CLAIMED
By
Ellden-K
Prev : "Kenapa? Tidak ingin menyapaku Jungkook?"
"Tidak. Kau.. Tidak seharusnya disini." Desis Jungkook masih tak berkedip. "Bae Irene."
Bab 14 - Fallen Too Far
Jungkook sadar jika ia tetap berada disini semua tidak akan berjalan dengan baik, tapi bagaimana mungkin wanita itu bisa datang ke pernikahan Jimin dan berhasil menyentuhnya?
Ini sungguh bukan apa yang Jungkook inginkan, dari sekian banyak hal buruk mengapa Bae Irene harus hadir ditengah acara penting sahabatnya? Jungkook tidak ingin mengacau, tapi-
"Kau bereaksi terlalu berlebihan Jungkook, aku kemari untuk menyapamu." Persetan. "Bukankah ini sebuah kejutan?"
Irene berbisik, membiarkan agar hanya mereka berdua saja yang mendengar.
Tentu, ini kejutan dari neraka.
Wanita itu mulai mendekat, namun Jungkook nampak diam. Seseorang seperti baru saja menaruh lem berdaya rekat tinggi dibawah sepatunya, ia membeku dan tak bisa bergerak.
"Aku tak menyangka kau datang dengan membawa seorang anak kecil yang merepotkan."
Mendengar pernyataan tersebut Jungkook pun mendongak dengan rahang mengeras.
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku."
"Tentu saja aku tahu.." Ucapnya congkak sembari melipat tangan didepan dada. "Aku tahu semua, hingga bagian terdalam."
"Aku tidak ingin bicara denganmu. Seharusnya kau tidak disini."
"Jangan kasar Jungkook. Kau hanya sedang mengelak dari apa yang sejak dulu kau inginkan."
"Omong kosong." Desisnya memberikan Irene tatapan dingin.
"Ya, kau bahkan seperti tak pernah terpuaskan.."
Wajah yang tadinya kaku kini merengut dengan alis bertautan dan bola mata yang semakin lebar.
Cukup. Ini sudah cukup.
Jungkook yang tak sengaja memundurkan langkahnya cepat ternyata menabrak seseorang dibelakangnya, sepasang suami istri yang sedang berdansa itu mengeluh dan mendesis kepada Jungkook. Namun, pria tersebut tak memberikan reaksi apapun selain wajah pucatnya yang mulai berkeringat.
Ia tidak bisa lagi seperti ini.
"Hey! Perhatikan jalanmu."
Jungkook berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru, sempat kembali menabrak seseorang yang sedang mengobrol dengan rekannya. Tapi ia sama sekali tetap tak bereaksi, sama seperti sebelumnya. Tidak bahkan untuk sekedar menoleh dan meminta maaf.
Ia hanya butuh membawa dirinya menjauhi wanita yang membuatnya sialan bergidik penuh kengerian.
Taehyung melihat Jungkook yang sekilas menjadi perhatian para tamu undangan, tetapi ketika tubuh atletis itu sudah menghilang dibalik pintu darurat semuanya kembali pada urusan masing-masing.
Si bocah manis pun melepaskan diri dari pria yang masih membawanya untuk terus berdansa. Meminta maaf lalu pergi menyusul Jungkook, tanpa mengetahui sama sekali apa yang sebenarnya terjadi dengan pria tampannya itu. Ia melewati kerumunan tamu dengan susah payah, berjuang agar tidak kehilangan jejak Jungkook.
"Tuan? Eh, permisi..." Taehyung menunduk ketika seorang pelayan hampir menabrakan nampan yang ia bawa pada kepalanya.
Meski mendapatkan delikan tajam ia tetap berjalan menuju pintu darurat yang baru saja dilewati Jungkook.
Tetapi sebuah cekalan halus pada lengannya membuat ia berhenti untuk sesaat, Taehyung mendongak dan melihat Jimin tengah mengernyit bingung.
"Kenapa terburu-buru sekali? Ada ribut-ribut apa tadi?"
"Tuan, bisakah kau panggilkan paman Yugyeom? Aku tidak tahu dia dimana." Tanya Taehyung cepat, membuat Jimin mengernyit bingung.
"Ada apa?"
"Tuan pergi kesana.." Bocah itu menunjuk pintu darurat. "Dia terlihat seperti..."
Jimin nampak berpikir.
"Sebelumnya aku melihat ia berbicara dengan seorang wanita." Katanya membuat Taehyung semakin merengut heran. Tapi beberapa detik setelahnya ia pun mengangkat alisnya terkejut.
"Aku melihat tuan berdansa dengan wanita juga." Timpal Taehyung ketika Jimin nampak menolehkan wajahnya kebelakang, kelihatan seperti tengah mencari-cari seseorang.
Ketika kepalanya sudah berhenti bergerak-gerak, ia pun bergumam kepada Taehyung dengan tanpa menolehkan wajah.
"Baiklah aku akan segera memanggil Yugyeom sekarang juga."
Akhirnya Jimin pun melepaskan tangan Taehyung, lalu bocah itu kembali melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru setelah mengucapkan terima kasih.
Namun maniknya tetap menatap seseorang yang tengah terdiam ditengah kerumunan tamu undangan sembari melipat tangan diatas dada dan balas menatap Jimin yang kini mulai mengeratkan rahang.
•
•
•
Jungkook berhenti dan merosot pada pegangan tangga terakhir, tepat terduduk dekat jendela yang dapat dibuka. Ia memompa nafasnya tanpa tanggung, kemudian setengah merangkak untuk melepas kunci manual pada jendela disampingnya.
