CLAIMED
by
Ellden-K
.
.
Warning! This is KookV fanfiction with dominant Kook and submissive Tae!
DLDR! Rating Dewasa dan tidak diperuntukan bagi pembaca dibawah umur -kayak author *shy-
Reader & Sider diterima asal feedback *innocence
Gak suka pedo Kook? Menyingkir :*
Kid!Tae! Pencemaran kepolosan! Author mengada-ada! Stupid grammar & mengotori pikiran.
¤ Jeon Jungkook & Kim Taehyung
Bab 01 - Little Boy
Jeon Jungkook hanya ingin sendirian dan tidak terganggu, berenang di kolam besar miliknya yang dikelilingi taman dan juga halaman luas pelataran belakang. Tetapi semuanya terhambat ketika salah satu pesuruhnya mengatakan ada seorang lelaki tengah berdiri menunggunya diluar dan menginginkan untuk bertemu dengan Jungkook. Kemudian acara berenang dihalaman belakang yang ia damba seminggu ini mesti menunggu lagi.
"Apa?" Jungkook menghentikan gerakan menarik T-shirt dari tubuhnya dengan alis bertautan ketika mendengar penuturan sang pelayan, baru saja ia menginformasikan kehadiran tamu tak diundang itu.
Astaga, cuacanya sangat cerah dan Jungkook tidak mendapati mood awan yang seperti ini tiap pekan. Ia hanya ingin menceburkan diri kekolam dibelakangnya, tapi gangguan macam apa ini!
"Jika dia orang yang mengajukan proposal untuk amal, suruh kembali lagi besok!" Perintahnya dengan nada tegas, kemudian hendak menuntaskan menelanjangi diri.
"Maaf tuan, dia bukan petugas amal. Orang itu mengenali Tuan Park Jimin." Nada lembut keluar dari mulut pucat itu, tubuhnya membungkuk sopan ketika Jungkook malah menurunkan kembali bajunya, sedikit merasa bersalah karena telah mengganggu kegiatan sang majikan yang hendak bersenang-senang. Ya walaupun hanya sendirian.
Jungkook memang mengenal Jimin, tapi ada apa kali ini?
"Ada keperluan apa kau datang kemari?" Itu suara Jungkook, terdengar menggema diseluruh ruangan beraksen putih bersih yang baru saja dimasuki pemuda kurus berwajah manis tersebut. Ia memerintahkan pelayannya untuk membawa pengganggu kecil itu kedalam kondominium dan disinilah mereka, saling berhadap pandang dengan Jungkook yang memangku kedua tangannya diatas dada.
Sedikit nampak malu-malu, pemuda cantik berbadan kurus itu menggeliat tidak nyaman ditempatnya ketika menemukan manik gelap Jeon Jungkook yang begitu seksi .arahnya!.
"Aku diperintahkan untuk pergi kemari, karena tuan-ku mengatakan jika aku tidak bisa tinggal dengannya lebih lama lagi."
Tuan-ku? Tinggal dengannya? Siapa? Park Jimin?!.
"Jadi?"
"Katanya aku harus menemuimu.."
"Jimin mengirimmu untuk tinggal disini? Begitu?" Tentu ia membutuhkan kepastian, hingga Jungkook menekan nada disetiap kata yang ia ucapkan. Ia tidak perlu membaca pikiran orang karena Jungkook dapat melihat tanda dan gelagat yang diperlihatkan anak laki-laki ini.
Pemuda manis itu mengangguk kecil dengan kedua tangan yang menenteng tas jinjing didepan lutut. Ia mengenakan celana jeans pendek kebesaran dan sepertinya itu milik Park Jimin.
Keparat.. -jk
Jungkook segera menarik nafas sambil mengusap kedua sisi pipi mulusnya dengan jemari tangan. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak meledak karena darahnya naik hingga ke ubun-ubun.
Rahangnya mengatup kesal. "Apalagi yang dia katakan kepadamu?"
"Tidak ada, katanya kau akan mengerti." Kedip. Kedip.
"Bagaimana kau bisa menurut begitu saja padanya? Sebenarnya kau ini siapa? Simpanannya?! Kembali saja kepada keluargamu, kulihat kau masih remaja. Mereka tidak mencarimu?"
