CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : "Astaga, dude. Kukira kau belum mengerti bagaimana cara menggunakannya? Tapi sebaliknya kau bahkan sangat menikmati itu."
"Sialan, Park Jimin."
Bab 06 - Wedding Invitation
Jimin memasuki kediaman Jungkook setelah mengkonfirmasi identitasnya diinterkom sejak berada didepan gerbang kondo. Yugyeom sendiri yang datang untuk menjemputnya dan mengantarkan Jimin menuju ruang kerja Jungkook.
Ketika tinggal beberapa langkah menuju pintu yang nampak sedikit terbuka, Jimin mengernyit dan melambatkan langkah kakinya. Suara-suara ilegal yang menyentak indra pendengarannya membuat Jimin dan Yugyeom saling berpandangan. Lelaki yang lebih tinggi meminta izin undur diri, entah ia juga mendengarnya atau tidak. Namun Yugyeom hanya tidak ingin mencampuri urusan majikannya, ia memang mendengar, tapi tidak untuk membicarakannya kepada orang lain.
Berhubung Jimin adalah salah satu kawan baik Jungkook, Yugyeom pun membiarkannya mengambil langkah sendiri. Ia tidak melarang Jimin, tidak juga mempersilahkannya merecoki kesenangan tuan nya. Tugasnya hanya melayani dan itu sudah selesai sejak beberapa detik yang lalu.
Jimin memang usil, dan dari dahulu selalu seperti itu. Jadi, entah bagaimana, kini ia tengah bersandar dikusen pintu tanpa berniat untuk mengganggu pergumulan panas pagi hari ini. Nampak Jungkook tidak menyadari kehadiran Jimin, bahkan hingga beberapa detik pria itu bersandar disana dan ia melebur dalam ejakulasi dahsyat, hasil dari serangan membabi-buta sejak tadi.
Jungkook nampak terengah, dengan kedua mata terpejam ia tetap saja menggoyangkan kejantanannya didalam sana. Masih menikmati sisa pelepasannya sendiri.
Jimin tidak pernah melihat Jungkook melakukan seks sebelumnya, meski mereka sering kali bersama-sama mencari pasangan bercinta untuk satu malam di club besar dipusat kota. Ia tidak pernah melihat Jungkook orgasme sehebat ini, meski wanita maupun lelaki cantik mengoral penisnya didepan umum. Well, sebenarnya itu didalam sebuah ruangan karaoke, dan ada banyak manusia didalamnya untuk layak dikatakan itu adalah lingkup umum, meski sebenarnya benar-benar tertutup.
Melihat Jungkook yang hendak kembali mengulum puting Taehyung, kemudian Jimin segera berseru.
"Astaga, dude. Kukira kau belum mengerti bagaimana cara menggunakannya? Tapi sebaliknya kau bahkan sangat menikmati itu."
Jungkook mendongkak dengan kilatan mata tajamnya, secara tiba-tiba mimik bergairah tadi berubah menjadi ledakan rasa jengkel.
"Sialan, Park Jimin." Ia bisa melihat Taehyung menegang, menyadari hal itu Jungkook segera mengamankan kejantanannya setelah sebelumnya melepaskan kondom yang terisi penuh cairan sperma dan membungkusnya dengan tissue. Jungkook segera melemparkannya kedalam tempat sampah tak jauh dari sana.
"Seharusnya kau punya sopan santun." Sarkas, seperti biasa. Tapi Jimin hanya terkekeh dengan wajah tak bersalah.
Jungkook segera melepas jubah tidurnya, kemudian memakaikan kepada Taehyung yang bangkit untuk terduduk diatas meja. Menutupi sobekan besar kaus lusuh yang memamerkan punggung telanjangnya dari mata kotor Jimin.
"Wow, semestinya kau tidak terlalu kasar Jungkook. Dia masih dibawah umur."
Mendengar itu, Taehyung merona hebat. Ia telah selesai mengenakan jubah tidur Jungkook, oh bahkan aroma keringat nya seharum bunga yang mekar -atau ini dari sabun?-. Taehyung masih tak menoleh, ia mengeratkan pakaian Jungkook untuk semakin melingkupi tubuhnya.
