CLAIMED

By

Ellden-K

Prev : "Huh, sial sekali karena harus sebangku dengan si anak manja ini."

Ia menegang, perasaan nya sungguh tidak nyaman. Sial.

Taehyung berani bertaruh, setiap orang yang mendengar kalimat barusan menolehkan kepala dan menatap kearahnya.

Kembali menjadikan ia sebagai pusat perhatian.

Bab 16 – Daddy Jeon?

Dari keheningan waktu belajar yang sudah berlangsung hampir tiga jam, suara bell pun membawa perasaan lega. Membuat para siswa didalam kelas bersorak dan tiba-tiba suara gaduh pun melambung tinggi hingga ke langit-langit.

Guru Shin membenarkan kacamatanya lalu diantara para murid yang tengah sibuk merapikan meja mereka ia pun mengingatkan.

"Jangan lupa untuk langsung mengerjakan pr nya setelah kalian pulang kerumah."

"Baik, Pak!"

Beberapa orang siswa mengikuti jejak guru Shin yang berjalan untuk keluar kelas, mencari makanan atau hanya sekedar berkumpul dengan teman dari kelas lain.

Sedangkan Taehyung ia masih terdiam sembari menjelajahi isi ranselnya. Mencoba mengabaikan lelaki yang tengah duduk bersampingan dengannya. Siapa lagi jika bukan Kim Minjae?

Kembali Taehyung merasakan tepukan dibahunya dari arah belakang.

"Mau ikut ke kantin bersama kami?" Itu Sungjae, ia merangkul Sehun yang tengah memangku tangannya bosan. Memutar bola mata ketika Sungjae selalu bertindak seenaknya.

"Apakah boleh?" Tanya Taehyung ragu-ragu.

"Tentu saja! Ayo, aku akan menunjukkan makanan paling enak dikantin." Sungjae bangkit, hendak menarik sikut Taehyung untuk ikut bersamanya.

"Tunggu dulu, aku belum mengambil dompetku." Ucap Taehyung sambil membuka ritsleting ransel yang paling depan, pasalnya Yugyeom sudah berpesan jika dompet milik Taehyung sudah ia masukan kedalam tas.

Semua yang ia butuhkan sudah dipersiapkan dengan sangat baik dan Taehyung berterima kasih untuk itu.

Uang jajan, tentu saja. Jungkook tidak akan lupa yang satu ini, mana mungkin ia tidak memberi perbekalan kepada 'bayi'nya.

Taehyung tersenyum ketika mengingat wajah menuntut Jungkook jika ia tidak mau mengikuti perintahnya.

.

.

.

Mereka sudah sampai dikantin, dengan Sehun membuntut dibelakang dan berkata hendak mencari tempat duduk duluan. Sungjae hanya mengangguk lalu memesankan makanan yang Sehun titipkan.

"Nah, kau ingin beli apa?" Sungjae sudah bertolak pinggang ketika Taehyung masih nampak berpikir untuk memilih makanannya.

"Aku ingin waffle dan ice cream." Gumam Taehyung sembari mengetuk-ketuk dagunya.

"Huh? Kau harus memakan makanan yang membuatmu kenyang Taehyung. Kita hanya beristirahat satu kali kau tahu?"

"Uh, aku bingung.. Kau pesankanlah untukku." Katanya mengerutkan kening kearah Sungjae, membuat pria itu mengernyit sambil tersenyum. Sungguh, baru kali ini ia merasa gemas kepada laki-laki. Aneh sekali.

"Baiklah, apa kau pemakan segalanya?"

"Tentu saja, aku omnivora.."

Sungjae segera tergelak karena jawaban Taehyung.

"Astaga kau sangat lucu, sepertinya akan banyak orang yang menyukaimu." Taehyung mengigit bibirnya sambil tersenyum anak anjing dengan kedua alis terangkat. Sungjae hampir tersedak tawanya sendiri melihat itu. Ia segera berdehem. "Oke, bagaimana jika sandwitch tuna? Kami memakan itu hari ini."

Mungkin yang dimaksud Sungjae adalah Sehun, karena pesanan dua sahabat tersebut nyatanya baru saja siap santap. Sungjae segera mengeluarkan dompetnya untuk membayar.

