CLAIMED
by
Ellden-K
Warning! This is KookV fanfiction with dominant Kook and submissive Tae!
DLDR! Rating Dewasa! Anak kecil mari kita pergi *shy
Kid!Tae! Pencemaran kepolosan! Author mengada-ada! Stupid grammar! Mengotori pikiran & mengandung banyak kalimat tidak sopan!
¤ Jeon Jungkook & Kim Taehyung
Prev : Masih dengan kedua mata yang sama-sama terpejam, masih dalam keadaan tubuh bertelanjang. Akhirnya Taehyung terlelap begitu saja. Meninggalkan Jungkook yang masih menciumi belakang telinga nya.
Bab 04 - Silly Gifts
Taehyung menggeliat pelan diatas permukaan kasur yang empuk saat sinar matahari menerpa wajahnya, ia hendak meregangkan tubuh ketika rasa nyeri diantara belah pantatnya terasa menusuk.
Bocah itu meringis, ia segera menelusupkan tangan kedalam selimut untuk sekedar memijat pinggulnya.
Astaga, mengapa seluruh tubuhnya terasa sangat pegal sekali. Apalagi dibeberapa bagian seperti pangkal paha dan tulang punggungnya yang malang. Rasa berdenyut tak kunjung menghilang ketika ia telah mengumpulkan kesadarannya.
Taehyung segera bangkit saat kilasan memori semalam mengelilingi kepala nya. Dia telah tidur dengan Jeon Jungkook, bujangan tampan yang kaya itu bahkan memaksa Taehyung untuk terjaga semalaman, dan percintaan yang begitu hebat membuat kedua pipinya bersemu merah.
Ia memang sempat terlelap, namun Jungkook kembali membuat Taehyung terbangun dengan remasan sensual pada pantatnya, dan mereka kembali bersenggama. Bagian itu masih terasa perih hingga sekarang, apalagi Jungkook sempat memberikan tiga sabetan disana.
Taehyung membiarkan bola mata lucu nya berkeliling, mencari sosok Jungkook yang sudah tidak diketahui keberadaannya. Ya, ia terbangun tanpa siapa-siapa didalam kamar, kecuali selimut dan sprei yang berantakan.
Secepat kilat rasa sedih menelusup disela hati kecilnya. Jungkook telah pergi begitu saja setelah percintaan panas mereka semalam, dan ia tidak meninggalkan catatan apapun untuk Taehyung.
Bocah kecil itu tidak berkata apa-apa ketika rasa nyeri kembali menyerang setelah ia menyingkap selimut dan berniat turun dari kasur, Taehyung hanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka dengan sebelah tangannya memegang kebelakang.
Astaga, dia butuh mandi dan salep.
.
.
.
Setelah melewati perjuangan panjang untuk membawa dirinya kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuh, Taehyung kini sudah kembali kekamar dengan wajah yang lebih segar.
Masih membungkus diri dengan handuk. Perlahan, ia melangkahkan kaki kearah lemari besar diseberang kasur, menjaga agar rasa sakit yang menusuk tidak datang tiba-tiba lagi. Setelah sampai ditempat tujuannya, Taehyung kembali tertegun. Oh ya Tuhan! Taehyung hampir lupa bahwa tas nya masih berada ditangan Yugyeom. Apakah ia harus kembali menutupi tubuhnya hanya menggunakan handuk? Tapi Jungkook mungkin akan kembali memarahi nya.
Namun sebuah tali ransel yang familiar menyembul dibawah pintu lemari, Taehyung segera membuka nya akibat rasa penasaran yang mengganggu, dan ia terkejut sekaligus lega saat mendapati tas usang nya ada didalam sana. Tepat berada di undakan paling bawah. Nampak dengan isi yang sudah tertata rapi didalamnya, ia sedikit menampakan ekspresi sedih melihat itu. Semua pakaian lusuh yang Taehyung miliki tampak sangat tidak cocok dengan ruang besar didalam lemari, kelihatan seperti setumpuk baju kotor didalam brankas emas.
Ia mendesah lesu, kemudian menurunkan handuk yang sejak tadi memeluknya.