Astaga, apakah benar itu tuan Park yang kemarin membawanya dari club? Taehyung mengenali suaranya dan berarti itu memang benar. Sial, dia tidak bisa menatapnya. Ini sangat memalukan.
"Apa yang kau lakukan hingga mendadak jadi penguntit seperti ini."
Jimin mendecak, ia segera menegakkan posisinya. Melihat tubuh setengah telanjang Jungkook yang berkeringat, ia menggelengkan kepala.
"Seks benar-benar membuatmu menjadi lupa segalanya ya." Jungkook mengangkat alis. "Kau memiliki janji denganku, tentang pembicaraan waktu itu dan sesuatu yang ingin kuberitahukan."
Jungkook menghela nafas dengan tenang, "Kau seharusnya pergi ke ruanganku, atau menghubungiku dulu."
Kali ini Jimin tertawa singkat, "Kau lupa lagi, ini kantormu. Ruanganmu." Kata Jimin, "dan aku tidak ingin membuang waktu. Tapi siapa sangka kau sedang dalam keadaan yang... Genting."
Jungkook mengerang, rahangnya mengeras dan ia segera melepaskan tangannya untuk mengusap wajah. Mendapati Jimin yang memergokinya sedang bercinta sungguh hal yang menjengkelkan. Jengkel, kau tahu? Bahkan canggung masih tetap terasa meski mereka pernah beberapa kali berbagi pasangan satu malam.
"Kalau begitu tunggu aku diruang tamu, aku akan menyusul."
Jimin tidak menjawab ia hanya mengangkat tangannya tanda menyerah sambil mengangguk setuju. Setelahnya ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Jungkook kembali menarik nafas, ia menatap Taehyung yang masih menegang ditempatnya, dengan wajah merona sambil menggigit bibir.
Ia segera menghampirinya, kembali memposisikan diri diantara paha telanjang Taehyung lalu membelainya lembut. Bocah itu mendongkak ketika Jungkook mengangkat dagunya. Tanpa menunggu lama, ia segera mengecupnya, memberikan lumatan lembut pada bibir merona itu.
Taehyung mendesah, akhirnya ia mendapat sebuah ciuman juga. Jungkook sangat mempesona dalam segala hal, apalagi seks dan ciumannya.
"Apa kau bisa berjalan?" Jungkook bertanya setelah melepaskan pagutannya, nafasnya sedikit terengah namun ia masih dapat mengontrolnya.
Taehyung nampak ragu-ragu.
"Sedikit sakit dan pahaku agak pegal." Memang pegal, ralat. "Tapi tidak apa-apa kok."
Ia memberikan senyuman polosnya kepada Jungkook, nampak lelaki itu tidak bereaksi sama sekali. Beberapa detik berlalu, hingga Taehyung mengganti ekspresinya menjadi wajah kebingungan. Jungkook tiba-tiba menempatkan lengan kanannya dibawah lutut Taehyung kemudian tangan yang lain mendekapnya.
Ia menggendong tubuh kecil itu dalam sekali ayunan. Taehyung kembali berdebar kencang saat pipinya menggesek permukaan kulit dada Jungkook yang halus dan keras.
Perasaan dirinya membalut kejantanan Jungkook masih terasa sampai sekarang, bayangan itu terus melayang dikepalanya. Membuat Taehyung hanya mampu terdiam saat Jungkook membawa mereka kedalam kamar berbeda, bocah itu terkesiap. Astaga, apakah ini kamar Jungkook? Ruangan yang ini lebih luas dan mewah, sungguh berbeda dengan kamar yang ia tempati sebelumnya.
Setelah Jungkook menendang pintu dibelakangnya ia tak langsung meletakan Taehyung. Pria itu terus melangkah kedalam kamar mandi, apa ia berniat mandi bersama dan bercinta lagi dengan Taehyung?
"T-tuan..."