Segi empat yang memanjang tersebut pun terbuka dengan penyangga besi dibagian kanan, membiarkan tiupan angin menerpa wajah berkeringat Jungkook. Pria itu menarik nafas dalam-dalam, ketika matanya terpejam ia mendengar suara hentakan kaki yang bergerak cepat menuruni tangga.
"Tuan?!"
"Taehyung?"
"Astaga." Bocah itu berbisik pada dirinya sendiri, kemudian semakin mempercepat langkah kakinya untuk segera menghampiri pria tersebut. Setelah berada pada anak tangga terakhir ia segera melompat kedalam pelukan Jungkook yang setengah berlutut, membuat angin segar dari luar menerpa kedua laki-laki itu.
"Tuan jangan lakukan itu." Bisik Taehyung didekat leher Jungkook, pria yang didekap pun mengernyit bingung.
"Melakukan apa?" Well, mungkin Taehyung berperasangka jika Jungkook hendak terjun dari lantai delapan ini. Oh tidak, tentu saja. Jangan konyol. "Tidak Taehyung, tentu saja tidak."
Akhirnya bocah itu pun melepaskan pelukannya secara perlahan sembari menatap wajah Jungkook yang masih kelihatan pucat. Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?
Taehyung ingin bertanya, namun ia melupakannya.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Itu suara Yugyeom, dan keduanya mendongak untuk mendapati pria itu kini tengah menampakan wajah khawatir. Dua orang pria bersetelan sama hitam mengikuti dari belakang.
"Ya, sudah baik-baik saja.." Jungkook segera bangkit dari tempatnya, ditemani oleh Taehyung yang masih mengernyit tak mengerti. "Kita harus pergi sekarang juga. Aku ingin segera pulang."
Jungkook berkata sembari memberikan tatapan penuh arti kepada Yugyeom.
"Tentu, tuan.. Tapi tuan Park..."
"Tidak usah berpamitan, aku yakin dia akan mengerti nanti." Sela Jungkook cepat dan tanpa celah, ia segera menuruni tangga untuk menemukan pintu darurat lain. Diikuti oleh Taehyung, Yugyeom dan dua orang tadi dibelakang.
•
•
•
Jika saja seorang pria yang mengajaknya berdansa tidak melangkah semakin menjauhi Jungkook, mungkin Taehyung sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada lelaki itu. Ia hanya melihat seorang wanita yang menempel intim pada Jungkook, menggunakan gaun mewah yang amat berkelas dan terlihat sangat cocok dengan setelan mahal yang Jungkook kenakan.
Hal itu membuat Taehyung jengkel sendiri.
Apa alasan dari mengapa Jungkook seperti nampak panik dan tertekan.
Taehyung sangat ingin bertanya, tetapi ia tidak ingin melakukannya disaat yang tidak tepat. Meskipun saat ini Jungkook sudah terlihat lebih tenang, karena beberapa saat yang lalu Yugyeom memberikannya berbutir obat-obatan yang selalu Jungkook minum.
Ia menggunakannya untuk mengontrol rasa panik yang berlebihan dan mungkin yang ini adalah riwayat baru Jungkook mengalaminya secara sadar.
Pria itu kelihatan tengah menutup matanya sambil bersandar pada headrest. Mereka berada didalam mobil, dengan Taehyung yang tak berhenti menatap wajah memucatnya.
Bocah kecil itu meraih tangan Jungkook yang tergeletak bebas, menggenggamnya hingga membuat sang empu mengernyit sekilas lalu membuka mata dan menatap Taehyung.
"Sudah baikan?"
Jungkook terdiam untuk sesaat sembari terus menatap manik hazel Taehyung kemudian ia membalas genggaman pada tangannya.
"Baru saja."
"Ingin aku peluk?" Tanya Taehyung dengan wajahnya yang polos. Ia sedikit melebarkan tangan sambil menatap Jungkook yang kelihatan hampir tersenyum kecil.
"Yes, please."
Jungkook bergumam, lalu Taehyung membawanya kedalam sebuah pelukan besar. Membiarkan bocah kecil itu terduduk diatas paha nya dan merengkuh leher beserta bahu Jungkook sekaligus bersender pada dada bidangnya yang keras.
Mendengarkan detak jantung yang kian detik makin berlomba didalam sana, seperti memberitahu Taehyung bahwa Jungkook tentu merasakan suatu reaksi ketika bocah itu memeluknya.
Sedangkan sang big daddy hanya mampu menelan ludah tanpa diketahui siapapun, ia balas memeluk Taehyung. Memenjara bocah kecil cantik yang akhir-akhir ini mewarnai kesehariannya dan mengacaukan Jungkook dengan sebuah ungkapan perasaan waktu lalu.
Tapi kini, ada hal lain yang mengacaukannya juga, namun dengan indikasi yang amat buruk.
Suatu hal dari masa lampau yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan untuk timbul lagi kepermukaan. Setelah Jungkook menenggelamkannya beberapa tahun yang lalu, bahkan ketika sampai sekarang ia terus menjilati lukanya yang belum sembuh. Kepahitan itu tetap saja datang.
Tetapi mengapa ketika ia tengah membenahi diri untuk memperbaiki semua yang rusak dalam hidupnya -sesuatu dalam diri Jungkook yang telah rusak parah. Wanita iblis itu muncul dengan senyum semanis madu yang nyatanya amat mematikan.
Apakah belum cukup, sampai ia harus hancur lebur terlebih dahulu agar semuanya berakhir dengan cepat dan begitu saja.
Kenangan hidup yang sungguh luar biasa.