Taehyung mengambil kaos putih dan celana pendek berbahan katun dengan warna biru langit yang nampak kusam.
Sambil mengenakan pakaiannya dengan hati-hati, kepala cantik Taehyung kembali melakukan kilas balik tentang kegiatan seks nya bersama Jeon Jungkook. Tak terhitung berapa kali ia datang sebelum lelaki itu, tentu saja Taehyung dapat merasakan efeknya sekarang. Ia merasa lemah dan tanpa tenaga, semuanya terkuras habis bersama dengan hasrat Jungkook yang sangat sulit padam.
Karena Jungkook selalu membangunkan Taehyung, ia jadi tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
Ketika ia hampir selesai dengan ujung kaos yang baru sampai dipertengahan dada, Taehyung dikejutkan dengan ketukan dan juga pemberitahuan sopan dari Yugyeom.
"Tuan, apa anda sudah bangun? Ini waktunya sarapan." Orang itu berbicara dari luar, namun sedikit banyak Taehyung dapat mendengarnya. Menetralisir perasaan terkejut yang membuat jantungnya berlari, Taehyung segera melangkah mendekati pintu. Sedikit meringis ia menilik dengan kepala menyembul untuk melihat keluar, kelihatan Yugyeom masih setia menunggu dengan wajah tanpa ekspresi nya.
"Oh, baik aku akan segera kebawah." Taehyung tidak pernah menjalani kebiasaan sarapan sebelumnya, tapi ia cukup penasaran dengan menu makanan apa yang nanti akan dia santap. Mengingat semalam ia kehilangan banyak energi.
Yugyeom nampak patuh, ia mengangguk kecil tanda mengerti lalu menundukan kepala sopan sebelum akhirnya pergi mendahului Taehyung.
Sejenak, Taehyung berpikir untuk beberapa sekon kedepan. Apakah Jungkook akan ikut sarapan juga? Atau pria itu sudah berangkat kerja? Jika dia masih ada dirumah dan mereka sarapan bersama apa yang harus Taehyung katakan? Apakah suasana akan berubah canggung?
Aduh, bodoh sekali. Taehyung sangat tidak mengerti harus mengeluarkan reaksi seperti apa jika ia bertemu dengan Jungkook setelah percintaan mereka. Ia sama sekali tidak berpengalaman, dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk memuaskan Jungkook dimalam-malam berikutnya- Tidak! Buang dulu yang satu itu! Ia menggelengkan kepala cepat setelah menutup pintu, masih berperang dengan diri sendiri.
Karena semalam Jungkook telah berkali-kali memaksakan Taehyung dan juga dirinya sendiri, apakah mungkin Jungkook merasa tidak puas dengannya hingga ia menginginkan hal itu lebih sering dari yang sepatutnya?
Taehyung takut ia hanya akan dipakai sekali. Tidak! Buang juga yang itu! Ia menendang kepala nya sendiri secara mental, kemudian menggigiti bibir penuh kegelisahan.
Sampai akhirnya geraman familiar bergemuruh didalam perutnya, Taehyung pun menyerah dan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Setelah Taehyung sampai ditempat tujuannya, ia tidak melihat Jungkook dimana pun. Entah batang hidungnya atau batang kemaluan- maaf.
Disana hanya ada Yugyeom yang tengah menata meja dengan satu piring berisikan pancake lezat bersauskan madu yang nampak berkilauan diatasnya.
Seketika Taehyung merasa hampir kebanjiran liur, makanan yang ia lihat selama dua puluh dua jam berada dirumah besar ini semua nya nampak indah dan menawan. Bahkan rasa nya tak kalah dengan penampilan.
Satu kesimpulan yang Taehyung dapat, Yugyeom adalah pelayan serba guna dan memiliki bakat. Sepertinya Jungkook juga tidak sembarang memperkerjakan pegawai nya.
Omong-omong soal Jungkook, ia masih penasaran kemana pergi nya pria itu.
"Um, Yugyeom... Kau tahu, kemana tuan pergi?" Bocah cantik bertanya setelah duduk diatas kursi nya, dan Yugyeom nampak tengah menuangkan susu cokelat kedalam gelas panjang disamping Taehyung.
