CLAIMED

By

Ellden-K

Prev : Sedangkan tatanan sprei semakin terlihat kusut karena kegiatan panas tersebut. Sarapan yang tadinya hangat dan siap santap, kini teronggok hingga mendingin. Sepenuhnya terabaikan oleh sarapan lain yang telah Jungkook tawarkan sejak pagi tadi.

Bab 15 - New Day!

Setelah sarapan panas yang telah Jungkook berikan untuk Taehyung, lelaki itu nampak lebih bernyawa sekarang. Pasalnya, sejak mimpi buruk malam itu ia terlihat murung dan tidak banyak bicara. Sungguh sosok Jungkook yang penuh dengan antisipasi dan membentengi diri.

Namun, meski ia tetap membalas perlakuan Taehyung dengan sikap yang manis, ada hal lain yang mengganjal dan terasa berbeda. Seperti Jungkook tengah menutupi sesuatu dari Taehyung. Ya, walau sebenarnya memang banyak sekali hal-hal rahasia yang Jungkook sembunyikan dibalik sosok keras kepala dan otoriter miliknya.

Jungkook memang tetap menjadi orang yang tegas, namun Taehyung sungguh merasakan perisai itu mulai hancur dan retak. Perlahan menampakkan bagian dalam seorang Jeon Jungkook yang sebenarnya.

Jiwa yang sudah tak memiliki gairah hidup dan benar-benar gelap.

Ia tersenyum dan menyambanginya diatas ranjang, tetapi jejak basah yang Taehyung rasakan dipermukaan kulitnya bukan hanya dari kecupan hangat bibir Jungkook saja. Namun sesuatu yang dilingkupi bulu mata panjang nan tebal milik Jungkook pun ikut andil memberikan sensasi dingin dari tetesan cairan bening yang berasal dari sana.

Taehyung menyadari itu, dimana Jungkook terdengar lebih sering memanggil nama lengkap nya ketika mereka bersenggama.

Merapalkan kalimat penuh godaan yang tak lepas dari nama Kim Taehyung.

Ketika tubuhnya memanas dengan keringat yang meluruh disekujurnya. Jungkook tak pernah lupa untuk menandai dada Taehyung dengan gigitannya, membuat pria cilik itu menggelinjang dan kewalahan.

Namun Jungkook selalu menunduk, dengan permukaan kulit wajahnya yang memerah hingga ke telinga, Jungkook menunduk. Terkadang menyembunyikan wajahnya diceruk leher Taehyung, ataupun dibalik telinganya, mengecupi bagian sensitif tersebut guna menghindari Taehyung dari melihat wajah kacaunya yang penuh air mata.

Kendati demikian, tanpa Taehyung melihat, ia bahkan sudah menyadari itu sejak awal.

.

.

.

Hari ini adalah minggu dan besok Taehyung akan memulai hari baru nya disekolah.

Sejak pagi hari, Taehyung sudah dikejutkan oleh barang-barang yang telah Yugyeom beli. Tentu saja, semua itu atas perintah Jungkook.

Seragam sekolah, ransel keren, sepatu dan masih banyak lagi yang harus Taehyung lihat. Terkadang merasa kebingungan, bagaimana bisa Jungkook menghamburkan uangnya dengan leluasa dan tanpa memikirkan apapun resikonya nanti. Well, meskipun beberapa isi dari dompet Jungkook berupa unlimited card-

Ini tetap menghamburkan uang!

Ia membeli tiga buah ransel dengan model yang berbeda-beda dan memang Taehyung akui semua itu sangat keren juga terlihat mahal.

Belum lagi beberapa pasang sepatu yang ia beli sekaligus. Dari mana asalnya uang-uang itu eh? Bahkan semuanya memiliki merk dengan brand terkenal.

Pernahkah Taehyung bilang Jungkook selalu agak berlebihan dengan pakaian yang akan ia kenakan?

Oh, Tentu. Jangan salahkan dia, pria itu memiliki uang yang banyak untuk menunjang penampilannya dan hal tersebut juga membawa para gadis untuk semakin mendekat.

