemparkan jas black jet-nya ke kursi tamu. Lalu dia membuka kemeja yang seharian ini dia kenakan. Nampak otot-otot khas laki-laki yang terpampang dengan indahnya membungkus tulang belulang pria yang saat ini menginjak umur dua puluh tujuh itu. Menanggalkan kemejanya, Gintoki juga menanggalkan celana kerja yang dia pakai. Hanya menyisakan boxer hitam yang dia kenakan.
Dia ingin segera beristirahat. Walaupun kemungkinan Lisha akan mengganggu tidurnya karena dia butuh jatah dari Gintoki.
Tapi persetan. Mungkin saja Lisha sudah semingguan ini tidak memberi kabar karena sibuk main dengan gigolo-gigolo yang menjajakan diri di tempat hiburan malam yang disediakan oleh Hotel Suite Crown.
Tubuh itu sengaja dilemparkannya dengan santai ke ranjang. Sudah lama dia tidak merasakan rasa nyaman tidur sebebas ini di dunianya.
Baru akan memejamkan mata, terdengar ada suara pintu terbuka. Dia malas menyambut siapa yang datang ke kamar Lisha. Paling juga itu Lisha sendiri. Tidak mungkin ada orang lain selain Lisha atau dirinya yang tahu kode kunci pintu kamar yang disewa oleh Gintoki.
"Gintoki?" Terlihat banyak tas belanja di tangan Lisha. Tentunya tas belanja yang saat ini berada di tangannya bukan keluar dari toko dengan selera fashion yang rendah.
Gintoki menyahut malas, "What?"
Lisha menaruh segala apa yang dia beli di atas meja ruang tamu. "I didn't know if you came in here," dia melihat Gintoki tengkurap tanpa menoleh padanya. "Good timing. I need to explain to you about this person asap."
Kuping Gintoki berdenyut. "This person? Who?"
Walaupun malas-malasan, tapi akhirnya Gintoki duduk lagi di atas ranjang mendengarkan penjelasan Lisha. Mengenai orang yang akan diajak kerja sama olehnya.
Sebuah foto berada di tangan Gintoki saat ini. Foto dari Hijikata Toushiro. "This person that you reccomended for me?"
"Yes. He is qualifed. Just tell him the instruction. I believe he is good in act." Lisha mengeluarkan baju-bajunya dari almari yang berada di samping ranjang. "I'm sorry Gintoki. I should leave tomorrow morning because my darling now in bad condition."
Gintoki terkejut mendengar kabar mengenai putri Lisha. "Eh?! Seriously?! Why you didn't tell me sooner? I could find ticket for you and you didn't need to wait for tomorrow."
"My mom just called me few hours ago, and told me if my princess have been cold since yesterday. She thought it's just ordinary fever, but now her fever worse than before. I need to see her. " Lisha menarik koper yang dia simpan di bawah ranjang.
My darling,dan My Princess, adalah sebutan sayang perempuan yang sudah berkali-kali dikecewakan oleh lelaki brengsek itu kepada putri kandungnya. Lovely— nama anak Lisha dari hasil buah cintanya dari salah satu laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan mencampakkan dirinya begitu saja. Sampai saat ini tidak jelas kemana perginya laki-laki yang pernah dihajar oleh Gintoki karena pernah membuat Lisha menangis.
Ya jelas saja Gintoki naik pitam, bagaimana tidak? Lisha ditinggalkan begitu saja saat si laki-laki kurang ajar itu tahu kalau Lisha hamil karena perbuatannya. Lisha adalah sahabat sehidup semati bagi Gintoki, mungkin bisa dibilang mereka kembar namun lahir dari rahim dan ibu yang berbeda, tidak terima kalau sahabatnya dibuang begitu saja tanpa pertanggung jawaban yang jelas.
Akhirnya Lisha mengalah, dan membiarkan laki-laki itu pergi meninggalkannya. Padahal Gintoki tahu benar wanita dengan rambut pirang itu mencintai ayah Lovely dengan tulus. Tapi cinta yang besar dan kasih sayang yang tulus menjamin orang itu akan tetap setia mendampinginya.
Karena tidak bisa mengabaikan Lisha dan bayi yang dikandungnya, maka saat itu Gintoki yang bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan hidup Lovely. Setiap bulan si perak itu mengirimkan uang untuk putri Lisha yang kini sudah menginjak umur tiga tahun. Dia pun tidak pelit untuk membagi masa depan yang pasti untuk balita cantik itu.