•
•
•
Beberapa belas tahun silam, ketika Jungkook telah menyadari bahwa ialah pembunuh ayah tirinya yang kejam itu. Bocah kecil tampan yang sayangnya menyimpan kepiluan dihati terdalam, akhirnya menemukan setitik cahaya ketika seorang pria berwajah campuran Asia-Eropa datang dan menyelamatkan Jungkook kecil dari penjara sekaligus belenggu yang ia sebut sebagai panti asuhan. Dimana anak yang baru saja tinggal disana akan berada pada titik terendah dari puncak rantai makanan.
Tiada seorang pun yang ingin berteman dengannya, meski ia termasuk anak kecil yang pintar dan menarik.
Karena semua setan kecil disana mengatakan..
"Anak aneh!"
"Ibumu pembunuh!"
Ya, ibunya pembunuh. Itu yang mereka katakan.
Tapi tentu saja itu hanyalah rumor yang beredar, seiring dengan kedatangannya ditempat mengerikan itu. Semua masa lalunya akan diungkap, lalu digunakan untuk mengalahkannya. Membuat ia tunduk dan tak memiliki pilihan lain.
Namun tak seorangpun yang tahu jika ialah pembunuh yang sebenarnya.
Tidak, meski sang ibu berteriak histeris jika ia adalah setan kecil pencabut nyawa dan hendak balas menikam Jungkook yang sudah kesakitan juga tak bisa bergerak, waktu itu.
Ia pikir, ibu tidak senang dengan perlakuan ayah tirinya. Jungkook mengira, ia akan mendapat pelukan setelahnya.
Tapi ternyata, luka lainlah yang ia dapat.
Mungkin juga, lukanya akan bertambah jika saja dua orang polisi tidak datang dan menyelamatkan Jungkook setelah mereka mendapatkan laporan dari tetangga.
Keributan yang terjadi tak luput dari perhatian orang-orang sekitar, hingga seorang diantara kedua pria yang menodongkan senjata ke arah ibunya harus melepaskan tembakan karena wanita itu tak berniat untuk mengurungkan tindakannya yang hendak membunuh Jungkook.
Darah kembali mengotori wajahnya, terasa masih hangat dan tubuh telanjang itu ambruk menghimpit kaki Jungkook.
Membuat ia semakin gemetaran dengan bola mata melotot penuh rasa takut dan kengerian.
Hingga Jungkook berakhir dengan hampir setiap hari menghabiskan waktunya bersama seorang psikolog anak sembari terbaring lemah di rumah sakit.
Orang-orang akan berpikir, jika panti asuhan adalah sebuah organisasi kemanusiaan yang terlahir dari tangan-tangan dermawan berhati besar. Sekilas memang kelihatan demikian, namun ketika Jungkook telah masuk didalamnya. Itu hanyalah sebuah kengerian lain yang tidak pernah ingin ia kenang.
Waktu itu, sore hari dimusim panas yang cerah. Jungkook kecil lebih memilih diam ketika seorang anak melemparkan ranting kayu bercabang runcing kearahnya, membuat sebuah goresan garis-garis tipis berwarna kemerahan dipipi sebelah kiri.
Ia tidak menangis, namun bocah itu hanya melangkah pelan dan menatap anak laki-laki lain yang terlihat sedang tersenyum meremehkan. Dia adalah salah seorang yang selalu mengganggu keseharian Jungkook. Meneriakinya aneh dan masih banyak lagi yang jauh lebih menyakitkan. Jungkook tetap diam dan menerima semua itu, membiarkannya menumpuk namun dihari ini hal sialan tersebut nampaknya telah membuat ia meradang.
Jungkook mengayunkan lengan kirinya untuk menyabet sisi pipi kiri anak lelaki itu dengan punggung tangan.
Membuat bagian dalam mulutnya lecet dan berdarah.
Terjadi keributan setelahnya, anak yang menangis dan beberapa lari terbirit-birit untuk mengadukannya kepada suster Lee yang terkenal paling membenci Jungkook.
Hingga ketika perempuan berwajah suram itu datang, Jungkook pun mendapatkan beberapa ruam kebiruan akibat luka cubitan yang bukan main sakitnya.
Tapi ia tidak menangis.
Ia tidak mungkin menangis untuk perempuan yang mengaku sebagai orang suci tetapi kenyataannya tidak mengatakan demikian.
Jungkook tidak akan menangis untuk orang yang telah menyakiti fisiknya.
Namun ada seseorang yang membuatnya menangis bahkan dihari kedua orang tua angkat Jungkook pergi untuk keperluan bisnis ke luar kota.
Ya, dia adalah Bae Irene.
Bukankah baru saja diketahui bahwa Jungkook telah menemukan setitik cahaya ketika seorang pria datang dan membawanya pergi dari panti asuhan?
Ternyata orang itu adalah adik dari ayah kandung Jungkook yang telah meninggal sejak ia berumur dua tahun. Bahkan Jungkook tidak pernah mengetahui bagaimana wajah ayah kandungnya, namun ketika pria dengan marga yang sama dengannya datang dan menceritakan semua yang perlu Jungkook ketahui. Bocah kecil itu pun menemukan sesosok ayah yang lain untuknya.
Sosok yang lebih penyayang dan juga menyenangkan.
Setelah semua urusan yang perlu dituntaskan selesai, Jungkook pun pergi ke Amerika bersama paman kandungnya. Negara yang telah pria Jeon itu tinggali selama hampir enam belas tahun.
Jeon Jinsuk menghendaki Jungkook untuk menyebutnya ayah dan seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah istri Jinsuk dengan sebutan ibu.
