Dizclaimer: Masashi Kishimoto-sensei
Revival
.
.
8
.
.
Gelap.
Semuanya terasa gelap. Hanya ada kilau ilusi cahaya bekas lilin terakhir padam. Sakura mengerjapkan kedua bola matanya, berusaha mencari titik terang dari ruangan-yang entah dimana ini. Kedua kakinya terasa dingin menyentuh rerumputan yang basah-mungkin embun pagi yang membuatnya terasa menggigil hingga keujung jemari. Sakura pun meraba kedua lengan nya, ia temukan baju yang baru saja ia kenakan, tanpa tergores apapun.
Tiba-tiba, sebuah cahaya kecil dari ujung ruangan muncul, lalu merebak hanya dengan kecepatan beberapa detik. Membuat kornea Sakura harus terbiasa lagi dengan cahaya terang yang mendadak merubah segala macam persepsinya barusan. Ia tidak di dalam sebuah ruangan, melainkan padang rumput yang sangat luas-hampir tak berujung.
Di ujung pandangan, terlihat seorang wanita berambut hitam legam sedang menangis diatas sebuah keranjang yang menghasilkan tangisan seorang bayi. Tanpa Sakura sadari, dirinya telah melangkahkan kaki, mendekat kearah wanita berkulit pucat yang masih tersedu di atas keranjang bayi nya tersebut.
Lalu Sakura mendadak pucat, bibirnya kelu dan kedua kakinya reflek melangkah mundur saat pandangan nya bertemu dengan seorang pria yang terbujur kaku di samping keranjang dan dimana wanita itu menangis. Pria berambut putih itu mati mengenaskan. Sekujur tubuhnya tertusuk duri dari mawar yang entah mengapa bisa tumbuh melalui sela-sela kulitnya yang kini sudah pucat pasi. Darah lelaki tersebut terus mengalir dan saat Sakura melangkah mundur, baru ia sadari bila sedari tadi ia berjalan diatas darah lelaki tersebut. Bukan embun dari pagi yang hangat.
Lalu isakan keras pun terdengar lagi, kini berlomba dengan si bayi yang berambut serupa dengan jasad lelaki tersebut.
"Aku pembunuh... aku seorang pembunuh.." Isak perempuan berambut hitam itu dengan isakan yang mampu mengiris hati siapapun yang mendengarnya.
"Kutukan itu benar.. Kutukan itu-"Ia berhenti lalu mengambil bayi yang ada di dalam keranjang menuju dekapan nya. Lalu gaun wanita itu-yang telah basah oleh darah-mengenai si bayi yang tiba-tiba saja berhenti menangis.
Sakura mengerenyitkan dahinya, ketika perlahan warna rambut bayi tersebut berubah. Seperti kertas putih yang diberi warna, darah yang ada di gaun perempuan itu merembes ke arah rambut putih si bayi dan menghasilkan warna baru yang indah; merah muda.
"Maafkan aku, maafkan aku.. semua salahku kalian harus merasakan ini semua." Wanita itu lagi-lagi menangis serak. Lalu tiba-tiba langit berubah menjadi abu-abu, dan tak lama kemudian serbuan hujan membasahi mereka semua.
Darah lelaki tersebut hilang begitu saja, terbawa hujan yang mengalir menuruni lembah. Sang wanita pun menaruh bayi nya kembali ke keranjang, dan mulai terdengar sebuah nyanyian lembut. Mengalun indah dari bibir sang wanita.
Perlahan, kerumunan kelopak bunga menari indah di atas keranjang tersebut, menemani bayi cantik yang kini berambut merah muda tidur dengan pulas. Sang wanita pun mendekat dan mengecup dahi bayi itu dengan lembut.
"Selamat tidur, dan selamat Tinggal, putriku."
"Ra"
"Ra!"
"SAKURA!"
Pandangan seketika menjadi kabur dan remang-remang terlihat wajah Sasuke, Hinata dan Naruto yang mengerut khawatir. Sakura mengusap wajahnya dengan keras, lalu bangkit dengan dibantu Hinata.
"Apa yang terjadi?" Sakura bertanya linglung setelah Naruto memberinya air untuk diminum.
