CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : "Terjadi sesuatu dengan tuan Jeon. Kami harus segera menjemputnya dikantor."
Baiklah, jantungnya yang salah atau Taehyung memiliki firasat buruk dari kesan Yugyeom saat menggumamkan kalimat itu?
Bab 10 - Enigma
Taehyung tidak akan mungkin terduduk sambil memangku tangan diatas pahanya didalam mobil jika ia tak merengek ingin ikut untuk menjemput Jungkook dari kantornya.
Dengan hanya berbekal sepasang celana jeans longgar dan sweeter putih bercorak kartun one piece kesukaan Taehyung, ia pun kembali berhasil mencuri simpati Yugyeom yang tidak tega meninggalkannya sendirian. Apalagi Taehyung sempat berkata jika ia tengah terluka dan membutuhkan perhatian.
Yugyeom tidak tega, tentu saja siapa yang mampu menolak air muka menyedihkan dengan mata kucing dipenuhi bulir kristal bening dan berlagak tak berdaya?
Kim Taehyung adalah maestro nya soal merayu, dan salah satu korbannya yang sering jatuh akibat pesona itu ialah Jeon Jungkook. Meskipun kebanyakan Taehyung bahkan tidak sadar jika ia telah melakukan godaan maha sensual terhadap Jungkook, dapat diulik dari beberapa hari sebelumnya dan banyak perubahan yang terasa.
Untuk orang awam, butuh berbulan bahkan bertahun-tahun untuk dapat mengetahui sifat-sifat dasar Jeon Jungkook ketika ia tidak sedang dalam mode bisnis. Jika kau orang yang sama sekali tidak menarik, jangan harap Jungkook akan membuka dirinya untukmu. Ia membentengi diri dengan topeng baja berlapis emas yang ditaburi berlian, sangat keras dan kokoh.
Tak akan ada yang bisa membukanya, kecuali kau yang mendesain topeng itu sendiri dan kunci dari cara membukanya berada ditanganmu.
Jeon Jungkook itu sosok yang sulit ditebak, kadang kasar kadang lembut, seringkali dingin namun tak luput dari kebiasaan humornya yang berkelas. Tak perlu bersusah payah, hanya dengan mengedipkan mata saja ia mampu meruntuhkan tumpukan pondasi piramida wanita dimuka bumi.
Mereka akan kehilangan fokus, tersesat dan jatuh dengan begitu menyakitkan. Tidak jauh berbeda seperti apa yang Taehyung rasakan.
Ia telah jatuh hati pada suatu subjek yang tak akan berpikir dua kali ketika menyetubuhinya dengan kasar. Memukul atau bahkan mengigiti tubuh mungilnya yang rapuh.
Memberikan rasa sakit meski perasaan yang ia tanggung jauh lebih berat. Sedikit saja kesalahan, itu akan amat merobek hati.
Tapi bagaikan jatuh cinta kepada sang kegelapan, ia tidak mampu menyesali itu bahkan untuk merangkak kembali dan menyatukan kepingan hatinya yang telah terbagi dua. Terbagi untuk dirinya sendiri... Dan Jeon Jungkook.
.
.
.
"Seharusnya lebih berhati-hati tuan, tersayat dengan luka selebar itu bukan hal yang main-main. Tuan Jeon mungkin akan marah besar setelah melihatnya."
Tersentak saat Yugyeom bergumam ketika melirik keadaan jari Taehyung yang terbungkus kasa. Bocah kecil itu menyembunyikan tangan kirinya dibalik kantung depan sweeter.
"Ini tidak apa-apa, bukan masalah besar percayalah." Gugup Taehyung sambil melirik Yugyeom disampingnya.
Tunggu dulu, mengapa semakin kesini Yugyeom nampak semakin menakutkan ya?
"Bukan masalah besar sampai aku melihat jejak darah berceceran dari halaman belakang hingga bar didekat ruang tengah." Ucap Yugyeom tanpa ada emosi didalam kalimatnya.
"Tolong jangan adukan apapun kepada tuan, kumohon.."
Taehyung memulai lagi kedip, kedip, gosok tangan dan wajah memelasnya. Namun sayang Yugyeom seperti tak ingin jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.
Dilirik pun tidak! Pria pertengahan tiga puluh itu malah menatap datar jalanan didepan sana. Meskipun nyatanya ia terhalang oleh headrest dari supir yang menyetir mobil.
.
.
.
"Jungkook, kau seperti zombie.." Itu Hoseok, kini ia kembali berada diruangan Jungkook setelah pertemuan dengan DM.
