CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : Wajahnya tampak terkejut, tak jauh berbeda dengan kondisi air muka Jungkook. Tapi ia tidak bisa lebih pucat lagi ketika melihat genangan bening dipelupuk mata hazel indah itu. Bola mata kecoklatan yang menatapnya dengan tak percaya.
"Tuan..."
Bab 11 - Dark Memories
Taehyung sudah beranjak menjadi seorang remaja, tapi entah kenapa hatinya masih seperti anak kecil. Hal menyakitkan apapun selalu membuatnya hampir menangis, sedangkan orang dewasa tidak banyak menangis. Itu yang Taehyung lihat, bahkan ketika ayahnya meregang nyawa. Kesakitan akibat kanker yang menyiksanya. Ia tidak pernah menangis, meski Taehyung melihatnya meringis, berteriak-teriak. Ayahnya tidak pernah menitikan air mata, ia menginginkan Taehyung juga tetap tegar sepertinya karena beliau tahu, jika Taehyung sama sekali belum bisa menahan emosi.
Jangan menangis, ayah cuma sakit sedikit. Ini hanya masalah kecil, jangan sedih.
Karena itu Taehyung dapat menahannya, namun ketika sang ayah sedang terlelap ia menangis sendirian. Rasa takut selalu menghampiri ketika ia melihat ayahnya mulai kesakitan.
Ayah akan bekerja setelah sembuh dan kita akan pergi berlibur kemanapun Taehyung mau.
Ya, ia ingin beliau sembuh. Berlarian ditaman bersamanya, menggendong Taehyung yang kelelahan setelah bermain.
Tapi perasaan sedih lain kembali muncul, namun dengan rasa yang berbeda. Sedih yang ini agak menyakitkan, apalagi penyebabnya adalah Jeon Jungkook.
Taehyung berusaha menjaga matanya agar tetap kering, meski sedikit bersyukur karena pandangannya mengabur dan tak bisa sepenuhnya melihat Jungkook yang kini tengah berada pada posisi intim bersama Baekhyun.
Kedua orang dewasa itu terkesiap lalu Baekhyun nampak sedikit menjauh dari posisinya semula, sedangkan Jungkook kembali menutup celah jubah tidur yang terbuka. Melihat itu, Baekhyun pun mengingatkan dengan bisikan.
"Hati-hati infusnya."
Jungkook mendengar, namun ia tetap bangkit untuk duduk.
"Taehyung?"
"Aku hanya ingin melihat keadaan tuan," Taehyung bergumam setelah diyakini tak ada getaran dalam suaranya, air mata mulai surut karena ia memaksa otaknya untuk memikirkan hal lain. Bocah kecil itu menunduk sekilas, lalu memaksakan senyum manisnya mengembang diwajah. "Tapi sepertinya tuan baik-baik saja.. Um, aku pergi dulu.."
"Taehyu-"
Taehyung segera menutup pintu dengan lembut, kemudian berlari kecil tanpa alas kaki.
Sedangkan didalam kamar, Baekhyun menghela nafas.
"Biarkan aku yang bicara padanya."
.
.
.
Jungkook hampir menutup matanya ketika seseorang nampak membuka pintu dengan gerakan hati-hati, tanpa sadar ia terus menatap celah pintu yang semakin melebar dan mendesah tipis ketika mendapati Kim Taehyung menyembulkan kepalanya lucu.
Bocah itu tertunduk ketika mendapati manik jelaga Jungkook sudah memperhatikannya sejak awal.
"Dokter Byun, sudah pulang." Katanya setelah berada tepat disamping Jungkook, sedangkan pria itu masih membidiknya dengan tatapan tajam.
"Duduk."
Taehyung menuruti apa yang diperintahkan Jungkook, namun dengan kepala yang masih tertunduk. Ia sama sekali tak berani menatap pandangan penuh intimidasi itu.
"Kenapa kau malah pergi saat aku memanggilmu untuk tetap disini?" Tanya Jungkook tanpa basa-basi. Ia masih terduduk sembari bersandar pada kepala ranjang, menatap Taehyung yang masih tak berani mengangkat dagu.
"Aku-"
"Tatap lawan bicaramu ketika kau sedang berbincang Kim Taehyung."
Mendengar nada suara yang dalam itu Taehyung pun segera mendongakkan kepala, menatap manik hitam Jungkook sambil menetralisir degup jantungnya.
"Katakan."
"Aku... Minta maaf tuan.." Kali ini Taehyung tidak menunduk namun ia melihat kearah lain. "Aku sudah melakukan hal yang bodoh."
"Apa maksudmu?"