"Mandi." Dengan satu kata ajaib Taehyung hanya mampu terdiam dan menurut, tak bisa dipercaya. Ia akan mandi bersama dengan Jungkook. Pertama kalinya melihat pria ini telanjang! Taehyung bukan hanya akan melihat dada dan perutnya saja!
Asyik!
Jungkook menurunkannya tepat dibawah shower yang belum menyala, memperhatikan binar mata Taehyung dalam diam kemudian..
"Mandilah, aku akan menemui Park Jimin dulu."
Seperti bara api yang disiram air, Taehyung pun menghilangkan senyuman diwajahnya.
Ketika Jungkook sudah menghilang dibalik pintu, bocah itu cemberut dan hampir mengerang kesal. Namun sebelum suaranya keluar Jungkook sudah terlebih dahulu menyembul dengan tubuh yang telah terbalut T-shirt hitam.
"Setelah selesai tunggu diatas kasur." Jungkook mengancingkan celana jeans yang baru ia pakai. "Tidak perlu mengenakan apapun."
Taehyung hanya mengangguk lembut, namun mentalnya sedang berselebrasi dengan air mata kebahagiaan imajiner.
•
•
•
Saat ujung kakinya sampai diruang tamu, Jungkook tidak menemukan Jimin dimanapun. Ia mengernyit, namun suara langkah kaki dari arah bar mini dekat dapur membuat Jungkook berbalik sambil menyilangkan tangannya didada.
"Kau benar-benar sopan, fuck Jimin."
"Ayolah dude, kau seperti tidak pernah menganggapku saudara saja." Jimin menyeringai lalu menyesap sampanye yang baru saja ia curi dari bar milik Jungkook, lalu ia segera mendudukan pantatnya.
Jungkook mengikuti Jimin yang sudah duduk duluan diatas sofa gading tepat dihadapannya, sambil matanya tetap menyipit ia mengintrupsi Jimin.
"Ceritakan dengan singkat dan jelas."
Jimin mengangkat alisnya, sungguh pria tanpa basa-basi. "Well, pertama-tama, aku ingin memberikanmu sesuatu dulu." Ia menaruh gelas sampanye diatas meja lalu merogoh saku bagian dalam jaketnya, nampak sebuah surat undangan dengan pita kebiruan terikat rapi ditengah-tengahnya.
Jungkook menatap Jimin. Sedangkan pria yang baru saja menggeser undangan diatas meja kearah Jungkook itu hanya mengulum senyum sambil mengusap bawah bibir.
"Apa ini?"
"Kau tidak perlu pura-pura tidak mengerti."
"Sialan, kau akan menikah?" Jimin semakin merenggangkan senyumannya, ekspresi Jungkook saat ini sungguh sangat berharga. Ia menatap Jimin tidak percaya, dan ada sedikit raut tidak mengerti diwajahnya.
"Hell yeah..." Jungkook semakin menampakan wajah tidak mengerti, ia sama sekali tidak menyentuh surat undangan tersebut. Pria itu hanya menatap Jimin meminta penjelasan. "Well, baiklah.. Kau ingat saat aku mengatakan kau harus membantuku dengan membeli anak itu?"
Jungkook diam, ia mendengarkan.
Tanpa menunggu jawaban, Jimin kembali melanjutkan penjelasannya. "Awalnya, aku sangat frustasi karena Yoongi sama sekali tidak memperdulikan aku dan dia menghilang di Swiss. Membuatku sangat kehilangan akal."
"Beberapa waktu yang lalu aku pergi ke sebuah bar, dan aku melihat seorang pria menyeret-nyeret Taehyung untuk ia paksa melacur."
Jungkook mengernyit, ia sama sekali tidak nyaman dengan percakapan ini. Tapi, ia tetap mendengarkannya.
"Entah apa yang dipunya bocah itu, aku menjadi sangat simpatik kepadanya dalam sekali pandang saja. Dia seperti memiliki sihir, Jungkook." Ya, benar. "Singkatnya, pria jelek itu menawarkannya untuk sekali pakai dan tanpa pikir panjang aku membelinya untuk kumiliki sendiri. Sungguh tidak ada alasan lain, dia sangat rapuh waktu itu."