"Apa?" Pria yang paling tampan menyahut sambil mengernyitkan alisnya.
"Mayat hidup! Bercermin sana, kau sangat kacau dan kelelahan. Pulanglah!"
Jungkook malah balas mendengus, kepalanya tersandar pada punggung kursi kerja yang nyaman. Sambil sesekali mengurut pelipis porselen itu, Jungkook nampak tengah memeriksa beberapa berkas diatas mejanya. Mengabaikan Hoseok dengan gerutuan akibat rasa jengkel.
Manusia keras kepala sialan.
"Halo Yugyeom.."
Jungkook terlonjak pelan ketika Hoseok nampak membawa nama Yugyeom dalam kalimatnya, membuat pria bermarga Jeon disana mengernyit waspada.
"Ya, mungkin dia memerintahkan Jeonghan untuk menutupi keberadaannya.. Tapi dia ada dikantor sekarang, aku baru saja membawanya ke ruang kerja karena dia hampir pingsan setelah rapat selesai." Jungkook menganga tak percaya, si sialan Hoseok dengan tekad baja nya yang penuh keberanian mengadukan Jungkook kepada Yugyeom. Berani-beraninya dia!
"Hey bodoh, pekerjaanku belum selesai!" Jungkook menggerutu dengan nada rendah, namun wajahnya menampakkan mimik mengerikan dengan rahang yang bergemeletup.
"Persetan dengan semua itu Jungkook, aku tidak mau mengurusimu yang mungkin saja akan benar-benar pingsan nantinya." Kata Hoseok setelah ia menjauhkan ponsel dari telinganya.
Jungkook hanya kembali mendengarkan sembari mengangkat jari tengahnya dan bergumam tanpa suara. "Fuck You!"
"Thank you." Balas pria berhidung mancung itu santai.
Hoseok pun kembali menaruh ponsel ditelinganya sambil menatap Jungkook yang kini nampak mengibaskan tangannya gusar.
"Ya, baiklah. Serahkan saja padaku."
'PIP'
"Apa yang kau lakukan?" Jungkook mendelik tak terima sembari alisnya terangkat angkuh, wajah itu, mungkin akan lebih menawan jika ia tersenyum. Namun ekspresinya bahkan menandakan ia ingin segera menelan Hoseok bulat-bulat.
"Menghindarkanmu dari ketiadaan?" Jawab Hoseok sambil mengantongi ponselnya. "Kau bisa mati kelelahan karena bekerja dua belas jam sehari Jungkook!"
"Aku baru lima jam disini, ok? Berhentilah jadi tukang adu! Jung Hoseok!"
Mendengar itu, Hoseok menghela nafas sambil bersidekap santai.
"Tapi kau menghabiskan waktu hampir setiap hari dengan sepuluh jam itu disini, dan sisanya aku tahu apa yang kau lakukan diruang kerja pribadimu dirumah, dan panggil aku Hyung. Jangan karena kau lama di Amerika, sopan santunmu tidak pernah dijaga. Kali ini aku sedang serius Jeon."
Jungkook hanya mendengus saat kalimat panjang itu usai, ucapannya memang menandakan ia sedang serius, tapi wajah jenaka Hoseok tidak akan mampu tertutupi oleh intonasi bicara sangar apapun.
Bayangan wajahnya yang nampak berseri-seri tetap terjaga. Oh sial, mengapa Jungkook malah berpikir kesitu?
Pria yang paling muda tidak menimpali. Ia hanya menaruh berkas ditangannya dengan lemparan halus keatas meja. Kembali bersandar pada kursi, Jungkook pun menghela sambil mengurut sisi kepala yang pening.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Jungkook ketika Hoseok malah terduduk santai disofa depan meja kerjanya, tempat Jungkook menerima tamu-tamu yang ingin melakukan pertemuan.
Mendengar itu, Hoseok hanya menyengir kecil sambil mengusap ujung hidungnya dengan punggung jari.
"Well, firasatku mengatakan jika bocah manis itu mungkin akan ikut juga kemari. Jangan anggap aku telah mengambil keuntungan setelah menolongmu Jeon. Ini hanya tentang strategi bisnis."
Jungkook mendelik jengkel.
Sialan kau Jung Hoseok!
Tanpa tahu alasan sebenarnya ia tinggal ialah untuk menjaga Jungkook agar tidak jatuh pingsan dan sendirian. Siapa lagi yang akan masuk kesini selain Jung Hoseok dan sekretarisnya Jeonghan?
.
.
.