Lelaki bertubuh tinggi besar itu nampak meluruskan punggungnya, dengan satu tangan memegang wadah berisi susu cair.
"Tuan Jungkook ada dikamarnya, saat pagi buta ia sempat meminta saya untuk membuatkannya kopi, karena ia hendak memeriksa beberapa berkas yang baru datang. Setelahnya ia kembali kekamar. Dia sedang beristirahat sekarang."
Taehyung mencelos, ia seperti merasa patah hati mendengar pernyataan Yugyeom.
Jadi, yang semalam itu bukan kamar Jungkook? Mereka melakukan hubungan intim didalam kamar lain, dan saat Taehyung terjaga pagi ini, itulah alasan mengapa Jungkook tidak ada disampingnya bahkan ketika ia kesulitan dan merasa sakit.
Taehyung meringis ketika ia menggeser pinggulnya mencari posisi yang nyaman.
"Anda baik-baik saja tuan?"
Tidak tentu saja! Bukan pantatku saja yang sakit!
Bocah kecil itu menggeleng, kemudian meraih garpu untuk memotong pancake yang masih panas.
Nampak Yugyeom tidak ingin mengganggunya, ia kemudian pergi entah kemana. Saat Taehyung hendak memasukan suapan-suapan berikutnya, ia kembali dengan membawa sebotol salep luka dan menaruhnya disamping lengan Taehyung.
"Gunakan ini tuan, saya yakin anda memerlukan itu.." Taehyung memerah menyadari maksud Yugyeom. Aduh, seberapa banyak pria ini tahu tentang kejadian semalam? Dari suara Yugyeom yang masih terdengar jelas ketika berbicara dari balik pintu kamar sepertinya tidak menutup kemungkinan suara-suara aneh nan memalukan itu juga terkirim keluar. Hebat, muka nya benar-benar merah.
Taehyung bergumam dengan pancake dirahang kiri nya. "Terima kasih."
Setelah membungkuk setuju, Yugyeom kemudian berderap ke dapur. Meninggalkan Taehyung sendiri didalam ruangan super luas itu, astaga, tak terbayangkan bujangan kaya raya seperti Jungkook hanya tinggal sendirian didalam sini. Setidaknya, ketika para pelayannya diliburkan untuk entah alasan apapun itu.
"Menikmati sarapannya?"
Saat Taehyung meneguk susu cokelat nya dengan bersahaja, suara berat dan seksi milik Jungkook mengejutkannya hingga ia terbatuk dengan cairan tersebut membasahi pakaian lusuhnya.
"Kau seharusnya berhati-hati." Jungkook mendecak, kemudian meraih uluran tissue yang Yugyeom berikan, entah sejak kapan manusia -setengah hantu- itu datang kembali.
Jantungnya berdegup kencang entah karena Jungkook yang tiba-tiba datang atau paru-paru nya yang menghirup susu cokelat barusan. Rasanya sakit dan terbakar, mata nya sampai berurai kesedihan.
Taehyung masih terbatuk-batuk setelah meletakan gelas susu dan meraih tissue dari Jungkook, ia jadi merasa sangat bodoh dan memalukan. Sekarang baju lecek nya malah semakin jelek setelah terkena tumpahan susu, Jungkook yang melihat hal tersebut hanya mampu memberikan tatapan penuh pertimbangan.
Sedangkan ia mengenakan celana sutra dan jubah tidur dengan bahan satin lembut berwarna marun, Taehyung kini malah terlihat berlawanan dengan standar hidup Jungkook.
Pakaian luceknya kotor terkena susu dan pria itu tidak menampakan ekspresi apapun selain menatap Taehyung dengan tanpa merasa terganggu.
"Ganti bajumu. Itu kotor."
Oh ayolah, ini sudah terlihat kotor bahkan sebelum tertupahi susu iya kan Jungkook?
Taehyung merasa sedih dengan dirinya sendiri. Ia hanya mampu mengangguk tanpa menatap obsidian tajam milik Jungkook. Tidak, ia belum berani. Namun ketika Taehyung hendak turun dan pergi menuju 'kamar nya', Jungkook menghadang dengan mengintrupsi "Tunggu, kau meninggalkan sesuatu."
