Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Revival
.
.
7
.
.
Sakura mengerjapkan matanya perlahan-sedikit demi sedikit, untuk menetralisir cahaya yang masuk berebut kedalam kedua netra emerald nya. Seorang wanita berambut biru dongker berparas anggun menyapa penglihatan nya pertama kali. Banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan saat ini, tentang dimana gerangan ia berada atau menanyakan dimana pria berambut raven itu saat ini.
Namun pening dikepalanya tak dapat di tolelir lagi, ia pun meringis seketika saat merasakan denyutan asing dari pelipis kanan nya. Wanita cantik di sebelahnya pun segera membawakan segelas air putih dan akar-akar yang telah menjadi satu di dalam mangkuk kecil.
"Minumlah, setelah itu habiskan ini. Ini akan mengurangi pening dikepala mu. Efek obat bius memang seperti itu, tapi nampaknya para bandit itu menggunakan dedaunan yang lebih mematikan dari biasanya."
Sakura menerima gelas beserta mangkuk kecil tersebut, namun tak segera ia minum, gadis berambut merah muda itu tampak menatapnya dengan ragu-dan wanita berambut biru dongker itu pun segera menyadari hal tersebut. Lalu segera ia mendudukan dirinya sendiri di bangku dekat Sakura berbaring. Dengan ramah, ia mengulurkan salah satu telapak tangan nya ke arah Sakura.
"Aku Hinata Hyuga, Istri dari Naruto Uzumaki. Sekaligus sahabat dari Sasuke dan Tayuya, ibumu." Ujar Hinata seranya memperkenalkan diri.
Sakura nampak bergeming sebentar, lalu menyambut uluran tangan Hinata dengan hati-hati.
"Sasuke..?" Sakura bertanya dengan nada hampa, mungkin efek obat bius yang masih ada membuat Sakura belum sepenuhnya sadar.
Hinata pun segera bangkit dari tempat duduknya sekarang, "Oh ya! Aku akan memanggil mereka berdua dulu. Sekarang Naruto dan Sasuke sedang mengobrol. Sebentar lagi pasti mereka berdua akan sampai setelah ku kirimkan sinyal ini" Hinata lalu tampak membisikan sesuatu kepada kalung berlambang angin yang tergantung cantik di lehernya.
Sakura pun mengangguk meng-iyakan, lalu menatap obat-obatan yang masih berada di pangkuan nya itu.
"Boleh ku makan?" Tanya Sakura polos. Hinata yang sudah mengirimkan pesan pun mengangguk antusias, "Ya! Tentu saja, kau harus menghabiskan nya bila ingin 100% sadar dari efek obat bius itu"
Sakura pun mengangguk lemah dan perlahan menenggak tumbukan akar-akar tersebut sekaligus, disertai tegukan air putih yang membabi buta karena rasa pahit serta asam yang tak tertahankan dari paduan obat-obatan tersebut.
"Tak suka pahit?" Hinata bertanya pada Sakura yang sudah menghabiskan segelas air putih untuk meminum obat-obatan tersebut. Sakura hanya merespon dengan anggukan kepala, disertai kerucutan bibir yang membuatnya terlihat sangat imut. Hinata pun tak tahan untuk mengusap kepala Sakura dengan gemas.
"Aku akan menyiapkan makan siang untuk kita semua. Kau istirahatlah dulu disini, sebentar lagi juga Sasuke akan datang." Ujar Hinata dengan lembut.
"Oh ya, Popo dapat menemani mu selagi kau menunggu" Ujarnya sebelum membuka pintu dan menelusup keluar, menuju dapur.
Sakura pun meneliti sekitar, ruangan yang tak cukup luas untuk sebuah kamar namun tergolong sangat memadai untuk sebuah klinik tabib. Sakura pun dapat menafsirkan bila saat ini ia sedang berada di ruangan medis milik keluarga Hinata dan Naruto itu.
Pandangan Sakura pun tiba-tiba teralih pada sebuah objek bergoyang dari samping tempat tidurnya. Berwarna perak dan kehitaman, kedua benda yang Sakura dapat pastikan adalah sepasang telinga itu nampak memperhatikan Sakura dengan was-was.
Gadis bermbut merah muda itu pun nampak berhati-hati saat mengulurkan telapak tangan nya, hendak menyentuh mahluk tersebut.