Mencari celah untuk dapat berada disamping seorang bujangan kaya seperti Jeon Jungkook ini, makan malam bersama dan melakukan hal yang lebih privasi di akhir pekan. Taehyung bisa membaca itu, sialan. Meski ia tidak tahu banyak, namun sebuah acara gosip yang tak sengaja ia tonton membeberkan semuanya.

Jungkook selalu menjadi pusat perhatian, atau jika Taehyung tidak berlebihan ia sudah seperti putra raja saja.

Raga bak malaikat, dengan tubuh tinggi tegap dan wajah tampan yang bersinar penuh intimidasi sekaligus pesona dominan nun kuat. Tidak- mari kita berhenti disini, membicarakan hal itu tidak akan memperpanjang waktu Taehyung dalam memilih barang-barang mana yang cocok untuk ia kenakan esok hari.

Sungguh pria yang menyebalkan dan Taehyung tidak mampu untuk merajuk, ataupun menentangnya terlalu lama.

"Sudah menemukan yang kau suka?" Itu Jungkook, dan ia baru saja muncul dari arah dapur dengan secangkir kopi panas ditangan. Mendudukkan diri di sofa sembari menontoni Taehyung yang kelihatan merengut sebal ke arahnya. "Apa?"

"Kenapa tidak membeli satu dari masing-masing benda saja? Ini menghamburkan uang namanya."

Jungkook mengernyit, melihat reaksi Taehyung yang tidak nampak seperti biasanya. Mula ia akan menerima semua yang Jungkook belikan, tapi ada apa dengan bocah itu kali ini?

"Sebelum itu, aku ingin menanyakan satu hal dulu kepadamu Taehyung." Ia meletakan kopi tersebut diatas meja, kemudian kembali melakukan kebiasaan lama nya, -memangku tangan. "Kenapa kau selalu protes? Lagipula aku membelinya dengan uangku sendiri."

"Tapi aku yang akan memakainya." Sela Taehyung dengan nada kesal.

Mendengar itu, Jungkook segera menyipitkan matanya menerka-nerka.

"Tentu kau yang akan mengenakan itu, lalu apa masalahnya? Tidak ada yang dirugikan sama sekali dalam hal ini." Balas Jungkook tidak mau kalah.

"Memang tidak ada, tapi orang-orang akan curiga!" Taehyung mendengar getaran dalam suaranya dan tidak menutup kemungkinan Jungkook pun merasakan itu, namun pria dewasa tersebut hanya menatapnya ganjal dan tak terbaca. Datar namun ada sinar rasa penasaran dimatanya.

"Apa maksudmu Kim Taehyung? Mengapa kau mengatakan hal itu?" Jungkook bangkit dari tempatnya dan bersiap menghampiri Taehyung. "Apalagi yang kau dengar dan saksikan kali ini? Katakan padaku."

Ini sulit, sungguh. Taehyung mengigit bibirnya sembari menatap lantai, ia tidak bisa bicara. Seperti ada seseorang yang mengikat lehernya sampai tercekat dan itu sangat tidak nyaman.

"Kau menyaksikan berita gosip ditelevisi lagi?" Kali ini, Jungkook sudah ada dihadapannya. "Angkat dagumu Kim Taehyung. Aku sedang berbicara."

Ia menggeleng.

Tidak, bukan hanya itu Jungkook.

Ini tentu bukan reaksi yang Jungkook inginkan, seharusnya Taehyung selalu patuh seperti diwaktu-waktu lalu.

Jungkook mendecak, rahangnya mengeras lalu ia mencengram dagu Taehyung untuk segera mendongak menatap tepat pada obsidian gelap miliknya.

"Apa masalahnya? Apa kau memang menonton acara gosip lagi?" Ia bertanya demikian karena akhir-akhir ini nama Jeon Jungkook memang sedang menjadi perhatian media. Banyak pula artikel yang muncul dengan namanya sebagai headline.