"Ada satu lagi yang akan menjadi keluargamu juga Jungkook." Ucap Jinsuk dengan wajah tampannya yang belum menua, sang istri hanya mampu tersenyum ketika seorang anak perempuan nampak menghampirinya untuk ikut berkenalan dengan Jungkook kecil yang baru saja datang.
"Sapa dia." Kata ibunya dengan nada lembut. Ia segera mendorong punggung gadis tiga belas tahun itu untuk mendekat.
"Hai, aku Bae Irene." Sapa gadis kecil itu sambil mengulurkan tangannya. Ia mulai tersenyum ketika melihat wajah oriental Jungkook yang kelihatan lucu.
"Nah, Irene sayang, sekarang Jungkook adalah adikmu." Kata Jinsuk sembari mengangkatkan tangan Jungkook untuk menerima uluran tangan Irene.
"Berapa umurmu?" Gadis itu masih tersenyum, sangat manis dan nampak tertarik. Namun Jungkook tidak menjawab, ia hanya diam dengan alis yang mulai mengkerut.
"Umurnya tujuh tahun." Sela Jinsuk memberikan jawaban kepada putri tirinya. "Ada beberapa hal yang terjadi kepada Jungkook ketika ia masih bersama kakak ipar di Korea."
"Wah, dia kelihatan lebih besar dari umurnya. Tapi, ada apa dengan rumah Jungkook di Korea, ayah?" Tidak ada yang menanggapi komentar Irene, ayah tirinya hanya menggeleng namun wanita dibelakang sana kelihatan terkesiap pilu.
"Astaga, ya aku tahu itu." Ucap nyonya Jeon dengan kedua tangan menutupi mulut, ia segera mendesah sedih lalu mengelus kepala Jungkook dengan sayang.
"Sekarang tidak akan ada yang perlu kau khawatirkan lagi." Kata wanita paruh baya cantik itu kepada Jungkook ketika ia semakin mendekat untuk memeluknya penuh perhatian. "Kau sudah aman disini Jungkook, tidak akan ada yang berani menyakitimu sayang."
Namun kini ia tahu, kalimat tersebut telah menjadi sebuah kebohongan besar yang berhasil menjeratnya.
Bagaikan sebuah kotak hadiah berisi omong kosong, Jungkook tetap kesakitan meski beberapa tahun pertama fisik dan mentalnya mulai membaik secara pesat.
Ketika Jungkook berumur empat belas tahun, bibi yang sekaligus menyandang status sebagai ibu angkatnya melihat ia berjalan sambil meringis. Kemudian setelah ia menyeret Jungkook yang mengeluh nyeri ke rumah sakit, dokter mengatakan jika bocah lelaki itu mengalami CPS. Sebuah keadaan dimana terdapat beberapa lecet pada alat vitalnya.
Bae Irene berumur dua puluh saat itu dan sekaligus saat pertama kali ia mulai merasakan suatu ketertarikan lain terhadap Jeon Jungkook yang baru saja beranjak remaja.
Dokter hanya memberikan beberapa jenis obat dan salep. Katanya itu disebabkan karena terlalu lama menggunakan celana renang.
Irene sempat menyela ketika nyonya Jeon sudah membawa Jungkook pulang kerumah. "Benar, Jungkook berenang terlalu lama ketika ayah dan ibu pergi. Aku sudah memberitahunya, tapi dia tidak mendengarkanku."
Jungkook remaja tentu mengetahui jika semua yang dikatakan kakak tirinya sangat tidak benar.
Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk berenang, tidak untuk sekedar menghentikan Irene memaksanya berhubungan seks.
Tapi ia hanya diam. Mendengarkan setiap nasihat yang diberitahukan oleh ibu angkatnya.
Sayang sekali karena Jungkook menyayangi kedua orang tua nya itu, ia sangat mencintai mereka. Namun tidak kepada Bae Irene.
Entah ini adalah cinta atau apa. Tapi yang pasti, wanita itu telah menguras seluruh jiwanya. Tak menyisakan apapun selain hasrat yang terus dipaksakan. Kekosongan yang menggerogoti sudut hatinya, membuat Jungkook selalu kesakitan.
Jungkook mendapatkan wanita pertamanya ketika ia berumur tiga belas tahun, postur tubuhnya memang agak sedikit menipu dan ia telah berhasil menghabiskan malam dengan gadis Amerika nya yang berumur lima belas tanpa membuatnya hamil.
Ia memiliki prestasi yang cemerlang disekolah, banyak gadis telah melakukan pendekatan dengan berbagai cara. Namun Jungkook memberikan pengalaman pertamanya kepada seorang pemandu sorak senior bernama Alicia.
Remaja itu tidak hanya melakukannya untuk memenuhi tantangan teman satu team basket yang hendak melepas virginitas bersama-sama sebelum usianya menginjak empat belas, tapi Jungkook menghendaki hal tersebut karena ia memang menyukai Alicia.
Namun, ia tak pernah menjadikan gadis itu sebagai miliknya. Tidak, ketika Bae Irene marah besar setelah mengetahui hal tersebut.
Ia kelihatan tidak senang saat adik laki-laki tampannya kedapatan sedang membicarakan hal tersebut dengan seorang anak lelaki lain yang dikenal dengan nama Park Jimin.
Irene terus menanyai Jungkook perihal hubungan yang ia jalani dengan seorang gadis Amerika itu, terang-terangan melarang keras Jungkook untuk terus berdekatan dengan Alicia. Hingga sebuah insiden pun terjadi dan membuat memori antara dua saudara tak sedarah itu membuat salah satunya mengalami keseharian yang tidak menyenangkan.