Gintoki sudah menyiapkan dana puluhan juta dolar untuk masa depan Lovely. Dia ingin Lovely tumbuh sebagai anak pandai, cerdas, berpendidikan tinggi, dan bermartabat. Sehingga Lovely bisa mengangkat derajat ibunya yang sudah dibuang mentah-mentah oleh si ayah kurang ajar yang telah mengabaikannya bahkan sebelum dia lahir.
Sebenarnya Gintoki ingin lebih banyak berbicara lagi dengan Lisha mengenai laki-laki ini, tapi sebagai seorang kawan dia tidak bisa memaksa Lisha lebih lama tinggal karena putri semata wayangnya tengah sakit. Dia tidak ingin Lisha mengabaikan anak perempuan yang begitu dicintai olehnya.
Karena dia tahu, Lovely membutuhkan ibunya.
"Don't worry Gintoki, he is nice person. I already told him about our plans. I just told him the bigger picture, and he understands it. But it would be nice if you also talk to him and explain the details what your plan and expectation from him." Lisha tahu bahwa ada keraguan yang tergurat di wajah Gintoki saat dia selesai memasukkan semua pakaian-pakaiannya ke dalam koper.
Selesai itu dia lalu duduk di samping ranjang menemani Gintoki yang masih asik dengan pandangannya ke kertas foto.
Gintoki masih memperhatikan foto Hijikata. Iris ruby itu menerawang potret laki-laki yang mempunyai kharisma dari garis matanya yang lurus.
"Wish me luck, sister..."
Wanita bersurai pirang tadi bersandar di bahu Gintoki. "I'm always..."
.
.
Setelah mengantarkan Lisha kembali terbang ke Jerman, Koenigsegg Agera R Gintoki melaju di aspal jalan Tokyo dengan kecepatan sedang. Dia melirik ke jarum jam yang berputar di jam tangan miliknya. Waktu sudah sudah menunjukkan pukul 06.14 pagi. Belum terlalu siang untuk ukuran Gintoki sarapan pagi. Tadi dia tidak sempat sarapan karena harus mengantar sahabatnya ke bandara dulu. Padahal sebelumnya Lisha menolak untuk diantarkan Gintoki.
Namun seperti biasa, penyakit menyerupai siscon-nya sedikit kumat.
Karena belum ada pikiran untuk kembali ke rumahnya sendiri, Gintoki masih berpikir untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Sambil memikirkan apa dan di mana dia akan makan. Si otak dan perut yang sudah keroncongan ini sudah menentukan hasil kesepakatan. Mereka bersinkronisasi memilih kedai fast food untuk sarapan pagi Gintoki.
Sekali-sekali makan junk food untuk sarapan kan tidak apa-apa 'kan?
Kuda besi itu beralih ke jalan utama Tokyo untuk menemukan restoran cepat saji.
Tidak sampai sepuluh menit, sekarang Pangeran Sakata itu sudah menapakkan kakinya di depan kedai Mc Donald yang buka dua puluh empat jam. Hanya mengenakan pakaian sederhana seperti kaum pribumi membuatnya tidak terlalu kelihatan mencolok dari yang lain. Celana jeans biru dongker, blazer jeans hitam, dan kaus oblong putih. Saat dia berjalan-jalan di luar, dia melepaskan identitasnya sebagai penerus nama raksasa Sakata yang kekuatannya sepertiga dari keseluruhan kekuatan ekonomi negeri sakura tersebut.
Dia hanya Gintoki yang saat ini menikmati menit-menit kehidupan sederhana layaknya manusia biasa.
Berhalang kacamata minus setengah yang dipakai, Gintoki yang sedari tadi asik dengan ponselnya kini berada di antrian paling depan.
"Permisi Tuan, apa pesanan Anda?" Tanya seorang pelayan dengan ramah kepada Gintoki yang siap untuk dia terima pesanannya.
Mendengar pelayan itu menanyakan pesanannya, Gintoki mengangkat kepala untuk menjawab si pelayan. Tapi sepasang manik merah delima kepunyaanya mendadak sedikit melebar. Ada sesuatu yang membuat pria dengan rambut keperakan itu sedikit terkejut.
Bagaimana tidak terkejut?
Si pelayan MIRIP SEKALI dengan foto yang Lisha berikan semalam. Ya, pelayan yang berada di depannya serupa dengan Hijikata Toushiro.
"Tuan?" Panggil si pegawai restoran fast food. "Apa Anda baik-baik saja?"
