CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : "Itu masih mainan.." Kata Jungkook dengan tenang. "Dan kau kembali membuka sesuatu yang adalah milikku." Taehyung memucat. "Sebagai gantinya akan kumainkan bersamamu."
Bab 05 - Hide & Seek
Setelah selesai menggeledah semua isi paper bag diatas meja, Taehyung menghela nafas sambil mengusap keningnya yang tercecer keringat imajiner.
Tanpa henti ia memandang bermacam pakaian dan sepatu berbagai brand itu dengan pipi merona dan mata berbinar, meski sebelum itu ia nampak pucat dan tak berjiwa. Nyatanya Taehyung terselamatkan oleh dering ponsel Jungkook yang mengharuskannya mengandangkan diri didalam ruang kerja -lagi-.
Melihat bentuk beberapa mainan milik Jungkook entah mengapa Taehyung selalu menghubungkannya dengan seks, ya kecuali dengan action figure iron man yang tadi. Karena ada sebotol pelumas didalam bag, bersama dengan mainan berbentuk penis itu.
Tidak diragukan lagi, Jungkook memiliki keinginan memainkan semua benda itu kepada Taehyung. Meski ia tidak dapat mengerti bagaimana mempergunakannya, hingga tidak ada bayangan bagaimana nanti ketika mereka bermain dengan itu.
Memikirkan hal tersebut saja membuat Taehyung berdebar tiba-tiba, pipinya merona dan ada sedikit rasa penasaran. Bagaimana rasanya ketika mereka memainkannya bersama. Oh, sial Jungkook. Dia kembali mencemari kepalanya.
"Anda ingin saya membawa barang-barang ini kekamar tuan?"
Sambil kembali merapikan isi meja, ia dikejutkan kembali oleh kedatangan Yugyeom yang tiba-tiba. Taehyung hanya terlonjak kecil lalu menoleh, dan senyum kecil diperlihatkannya.
"Tidak, terima kasih..." Jawab Taehyung dengan sopan.
Dikarenakan Jungkook sama sekali tidak mengamankan benda-benda miliknya, Taehyung sedikit kebingungan untuk memberitahu Yugyeom untuk membawanya juga. Siapa tahu pria itu mengintip apa yang ada didalamnya, tapi Taehyung cukup yakin ia tidak akan melakukan itu. Kendati demikian, barang-barang terlarang milik Jungkook sama sekali tidak dibungkus oleh apapun lagi, yang otomatis meski Yugyeom tidak membuka paper bag, itu akan tetap terlihat.
Firasat Taehyung mengatakan, salah satu benda itu memang tidak untuk dilihat oleh Yugyeom. Mungkin Jungkook akan malu, atau sebaliknya.
Yugyeom tidak ambil pusing, ia hanya mengangguk mengerti kemudian meninggalkan Taehyung untuk pekerjaan yang lain.
Bocah itu memutuskan untuk menunggu Jungkook, namun sama seperti kejadian kemarin siang. Pria itu terlalu lama larut dalam pekerjaannya, Taehyung jadi bosan dan tidak tahu harus melakukan apa.
Setelah beberapa kali mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung jari lentiknya, ia memelihat robot gundam yang balas menatapnya.
"Oh ya, aku lupa aku adalah pemilikmu.." Kemudian ia melirik paper bag milik Jungkook.
•
•
•
Jungkook mendengus lesu setelah meregangkan tubuhnya sesaat, bias cahaya laptop yang menyinari wajahnya nampak memberikan kilauan lain dari kacamata ramping dan retina legam indah miliknya.
Ia mematikan laptop, kemudian dua jari panjang itu memijat pertemuan antara pangkal hidung dan lekuk mata.
Gorden kelabu yang menutupi jendela sama sekali tidak membantu untuk membuatnya terlelap barang sebentar, ia menyandarkan kepalanya pada headrest kursi dengan mata terlelap. Kejadian pagi tadi masih membekas dalam ingatannya, dimana bokong mungil itu mengundangnya tanpa sengaja. Membuat Jungkook tersenyum kecil.
Ia masih menutup mata ketika suara robot mainan mulai memasuki jarak pendengarannya, Jungkook membiarkan hal itu karena ia pikir Taehyung pasti sedang bermain dengan robot baru nya. Namun mengingat jarak ruang makan dan kantornya agak sedikit jauh, Jungkook akhirnya membuka kelopak mata dan mendapati sebuah robot gundam berjalan kaku dengan lampu disekitar body nya menyala-nyala. Itu juga mengeluarkan suara khas robot-robotan biasa, hanya saja Jungkook tidak mengerti kenapa benda itu bisa sampai ke ruang kerjanya. Ya, Jungkook membiarkan pintu ruangan terbuka lebar-lebar, itu adalah suatu kebiasaan dan langkah-langkah kaku dari robot tersebut membawanya memasuki ruangan.