Itulah satu-satunya alasan yang menurut Jungkook menjadikan Taehyung bersikap demikian. Karena tak biasanya ia menolak, sedangkan pada kesempatan sebelumnya Taehyung selalu menerima semua yang Jungkook berikan.

Meski Jungkook sudah terbiasa menjadi bahan gosip media-media usil maupun orang-orang yang membuat artikel di internet, ia hanya tidak mengerti mengapa dampaknya begitu kuat bagi Taehyung.

Hingga ketika anggukan lemah itu membuat Jungkook mendesah, ia segera meraup bibir Taehyung untuk dilumat. Menghisap dan menarik lembut bagian bawahnya menggunakan gigi.

Mengulangi gerakan yang sama beberapa kali lalu mengakhiri itu dengan hisapan dalam yang membuat Taehyung melenguh sembari memejamkan mata.

"Jika memang begitu.." Kata Jungkook masih menempelkan dahi mereka. "Pilihlah salah satu yang kau suka, dan akan kubuang sisanya."

Taehyung tertegun. Bahkan setelah Jungkook beranjak pergi ke ruang kerjanya setelah kembali mengambil kopi yang sempat terabaikan diatas meja. Taehyung tetap bergeming dan mengigit bibirnya yang basah juga sedikit membengkak.

.

.

.

Ini adalah hari pertama ia masuk sekolah, dan Taehyung tidak pernah seberdebar ini selain diluar kegiatannya diatas ranjang. Tak ayal sudah lama sekali ia tidak menekuni kebiasaannya menjadi seorang pelajar, Taehyung hanya takut ia akan menjadi siswa yang paling bodoh diantara murid lain.

Meskipun tidak seharusnya ia meragukan diri sendiri, Taehyung tetaplah Kim Taehyung. Dulu ia memang pintar, namun sekolah menengah tentu berbeda jauh dengan lingkungan di SMA nya yang baru ini.

Taehyung anak yang pintar, mendiang ayahnya tidak pernah meragukan itu. Kendati hal tersebut sudah sangat lama.

Melihat keadaan Taehyung yang nampak gelisah, Jungkook pun meliriknya dengan manik yang menyorot sedikit geli.

Ia menjilat bibirnya, kemudian menarik nafas.

"Ada sesuatu yang mengganggumu?" Jungkook tidak berniat untuk menyentakkan Taehyung dari lamunannya, namun gestur yang ia perlihatkan kelihatan tidak nyaman. "Semuanya akan baik, kau hanya perlu berbaur."

Taehyung balas menatap Jungkook, lelaki yang selama ini menghendaki ia tidur bersamanya.

"Hanya saja kau harus memiliki batas." Bisik Jungkook sembari menghembuskan nafasnya santai, ia menyempatkan diri untuk mengusap surai lembut milik Taehyung lalu tersenyum kecil ketika mendapati anggukan lemah dari nya.

"Tapi bagaimana jika nanti teman-teman baruku menanyakan hal tentang daddy?"

Sekali lagi, Jungkook menyunggingkan senyumannya. Kelihatan begitu tertarik dengan pertanyaan lugu dari Taehyung.

"Kau boleh memanggilku paman Jeon.." Katanya. "Atau jika kau suka, panggil saja aku hyung.."

"Bolehkah?" Sungguh. Jika Jungkook tidak diingatkan dengan seragam SMA Taehyung, mungkin ia akan berpikir jika bocah lelaki cantik ini masih berumur enam tahun. Tingkahnya luar biasa menggemaskan.

"Hmm.. Tetapi hanya didepan temanmu saja." Sembari mendekatkan wajah, Jungkook menjilat bibirnya dengan gerakan menggoda. "Dirumah, tetap panggil aku daddy."

Taehyung pun mengangguk antusias. "Baiklah, daddy!"

"Anak pintar." Jungkook tergelak untuk sesaat, mencubit pipi Taehyung lalu berbisik kecil. "Berikan daddy ciuman."

Itu adalah perintah yang menyenangkan dan Taehyung pun melakukannya dengan suka rela. Ia mengecup permukaan bibir Jungkook sembari memejamkan mata, kemudian berkedip ketika melihat alis bertautan Jungkook yang menatap kearahnya.