Jungkook salah. Mana mungkin bujangan seperti Park Jimin memiliki simpanan jika kekasih saja ia masih mengejarnya.
Pemuda manis itu nampak kebingungan, ia memikirkan kalimat apa yang akan dikatakannya kepada Jungkook. Memilah-milah lebih tepatnya, karena ia masih berpikir apakah beberapa orang yang datang dikehidupannya adalah sosok keluarga atau bukan.
"Umm, itu.. Aku tidak ada orang tua dan tempat tinggal."
Oh bagus, Park Jimin memang sahabatku! Memanfaatkan keuntungan dari ketidakberdayaan remaja laki-laki manis ini, dan setelah tidak butuh ia melemparnya sembarangan. Tapi omong-omong dia sangat cocok untuk didom- tidak.
Ketika pemuda itu hendak mengintrupsinya Jungkook sudah terlebih dahulu terhubung dengan Park Jimin.
"Oh halo kawan! Aku tahu kau akan menelponku!"
"Persetan! Siapa bocah lelaki ini? Apa yang kau lakukan?" Jungkook menautkan alis tebalnya dengan hidung mancung yang kembang kempis.
"Tolonglah tenang dulu Jungkook. Ini bukan hal yang negatif maupun buruk kok."
"Jelaskan."
Jimin terdengar menggerutu kecil diseberang sana dan Jungkook menunggu dengan wajah angkuh menatap manik kecoklatan milik bocah kecil didepannya.
"Jadi begini..."
Jungkook mendengarkan penjelasan panjang lebar itu dengan seksama dan penuh minat, sesekali melebarkan matanya atau menaikan alisnya setelah kata terakhir yang diucapkan Jimin. Dua kali ia menatap pinggul dan leher pemuda kecil didepannya, atau menelusur dari atas hingga bawah sampai membuat yang dipandang merona hebat. Ia mudah tersipu, namun tatapannya lancang karena sepersekian detik Jungkook memergokinya tengah menatap kearah perut paling bawah miliknya penuh keingintahuan.
"...Dengar, Jungkook. Anggap saja ini adalah kegiatan amal yang sudah sering kau lakukan. Semua orang tahu kau sangat kaya, hanya dengan anak itu uangmu tidak akan berkurang walau seujung kuku jari saja. Tidak ada yang akan mengetahuinya."
Mendengar semua penuturan penuh bujuk rayu setan dari Park Jimin yang sudah terkenal karena mulut manisnya, dan tentu saja beracun. Ia tidak terlalu terkejut setelah mengetahui siapa -atau apa- lelaki cantik itu tetapi Jungkook cukup antisipasi dengan segala kemungkinan yang mengelilingi kepalanya, kendatipun demikian ia tetaplah seorang pria dewasa yang memerlukan penuntasan dari segala hasratnya.
Jungkook memang bujangan yang paling dicari dan dia masih sendiri, ia bisa saja membawa wanita keatas ranjangnya. Namun mereka semua terasa sama saja dan tiada yang benar-benar dapat mengerti tentang gairahnya yang lain daripada yang lain. Tak ada yang dapat benar-benar menikmati rasa sakit sekaligus nikmat yang Jungkook berikan, bukankah lain hal nya dengan remaja didepannya ini?
Ia seperti telah terlahir sebagai submisif alami, mengikuti kemauan dominan dan nampak ia sangat baik dalam menyenangkan siapapun yang menjadi tuan nya. Apalagi setelah Jungkook mendengar sumpah Jimin jika 'barang' yang baru saja ia kirim adalah orisinil. Tidak pernah tersentuh sekalipun. Jungkook cukup bersorak riang secara mental setelah mendengarnya, ternyata kepolosan yang ia lihat bukanlah dibuat-buat. Meski begitu Jungkook nampak sedikit kecewa karena masih harus tetap mengajari lelaki kecil itu bagaimana cara memuaskan hasrat dominan seperti dirinya.
Siapa yang dapat menolak seorang submisif yang diperjualbelikan dengan kemasan luar biasa ini? Walaupun keahliannya masih diragukan, wajah manis nan menawan itu telah terlebih dahulu memikat Jungkook untuk menyetujui permintaan gila Park Jimin.