"Ada sebuah angin besar dari timur, dan kau tiba-tiba saja pingsan ketika angin itu melewati kita." Hinata menjawab dengan raut wajah khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Aku.. bermimpi aneh" Sakura mengerutkan dahinya, mencoba mengingat kejadian apa yang telah ia alami ketika tak sadarkan diri tadi.
"Biar ku lihat" Hinata mendekap wajah Sakura dengan kedua telapak tangan nya, lalu mata bening miliknya tiba-tiba saja berseri saat bertemu pandang dengan bola mata emerald milik Sakura.
Naruto bersiap dibelakang Hinata untuk menahan tubuh Hinata yang semakin melemas karena energi yang ia keluarkan untuk memasuki mimpi seseorang. Selang beberapa menit kemudian, Hinata melepaskan kedua tangan nya dan mulai terbatuk hebat. Pandangan nya kabur dan mencengkram lengan Naruto yang sigap menahan Hinata yang kini mulai berusaha mengontrol nafas nya.
Setelah beberapa tarikan nafas berat yang membutuhkan panduan dari Naruto, Hinata pun menoleh dan menatap tanpa arti kepada Sakura.
"Apa yang kau lihat?" tanya Sasuke.
Hinata memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab pertanyaan Sasuke, "Ini bukan sekedar mimpi. Bila 'hanya' mimpi, aku akan baik-baik saja-paling haya perlu mengontrol beberapa tarikan nafas setelahnya. Tapi.."
Perkataan Hinata tergantung,
"Yang jelas ini bukan lah mimpi. Tapi sebuah vision dari masa lalu Sakura yang entah mengapa begitu familier. Ini bisa kita jadikan batu loncatan untuk mempelajari siapa Sakura yang sebenarnya"
Sasuke dan Naruto mengangguk pasti, begitu pun dengan Sakura yang masih terasa hampa ketika mimpinya baru saja dimasuki oleh Hinata.
"Dan lagi, ada sosok yang sesuai prediksi mu di mimpi Sakura, Sasuke" Hinata menatap Sasuke yang mengerutkan dahinya penasaran.
"Aku melihat dewi Kurenai disana"
Langsung saja kega orang yang mendengar hal tersebut tercengang.
"Ini seperti ingatan dewi Kurenai yang tersampaikan ke dalam mimpi Sakura. Angin tersebut seperti membawa visi ini masuk kedalam nya." Jelas Hinata.
"Maksud mu seperti pengantar pesan?" Sasuke bertanya meminta penjelasan.
Hinata mengangguk ragu, "Ya, tapi metode ini jelas berbed dan jauh diatas kemampuan kita-dan bahkan aku yakin tuan Jiraya sekalipun tak dapat melakukan hal tersebut."
Naruto menggaruk leher nya yang tak gatal, sambil mengedus remeh, "Ya, lagipula siapa yang dapat mengirimkan pesan lewat angin super besar seperti tadi?"
"Hanya ada satu jawaban nya." Hinata menatap kedua teman masa kecilnya itu dengan yakin. Lalu mereka berdua pun mengangguk meng-iyakan.
"Dewi Kurenai sendiri lah yang mengirimkan pesan itu kepada Sakura." Sasuke menjawab rasa penasaran yang terpampang jelas di raut wajah Sakura.
"A-apa? Ku kira ia telah-"
"Mati?" Sambung Naruto, di balas dengan anggukan dari Sakura.
"Dewi yang memiliki kekuatan hebat seperti dia tak mungkin mati begitu saja karena peperangan konyol itu." Naruto menjawab sambil kembali duduk disamping Hinata.
"Buku sejarah yang kalian pelajari di sekolah memang mengatakan ia telah mati, dan digantikan oleh dewi baru tanpa nama yang bahkan-para tetinggi pun tak tau siapa dia" Sasuke melanjutkan perkataan Naruto.
"Yaaa, yang penting dewi baru tersebut telah menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Musim semi tahun-tahun ini sangat menyenangkan" Naruto menimpali.
