CLAIMED

By

Ellden-K

Prev : "Ada apa?" Tanya Jungkook dengan suara pelan.

"Tuan... Aku ingin menjadi pengiring pengantinnya!"

Bab 12 - Sweet & Sour

Jungkook melongo, ia segera mendengus tidak suka sembari menarik tangan Taehyung untuk lebih mendekat kearahnya.

"Tidak ada acara jadi pengiring pengantin! Kau akan datang dan menjadi tamu undangan bersamaku." Tukas Jungkook tanpa ampun.

Bahkan ketika Taehyung hendak membuka mulutnya untuk menjawab, ia kembali menyela.

"Jika kau berpikir untuk memohon, sebaiknya jangan. Aku tidak menerima bantahan apapun."

Taehyung hanya mampu mendesah lesu dengan wajah yang ditekuk, kemudian Jungkook semakin menariknya kedalam pelukan untuk ikut berbaring bersama dengannya. Setelah sebelum nya menaruh kotak putih berlogo plus dekat Taehyung dibawah ranjang.

"Sekarang tidurlah, besok pagi Heechul akan mengantarkan pakaiannya kesini." Kata Jungkook sembari mengelusi belakang kepala Taehyung yang kini tengah bersandar pada dada telanjangnya.

"Secepat itu?" Tanya bocah itu polos.

"Itu sudah jadi sejak tiga hari lalu, kita melakukan pengukuran badan seminggu sebelumnya. Kau lupa?"

"Oh. Aku hanya memikirkan hal lain." Jawab Taehyung cepat.

"Memikirkan aku?"

Well, tunggu dulu. Sejak kapan Jungkook berubah menjadi narsistic seperti ini? Lihat, Taehyung hanya bisa menggigit bibirnya dengan kedua pipi yang samar-samar nampak merona.

Taehyung masih terdiam, tetapi kemudian ia pun mengangguk lemah sembari telapak tangannya menelusuri lekukan bergelombang permukaan perut dan dada Jungkook.

Tanpa diketahui Taehyung sama sekali, pria pertengahan dua puluh itu mengulum senyuman, benar-benar tak bersuara karena ia menahannya. Kemudian semakin mengeratkan pelukan ketika dirasa Taehyung sudah mulai terlelap dengan mengemut ibu jarinya.

"Selamat malam." Gumam Jungkook sambil lalu ikut menutup matanya namun dengan kepala yang memikirkan banyak hal.

Jungkook berharap ia tidak akan tidur sampai pagi dan kemudian berpura-pura baru saja bangun dari tidur yang nyenyak ketika Taehyung menggeliat akibat matahari pagi yang menyapa membelai-belai wajahnya. Mengintip dari celah jendela dengan gorden yang sudah sejak semalam terbuka lebar.

Namun nyatanya Jungkook malah terlelap dan dengan ajaib tak mendapati mimpi buruknya kembali datang sedikitpun. Ia hanya merasa lupa dengan apa yang terjadi selama tubuhnya berada dalam keadaan setengah mati, namun beban yang terasa menindih dada dan bahu kirinya membuat Jungkook tersadar bahwa ia telah melewatkan malam tanpa mimpi buruk dengan Taehyung.

Bocah kecil yang terlelap dengan bibir menempel pada bagian dada Jungkook, nampak seperti mengemut-emut sesuatu.

Seharusnya kini Jungkook tengah tergelak melihat kelucuan itu, namun gerakan bibir yang kelihatan berkedut-kedut diatas permukaan kulit dadanya membuat ia malah membayangkan hal yang tak senonoh.

Ternyata, pilihan yang buruk untuk membiarkan Taehyung tertidur dan memeluknya. Meskipun beberapa detik lalu bocah itu hampir terbangun karena sinar matahari, tapi ia malah menghindarinya dengan menelusup dan memeluk Jungkook untuk ia jadikan tameng dari cahaya menyilaukan tersebut.

Jungkook menghela nafas, ia benar-benar penasaran dengan apa yang sedang Taehyung mimpikan, pasalnya Jungkook pernah melihat seorang bayi yang mengedutkan bibir ketika sedang terlelap. Orang bilang itu tandanya ia tengah bermimpi meminum susu dari sang ibu.