Jungkook mengernyit, namun ekspresi kebingungan itu tergantikan oleh obsidiannya yang melotot kaget.
Awalnya hanya kelihatan sebuah tangan kecil yang kurus, kemudian menyembul lah kepala berambut caramel dengan mata yang tertutup blindfold menapaki pualam bening dan merayap seperti bayi.
Mencari-cari dan mengikuti kemana suara robot itu pergi.
Sial. Apa yang bocah ini lakukan dengan kain penutup mata itu?!
Jungkook menggeser kursi kerja nya tanpa suara dengan mudah, hingga dirinya ada disamping meja kerja dan tepat berada pada jalur lintas robot tersebut.
Mainan itu berjalan kearahnya, dan Taehyung mungkin hanya beberapa kaki dibelakang.
Tubuh kecil itu terbalut kaus lusuh kebesaran, hingga saat ia merangkak dada kecilnya menampakan diri diarea pandang Jungkook. Meski itu bersembunyi dibalik kaos kebesaran miliknya, Jungkook jadi berpikir ia mesti membelikan baju-baju yang lebih besar untuk Taehyung agar selalu dapat melihatnya seperti demikian.
Tapi Taehyung kecil yang ringkih merangkak kearahnya dengan mata tertutup kain merupakan pengalaman erotis yang langsung membuatnya tegang didalam celana dalam waktu singkat, meski hal tersebut sama sekali tidak Taehyung sadari, karena Jungkook bertaruh ia hanya sedang melakukan permainan anak kecil yang ternyata berdampak lain.
Tubuh mungil itu semakin mendekat, dan robot gundam yang tadi berjalan kaku bahkan sudah menabrak kaki Jungkook setelah kemudian berguling dengan kaki masih bergerak-gerak. Taehyung berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil dan semakin mempercepat langkahnya.
Jungkook menahan nafas, sepenuhnya mencegah geraman rendah keluar meski hanya berteriak lewat tenggorokan. Ia membungkuk untuk meraih robot gundam tersebut lalu meletakannya diatas paha, ketika ujung jari Taehyung menyentuh sandal rumah bertekstur lembut ia sama sekali tidak tahu apa itu.
Namun pendengarannya terus menangkap keberadaan gundam kesayangannya. Hingga ia bertumpu pada lutut dan jemari mungilnya menelusur celana tidur Jungkook hingga menyentak kejantanannya. Membuat itu menyembul samar diantara keremangan ruangan.
Jungkook masih menggenggam robot gundam Taehyung untuk membuatnya semakin keatas hingga bocah itu tak sengaja menyentuh bukti gairah Jungkook ketika suara yang selama ini ia cari menghilang.
Taehyung tersentak, hampir menarik brutal kedua tangannya setelah ia tak sengaja menyantuh permukaan semi keras yang berdenyut dan panas itu, jika saja Jungkook tidak lebih cepat untuk menyambar tangan Taehyung yang hendak menghindar mungkin dia sudah terpelanting kebelakang.
Jungkook meletakan robot diatas meja. "Apa yang sedang kau lakukan anak nakal?" Suaranya rendah dan serak, sarat akan semua gairah yang sejak tadi ia tahan sampai terasa sakit.
Melihat Taehyung terkesiap, secepat ia menaruh robotnya, secepat itu pula Jungkook mencekal tangan bebas Taehyung yang hendak membuka penutup matanya.
Bocah manis itu nampak kebingungan, tentu saja dadanya berdetak amat keras. Menyadari kesalahan lain yang ia perbuat, Taehyung panik bukan main. Pasalnya ia sama sekali tidak tahu jika permainan petak umpet sialan ini akan membawa dirinya kepada Jungkook, dan lagi Taehyung menggunakan mainan kepunyaan tuan nya tanpa izin. Sungguh, Taehyung tidak pernah menyangka jika dia akan tertangkap basah seperti ini.
"Tu-tuan... Aku tidak-" suaranya tertelan ditenggorokan, Taehyung tidak tahu harus mengatakan apa. Mungkin Jungkook akan kembali -atau sudah- kesal dan memarahinya lagi.
"Apa yang kau lakukan Kim Taehyung? Jawab aku." Tanya Jungkook dengan semua nada tuntutan dalam setiap kata nya.