"Namun, yang harus kau tau, Sakura. Dewi Kurenai masih hidup-bahkan sampai sekarang." Sahut Hinata sambil menggenggam punggung tangan Sakura.
"Tapi, batu peringatan itu tak mungkin salah bukan? Batu peringatan akan berubah warna menjadi hijau bila orang yang ditulis namanya disitu telah mati." Sakura terlihat belum yakin dengan informasi yang baru saja di dapatkan nya.
"Ya, memang Kurenai sudah tidak berada di dunia ini lagi, untuk itu batu nya berwarna hijau." Naruto mengiyakan dengan decakan halus yang disengaja, ketika Sasuke langsung memperjelas ucapan nya yang rancu.
"Itu artinya, Dewi Kurenai berada di dunia 'lain'" Ujar Sasuke.
"Dunia... lain?" Sakura semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka kali ini.
"Maksudnya adalah dimensi lain, Sakura. Kau pernah memperlajari bukan kalau ada beberapa jenis penyihir yang dapa membuka gerbang ke dimensi lain?" Tanya Hinata.
Sakura mengangguk dan tatapan nya langsung terarah kepada Sasuke, "Salah satunya klan Uchiha kan?"
"Ya, itu benar. Oleh sebab itu, kali ini kita akan mencari jawaban nya 'langsung' kepada si pemilik kekuatan itu." Ujar Hinata, tak dapat menyembunyikan rasa antusias dalam kalimatnya.
"Sasuke, ayo kita menyebrang" Hinata bangkit dari tempat duduk nya sambil menggenggam pergelangan tangan Sakura dengan erat.
Saat itu pula lah, tiba-tiba saja udara semakin memanas dan percikan api muncul dari pusaran angin yang bergumul diatas mereka. Percikan api itu kian menyambar satu sama lain dan bergulung menjadi api besar yang siap 'melahap' mereka ber empat.
"Kau siap Sakura?" Hinata bertanya antusias saat pusaran api itu kian mendekat kearah kepala mereka.
"Peluk saja aku bila kau takut." Di sela perapalan mantra nya, Sasuke masih sempat merebut Sakura dari genggaman Hinata menuju dekapan nya. Hinata merotasikan kedua bole matanya, dan disambut seringai tajam Sasuke.
"Naruto, bantu aku"
"Tanpa disuruh juga aku sudah tau, Sasuke!" Naruto tertawa bangga disela hembusan angin sejuk dari Naruto yang menetralisir hawa panas yang kian menyelubungi mereka berempat.
"Dalam hitungan ketiga, kau harus memeluk ku erat bila tak ingin terlempar ke dimensi yang berbeda, mengerti Sakura?" Sasuke berbisik tepat diujung telinga Sakura yang sedari tadi melingkarkan lengan nya di pinggang Sasuke.
Sakura mengangguk mengerti dan semakin mengeratkan genggaman nya sampai buku-buku jarinya memutih.
"Satu.."
"Dua.."
"Tiga!"
Bwussssshhhhhh
Pusaran api itu melahap mereka berempat tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
BRAAAKKK!
Sakura mengaduh pelan saat sebuah ranting pohon terjatuh mengenai betisnya beberapa detik setelah pendaratan nya yang 'mulus' itu. Sambil membersihkan beberapa helai daun yang menyangkut diantara sela rambutnya, ia pun bangkit dan mendongak ke atas pohon-ke arah dimana ia muncul setelah berteleportasi tadi.
Sakura pun lalu mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru arah untuk mencari 3 orang yang ikut bersama dengan nya. Namun setelah beberapa menit ia menunggu dan mencari, tak ditemukan keberadaan Sasuke, Naruto dan Hinata di sekitarnya. Sakura sempat ragu bila ia mendarat di dimensi yang benar. Karena tempat yang kini ia lihat sama persis dengan hutan di sekitar tempat tinggalnya, kecuali aroma bunga mawar yang menyengat dari dalam hutan. Sakura sempat berfikir bahwa tempat tujuan nya adalah sebuah dimensi aneh yang dipenuhi dengan tumbuhan raksasa atau hewan yang dapat berbicara, namun karena hasil yang 'mengecewakan' ini, ia pun memutuskan untuk mengecek keaslian dari dimensi yang ia tempati kini.