"Baiklah, belikan satu untukku.." Kata Taehyung kemudian ikut mengambil dompetnya sendiri.

Ketika ia membuka itu, beberapa orang yang mengantri disampingnya melongo tiba-tiba.

Sama sekali tak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Sungjae dan Taehyung pun hanya terkekeh gugup dengan wajah hampir pucat.

Sialan Jeon Jungkook. Dia kan hanya pelajar, Taehyung tidak mungkin akan bepergian ke mall dan menghabiskan uang didompetnya.

Sebuah unlimited card dan uang tunai yang hampir memenuhi tempat didalam dompet juga selembar cek bernilai satu juta won terselip pada bagian lain.

Apa-apaan?!

Taehyung segera mengambil satu lembar uang dan memberikannya pada Sungjae.

"Pesankan aku ya.." Katanya lalu pergi mencari keberadaan Sehun yang kelihatan sudah mendapat tempat duduk dipojok kantin.

Samar-samar Sungjae dapat mendengar decakan dari beberapa anak perempuan dan murid lelaki yang tiba-tiba membicarakan Taehyung. Beberapa mendengus dengki dan tak sedikit yang berbisik-bisik membicarakan betapa kayanya kah seorang Kim Taehyung itu.

.

.

.

Taehyung menghampiri Sehun dan langsung mendudukkan diri dengan canggung sembari mengetuk-ketuk permukaan meja menggunakan jari tangan.

Sial, ia masih memikirkan Jungkook yang mungkin kini sedang memangku tangan dengan dagu terangkat. Menaikan sebelah alis lalu menjilat bagian dalam pipinya sambil berkata, 'jangan membantah, lagipula aku hanya memberikan uang jajan selama satu bulan sekali.'.

Ia mengerang kesal dalam hati, ingin sekali memukuli dada keras dan berotot milik Jungkook hingga menjadi lembek. Namun hal yang dapat terjadi selanjutnya tidak akan memungkinkan ia untuk melakukan itu. Taehyung mungkin akan berakhir dengan bertelanjang -lagi- dan mendesah-desah dibawah tubuh Jungkook.

Oh, sekarang ia malah merona. Apa-apaan si Jeon -kinky- Jungkook itu.

"Apa yang salah?"

Pertanyaan dengan nada tak acuh itu membuat Taehyung tersentak dari lamunannya.

Hey, dia hampir melupakan Sehun yang sejak tadi sudah teronggok disana seperti kotak telepon yang terlupakan. Berdebu dan usang.

Taehyung menggaruk kepalanya salah tingkah.

"Itu.. Bukan apa-apa.." Ia ingin tersenyum, namun wajah sejuk Sehun sama sekali tak menampakan sunggingan jenaka. Berbeda dengan Sungjae, pria itu mungkin sudah-

"Aish! Kenapa kau malah pergi begitu saja Taehyung? Aku kan jadi kesulitan membawa ini semua."

-menyeringai seperti sekarang. Bedanya kali ini ia nampak berpura-pura kesusahan.

"Maafkan aku Sungjae..."

"Jangan berlebihan. Terakhir kau pernah membawa lebih dari empat sandwitch tuna ditanganmu."

Sungjae hanya menyengir tampan untuk reaksi dari ucapan Sehun. Kemudian membagikan makan siang yang sudah ia pesan.

.

.

.

Jam pulang sekolah baru saja terlewat selama beberapa menit dan kini Taehyung sedang bersiap untuk pergi pulang.

Sehun dan Sungjae sudah terlebih dahulu pergi dan berpamitan dengan Taehyung, sempat ingin mengajak pulang bersama namun sayang pemuda cantik kita tentu sudah ada yang menunggu.

Yugyeom tidak mungkin menelantarkannya disini bukan?

Hanya tertinggal beberapa siswa didalam kelas, sisanya bahkan berdandan tanpa malu-malu. Sedangkan teman sebangku Taehyung, ia sudah pergi entah kemana.

Ketika Taehyung hendak bangkit dari kursinya, seseorang menghalangi jalan dengan teramat tidak sopan.