Namun tiba-tiba saja, ia muncul dan melompat ke atas kasur Sakura. Membuat Sakura menjerit terkejut.
"K-kau.."
Sakura meringkuk, menjauh dari mahluk kecil sejenis lemur bercorak perak dan hitam.
"popo" Mahluk itu berbicara sedikit, membuat Sakura mengangkat kepalanya sedikit.
"popooo" Ujar mahluk itu sekali lagi, kini dengan menggoyangkan ekor nya yang bercabang menjadi 3 di ujung.
"Kau Popo?" Sakura bertanya dengan hati-hati.
"Popo!" Mahluk itu pun mengangguk girang, seperti mengerti perkataan Sakura, lalu ia melompat kegirangan dan berakhir diatas pangkuan Sakura.
"Popoo~" Popo-lemur perak berukuran kecil itu beringsut mendekat pada Sakura. Mencari ketengan yang dipancarkan oleh gadis berambut merah muda itu.
Sakura, yang perlahan kesadaran nya mulai muncul pun memutuskan untuk membenarkan posisi duduknya, agar Popo dapat tidur dengan nyaman di pangkuan nya.
Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari luar kamar, beberapa saat kemudian pintu pun dibanting dan tampaklah sosok Sasuke yang sedang terengah-engah di ambang pintu. Tak lama setelahnya, datang Hinata yang langsung menjitak kepala Sasuke kesal.
"Sudah kubilang dia tidak apa-apa kan?"
Sasuke mendengus, menyandarkan dirinya di daun pintu, "Teriakan nya sangat kencang tadi! Aku hampir mati karena nya"
Hinata tertawa mengejek, "Rasa khawatir bisa membuat mu pelupa ya? Dimana sensor ala Uchiha yang selalu kau banggakan itu? Jika kau menggunakan nya pasti sudah tau bila di sekitar Sakura tak ada hal yang membahayakan."
Sasuke memicingkan matanya ke arah Hinata, wanita yang dulu selalu berselisih dengan nya di bangku kelas itu mengerucutkan hidungnya dengan raut mengejek. Lalu Sasuke pun menengok Sakura yang tampak bergeming melihat obrolan penuh sikut ala Hinata dan Sasuke dari atas tempat tidur.
"Kenapa kau tidak membaringkan diri?" Tanya Sasuke sembari memasuki ruangan medis.
Sakura menggelengkan kepala, kedua bola matanya serta merta mengikuti kemana Sasuke berjalan, dari membuka tirai sampai sosok berambut raven itu duduk tepat di sampingnya-diatas tempat tidur.
"Masih pusing?" Tanya Sasuke dengan nada lembut. Membuat Hinata yang masih berdiri di ambang pintu mengerutkan hidung. Pasalnya, Sasuke terkenal sangat ketus dan tak peduli dengan apapun disekitarnya, namun gadis berambut merah muda itu terlihat sudah mengambil pride seorang Uchiha Sasuke dan menjadikan pria dingin itu agak lembut kali ini.
Hinata pun memilih untuk kembali menuju dapur untuk menyiapkan makanan, sekaligus menginterogasi suami kuningnya perihal kedekatan Sasuke dan Sakura.
Sakura berkedip beberapa kali sebelum merespon pertanyaan Sasuke, lalu menggelengkan kepalanya sambil menunduk dalam, kepala berbulu popo seketika menjadi lebih menarik dibandingkan yang lain.
"Sakura?" Sasuke memanggil namanya, kali ini dengan intonasi rendah dan-entah mengapa-terasa memberi efek setrum tertentu untuk Sakura.
"Ya?" Gadis itu menyahut, masih menunduk, tak ingin menatap mata kelam Sasuke yang seakan bisa menyedotnya lebih dalam lagi. Sasuke pun terdengar menghembuskan nafas lelah, lalu pria itu menyibak poni Sakura yang menutupi seluruh wajahnya, dan menyisipkan nya kebelakang telinga. Jari telunjuk Sasuke bergelirya ke tulang pipi,hingga dagu Sakura yang masih tertunduk. Dengan lembut, ia angkat dagu itu sehingga kini netra berbeda warna itu saling beradu. Yang satu menatap tegas, dan yang satu tampak mencari cara agar tak menatap bola mata sehitam jelaga tersebut.
"Tatap mataku, Sakura" Ujar Sasuke, di respon cepat oleh gelengan kepala Sakura yang kini malah memejamkan kedua matanya.