"Aku- aku.." Taehyung mulai mengigit bibirnya khawatir.
"Demi Tuhan, Kim Taehyung, janganlah berbelit-belit-"
"Aku menyukaimu tuan!"
Bagaikan petir disiang bolong, Jungkook tertegun mendengarnya, ia menatap Taehyung dengan- entah apa artinya itu.
Sedangkan si kecil Kim kembali menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
"Aku tahu aku tidak seharusnya begini, aku cemburu dengan siapapun tuan dekat. Aku selalu sedih ketika tuan tidak menghabiskan waktu denganku." Ia mulai terisak.
"Aku mencintai tuan."
Sekarang Jungkook semakin mengerti, dan perasaan yang salah itu adalah ulah nya. Karena dia, Taehyung memiliki rasa yang tidak seharusnya ia miliki untuk Jungkook.
Ia telah memperdaya Taehyung, bahkan sejak awal mereka melakukan hubungan seksual.
"Kau tahu tujuanmu saat pertama kali datang kesini?" Tanya Jungkook dengan nada tenang. Kali ini ia membiarkannya menunduk.
Taehyung mengangguk kecil. Bibirnya hampir gemetar namun ia kembali mengigitnya.
"Maka dari itu, aku ingin menghentikan ini." Matanya mengedip, kemudian sebulir bening air mata menuruni pipi, membasahi dagu lalu menetes dipunggung tangannya yang mengepal diatas paha. "Aku ingin menghentikan perasaan ini."
Jungkook masih diam, sedangkan Taehyung sama sekali tidak mengetahui perubahan kentara pada ekspresi wajah pria didepannya.
"Aku adalah seorang pemuasmu saja." Cepat, Jungkook menarik diri untuk tidak menatap Taehyung, ia menghembuskan nafasnya kemudian kembali terfokus pada bocah kecil tersebut. Maniknya semakin menggelap mendengar pernyataan itu. "Tuan memiliki banyak orang yang bisa dijadikan sebagai kekasih."
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" Jungkook mendengus dengan air muka yang mulai menggelap.
Taehyung beringsut turun dari ranjang Jungkook, ia semakin menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan sang dominan.
Ia menggeleng. "Tidak, aku hanya pelayan bar yang dipaksa bekerja tanpa bayaran dan ayahku mati dengan meninggalkan hutang yang sangat banyak."
Setelah beberapa saat, Taehyung pun memberanikan diri untuk menatap Jungkook.
"Aku tahu aku sangat berhutang budi kepada tuan, tapi aku ingin pergi saja. Aku akan bekerja dan membayar hutangku kepada tuan-"
"Apa katamu?" Suara Jungkook berubah mencekam, ia meremat selimut sebelum melemparkan benda tersebut dan berdiri diatas kakinya. Sepenuhnya mengabaikan lengan kirinya yang masih terhubung dengan selang infus.
Tubuh menjulang itu membuat Taehyung semakin terpojok.
"Aku akan membayar hutangku-"
"Kau tidak!"
Taehyung mendongkak terkejut akibat bentakan itu.
"Kau tidak akan kemana-mana! Tubuhmu sudah menjadi milikku dan kau tak punya waktu untuk bekerja dan membayar semua yang telah aku berikan kepadamu! Ingin kembali ke club sialan itu? Pikirmu kau bekerja disana dan menjajakan tubuhmu untuk para pria sialan itu? Kau telah terjebak denganku Kim Taehyung, jadi terimalah semua ini." Jungkook menurunkan nadanya pada kalimat terakhir lalu sorot manik gelap menakutkan tersebut semakin nampak kelam. "Kau tidak bisa pergi dariku, tidak sampai salah satu dari kita mati atau aku yang mendorongmu untuk pergi dari hidupku."
Jungkook melempar tubuh kurus itu ke atas ranjang dan membuat Taehyung terbaring disana dengan hanya sekali gerakan. Membuat remaja lelaki itu terengah gugup.
"Tapi kau tidak perlu berharap terlalu banyak." Katanya. "Karena itu tak akan mungkin terjadi."
"Tuan-" Taehyung gemetar, namun ia tidak melanjutkan tangisannya. Air mata terasa kering dan tak mau keluar, ia terlalu takut untuk menghadapi Jungkook yang sudah benar-benar marah.
Kini pria itu telah berhasil mengurung Taehyung dibawah tubuh atletisnya, setelah sebelum itu mencabut jarum beserta selang infus dari tangan kiri, sepenuhnya mengabaikan rembesan darah yang mulai menampakkan diri pada plester perekat dan kasa diatas bekas tusukan jarum.