Akhirnya Sakura pun berjalan kearah aroma bunga mawar itu menyerbak, terus berjalan hingga ia masuk kedalam hutan. Udaara disana begitu menyejukan, pepohonan yang memayungi pun tak begitu kering, juga tak begitu lembab. Sangat pas untuk dijadikan tempat tinggal, karena dari yang Sakura amati, banyak sekali buah-buahan yang tidak beracun tumbuh didaerah sini. Belum lagi kijang, tupai dan beberapa hewan hutan lain yang sesekali muncul dari balik semal. Hewan dan tumbuhan yang hidup disini terlihat sangat jinak dan tenang. Terbukti dengan seekor babi hutan yang kemunculan nya membuat jantung Sakura berdebar karena takut babi tersebut akan mengamuk, namun yang dilakukan babi itu malah membuat Sakura tercengang sekali lagi, karena hewan liar itu ternyata membawa seekor tupai diatas punggung nya dan terus berjalan kearah telaga yang tak jauh dari situ untuk minum bersama. Bila kondisinya seperti itu, mungkin memang benar bila Sakura berada di dimensi lain.
Setelah beberapa jam perjalanan, ia pun akhirnya sampai di sebuah reruntuhan bangunan yang Sakura yakini dulunya adalah sebuah taman-dengan air mancur indah di tengahnya. Sakura pun memutuskan untuk duduk sebentar di antara kumpulan mawar merah yang merambat ke sisi-sisi tempat duduk di pinggir reruntuhan kolam. Pikiran nya pun menerawang jauh sebelum ia sampai disini, sebelum ia mengenal Sasuke, dan sebelum ia tau bahwa sebenarnya ia mempunyai kekuatan-dan kekuatan itu sangat berbahaya sehingga tak hanya mengancam keselamatan dirinya, juga kekuatan itu mengancam nyawa seluruh orang yang terlibat dengan nya. Bisa dibilang, kekuatan yang ia miliki bak bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak bila tak segera di jinakan.
Sakura sebenarnya sudah hampir menyerah saat ia mencuri dengar pertemuan antara kedua orangtua nya, Sasuke dan Kakek Jiraya di ruang kepala sekolah. Ada perasaan gembira saat ia mengetahui bahwa sebenarnya ia memiliki kekuatan, namun setelah mendengar penjelasan dari Sasuke, sontak saja hal tersebut sungguh mengagetkan nya. Rasanya ingin mati saja bila seperti itu. Pernah sekali, ia menangis sendirian di ruang asrama nya di malam pesta topeng karena ia tak memiliki pasangan untuk berdansa. Jangankan pasangan, teman pun Sakura tak dapat menjamin ada yang ingin bergaul dengan dirinya. Di satu sisi, orang-orang merasa segan dengan gelar kedua orangtuanya, di sisi lain banyak pula orang yang mencemooh nya karena di usia yang telah lewat batas, ia masih belum memiliki kekuatan nya.
Namun tanpa ia sangka, keajaiban pun seolah berpihak pada dirinya. Dengan datangnya Sasuke, perasaan risau nya perlahan-lahan pudar. Walaupun awalnya Sasuke seperti paman tua yang angkuh dan galak, namun seiring berjalan nya waktu, entah mengapa perasaan berdebar aneh pun muncul saat melihat senyum serta tawa asing dari pelatih nya tersebut. Rasanya ingin selalu melihat ekspresi yang jarang pria itu tunjukan di depan umum. Dan seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di perutnya setelah mengetahui bahwa Sasuke pun memiliki perasaan yang sama dengan nya. Tak bisa Sakura pungkiri lagi, ia benar-benar bahagia saat ini-walaupun hidupnya sedang diombang-ambing namun kehadiran Sasuke membuatnya lebih 'seimbang'.