Sadar dia sudah membatu beberapa detik saat melihat rupa pelayan yang menanyakan orderannya, lalu Gintoki menggeleng-gelengkan kepalanya. "A-ah ya! Maafkan aku, aku tidak berkonsentrasi tadi." Jawab dia sambil tertawa garing.
Pelayan itu tertawa maklum. Lalu dia mengulangi lagi pertanyaan yang sebelumnya kepada Gintoki. "Tidak apa-apa Tuan. Apa pesanan Anda?"
Setelah mendapatkan dan membayar pesanannya, Gintoki meninggalkan counter dan beralih ke meja makan yang sudah tersedia. Sepasang garnet abu-abu itu memperhatikan punggung Gintoki yang berbalut blazer jeans yang sudah menjauh dari padangannya.
"Jadi... itu Sakata Gintoki...?"
Gintoki duduk di meja yang agak jauh dari jangkauan pandangan pelayan yang kemungkinan itu adalah Hijikata Toushiro. Namun dia belum yakin benar, apakah itu adalah Hijikata yang Lisha temui, atau bukan. 'Kan tidak menutup kemungkinan pelayan tadi hanya mirip saja, dan bukan Hijikata yang akan dia temui nanti malam.
Tapi tidak bisa dipungkiri Gintoki cukup terlena melihat rupa oleh orang yang sekiranya mirip dengan Hijikata tadi. Tapi pria perak tadi langsung mendecih kesal.
Tidak, dia laki-laki yang normal.
.
.
Dengan ponsel di tangan, beberapa kali Gintoki mencoba menghubungi Lisha. Ini sudah lebih dari sepuluh dua belas jam semenjak kepergian wanita berkebangsaan Jerman itu pergi meninggalkannya. Gintoki menghela nafas. Dia tidak mengerti kenapa dia tidak tenang pasca ditinggalkan oleh Lisha. Mungkin dia bingung apa yang harus dia lakukan dengan rencana besarnya ini? Atau dia masih takut melakukan langkah awal untuk membuat perubahan besar dalam hidupnya?
Gintoki pun tidak pasti menjawab apa yang sedang dia gelisahkan. Ini sudah kesekian kalinya dia mondar-mandir di kamar yang selalu dia sewa saat berbagi ranjang dengan sahabatnya. Dan ini sudah kesekian kalinya dia menelfon Lisha dan juga tidak kunjung di jawab.
"Mungkin saja Lisha belum sampai..." Pria itu melemparkan ponselnya ke ranjang king size yang berlapiskan seprai putih.
Sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat Lisha di sisinya. Jika biasanya Lisha berada di sampingnya untuk mendengarkannya berbicara, namun kali ini dia harus sendirian menghadapi keresahan mengenai ide Lisha yang membuatnya tertarik untuk mencobanya.
Karena merasa tidak ada gunanya untuk berdiam diri, Gintoki memutuskan untuk mencari minuman di bawah. Mungkin saja ada sesuatu yang bisa membuatnya tenang sedikit.
Tidak sampai tiga menit, Gintoki turun ke lantai dasar untuk ke diskotik dan pub yang biasa dikunjungi oleh Lisha. Jujur saja, walaupun sering menginap di hotel ini, dia jarang sekali menunjukkan batang hidungnya di tempat hiburan malam itu. Alasannya? Gintoki tidak seberapa suka dengan keramaian. Tapi sepertinya hari ini sebuah pengecualian. Mungkin saja dengan keramaian dan musik yang keras dapat menetralisir rasa kebingungannya.
Laki-laki muda itu menjadi pusat perhatian wanita-wanita yang mencari kesenangan di dunia malam. Sosok jantan dengan tulang rahang yang tercetak sempurna itu kini memasuki salah satu tempat hiburan malam untuk kalangan menengah ke atas. Wanita mana yang tidak jatuh hatinya saat melihat laki-laki bersurai hitam pekat dengan gagah berjalan dengan kedua kakinya yang jenjang berbalut celana hitam pas. Berjalan bak model profesional melempar senyum ramah kepada siapapun, dan tak lupa sesekali dia tersenyum nakal kepada perempuan-perempuan yang sudah tertambat hatinya kepada pesona pada sosok itu.
Sungguh, wanita-wanita bergelimang harta yang memusatkan perhatian kepada rupa tampan dari Hijikata Toushiro harus rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmati servis yang lebih daripada diberi senyum singkat seperti barusan saat dia berlalu begitu saja. Karena tidak sedikit perempuan lain yang ingin sekedar bersandar manja di dada bidang dan kokoh yang kini terlihat dari balik kemeja marun yang dua kancing di atasnya tidak terpasang.