"Kau, Kim Taehyung, 'kan?" Ia melihatnya, seorang gadis dengan wajah terpoles makeup tipis dan pewarna bibir yang membuatnya nampak lebih terang. Kemudian beberapa lainnya ikut menghalangi jalan Taehyung, sama-sama menggunakan riasan wajah dan kancing bagian atas seragam terbuka.

Itu membuat Taehyung meneguk ludahnya ketakutan. Sungguh.

Ada seorang pemuda juga, kelihatan sama cantik seperti teman-teman wanitanya. Bertolak pinggang dengan tatapan menyebalkan.

"Sepertinya kau punya uang banyak." Kata salah seorang yang mencegat Taehyung. "Ingin menghabiskannya bersama kami di club?"

Taehyung mengernyit.

"Tapi, kita kan belum cukup umur."

Huh, seharusnya Taehyung berkata 'kau hanya tidak tahu saja kehidupan gemerlap club malam itu sekeras apa.'

Tentu ia lebih tahu seperti apa club malam itu, tidak seperti mereka yang hanya menghabiskan uang orang tua untuk kesenangan.

Hampir semuanya tergelak ketika Taehyung menuntaskan kalimatnya, lalu seorang pemuda diantara mereka menimpali.

"Kita kan bisa berbelanja, Taehyung. Asal kau jangan masuk kesana dengan menggunakan seragam sekolah saja."

Taehyung terdiam.

Sebenarnya mereka ingin mengajaknya berteman atau apa sih? Ekspresi dari setiap mimik wajah itu sama sekali tidak meyakinkan. Benar-benar tidak bersahabat.

"Aku tidak bisa ikut. Maaf, aku harus pulang.." Saat Taehyung berniat untuk pergi dengan menerobos celah diantara anak-anak nakal itu, salah satu dari mereka menarik kerah Taehyung dengan kasar.

"Kalau begitu, berikan kami uangmu."

.

.

.

Jungkook sengaja pergi beberapa jam sebelum waktu pulang tiba, pekerjaan di kantor bisa ia urus dirumah nanti. Untuk sekarang, ia harus menjemput Taehyung.

Tepat sebelum Jungkook menyalakan mobil, tiba-tiba suara panggilan telepon membuat ia mendecak sebal lalu menekan tombol pada stir mobilnya yang sudah terhubung lewat ponsel.

"Jeon."

"Oh, Jungkook? Kenapa kau pulang cepat? Apa kau sibuk?" Itu adalah suara Hoseok dan ia benar selalu hadir disaat yang tidak tepat. Pertama saat pagi hari ketika ia dan Taehyung baru saja bercinta semalaman, hampir saja ia kecolongan karena Taehyung yang mendadak memanggilnya 'Daddy'. Kini, ia melakukannya lagi ketika Jungkook sedang ingin bersenang-senang dihari pertama Taehyung sekolah. Bagus.

"Ya. Sangat."

"Kalau begitu bersiaplah untuk semakin sangat-sangat sibuk, aku ada berita besar dan kita harus membicarakan hal sialan ini secepatnya."

Jungkook mengernyit.

"Apa itu?"

"Tentang Bae Irene, bung."

Kali ini ia menelan ludahnya, mencengkram erat pegangan stir dan berusaha mengontrol kakinya agar tidak menginjak pedal gas terlalu dalam karena didepannya adalah jalur lalu lintas yang padat.

"Dia berbuat ulah lagi?" Jungkook tahu ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan hal sialan itu, dan kita bisa menjadikan Hoseok sebagai saksi hidup. Orang itu menyaksikan apa saja yang telah Bae Irene lakukan untuk kembali mendapatkan Jungkook beberapa tahun lalu. Sungguh wanita gila, sayang sekali ia memiliki posisi yang kuat di keluarga Jeon. Meskipun hanya sebagai anak tiri.

"Yup, dan ini lebih buruk. Kau harus mengeluarkan ekstra tenaga untuk kembali mendorongnya, dan mungkin..."

Hoseok sengaja menggantung kalimatnya dan hal tersebut tentu tidak berpengaruh baik untuk lawan bicaranya.

"Mungkin apa?" Bentak Jungkook.

"Kau harus melindungi Taehyung darinya."