Tapi, kini ia mendapati Taehyung mengedutkan bibir seperti demikian, namun ia sudah bukan bayi lagi untuk mendapatkan mimpi seperti itu. Jadi, apa sebenarnya yang ia hisap didalam mimpinya?

Tak tanggung-tanggung setelah kerutan didahinya makin dalam, Jungkook pun mengangkat jari telunjuknya untuk menekan bibir yang mengerucut lucu itu. Sebenarnya, bukan mengerucut sih, hanya belah bibir yang terbuka dan nampak seperti tengah menghisap dot berisi susu.

Jungkook tidak mungkin lupa, gerakan bayi yang bermimpi itu sama persis seperti apa yang dilakukan Taehyung sekarang.

Ini aneh.

Gumam Jungkook dalam hati.

Ketika ujung jemarinya menyentuh permukaan bibir Taehyung, kedutan itu tiba-tiba berhenti. Setelah beberapa detik berlalu kemudian ia kembali melakukan hal yang sama namun kini malah menghisap jari Jungkook.

Sialan. Benar-benar seperti bayi! Permukaan basah itu terasa lembut, membalut jarinya yang panjang dan tegas, penuh otot.

Kim Taehyung, apa yang sedang kau mimpikan?

Jungkook segera melepas jarinya dari mulut Taehyung kemudian mendorong tubuh mungil itu untuk memindahkan kepalanya keatas bantal. Ia hanya menggeliat kecil, lalu bibir penuh itu mengatup dengan bagian bawah yang naik keatas. Meregangkan tubuhnya dengan malas dan tak menunggu lama Jungkook pun kembali menyambar bibir itu untuk ia lumat habis-habisan.

Taehyung mengerutkan alisnya sebelum kemudian hendak memegang wajah Jungkook dengan kedua tangannya, namun belum sempat ia menangkup wajah tampan itu, Jungkook sudah terlebih dahulu mencekalnya.

Ia membuka mata sekilas, kemudian kembali memejam dan membalas pagutan Jungkook dengan suka rela. Setelah beberapa saat bermain lidah, Jungkook akhirnya melepaskan tangan Taehyung, kemudian membawa dirinya untuk menindih tubuh kecil itu.

Menggunakan sikutnya untuk menahan bobot yang tentu saja jauh lebih berat dari yang sanggup ditanggung Taehyung. Pria dengan wajah khas baru bangun itu menatap malaikat kecilnya sembari mengecupi hidung dan pipi lembut Taehyung.

"Mmm..." Bocah itu hanya menggumam sembari merengut tanpa membuka mata ketika Jungkook menggelitiki lehernya menggunakan mulut.

"Sudah bangun?" Tanya Jungkook tepat disamping telinga Taehyung.

"Baru saja.." Bisik Taehyung masih menutup matanya- ia masih mengantuk, asal tahu saja. "Tuan sudah baikan?"

"Baru saja." Balas Jungkook mengikuti apa yang Taehyung katakan sebelumnya. Pria itu menyunggingkan senyuman kecil. Buka matamu Taehyung, itu sangat indah. Lihatlah. "Apa yang kau mimpikan?"

"Hm?" Kali ini anak kecil itu membuka sebelah matanya, lalu menggunakan kepalan mungil tangan kirinya ia mengucek kedua matanya yang terasa lengket. "Mimpi? Aku tak bermimpi tuan."

"Ya? Aku baru saja melihatmu seperti memimpikan sesuatu."

"Apa itu?"

"Kau menggerakan bibirmu dan terlihat seperti sedang menghisap sesuatu."

"Menghisap?" Taehyung memiringkan wajahnya kebingungan. Pasalnya, ia memang tidak mengingat telah bermimpi menghisap sesuatu. Mungkin saja itu adalah kebiasaan barunya, oh! Apa Taehyung baru saja terkena penyakit langka?

"Ya, kau melakukannya seperti ini."

Jungkook memereteli kancing kemeja yang Taehyung kenakan hingga menampilkan permukaan tubuh telanjang yang kecil dan kurus. Sambil lalu bibir tipis namun penuh milik Jungkook menghisap-hisap dadanya.

Belum satu detik benda kenyal itu menyentuh permukaan dadanya Taehyung sudah terlebih dahulu menjerit dan merengek kegelian. Dibantu dengan jemari panjang Jungkook yang menggelitiki sisi tubuh Taehyung, semuanya nampak berjalan lancar.

