CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : "Anak kecil tidak akan bisa membuat tuan ketagihan dan mengerang setelah melakukan 'itu' kan?" Tukas Taehyung cepat dan asal-asalan. Sedangkan Jungkook nampak merubah mimik wajahnya dengan mata melotot kaget, bocah itu masih tidak menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
Ia hanya melipat tangannya defensif sembari memandang ke arah lain.
"Dasar anak nakal." Gertak Jungkook sembari kemudian membawa Taehyung kedalam rengkuhannya dengan hanya sekali tarikan. Bocah itu menjerit, karena Jungkook yang mulai kembali menggelitikinya.
Bab 13 - Meet The Evil
Saat ini, Jungkook sedang berada diruang kerja pribadinya. Memeriksa beberapa berkas seperti biasa, setelah kemarin meliburkan diri dan mendapat omelan Baekhyun karena mencabut infusnya sembarangan. Jungkook memang masih dirumah, namun ia tak sepenuhnya mengistirahatkan diri. Membuat Baekhyun jadi kesal juga.
Mereka sedang terduduk disofa dan saling bersebelahan, dengan Jungkook yang malah asyik membuka-buka lembar berkas dan menandatangani sesuatu, pria kecil disampingnya pun memborbardir Jungkook dengan pertanyaan dan istilah kedokteran yang sama sekali tidak ia mengerti, bagaimana jika dia terinfeksi atau bagaimana jika bekas cabutannya memberikan luka yang lebih besar.. Dan bla bla bla..
Pria tampan yang merasa terganggu akhirnya menyudahi pekerjaan singkatnya, Jungkook sadar, jika ia tidak segera berlagak mendengarkannya Baekhyun tidak akan berhenti menanyakan tentang kondisinya. Berbicara mengenai hal yang tak boleh ia lakukan, atau berkata ia telah terlalu banyak bekerja.
Baekhyun mengkhawatirkan Jungkook seperti biasa, namun wajah cantik itu nampak berubah terkesiap ketika Jungkook bertanya tentang apa yang dia bicarakan dengan Taehyung waktu itu.
"Taehyung tidak bilang apa-apa, ia hanya mengatakan jika aku tidak bahagia." Kata Jungkook memulai dengan tatapan yang serius. "Dari mana kau bisa menyimpulkan jika aku tidak bahagia?" Tanya nya dengan nada yang tak biasa.
Sedangkan Baekhyun menghela nafas sembari melipat tungkainya seperti yang selalu ia lakukan.
"Apa maksudmu Jungkook?"
"Aku tahu kau mengerti dengan apa yang sedang kubicarakan." Jungkook menatap Baekhyun dengan gusar. "Apa saja yang kau katakan kepadanya? Kenapa Taehyung berkata aku tidak bahagia?!"
Baekhyun nampak terdiam, ia menatap Jungkook lamat-lamat, mencoba menyelami obsidian gelap dengan pupil yang kelihatan mengecil saat manik keduanya bertemu.
Jungkook tengah kesal, tentu saja. Terlihat dari bagaimana ia menatap Baekhyun.
"Katakan." Sela pria bermarga Jeon itu tak sabaran.
"Bagaimana bisa seseorang itu bahagia jika ia bermimpi buruk disetiap tidur siang dan malamnya?"
Kalimat tersebut cukup untuk membuat Jungkook terdiam kaku. Tentu saja ia merasa tercubit, matanya memicing dengan cuping hidung mendengus rendah. Hampir tak terdengar, kemudian ia memalingkan wajah dari Baekhyun.
"See? Kau bahkan tidak menjawab maupun menyangkalnya."
Jungkook tetap diam, tentu saja ia kehabisan kata-kata. Selain dari Taehyung yang sudah pernah melihat ia bermimpi buruk, Baekhyun juga pernah menyaksikannya. Bahkan dalam keadaan yang lebih parah dan itu terjadi hampir setiap hari. Lelaki kecil bermarga Byun tersebut hanya takut jika Jungkook akan kecanduan obat tidur untuk menenangkan pikirannya, maka dari itu ia mulai mengontrol obat-obatan yang akan Jungkook konsumsi.
Tidak boleh berlebihan dan Baekhyun selalu berpesan kepada Yugyeom. Juga nampaknya pria tiga puluhan itu telah menjalankan tugasnya dengan baik.
"Aku tahu apa yang aku lakukan Jungkook." Tukas Baekhyun setelah keheningan hampir membagi dua pikiran Jungkook.
"Tapi aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, dia mendadak berperilaku aneh dan-"
Jungkook yang awalnya diselimuti rasa geram kini malah kelihatan ragu-ragu. Wajahnya menampakan ekspresi seperti baru saja kecolongan.
"Dan apa?" Tanya Baekhyun sudah sepenuhnya mengerti dengan apa yang Jungkook pikirkan.
"Kau sudah tahu?" Kembali, Jungkook menatapnya namun kali ini dengan ekspresi was-was yang tipis. Hampir tak terlihat, dia sangat baik menyembunyikan perasaan. Tapi tak begitu bagus ketika topiknya tentang Taehyung dan ia berbicara dengan Baekhyun.
"Jika pun aku tidak tahu, pertanyaanmu sebelumnya sudah cukup memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi dengan kau dan anak kecil itu." Jungkook terdiam kikuk, ini benar-benar sialan. Ia terlalu memikirkan Taehyung tanpa melihat adanya akibat dari hal tersebut. "Karena sebenarnya aku memang sudah mengetahui itu jauh sebelum kau menyadarinya."
"Tapi, bagaimana-"
"Kau lupa aku pernah berada diposisinya beberapa tahun lalu."
Ya, benar.
Jungkook pun kembali tak menjawab. Wajahnya mengeras entah karena apa.
"Semua yang kukatakan kepadanya punya alasan tersendiri."
"Dengan mengatakan hal yang tidak seharusnya kau bicarakan dengannya begitu?" Desis Jungkook tanpa mengedipkan mata.