Taehyung terkikik mendapati wajah cemberut Jungkook. Kemudian ia pun mengalungkan kedua tangannya pada leher dan bahu tegas sang daddy, lalu mencium dengan belah bibir yang terbuka. Membiarkan Jungkook hingga melanjutkan pada sesi saling lumat dan gigit.

Sedangkan Yugyeom hanya mampu berdehem ketika ciuman tersebut mulai menimbulkan suara decak basah yang -tentu saja- mengganggu pendengaran.

Jungkook hanya tidak tahu saja, jika sopirnya sudah melirik-lirik Yugyeom dengan gelisah. Sedikit merasa tidak nyaman, ketika menyadari jika atasannya sedang bermain-main dengan anak kesayangannya.

Taehyung melepas pagutan mereka setelah mendengar intrupsi tidak langsung dari Yugyeom, mengigit bibirnya karena malu dengan permukaan pipi yang merona.

Sungguh, jika ia berada didalam kamar sekarang, mungkin Taehyung sudah tidak dapat ditolong lagi.

Namun, ia hanya tersenyum senang melihat reaksi kesayangannya. Menggemaskan dan seksi.

Mungkin Jungkook sudah positif tidak waras, atau ia memiliki penyakit mental. Karena, ia sangat tergila-gila kepada bocah ini. Begitu gilanya Jungkook, sampai ia tidak memperdulikan norma dan hukum.

Biarlah, bukankah Taehyung juga melakukannya dengan suka rela?

Hanya perlu lima tahun lagi, untuk ia memiliki Taehyung seutuhnya.

Namun ketika hubungan mereka berjalan pada suatu yang lebih serius, mungkin Jungkook juga harus mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Dimana Taehyung akan menuntut sebuah penjelasan. Menginginkan sebuah komitmen, yang dimana tidak menutup kemungkinan Jungkook pasti masih belum memilikinya.

Ia belum tahu, apakah ini cinta atau hanya obsesi gairahnya terhadap Kim Taehyung.

Jungkook berubah murung, ketika melihat wajah berseri Taehyung yang menatap keluar jendela dengan bibir tergigit. Sedikit senyuman, namun terasa begitu manis.

Tapi Jungkook sungguh merasa tergila-gila, dan perasaan tak ingin berbagi tiba-tiba saja muncul ketika ia menyadari Taehyung bisa saja tumbuh menjadi lelaki yang lebih cantik dari pada ini. Lebih berpengalaman dan memiliki banyak referensi, hasil dari kerja lelah mereka berdua dan Jungkook hanya ingin menikmati Kim Taehyung, sendirian.

"Kau akan pergi bersama Yugyeom. Aku hanya akan mengantar sampai sini saja." Itu Jungkook, dan ia mendapatkan wajah murung Taehyung setelah mengatakan hal tersebut.

Mobil sudah berhenti, tepat didepan sebuah sekolah ternama yang sudah Jungkook janjikan untuk Taehyung. Kelihatan megah dari luar, dan Taehyung tidak perlu memandanginya untuk berdecak kagum.

Ia hanya mengangguk ketika Jungkook berkata demikian, lalu sebuah usapan hangat dari telapak tangan lebar sang daddy membuatnya mengulum bibir sekali lagi.

"Jangan memainkan bibirmu didepan sembarang orang, aku tidak mau salah satu teman barumu tiba-tiba naksir dengan wajah cantik ini."

Taehyung kembali merona hebat, kemudian ia memukul lengan Jungkook dengan tanpa tenaga.

"Itu tidak benar." Katanya sambil cemberut.

"Aku selalu berkata apa adanya." Gumam Jungkook sekaligus tersenyum. "Nah, sekarang nikmati hari barumu disekolah."

Kemudian Jungkook mendekat sembari berbisik. "Daddy harus bekerja, dan nanti malam aku ingin kita menghabiskan satu sesi dengan perlahan-lahan."

Oh yeah..

