CLAIMED

by

Ellden-K

.

.

Warning! This is KookV fanfiction with dominant Kook and submissive Tae!

DLDR! Rating Dewasa! Anak kecil mari kita pergi *shy

Kid!Tae! Pencemaran kepolosan! Author mengada-ada! Stupid grammar! Mengotori pikiran & mengandung banyak kalimat tidak sopan!

¤ Jeon Jungkook & Kim Taehyung

Prev : "Kalau begitu aku ingin kau melepas celanamu juga." Suaranya maskulin sekali, begitu lembut namun menuntut, dan sepertinya Jungkook benar-benar serius dengan keinginannya. "Karena dengan melihatmu telanjang adalah awal untuk menyenangkanku."

Bab 02 - Banana

Taehyung semakin merona hebat, akibat dari kalimat cabul yang diucapkan Jungkook benar-benar membawa pengaruh besar untuk detak jantungnya. Selain itu, sensasi kulit dengan kulit ini tiba-tiba membangunkan hasrat lancang dari dalam diri Taehyung. Ia ingin menyenangkan Jungkook, dan ia sangat menyukai ketika pria itu hendak berlaku ataupun mengatakan hal yang tidak sopan kepada anak seumurnya. Seperti ada sensasi meletup-letup didalam perut Taehyung, mestinya ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan seperti ini, tapi dia adalah Jeon Jungkook. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa lelaki itu akan setampan dan semenawan ini.

Meski Taehyung masih belum menjadi orang dewasa, ia tetap saja merasakan ketegangan seksual yang kentara saat bersama dominan seperti Jungkook.

Detak jantungnya stabil ditangan Taehyung, seakan ia sudah terbiasa menyentuh seseorang dengan kedekatan yang seintim ini. Taehyung sangat menyukai Jungkook untuk selalu dekat dengannya seperti itu, entah apa yang sebenarnya ia inginkan, tapi Jungkook benar-benar tidak memberikan pilihan apapun selain ketelanjangan Taehyung dibawah kuasanya. Kendati ia tak merasakan perasaan enggan sedikitpun seperti saat para pria hidung belang diclub berusaha menjamah tubuhnya. Bahkan mereka benar-benar mengetahui bahwa Taehyung hanya bekerja mengantarkan minuman, dan bukan pekerja seks seperti gadis-gadis atau lelaki cantik yang bergelayutan ditangan mereka.

Tetapi berbeda dengan sentuhan Jungkook, ia menginginkannya dengan sukarela, Taehyung menginginkannya merasa senang dengan perilaku tunduk Taehyung. Karena setidaknya, ia diperintahkan pergi kesini untuk melakukan hal tersebut.

Ketika ia merasakan tangan besar itu menelusur lekuk pinggulnya, Taehyung membuang nafas dengan gugup. Jungkook sama sekali tidak main-main dengan keinginannya, ia semakin mengangkat tubuh enteng Taehyung untuk mendekat kearahnya, menempelkan diri satu sama lain dan mulai menelusup untuk membuka zipper celana Taehyung tak sabaran. Namun ketika Jungkook hampir meloloskan jeans pendek itu dari pantat Taehyung dering ponsel yang begitu nyaring berhasil membuat Jungkook mengerang frustasi. Matanya berkilat tidak suka dan ia nampak benar-benar kesal.

Suara itu berasal dari ponsel yang letaknya cukup jauh karena benda persegi tersebut berada diatas meja kecil tadi, tepat disamping sun block dan koktail yang tinggal tersisa setengah.

Jungkook akhirnya membawa Taehyung ke pinggir kolam karena ia tidak mungkin meninggalkannya sendirian ditengah-tengah, akibat dari pernyataan yang Taehyung lontarkan tadi, ia tidak memiliki alasan apapun untuk melakukannya. Hingga ketika jemari basah Jungkook meraih ponselnya, ia segera mengangkat sambungan telpon.

Taehyung yang masih berada dipinggir kolam hanya mampu mengambang dan sambil mengenggam pegangan dari tangga besi disampingnya, menatap Jungkook dan menunggu dengan sabar. Pria itu nampak berbincang serius dengan seseorang, tetapi sepertinya itu bukan tuan-nya Park Jimin. Karena Jungkook terlihat lebih profesional dan serius, tidak menggebu-gebu seperti tadi saat pertama kali Taehyung menginjakan kakinya diatas pualam kondominium yang luar biasa megah ini. Meski Jungkook tidak menunjukannya secara terang-terangan, Taehyung tetap dapat merasakan perubahan mood yang luar biasa terhadap Jungkook. Awalnya ia memang jengkel, tetapi setelah mendengar penjelasan dari Park Jimin , ia meluluh, tapi matanya tetap dingin dan penuh hasrat.