Membuat Taehyung sama sekali tak bisa berkutik maupun melawan. Bahkan bocah kecil itu melirik pergelangan tangan Jungkook dengan ngeri.
"Tuan, tanganmu-"
"Kau tidak pernah tahu dengan siapa aku berkencan! Dari mana kau bisa mengambil kesimpulan itu hm?"
Tidak, Jungkook tidak pernah membayangkan jika Taehyung akan menyerah sedini ini, dan- apa? Banyak kekasih?
Siapa yang memberitahunya hal itu?! Tidak mungkin Yugyeom.
"Apa yang dikatakan Baekhyun padamu?" Itu adalah tersangka utama yang Jungkook curigai saat ini, dan Taehyung hanya membuka bibirnya sekali namun kemudian kembali tertutup.
"Katakan!"
"Dia bilang kau menginginkan kebahagiaan." Kata Taehyung pelan sambil mulai terisak. "Dan rasa aman dari semua kenangan burukmu."
Jungkook kembali terdiam.
"Aku tidak seharusnya membuatmu malah kembali merasakan sakit itu." Kali ini Taehyung telah benar-benar menangis. "Aku ingin menyenangkan tuan."
"Hai, disini kau rupanya hm?" Itu Baekhyun, setelah hampir satu menit ia mencari Taehyung akhirnya bocah kecil itu ditemukan dekat kolam renang Jungkook. Sedang membelai beberapa kelopak bunga yang sedang bermekaran dipelataran belakang sembari terduduk diatas rumput sintetis.
"Oh, dokter Byun." Taehyung nampak menoleh sambil menghirup udara. Kelihatan hidung mancung itu sedikit kemerahan, entah karena udara dingin atau ia menahan tangis tadi.
"Penyuka bunga ya Kim Taehyung?"
"Tentu." Bocah itu mengangguk sambil kembali menoleh kearah rumpun bunga yang baru saja ia belai.
"Jungkook juga menyukai bunga." Kali ini Taehyung menoleh sesaat. "Tidak terlihat kesukaannya ternyata seperti itu kan?"
Baekhyun terkekeh manis, ia berjongkok disamping Taehyung sambil memeluk lututnya.
Sedangkan bocah cantik itu tidak menjawab, ia pun kembali berujar.
"Jangan salah paham dengan yang tadi kulakukan pada Jungkook."
Taehyung menghentikan kegiatan memetik daun tua pada rumpun bunga tadi seketika. Tubuhnya membeku mendengar hal itu.
"Aku tahu apa yang sedang terjadi antara Jungkook dan kau." Kata Baekhyun. "Bahkan sejak awal aku bertemu denganmu yang mengenakan kemeja putih kebesaran punya Jungkook."
Taehyung terkesiap, ia menoleh kearah Baekhyun dan tak mengalihkan pandangan sedetikpun dari wajah cantik itu.
"Karena aku juga pernah berada diposisi seperti itu." Baekhyun mulai memelankan nada bicaranya, namun suasana sunyi pelataran belakang sama sekali tak membuat itu jadi masalah. "Seperti dirimu."
"Apa maksudnya?"
"Kau mengerti maksudku." Baekhyun mengangguk meyakinkan, ia masih berbicara dengan wajah tenang. Sangat cantik. "Banyak orang-orang seperti aku yang telah menghangatkan ranjangnya, tapi Jungkook tidak pernah membiarkan siapapun masuk kedalam sini dan bercinta didalam kamar pribadinya sendiri."
Angin berhembus pelan, menerpa surai caramel Taehyung namun ia sama sekali tak berkedip.
"Termasuk aku. Namun berbeda denganmu, ia membiarkan kau tinggal disini. Menghabiskan waktu didalam kamar pribadinya hanya berdua. Ia telah menaruhkan banyak hal. Tapi kenapa Jungkook tetap tidak bahagia?"
Taehyung tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya memalingkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jungkook adalah seorang yang gila kerja, dan dengan cara itulah ia dapat melupakan masalahnya." Baekhyun tetap berbicara, meski Taehyung nampak enggan mendengarkannya. "Satu hal, aku memang pernah dekat dengannya. Tapi sekarang sama sekali tidak."
Taehyung tetap diam, ia menahan isakannya sambil memunggungi Baekhyun.
"Aku anggap kau sudah mengerti." Kata Baekhyun sambil bangkit dari posisi jongkoknya. "Katakan pada Jungkook aku pulang lebih awal karena ada urusan."
Bocah itu masih tak menjawab.
"Temuilah dia." Ucapnya final, Baekhyun pun pergi meninggalkan Taehyung yang mulai terisak-isak sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Omong kosong."