"Bukankah sudah kubilang aku punya alasan?!"
"Lalu apakah itu?" Tanya Jungkook dengan nada sarkastis.
"Karena aku mencintaimu."
"Hhh..." Jungkook mendengus, dan ia memejamkan matanya sembari mengurut pangkal hidung. Ini bukan jawaban yang Jungkook inginkan, ia hanya- oh pernyataan cinta lagi dari orang yang berbeda. Itu membuatnya merasa tidak stabil. Tidak nyaman.
"Hyung, kumohon.." Sebelumnya Jungkook tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan Hyung, ya mungkin untuk beberapa orang pernah, itupun hanya sebagai formalitas saja. Saat-saat dimana ia sedang dalam mode serius, dan kali ini ia tengah berada di situasi demikian.
Pada dua kesempatan ia memanggil Baekhyun dengan sebutan Hyung. Menegaskan dimana ia seharusnya berada, dan ini yang ketiga kalinya. Juga Jungkook melakukan itu dengan alasan yang sama.
Jungkook akhirnya menatap Baekhyun yang nampak terdiam, bibir kecilnya kelihatan bergetar ketika ia menghembuskan nafas. Bagaikan baru saja mendapat pukulan yang amat keras.
Tak perlu Jungkook menjawabnya dengan gamblang, Baekhyun sudah mengetahui arti tatapan itu. Mengapa ia menyebutnya dengan panggilan Hyung dan ekspresi gelisah yang tak cocok diwajah tampannya.
"Tentu saja Jungkook." Katanya pelan. "Aku tidak akan memaksamu, ini hanya perasaan milikku saja. Tapi aku akan selalu didekatmu, untuk melihatmu bahagia."
Mendengar itu, Jungkook kembali memejamkan matanya. Bahagia, bahagia, bahagia. Kata itu lagi!
Apa benar ia tidak bahagia? Ketika Jungkook selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja apa benar tubuhnya tidak bahagia? Ia melakukan itu agar lupa dari-
"Cobalah pikirkan ini." Nada lembut Baekhyun membuat Jungkook harus kembali menolehkan wajahnya. "Anak kecil itu, dia dilindungi oleh hukum dan negara."
Jungkook masih diam, namun ia tetap mendengarkan.
Tidak- Baekhyun tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Jungkook berkecamuk dalam kepalanya. Kemudian lelaki cantik itu kembali berbicara. "Tapi aku tidak akan mendorongmu untuk melakukan apapun Jungkook, itu hidupmu. Aku hanya ingin kau berhati-hati dalam langkahmu."
"Ya, aku mengerti." Katanya sembari kembali memalingkan wajah pada berkas diatas meja.
"Kau selalu bisa kembali padaku kapanpun kau mau." Sial. "Karena aku akan selalu mendorongmu untuk berbahagia."
Jungkook terpejam, ia tidak tahu harus membalas apa lagi. Sepertinya ia akan membenci kata bahagia, tapi ia tentu membutuhkannya juga.
Setelah sama-sama terdiam untuk beberapa lama, Baekhyun pun bergumam sembari menatap Jungkook dalam-dalam.
"Bisakah aku menciummu?" Permintaan dengan nada tenang dan lembut itu membuat Jungkook kembali menoleh. Sepenuhnya menatap manik berkilauan Baekhyun didepan sana.
Keduanya terdiam, dalam setiap detik yang melelahkan itu Jungkook nampak kelihatan berpikir keras.
"Untuk kali ini saja.." Keduanya masih sama-sama tak bergerak, dan Baekhyun nampak melihat ke arah lain dengan tatapan sendu. "Aku tidak akan meminta-"
Ucapan pada bibir ranum itu terpotong, dan penyebabnya karena bibir Jungkook yang menyumpal mulut Baekhyun tepat ketika masih terbuka. Tangannya menarik wajah mungil nan cantik itu untuk lebih dekat dan Baekhyun mengambil nafas untuk sesaat.
Ia tentu terkejut, namun ketika Baekhyun melihat wajah terpejam Jungkook yang amat sangat dekat dengan jarak pandangnya, ia pun memejamkan mata dan membalas pagutan lembut Jungkook dimulutnya.
Mengalungkan kedua tangan setelah sebelumnya semakin merapat pada tubuh atletis didepannya. Jungkook melepaskan kedua tangan yang menangkup wajah Baekhyun, membawa kedua bagian tubuh berotot itu untuk memeluk perawakan kecil Baekhyun sembari bibir dengan gigi kelinci tersebut melahap apapun yang ia temukan dengan lidahnya.
Menghisap, mengigit dan melakukan rayuan menggelitik langit-langit. Sedangkan pria kecil dalam rengkuhannya mendengus nikmat juga terkadang mengerang halus. Setelah beberapa tahun Baekhyun tak pernah merasakan sentuhan Jungkook, akhirnya mereka kembali berciuman ditempat keduanya pertama kali melakukan seks.
Benar, ruang kerja pribadi yang memiliki banyak kenangan panas. Ia hanya diam saja melihat pemiliknya bercinta dengan berbagai orang berbeda, tidak banyak. Hanya saja akan sedikit kesulitan jika menghitungnya dengan jari.
Ia tak berkata apa-apa meski beberapa kali cipratan sperma dan lelehan keringat mengotori dinding. Ruangan itu hanya akan menjadi saksi bisu selama-lamanya.
•
•
•
"Berhati-hatilah." Kata Jungkook ketika ia mengantarkan Baekhyun hingga kedepan rumah saat pria itu berniat untuk pulang.
Baekhyun hanya tersenyum, sambil lalu terdiam sesaat menatap wajah tampan Jungkook.
"Ya, kau juga. Jangan lupa meminum obatnya secara teratur."