"Kenapa?" Tanya Sasuke lagi.
"Malu" Jawab Sakura polos, Sasuke mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.
"apa yang membuat mu malu?"
Sakura mengangkat kedua bahunya, "Tidak tau, aku hanya malu melihat langsung ke mata mu, entahlah"
Sasuke mendengus geli, "Buka mata mu, Sakura" pinta Sasuke dengan nada sedikit memerintah dan sebagian memohon.
Sakura pun perlahan membuka kedua matanya, ketika dirasa tangan Sasuke sudah berpindah tempat dari dagunya, dan kini telapak tangan nya berada di atas dahi Sakura.
Kedua bola mata emerald itu kini membulat terkejut, seketika jantung nya berpacu berkali-kali lipat saat disuguhkan oleh dua netra legam yang sangat dekat dengan wajahnya. Hanya dibatasi telapak tangan Sasuke yang menggantung diantara dahi mereka yang saling menempel padanya.
"Mata mu sangat cantik, jangan coba-coba menutupnya lagi. Kau pikir aku tak berdebar setengah mati ketika melihatnya?" Ujar Sasuke pelan-hampir berbisik. Sakura terdiam membisu, lalu ibu jari Sasuke perlahan menuju bibir plum Sakura yang terbuka sedikit.
Mengelusnya dengan lembut sampai Sakura merasa terbuai olehnya.
"Aku ingin sekali mencium mu sekarang." Ujar Sasuke dalam namun lembut, membuat Sakura merona seketika, kelopak matanya pun perlahan mengikuti alur permainan ibu jari Sasuke yang semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Tapi aku tak bisa.." pernyataan Sasuke lantas saja membuat kedua mata Sakura kini terbuka nyala kembali.
"Kenapa?" sahut Sakura, yang tanpa disadari dengan nada menuntut dan penuh pertanyaan.
Sasuke menyingkirkan ibu jarinya dari bibir bawah Sakura dan kini menangkup wajah gadis yang ia cintai itu dengan gemas.
"Kenapa? Kau ingin sekali ku cium, hm?" Ujar Sasuke dengan nada menggoda, membuat Sakura mengerucutkan bibirnya masam, tak ingin merespon apapun lagi.
"Sejak kejadian kemarin siang, aku ingin memastikan bahwa kita tak saling bersentuhan secara romantik terlebih dahulu. Karena, dari penelitian ku dan Naruto tentang kekuatan mu dan kekuatan ku yang terhubung itu terbilang langka. Oleh sebab itu sampai waktunya tiba, kurasa yang bisa kulakukan hanyalah ini-"
Sasuke pun mendekatkan bibirnya kearah dahi Sakura dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Sakura pun ikut memejamkan matanya-menikmati perasaan tulus Sasuke lewat kecupan di dahi itu.
"Sampai kapan?" Tanya Sakura setelah Sasuke usai mengecupnya. Pria bermarga Uchiha itu tersenyum masam, "Sampai kita tau apa penyebab dari semua ini. Dan pastinya, sampai kekuatan mu ditemukan."
Sakura menghela nafas panjang, "Itu akan membutuhkan waktu yang laaaamaaaa, sensei!" Rajuknya dengan kesal.
Sasuke terkekeh ringan, mengacak rambut Sakura dengan gemas lalu membawanya ke dalam dekapan.
Keesokan paginya, Sakura telah sembuh 100% dari efek obat bius, terlihat dari betapa semangat nya ia membantu Hinata sejak pagi buta, baik mencuci pakaian maupun menyiapkan sarapan untuk mereka ber empat. Sasuke yang baru bangun saat gadis berambut merah muda itu sedang memanggang pancake hanya tersenyum maklum dan memilih untuk langsung duduk di depan meja makan.
Sakura yang mengetahui aura Sasuke dari belakang nya segera membalikan badan dan berseru riang, "Selamat pagi Sasuke! Tidur mu nyenyak?" Sapanya sambil menaruh pancake yang telah matang di atas 4 buah piring. Sasuke mengagguk sambil tersenyum lembut, menggosok wajah ngantuknya sehingga kini terlihat lebih fresh.
"Dimana Hinata?" Tanya Sasuke setelah melihat dapur kini ditangai oleh sendirian oleh Sakura.