Bahkan hingga saat ini, ketika Jungkook sudah dewasa dan mandiri.
Kakak perempuan yang sebelumnya sangat Jungkook kagumi, menggodanya dengan cara yang sama sekali tidak pantas. Mengekploitasi dan memerasnya hingga tak tersisa apa-apa.
Ia mengetahui bagaimana cara untuk mendapati Jungkook naik keatas ranjangnya, Irene merayu dengan begitu lihai hingga Jungkook termakan manisnya bujukan berisi omong kosong tersebut.
Namun ketika Jungkook telah berhasil jatuh, ia pun tak dapat lepas dari mimpi buruk yang sesungguhnya.
Bae Irene cenderung memiliki gairah yang dipadukan dengan kekerasan, dimana obsesinya terhadap percintaan panas bersama Jungkook harus selalu berbeda setiap harinya. Memaksakan adik beserta dirinya sendiri, sampai rasa nyeri menjalar hingga perut Jungkook yang malang.
"Hentikan! Sialan— AKH! Sakit!"
"Jangan mengumpat Jungkook."
"Kau menyakitiku!"
"Wanita dan pria cantik di Amerika menyukai pria dominan yang memiliki bekas luka." Ia menggoreskan satu pecahan kaca untuk menulis sebuah kata dipermukaan perut Jungkook, kata tersebut berbunyi "Mine" lalu wanita itu menuangkan red wine diatasnya.
"Sial! Lepaskan! Aku tidak menginginkan ini." Isak anak lelaki yang berada dibawah.
"Akan aku lepaskan, tenang saja." Kata Irene sembari membukakan sabuk dan zipper pada celana Jungkook. "Tepat pukul tiga pagi nanti."
"BANGUN KUMOHON!"
Jungkook terperanjat dari tidurnya, lalu setitik sisa-sisa kesedihan yang menggenang pada pelupuk mata pun terjatuh begitu saja. Pria itu mendesah kaku dengan nafas terbata-bata dan tubuh berkeringat.
Mimpi buruk itu lagi, dan yang membuat ia terbangun adalah teriakan Taehyung beserta rasa nyeri pada alat vitalnya.
Taehyung memeluk Jungkook yang sudah terduduk waspada, matanya menyalang kikuk dengan selangkangan mengembung keras.
Oh, sialan!
"Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar... Tuan sudah bangun sekarang." Itu suara Taehyung, namun Jungkook masih terombang-ambing diantara kesadarannya. Ia sama sekali tak merasakan elusan telapak tangan lembut Taehyung di pipinya, tidak membalas tatapan bocah cantik itu, dan hampir tidak bernafas.
Mulutnya sedikit terbuka, lalu Jungkook menarik nafas kuat-kuat ketika air mata mulai membasahi pipinya.
Ini tidak benar, disini masih ada Taehyung. Mengapa ia menjadi lemah begini?! Sial! Jangan keluar lagi air mata!
Jungkook mengatupkan rahangnya, kemudian merunduk dengan kedua tangan menumpu pada tulang pipi. Hingga lalu tangisannya pun pecah, meraung penuh kepiluan dan rasa sakit. Ia seharusnya malu untuk selangkangan yang mengembung, namun biarkan itu menghukumnya karena telah dengan bodoh masuk kedalam jeratan penuh kepalsuan dari Bae Irene.
Biarkan rasa terbakar pada tenggorokannya meluruhkan semua air mata dan menjatuhkan harga dirinya didepan Taehyung.
Jungkook tidak perduli, ia hanya tidak tahan. Ia tidak mampu untuk terus menghadapi semua mimpi-mimpi buruk itu.
Melihat tangisan Jungkook yang tidak pernah Taehyung hadapi, membuat bocah kecil itu tertegun untuk sesaat. Atmosfer sendu menjalarinya juga dengan perlahan-lahan, hingga kemudian Taehyung ikut menyeka air matanya sendiri lalu bangkit untuk kembali memeluk Jungkook.
"Sudah tidak apa-apa, tuan tidak sendiri.. Jangan menangis terus." Demi Tuhan, kenapa suara Taehyung malah ikut gemetar? "Lihat, aku memeluk tuan sekarang. Buka matamu, daddy.."
Mendengar gumaman lembut itu, Jungkook pun mengangkat wajahnya. Ia membiarkan air mata yang mengganggu jarak pandangnya mengalir begitu saja menuruni pipi dan jatuh diujung dagu, hawa panas dari nafas yang ia hembuskan membuat Taehyung kembali menangkupkan tangan mungilnya diwajah rupawan milik Jungkook.
Kemudian Taehyung mengikis jarak diantara mereka dan memagut bibir lembab Jungkook yang terasa hangat. Melumatnya seperti yang selalu keduanya lakukan.
Pria yang lebih besar mendesah sembari menahan air mata, ia membalas ciuman lembut Taehyung dan merangkul tubuh mungil itu untuk direngkuh. Membawanya kedalam dekapan posesif juga dengusan nafas panas yang tidak stabil.
Terkadang Jungkook berpikir bahwa dunia telah mengutuknya sedari dulu, ia tidak pernah membiarkan Jungkook tenang dan damai, bahkan untuk sekedar merasakan malam-malam tenang tanpa terror mimpi buruk itu datang disela tidur nyenyaknya.
Ketika beberapa kali ia terlelap dengan memeluk Taehyung disampingnya, Jungkook sama sekali tak memimpikan apapun. Sempat merasa lepas dan bebas ketika tingkah lucu nan polos Taehyung membuatnya tergelak.