Jungkook hanya tersenyum sekilas dengan kepala mengangguk samar, ia terdiam di ambang pintu, menunggu Baekhyun sampai naik kedalam mobilnya sendiri. Namun, pria kecil tersebut tidak juga beranjak dari tempatnya. Ia malah seperti tengah memikirkan sesuatu.
Hanya beberapa detik terdiam, Baekhyun pun melangkah kedepan dan dengan sebelah tangannya menangkup pipi Jungkook agar tak dapat menghindar dari ciumannya. Ia melumat bibir itu singkat, karena Jungkook yang terburu-buru mendorong sisi bahunya dengan halus.
Beberapa orang penjaga diluar tentu melihat itu, namun mereka tidak untuk membicarakannya kepada siapapun. Semua orang dirumah ini hanya melihat, tapi tak berbicara. If you know what I mean.
"Kau sudah berjanji dokter." Kata Jungkook dengan nada pelan.
Baekhyun hanya tersenyum samar sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf, aku hanya tak dapat menahan diriku."
Tangan lentiknya masih menempel diwajah Jungkook, ia mengusapkan ibu jari itu pada pipi halus tersebut sebelum benar-benar melepasnya dan pergi.
Ketika Baekhyun membuka pintu mobil ia pun berkata.
"Kau harus memberitahu kontrol kesehatanmu padaku, ok? Jika tidak, aku akan segera mengirim psikiater kemari."
Jungkook mendesah, ayolah ia benci jika harus berurusan dengan psikiater. Tapi Baekhyun menggunakan ancaman yang tepat.
"Tentu saja.."
Tepat ketika mobil berderu dan keluar dari kawasan kondo, Jungkook dikejutkan oleh jemari kecil yang memegang tangannya.
Ia menoleh, lalu seorang malaikat kecil yang Jungkook tahu bernama Taehyung itu nampak merengut sedih.
Tunggu, sejak kapan dia ada dibelakang sana?
"Ada apa?" Dengan sedikit antisipasi, Jungkook akhirnya bertanya. Meski yang ia dapat hanya tatapan yang sulit diartikan. Taehyung kelihatan sebal, namun ia menyembunyikannya.
"Bukan apa-apa.."
"Kalau begitu, aku harus kembali bekerja."
"Tuan selalu bekerja." Tukas Taehyung menatap kearah lain.
Ya, Jungkook selalu bekerja, karena hampir tak ada waktu untuk diam. Dia memperkerjakan ribuan karyawan, mengatur semuanya bagaikan otak maupun inti komputer yang tak pernah beristirahat.
"Jika daddy tak bekerja, kau tidak akan sekolah baby." Ucapnya sembari membungkuk untuk mencium bibir Taehyung, namun dengan gerakan halus ia menghindar. Membuat Jungkook sempat terdiam sesaat.
Taehyung tahu bukan itu masalahnya.
Jungkook menghembuskan nafas, lalu beralih mengecup puncak kepala Taehyung.
"Ayo masuk kedalam, sepatu mu sudah menunggu."
•
•
•
Beruntung hari ini Taehyung tidak akan terlalu merasa bosan, karena seorang pemuda bernama Choi Minki yang beberapa waktu lalu ia lihat kini nampak tengah membersihkan perabotan mahal didapur. Ia tak melihat Yugyeom dimana-mana, ya mungkin ini waktunya pria itu beristirahat.
Mengingat banyaknya pekerjaan yang telah ia lakukan, entah itu untuk membantu Jungkook atau Taehyung sendiri. Yugyeom bukan hanya seperti kepala pelayan, tetapi ia juga memiliki wewenang terhadap beberapa bodyguard yang menjaga Jungkook. Dia seperti ayah asuhnya dan sekarang Yugyeom adalah paman Taehyung.
Ini seperti sulit dipercaya, tapi begitulah.
"Oh, halo tuan muda.." Itu pemuda yang bernama Choi Minki tadi, ia menyapa Taehyung setelah melihat siluet samar dibelakangnya.
Taehyung tersenyum ketika mendapati dirinya yang sudah terlebih dahulu ketahuan, ia pun menghampiri Minki yang tengah mencuci piring.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Mencuci perabotan, beberapa diantaranya banyak yang berdebu."
"Kenapa? Aku lihat piring yang ini tidak digunakan."
"Memang begitu, tapi yang ini tidak bisa dibersihkan oleh lap saja."
"Sudah lama tak terpakai?"
"Sepertinya begitu."
"Hm.." Taehyung mengangguk mengerti. Minki adalah orang yang baik dan cakap, bahkan ia tak berhenti tersenyum saat menjawab semua rentetan pertanyaan Taehyung.
"Mau kubantu?" Tanya bocah kecil itu penuh ketulusan. Taehyung akan dengan senang hati membantu siapapun jika itu meringankan pekerjaannya, sama saja seperti apa yang ia lakukan terhadap taman belakang bersama pak tua Song. Meski akhirnya Taehyung malah melukai jarinya sendiri.
"Oh, tidak. Sebaiknya jangan. Tuan tidak perlu membantu. Ini tugas-"
"Dia benar Taehyung, itu bukan tugasmu."
Tiba-tiba, suara dengan nada tajam dari Jungkook mengejutkan kedua lelaki didapur. Hal itu cukup membuat Taehyung merengut kembali.
"Apa yang kau lakukan disini?" Jungkook menatap Taehyung sambil membawa dirinya terduduk dimeja dapur, kemudian ia mengibaskan tangannya ke arah Minki untuk memberinya perintah. "Kau, buatkan aku kopi."
"Baik tuan.." Minki menjawab cepat dengan gestur gugup, ia membersihkan tangannya yang dipenuhi oleh busa kemudian mengeringkannya dan meraih cangkir baru yang sudah kering untuk membuatkan Jungkook kopi.
Sedangkan Taehyung yang terdiam masih belum memberikan jawabannya, membuat Jungkook melipat tangannya defensif.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Apalagi yang harus kulakukan, aku tidak punya kegiatan apapun disini."
"Kita bisa melakukan sesuatu yang sedikit menguras tenaga."