Taehyung terpesona, melihat seluruh tubuh Jungkook basah oleh air kolam dan otomatis membuat celana pendek yang ia kenakan menempel sempurna pada kulitnya sungguh mampu melelehkan es abadi digunung eferest. Bahkan burung-burung yang lewat terjatuh akibat menabrak pohon ketika Jungkook sedang dalam keadaan semi erotis begitu. Ini benar-benar daya tarik seks yang tidak main-main. Bahkan anak kecil sepertinya mendadak pasrah dan ingin disetubuhi oleh Jungkook. Gila- baru melihatnya setengah telanjang saja Taehyung sudah berpikiran kotor. Ya, meski perkataan Jungkook sebelumnya jauh lebih cabul.

Taehyung terkesiap ketika Jungkook balik menatapnya, dan ia masih menelepon lalu meraih handuk untuk menggosok belakang telinga dan wajahnya. Ia masih berbincang, namun tatapannya tetap tertuju pada bola mata besar milik Taehyung. Kembali Jungkook mengusap handuknya pada leher, lalu bahu, membuat Taehyung meneguk ludahnya terang-terangan.

Jungkook hanya mendengus dengan senyuman jahat yang menukik diwajah tampannya. Setelah perbincangan itu menemui suatu persetujuan, Jungkook melangkah mendekati Taehyung.

"Ya, kirimkan saja berkasnya padaku. Aku akan segera memeriksanya setelah itu dikirim." Jungkook berhenti dipinggir kolam, mengulurkan tangannya untuk menyerahkan handuk besar itu kearah Taehyung sebagai isyarat agar ia naik dan mengambilnya. "Baiklah.."

Taehyung mendaki anak tangga dan meninggalkan air kolam yang terasa segar itu sambil mengusap wajahnya, kemudian ia meraih handuk yang ada ditangan Jungkook lalu menggosokkan benda tersebut ke wajahnya yang masih basah. Tangan besar Jungkook segera menahannya setelah usapan kedua dan Taehyung mendongkak kebingungan, ia merasakan tarikan lembut namun tegas itu membawa tangannya untuk membelai tubuh Jungkook dengan handuk. Memerintahkan Taehyung untuk membantunya mengeringkan badan.

Taehyung mengatupkan bibir, namun ia bersorak antusias didalam kepalanya.

"Hm, kirimkan juga catatan pengeluaran tahunan dan batalkan pertemuanku dengan Kim Mingyu."

Tangan kecil yang membelai perut dan lengannya yang kini terjulur santai memberikan efek sengatan-sengatan kecil dari percikan gairah dalam dirinya, Taehyung begitu lembut dan cantik. Jungkook telah berusaha agar fokusnya tidak terpecah belah ketika dengan patuh ia mengeringkan tubuh Jungkook.

"Tentu, aku akan menelponmu lagi setelah itu selesai."

'Pip'

Jungkook memutuskan sambungan, dan Taehyung malah semakin menunduk gugup saat pria itu menatapnya dari atas. Sungguh perbandingan proporsi yang panas, tubuhnya yang kecil berlawanan dengan badan berotot Jungkook. Tak dapat terbayangkan bagaimana nanti saat Jungkook menginginkan dirinya terlentang pasrah diatas ranjang dengan tubuh kecil yang ringkih dan Jungkook akan menyetubuhinya tanpa ampun.

Taehyung memerah! Ia merona! Sejak dan sampai kapan bayangan-bayangan nista itu mengotori kepalanya?

"Bersihkan kepalamu dan masuk kedalam, lalu ganti baju. Mendadak aku harus bekerja dan jadilah anak baik." Seperti dapat membaca pikirannya, Jungkook meraih handuk lalu melingkarkannya pada bahu Taehyung, sedangkan anak itu masih tertegun karenanya.

Jungkook mulai memundurkan langkah lalu berjalan untuk meninggalkan Taehyung menuju ruang kerja pribadinya diselatan kondo, melihat itu Taehyung seakan enggan berdiri sendiri disana dan ia kebingungan kemana Yugyeom membawa tas jinjing usangnya.