Ia menahan bahu telanjang Jungkook dengan tangan kurusnya, namun tentu itu malah terasa seperti pijatan kecil saja. Taehyung menggeliat, matanya berair karena terlalu banyak tertawa.

Taehyung memberontak, sembari menjerit ia memukuli lengan Jungkook yang menggelitikinya. Kakinya menendang-nendang udara, hampir membuat selimut yang menutupi bagian bawah tubuh keduanya merosot dramatis.

"Kau curang! Aku kan tidak menggelitiki tuan!"

Tapi Jungkook tetap meledak dalam tawanya ketika Taehyung berusaha keras menghentikan kedua tangan durjana nya. Bocah itu kewalahan, sembari sesekali terkikik geli ketika Jungkook menggoda untuk kembali menggelitikinya.

"Tuan tidak kelihatan seperti baru saja sakit!" Kata Taehyung sebal sembari merengut lucu.

"Begitukah?" Sekali lagi Jungkook menyempatkan diri untuk mengecup bibir manis itu.

"Seharusnya tuan tidur dengan tenang saja, atau hanya berbaring ditempat tidur."

"Aku tidak suka berpura-pura sakit."

"Tapi tuan memang sakit."

"Jika sakit aku akan tampak sakit. Sekarang aku sudah baik-baik saja."

"Kalau kembali sakit lagi bagaimana?"

"Maka aku akan tampak sakit."

Taehyung semakin merengut setelah mendengar jawaban itu, pria ini, sepertinya selalu memiliki alasan untuk apapun yang ia lakukan. Pantas bisnisnya berkembang pesat, ternyata ini salah satu strategi memenangkan pertarungan dipasar industri yang ia geluti.

"Kau tahu Kim Taehyung?"

Gumam Jungkook menarik perhatian Taehyung.

Bocah itu menoleh menatapnya penasaran.

"Ya?"

"Aku sudah mengobrol dengan Yugyeom, dan ini sudah kupikirkan matang-matang." Kata Jungkook. "Dia bilang kau sangat ingin kembali ke sekolah."

Taehyung mulai menatap Jungkook dengan mata yang membola, angannya membawa ia untuk mengingat obrolannya didalam mobil bersama Yugyeom ketika mereka hendak menjemput Jungkook yang sedang sakit dikantor kemarin.

Bocah itu menunggu lanjutan kalimat dari sang tuan, dan ia pun menahan nafasnya diam-diam.

"Well, kau bisa memulainya dua minggu mendatang."

Taehyung hampir memekik jika ia tidak menutup mulutnya yang ternganga.

"Tuan... Sungguh?" Suaranya bergetar karena senang, ia menatap Jungkook dengan manik yang berbinar indah.

"Ya. Sebenarnya aku sudah memikirkan ini sebelum Yugyeom berkata demikian, kau mungkin bosan berada dirumah terus."

Taehyung segera memeluk Jungkook dengan kedua tangannya, membawa pria itu untuk semakin merunduk dan menempelkan tubuh telanjang mereka.

"Terima kasih tuan!"

"Tapi berjanjilah satu hal untukku.." Kata Jungkook sambil melepaskan pelukan Taehyung pelan-pelan. "Apa yang terjadi dengan kita, adalah rahasia."

Taehyung menatapnya sambil terdiam. "Biarkan hanya kau, aku dan Yugyeom saja yang mengetahuinya."

Bocah itu mengigit bibir, tidak, bukan hanya kita yang tahu tuan. Dokter Byun juga sudah mengetahuinya. Mengenai Yugyeom, Taehyung sudah tidak perlu merasa terkejut.

"Ada lagi.." Kata Jungkook pelan. "Kau akan segera menjadi kerabat Yugyeom."

"Huh?"

"Benar-benar menjadi kerabatnya. Secara hukum." Bisik suara penuh misteri itu. "Karena aku memasukanmu kedalam kartu keluarganya."

Taehyung terdiam sembari memainkan garpu ditangannya, ia Nampak melamun dan tak berniat memakan sarapannya pagi ini. Didepan sana kelihatan Jungkook sedang memperhatikannya sembari tersenyum kecil, pria itu mengunyah roti lapisnya dengan khidmat.