Taehyung melotot setelah mendengar jawaban tersebut, ia melirik punggung Minki yang nampak menegang kaku. Sepertinya pria itu sedikit kebingungan dengan maksud Jungkook, tentu saja ia tidak tahu apa-apa. Yugyeom hanya mengizinkannya bekerja sampai siang hari saja, itu pun tidak terlalu sering. Seminggu hanya bisa dua atau tiga kali.
Sedangkan dengan tanpa beban, Jungkook menyeringai tipis.
"Tuan selalu sibuk bekerja, tidak mungkin mengajakku pergi bermain atau olahraga." Taehyung mengatakan itu sembari melirik punggung Minki yang sudah kembali rileks. Berusaha membuat topik yang mereka bicarakan nampak lebih normal.
Meskipun tatapan Jungkook mengisyaratkan hal lain.
"Tentu aku akan menyisihkan waktu untuk mengajakmu bermain dan sedikit berolahraga Taehyung." Kata Jungkook santai, namun tentu saja panas dan menelanjangi Taehyung.
Semoga Choi Minki tidak berasumsi yang aneh-aneh.
Kopi Jungkook sudah siap, Minki menyajikannya dengan gula terpisah. Ia tidak tahu seberapa manis selera Jungkook untuk kopi miliknya, namun pria pertengahan dua puluh itu sama sekali tak menyadari jika kopinya belum ditambahkan gula.
"Kopinya sudah siap tuan. Silahkan."
Jungkook hanya sibuk memandangi Taehyung yang kini kelihatan gugup dan was-was.
"Memangnya kapan tuan akan mengajakku bermain?" Tanya Taehyung masih terpaku ditempatnya.
"Jika kau mau pergi sekarang, itu tidak masalah."
Taehyung mengangkat alisnya ia menatap Jungkook yang hendak meraih cangkir diatas meja, sepertinya topik yang mereka bicarakan sudah berubah. Jungkook benar-benar akan membawanya pergi bermain? Uh, atau... Kencan?
Tidak, tidak, jangan berharap lebih Kim Taehyung.
"Tuan, sungguh?!"
"Hm.." Jungkook mengangguk sembari mulai menyeruput kopinya. "Uhuk! Apa ini?!"
Suara Jungkook menggelegar setelah ia tersedak kopi pahit itu, ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan Choi Minki nampak terkejut bukan main. Jungkook segera memberikan tatapan menuduh kearahnya.
Sedangkan Taehyung yang awalnya terkejut sekarang hampir tergelak melihat tingkah langka Jungkook yang mengocok perut.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak memasukan gulanya?!" Cecar Jungkook ketika Minki bertanya dengan kebingungan apa yang salah.
"Maaf tuan, saya sengaja tidak menaruh gulanya langsung karena tidak tahu takaran manis untuk tuan. Jadi saya menaruh gula dan cream nya diwadah lain." Minki menunjuk secawan cream beserta gula pasir berbentuk kotak didekat cangkir kopi.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?!"
"Kukira tuan melihatnya.." Jawab Minki dengan nada pelan.
Kali ini, Taehyung benar-benar hampir tergelak. Ia menggunakan tangannya untuk menahan tawa.
Jungkook mendesis, kemudian ia kembali mengusap bibirnya sambil menatap Taehyung yang buru-buru bersikap biasa saja.
"Ganti bajumu, kau ingin pergi keluar kan?"
•
•
•
Taehyung mengulum senyumnya dengan gestur yang sangat manis dan lucu, ia kini tengah berjalan berdampingan dengan Jungkook disebuah departemen store terbesar di Korea. Kali ini tanpa ditemani oleh para pria bersetelan klimis lagi.
Jungkook mengenakan t-shirt hitam yang biasa ia pakai untuk bersantai, kacamata senada dan celana jeans yang pas dikaki panjangnya.
Meskipun yang satu itu cukup memberikan bayangan bagaimana seksinya bokong kencang dan berotot Jungkook yang berada dibaliknya. Taehyung sempat melihat beberapa gadis maupun lelaki cantik yang menatap Jungkook dengan bola mata hampir keluar.
Kesal sekali, ternyata berjalan dengan Jungkook didepan umum lebih besar pengaruhnya untuk kesehatan hati Taehyung. Ia tidak suka melihat orang-orang itu menatap Jungkook dengan pandangan memuja, meskipun hal itu tidak mungkin terelakkan jikapun Taehyung yang jadi mereka.
Setidaknya, ia mendapat poin yang lebih besar. Taehyung sudah pernah melihat dalamnya. Seluruh tubuh telanjang Jungkook tanpa dihalangi apapun.
Yeah, dia memenangkan poin lebih banyak. Pergilah kalian.
Taehyung segera menggengam sebelah tangan Jungkook yang masih terbungkus kain kasa, mendekapnya seperti anak yang takut kehilangan papa nya ketika seorang wanita nampak mengedip genis kearah Jungkook. Well, akan agak tidak cocok jika disebut kekasih. Maaf Taehyung, jangan marah. Tampilanmu seperti ayah dan anak masalahnya.
Bocah kecil itu mengenakan kaus polos berwarna putih dengan celana pendek selutut yang senada dengan jeans Jungkook. Meski berbeda jenis kain.
Wanita yang baru saja mengedip melirik Taehyung sekilas kemudian ia berbisik pada temannya yang kelihatan sama jalang dengan dia.
"Aw, seorang hot daddy, lihatlah.. Berapa umurnya ya jika anaknya sebesar itu?"
"Entahlah, mungkin tiga puluh tahunan?"
"Itu pasti candaan, dia kelihatan jauh lebih muda."
"Anaknya juga lucu, tapi dia tidak mirip ayahnya.."
"Mungkin dia mirip ibunya?"
"Bisa saja dia keponakannya.."