Kini Taehyung telah kembali dari ingatannya, dan ia masih terkungkung dibawah kuasa Jungkook. Terisak dengan tubuh bagian bawah terbuka lebar dan terhimpit.
"Apa lagi yang dia katakan?" Jungkook menaikkan alisnya emosi, ia memaksa Taehyung untuk menatap matanya. Mencengkram dagu mungil itu dengan tangannya yang terluka.
Namun Taehyung menggeleng, ia sama sekali tidak menceritakan semua yang Baekhyun bilang kepadanya. Taehyung bukan seorang mulut besar, tapi Jungkook memiliki firasat lain dari sikap yang ditunjukan Taehyung setelah ia berbicara dengan Baekhyun. Jungkook sangat mengenal dokter sukses itu, amat sangat mengenal tentu saja, dan tak ada seorangpun yang dapat berbohong kepada Jungkook.
Baekhyun pasti mengatakan hal lain.
"Jangan menutupi apapun dariku Kim Taehyung, atau kau akan menyesal." Desis Jungkook sambil terus mencecar manik sembab Taehyung. Ia mendengus kasar, membiarkan nafasnya menyapu poni lembut dikening Taehyung.
"Minggu lalu," kata Taehyung gemetaran. Melihat ia mulai berbicara Jungkook pun melepas cengraman pada dagunya. "Aku melihat tuan bersama seorang gadis di televisi, kalian terlihat sangat dekat. Itulah mengapa aku berpikir banyak orang yang menginginkan jadi kekasihmu tuan."
Ia terisak, dengan air mata yang terus mengalir melewati pelipis dan membasahi sisi kepala dan rambutnya, Taehyung sama sekali tak menghalangi segukannya lagi.
"Aku adalah salah satu orang itu." Taehyung membawa kedua tangannya untuk menutupi wajah nya yang memerah karena emosi. "Tapi aku malah jatuh cinta kepadamu. Makanya, sebelum kau membuangk-"
"Kau sama sekali tidak mendengar apa yang aku katakan sebelumnya?!" Bentak Jungkook setelah sebelumnya ia meraih kedua tangan Taehyung untuk berhenti menutupi wajahnya.
Taehyung terkesiap, bola mata berkilauan itu menatap Jungkook penuh dengan rasa sedih.
"Kau sudah terjebak denganku disini." Desisi Jungkook dengan tatapan yang berubah. Kini sorotan tajam itu berganti menjadi pandangan penuh kebutuhan yang tertahan. "Dengar itu. Kau tidak akan bisa lepas dariku jika bukan aku yang membuangmu, tapi jangan terlalu banyak berharap karena aku tak akan melakukannya."
Taehyung menghentikan tangisannya seketika, wajah penuh intimidasi Jungkook telah pergi entah kemana. "Jadi, hentikanlah omong kosong ini dan turuti apa kata daddy, ok?"
Bocah kecil itu mengangguk, kemudian ia menghirup hidungnya untuk menghilangkan cairan disana yang membuat suaranya sangau.
Taehyung merasakan belaian lembut jemari panjang dan berotot Jungkook diwajahnya, lalu ia pun terpejam ketika punggung jari Jungkook mengusap sisa air mata dimasing-masing ujung pelupuknya.
"Kau adalah milikku Kim Taehyung, sudah sejak kau menginjakkan kakimu dirumah ini." Bisik Jungkook ketika bocah itu masih terpejam. "Tak akan ada yang bisa membuatmu lepas dari genggamanku. Tidak, bahkan dirimu sendiri."
Kemudian, Jungkook mengawali ciuman mereka. Lembab dan sedikit asin karena air mata. Menyapu permukaan bibir Taehyung dengan mulutnya yang piawai, memainkan lidah keluar dan masuk. Menjilati bagian dalam beserta langit-langit mulut Taehyung hingga yang paling cantik pun mengerang geli.
Keduanya terpejam, meresapi sengatan listrik kecil yang menyapa syaraf mereka dan Taehyung melilitkan kedua lengannya pada bahu beserta leher Jungkook, menerima setiap sentuhan yang dilakukan pria itu terhadapnya.
Jungkook telah sepenuhnya mengeras untuk Taehyung, lalu kemudian mereka kembali bercinta, dengan Taehyung yang mendesah-desah memanggil Jungkook menggunakan sebutan kesayangannya.
"Daddy!"