"Tuan-" Jungkook menoleh setelah tangannya hampir menyentuh pintu kaca dan ucapan Taehyung berhenti akibat manik Jungkook yang melebar saat dengan tiba-tiba celana jeansnya terasa terlalu berat karena air dan merosot begitu saja.

Taehyung menunduk untuk melihat kebawah, sialan! Malu sekali! Beruntung area rahasianya tertutupi oleh handuk besar yang Jungkook berikan. Namun paha atas dan selangkangannya tetap menampilkan celana dalam mungil yang kebasahan. Ia mengumpulkan handuk untuk segera menutupinya, saat Jungkook memangku tangan dan berkata. "Kau ingin menghambat pekerjaanku?

Tentu saja Taehyung menggeleng cepat, ia merasa sangat malu. Dasar! Ini gara-gara celana kebesarannya yang tiba-tiba merosot dengan konyol. Ia lupa kalau Jungkook sempat melepaskan zipper celananya hingga tidak ada alasan apapun untuk itu tetap berada disana.

"Ganti baju." Jungkook menusuk dengan tatapannya, dan Taehyung segera bergidik akibat itu. "Aku akan menemuimu diruang makan setelah pekerjaanku selesai."

"Kau mengerti?" Ia kembali bertanya, lalu Taehyung mengangguk sebagai jawabannya, di detik kemudian Jungkook berbalik dan menghilang dipersimpangan dinding putih yang membawanya keluar dari ruang belakang.

.

.

.

Kapas-kapas lembut sewarna susu itu berubah menggelap bersama dengan hembusan angin yang mulai membuat Taehyung bergidik. Ia memang sudah masuk kedalam, namun kebingungan melandanya.

Rumah ini terlalu besar untuk dirinya yang kecil, ia bahkan tidak tahu kemana Yugyeom membawa barang-barangnya. Lelaki itu belum juga kembali untuk memenuhi kalimat yang ia ucapkan. Taehyung kedinginan, -tentu saja- dan ini sudah berlangsung selama dua puluh menit. Ia terus mengeratkan handuk lebar itu ditubuhnya, sesekali berjalan dan terduduk di meja bar kecil milik Jungkook.

Setelah menit-menit berikutnya Taehyung sungguh tidak dapat menahan sensasi kedinginan itu. Ia bangkit dari kursi dan kembali keluar untuk mencari-cari t-shirt Jungkook yang tadi pria itu tinggalkan. Well, Taehyung melihatnya ketika ia berjalan masuk kedalam rumah, dan kini benda tersebut sudah berada ditangannya.

Oh Tuhan, setelah celana kebesaran Jimin kini ia terpaksa harus mengenakan t-shirt super large milik Jungkook. Walau jika pemiliknya yang mengenakan, benda itu akan tetap terlihat pas ditubuh Jungkook. Tapi ini Taehyung, dan dengan masa bodoh ia mengenakannya. Uh, masih terasa hangat karena terjemur tadi. Gesekan antar kain dan kulitnya begitu lembut, dan aroma Jungkook ternyata sangat mengesankan. Taehyung tidak pernah mencium aroma berkelas seperti ini, hari-hari yang dihabiskannya ditempat penuh asap rokok dan bau alkohol benar-benar tidak berguna.

Setelah kembali melilitkan handuk, celana dalamnya masih dalam keadaan setengah kering, dan itu tidak nyaman sama sekali. Meski sebenarnya Taehyung dapat melepas benda itu tanpa memperlihatkan area pribadinya karena t-shirt Jungkook menjuntai hingga paha. Taehyung tetap membutuhkan celana dalam. Namun setelah berkeliling yang ia dapatkan hanyalah rasa lapar.

Taehyung mengusap perutnya, "Ugh, aku baru ingat jika aku belum makan dari pagi." Dan jam di dinding bahkan menunjukan pukul dua siang. Ia tidak bisa berkeliling terlalu jauh, dirumah super besar ini ia takut tersesat. Bodoh ya, tapi itu sama sekali bukan lelucon. Kondominium itu luar biasa luas. Mungkin ratusan orang bisa tinggal didalamnya.

Tapi Taehyung merasa sepi, rumah sebesar ini dengan satu pemilik, memerlukan lebih banyak pelayan dan penjagaan, dan Taehyung lapar juga kedinginan!