Kedua wanita itu masih terus berbisik meski keduanya sudah berada dibelakang Jungkook, sebenarnya Taehyung masih bisa mendengar. Bagaimana tidak, jika jalang itu ribut-ribut sembari mendesah kagum menikmati pemandangan bokong seksi Jungkook dari belakang.
"Dia calon ayah yang penyayang."
"Oh, sial. Andaikan aku tahu nomor telponnya."
Jika Taehyung adalah kartun, mungkin ia sudah mengeluarkan asap dari kepalanya, mukanya akan memerah dan pertigaan siku-siku pasti sudah berada dikeningnya sekarang. Namun sayang, Taehyung hanya bisa merengut kesal sekarang. Sembari menyentak-nyentak pegangannya pada tangan Jungkook tanpa sadar, ia kelihatan menggerutu pelan ketika Jungkook beralih menatapnya.
"Ada apa? Kukira kau akan senang setelah bermain?" Jungkook mengernyit, meski kini terhalang kacamata hitam. Ia menatap Taehyung yang sesekali melirik kebelakang dengan kesal. "Kita harus pulang karena ini sudah semakin malam."
Jungkook kira Taehyung merajuk karena tidak ingin pulang. Namun pria itu hanya tidak sadar bahwa sedang ada dua wanita yang tengah membicarakannya mengenai fantasi seks tentang Jungkook.
Taehyung mendelik. Apakah Jungkook tuli? Ia seperti tidak bisa mendengar gumaman kotor dua wanita itu, apa?
"Aku hanya tidak mengerti kenapa para wanita itu malah membicarakan hal kotor tentangmu."
Tunggu, hal kotor apa maksud Taehyung?
Jungkook membalikan tubuh kebelakang, kemudian melepaskan kacamatanya sengaja.
Dua wanita itu masih ada disana, nampak terkejut karena Jungkook menoleh dan menatap mereka. Keduanya saling menutup mulut kaget, sembari saling menatap sesekali lalu beralih pada tubuh proposional Jungkook yang menawan.
Salah satu diantaranya tersenyum menggoda, tetapi Jungkook malah kembali memandang Taehyung. Ia mengerti, tentu saja semua wanita akan berfantasi kotor tentang tubuhnya. Itu bukan hal baru untuk Jungkook
"Sudahlah, tidak perlu didengarkan."
Belum sempat Jungkook hendak kembali berbalik, seorang wanita nampak tersandung kakinya sendiri ketika tak sengaja ia hampir menjatuhkan ponselnya. Sepertinya orang itu sama sekali tidak melihat jalanan, hingga sebuah cup minuman dingin ditangan kirinya berhasil mengguyur dada hingga perut Jungkook.
"Sial! Perhatikan jalanmu."
"Tuan!"
"Eh- maafkan aku. Sungguh aku tidak sengaja, maafkan aku!" Wanita itu membungkuk beberapa kali, dan ketika ia menatap wajah Jungkook samar-samar Taehyung melihat pipinya nampak merona.
Satu lagi yang kelihatannya mengagumi Jungkook. Ucapnya datar dalam hati.
Sedangkan dua wanita yang masih berada beberapa meter disana kembali menahan pekikan.
"Astaga! Abs! Lihatlah dadanya yang bidang. Seharusnya sejak tadi saja wanita itu menjatuhkan minumannya."
"Apa kataku! Dia pasti memiliki tubuh yang bagus."
"Aku penasaran dengan sesuatu yang ada dibalik celananya.."
Terdengar kembali cekikikan centil itu lagi, membuat Taehyung mendelik galak.
"Lain kali berhati-hatilah." Jungkook berbicara pada wanita yang menjatuhkan minuman ketubuhnya, ia bergidik karena udara dingin berkat AC yang tidak pernah mati kecuali ketika sudah tutup.
"Iya, aku minta maaf tuan. Sungguh, aku tidak sengaja."
Jungkook tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya jengkel sembari mengibaskan bagian bawah t-shirnya agar tidak terlalu menempel.
"Kita akan cari baju untukku sebelum pulang." Katanya pada Taehyung, kemudian mereka pun pergi meninggalkan para wanita yang salah tingkah itu.
•
•
•
Jungkook membawa Taehyung memasuki toko pakaian pria dengan terburu-buru, udara dingin dengan air es yang mengguyur dada dan perutnya sungguh kombinasi yang sangat buruk. Ia tak berhenti bergidik dengan gigi bergemeletup kaku.
Sedangkan Taehyung yang melihat itu hanya mampu mencarikan pakaian yang cocok untuk Jungkook, sesuatu yang tidak menarik perhatian wanita dan lelaki cantik manapun. Tentu.
Bocah kecil itu melihat Jungkook yang mengambil sebuah kaus putih, kelihatan sedikit tipis dan Taehyung segera menyambar tangannya.
"Tidak, jangan yang itu."
"Kenapa? Aku kedinginan, bajuku basah. Kau lihat?"
"Ya, tapi jangan yang itu. Aku tidak suka!"
"Oh, ayolah Tae, apa kau pikir aku sedang memikirkan fashion ketika sedang kedinginan begini?"
Tidak, bukan itu. Peka lah sedikit!
Taehyung mengerang dalam hati.
"Tidak, jika kedinginan pakai baju yang tebal."
Sedangkan seorang pegawai wanita hanya mampu menatap perdebatan ringan itu dengan bibir yang mengulum senyum geli.
Mereka, entah kakak beradik atau paman dan keponakan. Tapi tingkah keduanya sangat lucu dan menggemaskan.
Menyerah, Jungkook akhirnya membiarkan Taehyung mencarikan baju yang pas untuknya, namun udara dingin malah semakin memperparah keadaannya. Jungkook benci dingin, maupun cuaca ekstrim lainnya.
Ia benci bergidik begini, karena yang dibawah sana selalu menggeliat dan setengah terbangun!
Really! Taehyung cepatlah sedikit.
"Oh, aku tidak percaya telah membiarkan anak kecil mengatur cara berpakaianku. Ini bukan waktu yang tepat."