Tentu saja. Ia mengerang dalam hati, kemudian menutup matanya sekilas dengan nafas yang mulai tak teratur. Jungkook menggelengkan kepalanya dengan lidah menjilat bibir.

Mengapa Hoseok mengatakan jika Jungkook mesti melindungi Taehyung? Bagaikan pria itu sudah tahu apa yang selama ini ia lakukan dengan pemuda cantiknya itu. Sial, terlalu banyak yang harus dipikirkan.

"Dia tak akan kenapa-kenapa, Hyung."

Hoseok terkekeh, ia tahu Jungkook serius. Sampai pria itu memanggilnya dengan sebutan Hyung. Jungkook pasti sedang serius, suatu kebiasaan lamanya. Hoseok berdehem maklum.

"Baiklah, aku hanya ingin membicarakan itu."

"Yup."

Untuk beberapa detik keduanya terdiam.

"Apa kau oke?" Hoseok bertanya ragu-ragu.

"Tentu saja tidak." Erang Jungkook kemudian. "Aku harus menjemput Taehyung dan berita sialan ini mengacaukan kepalaku."

"Nah, makanya kita baru akan membicarakan itu nanti malam." Katanya. "Tapi Jungkook..." Hoseok kembali menggantungkan kalimatnya.

Sedangkan Jungkook kini sudah meringis tanpa suara. Sambil meremat rambutnya ia membiarkan dua belah bibir merah itu terbuka sekaligus merapalkan serapah.

"Kenapa kau yang menjemput Taehyung? Kukira Yugyeom yang lakukan. Bukankah anak kecil cantik itu adalah keponakannya?"

Kemudian sambungan pun terputus dengan Jungkook yang mengeratkan rahangnya putus asa.

Double-sialan.

.

.

.

Taehyung tidak pernah dikeroyok sebelumnya, melawan beberapa orang sekaligus, membayangkannya saja tidak. Meskipun kehidupan club malam sebetulnya jauh lebih keras, namun Namjoon tentu tak pernah membiarkan hal seperti demikian terjadi kepada Taehyung.

Ia selalu melindunginya, melerai setiap pertikaian yang terjadi didekat Taehyung atau menghadapi seorang pemabuk dan menendang pantat orang itu keluar sebelum terjadi keributan.

Tapi, tidak ada Namjoon disini, hanya Taehyung sendirian, lalu seseorang menariknya dari tangan-tangan kasar yang kini tengah mengobrak-abrik ransel dan pakaian Taehyung.

Ia tidak bisa melawan awalnya, dua orang memegang tangan Taehyung dan yang lain berusaha menguras habis isi dompetnya. Ia ingin menangis, namun terasa tidak pantas ketika kau harus menangis gara-gara dikeroyok sekumpulan anak gadis yang berusaha mengambil uangmu.

Taehyung merasa marah dan tidak suka, beberapa kali ia menyalak tapi anak perempuan sialan itu malah menarik rambutnya kuat-kuat. Membuat Taehyung hanya mampu menggeram penuh angkara.

Kendati demikian, saat Taehyung benar-benar tidak bisa menangani emosinya dan hampir menangis, sebuah tangan kasar nan kuat menyentak para gadis yang memeganginya. Kemudian menarik Taehyung secepat kilat untuk berdiri dibelakangnya.

Taehyung tidak bisa melihat siapa itu, ia hanya berusaha menyembunyikan wajah berantakannya yang penuh air mata dipunggung lebar orang tersebut. Meremat seragam sekolah yang sama dengannya, menahan segukan yang bersiap keluar dan tersendat ditenggorokan.

"Woah! Lihat, tingkahnya seperti perempuan." Ucap seorang pemuda yang melirik Taehyung sambil memangku tangan, menunjukan senyum congkak yang membuat pria lain didepannya mendengus muak.

"Seharusnya kau berkaca dulu sebelum berkata seperti itu. Luhan." Balas pemuda yang mengorbankan punggungnya untuk air mata Taehyung.

Pemuda yang dipanggil dengan sebutan Luhan pun segera melotot lalu melepaskan pangkuan tangannya.

"Kenapa? Kau sama sekali tak ada bedanya dengan mereka." Ia menunjuk para teman sekelasnya itu dengan dagu.