Oh! Ia kembali ingat! Salep luka!
Pemuda cilik itu segera berbalik dan menyambar benda tersebut cukup cepat, hampir membuat Jungkook menukikkan senyuman namun tidak sampai ke mata nya.
"Anda ingin kopi tuan?" Itu suara Yugyeom.
"Yes, please."
.
.
.
Setelah mengambil pakaiannya yang -setidaknya- tak sekotor sekarang, Taehyung berjalan kedalam kamar mandi. Mencoba menurunkan celana pendek yang ia kenakan dan juga celana dalamnya. Setelah benar-benar tidak memakai apapun, ia mencoba berkaca didepan meja rias yang berada didalam kamar mandi. Meski sedikit kesulitan ia tentunya dapat melihat segaris luka memar melintang dibawah pantatnya dan berwarna merah.
Oh, pantas rasanya seperti melepuh. Jungkook benar-benar penuh nafsu saat memukulnya, tapi tadi malam sungguh menyenangkan. Ia senang bisa melihat Jungkook begitu hancur didera nikmat. Mengerang diatasnya dengan kejantanan yang tersentak-sentak mengeluarkan pelepasan didalam dirinya.
Kejadian itu masih terbayang, bagaimana ekspresi ragu Jungkook berganti dengan seringai kepuasan. Tapi setelahnya mereka kembali melakukan itu beberapa kali sampai tengah malam.
Sungguh tubuh berotot yang penuh dengan stamina.
Saat olesan pertama mengenai kulit, yang ia rasakan adalah rasa dingin yang begitu nyaman. Ah, pasti obat yang sangat mahal. Efek nya langsung terasa seketika.
Namun saat Taehyung hendak mengoleskannya pada tempat lain, pintu kamar mandi pun terbuka dan menampakan Jungkook dengan senyuman geli saat Taehyung memekik dan berbalik untuk menutupi tubuhnya. Memunggungi Jungkook yang malah memberikan dia pemandangan pantat memerah milik Taehyung.
"Bokong yang indah, Kim Taehyung."
Ia segera terkesiap, cepat Taehyung membungkuk untuk meraih pakaiannya yang teronggok diatas lantai. Kembali memberikan Jungkook pose erotis saat ia melakukannya, ya meski tanpa ia sadari pria itu sudah merubah ekspresinya dari geli menjadi mimik terkejut namun tak terbaca.
Taehyung akhirnya berbalik dengan muka gugup dan memerah, kedua tangannya melebarkan kaos lusuh yang tadi ia pungut kembali untuk menghalangi selangkangannya.
Melihat Jungkook yang lagi-lagi memangku tangan dengan congkak Taehyung segera berseru.
"Apa-, apa yang kau lakukan disini?! Aku sedang ganti baju tau.."
"Kenapa harus ditutupi? Aku melihat semuanya semalam."
Itu jelas bukan jawaban yang Taehyung inginkan. Ia semakin merona, dan tidak bisa menemukan suaranya. Apalagi saat Jungkook mulai berjalan mendekat dan meraih salep luka diatas washtafel.
"Keluar lah, aku akan membantu mu mengoleskannya."
Seakan bom kupu-kupu meledak didalam perutnya, Taehyung hanya mampu mengikuti Jungkook yang sudah lebih dulu melangkahkan kaki. Setelah keluar dari kamar mandi, Jungkook terlihat sedang duduk dipinggir kasur. Membuka tutup salep yang tadi ia ambil.
Wajah tampan itu mendongkak, tanpa ekspresi yang berarti, sebelah tangannya menepuk permukaan paha berotot Jungkook.
Sialan, itu isyarat, dan Taehyung masih menutupi daerah rahasia nya dengan seonggok baju kusut. Hingga akhirnya Jungkook mengernyit, dan dengan luar biasa, itu sangat berpengaruh terhadap Taehyung.