Jadi, apa Taehyung harus memanggil Yugyeom dengan sebutan paman mulai sekarang? Pasalnya pria pertengahan tiga puluh itu tidak pernah bermasalah dengan panggilan apapun yang Taehyung gunakan untuknya, bahkan Jungkook tidak mengindahkan ia yang memanggil Yugyeom tanpa sebutan yang lebih sopan. Ia nampak nyaman dengan itu semua, karena mungkin Yugyeom sudah terbiasa hidup bersama Jungkook yang tidak memperdulikan kesopanan dalam memanggil seseorang.

Jungkook adalah pria yang dihormati, tapi ia tak pernah menghormati orang lain. Selalu angkuh dan sesuka hati, egois dan pemarah. Mimpi apa Taehyung dapat mencintai pria seperti itu?

Tapi sisi lain yang telah Taehyung lihat membuat semuanya jadi Nampak masuk akal.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jungkook sambil menyuap potongan roti lapis ke mulutnya.

Taehyung terkesiap, ia mengangkat alisnya sembari mencoba menatap wajah Jungkook yang kelihatan sudah memperhatikannya sejak tadi.

"Uh, bukan apa-apa.." Kata Taehyung yang akhirnya memotong roti panggangnya menggunakan garpu.

Omong-omong, Jungkook berhasil membantah permintaan Yugyeom hari ini. Karena ketika pria itu memasuki kamar Jungkook pagi tadi, tampak infus ditangan Jungkook sudah terlepas dan menggantung tanpa ada yang memperdulikan. Sedangkan tuannya berbaring tenang diatas ranjang, Taehyung pun keluar dari kamar mandi dan kelihatan lebih segar.

Sebenarnya Yugyeom tidak ambil pusing, ia hanya tinggal menelpon dokter Byun untuk memberitahukan hal tersebut. Namun Jungkook melarangnya dan tidak ingin memasang infus itu ditangan satunya. Dia memang kelihatan sudah cukup kuat untuk kembali bekerja, dengan catatan : ia hanya dapat bekerja diruang pribadinya.

Seperti biasa, Yugyeom tidak pernah membantah. Meski ia nampak menghela nafas lelah ketika Jungkook malah bertingkah keras kepala.

"Tuan, Kim Heechul sudah datang. Dia ada diruang tamu." Itu Yugyeom, dan ia nampak klimis seperti biasanya. Menggunakan setelan rapi yang pas ditubuh jangkungnya.

"Baiklah, terima kasih. Suruh dia menunggu sebentar lagi." Gumamnya, kemudian Yugyeom pun mengangguk mengerti dan pergi untuk menyampaikan pesannya. "Cepat habiskan makananmu."

Taehyung mengangguk, kemudian ia mengambil suapan besar untuk menghabiskan rotinya sekaligus. Melihat itu Jungkook hampir tergelak, namun lagi-lagi ia menahannya. Sisa cokelat yang melumer diujung bibir Taehyung membuat Jungkook ingin mengusapnya, kendati ia malah memberikan sekotak tisu untuk bocah kecil itu.

"Hai, kita bertemu lagi." Kata Heechul ketika Taehyung nampak berjalan dibelakang Jungkook, pria berlesung pipi itu nampak memiringkan kepalanya untuk melihat Taehyung.

Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum sembari membungkuk sopan.

"Bagaimana hasilnya Heechul?" Tanya Jungkook ketika pria didepannya tengah membuka sebuah kopor besar tempat menyimpan pakaian.

"Sangat bagus, aku mengorbankan waktu tidur malamku untuk mengerjakannya."

"Terima kasih sudah mau bersusah payah untukku."

"Tidak masalah." Jawab Heechul sambil tersenyum, ia mengeluarkan sebuah setelan tuxedo hitam yang terlihat mahal. Seukuran tubuh Taehyung.

"Nah, ini dia.." Gumamnya sembari menempelkan pakaian yang masih berlapis plastik penyekat itu kepada tubuh Taehyung, nampak menilainya dengan sangat teliti. "Sangat cocok sekali."

Pria itu kembali tersenyum. "Oya, aku membuatkannya sepasang. Untukmu juga, Jungkook."

"Tunggu.." Jungkook nampak mengernyitkan alisnya tidak mengerti. "Aku hanya memesan satu untuk dia."

"Tak apa, anggap saja ini hadiah ulang tahunmu yang terlalu cepat dariku."