Cepat ia meloloskan celana dalamnya, kemudian menyatukannya dengan baju basah lainnya kedalam keranjang pakaian kotor. Taehyung hendak kembali untuk duduk di bar kecil tadi, dengan handuk melilit pinggulnya dan menjuntai hingga ke mata kaki ia tiba-tiba berhenti saat melihat keranjang buah teronggok dimeja dapur. Ada pisang, anggur, apel dan antek-anteknya yang lain. Buah-buahan itu membuatnya meneteskan liur, dan kebetulan Taehyung sedang lapar.

"Uh, aku kelaparan dan dia sangat kaya." Taehyung bergumam sambil berjalan memasuki dapur, "itu hanyalah buah. Dia bisa membelinya satu kontainer jika mau."

Meraih pinggiran kursi, Taehyung mendudukan pantatnya dengan nyaman. Kemudian meraih keranjang buah tersebut dan memotek salah satu anggur.

"Astaga aku sangat lapar."

.

.

.

Jungkook keluar dari ruang kerja pribadinya yang nyaman sambil menelpon seseorang, dan ia sudah memakai pakaian lengkap yang menawan. Kemeja putih hampir transparan dengan celana jeans ketat membalut tubuhnya sempurna. Waktu semakin sore dan ia yakin bocah itu mulai kelaparan. Setelah Jungkook memesan katering dengan beberapa menu lezat ia segera memasukan ponselnya kedalam saku. Mencoba mencari-cari Taehyung diruang makan, namun Jungkook tidak menemukannya disana. Kemudian pria itu beranjak menuju kolam berenang dibelakang, tapi ketika rintik-rintik gerimis mulai turun Taehyung juga tidak ditemukan dimanapun.

Ia segera menelpon Yugyeom karena Jungkook juga tidak melihat pria itu sesering biasanya.

"Halo? Dimana kau? Apa anak itu bersamamau?" Jungkook berjalan untuk kembali ke ruang makan, namun keranjang pakaian kotor nampak terisi penuh.

"Ditempat biasa tuan, saya tidak ingin mengganggu waktu anda dengan tamu kecil itu. Dia tidak bersama saya, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Sepertinya Yugyeom sempat melihat kedekatan Jungkook dengan Taehyung di kolam berenang tadi, karena sama seperti biasa ia selalu pergi ke ruangannya sendiri untuk tidak mencampuri urusan pribadi Jungkook. Karena hampir beberapa kali terjadi, maka ia sudah terbiasa.

Jungkook melihat bekas tapak kaki basah diatas pualam beningnya, kemudian ia mulai berjalan mengikuti tetesan air yang hampir mengering menuju dapur.

"Tidak, lupakan. Aku sudah menemukannya. Oh ya, petugas katering akan segera datang, urus mereka untukku."

'Pip'

Jungkook mematikan telpon, lalu bersandar pada kusen kayu yang membingkai pintu menuju ke dapur. Ia memangku tangan, memperhatikan punggung kecil Taehyung dari belakang. Menikmati senandung kecil yang ia nyanyikan dengan mulut mengunyah buah anggur.

Butiran-butiran buah manis berwarna ungu dan hijau itu hampir habis, beberapa bahkan hanya tinggal tersisa tangkainya saja.

Bahu sempit itu terlonjak ketika Jungkook berkata "Hey, pencuri kecil."

"Sudah kenyang?" Taehyung semakin menegang ketika ia menoleh ia sudah mendapati Jungkook tengah menusuknya dengan tatapan menuduh. Sebenarnya Jungkook hampir tergelak melihat mulut kecil namun tebal itu basah oleh sari anggur yang terlihat manis, tapi rasa geli nya terkalahkan oleh sengatan hasrat yang tiba-tiba menjalari. Pipi yang tadi terlihat tirus kini sedikit mengembung, membuat Jungkook ingin menggali mulut Taehyung dengan lidahnya dan bercinta dengannya.

Taehyung gelagapan, tentu saja, dan Jungkook sangat menikmati ekspresi terkejut itu. Namun ia tidak ingin bermain-main lebih lama.

"Kuharap kau masih lapar, tinggalkan makanan sisa itu dan mari pergi ke ruang makan."

Secepat kilat Taehyung meletakan butiran anggur dimasing-masing tangannya lalu turun dari kursi, namun ketika ia hendak melakukannya ujung handuk yang masih melilit pinggul ramping itu terjepit diantara celah kayu dan membuatnya terpisah dengan tubuh setengah telanjang Taehyung.

Jungkook melotot, ia segera menegakan tubuhnya. Sedangkan Taehyung masih dalam mode luar angkasa akibat rasa dingin yang menggelitik pahanya, dan ekspresi Jungkook kini sungguh luar biasa berharga.