Bocah dalam genggamannya masih kebingungan, matanya tertutup dan ia sama sekali tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada Jungkook. Ia ingin merajuk, tapi mata anak anjingnya mana mungkin terlihat jika ditutup seperti ini. Berpikir tae! Berpikir!
"Uh, main.. Petak umpet..."
"Huh?"
"Mm-hmm.." Anak kecil itu mengangguk lugu. "Aku bosan jadinya aku bermain dengan robot itu, eh omong-omong soal robot-"
Sebelum Taehyung menyelesaikan pertanyaannya tentang dimana letak robot gundam nya, Jungkook sudah terlebih dahulu menyentak Taehyung agar berdiri tepat diantara kedua paha Jungkook.
Jantungnya berdentum didalam dada, masih dengan kedua tangan yang terpenjara, Taehyung menarik nafasnya dalam-dalam ketika merasakan hembusan udara panas dari Jungkook ditelinga nya.
"Kau tahu sedang ada dimana?" Suara itu mengganggu sistem aliran darah Taehyung karena denyutan nadi nya berdentum hingga telinga dan ujung kaki. Taehyung tidak tahu saja mungkin Jungkook juga sedang ingin bermain-main dengannya karena semua pekerjaan itu membuat ia lelah.
Taehyung menggeleng gugup, hingga ketika ia melakukannya pipinya dan Jungkook bertabrakan tak begitu keras.
"Ini adalah kantorku, ruang pribadiku." Taehyung menegang. "Sembarang orang tidak diperbolehkan keluar masuk sesuka hati mereka."
Taehyung menelan gumpalan keras ditenggorokannya dengan susah payah, tapi ia masih tetap mendengarkan Jungkook.
"Kau tahu artinya itu?"
"Tidak.. Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk masuk tanpa izin.. Maafkan aku tuan. Maaf-"
"Tidak ada maaf, sudah kubilang kan?"
Taehyung menunduk ketika Jungkook menyentak.
"Kau harus belajar untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan Kim Taehyung." Bisik Jungkook dengan nada sehoror mungkin. "Dan itu artinya, kau akan menerima hukuman saat ini juga."
•
•
•
Taehyung tidak tahu jika sebuah permainan kecil yang ia lakukan dapat menyulut gairah Jungkook begitu saja, apalagi ia sama sekali tidak sengaja telah dengan tidak sopan memasuki ruang pribadi orang lain.
Ketika Jungkook bangkit dari kursinya Taehyung terantuk akibat ujung hidungnya yang menabrak diafragma Jungkook. Dari situ ia dapat mencium aroma rempah yang sejak tadi pagi terus menggoda indra penciumannya, Jungkook sangat harum, aroma parfum mahal yang sangat berbeda jauh dengan bebauan cologne murahan orang-orang yang datang ke club untuk membeli minuman.
Rasa cemas dan keinginan bersatu padu ketika Jungkook mulai membelenggu kedua tangannya kebelakang. Memegangnya dengan satu tangan dan tangan lain meraih sesuatu dari dalam laci. Taehyung dapat mendengar gesekan khas ketika Jungkook menarik kenop kecil dibawah meja, kemudian mengeluarkan satu dasi nya dari dalam sana.
Mengikatkan benda tersebut pada tangan Taehyung, si bocah kecil pun terkesiap sesaat.
"Jangan melawan."
Memang tidak, Taehyung hanya semakin bergairah dengan apa yang akan Jungkook lakukan. Sama seperti saat Jungkook pertama kali mencium Taehyung, ia membuat kedua tangan bocah itu berada dibelakang punggungnya.
Saat Jungkook masih melakukan ikat mengikat, Taehyung menempelkan masing-masing pipi mereka, menggesek dan berharap akan menemukan letak keberadaan bibir raspberry Jungkook.
"Tuan.." Taehyung merengek ketika pria didepannya menjauhkan diri setelah selesai dengan ikatan, sedangkan Jungkook hanya mendengus geli dengan senyuman yang cuma sesaat.
"Tidak ada ciuman dibibir, berhentilah bersikap bandel. Kau sedang dihukum."
Mencebik lucu, Taehyung hanya mampu menurut. Mungkin saat ini kedipan mata anak anjing nya tidak akan berpengaruh untuk Jungkook.
Ketika Jungkook berbicara demikian, tangannya memutar tubuh Taehyung untuk menghadap meja dan menyudutkannya disana. Ia mendorong tengkuknya lembut untuk Taehyung membungkuk diatasnya.
"Tetap bertelungkup disana. Jangan bergerak sampai aku kembali." Jungkook ikut membungkuk untuk membisikan kalimat itu tepat ditelinga Taehyung, sengaja membiarkannya menegang akibat hal tersebut dan langkah kaki panjangnya membawa ia melesat keluar dari ruangan menuju tempat dimana Jungkook meninggalkan beberapa 'mainan' miliknya.