"Tunggu dulu, Kim Minjae. Mengapa kau jadi sok pahlawan begini? Lagipula ini bukan urusanmu, 'kan?" Sahut seorang gadis berambut pendek bernama Lisa, ia memainkan dompet Taehyung ditangannya sembari menaikan alis.

Minjae menggulirkan bola matanya, meremehkan Lisa terang-terangan. Sama sekali tak menyadari perubahan gestur tubuh Taehyung yang menegang dibelakangnya.

Dia... Kim Minjae? Teman sebangkunya?

Taehyung bermonolog dalam hati setelah menghentikan tangisannya.

"Bukankah dompet itu bukan urusanmu juga Lisa? Kupikir kau harus mengembalikannya sekarang juga."

Lisa mendengus sambil tertawa, lalu ia memiringkan kepalanya.

"Kami 'kan hanya meminjamnya, kulihat dia punya banyak uang. Kenapa tidak membaginya sedikit dengan kami?"

Minjae segera menyelak. "Kau mungkin lupa jika meminjam harus dengan izin. Apakah Taehyung sudah memberikan itu untukmu?"

Semuanya terdiam sesaat, dengan Lisa yang kini melotot beserta ekspresi marah sama sekali tak membuat wajah cantik itu semakin menarik.

"Bagaimana jika aku memberi kalian sedikit pelajaran apabila Taehyung tidak mengatakan 'Iya'?" Tawarnya yang membuat orang-orang itu memucat.

Hey, siapapun pasti tahu, siapa itu Kim Minjae. Dia berandalan, namun sayangnya tiada yang mampu mengeluarkan ia dari sekolah meskipun masalah selalu mengikuti dibelakang punggungnya.

Mungkin akan sulit dipercaya ketika kita mengetahui fakta bahwa Kim Minjae adalah cucu dari pemilik sekolah ini, karena itulah alasan mengapa ia selalu memiliki keberuntungannya sendiri.

"Nah, Taehyung.." Katanya sedikit mengangkat bahu untuk mengintuksi Taehyung agar mengangkat wajahnya. "Apakah kau memberi izin untuk mereka?"

Tiada yang tak merasakan kesemutan dikaki mereka ketika Minjae tersenyum begitu menyeramkan kearah sekelompok murid nakal itu, sekalipun Lisa maupun Luhan. Semuanya diam dan nampak tak mampu berbuat apa-apa.

Dia Kim Minjae, sial, jangan macam-macam.

Taehyung menarik udara ke hidungnya yang berair, kemudian tanpa menatap berpasang mata nyalang yang hampir membolongi kepalanya ia pun menggeleng.

Kemudian, Kim Minjae menampakan seringai paling mengerikan yang ia punya.

.

.

.

Jungkook melirik jam tangan mahal miliknya, ini sudah sepuluh menit semenjak ia sampai didepan gerbang sekolah. Namun pria tampan kita masih belum menemukan eksistensi pemuda cantik kesayangannya.

Taehyung tidak mungkin tak dapat menemukan Jungkook meskipun diantara ratusan murid yang berhamburan keluar kelas.

Jungkook sangat mencolok, dengan setelan jas mahalnya juga sebuah range rover hitam mengkilap yang nampak mewah dan mahal, tidak mungkin Taehyung melewatkannya, tentu saja. Bahkan beberapa anak gadis merasakan histeria mendadak menyerang tenggorokan mereka ketika melihat eksistensi Jungkook yang tidak mungkin terabaikan.

Dia kelihatan tampan, kaya, elegan dan sekaligus berbahaya. Tampak seperti hot daddy yang hendak menjemput buah hatinya, namun wajah Jungkook tidak menunjukkan adanya kemungkinan jika ia sudah memiliki anak berumur belasan tahun. Tapi, orang-orang tentu penasaran, untuk apa lelaki serupawan dan sepenting dia berada dikawasan sekolah seperti ini.

Kecuali kalau dia...

Hm, sungguh mencurigakan.

"Lihat oppa itu, apa yang dia lakukan disini?! Astaga ganteng sekali."