Jungkook sudah tahu bahwa Jimin membeli anak itu dari sebuah club malam, tapi ia tidak pernah tahu jika Jimin melakukannya karena kasihan.
Sekilas ia merasa dirinya sangat brengsek, Jungkook telah memperdaya bocah kecil manis itu untuk melayaninya diatas ranjang. Hal tersebut benar-benar mencubit hati Jungkook.
Tapi Jimin menjualnya kembali kepada Jungkook dengan alasan jika ia butuh uang, pria itu sama saja bejatnya dengan dia kalau begitu.
"Jadi, kau menawarkannya kepadaku karena kau menyesal telah menghamburkan uangmu untuk menyelamatkan seorang anak kecil?"
Jimin segera menyelak, "Tidak, bukan itu. Beberapa hari setelah ia tinggal dirumahku... Yoongi kembali dan mendatangi aku tengah malam.. Sesuatu yang konyol jika ia mendapati seorang anak kecil didalam apartemenku dan memanggilku master!"
"Kau bilang dia pergi ke Swiss dan tidak mengabarimu?"
"Ya! Memang. Tapi ternyata dia pergi kesana untuk.. Untuk meyakinkan ayahnya jika dia mencintaiku."
Jungkook mendengus, "kisah cinta yang sangat fenomenal."
"Tapi itulah yang sebenarnya dude." Jimin menatap sahabatnya dalam diam, kemudian ia melanjutkan kalimatnya. "Taehyung tidak memiliki siapapun, ia dipaksa bekerja untuk melunasi hutang-hutang ayahnya yang sudah meninggal karena penyakit kronis. Ayahnya berhutang pada seorang pemilik club malam didaerah kecil. Hingga akhirnya Taehyung dipaksa bekerja disana, namun club itu mengalami kerugian dan ia dijual ke club malam yang lebih besar, itu adalah tempat dimana kita biasa datangi. Tapi nasibnya malah bertambah buruk disana. Malam ketika aku menemukannya adalah dimana ia mulai dipaksa melacur."
Holly crap! Jungkook memejamkan matanya sambil mengurut keningnya yang mulai berdenyut karena marah. Sialan kau Jeon Jungkook. Sialan!
"Sisanya, kau bisa tanya dia sendiri." Lanjut Jimin.
Jungkook kembali memaki diri, ia merengut dan termenung tanpa menjawab ataupun menimpali pernyataan Jimin.
"Datanglah ke pernikahanku, dan ajak dia.."
Ia masih diam, dan wajahnya nampak memikirkan sesuatu.
"Taehyung tidak suka terlalu lama didalam ruangan."
Jimin memperhatikan reaksi Jungkook, ia sangat mengerti bahwa kini pria itu sedang berperang didalam kepalanya.
Well, melihat apa yang tadi Jungkook lakukan kepada Taehyung, sedikit banyak Jimin dapat mengerti. Hanya saja Jimin tidak ingin membahasnya sekarang, karena ia yakin Jungkook pun berpikir demikian. Meski mereka brengsek, Jungkook tetap memiliki simpati yang tinggi. Terbukti dari banyaknya jumlah uang yang ia donasikan dan beberapa yayasan amal kepunyaannya terhitung sejak dua tahun lalu.
"Baiklah, aku akan datang.."
•
•
•
Taehyung melakukan perintah Jungkook dengan senang hati, setelah membasuh tubuhnya dengan air hangat ia segera naik ke atas ranjang king size Jungkook dalam keadaan rambut setengah kering. Bergumul dibawah selimut tebal nan lembut yang sangat harum, seperti baru habis di laundry.