Lagipula tidak akan ada yang mengetahui jika anak laki-laki itu ternyata dikirim kesini untuk memenuhi kebutuhan primitif Jungkook.
"Akan ku pertimbangkan." Jungkook sama sekali tidak merubah mimik wajahnya, ia masih menatap Taehyung seakan ingin memenjaranya lewat sorot mata. "Kita akan bicara lagi nanti." Tambahnya, kemudian sambungan telepon pun terputus, dan Jungkook melangkah mendekati tubuh pendek itu dengan tatapan sedingin bongkahan es kering dikutub utara. Penuh intimidasi dan perhitungan.
"Yugyeom! Siapkan kamar untuknya, dia akan tidur disini malam ini." Ucap Jungkook kepada pelayannya tanpa mengalihkan pandangan, karena Yugyeom sudah sejak tadi setia mendampingi tuan nya dibelakang sana ia pun menjawab "Baik Tuan." dengan patuh masih menunggu perintah selanjutnya.
"Dan, siapa namamu pria kecil?" Jungkook tetap memaku pandangannya, membuat orang yang dimaksud ikut menatap obsidian kelam yang sudah sejak dulu ia miliki.
"T-taehyung, Kim Taehyung Tuan." Baiklah, lelaki kecil ini bernama Kim Taehyung, nama yang benar baik dan tegas jika dibandingan dengan wajah cantik nan lembutnya. Ia memiliki bibir tebal yang nampak pas untuk dikulum, bahkan angan Jungkook membawa ia untuk membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan mulut seksi itu. Hal tersebut cukup membuat suara Jungkook menggeram ditenggorokannya dan kemudian ia berdehem.
"Oke, Kim Taehyung, aku akan mengujimu nanti malam dan ketika kau lulus kriteria ku aku akan membiarkanmu tinggal disini." Ucapnya tegas dan santai, Jungkook sangat tidak menyukai membuang-buang waktu. Maka dari itu ia adalah seorang pria dengan tanpa basa-basi, pantas semua orang mengaguminya.
Sedangkan Jungkook merasa kalimatnya sedikit agak keterlaluan, Taehyung merasakan gemetar ditubuhnya, juga selangkangannya hampir meleleh dan berdenyut begitu ia menangkap perkataan pria dewasa ini.
"Sekarang aku ingin berenang dan berjemur. Jangan ganggu aku jika kau hanya akan menanyakan hal-hal kecil saja." Jungkook berlalu melewati bahu pendek Taehyung dengan begitu kejam, lalu keberadaannya tergantikan oleh sosok Yugyeom yang mendekat dan membungkuk sopan kepada Taehyung.
"Biarkan saya mengantarkan anda kekamar tuan." Yugyeom menawarkan diri dengan melebarkan tangannya, berusaha untuk menunjukan jalan menuju kamar baru Taehyung. Namun bocah cantik itu menggeleng.
"Kau akan menyiapkannya dulu kan?" Tanya wajah manis penuh keingintahuan itu.
"Tentu, anda bisa menunggunya untuk beberapa menit sebelum menggunakannya."
"Kalau begitu aku akan menunggu sambil berjalan-jalan disekitar sini saja." Ungkap Taehyung tak kalah sopan.
"Anda tidak ingin istirahat tuan? Atau anda lapar?"
Baiknya.. Tapi Taehyung harus menolak tawaran itu.
"Tidak, aku hanya akan melihat-lihat dulu."
"Baiklah. Saya akan kembali setelah selesai menyiapkan kamar." Tanpa sedikitpun kecurigaan yang nampak diwajahnya, Yugyeom mengangguk mengerti kemudian kedua tangannya menyongsong tangan kecil Taehyung dengan gerakan yang amat berkelas.
"Tas anda tuan."
Setelah Taehyung menyerahkan tas berharganya Yugyeom nampak telah menghilang dibalik persimpangan antara dinding ruang makan dan tangga menuju lantai dua.
Anak laki-laki berambut caramel itu memutar kepala menuju tempat Jungkook berjemur. Ia nampak tengah berbaring sambil bertelanjang dada diatas kursi malas, melipat kedua tangannya untuk dijadikan bantalan dan kacamata hitam yang cocok dengan wajah tampannya. Kulit cerah itu nampak berkilauan diterpa sinar matahari dan otot-otot dibalik nya membentuk tubuh Jungkook dengan sempurna. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan suatu apapun.