Sekali lagi bertelanjang bersama dan menghabiskan malam panas dengan posisi-posisi terbaru, saling mencium dan bercumbu. Menjalin jemari pada tangan kanan dan menggoda puting Taehyung menggunakan tangan kiri, Jungkook sama sekali tidak mengubris denyutan nyeri pada daerah lukanya. Semua itu termanipulasi oleh denyutan gairah yang ia rasakan untuk Taehyung.
Tak menghilangkan sama sekali godaan lain dengan melakukan gerakan keluar masuk yang lambat ketika Taehyung mengharap tumbukan yang lebih kuat dari Jungkook.
Bahkan terkekeh ketika wajah polos itu meminta dan memohon lebih, lebih cepat, lebih keras, lebih kasar.
Taehyung mencakar Jungkook dimana-mana, melampiaskan rasa nikmat bercampur perih yang luar biasa melenakan. Sedang Jungkook mendengus penuh nafsu diatas tubuh Taehyung, memacu kejantanannya untuk terus saling memuaskan satu sama lain. Hingga denyutan hebat membuatnya meledak sampai jadi berkeping-keping, hancur lebur dalam nikmat yang- ya, sangat sulit dikatakan.
Keduanya mengerang dan terengah, bermandi keringat dan kelelahan. Setelah beberapa sesi dengan Taehyung yang lebih banyak mendapatkan orgasme dari biasanya.
Setelah semua emosi yang mereka alami, itu selalu berakhir dengan seks, dan dengan ajaib memperbaiki semuanya.
Seperti balasan senyum bahagia Taehyung ketika Jungkook menyeringai kecil didepan wajahnya sembari mengecupi kening Taehyung. Sama sekali tak melepaskan kontak mereka meski ujung pengamannya sudah kepenuhan sperma.
"Aku mencintaimu tuan."
.
.
.
Saat itu Jungkook masih berumur tujuh tahun. Sepulangnya bersekolah ia berniat memamerkan sekumpulan burung kertas didalam stoples kaca yang tadi siang ia buat bersama teman-temannya. Namun ketika ia membuka pintu rumah, sebuah jeritan mengagetkannya.
"Aaarrrkk! Stop!" Itu suara ibu, dan Jungkook tentu saja sangat panik. Ia berlari dengan kaki kecilnya sambil terus memeluk stoples kaca didada.
Setelah sampai didepan pintu kamar orang tuanya, lalu ia menyentak knop pintu dengan sekali tarikan dan mendorongnya keras hingga itu terbanting kebelakang, memberikan ruang bebas untuk kedua bola matanya menyaksikan pergulatan sadis yang ayahnya lakukan pada sang ibu.
Manik hitam itu membelalak.
Diatas sana, ayah tirinya dengan memegang sabuk tengah mencekik tubuh telanjang sang ibu yang menungging.
Penuh luka, penuh darah dan juga air mata.
"IBU!"
Lengkingan jeritan anak berumur tujuh tahun itu menggema didalam kamar. Sang ibu berteriak agar ia cepat pergi, namun Jungkook melangkah masuk menantang maut.
Tentu saja ayah tirinya murka, ia bangkit dengan membawa rotan yang cukup panjang dan belati ditangan yang lain.
"Keluar! Atau aku akan membunuhmu!" Geraman mengerikan itu tertahan akibat ibunya yang menahan kepergian sang ayah tiri. Jungkook masih termangu dengan air mata yang semakin deras.
"Tidak! Kumohon! Jangan sakiti anakku!" Ibu terlihat menangis memohon-mohon, namun yang ia dapat hanyalah sebuah tamparan.
"IBU!"
Jungkook kecil berlari menerjang ayah tirinya, ia menggigit pergelangan tangan kekar itu sekuat tenaga.
"Brengsek!"
PRANG!
"Jungkook!"
Bocah itu terbanting. Dengan menindih stoples kaca yang kini telah pecah belah dan melukai dirinya. Ia mengerang, darah mengucur dari balik bajunya yang sobek. Ada rasa perih didadanya dan ketika ia berbalik sang ayah tiri hendak menikamnya dengan belati.
"Wanita dan pria cantik di Amerika menyukai pria dominan yang memiliki bekas luka." Tiba-tiba kalimat dengan suara seseorang yang sangat ia kenal terdengar samar.
'PRANG!'
Kini jeritan sang ayah tiri yang menyimfoni. Ibu tak bisa beralih dari ranjang itu, akibat kedua kakinya yang sengaja diraintai oleh suaminya. Sudah beberapa tahun terakhir pria itu memiliki tingkah laku seks yang menyimpang. Kini ia harus menyaksikan suaminya yang semakin menggila dan hendak membunuh anaknya. Ketika ia hampir menikam Jungkook, bocah itu membanting sisa stoples kaca yang masih utuh ke kepala sang ayah tiri.