Dengan sedikit nekat, Jungkook sudah tak perduli lagi dengan sekitarnya. Ia pun melepas t-shirt basahnya begitu saja, membuat beberapa wanita dan lelaki cantik yang menontoninya melotot kaget.
Beberapa memekik kaku, dan Taehyung hanya melongo dibuatnya.
Tidak! Jangan lihat! Dia punyaku!
Jungkook mengambil sebuah kemeja dengan corak yang sangat menarik, cocok untuk digunakan pada acara non-formal maupun formal dari tangan Taehyung. Kemudian mengenakannya dengan terburu-buru.
"Ini salahmu jika aku kembali sakit Kim Taehyung." Jungkook hanya bercanda, tentu saja. Tapi wajahnya tak menunjukkan indikasi tersebut sama sekali. Masih ingat kan dengan candaannya yang selalu tampak serius? Beginilah sekarang.
Well, Taehyung melupakan keadaan Jungkook karena tidak ingin semua orang melihat siluet tubuh Jungkook. Namun kini gara-garanya juga, Jungkook malah melepas bajunya cuma-cuma dihadapan orang banyak.
Dia kecolongan banyak, astaga ingin menangis rasanya.
"Berapa yang ini?" Tanya Jungkook setelah selesai memakai pakaiannya, pegawai yang sejak tadi memperhatikan pun mendekat.
"Labelnya masih belum copot tuan, biar saya mengguntingnya lalu kita akan tahu berapa harga yang perlu anda bayar."
Kali ini, Taehyung mengutuk dirinya sendiri yang tidak tumbuh dengan lebih cepat, setidaknya sebahu atau telinga Jungkook agar dia saja yang mengguntingkan label baju dibelakang pundak Jungkook.
Sepertinya hari ini memang bukan harinya bersama pria itu. Taehyung hanya bisa menekuk wajahnya sedih ketika Jungkook tengah membayar bajunya.
Bukan ide bagus. Sama sekali bukan ide bagus.
•
•
•
Hari pernikahan sudah tiba dan Taehyung cukup beruntung tidak mendapati Jungkook yang kembali sakit akibat insiden beberapa hari lalu.
Pria itu sempat mengeluh pening, namun ia sama sekali tidak panas maupun demam. Tentu yang dibicarakan Jungkook bukan pusing yang itu, tapi Taehyung dengan wajah polosnya mengedik tak mengerti.
Well, jika ingin sesuatu semestinya mereka terus terang saja.
Meninggalkan itu, omong-omong kini Taehyung sedang memandang penampilannya didepan cermin. Ia nampak cantik dengan tuxedo putih yang dibuatkan Heechul minggu lalu.
Tapi, tunggu.. Apa barusan Taehyung memuji dirinya sendiri dengan sebutan cantik?
Hell, no! Ditarik lagi, dia keren.
Bocah kecil itu mengangguk percaya diri, ia nampak merapikan dasi kupu-kupu yang- well, itu dipasangkan Yugyeom sebenarnya. Karena Taehyung tidak mengerti cara melakukannya, padahal itu hanya tinggal diikat kebelakang. Taehyung pikir ia harus membuat simpul rumit dahulu seperti apa yang Jungkook lakukan kini didepan cermin berbeda.
Tak dapat disangka sebelumnya, Taehyung kira Jungkook akan menggunakan tuxedonya yang lain. Namun kini pria itu nampak gagah dengan setelan tuxedo yang sama persis seperti punya Taehyung. Meskipun warnanya berbeda, namun setiap orang yang melihatnya pasti akan menyangka jika mereka adalah sepasang kekasih. Oh, ralat.. Mungkin ekspetasi yang terlalu tinggi.
Orang-orang akan menyangka mereka adalah keponakan dan paman. Sudah, itu saja dulu sekarang. Terpenting, Jungkook akan pergi dengannya dan menggenggam tangan Taehyung didepan banyak orang.
"Kau sudah siap?" Itu suara Jungkook, terdengar seperti ajakan untuk menanyakan ketetapan hati Taehyung tentang apa yang hendak mereka lakukan. Tapi, ini hanya acara pernikahan. Ingat. Ok, dia ingat.
"Sudah!"
"Baik, jaga sikapmu disana ok? Aku tidak ingin kau kecolongan ataupun salah bicara. Tetap terus didekatku, jangan jauh-jauh."
Jungkook memberitahu hal tersebut bagaikan tengah memperingatkan anak kecil tentang bahayanya memakan permen terlalu banyak bagi gigi.
Mendengarkan dengan baik, Taehyung pun mengangguk patuh. Rambutnya tertata rapi dan disisir kebelakang, meskipun kelihatannya sama sekali tak merubahnya menjadi tampak lebih dewasa. Garis wajah Taehyung tetap memperlihatkan jika ia adalah salah satu anak kecil yang mungkin hadir disana.
Terdengar suara ketukan ketika Jungkook tengah memasangkan jam tangan mahalnya dengan apik, kemudian suara Yugyeom nampak sedikit teredam dibalik pintu.
"Tuan, mobilnya sudah siap."
Taehyung buru-buru berlari kecil untuk membuka pintu. Setelah melakukannya ia pun tersenyum cerah pada Yugyeom.
"Kami akan turun sebentar lagi, terima kasih paman Kim."
Terkesiap sebentar setelah mendengarnya, Yugyeom pun hanya bisa balas tersenyum sopan sembari menundukkan kepala sekilas.
Taehyung melihat penampilan Yugyeom yang kelihatan berbeda dari biasanya.
"Paman akan ikut juga?" Tanyanya polos.
"Tentu, aku juga mengenal tuan Park dengan baik."
"Ok, jika mobilnya sudah siap. Mari kita berangkat." Tiba-tiba Jungkook datang dari balik tubuh Taehyung dengan pakaian dan rambut yang sudah tertata rapi. Kelihatan dewasa, memesona, penuh gairah dan berbahaya.