Taehyung ternganga ketika langkahnya membawa ia untuk mengikuti para pria dewasa itu memasuki kawasan gedung perusahaan raksasa milik Jungkook. Semuanya terbingkai kaca berstandar tinggi dan nampak elegan juga menakjupkan. Para pegawai menggunakan seragam dan dasi, bersetelan rapi dan nampak terdidik. Mereka adalah para profesional yang pasti mendedikasikan diri terhadap perusahaan.
Bahkan Taehyung tidak pernah memasuki tempat semahal ini selama eksistensinya didunia, suara berderap dari sepatu mengkilap yang senada dengan setelan Yugyeom dan beberapa bawahannya mengucilkan Taehyung. Remaja laki-laki yang tampak salah karena berada diantara para pegawai serta karyawan yang menatapnya heran.
Beberapa bahkan kelihatan mengernyit dan tersenyum gemas.
Seorang pegawai beserta wanita resepsionis nampak bangkit dari tempatnya dan membungkuk sopan kearah Yugyeom ketika pria itu menggesekkan kartu keamanan pada lift khusus.
Taehyung sempat terheran-heran dengan itu, dirumah Yugyeom adalah seorang yang banyak melayani kebutuhan Jungkook dan dirinya. Hampir seperti asisten atau kepala pelayan, tapi disini ia begitu dihormati.
Sebenarnya, apa sih pekerjaan lelaki itu?
Benak Taehyung bertanya setelah ia memasuki lift bersama dua orang dibelakang dan dua lagi menunggu untuk berjaga didepan lift. Bocah kurus itu menjilat bibirnya yang kering, tanpa disadari entah sejak kapan jantungnya mulai berdentum kencang. Ini adalah pertemuan pertama Taehyung setelah selama satu minggu kurang sehari Jungkook menghindarinya.
.
.
.
"Kau sudah mendapat referensi tentang hadiah untuk pernikahan Park Jimin?" Itu Hoseok, jangan sangka ia akan segera pergi dari sana. Pria yang tampannya tak kalah jauh dari Jungkook, ia memiliki tekad yang kuat dan gigih. Membuat yang lebih muda disana tampak mengernyit gusar.
"Ya?" Bukan jawaban yang Jungkook beri, ia hanya asal bergumam tanpa memperdulikan arah pembicaraan. Kepalanya sudah mulai pening, oh sial. Jungkook melupakan obatnya. Dimana mereka?
Ia nampak mencari-cari letak botol obat dipermukaan meja dengan wajah pucat.
"Hanya tinggal beberapa hari lagi, tapi aku sudah mendapatkan hadiah yang cocok untuknya." Pria bermarga Jung menyeringai, ia sama sekali tidak melirik Jungkook yang nampak tengah mencari-cari sesuatu.
"Ini adalah hadiah yang akan sangat menyenangkan untukku, kau tahu, si mochi itu mungkin akan mengalami serangan jantung ringan setelah melihatnya."
"Kau akan membawa seluruh teman one night stand nya?" Timpal Jungkook sambil menarik laci dibawah meja.
"Oh, tidak... Itu terlalu menyusahkan." Kekehnya sambil berkhayal tentang ekspresi pucat Jimin. "Hanya dengan sebuah sepatu dan dot bayi, mungkin akan sangat bagus."
Jungkook mendongak.
"Ap- what?!" Kali ini kerutan dikeningnya tampak semakin berlipat. Tunggu, apa maksudnya dengan barang-barang bayi itu?
Hoseok mengangguk dengan wajah mengejek kearah Jungkook. Sembari menggigit bibir bawahnya dan menyeringai humor, ia terduduk dengan kedua tangan terlipat didada dan tungkai menyilang.
"Really?" Seketika Jungkook melupakan obatnya, oh sial kau Park Jimin. Pikir Jungkook.
"Ya! Maka dari itu aku tidak ingin berurusan dengan teman satu malam yang kutiduri terus-menerus. Ia menenggelamkan diri dalam ilusi yang dia sebut dengan cinta, lalu dia terjebak dengan little-fucker yang menyelinap ke perut Min Yoongi."
Jungkook mengerti apa maksudnya little fucker itu, sedikit kasar namun bagi pria tanpa komitmen seperti ia dan Jung Hoseok hal tersebut bukan suatu tindak tidak sopan. Lagipula ia memang selalu tak senonoh, tapi mendengar fakta dari pernikahan yang terburu-buru ini membuat Jungkook membuka matanya.