Bukankah menggoda anak SMA itu ilegal? Taehyung ingin sekali memukul wajah tampan Jungkook sekarang juga.

"Atau mungkin beberapa.." Tambahnya kemudian.

Beruntung dia ganteng! Tapi imbasnya, Taehyung jadi merona.

.

.

.

Seseorang yang tengah menyesap rokoknya dalam-dalam kelihatan begitu remang diantara bayangan lampu dari luar yang terhalang dinding, menerobos dari jendela yang tak sepenuhnya tertutupi gorden abu-abu putih tersebut. Keseluruhan ruangan, tentu saja gelap.

Namun bibir tebal yang menghembuskan asap tebal itu nampak amat mengintimidasi, membentuk segaris lurus ketika suara seseorang menyapanya lewat interkom yang menyala.

'Pip'

"Hari ini Jeon Jungkook membawa anak itu untuk bersekolah di SMA terkenal tuan, kami akan mengabari lagi setelah mendapatkan informasi lain."

'Pip'

Ia menyeringai, dengan jam tangan mewah yang berkilauan terkena bias lampu, pria itu kembali menyesap batang rokoknya yang mulai memendek.

"Sungguh tak terduga.." Bisiknya dengan suara rendah. "Jeon Jungkook."

.

.

.

Taehyung berjalan dengan ditemani Yugyeom disampingnya. Pria itu nampak menjulang tinggi dan beberapa anak sekolah juga pekerja kebersihan disana kelihatan memandangi mereka dengan berbagai macam tatapan. Kebanyakan sih penasaran, kendati tak mengabaikan yang juga memberikan mereka tatapan sinis dan menilai.

Pria cantik kita tentu merasa tidak nyaman, pasalnya Taehyung tidak pernah menjadi pusat perhatian seperti ini. Tetapi telapak tangan lebar Yugyeom yang tiba-tiba menariknya membuat Taehyung terlonjak dari kegelisahan.

Seseorang telah menabrak bahunya dan mungkin Taehyung bisa saja jatuh terduduk jika Yugyeom tidak dengan sigap menahan tubuh kurus itu.

Yugyeom mendesis sekaligus mengernyit jengkel, anak lelaki yang baru saja menyerobot itu sama sekali tidak berbalik ataupun meminta maaf. Ia hanya terus berjalan dengan gaya pakaian yang berantakan, kemudian seorang pria dewasa nampak berlari kecil untuk menyusulnya.

"Ah, maaf atas perilakunya. Dia memang selalu bersikap seperti itu, saya harap anda memakluminya tuan." Ungkap pria berkaca mata itu kepada Yugyeom, ia membungkuk sopan untuk meminta maaf.

"Tidak apa-apa, tapi perilakunya yang seperti itu dapat merugikan orang lain. Saya harap anda segera menanganinya. Anda wali kelasnya bukan?" Balas Yugyeom dengan wajah datar.

Astaga, kenapa Taehyung merasa ia baru saja berada dalam drama si kaya dan si berandal ya? Ini terasa sedikit aneh.

Alam bawah sadarnya pun tersenyum geli kepada dirinya sendiri.

"Tentu tuan, saya adalah wali kelasnya. Sekali lagi, saya minta maaf atas kejadian barusan."

Yugyeom hanya menunduk sekilas untuk membalas permintaan pria tersebut, ia tetap berlaku sopan meski Taehyung sempat melihat pria itu merasa jengkel.

Kemudian mereka kembali berjalan menuju kantor kepala sekolah setelah guru pembimbing barusan kembali mengejar salah satu siswanya yang tadi menabrak Taehyung.

"Anak itu." Ungkap Yugyeom membuat Taehyung mesti mendongak menatapnya.

"Ya?"

"Jangan bergaul dengan anak-anak seperti itu. Tuan Jeon tidak akan menyukainya."

Tentu, jika itu yang kalian inginkan.

Lagipula anak tadi nampak sudah terbiasa bersikap kasar dan Taehyung sama sekali tidak suka hal seperti itu.