Astaga, berbaring telanjang seperti bayi didalam selimut Jungkook terasa amat nyaman. Bahkan ia hampir terlelap jika saja Jungkook tidak membuka pintu dan melangkah masuk. Ditangannya ia memegang sebuah surat undangan.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa, dan Taehyung sudah berdebar saja karena nya. Saat Jungkook telah duduk disisi ranjang, ia hanya melemparkan benda ditangannya keatas meja nakas, kemudian menunduk sambil menumpukan kedua sikutnya pada paha. Sesekali mengusap rambut kebelakang, ia sama sekali tidak mengindahkan kehadiran Taehyung yang hampir tak terdeteksi.
Jungkook terlihat gusar, dan Taehyung mengetahui hal itu. Tapi apa yang terjadi antara Jungkook dan pembicaraannya bersama Jimin?
Pria itu menoleh ketika mendapati remasan lembut tangan Taehyung pada lengannya. Ia terdiam, menatap bocah cantik ini dalam keremangan kamar. Tampaknya gorden disepanjang sisi ruangan tidak dibuka, dan Jungkook cukup bersyukur atas kebiasaan lupa nya itu.
Ia melihat binar tatapan lugu yang begitu murni, dengan setengah wajah tertutup selimut, Taehyung tampak benar-benar seperti bayi, membuat Jungkook ingin segera melahapnya. Namun perasaan tak nyaman tiba-tiba merasuk kedalam hati, Jungkook merasa bersalah dan baru kali ini ia berpikir dirinya adalah seorang bajingan tidak berguna.
Cengkraman pada lengannya semakin erat dan Taehyung sedikit menarik-narik Jungkook untuk lebih mendekat ke arahnya.
Ia mengerti dengan apa yang Taehyung inginkan, sungguh sangat mengerti. Tapi alasan dari apa yang diinginkan Taehyung adalah kesalahan Jungkook. Ia membuatnya menghendaki apa yang tidak semestinya Taehyung minta.
Tetapi bukankah ia sudah menjadi bajingan sejak dulu? Bahkan semenjak ia masih kecil dan belum mengerti apa-apa.
Ia memiliki banyak orang yang mencintainya, namun Jungkook tetap menjadi seorang bajingan.
Persetan dengan memperdaya anak dibawah umur, Jungkook tetap berbalik dan mencium bocah itu penuh keinginan. Ia mengungkung Taehyung dengan sebelah tangannya, dan tangan yang lain membelai wajah manis itu penuh kelembutan. Melumat bibir plum Taehyung perlahan, ia bernafas tepat diatas wajah cantik tersebut. Mengulum dan meliukkan lidah didalam mulut mungil Taehyung hingga pria kecil itu menggelinjang dan memeluk leher Jungkook.
Sebelah tangannya menelusup ke balik selimut, sesekali mengusap perut dan bokong kenyal Taehyung penuh rasa gemas. Ia mengerang dan semakin melilit leher Jungkook sebagai balasannya.
Jelas sekali Taehyung pun menginginkan ini, lalu apa masalahnya?
Jungkook segera melepaskan cumbuan, ia kembali menatap Taehyung dengan manik nya yang kelam. Ia sungguh sangat brengsek, karena telah menganggap pria kecil rapuh ini seorang pelacur, ya, Jungkook sempat berpikir jika Taehyung itu sama saja dengan wanita maupun pria cantik yang menjajakan tubuhnya di club malam. Tapi nyatanya kebodohan itu membuat Jungkook menyesali perbuatannya tempo hari. Bukan Taehyung yang jalang, tetapi Jungkook yang membuatnya harus terlentang dibawah tubuhnya. Ia membelinya untuk kepuasan diri sendiri, tanpa berniat mendengarkan penjelasan Jimin terlebih dahulu.
Untuk apa uang jutaan dolar yang ia donasikan kesana-sini jika hanya karena nafsu saja ia menghilangkan moral nya.
Namun anak kecil manis ini memiliki daya tarik yang tidak main-main, Jungkook tergiur untuk selalu menyentuhnya. Meski demikian akal sehatnya menyerapah karena ia tidak memperdulikan hal tersebut sepanjang ia bersama Taehyung. Dia hanya memperdulikan birahi dan keinginan tak tertahankan.