Erangan terdengar saat pendarahan hebat terjadi dipelipisnya, lalu Jungkook dengan tubuh yang luar biasa kuat meraih belati yang terjatuh.
Suatu hari ia diajarkan oleh seorang paman yang berdandanan menyeramkan dipinggir hutan ketika berkemah. Didepan perapian Jungkook termangu mendengarkan penuturan sang paman misterius.
"Ketika seseorang hendak membunuhmu, ambil pisau atau senjata tajam apapun dari tempatnya. Lalu tusukan pada pahanya dan putar hingga darah mulai keluar." Pria itu menjelaskan sebuah taktik membunuh pada seorang anak berumur enam tahun dalam pangkuannya.
"Setelah itu?" Bocah tampan yang penasaran pun bertanya.
"Setelah itu, biarkan ia kehabisan darah dan mati."
Jeritan pria dewasa menggelegar bersama terjatuhnya tubuh besar itu dilantai. Tak berhenti ia mengerang, menahan darah yang mengalir deras keluar dari pahanya. Jungkook mencoba bangkit namun pergelangan kakinya digenggam erat oleh sang ayah tiri.
"Aaarrggghhh! Ibu!" Jeritan, erangan dan tangisan memenuhi pendengaran Jungkook. Kini bajunya telah basah terguyur darah segar. Ia menendang-nendang dengan sisa tenaganya.
Darah.
Dimana-mana banyak darah..
Bahkan kini ia bermandikan darah..
Darahnya dan juga darah sang ayah tiri.
Sunyi tiba-tiba terasa mencekam, tubuh gemetar Jungkook tak merasakan cengkraman tangan ayah tirinya lagi. Darah kini menggenang dibawah tubuh sang ayah tiri, mengalir mendekatinya.
"Tolong aku.."
"Ibu.."
"Ibu!" Jungkook yang lemah bangkit dari genggaman tangan pria yang tergeletak. Dengan pakaian yang kuyup oleh darah, ia berjalan menuju sang ibu yang termangu diatas ranjang. Wajah itu terlihat kelam ketika Jungkook mendekatinya.
Ibu, sekarang sudah aman. Tidak akan ada lagi yang menyakiti kita.
Begitulah benak si kecil dalam pikirannya. Ia meraih sebuah kunci dari atas nakas dan membuka rantai yang mengikat ibunya dengan tertatih.
Kini wanita itu terbebas, dan Jungkook dengan jemari kecilnya menyampirkan jubah tidur sang ibu dipunggungnya.
"Ayo pergi.. Ibu, dadaku sakit.." Bocah itu memeluk ibu dengan kedua kakinya yang tertekuk diatas ranjang. Jungkook sangat membutuhkan tempat yang aman, dimana tidak ada darah dan keributan disekitarnya. Namun sang ibu tak ingin beralih dari tempatnya, ia bahkan tak membalas pelukan Jungkook.
Lama bocah itu terisak, akhirnya sebuah desisan menggema hingga ke langit-langit ruangan.
"Tidak..." Jungkook membuka matanya, "-kau monster..."
Sakit, kini bukan tubuhnya yang nyeri melainkan hatinya. Tidak ibu, ayahlah yang monster, dia menyiksamu.
"Aku memberitahumu untuk jangan melakukannya.." Desisan itu kembali berlanjut, namun Jungkook masih terdiam. "Kau membunuh suamiku!"
"Pembunuh!"
"AAARKKK!"
Jungkook kecil terbanting cukup jauh dari atas ranjang akibat sang ibu mendorongnya kuat-kuat. Tubuh kecil itu menghantam peti kecil tempat ayahnya menyimpan alat pancing dan pisau untuk memancing ikan didanau.
Ada apa? Kenapa ibu bersikap buruk padanya? Kenapa semua orang memperlakukannya sejahat ini?
Jungkook bukan monster!
Tubuh kecil itu mendarat dengan rusuk kiri yang menghantam peti hingga patah. Terlihat Jungkook nampak merabanya dengan hati-hati dan bocah itu kembali mengerang juga menjerit.
"Tuan!"
"ARRGH!"
"Tuan sadar!"
Gema samar dari suara kecil yang memanggilnya terdengar bersamaan dengan cahaya menyilaukan yang hadir didepan wajah Jungkook.
Hingga sentakan pada tubuhnya yang diguncang seseorang membuat ia membelalakkan mata sembari tersengal hebat.
Pupilnya mengecil ketika Jungkook mendapati Taehyung yang tengah menatapnya khawatir. Bocah kecil itu meremat tepat pada bahu telanjang Jungkook, mengguncangnya agar ia terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan.