Namun iblis dalam diri Jungkook semakin kuat ketika pria itu menemukan Bae Irene muncul dari masa lalu, hadir dalam balutan busana mewah yang tampak dewasa dan terlihat siap untuk kembali menarik Jungkook kedalam pusaran kehampaan. Penuh dengan rasa sakit yang menimbun tinggi.
Kemudian ciuman yang begitu tulus ini, sesuatu tanpa paksaan dan penuh perhatian ini..
Sungguh Jungkook mampu mendapatkan perlakuan persis seperti demikian dari wanita atau pria cantik manapun, tetapi di malam yang berat ini ia mendapatkannya secara cuma-cuma dari seorang anak kecil yang bahkan baru dikenalnya dalam hitungan minggu.
Tidak lama Taehyung berada dirumah Jungkook, namun kesan yang ia berikan terasa begitu melekat dan sulit dilupakan. Membuat itu terbayang hingga sudah begitu lamanya mereka bersama. Saling mengerti satu sama lain, meski nyatanya dua anak adam tersebut tak saling menjelajahi masa lalu secara merinci.
Karena untuk terciptanya kasih sayang dan kepercayaan, bukan berarti mesti membongkar semuanya kan?
Taehyung memang tidak tahu apa-apa, tapi ia mengerti bagaimana caranya mendapatkan tempat disudut hati Jungkook. Perlahan menarik seluruh atensi yang Jungkook miliki untuk melihat kearahnya. Satu-satunya yang bisa menyadarkan Jungkook dari perihnya masa lalu, membuat itu merasa semakin membaik dan terlupakan.
Ya, tentu saja.
Menggantinya dengan kenangan yang baru. Memori atau ingatan yang lebih menyenangkan.
•
•
•
Pagi ini, Taehyung melihat Jungkook sudah tampak lebih baik. Kelihatan segar dengan ujung rambut yang menajam dan meneteskan air. Seperti biasa menyeruput kopi hitam dengan sebelah tangan memegangi ponsel dan berbincang bersama seseorang yang Taehyung yakini adalah Park Jimin.
Ya, Jungkook sempat memanggil namanya ketika mereka berbicara.
Sedangkan Taehyung, terduduk disamping Jungkook dengan alis menaut dan kening terlipat kesal.
Merasa terabaikan, dan bahkan ia bagai kalah menarik dari pada roti lapis yang sekarang mulai Jungkook gigit.
Melihat itu, Taehyung hanya mampu bangkit dari kursinya dan pergi ke dapur untuk menghampiri Yugyeom yang tengah membuatkan sarapan untuk Taehyung.
Jungkook tidak menghentikan langkah mungil bocah cantik itu, namun ia tetap memperhatikan tingkahnya karena dari meja makan ia bisa melihat tujuh puluh persen kegiatan didapur.
"Ya, sekali lagi aku minta maaf untuk kejadian kemarin Jimin." Itu Jungkook, dan suaranya terdengar berat dan serak.
Diseberang sana, Jimin tergelak main-main.
"Jangan dipikirkan dude, bukankah sudah kubilang jika aku mengerti, hm?" Jimin mulai memelankan suaranya pada kalimat berikut. "Bae Irene memang keterlaluan, dia seharusnya malu untuk apa yang sudah ia lakukan."
"Aku percaya padamu." Kata Jungkook, penuh arti. Kemudian nada pada suaranya berubah lebih santai dan ringan. "Kalau begitu, selamat untuk pernikahanmu. Aku sudah mengirimkan tiket bulan madu untuk kalian berdua. Itu akan datang siang nanti. Anggap saja sebagai hadiah yang tak sempat kuberikan kemarin."
"Oh! Jungkook, man! Kau tidak perlu melakukannya!" Jimin terdengar sungkan, namun kemudian ia terkikih setelah membisikan kalimat, "Apa dengan cek dan voucher belanja juga?"
Jungkook ikut terkikih namun tanpa suara. Ia hanya menyeringai, dan tentu Jimin sudah tahu tentang reaksinya yang satu itu.
"Dasar kau keparat mata duitan."
"Eiy, sekarang aku punya istri yang harus kubiayai juga Jungkook! Bagaimana mungkin aku bisa bersantai jika ia merengek ingin berbelanja ini itu sedangkan uangnya sudah aku donasikan untuk pesta pernikahan kami." Nadanya memang main-main, namun belum sempat Jungkook menjawab, ia sudah terlebih dahulu dihentikan oleh teriakan keras dari suara lain diseberang sana.
"Aku mendengar itu, Park Jimin! Berhentilah mengemis kepada temanmu yang dermawan tapi bajingan itu! Biarkan dia mengurusi paginya yang penuh dengan gairah."
Jungkook semakin menyeringai jenaka.
"Oh, dude! Kuharap kau tak mendengar itu." Ucap Jimin pura-pura panik.
"Sayang otakku baru saja merekamnya baik-baik. Penuh gairah ya, hm..."
Jungkook pun melirik Taehyung, dan matanya kontan melotot ketika ia melihat bocah itu menggelayut manja pada pinggang Yugyeom. Merengek dan mengeluh untuk membuat roti panggangnya sendiri. Padahal memasak saja ia tidak bisa. Tapi, bukan itu masalahnya kali ini.
"lupakan man, pokoknya kau harus kirim beserta cek nya-"
"Jimin, ada keadaan darurat. Sepertinya aku memang sedang benar-benar on fire -bergairah- (terbakar). Aku tutup telponnya."
"He-"
'PIP'
Mati kau, Kim Taehyung.
.
.
"Paman Kim!"