"Tidak untuk hari ini.." Jungkook segera menyergah ketika Taehyung hendak kembali menyatukan bibir mereka, ia memundurkan wajahnya, melihat ekspresi kebingungan dari bocah kecil itu. "Kembali berpakaian, kita akan membuat baju untukmu nanti sore."
"Tapi kenapa?" Taehyung nampak lesu, ia terdengar tidak bersemangat ketika Jungkook mengatakan tidak. "Baju untuk apa?"
"Jimin akan menikah, kau memerlukan baju untuk datang ke pesta."
•
•
•
Ia tidak tahu apa yang berubah dari dirinya, tapi seseorang yang ia lihat didepan cermin besar itu sama sekali bukan dia. Ini bukan Taehyung, dan ia pasti salah lihat.
Bocah kecil itu menuruti perintah Jungkook untuk mencoba beberapa pakaian yang ada di toko, tiga puluh menit yang lalu mereka sampai disini untuk mengukur pakaian yang Jungkook pesan. Katanya Taehyung akan mendapatkan sebuah tuxedo yang bagus, dan tentu saja dikhususkan hanya untuknya. Karena Jungkook menginginkan designer kenalannya yang membuat itu sendiri, ia ingin menebus kesalahannya sedikit demi sedikit tanpa perlu Taehyung ketahui.
Meski sebenarnya yang satu ini tidak masuk kedalam daftar, Jungkook menghendaki dirinya melihat ketakjupan dan ekspresi-ekspresi lain yang Taehyung perlihatkan ketika ia merasa bahagia maupun terpesona.
"Bagaimana menurutmu?" Taehyung berbalik setelah seorang pegawai toko membukakan tirai ruang ganti untuk Jungkook melihat penampilan Taehyung setelah mengenakan beberapa pakaian pilihannya.
Pria itu terduduk diseberang meja sambil menyesap kopi nya tenang, sedikit melirik Taehyung ia segera meletakan cangkir kopi tanpa mengalihkan pandangan darinya.
Jungkook menegakkan posisi duduk, kemudian memangku tangan seperti tengah menilai penampilan Taehyung.
"Kau imut.."
APA?!
Taehyung cemberut, ia mengenakan sebuah hoodie berwarna putih-biru dan celana jeans keren yang ia pilih sendiri. Tapi Jungkook malah mengatakan jika dia imut?!
"Aku tidak imut, ini keren.. Lihatlah.." Bocah itu mengenakan penutup kepala pada hoodie miliknya namun apa yang terjadi selanjutnya malah membuat Jungkook meledak dalam tawa. Entah ukuran kepalanya yang kecil ataukah hoodie nya yang kebesaran, setengah wajah Taehyung tiba-tiba tertutupi penutup kepala. Hampir menenggelamkan seluruh wajahnya dan yang tersisa hanya hidung dan bibir saja.
"Akan lebih keren jika aku yang menggunakannya. Ganti yang lain, itu kebesaran."
Kemudian Taehyung berbalik dan tirai pun kembali tertutup.
Sepertinya Jungkook harus mengurungkan niatnya membelikan baju kebesaran untuk Taehyung.
•
•
•
Mereka kembali ke rumah dalam satu jam perjalanan, dan Taehyung nampak terlelap disamping Jungkook.
Ketika tiga buah mobil mewah itu memasuki gerbang kondo, Jungkook mencoba menggoyangkan tubuh Taehyung yang bersender kepadanya bagaikan bunga anggrek meliliti batang pohon. Bocah itu tidur dengan mulut sedikit terbuka dan kepala terdongkak, membuat Jungkook menggertakan gigi akibat kejantanannya yang menggeliat hingga ia mesti meremat celananya sendiri.
"Pssh.. Bangun, kita sudah sampai."
Namun yang Jungkook dengar hanya deru nafas lembut yang menerpa lengannya, membuat ia tergelitik secara mental.
"Sepertinya dia lelah tuan."
Ucap supir sekaligus ajudannya dari balik kursi kemudi, mobil sudah berhenti sejak beberapa detik lalu dan Taehyung tetap tidak mau bangun.