Oh Tuhan.
Jungkook masih tersengal, dengan wajah yang sarat akan rasa sakit dan ketakutan. Semua itu bercampur aduk didalam mimpinya, kemudian terbawa hingga ke alam sadar. Berputar-putar, menjadi bayangan yang sangat nyata bahkan setelah ia berjuang untuk membuangnya.
"Oh God!" Jungkook menutup matanya dengan sebelah tangan, wajah dan tubuhnya berkeringat. Nafasnya memburu tak karuan, dan ia bergumam dengan bibir yang gemetar.
Mimpi lagi.
Dan Taehyung berhasil membangunkannya tanpa Jungkook melukai dia sedikitpun. Sial.
Pergelangan tangan kirinya terasa perih, kemudian ia melepaskan tangan diwajahnya dan melirik plester luka yang terdapat darah mengering disana.
Jungkook mendesah, ia baru ingat telah melepas infus secara paksa beberapa jam yang lalu. Saat ini pasti sudah tengah malam.
Beberapa saat setelah nafasnya kembali stabil, Jungkook merasakan belaian lembut pada pipinya, dan ketika ia menoleh tatapan penuh perhatianlah yang pertama kali ia lihat dari Taehyung.
"Mimpi itu kembali lagi?" Sebenarnya Taehyung tidak tahu sedang membicarakan mimpi apa, namun ia mencoba untuk tidak mencari tahu nya sebelum Jungkook mengatakan itu sendiri. "Apa tuan baik-baik saja? Perlu aku memanggil Yugyeom?"
"Jangan, tidak usah." Ucap Jungkook sambil mengusap keringat dikeningnya. "Cukup ambilkan aku obat diatas nakas itu." Katanya sambil menoleh kearah nakas disamping Taehyung.
Bocah itu menurut, ia mengambilkan beberapa botol obat yang Jungkook minta kemudian turun dari ranjang untuk menuang segelas air putih. Taehyung hanya mengenakan kemeja oversize milik Jungkook, entah didapat dari mana. Namun ia tak mengenakan bawahan apapun, memberikan bayangan view pantat mungil yang nampak menggemaskan. Berbeda dengan Jungkook yang kini benar-benar telanjang dibawah selimut.
Jungkook meminum lima butir obat berbagai jenis itu dalam sekali tegukan air, membuat Taehyung kembali menyodorkan gelas ke mulutnya.
"Apa tuan tidak tersedak, minumlah lebih banyak."
Jungkook tidak berkomentar, ia hanya kembali meminum air yang disodorkan Taehyung hingga habis.
Setelah meletakan gelas kembali pada tempatnya Taehyung pun hendak beranjak dari atas ranjang, namun cekalan pada pergelangan tangan menahannya.
Ia menoleh, menatap Jungkook yang nampak enggan.
"Aku akan pergi sebentar untuk mengambil kotak pertolongan pertama tuan." Kata Taehyung menjelaskan, meski Jungkook tak menegaskan kenapa ia menahan Taehyung tetap ditempatnya.
Elusan pada punggung tangannya membuat mesti melepaskan Taehyung, lalu bocah itu bangkit dan pergi untuk mencari benda yang ia maksud.
Setelah beberapa menit menunggu dalam ketidakpastian, Jungkook pun melihat Taehyung kembali dengan kotak pengobatan ditangannya. Ia beralih pada sisi kiri Jungkook, kemudian membuka benda berisi peralatan kesehatan untuk pertolongan pertama itu dan mengeluarkan beberapa antiseptik, obat luka, kapas juga kasa.
Ini adalah luka luar, maka dari itu ia akan melakukan hal yang sama kepada Jungkook seperti yang Baekhyun lakukan kepadanya tempo hari.
Beruntung luka dijari kelingkingnya cepat merapat dan kering, Taehyung jadi tak perlu takut akan kena marah Jungkook lagi jika pria itu melihat tangannya. Semoga saja bekasnya tersamarkan oleh suasana remang-remang yang-
"Apa itu sebuah luka?" Suara Jungkook sedikit mengagetkan Taehyung yang mulai menetesi luka bekas jarum infus dipergelangannya. Tanpa mendongak, Taehyung pun mengangguk.
"Iya, tuan seharusnya tidak mencabut infus sembarangan."
"Bukan milikku. Tapi milikmu. Jari kelingking, tangan kiri."
Taehyung membeku, dadanya berdegup kencang ketika nada suara Jungkook mulai kembali berubah.
Perlahan, ia pun mengepalkan tangannya dengan hati-hati.