Heechul pun mengeluarkan setelan tuxedo lain yang berukuran lebih besar dan menilainya dengan menempelkan itu pada tubuh Jungkook juga.

"See? Kau terlihat tampan." Katanya bangga.

"Aku punya banyak setelan dan tuxedo dilemariku Heechul. Ini tidak perlu."

"Ya, memang. Tapi ini jauh lebih bagus dari setelan yang sering kubuat untukmu." Ucap Heechul bersikeras. "Pakailah, aku tidak menyuruhmu untuk membayarnya."

"Kau tahu ini bukan soal uang." Desah Jungkook datar.

"Tentu saja sayang, aku sibuk hari ini. Jadi jangan membuatku berdebat denganmu lebih lama lagi. Pegang ini, aku harus segera pergi sekarang juga." Kata Heechul sembari membiarkan seorang asistennya membereskan kopor yang baru saja ia bongkar. Ia kemudian mengecup pipi Jungkook seperti itu adalah hal yang biasa ia lakukan, sedangkan Taehyung yang sejak tadi cekikikan tanpa suara kini melongo kaget. "Nah, ketemu lagi dipernikahan Jimin nanti. Aku pergi dulu."

"Terima kasih." Gumam Jungkook dengan nada jantan.

Hey, ada apa dengan nada suara itu? Taehyung bertanya-tanya sembari mendelik sinis pada Jungkook.

"Aku pergi dulu ya, Taehyung. Semoga kau menyukai bajunya." Kini Heechul bergantian mengelus kepala Taehyung lalu mengecup pipinya juga. Ia kembali melongo.

"Sampai jumpa nanti." Kata Jungkook sembari mengantarnya kedepan pintu. Membiarkan setelan tuxedo nya ditangani oleh Yugyeom yang sedari tadi sudah berdiri patuh disana.

Dilihat dari komunikasi yang mereka lakukan, Jungkook sepertinya telah mengenal pria cantik itu sejak lama.

Hm, ada banyak pertanyaan didalam kepala Taehyung. Jungkook selalu penuh dengan hal-hal yang tidak terduga rupanya.

Well, jelas saja, Jungkook tidak pernah menceritakan apapun tentang background maupun kehidupannya yang selalu ia jalani. Kebiasaan apa yang sering Jungkook lakukan, atau ia kenal dengan siapa saja? Tokoh dunia misalnya, siapa tahu Jungkook juga mengenal presiden Rusia iya kan? Um, ok, lupakan yang satu itu.

"Kau ingin mencobanya?" Kata Jungkook setelah Heechul telah benar-benar pergi.

Taehyung menatap setelan pertamanya dengan binar yang tak hilang. Kepala cantiknya mengangguk antusias, kemudian Jungkook pun menggiringnya untuk masuk kekamar dan berganti pakaian.

Jungkook tidak pernah menyangka hasil jahitan Heechul dapat seindah itu, padahal ini hanyalah setelan tuxedo untuk pesta pernikahan, namun seperti pria berlesung pipi itu menaburi sihir disetiap serat kainnya. Semuanya nampak mewah dan elegan, bahkan wajah cantik Taehyung kelihatan semakin jelita ketika mengenakan tuxedo berwarna dasar putih dan keemasan itu.

Ya, meskipun milik Jungkook sedikit berbeda, kepunyaannya berwarna hitam namun dengan model yang sama. Hanya saja bagian keemasan diganti dengan warna perak. Sangat serasi, bahkan mungkin akan mengalahkan setelan pasangan pengantinnya sendiri.

Apa yang dipikirkan Heechul sebenarnya? Jungkook adalah pembaca karakteristik seseorang dan bahkan ia dapat mengetahui kapan ketika seseorang tengah berbohong. Tapi, Heechul adalah orang yang sulit ia baca. Ia terlalu tenang dan terkendali, Jungkook seperti buta saat mencoba melihat apa yang ada dalam dirinya.

Kendati demikian, itulah daya tariknya. Termasuk sebab dari kedekatannya dengan Jungkook, pria itu sosok yang keibuan dan penjaga rahasia paling dapat dipercaya. Namun Jungkook masih tidak bisa menceritakan tentang hubungannya dengan Taehyung, tapi dapat dipastikan Heechul pun telah mengetahuinya sejak awal Jungkook membawa bocah itu ke butik. Well, satu orang lagi yang berkemungkinan telah mengetahui rahasianya.