Namun hari ini dia tidak pergi ke sana untuk mencari nafkah. Hari ini dia ingin menemui Lisha. Wanita yang beberapa hari belakangan ini dekat dengannya. Pada hari sebelumnya Lisha ingin membahas lebih jauh mengenai pekerjaan yang ditawarkan olehnya tempo hari. Lisha juga sudah bercerita mengenai gambaran besar apa yang harus dia lakukan mengenai rencana itu. Namun tetap saja dia harus bertemu dengannya. Untuk menanyai detailnya tentunya.
Tapi sepertinya sepasang garnit abu-abu miliknya tidak menemukan sosok seksi berambut blonde sepunggung yang biasa duduk di kursi dekat bartender. Selama ini Lisha menjadikan tempat itu sebagai tempat favoritnya. Tempat di mana dia dahulu dihampiri oleh sahabat dari Gintoki itu.
Hijikata tidak menemukan sosok yang ingin dia temui. Tetapi netranya menangkap sosok yang sekiranya tidak asing. Seorang pria dengan rambut perak dengan kemeja biru navy yang duduk di pojok kanan depan meja bartender dengan segelas minuman di tangan kanannya. Hijikata tidak melakukan apapun saat melihat orang yang dia kenal bernama Gintoki oleh Lisha. Dia hanya mengambil jarak lima bangku dari samping Gintoki.
Sudah lewat lima menit, kepala Gintoki tertunduk-tunduk menahan pengaruh alkohol dari gelas keenam Chivas Regal. Kepalanya mulai terasa berat, pandangannya juga mulai kabur. Tapi dia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri. Agak jauh di sisi kiri Gintoki, selain menunggu kedatangan Lisha, dari jauh, pandangan Hijikata mengekor pada orang yang katanya adalah Pangeran Keluarga Sakata.
Akhirnya Gintoki ambruk di gelas ke delapan di atas meja. Dia sudah tidak bisa mentolerir alkohol yang masuk ke tubuhnya. Yah maklum saja, batas tolerir Gintoki ke alkohol sangatlah kecil. Dia tidak begitu tahan dengan minuman memabukkan. Bahkan untuk segelas champagne dia hanya meminum satu tegukan dan tidak lebih dari itu demi formalitas saja. Dia bukan peminum yang handal seperti Lisha.
Bartender yang melihat Gintoki pingsan di mejanya, lalu menghampiri Tuan Muda penerus perusahaan Sakata yang tidak sadarkan diri.
"Tuan, tuan," panggil si bartender.
Hijikata yang juga tahu kejadian itu langsung menghampiri Gintoki. "O-oy!"
"Sepertinya dia tidak sadar karena mabuk, Hijikata-kun," kata bartender perempuan yang tadi melayani Gintoki. "Apa yang harus kita lakukan?"
.
.
Sekarang Hijikata sudah berada di kamar suite, kamar dua kelas di bawah kamar VVIP. Gintoki tertidur nyenyak di atas ranjang. Pria bermarga Sakata itu kini jauh di bawah alam sadarnya. Sampai-sampai dibopong oleh Hijikata pun dia tidak sadarkan diri. Beruntung ada petugas security kenalan yang membantu Hijikata untuk membawa Gintoki ke kamar yang langsung dia booking saat itu juga.
"Kau yakin mau tinggal di sini Toshi?" tanya pria berambut jabrik mengenakan pakaian security.
Melirik ke arah Gintoki yang masih tidur, Hijikata menghela nafas. "Aku akan menemaninya sebentar, Kondou-san. Dia sahabatnya temanku. Aku akan menghubungi temanku untuk menjemputnya."
Security berkulit tan itu mengangguk. "Baiklah. Aku tinggal ya? Kalau ada butuh sesuatu kau bisa minta bantuanku." Pria itu menyengir sambil mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih, Kondou-san."
Security dengan name tag Kondou Isao itu meninggalkan Hijikata berdua saja dengan Gintoki. Sudah berlalu Kondou dari depan pintu kamarnya, dia lalu menyusul Gintoki yang tidur dalam keadaan tengkurap dengan pakaian lengkap. Pria muda itu duduk dipinggiran kasur di mana Gintoki sedang berbaring. Memikirkan apa yang harus dia lakukan pada sahabat Lisha ini.
Hijikata lau merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Ingin memberi kabar kepada Lisha kalau Gintoki dalam keadaan mabuk berat dan dia ingin Lisha menengoknya.