Ia segera melangkah menuju kasur dimana Jungkook duduk, kemudian setelah benar-benar berada dihadapannya, pria itu menarik pergi satu-satu nya penghalang yang menutupi tubuh Taehyung.
Dia pun kembali bertelanjang bulat dihadapan Jungkook.
"Berbaring telungkup dipahaku."
Oh, bisakah tanpa ada nada memerintah? Taehyung jadi berdebar jika tidak segera melakukannya. Apalagi ditambah dengan sorotan penuh gairah yang bersinar dari mata indah Jungkook.
Taehyung segera melakukannya, dan ia benar-benar berada diatas paha Jungkook dengan posisi sedikit berbeda dari yang semalam. Kali ini hanya perutnya yang ada dipaha Jungkook, ia menekuk sikut untuk menopang tubuhnya agar tidak terlalu menungging.
"Ini bukan luka serius, tidak lama akan hilang." Lelaki kecil itu tidak tahu harus menjawab apa, yang bisa ia lakukan hanya mengangguk patuh, lalu dengungan kecil terdengar ditenggorokannya ketika Jungkook mulai mengoleskan salep tadi dipermukaan luka Taehyung.
Sebenarnya itu bukan luka, hanya kulit yang kemerahan sehabis terkena pukulan. Meski Jungkook sering mendapati hal seperti ini, ia tidak pernah membantu siapapun mengobati luka atau memar yang ia buat. Tapi berbeda ketika ia melihat tingkah menggelikan sekaligus merangsang Taehyung saat bocah itu mengolesi pantatnya.
Jungkook seperti ingin menyentuhnya lagi, namun ia tidak bisa egois karena ia sangat tahu jika Taehyung masih kesakitan akibat perbuatannya.
Biasanya, ketika penguasaan dirinya berkurang, ia akan memaksa. Kendatipun subyek nya merintih kesakitan atau merengek sambil menangis. Jungkook tidak bisa bersikap brengsek seperti demikian kepada Taehyung, entah karena ia dilindungi oleh undang-undang negara atau hal lain.
Meski begitu, ia tidak pernah hilang kontrol sangat cepat sebelumnya, dan Taehyung membuatnya melupakan semua batasan yang ia buat hanya dengan satu malam panas mereka.
Jungkook harus membuat Taehyung yang menginginkannya, ia ingin melihat Taehyung meminta dengan rengekan. Merangkak dan patuh kepada Jungkook.
Tanpa aba-aba apapun, Jungkook mulai membelai belahan pantat Taehyung dengan jarinya yang panjang.
"Ini juga sakit kan?"
Jungkook dapat mendengar seseorang menahan nafasnya dengan susah payah, apalagi ketika ujung jari nya menekan kehangatan yang berdenyut itu. Ia menghembuskan nafas sambil menutup matanya, hampir seperti desahan dan Jungkook memberikan tanda bahwa ia sangat menyukai sensasi dinding rektum Taehyung yang memijat jemarinya.
Retina hitam dengan bulu mata panjang itu berkedip dengan kilatan birahi yang kental, kemudian tangan Jungkook yang lain menelusup untuk meremas dada empuk Taehyung dari bawah.
Bocah itu merintih, sensasi sengatan listrik pun kembali terasa. Jungkook sungguh membuatnya seperti tidak berdaya, setiap godaan yang dilakukan selalu menyulut gairah Taehyung tiba-tiba.
Namun ketika Jungkook hanya mengecupi bahu sempitnya dengan bibir lembut itu, Taehyung menginginkan lebih. Ia ingin Jungkook menyentuhnya seperti semalam, dimana keintiman tidak pernah berakhir dan ditahan-tahan seperti ini.
"T-tuan..." Ia kembali merintih, tangannya mengepal dan meremas sprei. Sedangkan Jungkook menekan-nekan pintu lubangnya tanpa berniat melakukan penetrasi lebih dalam dengan jarinya.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Jungkook sedang merayu, pastinya, dan Taehyung mengangguk dengan raut wajah memelas yang tidak ingin ia perlihatkan.