"Bibi Hinata sedang membangunkan Paman Naruto-mau kopi atau teh?" Jawab Sakura sekaligus menawarkan Sasuke dua buah teko berisi hal yang baru saja ia sebutkan.
Sasuke menatap Sakura dengan intens, "Aku ingin kau"
Sakura serta merta merona mendengar jawaban frontal Sasuke sepagi ini. "Kurasa kau lebih baik tak mendapatkan apapun" Ujar Sakura ketus-menyembunyikan efek berdebar akibat perkataan spontan Sasuke.
Pria berambut raven itu tergelak ringan, "Aku ingin kopi, Sakura. Berikan aku segelas" Sasuke menggenggam pergelangan tangan Sakura yang hendak pergi, lalu meraih teko berisi kopi dan menuangkan nya sendiri pada gelas di hadapan pria itu.
Sakura yang telah selesai menyiapkan sarapan pun ikut bergabung bersama Sasuke, menyeruput teh mawar buatan Hinata yang sangat nikmat. Sesekali mereka mendengar teraiakn Hinata yang sedari tadi belum berhasil membangunkan Naruto yang sudah kelewat parah tak ingin bangun.
"Si bodoh itu, bahkan bila rumah ini runtuh sekali pun ia tak akan bangun" Ketus Sasuke sambil mengaduk kopi hitam nya yang sudah mendingin sedikit. Sakura terkekeh menyahut gerutuan Sasuke yang kesal dengan kebiasaan buruk Naruto.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya Sakura sambil menambahkan beberapa kelopak bunga mawar keatas minuman nya.
"Kita akan berlatih bersama Hinata, mencoba mengeluarkan kekuatan mu itu. Dan juga, sekaligus kita lihat apa efeknya bila menggabungkan kedua kekuatan kita secara bersamaan." Jawab Sasuke tenang, sambil mengiris pancake yang telah dilumuri saus dark coklat.
"Secapat itukah? Tidak mulai dari awal saja?" Sakura berkerut ragu, takut hasilnya akan membahayakan mereka berdua.
"Kau ingin cepat aku cium kan? Maka dari itu kita langsung ke intinya saja" Jawab Sasuke-mencoba untuk menggoda Sakura. Gadis itu pun memukul bahu Sasuke main-main, merasa malu sendiri mendengarnya langsung dari mulut Sasuke.
"Dasar sensei mesum!" ledek Sakura sambil berlalu menuju kamar nya.
Siang harinya, mereka berempat memutuskan untuk pergi ke tempat latihan. Sebuah danau dan padang rumput yang tertutup oleh rimbun nya pepohonan, mereka menyebutnya prairie.
Perjalanan tak membutuhkan banyak waktu, hanya melewati beberapa anak sungai dan di pertengahan hari pun mereka sampai di tujuan. Hinata yang membawa perbekalan pun langsung menata nya diatas sebongkah kayu berbentuk persegi empat tepat di bawah pohon terbesar disana. Sakura masih berbinar menatap indahnya danau yang bergradasi dengan birunya langit dan juga cahaya matahari yang malu-malu mengintip dari balik rimbun nya pepohonan.
"Kalian sering kesini?" Tanya Sakura sambil menghampiri Hinata yang sedang mengeluarkan roti isi dari dalam keranjang.
Hinata mengagguk antusias, lalu menenggak ke arah cahaya matahari dari sela pepohonan, "Kami sering kemari sewaktu masih menjadi murid di sekolah mu itu. Kami ber tujuh selalu kemari.." Hinata tampak menerawang ke dalam kenangan masa lalunya yang indah.
"Ber tujuh? Siapa saja?" Tanya Sakura sembari membantu Hinata menyusun sayur-sayuran diatas nampan.
"Kami bertiga, Tayuya, Karin, Suigetsu dan Ino"
"Ino?" Sahut Sakura bingung, nama yang terdengar asing di telinga nya.
"Yamanaka Ino, dia adalah penyihir bunga dan juga ahli herborist diantara kami berlima." Jawab Hinata, namun dengan intonasi yang lebih pelan dari sebelumnya.
"Wanita dengan rambut pirang yang indah?" Tanya Sakura lagi, Hinata pun langsung menoleh ke arah Sakura dengan raut terkejut.