"Bukankah tadi sudah kubilang untuk ganti baju?!" Jungkook membentak, dan Taehyung terkesiap karenanya. Suara bariton khas orang dewasa itu membawa Taehyung kembali ke bumi, ia meringis dan Jungkook melesat ketika ia hendak kembali menutupi pahanya yang terbuka dengan handuk.

Mengulurkan tangannya, lagi-lagi Jungkook menahan tindakan refleks Taehyung yang benar-benar menjengkelkan. Ia bahkan lupa sudah berapa kali Anak ini membuat kejantanannya tersentak didalam celana. Bahkan terakhir kali ia hampir saja mengabaikan berkas-berkas pentingnya, dan ini saat mereka sedang sama-sama kelaparan dan butuh makan.

Jungkook tentu mengerti, seks membutuhkan tenaga, dan anak ini- ia akan menghabisinya tanpa ampun. Karena hampir semua sikap naif nya membuat ereksi Jungkook mengeras dan terasa sakit.

"Aku memang ingin ganti baju, tapi semua bajuku ada didalam tas yang dibawa orang bernama Yugyeom tadi." Taehyung dapat merasakan syaraf vena nya berdenyut tepat pada pergelangan tangan yang Jungkook genggam, pria itu mendengus dan cuping hidungnya kembang-kempis menghirup udara. Jungkook marah atau berhasrat sebenarnya? Dia seperti pria kaya yang gila seks, -oh, atau memang sudah?

"Lupakan, tinggalkan handuk sialan itu. Kau seharusnya lapar. Aku tidak ingin kau pingsan setelah aku membuatmu melepas kaus itu lalu menghukummu."

Sekali lagi Taehyung merona, dan meninggalkan handuk tebal itu didapur, Jungkook membawa Taehyung menuju ruang makan yang sudah terhidang banyak makanan disana.

Well, beruntung beberapa asisten rumah tangga nya mengambil cuti untuk beberapa hari. Karena ia tidak akan merasa was-was meski menelanjangi anak itu sekarang juga, tapi tetap saja. Mereka butuh mengisi perutnya dengan energi.

Setelah sampai di ruang makan, Taehyung melongo hingga mulut nya hampir kebanjiran liur. Semua makanan diatas sana benar-benar menggoda dan menggiurkan. Mendadak penghuni perutnya mulai menabuh drum didalam sana, mendorong Taehyung untuk segera duduk disalah satu kursi dan menyantap segala yang ia lihat.

Tapi, dengan makanan sebanyak ini hanya mereka berdua yang akan makan? Begitu?

Jungkook menarik salah satu kursi untuk Taehyung duduk, menyadari hal itu Taehyung segera bertengger disana. Ugh, astaga apa-apaan perilaku manis ini setelah ia menggebu-gebu tadi?

Taehyung sedikit menarik t-shirt Jungkook kebawah agar itu tetap menutupi pahanya, namun setelah beberapa kali ditarik malah semakin merengut keatas. Ia mendesah frustasi, dan Jungkook memperhatikan sambil menarik kursinya sendiri untuk duduk.

"Biarkan saja, lagi pula tidak akan ada apapun untuk menutupinya nanti."

Taehyung menghembuskan nafas untuk menetralisir tendangan didadanya, mengapa setiap kali Jungkook memberikan isyarat-isyarat kecil seperti ini jantungnya selalu terpompa cepat.

Mengabaikan kediaman Taehyung, Jungkook membalikan piring makan nya dan dari arah belakang datanglah pria jangkung yang tadi membawa tas nya. Yugyeom menggenggam teko air berukuran sedang ditangan kanannya, lalu tangan yang lain mengambilkan sebuah mangkuk kecil untuk Taehyung dan menuangkan teh hijau itu kedalam cangkir Jungkook, kemudian milik Taehyung.

Sekilas ia memperhatikan Taehyung tanpa menatapnya, menyadari keadaan dan apa yang Taehyung pakai, kemudian ia berkata dengan sopan. "Saya minta maaf tuan, anda pasti sudah kesulitan selama saya tidak ada."

Jungkook mengambil beberapa sushi ke piringnya menggunakan sumpit, tanpa memperhatikan Yugyeom dan Taehyung ia mencelupkan salah satu sushi kedalam saus lalu memakannya. Sangat berkelas dan tenang, kemudian ia menimpali kalimat Yugyeom.