Pria itu tersenyum diam-diam, tentu saja ia tahu apa yang Taehyung butuhkan. Ia mengetahuinya sampai detail terkecil, apapun yang anak ini inginkan Jungkook tentu bisa memberikannya. Tapi ia akan menunggu, untuk sebuah pengakuan Taehyung dan inisiatif kecil yang muncul didalam kepala cantik nya.
Jungkook menghendaki setiap geliat sensual yang Taehyung lakukan, dan anak manis itu mulai menggumam dan merengek.
"Aku tidak mengerti, aku hanya ingin..." Suaranya tertahan oleh lenguhan saat Jungkook memelintir putingnya dibawah, menggeseknya dengan ibu jari.
"Aku senang untuk kemajuan kecil ini, kita harus melakukan komunikasi yang lebih baik lagi." Pantulan bass dari tenggorokan Jungkook menggetarkan syaraf gairah dalam tulang belakang Taehyung, dan pria itu melanjutkan kalimatnya, "Apa yang kau inginkan Kim Taehyung?"
Astaga, ia hanya anak kecil lucu yang merasakan gairah tak pantas dari seorang pria dewasa pertengahan dua puluhan, dan Taehyung tidak dapat menahan keinginannya untuk disentuh lebih intens lagi. Kendati rasa sakit dipangkal paha nya menunjukan bahwa ia benar-benar bergairah untuk Jungkook.
"Aku.. Aku ingin seperti semalam..." Ia bingung, "tapi, bagaimana aku menyebutnya."
"Yang mana?" Jungkook sengaja semakin menggali keinginan Taehyung, tapi ia tahu pengetahuannya tentang seks masih terbatas dan Jungkook tidak keberatan jika harus menjelaskan beberapa hal. Namun melihat wajah polosnya kebingungan, itu sungguh tontonan yang menghibur.
"Seperti semalam..." Volume dalam suaranya mengecil.
"Yang mana?" Ia kembali mengulang pertanyaan, kemudian otak cabulnya berniat semakin memusingkan anak itu. "Posisi konvensional? Felatio? Doggy style? Atau kau ingin melakukan foreplay dulu?"
"Aku... Tidak mengerti.." Tentu, itu adalah istilah-istilah dewasa, namun Jungkook tidak menggunakannya didalam kantor ataupun ruang rapat.
"Kau akan." Jungkook berbisik ditelinga nya. "Tapi aku dapat mengerti jika kau mau menjelaskannya dengan bahasa mu sendiri."
Taehyung mengangguk.
"Apa yang kau rasakan semalam?"
"Sakit..."
"Kau ingin yang menyakitkan lagi?"
Ia menggeleng.
"Lalu apa? Beritahu aku?" Pria itu kembali memelintir putingnya, kali ini dengan gerakan halus dan Jungkook menyeringai setelah mendengar desahan kecil yang Taehyung tahan.
Terlihat begitu gampang ketika Jungkook mengangkat Taehyung untuk terduduk menghadapnya diatas paha, tentunya setelah salep yang menempeli pantat Taehyung kering sepenuhnya. Kedua tangan kurus itu berada dibahu Jungkook. Taehyung semakin menunduk ketika pria itu kembali membungkuk untuk menjilat belakang telinga nya, ia gemetar dilanda nafsu dan nampak begitu pula dengan Jungkook. Ia menghembuskan nafasnya tepat menerpa helaian karamel lembut milik Taehyung, kemudian reaksinya hanya desahan kecil dan menggigit bibir.
Taehyung terengah, ia ingin sekali merasakan kembali bibir Jungkook membingkai mulutnya. Memberikan stimulan tak biasa yang belum pernah Taehyung rasa sebelumnya. Ia mendongkakkan wajah ketika Jungkook hanya diam menunggu jawaban, menatap kearah bibir penuh Jungkook yang berwarna kemerahan.
Pasti ada rasa kopi di lidahnya, karena Taehyung dapat mencium aroma kafein yang sangat harum, juga perpaduan antara kesegaran mint dan wangi kopi yang di roasting sendiri.
Taehyung menempelkan pipi mereka malu-malu, sedangkan Jungkook menyunggingkan seringai tanpa diketahui siapapun. Ia mengecup pipi Taehyung, dan nafas panas menghembus tepat ke telinga nya.