Perutnya memiliki lekukan enam persegi yang menawan, bahkan cokelat batangan yang selalu membuat Taehyung kebanjiran ludah kalah saing dengan view menggiurkan itu.
Taehyung melangkahkan kaki untuk mendekat, dan tepat setelah ujung rambutnya diterpa sinar matahari yang cukup terik ia menyipitkan mata. Apakah Jungkook tidak takut kulitnya terbakar? Dilihat dari sana sepertinya ia tidak menggunakan body lotion maupun sun block untuk melindungi kulit putihnya.
Taehyung meraih sebotol sun block pada meja kecil disamping Jungkook, diatasnya terdapat koktail yang masih tersisa setengah.
Nampak pria itu menutup mata dengan tenang, karena setelah Taehyung mendudukan diri di sampingnya ia tetap tidak mengubris sedikitpun.
Taehyung menuang sun block, kemudian menggosoknya sebentar dengan kedua tangan. Gerakannya perlahan, ia mengusapkan gel licin tersebut dengan hati-hati. Perut dengan enam persegi itu nampak berkilauan setelah terkena gel, dan Jungkook masih setia ditempatnya. Tidak bergerak tapi tetap bernafas.
Sensasi kulit halus Jungkook benar-benar menyenangkan, kendati Taehyung hanya mampu tersenyum lebar hingga menunjukan deretan gigi putihnya yang lucu.
Gerakan memutar semakin merambat keatas, ia kembali melumuri tubuh Jungkook, kali ini dibagian dada yang bidang dan keras. Tubuh besar dihadapannya benar-benar dibalut dengan otot-otot yang sempurna, terasa indah dan jantan secara sekaligus.
Tetapi ia malah semakin penasaran setelah menyentuh perut dan dada pria ini, sesuatu yang menonjol dibalik celana setengah paha berbahan katun itu sangat menarik perhatian Taehyung. Telapak tangannya kemudian meluncur kebawah, lalu salah satu diantara mereka menukik dan berniat menyelipkan jemari kedalam celana Jungkook.
"Tangan yang nakal." Suara yang terdengar santai itu mengejutkan Taehyung hingga tubuh kecilnya terlonjak dan ia segera menarik kedua tangannya waspada.
Taehyung menatap wajah Jungkook penuh antisipasi, namun ia tidak dapat menemukan letak retina nya karena terhalang lensa kacamata yang berwarna hitam.
"Kau cukup berani untuk menyentuh tubuhku tanpa meneteskan air liur."
Sebaliknya, kini Taehyung malah meneguk ludah.
Jungkook menegakan tubuhnya, tanpa melepaskan kacamata ia kemudian meraih kedua tangan Taehyung yang terkepal kedepan, membawanya untuk berputar kebelakang punggungnya dan menguncinya agar tetap disana.
Wajah mereka sangat dekat, bahkan Taehyung tidak sanggup untuk mengutarakan pernyataannya akibat hembusan nafas segar Jungkook yang menerpa hidung dan bibirnya. Ia terpesona untuk sesaat, kemudian matanya membola ketika Jungkook membingkai bibir Taehyung dengan mulutnya. Mulai melumat walaupun kedua belah benda lembut nan kenyal itu masih terkatup rapat. Sebelah tangan menengadahkan dagu Taehyung dan yang lainnya tetap mengunci dibelakang.
Taehyung dapat mengecap rasa mint yang begitu segar ketika Jungkook menelusupkan lidah mahirnya kedalam mulut, menirukan gerakan saat bercinta, keluar dan masuk membelai lidah Taehyung yang nampak mencoba untuk mengimbangi. Jungkook mendengus ketika bibir Taehyung melakukan hisapan lembut pada lidahnya. Kemudian melepaskan pagutan mereka sesaat sesudahnya.
Taehyung mengerjap setelah membuka mata, sedikit malu-malu memandang wajah rupawan Jungkook yang menatap penuh kilatan gairah.