Yugyeom sedikit menaikkan alisnya ketika ia menoleh dan mendapati Taehyung tengah tersenyum kotak dengan begitu manis pagi hari ini. Sebenarnya ia terkejut juga ketika mendengar panggilan baru dari Taehyung, namun tingkah lucu nan menggemaskan yang ia lakukan membuat Yugyeom tertarik untuk membalasnya dengan hal yang sama.
Lagipula, mulai minggu depan nanti mereka sudah resmi jadi sepupu bukan? Tak dapat dibayangkan bagaimana mungkin kakaknya melahirnya anak kecil yang seperti Taehyung itu. Ia sungguh tak mendapat gambaran apapun.
"Ada apa Taehyungie?"
"Apa itu untukku?"
"Tentu saja, ini untukmu. Nutela dan kacang, seperti biasa kan?"
"Paman tahu aku memakan segalanya. Tak perlu bertanya lagi."
Mendengar itu, Yugyeom kontan terkekeh.
"Betul, nafsu makanmu besar tapi tubuh tetap kecil ya."
"Eih! Paman Gyeom!"
"Kenapa?"
Taehyung cemberut, kemudian ia melipat kedua tangannya didepan dada sembari bergumam.
"Aku ingin memasak!"
"Tidak boleh, tuan akan marah jika terjadi sesuatu." Jelas Yugyeom dengan nada sabar.
"Huh, lebih baik dia marah saja." Ungkap Taehyung penuh kekesalan, ia segera merapatkan diri untuk meraih pan dan spatula dari tangan Yugyeom. Namun pria yang jauh lebih tinggi buru-buru menghalangi jalannya.
"Tidak bisa. Tetap tidak boleh."
Mendapat penolakan tersebut, Taehyung malah semakin meradang. Ia menghentak-hentakkan kakinya lalu berusaha meraih gagang pan dari berbagai arah, membuat Yugyeom mesti memblokir pergerakannya tanpa membuat pria kecil itu terluka dan jatuh. Mengingat perbandingan porsi tubuh keduanya yang jauh berbeda.
"Hentikan usahamu untuk merebut pan itu, Kim Taehyung. Atau aku akan memberikanmu sarapan yang lain."
Pucat.
Dingin.
Dan setiap bulu halus disekujur tubuh Taehyung terasa bergidik mendengar gumaman dengan nada dalam itu. Ia tahu siapa yang baru saja menggertaknya, sangat kentara sekali karena hampir setiap malam mereka mengerang bersama diatas tempat tidur.
Kendati, sarapan lain apa yang akan Jungkook berikan jika Taehyung tetap tidak mau mendengar?
"Tapi aku ingin membuat sarapanku sendiri." Taehyung berbalik, memangku tangannya tanda tak ingin menyerah dan memberikan Jungkook tatapan menantang yang keras kepala.
"Kau bahkan tidak bisa memasak."
"Tahu dari mana? Aku kan bisa belajar, benarkan paman Gyeom?" Taehyung menoleh untuk melihat Yugyeom yang kini sudah mematikan kompor, lelaki itu tidak menjawab, ia hanya membalas tatapan Taehyung lalu kembali menunduk untuk memindahkan roti panggang tadi ke piring.
"Coba saja, aku menantangmu." Kata Jungkook sembari ikut memangku tangan.
Melihat wajah diktaktor Jungkook, Taehyung pun mengerutkan bibirnya sebal. Sembari menghentak ia pun berjalan melewati pria itu dengan dorongan tangan guna menyingkirkannya yang menghalangi jalan.
Meskipun begitu, Jungkook tetap bergeming. Dorongan tersebut hanya membuat kakinya bergeser beberapa inci saja. Jungkook tahu jika pria kecil nya memang tidak bisa memasak, karena itu ia menantang Taehyung untuk melakukannya.
Menyadari jika hanya akan ada kecanggungan yang terjadi nanti, Taehyung pun merasa kalah duluan. Sial, padahal ia ingin belajar memasak untuk Jungkook juga.
Ya, contoh kecilnya membuat sarapan saja dulu. Tapi lelaki itu malah melarangnya habis-habisan. Bukankah pacar yang baik harus bisa memberi pria nya masakan enak?
Memangnya, wanita dan lelaki cantik seperti apa yang selama ini Jungkook kencani? Seorang yang memiliki tubuh bak model dan berkaki panjang? Atau mungkin berkulit putih dan berdada besar?
Tidak ada yang bisa memasak? Memanjakan lidahnya? Begitu?
Well, meskipun beberapa diantaranya mungkin bisa memanjakan bagian tubuh Jungkook yang lain.
Namun untuk yang satu itu, Taehyung juga bisa melakukannya.
Tapi bagaimana dengan memasak? Bukankah itu adalah hal kecil yang sangat manis? Sebuah kebiasaan yang memang sudah lumrah namun sangat berguna kelak?
Baiklah, anggap saja Taehyung adalah remaja yang kuno. Ia tidak perduli, tapi yang terpenting sekarang ialah menghindari Jeon Jungkook yang kadar menyebalkannya sedang setinggi namsan tower.
.
.
.
Jungkook melihat Taehyung yang menghentak lucu dengan bibir sedikit menyeringai geli. Api nampak menari-nari dimatanya ketika ia melihat kedekatan Taehyung dan Yugyeom tadi, tetapi baru saja ia hendak menghukumnya reaksi menggemaskan itu malah membuat Jungkook menahan tawa mati-matian.
Kim Taehyung yang merajuk, hampir seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
Tapi Jungkook berhenti mengulum senyuman ketika dilihat Taehyung tidak kembali ke ruang makan, melainkan terus menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.
Sial. Apa dia benar-benar merajuk?