"Ingin sebuah ciuman?"
Akhirnya bocah itu mengangguk juga, kemudian Jungkook memanuver bibirnya membingkai mulut Taehyung. Ia melumat dan menutup mata, dan Taehyung mendengus karena perkiraannya benar. Lidah Jungkook terasa kafein dan aroma segar mint membuat Taehyung membalas belaian lidah Jungkook. Ia mengeratkan pelukan pada leher Jungkook, menahannya agar tidak pergi dan melepaskan ciuman itu.
Taehyung sudah benar-benar bergairah, bahkan sapuan lembut telapak tangan Jungkook menstimulan syaraf gairah nya tanpa aba-aba. Taehyung memang tidak mengerti bagaimana mencium seorang pria berpengalaman seperti Jungkook, tetapi ia berusaha sebaik mungkin. Mengikuti langkah yang Jungkook lakukan sebelumnya dan menerima setiap serangan lidah pria itu dengan sukarela.
Jungkook mengerang dan melepaskan ciuman ketika tangan kecil Taehyung mulai merambat kebalik celah jubah tidurnya, mengusap dada bidang nan keras yang tidak Jungkook pertunjukan semalam.
Ia menyentak dan mencengkram kedua pergelangan tangan Taehyung, menatapnya dengan tajam namun sepercik sinar kegelian muncul diantaranya.
"Dasar bocah nakal. Aku hanya menawarkan ciuman, jangan serakah."
Taehyung hanya merengut sambil menatap Jungkook dengan bola mata ala anak anjing nya. Karena itu, pria Jeon tersebut mendengus geli.
"Pakai pakaianmu saat aku keluar dari sini dan turun kebawah. Aku membelikanmu sesuatu."
Jungkook mengangkat Taehyung dan memindahkannya kesamping dengan mengapit dua ketiaknya, anak itu masih terengah dan mendongak ketika Jungkook bangkit dan menutup pintu dibelakangnya.
Membelikan sesuatu? HADIAH?!
Oh yeah, Taehyung suka hadiah.
.
.
.
Jungkook sedang terduduk sambil memfokuskan mata pada benda persegi yang sedang ia elus-elus. Ia menggunakan sebuah kacamata ramping dan wajahnya nampak serius, kelihatannya Jungkook sedang memeriksa sebuah laporan pengeluaran tahunan perusahaan yang ia bina. Sepenuhnya mengacuhkan keberadaan Taehyung yang kini tengah termangu dengan rahang terbuka menatap seluruh permukaan meja.
Ada puluhan paper bag diatasnya, dengan warna-warna dan nama toko berbeda.
Setelah Taehyung hampir tidak bernafas selama dua puluh detik, Jungkook akhirnya menggulirkan permata hitam asia itu kearah sang submisif.
"Suka dengan yang kau lihat?"
Taehyung tidak dapat menemukan suaranya. Ia hanya mengatupkan rahang siaga sambil menatap Jungkook dengan takjup, tidak pernah ia menerima hadiah sebanyak ini. Tidak selama masa hidupnya yang menyedihkan.
Jungkook benar-benar sesuatu.
"Buka yang mana saja yang kau suka." Kata Jungkook sambil meletakan ipad nya diatas meja, ia masih mengenakan kacamata dengan jubah tidur dan tampak sangat seksi sekali. Melipat kakinya diatas lutut dan memangku tangan, mencondongkan tubuhnya kedepan untuk melihat ekspresi Taehyung.
Fix! Dia memang sesuatu!
Taehyung meraih sebuah paper bag besar berwarna cokelat, ia segera merogoh isinya dengan antusias kemudian mengeluarkan sebuah boneka bulu berbentuk beruang berwarna pink.
"Teddy bear?" Ia bertanya linglung.
Apa dia bercanda?! Teddy bear?! Warna PINK?! Jungkook pikir berapa umur Taehyung?! Tapi dengan percaya dirinya dia memberikan boneka seperti ini?! Ini sebuah penghinaan! Ini tidak bisa diterima! Apa maksudnya?! Apa yang Jungkook pikirkan?!