"Kau pasti salah lihat tuan, aku tidak apa-apa kok." Cengiran itu kini tak berpengaruh untuk Jungkook, ia tetap mengintimidasi, menatap Taehyung dengan pandangan tidak suka. Seakan ia telah mengetahui semuanya.
Astaga, apakah Yugyeom sudah mengadukannya kepada Jungkook?
Semoga saja tidak, karena jika iya itu berarti Yugyeom bukanlah orang yang dapat Taehyung percaya.
"Mataku masih sangat bagus, tidak minus, tidak plus, maupun silinder, aku tahu itu adalah bekas luka yang masih baru dan kau membalutnya dengan plester transparan." Cerca Jungkook tanpa ampun, kini tangannya yang lain telah memegang tangan kiri Taehyung. "Anak kecil sepertimu ingin membodohiku?"
Taehyung lagi-lagi menelan ludahnya, oh ayolah, ia hanya ingin mengobati luka Jungkook lalu kembali tertidur dalam pelukan hangat sang daddy. Namun ketelitian Jungkook sungguh membuat ini terasa sulit, tapi ternyata Yugyeom memang tidak mengadukannya kepada Jungkook. Taehyung sangat kagum pada pria itu.
"Tuan-"
"Aku melihat tangan itu diperban ketika kau datang kekantorku, kau tidak bisa mengelak lagi."
"Maafkan aku tuan, aku tidak sengaja!" Taehyung merengut ketika Jungkook nampak mengangkat tangannya, namun bukan pukulan yang Taehyung dapat ia malah tertegun karena usapan lembut pada bagian kepala.
"Lain kali jangan ceroboh, aku tidak suka mengkhawatirkan orang."
Taehyung memberanikan diri untuk menatap Jungkook, kini wajah tampan itu nampak baik-baik saja dan tidak marah seperti biasanya. Kemudian Jungkook meraih sebuah botol obat cair kecil dari dalam kotak obat, Taehyung tak pernah melihat jenis dan merk macam itu sebelumnya.
Setelah ia selesai membalut luka pada pergelangan Jungkook, Taehyung pun membiarkan tangan mungilnya kembali didominasi oleh Jungkook. Perbedaan kentara pun kembali terlihat, dimana punggung tangan berotot Jungkook nampak sangat kontras dengan jemari lentik Taehyung yang kelihatan seperti tangan perempuan.
Ia merona malu karenanya.
"Ini adalah obat penghilang bekas luka." Kata Jungkook sembari mengolesi jari kelingking Taehyung dengan obat tersebut. "Semuanya akan kembali seperti semula hanya dalam waktu beberapa minggu saja."
Taehyung mengangguk sambil menggumamkan terima kasih.
"Lain kali berhati-hatilah, aku tidak ingin kulitmu tergores sedikitpun. Apalagi jika tidak olehku."
Entah ini romantis atau malah mengerikan. Jika yang mengatakannya Jungkook. Taehyung hanya mampu mengangguk patuh sembari kembali merona.
Itu memang gila, karena cinta tidak pernah ada yang betul. Meski sebagian hati Taehyung merasa ini sangatlah benar.
"Tidurlah, besok bajumu akan datang." Kata Jungkook setelah selesai menangani bekas luka Taehyung.
Bocah itu nampak kebingungan.
"Bajuku?"
"Ya, tuxedo mu, jangan lupakan pesta pernikahan Park Jimin minggu nanti."
Oh! Taehyung terkesiap sambil menaikkan alisnya, ia hampir lupa tentang acara pernikahan yang Jungkook bicarakan waktu lalu. Tuan Park yang telah menyelamatkannya itu akan menikah.
Taehyung tersenyum kecil sembari memandangi Jungkook yang kini sudah terlebih dahulu berbaring dengan tenang. Tetap membalas tatapan Taehyung, Jungkook pun mengernyit ketika bocah kecil itu hanya menyunggingkan bibirnya manis.
"Ada apa?" Tanya Jungkook dengan suara pelan.
"Tuan... Aku ingin menjadi pengiring pengantinnya!"
.
.
.
.
TBC
Fiuh~ akhirnya, nyampe ke inti konflik xD
Ini baru awal lho, masih banyak rahasia Jeon Jungkook yang belum kita tahu. Because what? Dia adalah manusia yang penuh dengan rahasia xD dan rahasia lainnya akan kita temukan di chapter depan..
Pengennya sih lebih panjang lagi, tapi biar ada gregetnya gitu :'v
Ell akan bikin ff ini happy ending, makanya keep reading and jangan lupa feedback ya..
Comment kalian menyemangati jemariku~