Setelah derap halus telapak kaki dengan sandal rumah itu kembali, ia membiarkan pintu terbuka dibelakangnya dan berjalan menuju Taehyung berada. Anak itu masih tetap disana, menuruti setiap pernyataan Jungkook dengan baik dan hal tersebut membuatnya merasa semakin bergairah.
Jungkook mulai membungkuk lalu menciumi dan mengendusi tengkuk Taehyung seperti itu adalah heroin pertamanya. Setelah merasakan stimulan yang Jungkook lakukan, Taehyung mulai gemetar dan menggeliat kecil sambil mendesah lemas dibawah tubuh pria itu. Pantatnya merasakan sesuatu mengeras dari balik celana tidur Jungkook, menggesek tanpa ragu meski kontak mereka terhalang oleh masing-masing celana yang dikenakan.
Pria diatasnya mulai mendengus dan semakin liar menciumi dan menjilati leher dan bahu Taehyung, tetapi karena penjelajahannya terhalang, kedua tangan lebar Jungkook pun merobek kaos lusuh yang tipis tersebut. Benda itu terkoyak dibelakang lehernya, memberikan view punggung sempit Taehyung meremang dan menggeliat atas perlakuannya.
"A-ahhh! Kamu- Mmh! -merusak bajuku-ahh.." Susah payah Taehyung menahan irama desah-geram ketika dengan anehnya ia masih dapat memperdulikan pakaian jeleknya yang rusak. Ditengah-tengah godaan pelintiran jari Jungkook di putingnya dan remasan dibokongnya, lelaki yang tadi menciumi tulang punggungnya kini bergantian menggeram.
"Aku membelikanmu yang lebih bagus, dan bisa lebih banyak lagi." Jungkook menggigit bahu Taehyung, dan dibalas pekikan sakit-nikmat dari sang korban.
"Akhh! Uhhmm-"
Taehyung tak membalas kalimat Jungkook, yang keluar dari mulutnya kini hanya dengusan nafas berat dan desahan erotis yang bahkan ia tidak yakin telah keluar dari mulutnya. Ia membiarkan kepalanya tergeletak diatas meja, tak menghindahkan sebelah tangan Jungkook yang masih terjepit diantara dadanya.
Jungkook menurunkan celana Taehyung, merenggut semua yang menghalangi jalannya dan meremas pantat bulat itu kemudian.
Kejantanannya sudah menonjol tegang dari balik celana, membuatnya nampak seperti tak dapat tertampung didalam sana. Sedangkan Taehyung mulai membuka diri menginginkan sesuatu mengisinya.
Jungkook melepaskan tangannya dari Taehyung, kemudian kembali meraih botol pelumas yang tadi dia ambil.
Ia mencolek beberapa olesan hingga sedikit menggunung di dua jari nya, lalu Jungkook menunduk, mencium pipi pantat Taehyung dengan keras dan menghisapnya hingga ia mengerang.
"Ahhh! Akhhh!" Taehyung mulai berjinjit ketika Jungkook memasukan satu jarinya yang terlumur krim pelumas, melihat itu ia mengusap pipi Taehyung dengan tangan yang lain, lalu menelusupkan dua jarinya kedalam mulut terbuka Taehyung. Ia menghisapnya, seakan tahu apa yang diinginkan Jungkook.
"Persetan. Kau sangat ketat!" Jungkook menggeram tatkala Taehyung meremas ketiga jarinya didalam sana. Lubang sempit itu berdenyut-denyut menyambut kedatangannya, membuka lalu menghisap seluruh jari Jungkook dengan kalap. Pemandangan yang sama pun ia lihat ketika menatap wajah Taehyung, ia masih mengemut jari Jungkook, dengan mata yang setengah tertutup, bibir merah mengkilap dan pipi merona hebat.
Jungkook segera membebaskan jarinya dari cengraman dua lubang itu, sebelah tangannya beralih menahan ikatan Taehyung dibelakang punggungnya dan tangan yang lain siap-siap memukul pantat.
'PLAK'
"Akkhh!" Taehyung menjerit, tubuhnya melonjak kedepan. Ia sungguh terkejut dengan tamparan pantat itu, tapi hal tersebut sangat menyenangkan dan juga menyakitkan dalam waktu bersamaan.
"Anak nakal! Kau membuatku ereksi setiap kali melihat tingkahmu."
'PLAK'
"Rrgghh!"
"Kau ingin penisku Kim Taehyung?"