ITU SANGAT LUCU! Taehyung mengerang didalam hati, ia tidak pernah punya yang seperti ini!
Ia memeluk boneka itu secara mental, menggosok-gosok pipinya pada permukaan boneka yang lembut dengan ekspresi memuja dan air mata imajiner bergelombang-gelombang dipipinya.
Taehyung berdehem, kemudian meletakkan boneka teddy dipermukaan meja yang kosong. Membuka bungkusan yang lain, ia menemukan sebuah action figure berbentuk iron man.
Kali ini Jungkook yang berdehem.
"Itu milikku, letakkan kembali."
"Ow.."
Taehyung meletakkannya kembali lalu membuka yang lain.
Robot gundam.
Sekali lagi, Jungkook sepertinya tidak tahu berapa umur bocah ini. Penghinaan yang lain.
Taehyung mengerang didalam hati dan meloncat-loncat seperti anak umur lima tahun. Dia sangat suka!
Jungkook memperhatikan kediaman Taehyung saat ia membuka semua barang-barang yang Jungkook belikan, tak ada ekspresi lain selain senyum kecil atau wajah biasa-biasa saja, apakah bocah itu tidak menyukai pemberiannya? Jungkook memang agak sedikit bingung berapa umur Taehyung, karena dia nampak seperti seorang anak berusia sebelas atau tiga belas tahun. Tapi mengingat permintaannya dikamar tadi pasti lebih, hanya saja wajah imut itu tidak menunjukan kemungkinan umur yang lebih tua dari tebakan Jungkook.
"Aku juga membelikan beberapa baju dan sepatu untukmu, kau suka mainannya?"
Taehyung mengangguk pelan.
Suka! Sangat suka! Aku tidak punya yang seperti ini saat kecil! -Astaga betapa menyedihkan. Tapi, Terima kasih! Aku ingin menciummu lagi! *ups
Ia merona, tapi kemudian bertanya dengan nada sedikit tak terkontrol, "T-tuan tidak perlu melakukan itu. Tapi, bagaimana tuan tahu ukuran baju dan sepatuku?"
"Tidak sulit, aku hanya meminta pakaian untuk anak umur tiga belas tahun dengan tinggi tidak lebih dari ujung kaki sampai dadaku."
Tiga belas ya? Apa aku sekecil itu?
Taehyung tidak menjawab, meski sedikit penasaran apakah ukuran baju anak tiga belas tahun akan muat ditubuhnya, ia hanya membuka paper bag yang lain. Kemudian alisnya terangkat kebingungan setelah mengeluarkan sebuah benda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Jungkook memperhatikan, namun matanya mulai berkabut penuh keinginan.
"Apa ini?" Taehyung mengeluarkan sebuah *cock ring, lalu meletakkannya diatas meja. "Ini juga?" Ia mengeluarkan *butt plug dan sejenis pelumas dengan merk tak dikenal.
Tangan kecilnya mengorek lagi, kemudian mulutnya membulat setelah mengeluarkan *blind fold dan *dildo.
"Eh.. Ini apa? Untuk apa?" Ia bertanya kepada Jungkook dengan nada hati-hati, kemudian meletakkan benda yang mirip dengan sesuatu kepunyaan Jungkook, meski yang ia pegang kini terlihat lebih kecil. Ujungnya tumpul dengan permukaan yang halus dan elastis. Taehyung meneguk ludah.
"Itu masih mainan.." Kata Jungkook dengan tenang. "Dan kau kembali membuka sesuatu yang adalah milikku." Taehyung memucat. "Sebagai gantinya akan kumainkan bersamamu."
Oh yeah, celaka sudah.
.
.
.
TBC
Hei~ beibiehh!
Kembali lagi dengan update chapter 4 ini xD
Menurut kalian Taehyung itu punya karakter malu-malu leopard gini bagus atau enggak sih? XD
Takutnya kalo bikin Taehyung yang polos jadi rada cabul dan masih kecil gini para fans nya taetae pada bawa obor sama golok lagi xD
Oya, call me Ell & jangan lupa RNR~
See you next part~