Disaat yang bersamaan, ada panggilan masuk dari nomor Lisha.
Kebetulan!
Hijikata langsung mengangkat telfon dari wanita itu. "Hello, Hijikata here."
/"Ah! Hijikata-kun! Sorry i late to tell you that i'm now in Germany!"/
Alis hitam Hijikata terangkat bersamaan. Dia tidak menyangka kalau orang yang sedari tadi dia tunggu-tunggu sudah kembali ke Jerman tanpa memberi tahu apapun padanya. "How could you—"
/"My daughter now in hospital. So i should leave Japan quickly. I can't leave her alone."/
Mendengar itu, Hijikata menjadi prihatin dan juga maklum. "I see. That's fine. I wish your daughter will get better soon. "
/"Thank you sweet heart. Did Gintoki contact you?"/
Sadar dengan siapa yang ada di sisinya, Hijikata menoleh lagi ke wajah polos pria yang katanya lima tahun lebih tua darinya itu. "Uhm... thats..." Hijikata tidak tahu harus menjawab apa ke Lisha. Walau di balik foto Hijikata ada nomor si empunya foto, tapi kenyataanya Gintoki belum ada menghubunginya.
Tidak disadari oleh si pemakai kemeja biru navy kini, tubuh itu berubah posisi menjadi meringkuk. "No, he still not call me yet."
/"That bastard..."/
Tangan kanan Hijikata yang awalnya berada di pinggiran ranjang tiba-tiba terasa hangat oleh sesuatu. Dia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Pangeran Sakata yang ada di sisinya?
"Okaa-san..."
Bisik Gintoki dalam tidur sambil mengalirkan air mata. Terkejut dengan mengigaunyaGintoki, Hijikata kembali beralih ke telfon Lisha. "Don't worry. Perhaps he will call me soon or later. He is businessman right? He maybe busy with his works."
Beberapa menit kemudian Lisha menyudahi telfonnya dengan Hijikata. Dia bilang akan menelfon Gintoki nanti agar bisa bertemu dengan Hijikata. Dari jarak yang jauh Hijikata hanya mengiya-iyakan perkataan Lisha. Dia tidak ingin berbohong mengenai masalah Gintoki sudah menelfonnya atau belum.
Dia ingin pekerjaan itu adil dan profesional. Dia tidak akan mengklaim bahwa saat ini Gintoki membutuhkannya, karena dia belum bertemu dan berbicara dengan Pangeran Sakata itu secara empat mata. Sudah bertemu dua kali, yaitu saat tadi dia bekerja paruh waktu di restoran, dan klub tadi. Itupun dia tidak yakin Gintoki menyadari kehadirannya karena dia sudah mabuk berat dan sampai saat ini tidak sadarkan diri.
Tangan berbalut kemeja marun itu lalu dijadikan guling tidur untuk Gintoki. Tidak tahu bermimpi apa dia, sampai tidak menyadari bahwa tangan itu adalah tangan orang lain yang dia pakai. Dia terlihat begitu tenang, nyaman, dan polos sama seperti bayi.
Hijikata tidak ingin mengganggu mimpi indah orang yang akan memperkerjakannya. Dia ingat tadi pria yang beriris merah delima ini memanggil seseorang. Mungkin saja di dalam mimpi, Gintoki bertemu dengan seseorang yang sudah melahirkannya. Pasti dia merindukan sosok yang dipanggil okaa-san itu.
Telapak tangan lebar milik Hijikata saat ini berada di wajah laki-laki yang katanya Lisha saat ini sedang terkurung dalam sangkar emas. Indera perabanya merasakan betapa halus kulit putih susu ini. Rambut ikal berwarna keperakan yang tersentuh oleh jemarinya juga begitu lembut. Hampir serupa lembutnya seperti kain beludru yang licin.
Ada sesuatu yang menggerakkan alam bawah sadar pria yang usianya lebih muda itu. Jemari panjang yang biasa dia gunakan untuk membelai kaum hawa untuk mendapatkan harta mereka, sekarang digunakan untuk membelai wajah si pangeran tidur.
"Okaa-san..." panggilnya lagi. "Jangan tinggalkan aku..."
Hijikata lalu merunduk perlahan. Kini dengan segala yang ada kesadaran yang dia bawa ke kenyataan, dia mengecup kepala Gintoki dan berharap kecupan sekilas di surai perak itu mampu menghalau mimpi sedih yang dialami pria yang masih mengigau mengenai ibunya.
"..."
.
.
.
To Be Countinued