Sakura pun menangkup kedua pipinya yang terasa panas setelah memikirkan tentang Sasuke. Ia pun menggeleng penuh kekuatan untuk mengenyahkan pikiran itu lagi. Saat Sakura berniat untuk bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba sebuah panah melesat dan tepat mengenai sisi kanan nya-menggores tipis pipi nya yang mendadak mengeluarkan setetes darah. Sontak saja Sakura bangkit dan memasang mode waspada sambil menajamkan indera penglihatan nya kesuluruh penjuru arah. Saat ia melihat ada sebuah kilau kecil dari atas pepohonan, dengan sigap ia pun meraih batu seukuran kepalan tangan dan melemparnya persis kearah tersebut. Setelah suara seseorang terjatuh terdengar, Sakura pun berlari menghampiri sosok yang sedang mengusap kepalanya yang terlihat mengucurkan darah pula.
Sosok tersebut menggunakan jubah coklat yang tertutup seluruhnya, namun setelah Sakura menyibak ponco tersebut, nampak lah mata hitam bening yang kini sedang mengaduh kesakitan-sekilas Sakura mengira itu adalah Sasuke, namun bila dipertegas lagi, rasanya tak mungkin Sasuke mengaduh sambil tersenyum seperti itu. Wajah yang Sakura yakini seorang pria itu tak nampak rasa kesakitan sama sekali, memang benar dia meringis, namun raut wajahnya tampak datar sambil mulutnya membentuk kurva tersenyum-membuat Sakura bergidik dengan manusia minim ekspresi di hadapan nya itu.
"Siapa kau?" Sakura akhirnya bertanya, pria itu sontak memicingkan mata kearah nya dengan tajam.
"seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?"
"A-Aku? Aku hanya pendatang.." Sakura kebingungan saat diberi tatapan menyelidik dari orang yang memiliki mata tajam yang hampir sama dengan Sasuke itu.
"Pendatang? Nona, kalau kau pintar sedikit, pasti kau tau tempat yang kau datangi ini bukan sembarang tempat. Ini adalah dimensi berbeda."
Sakura pun tersentak saat mendengar penuturan pria yang ternyata memiliki mulut pedas itu.
"A-aku juga tau! Oleh karena itu aku ingin bertanya.." Sakura pun menunduk saat pria tersebut bangkit dan menatap nya dengan tegas.
"Ingin apa? Bertemu siapa? Ada perlu apa?" Rentetan pertanyaan pria tersebut seperti kereta yang siap menabrak Sakura kapan pun.
"T-tidak, aku-"
"SAAAAIIIIII!" perkataan Sakura terputus saat mendengar suara wanita dari kejauhan memanggil seseorang, beberapa lama kemudian, seorang wanita berambut pirang dan menggunakan ponco yang sama dengan pria bermata hitam itu muncul dari balik pepohonan. Aura nya nampak berbeda dengan pandangan jengkel kearah pria yang hanya tersenyum lugu kearah nya.
"Sudah kubilang kan?! JANGAN berkeliaran sendiri! Kau itu sangat ceroboh! Bagaimana kalau-"
"Tapi aku mendapatkan penyusup" Potong Sai sambil menunjukan jarinya kearah Sakura yang sontak saja mengerjapkan mata kebingungan.
Wanita berambut pirang itu menoleh ke arah Sakura dan tiba-tiba saja membelalakan kedua matanya.
"Tidak mungkin." Ujarnya mengambang-hampir tak ada nada kepercayaan di suaranya. Wanita itu pun melepas cengkraman di kerah pria minim ekspresi itu dan menghampiri Sakura yang masih terdiam membeku di posisinya.
"Tidak mungkin..." Wanita berambut pirang itu perlahan meraih wajah Sakura yang kini mengerenyit karena merasakan telapak tangan asing mendarat tepat di pipinya.
"Tayuya?" Nama yang keluar dari bibir wanita tersebut sontak saja membuat kedua mata Sakura terbuka lebar dan menatap wanita yang kini memandangnya dengan penuh rasa rindu.
"Aku bukan Tayuya" Jawaban Sakura membuat wanita tersebut sadar dari lamunan nya dan segera melepaskan tangan nya dari wajah Sakura.
"Eh? Apa? Maafkan aku, aku hanya-"
"Tapi dia ibu ku" ujar Sakura yang segera saja membuat wanita pirang itu membelalakan matanya sekali lagi, kini dengan raut bahagia yang tak bisa disembunyikan.