"Bibirmu sangat nikmat, tapi sayang kau amatiran." Entah itu pujian atau celaan bagi Taehyung, ia hanya bisa mengernyit dan sedikit menaikan bibir bawahnya untuk menanggapi ungkapan tersebut.
Jungkook melepaskan tangannya dari Taehyung, lalu bangkit dan berjalan menuju kolam berenang. Ia menoleh sekilas, "Buka bajumu, aku ingin kau berenang bersamaku sekarang." Lalu berbalik dan menuruni tangga hingga ujung kakinya menyentuh dasar kolam.
Taehyung menurut, meski ia merona hebat hingga seluruh wajahnya nampak matang, anak lelaki itu tetap melepaskan bajunya dan berjalan menuruni tangga kedalam kolam. Sesekali kedua tangannya saling mengusap defensif. Ia melihat air kolam yang hingga mencapai dada Jungkook dan itu berarti sebagian wajahnya mungkin saja tenggelam. Ia berhenti ditengah-tengah tangga dan hanya betisnya yang terendam.
Taehyung kemudian menatap Jungkook hati-hati, tanpa menyadari sedikitpun jika lelaki itu sudah menatapnya penuh keinginan sejak tadi. Tapi Taehyung hanya berdiri diatas tangga besi tersebut, memandang Jungkook yang berada jauh diseberang kolam.
"Uh, aku tidak bisa berenang.." Seketika Taehyung merinding setelah melihat ekspresi tidak suka Jungkook atas apa yang baru ia dengar.
Baiklah, pertama, dia mengganggu acara berenangnya. Kedua, dia amatiran, dan ketiga, Taehyung tidak pandai berenang. Lalu apa yang ia lakukan selama masa hidupnya itu?
Jungkook mendengus, entah tidak suka atau kesal. Ia mengepakan tangannya di air, meluncur secara perlahan kearah Taehyung lalu berdiri tepat didepannya. Wajah tampan bergaris rahang sempurna itu terbasahi air yang mengalir dan menetes dari rambutnya yang basah. Kemudian telapak tangan besar itu menyingkirkan semuanya.
"Lain kali tidak ada toleransi lagi. Kau harus belajar untuk dapat menyenangkanku." Jungkook menatap wajah mungil Taehyung dari bawah. "Turun, dan semestinya kau melepas celanamu juga."
Taehyung berdegup kencang, entah mengapa setiap perkataan dan perlakuan Jungkook begitu piawai memancing adrenalin didalam dirinya. Setelah selesai dengan sesi merona, Taehyung pun menyambut lengan besar Jungkook. Ia menuruni tangga dan menengadah ketika ujung jempol kakinya menemukan dasar kolam.
Jungkook segera meraih pinggulnya, mengangkat tubuh enteng Taehyung agar tidak perlu mendongkak terlalu tinggi. Sekali lagi, kedua telapak tangan Taehyung berhasil merasakan sensasi permukaan kulit dada Jungkook yang lembut dan penuh godaan. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa indah, kuat dan menakjubkan dalam waktu bersamaan.
Taehyung menatap Jungkook dengan bibir terbuka.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk membuka celana?" Taehyung mendengarkan suara dalam Jungkook dan rahangnya mengatup seketika. "Bagaimana bisa kau berenang menggunakan celana jeans? Meski itu hanya sebatas lututmu saja.."
Kemudian ia merasakan tangan besar Jungkook meluncur dan menangkup pipi pantatnya.
"T-tuan..." Taehyung menunduk, dadanya semakin berdegum kencang tak karuan. Apalagi ketika Jungkook mendekatkan bibirnya pada telinga Taehyung, kemudian membisikan sesuatu.
"Kau ingin menyenangkanku Kim Taehyung?" Suara Jungkook melembut namun getaran yang teredam dibalik dadanya terasa menyemangati telapak tangan Taehyung, selain itu hempasan udara yang dihasilkan ketika ia berbicara menggelitiki telinga nya.
Taehyung mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu aku ingin kau melepas celanamu juga." Suaranya maskulin sekali, begitu lembut namun menuntut, dan sepertinya Jungkook benar-benar serius dengan keinginannya. "Karena dengan melihatmu telanjang adalah awal untuk menyenangkanku."
.
.
.
Tbc~
Review & Krisarnya jangan lupa~
See you next chap, trims~