Sial ya? Ia berpikir bukan Jimin yang akan terkena serangan jantung ringan, Jungkook malah merasakan tanda-tanda itu pada dirinya. Sesuatu yang didalam dada berdentum keras, ingatan tentang cairan putih yang mengalir lengket dari belah paha Taehyung menyentakkan adrenalin hingga membuat kepalanya terasa dingin dan meremang. Kilas balik tentang gumaman ceria Taehyung yang mengatakan bahwa ia mencintai Jungkook, dengan wajah polos yang ternoda mendesah-desah dibawah tubuhnya, memeluk ia yang terkalahkan oleh demamnya sendiri.
Jungkook merasakan gejolak hebat yang bergulung diperut dan naik ke tenggorokannya, ia pun segera bangkit dengan terhuyung-huyung sembari menutup mulut menggunakan sebelah tangan. Memaksa langkah untuk membawa diri kedalam kamar mandi pribadi didalam ruang kerjanya yang mewah, menghindari tumpahan asam dari tangki bobroknya untuk mengotori karpet persia yang harganya setinggi langit.
Hal itu membuat Hoseok kontan terlonjak dari tempat duduknya, ia bangkit untuk mengejar Jungkook yang kini tengah membuang muatannya kedalam kloset, mendengar suara gemuruh serta tercekik memprihatinkan yang -sungguh, seharusnya ia merasa jijik. Namun itu hanya berupa cairan bening yang pastinya terasa pahit dilidah Jungkook.
Hoseok mengurut tengkuk berlapis otot tendon yang menonjol keluar itu dengan prihatin. Melirik arlojinya sekilas, sekedar memeriksa waktu.
Karena demi Tuhan dimana Yugyeom sekarang?!
"Sial man! Tunggu sebentar." Hoseok bangkit untuk membawakan Jungkook segelas air hangat agar mengurangi kemungkinan sahabatnya itu akan terkena dehidrasi. Namun baru beberapa langkah ia keluar dari kamar mandi, sosok Yugyeom telah hadir dengan seorang anak kecil yang menggulirkan bola mata nya lucu.
"Demi Tuhan! Kenapa lama sekali?" Hoseok mendengus culas, ia melirik Taehyung yang kelihatan mencari-cari sosok Jungkook.
"Dimana tuan?" Tanya Yugyeom.
Belum sempat Hoseok menjawab, Taehyung sudah terlebih dahulu melesat menuju kamar mandi. Sayup-sayup, terdengar suara muntah yang tak terlalu jelas.
"Dia dikamar mandi, muntah-muntah!"
Yugyeom menarik nafas, segera ia melangkahkan kaki panjangnya menuju tempat dimana Jungkook berada dan setelah sampai diambang pintu ia melihat pria itu menggeram kesakitan akibat perutnya yang terasa melilit parah.
Taehyung tampak panik dan Yugyeom segera mendapatkan bahu Jungkook untuk ia tahan, sebelah tangannya mengeluarkan obat anti mual dari dalam saku jas kemudian mengeluarkan satu butir untuk Jungkook.
"Taruh dibawah lidah anda."
Jungkook menurut, ia membiarkan obat itu berada dibawah lidahnya. Kemudian dengan tatapan sedikit buram ia dapat melihat siluet Taehyung disampingnya, menyingkirkan bulir-bulir keringat dingin sebesar biji jagung dikening dan wajah Jungkook.
Nafasnya memburu tak karuan, dengan wajah pucat ia memejamkan matanya yang gemetaran. Jungkook bersimpuh lemas didepan kloset dan dengan cekatan Taehyung mengguyur sisa cairan yang tersisa didalamnya, membiarkan cairan bening yang menyatu dengan warna biru cerah air pembilas hilang tanpa sisa.
Yugyeom tampak menggertakan giginya, ia antara jengkel dan luar biasa khawatir. Sedangkan salah satu dari dua orang bersetelan hitam diambang pintu kamar mandi tengah melakukan percakapan lewat radio. Jungkook sudah bagai adik kandungnya sendiri, dan ia telah bertindak bodoh terlalu jauh.
"Kita harus pulang tuan, anda tidak bisa terus berada disini."
Jungkook tidak menjawab, ia hanya merasa cahaya yang menghalangi matanya menampakkan wajah manis Taehyung tengah memandangnya khawatir, dengan kelingking terbungkus kasa ia menangkup wajah Jungkook. Sial, jangan sampai bocah itu menjadi mimpi buruknya yang lain.
.
.
.
Awalnya sengatan pada pergelangan tangan Jungkook tak begitu terasa, namun lama kelamaan itu semakin tidak nyaman. Ia mengernyit tapi belum membuka mata.