"Aku tahu." Seseorang sudah membukakan pintu mobil. Jungkook mulai menggeser posisi duduknya dan menahan kepala Taehyung tetap berada didadanya, pria itu memindahkan tubuh kecil Taehyung untuk ia gendong. Melihat itu pria paruh baya dibalik kemudi kembali mengintrupsi.
"Anda ingin saya membantu membawa dia kedalam tuan?"
"Tidak perlu, terima kasih."
Setelah Jungkook turun dari mobil dengan Taehyung digendongannya, ia memerintahkan para ajudannya untuk membawa barang belanjaan didalam bagasi kedalam rumah.
•
•
•
Ketika Jungkook menaiki tangga, Yugyeom memperhatikan peristiwa tersebut dalam diam. Ia tidak berniat mengambil alih Taehyung ataupun membantu Jungkook untuk memindahkannya kekamar, pria itu tahu apa yang dia lakukan dan bisa mengatasinya sendiri.
Setelah sampai dipertengahan antara kamarnya dengan kamar Taehyung, Jungkook nampak sedikit bimbang. Dimana ia harus menaruhnya untuk tidur, sedangkan Jungkook menginginkan Taehyung bermalam dengannya. Setelah mengalami perdebatan panjang dengan moralnya, pria itu malah melangkahkan kaki menuju ruangannya sendiri.
Tapi jika ia membiarkan bocah ini tidur dengannya, Jungkook tidak akan mungkin membiarkan ia terlelap, apalagi dari wajah lelah yang Jungkook tatap, ia sangat tidak ingin mengurangi waktu tidur Taehyung.
Bocah ini masih kecil, ia membutuhkan tidur cukup untuk masa pertumbuhan yang baik. Tapi masa bodoh.
Saat Jungkook menurunkannya diatas ranjang, Taehyung menggeliat. Wajahnya setenang malaikat kecil yang tertidur diantara tumpukan awan, ia sangat lucu dan menggemaskan. Namun Jungkook memandangnya dengan sisi yang berbeda, akan celaka jika ia menginginkan Taehyung sekarang. Tapi belah bibir yang terbuka itu terlalu menggodanya. Hingga Jungkook mencuri satu kecupan dari sana, ia tak melihat reaksi apapun dari Taehyung.
Bagus sekali, ia tertidur sangat nyenyak dan rasanya Jungkook ingin menciuminya semalaman. Oh, sial. Ternyata ini adalah ide yang buruk dengan membawa Taehyung kedalam kamarnya. Jungkook jadi tidak bisa menahan hasrat ingin mencumbu bibir manis tersebut.
Kendatipun sebelum itu terjadi, ia segera bangkit dan menyelimutinya. Kemudian pergi meninggalkan Taehyung dalam keheningan kamar dan detak jantung yang meronta-ronta.
Taehyung membuka matanya pelan-pelan, ternyata, bocah itu terbangun saat sudah sampai dikamar, ia berpura-pura tidur ketika Jungkook memandangi wajah dan mencium bibirnya sebelum pergi.
Astaga, jangan Taehyung. Jangan jatuh cinta kepada Jeon Jungkook!
Ia menjerit didalam hati, kemudian berbalik tertelungkup dan tidur.
•
•
•
TBC~
Aloha xD bab ini bosen gak? XD maaf ya kalo ada kalimat yang sedikit rancu, maklum gak terlalu pandai~
Buat yang nanyain konflik, tenang aja nanti bakal ada konflik kok, gak terlalu berat juga sih, tapi kadang ngetiknya butuh perjuangan xD
Oh ya, sorry banget buat yang enggak suka sama karakter Jungkook disini, entah terlalu mesum atau cabul, :'v dia seperti itu bukan tanpa alasan kok, dan Taehyung juga enggak terlalu dinistakan oleh Ell, ceritanya belum beres jadi apapun bisa terjadi. So, keep reading dan review ya, feedback dari kalian adalah hal yang paling ditunggu-tunggu ^^