Jungkook tidak bisa untuk menahan jemarinya menggaruk kening porselen itu, ia tidak pernah digilai oleh gadis belia dengan terang-terangan seperti demikian. Meski yang pertama ia temukan saat bertemu tatap dengan beberapa anak sekolah itu adalah tatapan memuja.

Ia tak tahan untuk mengulum senyum kecilnya.

Bagaimana jika diantara mereka ada yang naksir dengan Taehyung? Atau bahkan para anak laki-laki yang menatapnya sama memuja. Ya, meskipun beberapa nampak acuh atau malah memberinya kilatan permusuhan.

Dasar anak kecil.

Tapi omong-omong, Taehyung kan anak kecil juga.

Hm.

Hari ini cerah, hanya nampak sedikit berawan. Namun Jungkook kelihatan suram dengan aura hitam yang mengelilinginya ketika bola mata obsidian itu menemukan sosok Taehyung yang terlalu dekat dengan seseorang.

Anak lelaki tinggi nampak merangkul Taehyung disekeliling bahu sempitnya, sedangkan si cantik hanya mampu menunduk.

Jungkook hampir tak dapat melihat wajah Taehyung, namun setelah beberapa saat tubuhnya terbakar dalam kobaran api cemburu, kemudian seseorang seperti mengguyurnya dengan air es saat ia melihat wajah sembab Taehyung.

Tunggu dulu, ada yang tidak beres.

Berpasang mata menatap keduanya dan itu tidak berpengaruh baik untuk ego Jungkook.

Ia segera berlari kecil untuk menghampiri mereka, kemudian Taehyung mendongak ketika Minjae menghentikan langkah.

Menatap langsung pada obsidian Jungkook yang kelihatan lebih gelap dari biasanya.

"Cukup sampai sini saja kiddo, terima kasih sudah mengantarnya. Tapi tak perlu merangkul."

Ia menarik Taehyung dengan tangan besarnya, sedangkan Minjae mengernyit dan memberi tatapan tak terbaca.

"Nah, kukira aku melewatkan sesuatu. Apa yang baru saja terjadi, sayang?"

Taehyung merona ditengah kegiatannya mengusak dilengan Jungkook, sama sekali tak mengindahkan bermacam tatapan yang lewat dan menghujani mereka.

"Ini... Bukan apa-apa.."

Jungkook tahu jika Taehyung sedang berbohong, ia mengernyitkan alisnya dengan wajah tak puas, sekonyong-konyong Minjae lah yang memberinya jawaban.

"Beberapa orang meminta uangnya."

Hal itu cukup untuk membuat suara Jungkook menggeram didasar tenggorokan, kemudian ia menatap Taehyung meminta konfirmasi.

Tapi anak itu malah menenggelamkan wajahnya dibalik lengan Jungkook.

Informasi barusan membuat Jungkook mengernyitkan alisnya, kemudian menyentak lengan Taehyung untuk ikut berjalan menuju mobil. Meninggalkan Minjae yang hendak memanggil Taehyung dengan tangan terangkat, namun segera mengurungkan niat ketika Jungkook menoleh dan menatapnya dengan kilat permusuhan. Otoriter dan berbahaya.

Sial. Siapa sih orang itu.

Bisik Minjae pada dirinya sendiri.

.

.

.

"Bisakah aku mempercayai kalimat anak itu?"

Setelah kebisuan yang cukup lama, akhirnya dengan sedikit geraman ditenggorokannya Jungkook pun bertanya kepada Taehyung. Tetap memfokuskan kedua matanya kedepan, sama sekali tak berniat melirik anak kecil cantik yang menegang disampingnya.

"Ya?"

"Bocah yang merangkulmu tadi.." Gertaknya dengan nada dalam. "Apa benar seseorang telah menganggumu?"

Taehyung menelan ludahnya.

"Berikan aku nama, lalu mereka akan segera mendapat pelajaran."

"Tidak, ini benar bukan hal yang serius." Sela nya cepat. "Aku hanya terantuk meja dan sepertinya Minjae salah paham."

"Jadi anak itu bernama Minjae?" Jungkook mengernyit, masih tak memberikan atensinya terhadap Taehyung. "Jauhi dia."

"Apa?"