"Ya, bagaimana kau-"
"Aku pernah menyelinap ke kamar Momma, dan melihat foto kalian bertujuh di sebuah padang rumput yang indah, dan hanya satu orang yang asing menurutku saat itu, yaitu wanita berambut pirang." Sakura memotong pertanyaan Sakura, disambut anggukan mengerti dari Hinata yang kini telah selesai menata meja.
"Itu adalah foto terakhir sebelum Ino pergi bertugas ke kerajaan Utara.." Hinata tampak menurunkan intonasinya, seperti sedang menahan sesuatu yang ingin ia luapkan.
"Momma mu dan Ino sangat dekat dahulu, bahkan melebihi kedekatan kami ber tujuh-mungkin karena mereka berdua seumuran. Walaupun sampai sekarang ia belum kembali juga, namun ku yakin, Ino pasti akan sangat senang bila mengetahui sahabat dekatnya telah memiliki anak secantik dirimu, Sakura." Hinata tersenyum lembut, mengusap pipi Sakura dan langsung berdiri demi memanggil Sasuke dan Naruto yang sibuk memancing di pinggir danau.
Sakura pun menyentuh pipi yang baru saja di sentuh oleh Hinata, entah mengapa ada perasaan aneh saat telapak tangan Hinata menyentuhnya, seperti ada luapan kesedihan yang dapat Sakura rasakan, dan masih berbekas hingga sekarang. Sakura pun memegang dadanya ketika merasakan sesak yang membuat dirinya terbatuk beberapa kali.
"Sakura? Astaga, ada apa? Minum ini" Hinata yang lekas berbalik ketika mendengar batuk Sakura segera menyodorkan segelas air kepada Sakura. Gadis itu menenggak habis, sampai terengah saat ia telah selesai meminum nya.
"Ada apa dengan nya?" Tanya Naruto saat melihat Sakura seperti ikan yang baru saja ditangkap.
"Hanya tersedak" Jawab Sakura sebelum Hinata menyahut.
"Heyy, ikan nya sangat cantik!" Ujar Sakura hendak mengganti topik pembicaraan. Sasuke yang menggenggam cawan berisi ikan itu pun memberikan nya ke pangkuan Sakura. Lalu gadis berambut merah muda itu pun mulai menyapa dan mengobrol dengan ikan bermotif totol di dalam cawan, seolah ia bisa mengerti apa yang dibicarakan ikan itu.
Hinata yang menyaksikan nya hanya terkekeh, karena melihat kepolosan gadis remaja itu.
"Sakura, seperti mengerti saja bahasa ikan hahaha" Ungkap Hinata yang mengundang tawa Naruto dan Sasuke.
"Apakah ikan itu mengatakan ia ingin cepat-cepat di panggang, huh?" Naruto menyahut sambil memperagakan nya dengan konyol.
"Tidak paman, dia bilang ingin segera kembali ke danau dan berkumpul dengan keluarganya" Jawab Sakura polos, disambut gelak tawa dari mereka ber tiga.
"Ada-ada saja kau ini, seperti bisa mengerti apa yang ikan itu katakan saja" Sasuke pun mengacak rambut Sakura dengan gemas.
"Eh, apakah kalian tidak bisa mendengarnya?" perkataan Sakura yang diiringi raut wajah kebingungan yang kentara membuat ketiga orang dewasa itu berhenti tertawa seketika.
"Apa maksud mu?" Hinata bertanya penasaran.
"Apakah kalian tidak mendengar nya? Bahwa sedari tadi ikan ini menangis dan berkata ingin kembali ke danau. Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya" Ungkap Sakura.
Naruto dan Sasuke pun saling bertatapan, "Maksud mu, kau mengerti apa yang ia bicarakan?" Tanya Sasuke hati-hati. "Kau tidak bercanda kan?" Naruto mengiringi.
Sakura menggeleng kebingungan, "aku kira ini adalah bakat yang pasti dimiliki oleh semua penyihir, aku bisa mengerti mereka sejak kecil..."
Sontak saja jawaban Sakura membuat ketiga orang dewasa itu terkejut bukan main, pasalnya 'bakat' yang dikira Sakura dapat dimiliki oleh semua penyihir itu nyatanya bersifat amat langka. Hinata mengeluarkan sebongkah krystal biru sukuran kepalan tangan anak bayi dan memberikan nya kepada Sakura.