Meskipun perilaku seks Jungkook terkadang kinky, yang satu itu Taehyung memberikan pengecualian.

Taehyung harus meninggalkan Yugyeom setelah sang kepala sekolah menentukan ia akan berada dikelas mana. Dengan berat hati, Taehyung pun berjalan mengikuti seorang guru pembimbing yang ditunjuk untuk mengantarnya. Sembari menolehkan wajahnya kebelakang, ia pun menatap Yugyeom dengan wajah sedih yang telah didramatisir.

Namun Yugyeom hanya balas memandanginya dengan tatapan -ayolah, ini bersekolah Taehyung-, lalu menunduk sopan dan melambai singkat.

Huh, dasar paman Gyeom! Tidak ada romantis-romantisnya! Padahal kan Taehyung tidak pernah melakukan ini.

Sekolah, benar, dia sudah ada disini, Taehyung tidak mungkin kembali mundur. Ini adalah kesempatannya untuk mendapat teman baru dan sekaligus bersenang-senang.

.

.

.

"Kau sudah mengantarnya sampai didepan kelas?"

"Tidak tuan, Kim Taehyung pergi bersama seorang staf sekolah. Saya pikir itu salah satu prosedurnya."

"Kenapa kau tidak mengatarnya?!"

"Jika saya melakukan itu mungkin semua orang akan menyangka terlalu berlebihan, lagipula Taehyung bukan anak kecil lagi."

"Tapi tetap saja Yugyeom, bagaimana jika dia-"

"Peraturan sekolah tuan, orang tua ataupun wali hanya bisa mengantar sampai kantor kepala sekolah. Berbeda dengan acara yang melibatkan orang tua."

Jungkook terdiam, ia mengetuk-ketukkan ponsel tipis yang kini tengah menempeli telinganya. Percakapan dengan Yugyeom terkadang membuat ia harus memutar bola mata.

Well, meskipun setelah dipikir kembali hal itu ada benarnya dan masuk akal juga. Jungkook hanya tidak ingin Taehyung merasa asing disana.

Huh, astaga, dia kan tidak pernah mengurus anak kecil. Jadi Jungkook tidak tahu harus bertindak seperti apa, ia terbiasa menjadi seorang yang protektif, tapi bukankah Taehyung hanya sekolah?

Kerjanya disana cuma belajar dan menulis beberapa ringkasan, ya semacam itu mungkin. Tapi bagaimana jika ada seorang siswa yang menjahilinya? Atau bertingkah buruk hingga Taehyung pun mengikuti perilaku seperti itu.

Tunggu, kenapa Jungkook bertingkah seakan menjadi orang tua dadakan begini?

"Baiklah.." Kata Jungkook. "Jam berapa dia pulang?"

"Sore hari tuan, mungkin pukul lima tepat."

"Jika memang begitu kau pulanglah, biarkan aku yang menjemputnya nanti sore."

Sungguh. Selama sepuluh tahun ia bekerja untuk keluarga Jeon, Yugyeom tidak pernah merasa sejengkel ini.

Tentu dia akan pulang, untuk apa menunggu Taehyung selama lebih dari sembilan jam? Dia tidak gila, Yugyeom memiliki banyak pekerjaan lain untuk ia tekuni.

"Baiklah tuan, hubungi saya jika ada hal lain."

Jungkook tidak menjawab, ia hanya berdehem lalu mematikan sambungan telepon.

.

.

.

Taehyung terduduk pada meja paling tengah dengan deretan kursi ketiga dari arah pintu masuk kelas, membuatnya menjadi seperti dikelilingi oleh berbagai macam sorotan mata.

Beberapa gadis nampak meliriknya, saling berbisik dan cekikikan. Ada juga beberapa murid laki-laki yang menatapnya terang-terangan, menyeringai kepada Taehyung yang nampak mengernyit tidak nyaman. Ia memainkan kukunya diatas meja, sesekali menunduk dan menatap punggung seorang lelaki yang duduk didepannya.