Taehyung menggeleng, pria ini telah memborong seluruh predikat cowok playboy untuk dirinya sendiri. Dan tidak bagus untuk Taehyung, karena semua orang menyukai seorang playboy yang panas seperti Jungkook.
Padahal dia kan menyebalkan, tidak mau kalah dan egois. Terkadang sinis dan sarkastis. Tapi Jungkook juga bisa bersikap manis.
Sial, jadi dilema.
"Hey, apa yang kau pikirkan? Tidak ingin bertemu tuan Park mu itu?"
Taehyung terkesiap kecil ketika Jungkook menyentuh pundaknya setelah mendapati bocah kecil itu melamun tanpa sebab.
"Um, bukan apa-apa, ayo kita berangkat."
•
•
•
Taehyung kira ia akan kembali kerumah Park Jimin untuk melihatnya menikah, namun sepertinya ini adalah gedung yang berbeda. Sebuah hotel yang disewa seharian penuh.
Seluruh aksen didominasi oleh warna putih, renda-renda dan kelambu tipis menghiasi dinding dan meja. Tak lupa deretan kursi untuk tamu yang akan menyaksikan pengucapan janji oleh pengantin.
Taehyung tak henti-hentinya berbinar, ini adalah kali pertama ia hadir diupacara pernikahan yang semewah ini.
Banyak pelayan yang siap melayani apapun permintaan Taehyung, dan kue juga makanan ringan dimana-mana.
Ini sudah seperti surga bagi anak kecil atau semacamnya, benar-benar luar biasa.
"Tutup mulutmu dan makan ini saja." Kemudian dengan tiba-tiba lagi, Jungkook merusak kesenangannya dengan menjejali mulut Taehyung menggunakan kue pie mini yang rasanya luar biasa enak.
Vla manis terasa meleleh dimulutnya, dan asam dari buah-buahan sekaligus jadi toping yang cantik.
Taehyung mendesah kagum untuk siapa pun yang membuatnya, ia memakan itu dalam sekali suap. Karena Jungkook memasukannya sekaligus hingga sisa vla sedikit mengotori bibirnya.
Bocah kecil tersebut mengunyah dengan pipi menggembung. Membuat Jungkook mendengus geli hampir cekikikan.
"Tuang jangang tetawa. Ko seululu megengguku!" Tuan, jangan tertawa. Kau selalu menggangguku. Mungkin itu artinya.
Jungkook hanya mengangguk kecil sembari menyempatkan diri untuk melirik sekitarnya kemudian mengusap bibir Taehyung lalu menjilat sisa vla di ibu jarinya.
"Enak?"
Kini giliran Taehyung mengangguk, ia telah menelan kunyahan terakhir kemudian mengecap-ecap bibirnya sendiri dengan lidah.
"Jangan lakukan itu." Gertak Jungkook sembari mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya, ia mengusapkan itu untuk Taehyung.
"Oh, manisnya.."
Mungkin Jungkook akan kena serangan jantung jika saja ia tidak mengenali suara barusan, dengan tenang ia menyerahkan sapu tangan itu kepada Taehyung kemudian mendelik sangar pada pengantin kita hari ini.
"Sialan, Park Jimin."
"Hey, jangan memaki diacara pernikahanku dude, disini ada anak-anak." Kata Jimin sembari kemudian menatap Taehyung dengan senyum yang membentuk matanya menjadi semacam bulan sabit.
Bocah yang ditatap hanya menunduk malu kemudian membungkuk sopan kepada Jimin.
"Selamat untuk pernikahan anda tuan."
"Terima kasih Taehyungie, tapi aku baru akan mempersuntingnya sekitar lima belas menit lagi."
"Oh.."
"Kalau begitu, tunggu apalagi. Kita harus mencari tempat duduk yang pas sekarang juga, Tae." Sela Jungkook secepat petir di siang bolong. Ia menatap Jimin dengan kilat permusuhan, namun yang ditatap yang tergelak halus dari tempatnya.
"Baiklah, mentang-mentang sudah menjadi property mu." Kata Jimin. "Aku tidak akan mengganggu kalian, ada yang lebih penting hari ini. Jadi, nikmati saja acaranya."
"Bagus untukmu Park Jimin."
Jimin hanya mengedik, kemudian pergi untuk bersiap-siap.
Jungkook pun membawa Taehyung agar terduduk pada deretan kursi yang pas untuk melihat Jimin mengikat dirinya pada Min Yoongi. Pendeta sudah ada didepan sana dan kursi sudah hampir terisi semua, Taehyung melihat Yugyeom yang tengah terduduk pada deretan kursi paling depan. Orang itu seperti sesuatu yang sederhana, namun semua orang mengetahui dan membutuhkannya.
Taehyung mendengus pelan untuk itu. Sedangkan Jungkook terdiam tanpa melirik siapapun disekitar sana, tatapannya menatap lurus pada altar membuat Taehyung kebingungan sendiri dengan sikap diamnya yang tiba-tiba.
Tanpa menyadari seorang wanita cantik dengan kacamata hitam nampak terduduk pada deretan paling belakang disisi yang lain. Tubuhnya lurus menghadap altar, namun retinanya tengah menatap seseorang.
Ya, pria yang paling berbeda dan mencolok itu terduduk bersebelahan dengan seorang anak laki-laki yang memakai setelan serupa dengannya.
Lamat-lamat, bibir yang dipoles lipstick red rubby itupun menyunggingkan senyuman.
•
•
•
Pengucapan janji sudah selesai dan beruntung Taehyung tidak lagi menemukan wanita maupun lelaki cantik yang sejak tadi mengajak Jungkook untuk membicarakan hal-hal tidak penting lainnya seperti..
"Apa kabar Jungkook?"
"Wah kau kelihatan tampan hari ini, siapa dia? Keponakanmu?"
"Sudah lama kita tidak minum bersama, kau ada waktu besok malam?"