"Genggamlah krystal ini sambil memejamkan matamu, lalu beritahu kami apa yang kau rasakan." Hinata berbicara dengan nada cepat, dibantu oleh Naruto yang segera menyingkirkan benda-benda dari sekitar mereka dengan kekuatan angin nya. Sasuke pun mengambil cawan berisi ikan tadi dan mengembalikan nya ke dalam danau dengan sihir pemindahan nya.
Sakura pun mengangguk ragu, lalu digenggam nya krystal itu dengan kuat, sembari memejamkan mata sesuai perintah Hinata. Namun, selang beberapa menit, tak ada yang terjadi dan Sakura pun mulai membuka matanya. Lalu menggeleng seranya memberitahu bahwa ia tak merasakan apa pun.
Hinata mengagguk sambil mengulum bibirnya erat, "Berati ia tak memiliki sihir air. Saat Suigetsu belum menemukan bakatnya, dan kutemukan ia sedang mengobrol dengan sekumpulan hiu, saat ku suruh ia menggenggam krystal ini sontak saja air di sekitar nya mendadak terkoyak dan Suigetsu sendiri langsung menjerit dan melemparkan krystal ini." Ungkap Hinata menjelaskan.
Sasuke mengangguk mengerti, "Ya, krystal ini berasal dari pemurnian sihir laut dalam dan gelombang utara. Bisa dibilang, ini adalah sumber kekuatan sekaligus kelemahan para mengguna air"
"Namun, bila Sakura tak merasakan apapun saat ia menggenggam krystal ini, tapi ia masih bisa berbicara dengan hewan..." Naruto menggantung kalimatnya.
"Itu berati kekuatan yang termendam dalam diri Sakura lebih besar dari yang kita bayangkan" Hinata menyambung Naruto dengan mimik yang tak bisa digambarkan.
Lalu terasa jemari Sasuke menggenggam erat punggung tangan Sakura yang mulai gemetar ketakutan.
"Siapa aku sebenarnya?"
Sakura berbisik dalam hati.
-will be continued
Privet!
Ini Nala dan baru sajoo apdet~
Semoga suka :* kissu kissu
Maafkan kalo ada typo kurang ajar yang nyelip dibeberapa kata, dan juga ketidak jelasan yang semakin menjadi
HAHA
Oiya, kayanya bakal memakan waktu cukup lama buat apdet ke next chapter, cause aku akan mengikuti suatu kompetisi yang membutuhkan kerja otak dan mulut yang saling bersinkron *doakan semoga gak gugup plus grogi*
Dan di minggu berikutnya akan ada peperangan mahasiswa VS UTS *Huft* kalo ini sih doakan aja semoga aku survive!
Yoo itu ajaa
Makasih banget yang udah review cahpter kemarin!
Makasih juga yang udah follow plus love cerita ini! *LOVE YOU BACK*
Oiiyaa, aku mau sebutin ayang-ayang ku yang udah berbaik hati meluangkan waktu buat me- review Revival dari awalll sampe sekarang..
Walaupun kebanyakan like: Lanjutt thorr, nexttt chapp
Tapi gapapa, yowess, aku tetep cinta kalian gaiss *flyingKiss*
Babayy Sampai jumpa di next chapter yakk!
Thanks to:
Evy Bestari Putri, Emerald US, sarahachi, Annis874, sqchn, cinchan, Uchiha sara-chan, Cherry Nako-Ah, Shimmer Vanilla, VeiHime, Tata, noface, TaSasuSaku, Bunga Cherry, Ao-chan KAZURIN, dedhexsabaku, hayaaeeh, Kenma Plistsky, Thaliamahsa, Silhouette Sparkle, ikalutfi97, ErlevSS, , CEKBIOAURORAN, risnusaki, Enigmalios Lotus, d3rin, comet cherry, kuuderegirl3, taurus95, Dark Sakura, AmmaAyden, fujiwaraa, xxx, Dayneira Sakura, Miko1415, luhputusetia.p714, TheLimitedEdition, BlueCherry, LavChelte, Kiirach, uchimara, Winter, Avariel E, kiyoi-chan, akasuna mainy, Dewazz, DeShadyLady, Mika, avheril psychomonst49, Namikaze Suny, Park Ashel, Bieber's wife, Hime Luvchubby, mPhinX, dark blue and pink cherry, Asuka Kazumi, khoerun904, litaa-san, Nia334, AidakaZi.