"K-kau.. Kau SAKURA?!" Tanyanya dengan antusias, sampai-sampai menyebutkan nama Sakura dengan penuh tekanan.
Sakura sontak mengangguk cepat, dan dirasakan nya wanita berambut pirang itu merengsek maju dan memeluknya dengan erat. Anehnya, pelukan itu terasa familiar tanpa aroma keasingan sama sekali.
Setelah pelukan itu mengendur, Sakura putuskan untuk segera bertanya siapa wanita itu dan apa hubungan nya dengan Tayuya.
"Kau-"
"Perkenalkan, aku Ino Yamanaka, salah satu sahabat ibu mu. Kenapa aku bisa tau nama mu? Tentu saja karena Tayuya selalu berkata jika ia punya anak perempuan suatu hari nanti, maka akan ia beri nama Sakura. Nama yang cantik." Jelas wanita yang diketahui bernama Ino itu dengan senyum tulus.
Sakura mengangguk canggung dan menyambut uluran tangan Ino perlahan.
"Tenang saja, tak perlu takut. Aku tau apa tujuan mu kesini." Ino mengatakan hal tersebut dengan lembut, membuat Sakura mendesah lega karena tak perlu menjelaskan apa yang ia sendiri tak bisa jelaskan.
"Tapi pria sembrono ini! Dia tak mendengarkan jelas apa yang apa yang dewi Kurenai katakan! Oleh karena itu dia-"
"Kau kenal dengan dewi Kurenai?!" Sakura menyahut dengan suara yang antusias, disambut kekehan halus dari Ino.
"Tentu saja sayang, oleh karena itu aku disini" Jawabnya dengan senyuman yang tak dapat digambarkan oleh apapun.
Kumpulan peri bunga yang membentuk formasi seperti awan tipis membuat perjalanan mereka bertiga lebih mudah. Ino dan Sai memutuskan untuk menemani serta membawa Sakura langsung ke istana dimana dewi Kurenai berada.
"Aku pernah melihat mu sebelumnya." Ujar Sakura, memecah keheningan diatas awan buatan tersebut.
"Oh ya? Dimana?" Ino bertanya kembali.
"Momma memajang sebuah bingkai foto di kamarnya, dan saat ku melihatnya, semua orang tampak familiar-kecuali kau" Jawab Sakura dengan wajah menunduk kebawah.
Ino mendengus lembut, "Aku memutuskan untuk menghilang-yaaa begitu mereka bilangnya- aku menghilang dari dunia itu karena aku sadar, ada hal yang lebih penting yang harus aku lindungi keberadaan nya."
Sakura mengerenyitkan dahinya tanda tak mengerti.
"Kekuatan ku adalah herboista, selain itu aku pun bisa meramal dengan pikiran ku yang tajam. Walaupun tak semahir Hinata-kau pasti tau dia-namun banyak pohon di sekitar kota yang telah berusia ratusan-bahkan ribuan tahun. Dan mereka mengetahui banyak hal, mereka telah menyaksikan banyak hal yang kita-sebagai manusia sendiri tak mungkin bisa mengetahui nya. Jadi, setelah aku mengetahui bahwa masa depan sahabat ku-Tayuya- dan itu berarti kau sendiri, Sakura. Akan terancam bahaya. Aku pun memutuskan untuk pergi kemari dan mengabdikan diri untuk dewi Kurenai-yang mana kau adalah cucu darinya."
Sakura memandang Ino takjub-bukan sekedar kagum, bahkan lebih kearah rasa berterima kasih yang tak ada habisnya setelag mendengar penjelasan nya tersebut. Ino yang merasa dirinya diperhatikan oleh Sakura-karena tak didengar lagi sahutan setelah ia mengatakan hal tersebut- sontak saja mendekat dan mengacak rambut Sakura dengan penuh kasih sayang.
"Kita adalah keluarga. Dimana pun kau berada, aku pasti akan melindungi mu" Ujarnya dengan senyum tulus khas seorang ibu yang menyayangi anak nya sendiri.
See ya next chapter!
Love yaa~
NalaKenny