"Ya, karena itu ia hampir menghabiskan satu keranjang buah didapur. Sepertinya aku harus memotong gajimu ya Yugyeom."

Mendengar itu Taehyung melotot, dan disampingnya Yugyeom hanya mampu tersenyum sambil membungkuk sopan kearah Jungkook.

"Saya minta maaf tuan, itu tidak akan terjadi lagi."

Apa-apaan pria ini, candaannya bahkan terlibat sangat serius.

Taehyung masih belum menyentuh makanannya, ia masih terlalu bingung dengan kepribadian Jeon Jungkook. Bagaimana tatapan dingin nya bisa terasa panas diseluruh tubuh Taehyung, bagaimana suaranya membuat kupu-kupu diperut Taehyung melebarkan sayap, bagaimana ia memerintah dan membuat semua orang termasuk dirinya tunduk begitu saja.

Ah, Taehyung merasa frustasi.

"Makan, atau kau mau kita langsung pergi ke atas ranjang saja?"

Taehyung melirik waspada kearah Yugyeom, hey! Mulut cabul itu mengapa tidak pandang tempat dan situasi! Tapi ia tidak mendapati perubahan pada wajah pelayan itu sama sekali.

Dari pada Jungkook benar-benar merenggut kesempatan memenuhi perutnya, Taehyung pun segera meraih sumpit dan menyomot lembaran tipis daging sapi lezat yang sudah matang dari dalam kuah mendidih diatas meja. Sejak tadi Yugyeom memasukan daging dan sayuran kedalam kuah shabu-shabu milik Taehyung.

Ia hanya sedikit aneh karena menu miliknya berbeda dengan yang Jungkook makan. Meski Taehyung belum pernah mencoba sushi sekalipun, nampaknya Jungkook banyak mengetahui makanan apa yang paling mudah disukai anak kecil -ya, terkecuali beberapa jenis sayuran itu.

Taehyung melahap makanannya dalam diam, setelah ia merasa penuh Yugyeom membereskan peralatan kotor dari atas meja kemudian datang dari arah dapur dengan membawa buah-buahan beku, krim asam, gula merah halus dan cokelat cair untuk hidangan penutup.

Anak itu tidak dapat berkata apapun selain "Wah~!" Dan Jungkook tersenyum melihat binar dimatanya.

"Silahkan tuan.." Taehyung segera mengambil satu stawberry yang terlihat padat dan gemuk untuk ia masukan kedalam mulutnya setelah Yugyeom berderap kembali ke dapur, namun lagi-lagi tangan Jungkook menahan.

"Tidak, bukan begitu caranya." Ia mengambil buah strawberry dari tangan kecil Taehyung "perhatikan aku." kemudian Jungkook mencolekan buah tersebut kedalam krim asam lalu kembali melakukan hal yang sama pada serbuk gula merah diwadah berbeda.

Taehyung berpikir Jungkook akan menyuapinya ketika ia membuka mulut, namun dia membawa stawberry lezat itu kedalam mulutnya sendiri. Taehyung cemberut ketika Jungkook menyipit akibat sensasi masam yang menyapa lidahnya.

"Cobalah."

Sebenarnya Taehyung ingin marah, namun Jungkook yang nampak tidak terlalu memperdulikan perasaannya membuat ia meraih buah paling besar disana. Tiba-tiba perutnya ingin diisi lebih banyak, Jungkook adalah brengsek yang sangat seksi dan Taehyung mulai membenci bahwa ia sangat menyukai pria itu. Astaga ini jatuh cinta yang terlalu dini Taehyung.

Ia mengupas pisang lalu mencelupkannya kedalam cokelat cair yang perlahan-lahan membeku, Taehyung segera melahapnya, namun akibat diameter pisang yang lumayan besar ia harus lebih melebarkan mulutnya.

Jungkook terdiam melihat itu, dan kejantanannya kembali menyentak dari dalam celana. Berdenyut-denyut dan hampir meledak.

Pisang biadap!

Manik obsidian itu berkilat, "Kau tahu Kim Taehyung? Sepertinya aku tidak akan menunda-nunda waktu lagi. Lepaskan pisang sialan itu dan kita akan langsung kekamarku."

.

.

.

.

TBC~

Maafken disini Jungkook jadi kayak super mesum :'v tapi lagi bersemangat banget nih nulis yang tema nya beginian xD *plz- ff lu rate-m semua ell *shy

Although, please give more love for my work if you like it~ Just read and review, it will makes me happy.. ^^

See you in next chapter~