"Kau kelihatan cantik," gumam Jungkook dari seberang ruangan, ia tengah mendudukan diri disofa empuk kamar tidurnya yang luas. Sedangkan Taehyung nampak tengah memutar-mutar diri didepan cermin besar yang memang sudah ada disana.

"Apa? Aku keren tuan. Lihat, hampir sama sepertimu kan?" Kata Taehyung pura-pura meniru gaya berwibawa Jungkook ketika pria itu tengah mengenakan setelannya.

"Kau tidak pernah belajar dari masa lalu ya?" Tanya Jungkook sembari menahan kekehannya.

"Huh?"

"Jika aku bilang cantik, berarti memang cantik. Jika aku bilang tidak keren, berarti kenyataannya memang demikian."

Sekali lagi, Taehyung kembali merengut tidak suka. Dasar, puji aku keren dong sekali-sekali! Desah Taehyung didalam hatinya.

"Omong-omong soal sekolah itu, aku sudah memilihkan tempat terbaik untukmu." Ungkap Jungkook tiba-tiba, sontak saja hal itu menarik perhatian Taehyung dengan suka rela.

"Uh, terima kasih tuan.." Kata Taehyung sembari mengigit bibirnya gugup, ia tiba-tiba menunduk lesu. "Tapi, aku sudah berhenti sekolah sejak umurku sebelas tahun."

"Itu bukan masalah." Jungkook bangun dari acara duduk-duduk santainya dan menghampiri Taehyung dengan langkah pelan. "Aku tahu kau anak yang pintar, aku juga akan menyewa guru private untuk lebih mempermudah semuanya."

"Tapi tuan-"

"Jangan menolak." Sela Jungkook, tubuh jangkung itu sudah berada didepan wajah Taehyung. Hingga yang paling muda disana mesti mendongak kaku.

Pria itu menaruh kedua tangannya pada bahu sempit Taehyung, merematnya tak begitu kuat dan menatap bocah didepannya dengan tatapan serius. "Tapi, umurmu berapa ya?"

Seorang pria dewasa berwajah Asia nampak melepas kacamatanya setelah turun dari mobil, kemudian sedikit berlari untuk membukakan pintu penumpang disebelahnya. Cuaca di Amerika selalu berubah-ubah akhir pekan ini, maka dari itu ia mengenakan syal untuk menutupi lehernya. Nampak pas dan cocok saja dengan celana jeans beserta jaket kulit dan juga kaus hitam yang kelihatan senada.

Ia membukakan pintu mobil tersebut, kemudian mengulurkan tangan guna memberikan sedikit kesan lebih sopan pada orang yang hendak turun itu.

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini, maaf ya." Kata pria tersebut setelah keduanya berdiri saling berhadapan, ia berbicara sembari mengeluarkan beberapa kopor dari kursi penumpang dibagian belakang.

Sedangkan yang diajak bicara hanya mengangguk maklum. "Tidak apa, aku bisa sendiri. Lagipula aku sudah tahu alamatnya."

"Perlu aku menelpon Jeon Jungkook untuk menjemputmu?" Tanya pria itu lagi.

Orang dibelakangnya terkesiap sedikit. "Tidak. Kau tahu itu tidak perlu dilakukan."

Ia mengangguk, kemudian dua petugas bandara pun menghampiri mereka untuk membawakan kopor-kopor tersebut.

"Baiklah jika begitu.." Katanya sembari kembali memasangkan kacamata. "Sampaikan salamku untuknya."

"Tentu saja." Balas orang itu sembari tersenyum kecil. Cantik, tapi kelihatan sedikit angkuh.

"Bagaimana bisa umurmu lima belas tahun dengan tubuh sekecil ini?" Tanya Jungkook tidak percaya. Ia menatap Taehyung yang kini tengah merengut sebal, duduk diatas ranjang Jungkook sembari mendebatkan soal umur saja bisa sampai berperang argumentasi dengan nya. Ya, pasalnya pria itu tidak pernah salah menilai seseorang, dari umur maupun sifat, analisisnya selalu mendapatkan hasil yang nyaris sempurna. Tapi, apa ini? Ia seperti dibodohi dengan jawaban Taehyung yang ternyata sangat jauh dari ekspetasi Jeon Jungkook.

Dia tidak mungkin salah menilai!

"Jangan berbohong padaku."