Ya, semacam itulah, maka saat ini Taehyung lebih memilih mengasingkan diri didekat meja yang terdapat makanan kecil diatasnya. Tapi dengan penasaran ia memperhatikan beberapa gelas yang berjajar diatas meja, warnanya bening sedikit keemasan dan ada sedikit gelembung-gelembung halus menempel dipinggirannya. Seperti minuman karbonasi biasa, dan Taehyung kebetulan sedang haus. Para orang dewasa itu bergantian mengambilnya, itu berarti memang boleh diminum.
Tanpa pikir panjang Taehyung pun mengambil satu gelas berisi penuh sampanye yang kelihatan manis dan lezat.
Namun seseorang dengan seenaknya meraih gelas sampanye yang sudah hampir mengenai bibir Taehyung, bocah itu merengut sebal dan ia menoleh untuk melihat siapa pelakunya.
"Kid, batas usia untuk minum alkohol adalah dua puluh tahun, tunggu lima tahun lagi untuk melakukannya. Ok?" Itu Jungkook dan ia malah meminum sampanye rampasannya dengan sekali teguk. Ia mendesis dengan alis mengernyit.
"Alkohol? Kukira itu soda.."
"Lupakan, jangan minum sembarangan disini ok? Kau ingin berdansa?"
"Tapi aku tidak bisa." Bisik Taehyung takut-takut ada orang yang mendengar.
"Ini tidak sulit." Jungkook mengangkat bahunya. "Tapi jika kau tidak mau aku akan meminta yang lain untuk-"
"Ayo lakukan.." Kata Taehyung cepat sembari menarik lengan Jungkook menuju ballroom.
Setelah berada dikerumunan pasangan yang sedang melakukan gerakan lamban mengikuti alunan music, Taehyung hanya mampu mendongak sembari menatap Jungkook dengan bola mata kebingungannya.
Pria itu membawa kedua tangan Taehyung untuk bertumpu pada pundaknya, kemudian Jungkook memegang pinggul ramping Taehyung dan mulai melangkahkan kaki kekanan dan kekiri secara bergantian.
"Ikuti saja gerakanku." Kata Jungkook sembari sedikit menundukkan badannya agar Taehyung tidak terlalu mendongak.
Beberapa orang nampak memperhatikan, namun keduanya sama sekali tak memperdulikan hal itu.
Mereka akan berpikir berdansa dengan saudara sendiri sungguh bukan hal aneh. Karena diujung sana Jimin juga tengah melakukan hal yang sama dengan adik laki-laki Yoongi.
Gerakannya kembali berubah dan Taehyung cekikikan ketika Jungkook mengintuksinya agar bergerak kekanan dan kekiri, tentu saja dengan nada pelan agar orang lain tidak mendengarnya.
"Jangan hanya tertawa, dengarkan baik-baik, jangan sampai menginjak kakiku atau menabrak orang lain."
"Aku mengerti." Namun Taehyung tetap cekikikan.
"Setelah ini kita berganti pasangan, usahakan kau tetap berada didekatku."
"Huh?" Ia menatap Jungkook tidak mengerti.
"Ini dia. Tetap didekatku."
Jungkook melakukan gerakan memutar Taehyung lalu melepaskan tangannya, dan dengan gerakan cepat orang lain nampak meraih tangan dan pinggang Taehyung untuk bergantian menemaninya berdansa.
Sedangkan Jungkook, ia merasakan seorang wanita meremat bahunya sembari melakukan posisi yang sangat dekat. Ia tak bisa melihat wajahnya karena wanita itu terlalu merapat.
Sekilas Jungkook menatap Taehyung sedikit gusar, bocah itu hanya mengernyit dan wajah ceria tadi kini telah menguap entah kemana.
Jungkook menggumamkan kata 'tetap didekatku.' Sembari memegang pinggul wanita yang mendekapnya intim.
Mereka kembali berdansa, kemudian setelah mengganti gerakan Jungkook masih belum bisa melihat wajah wanita tersebut.
Setelah beberapa menit tanpa saling bicara sebuah suara lembut menggetarkan seluruh syaraf pada tubuh Jungkook seketika, dan dengan terkejut suara itu dating dari wanita yang sedang berdansa dengannya. Membisikan kalimat yang paling dibenci Jungkook selama ini.
"Hai, Jungkook." Katanya lembut dan Jungkook nampak terdiam dengan alis menyatu kebingungan. "Kau terlihat sangat… Lezat."
Cepat Jungkook mendorong tubuh ramping itu untuk menjauh darinya, dengan mata membelalak kaget ia merasa nafasnya hampir habis ketika manik kecoklatan yang penuh dengan intimasi dan gairah tersembunyi itu balas menatapnya.
Bibir tipis itu menyeringai kecil, tak mengindahkan beberapa pasang mata yang mendapati ketegangan yang mengabut tipis disekitar mereka.
Sedangkan pria didepannya bagaikan membatu dan tak bergerak, ia menatap lantai marmer yang ditapaki sepasang kaki jenjang dengan stiletto merah nun anggun. Mendelik ngeri, berharap seseorang yang ia lihat hari ini hanyalah halusinasi semata.
"Kenapa? Tidak ingin menyapaku Jungkook?"
"Tidak. Kau.. Tidak seharusnya disini." Desis Jungkook masih tak berkedip. "Bae Irene."
.
.
.
.
.
TBC
WOAH BAGAIMANA?
Maaf beberapa bagian pada part terakhir agak rancu karena ketiknya buru-buru, ku tak ingin buat kalian menunggu bae..
Nah masa lalu Jungkook sudah datang XD
Ell tak bisa banyak-banyak berbicara, jadi silahkan feedback saja u,u
Kita kupas masa lalu Jungkook sedikit-sedikit yow XD
Makasih yang udah RNR dichapter sebelumnya, maaf ell gk bisa balas satu persatu tapi tetap kubaca kok ^^
So, keep read dan review ma bae~
See you next bab :*