Kemudiaan saat cahaya kecil menyinari wajahnya ia dapat melihat sosok cantik yang begitu dewasa nan lembut dan Jungkook mengenalinya. Bola mata yang sedikit tidak stabil karena masih terasa buram itu mencari-cari titik fokus.
"T-Taehyung?"
"Ow, apa aku membangunkanmu putri tidur?" Suara lembut Baekhyun memberikan sengatan listrik kecil pada tulang punggungnya, dan Jungkook meremang akibat hal tersebut.
Ia mengedipkan mata, lalu secara sepenuhnya menatap wajah cantik Baekhyun yang kini tengah membenahi jarum suntik. Jungkook dapat melihat selang infus terhubung dengan tangan kirinya yang berotot. Oh, ini sungguh buruk. Pikirnya.
Jungkook mendesah lesu, ia benci infus.
"Sudah merasa baikkan?" Tanya Baekhyun sambil menatap Jungkook yang memalingkan wajah darinya.
"Ya, lumayan."
"Bagus, karena aku tidak akan mulai menguliahimu jika kau masih merasa sakit kepala."
Jungkook diam, ia hanya berkedip culas. Benar-benar tak ada emosi, apalagi gairah dimatanya.
Mungkin karena efek dehidrasi, pikir Baekhyun.
"Aku mengerti dengan kecenderunganmu sebagai workaholic Jungkook, tapi sisakan sedikit pedulimu untuk kesehatan diri sendiri." Ini dia, kata Jungkook dalam hati.
"Kau itu bukan super hero, apakah kau sama sekali tidak merasa sakit?"
"Ini bukan apa-apa, bisa kita hentikan sesi mengomelmu itu?" Tanya Jungkook sambil menatap Baekhyun dengan pandangan sayu nya.
Seseorang yang paling tua menghela nafas, menatap jengkel pada pria yang tengah berbaring lesu.
Baekhyun segera melipat tangannya didada, ia berusaha untuk tak terpengaruh oleh wajah tampan yang pucat itu. Ya, jangan sampai kau luluh pada saat-saat seperti ini, pikir Baekhyun sembari terus menggigit bagian dalam bibirnya.
"Ini bukan mengomel, otak geniusmu memang tak merasa kau sakit, tapi tubuhmu berkata lain." Kata Baekhyun dengan wajah serius, kemudian ia menunjuk kantung infus dengan dagunya. "Sekarang lihat, kau mengalami dehidrasi dan suhu tubuhmu kembali meningkat."
Mendengar semua rentetan kalimat panjang itu Jungkook hanya memejamkan mata dengan kedua jari tangan menutupi kuping. Ia mengacuhkan Baekhyun dengan cara yang amat kekanakan. Membuat pria cantik itu mendelik jengkel.
Kemudian tanpa diduga-duga Baekhyun pun menarik kerah jubah tidur Jungkook hingga sebagian permukaan dada bidang itu terlihat. Membuat pria yang terbaring menatapnya terkejut sekaligus melepaskan tangannya dari kedua telinga.
"Kau mendengarku tidak?" Tanya Baekhyun galak, ia mengernyitkan alis dengan wajah cantik yang nampak dipaksakan bermimik sangar.
Tubuhnya membungkuk hampir seperti membayangi Jungkook, dan ia melotot dengan ekspresi wajah lucu.
Tetapi setelah beberapa detik mereka berada dalam posisi seperti itu, Jungkook mendengar suara tercekat dari arah pintu. Berbarengan setelah derit engsel terdengar samar ditengah rintiknya hujan yang mengguyur rumah besar ini.
Jungkook memiringkan kepala bersama dengan Baekhyun yang menoleh kebelakang, menatap seorang anak laki-laki berperawakan kurus yang kini tertegun sembari menggenggam gagang pintu.
Wajahnya tampak terkejut, tak jauh berbeda dengan kondisi air muka Jungkook. Tapi ia tidak bisa lebih pucat lagi ketika melihat genangan bening dipelupuk mata hazel indah itu. Bola mata kecoklatan yang menatapnya dengan terkejut.
"Tuan..."
.
.
.
TBC~
Gimana? Tijel? Bosan? Muupken u,u
RNR JSY~ Maaf enggak bisa sebutin satu-satu, ku ngebut nulisnya :"
Ell sudah dapat melihat masa depan daddy Kook & baby Tae nih, gimana dengan kalian manteman? Ada yang bisa menebak ini sad/bad/happy ending? XD
Btw, makasih buat yang sudah review dibab sebelumnya ^^ Itulah faktor penyemangatkuhh~
See you~