"Mmhhh.." Ia tak mampu berkata-kata. Namun samar kepalanya mengangguk setuju.
"Katakan!"
'PLAK'
"AKH! YAH! YAHH!" Kali ini anggukannya terlihat sangat jelas, air liur nya menetes hingga ke dagu, membuat Jungkook menggeram dan ingin menciumnya.
"Katakan dengan jelas." Bisik Jungkook disamping telinga Taehyung, ia sengaja menjilat kulit leher nya sambil meremas bekas tamparannya. Membuat Taehyung merintih dalam permohonan tak terelakkan.
"Akh! Aku menginginkanmu. Aku ingin penismu didalamku! Kumohon! Aku ingin sekarang."
Kini kejantanannya sudah benar-benar lepas dari penghalang. Mungkin terkecuali hanya lapisan kondom bening saja, namun itu adalah yang dibutuhkan Taehyung. Karena meski demikian, Jungkook tetap harus bermain aman.
Ia mulai memposisikan diri, bersiap menuju kehangatan penuh nikmat yang menunggunya diujung tebing birahi. Kemudian pada dorongan pertama Jungkook memasukan setengah dari dirinya, otot pinggulnya menegang ketika ia menenggelamkan kejantanannya sepenuh dan sedalam yang ia bisa.
Keduanya mengerang dan merintih, terlebih Taehyung yang kini merasa tubuhnya terlonjak-lonjak diatas meja, dengan tangan terikat kebelakang.
"Akkh! Arrggh!" Taehyung melemparkan kepalanya kebelakang, membiarkan Jungkook menyaksikan momen indah itu dalam beberapa detik terjatuh dikubangan gairah. Sedangkan kejantanannya terus menghentak kuat dengan tangannya menahan pinggul Taehyung agar tetap disana, menerima setiap perlakuannya dengan pasrah.
Ketika denyutan pada kejantanannya semakin terasa luar biasa, Jungkook melepaskan dasi yang mengikat tangan Taehyung. Ia membebaskannya namun tetap menahan itu agar Taehyung tetap bersikap patuh.
Setelah beberapa tusukan dalam, Jungkook pun menghentikan hujamannya, ia membiarkan Taehyung untuk mengambil nafas sejenak. Meski caranya menghirup udara hampir sama seperti orang yang baru saja tenggelam.
Astaga, Taehyung membutuhkan mulut Jungkook membingkai bibirnya, ia menginginkan stimulan lain yang tidak hanya menyakitinya dengan kenikmatan.
Bocah itu memekik ketika Jungkook membalik posisinya menjadi terlentang, tanpa melepaskan penyatuan mereka.
Mengakibatkan gesekan kasar dari sudut meja menggores kulit halus Taehyung, dan ia meringis. Namun ketika Taehyung merasa putingnya dikulum dan dihisap, ia kembali mengerang dan benar-benar kehabisan nafas. Jungkook menyingkap kausnya keatas, memperlihatkan perut rata dan dada dengan puting tegang berwarna cokelat kemerahan.
Jungkook semakin merapatkan tubuh mereka agar penyatuannya semakin intens, sedangkan Taehyung membingkai leher dan kepala Jungkook dengan kedua tangan, ia meremas dan menelusup diantara helaiannya.
Kemudian, mereka kembali bersenggama. Mengerang dan mendesah tanpa ditahan-tahan.
Persetan dengan semua dokumen yang mungkin nanti akan kusut atau kebasahan keringat, Jungkook sangat tidak memperdulikan hal itu sekarang. Tiap sengatan gairah yang menyerang seluruh syaraf seksualnya menggetarkan tubuh Jungkook, membuatnya ingin terus menikmati tubuh mungil bocah laki-laki cantik ini. Tanpa memperdulikan bilik pintu yang sejak tadi terbuka.
Jungkook menggeram saat Taehyung menjerit untuk pelepasannya sendiri, dan hal tersebut membuat kejantanannya terasa diremas kuat-kuat. Bagaikan diperah tanpa ampun, akhirnya Jungkook menambah simfoni geraman didalam ruangan itu. Ereksinya menyentak ketika luapan gairah akhirnya tumpah kedalam kondom.
"Astaga, dude. Kukira kau belum mengerti bagaimana cara menggunakannya? Tapi sebaliknya kau bahkan sangat menikmati itu."
"Sialan, Park Jimin."
.
.
.
TBC
Akhirnya UP~ xD maaf jika terlalu lama, soalnya ada job dadakan dari pacarku xD
Ano, mohon jangan memaki Park Jimin ya :'v dia memang usil xD
Juga jangan lupa RNR nya~ see you next chap^^