"Aku tidak!" Sela Taehyung sebal. "Umurku memang lima belas tahun, aku baru merayakannya tahun kemarin."

"Jadi katamu, tahun ini kau bahkan enam belas tahun?"

Taehyung mengangguk.

"Tidak mungkin.." Desis Jungkook masih tak percaya analisisnya salah.

"Itu benar!"

"Omong kosong.."

Bocah itu mendesis, ia melipat tangannya didepan dada, melakukan hal yang sama persisi seperti apa yang Jungkook lakukan kini.

Sedangkan Jungkook nampak mempertimbangkan jawaban Taehyung, ia terus saja berkecamuk didalam pikirannya sendiri.

Bagaimana mungkin tubuh mungil dengan tingkah seperti bayi begitu bisa berumur lima belas tahun dan akan menjadi enam belas pada beberapa bulan kedepan. Ini sangat sulit dipercaya, Jungkook masih dapat memaklumi para remaja yang tumbuh lebih pesat dari umur asli mereka. Tapi ini, Kim Taehyung bahkan memiliki perawakan anak laki-laki berumur dua belas atau tiga belas tahun. Jari tangannya seperti perempuan, wajah cantik dan feminin. Apalagi? Lima belas dari mana?

Jungkook menghela nafas melihat kekesalan yang nampak mengusutkan pikiran Taehyung. Bocah itu merengut, merajuk dan memalingkan wajah darinya.

"Aku tidak percaya kau lima belas tahun." Tukas Jungkook mengulangi kalimat yang sebelumnya sempat ia ungkapkan. Sedangkan Taehyung makin mencebik kesal, tentu saja ia amat tersakiti. Pasalnya hampir semua orang mengatakan ia cantik, mungil dan seperti perempuan. Tapi kenapa Jungkook juga ikut-ikutan bilang dia kurus dan cantik? Manis? Ya itu bolehlah.. Tapi cantik? Dia keren! Bukan cantik!

"Baiklah, begini saja.. Bagaimana kita cantumkan kalau kau berumur tiga belas-"

"Kau tidak bisa melakukannya! Aku lima belas, itu membohongi orang namanya.." Desah Taehyung nampak sudah menyerah dengan perdebatan berapa umurnya.

"Kau yakin? Semua orang bahkan pasti setuju jika kubilang umurmu segitu. Tingkahmu saja seperti anak kecil."

"Anak kecil tidak akan bisa membuat tuan ketagihan dan mengerang setelah melakukan 'itu' kan?" Tukas Taehyung cepat dan asal-asalan. Sedangkan Jungkook nampak merubah mimik wajahnya dengan mata melotot kaget, bocah itu masih tidak menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

Ia hanya melipat tangannya defensif sembari memandang ke arah lain.

"Dasar anak nakal." Gertak Jungkook sambari kemudian membawa Taehyung kedalam rengkuhannya dengan hanya sekali tarikan. Bocah itu menjerit, karena Jungkook yang mulai kembali menggelitikinya.

.

.

.

TBC

Well, mungkin akan jadi agak panjang dan sedikit menyulitkan XD

Ell sengaja biar enggak langsung ke inti konflik karena takut dikata alurnya kecepetan. Karena jk yang naena tae di cp 3 aja itu udah kecepetan menurutku xD makanya Ell agak lambatin sedikit biar seru xD

Karena perkembangan hubungan dalam perbedaan usia begini sulit sekali dipersatukan jika tidak ada perasaan yang kuat '-' itu menurutku sih xD makanya disini pelan-pelan dulu, baru nanti gercep/?

Nah, ada cast baru tuh xD kira-kira siapa cobak? Cewek/cowok? OC/Artis? Masih rahasia dan ell masih agak bingung juga sih mau jadiin siapa xD kasih saran dong, siapa tahu ada yang akan ell pake nantinya xD

Feedback nya jangan lupa, bacainnya bikin semangat nulis xD

Makasih buat yang sudah review dichapter sebelumnya dan yang review disini juga, love you all :*

Special Thanks for : addictedorange, exohye, jeon miina, noonim, yunitailfa, Kyunie, Nyonya Jung, titit/? (xD), mjjujuw, mutianafsulm, Park RinHyun-Uchiha, dazzlingR, kiddokim23, HuskyVL, Ellegisnt, RabbitV, jeje