Ia merasa canggung, sungguh, dan guru tadi hanya mengantarnya sampai didepan kelas. Berkata dengan ramah agar Taehyung mencari tempat duduk yang masih kosong dan ketika pintu kelas terbuka, semua murid terburu-buru untuk kembali duduk rapi ditempatnya.

Mereka menatap Taehyung, sama-sama kebingungan dan hal terakhir yang dapat guru itu sampaikan hanya, "Semangat ya Kim Taehyung-ssi, disana ada bangku yang kosong."

Taehyung menelan ludahnya gugup kala itu.

"Sapa teman baru kalian anak-anak, bergaulah dengan baik." Katanya sambil membawa Taehyung untuk memasuki kelas.

Bocah itu hanya membungkuk sopan dipertengahan jalan ketika semua orang terdengar menyapa, lalu mendudukkan pantatnya pada bangku yang sudah ditentukan.

Seharusnya Taehyung tidak perlu menunggu dengan suasana canggung seperti ini, ia terlalu memikirkan banyak hal, hingga seorang yang mencoleknya dari belakang membuat Taehyung terkesiap seketika.

"Pssh!"

Taehyung segera menoleh, lalu ia mendapati wajah riang yang tersenyum kearahnya dengan begitu tampan.

"Eh? Ada.. Apa?" Tanya Taehyung ragu-ragu.

Pria bername tag Yook Sungjae itu pun kembali menebar senyumannya.

"Namaku Sungjae dan kulihat kau sangat manis." Taehyung tidak menjawab, ia hanya mengangkat alisnya dengan ekspresi yang lucu. "Ingin bergabung di club teater bersamaku?"

"Aku, tidak tahu mengenai hal seperti itu." Katanya jujur.

"Kau kan bisa belajar." Sungjae berbisik sembari menaikan alisnya. Sedangkan seorang lelaki lain yang duduk disampingnya nampak mendesis lalu menutup buku yang barusan sedang ia baca.

"Berhenti mengganggunya Sungjae, dia bahkan baru lima menit duduk disana."

"Diamlah Oh Sehun, ini kan untuk club kita juga."

Mendengar selaan keras kepala dari Sungjae, Sehun pun hanya dapat mendengus rendah.

"Sesukamu saja."

Namun belum Sungjae melanjutkan kegiatannya untuk membujuk Taehyung masuk club teater, pintu kelas pun terbuka dengan kasar. Menampakan sesosok pria berpenampilan berantakan namun tampan.

Tiada yang tak menoleh saat Kim Minjae memasuki kelas, dan tambahan untuk Taehyung, ia kini malah melotot kaget.

Pasalnya pria itu berjalan menuju Taehyung, meskipun maniknya menyorot acuh. Ia melewati beberapa bangku, lalu seperti gerakan slow motion..

Mendudukan diri, disamping Taehyung yang bahkan tidak menyadari jika bangku disampingnya ternyata kosong.

Demi Tuhan, Yugyeom melarangnya untuk bertemu dengan anak-anak berandal seperti dia, namun kini Taehyung malah duduk sebangku dengannya.

Ia meremas tangannya sendiri, kemudian Taehyung menelan ludah ketika seseorang disampingnya mendengus remeh.

"Huh, sial sekali karena harus sebangku dengan si anak manja tadi."

Ia menegang, perasaan ini sungguh tidak nyaman. Sial.

Taehyung berani bertaruh, setiap orang yang mendengar kalimat barusan menolehkan kepala dan menatap kearahnya.

Kembali menjadikan ia sebagai pusat perhatian.

.

.

.

TBC :"

Maaf kelamaan :" saya cuma mau ngomong itu aja..

Sisanya, makasih sudah kasih feedback di bab sebelumnya. Saya membaca semua itu dengan mata berbinar, sungguh, dan hal tersebut menjadi pendorong untuk terus berlanjutnya jempol saya menulis cerita ini.

Rnr jsy~

Saya selalu membaca feedback kakak-kakak semua dan maaf tidak bisa balas satu-satu :"

Sebuah pendapat singkat sangat berarti, apalagi kalau panjang:"

See you next bab bae~