"Yugyeom."
"Ya Tuan." Sahut seseorang yang merasa namanya baru saja dipanggil.
"Dimana sarapan milik Taehyung?"
.
.
.
Seperti biasa, Jungkook akan mengetuk pintu dahulu. Dan ketika tidak ada jawaban, ia akan mencoba memutar gagang pintu.
Saat mengetahui ternyata Taehyung tidak menguncinya dari dalam, Jungkook pun masuk dengan sepiring sarapan hangat yang sama sekali belum Taehyung sentuh.
"Kukira kau pasti lapar." Kata Jungkook sembari membawa diri menuju sisi ranjang dimana Taehyung tengah berbaring memunggunginya.
"Aku tidak lapar."
"Begitukah? Kau bahkan belum menyentuh sarapanmu." Ia meletakan nampan diatas nakas bersama segelas air putih yang memang sudah tersedia disana. Tapi Taehyung malah semakin memunggunginya, hampir seperti tengkurap namun Jungkook masih bisa melihat cuping telinganya yang sedikit memerah.
Taehyung tetap diam, kemudian Jungkook kembali memangku tangannya setelah terduduk disisi ranjang king size tersebut.
"Ayolah.. Aku tidak pernah membujuk orang yang sedang merajuk."
"Aku tidak merajuk." Katanya sambil menoleh lalu kembali memeluk batal kecil bermotif polkadot yang lucu.
"Setidaknya makan dulu sarapanmu."
Ketika pria yang paling tua hanya mendapat gelengan, ia menghela nafas untuk sesaat, lalu sebuah ide muncul dari dalam pemikiran imajinatif Jungkook. Seperti seseorang baru saja menaruh bola lampu diatas kepalanya.
"Kalau begitu, ingin sarapan yang lain?"
Benar saja, cuping yang tadinya tidak terlalu kentara memerah kini nampak semakin merona setelah Jungkook berkata demikian sembari mengelus pantat kenyal Taehyung yang hanya terbalut celana tidur.
Bocah itu pun bersuara, setelah dirasa tak akan ada getaran dalam suaranya.
"Tidak mau."
"Tak mau? Aku bahkan sangat yakin kalau kau pasti menginginkannya." Kata Jungkook yang kemudian sepenuhnya merayap keatas ranjang. Setengah memeluk Taehyung yang memunggunginya lalu menciumi belakang telinga sang pria kecil.
Menempelkan gundukan keras yang terasa menusuk pantatnya dari belakang.
Kemudian sebelah kaki Jungkook mendorong dan memisahkan paha Taehyung agar tertekuk sekaligus bertumpu.
"Bagaimana dengan posisi ini sayang? Bukankah akan sangat menyenangkan jika aku mendorong dari sini?" Kata-kata Jungkook memberikan getaran dengan kekuatan penuh diseluruh tubuh Taehyung, membuat sang empu hanya mampu mengigit bibirnya tanpa dapat menahan lenguhan yang lolos begitu saja. "Tinggal letakkan bantal kecil itu dibawah perutmu dan bagian ini akan terangkat, memudahkanku untuk menjelajahinya lebih dalam."
"Tuan.." Panggil Taehyung sembari mendesah saat Jungkook dengan kurang ajar menggesek belah pantat Taehyung menggunakan jemarinya. Menciumi tengkuk dan bahu mungil itu dengan nafas menggebu.
"Panggilan yang salah.."
"Da-daddy?"
"Ya, betul.."
Kemudian, yang dapat Taehyung lakukan hanya mendesah. Ia menyerahkan semua urusan kepada Jungkook, membiarkan pria itu melucuti pakaiannya dan membuat tubuh mereka berkeringat.
Mendorong Taehyung dari belakang tanpa pengaman dan pelumas, membuat si kecil mengerang pada penetrasi pertama.
"Sakit, daddy."
"Kita tidak memiliki banyak waktu sayang dan ini hukumanmu karena tidak menuruti perintahku.." Katanya sambil menyeringai. "Juga merajuk."
Taehyung hanya mampu meremas lapisan linen dibawahnya, mendesah-desah parau dan diselingi dengan guncangan hebat yang terjadi dibelakang sana. Mendorong tubuhnya untuk terlonjak-lonjak dan keringat bercucuran.
Kedua tangan berotot Jungkook mengungkung Taehyung dimasing-masing sisi. Memberinya pegangan dan objek untuk mencakar segalanya.
Sedangkan tatanan sprei semakin terlihat kusut karena kegiatan panas tersebut. Sarapan yang tadinya hangat dan siap santap, kini teronggok hingga mendingin. Sepenuhnya terabaikan oleh sarapan lain yang telah Jungkook tawarkan sejak pagi tadi.
.
.
.
TBC :")
5k bae~ gimana? Apa masih kurang atau malah kepanjangan? XD
Maaf ya karena updatenya lama akhir-akhir ini, karena ell memutuskan semi hiatus karena works sempat hilang juga dan itu sangat tidak menyenangkan, sumpah :"
Jadinya ell hanya posting disini saja, maaf ya yang pakai wp, ell tidak pub disana dulu u,u
Kena wb juga padahal lagi banyak project :"
Tapi itu sedikit-sedikit sudah teratasi kok..
Makanya, kasih ell semangat dengan reviewnya dong /maksa xD
Biar enggak up telat-telat dan kena wb :"
Ell sengaja bikin nc nya biar gk terlalu mencolok dan diperjelas, takut kena lagi soalnya :'v
Okay, segitu saja.
Thanks yang sudah review di chapter sebelumnya. See you in next chapter ya^^