"Kubilang jauhi dia.." Kini Taehyung berhasil menarik perhatian Jungkook, lelaki itu menoleh sesaat untuk menatapnya. "Sepertinya dia selalu membuat masalah."

"Aku bahkan baru mengenalnya hari ini." Jawab Taehyung. "Aku tak kenal dia dengan baik, dekat saja tidak."

"Ya, kalian sangat dekat." Desis Jungkook diantara gigi-giginya. "Maka dari itu cukup hari ini saja."

Taehyung hanya mampu membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara, menatap Jungkook yang berperilaku aneh semenjak ia berangkat sekolah tadi pagi.

Ia tidak menjawab, beralih memandang jalanan diluar jendela yang mulai mengembun akibat rintik-rintik hujan.

Taehyung tidak ingin Jungkook merasa khawatir dengan sekolahnya, karena pria itu cukup banyak menanggung beban pikiran dalam kepala tampannya. Ia hanya berniat baik, berusaha agar Jungkook tidak berperilaku berlebihan lagi seperti saat ini.

Lagipula mereka sudah diberi pelajaran, oleh Minjae.

Taehyung tersenyum diam-diam, menaruh punggung tangannya didepan mulut dan terlarut dalam ingatan tentang betapa pucat wajah-wajah bengal itu.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Eh?"

"Kau tersenyum Kim Taehyung." Jungkook mendelik, benar-benar beraura hitam pekat dan senyuman itu mendadak hilang dari bibir Taehyung. "Aku penasaran dengan isi kepala cantikmu itu."

Taehyung memainkan jarinya.

"Itu... Bukan apa-apa.."

"Bohong."

"Apa?"

"Aku tahu kau berbohong Taehyung." Ia tak menjawab. "Aku tahu seseorang memang meminta uangmu, lalu kau tersenyum karena si Minjae itu menolongmu."

"Tidak, sudah kubilang itu bukan apa-apa, jangan berpikir terlalu berlebihan." Sela Taehyung dengan nada pelan.

"Itu bukan berlebihan Kim Taehyung, aku beropini, dan itu adalah karena kau yang selalu berkata bukan apa-apa." Nada pada suara Jungkook mulai meninggi. Sebenarnya kenapa dengan pria ini? Pikir Taehyung. "Jadi katakan saja yang sebenarnya, jangan pernah berusaha untuk menutupi itu!"

Taehyung mulai menghembuskan nafasnya seperti mencelos.

"Pikiranku adalah milikku sendiri, kenapa kau ingin menguasainya juga?"

Mendadak Jungkook pun membantingkan stir nya untuk memasuki sebuah jalanan kecil disebuah pertokoan yang sudah tak dihuni. Kemudian menghentikan mobil dengan kasar hingga beberapa kali Taehyung tersentak ditempatnya.

Beruntung sabuk pengaman menahannya dari terantuk daskboard mobil, sedangkan ransel mahal yang ia taruh dikursi belakang kini sudah teronggok diatas karpet mobil.

"Kau ingin tahu jawabannya?" Mesin sudah mati dan kini Jungkook telah melepaskan sabuk pengamannya dengan kasar lalu berbalik menyamping untuk menghadap Taehyung, tangan kanannya bertumpu pada headrest dan yang lain berada diatas stir. Ia hanya mengenakan kemeja putih hampir transparan dengan dua kancing paling atas terbuka.

Membuat Taehyung meneguk ludahnya karena tak mampu menjawab.

"Karena kau milikku Kim Taehyung. Kau kepunyaanku. Sendirian. Aku adalah pemilik tunggalmu. Kau tidak bisa membantah itu dan tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkanmu dariku."

Jantungnya berdebar kencang, begitu cepat hingga terasa membentur dada. Taehyung menggigit bibirnya dengan ekspresi hampir menangis.

Tidak mengertikah pria ini? Jika Taehyung hanya tak ingin ia berpikir macam-macam, namun Taehyung tidak bisa terlalu banyak berbohong kepadanya.

Jungkook akan tahu.

Taehyung menginginkan hari pertama sekolah yang berjalan dengan baik dan Jungkook ternyata tidak sedang dalam mood yang oke. Pria itu memiliki kemelut dikepalanya, itulah kenapa ia malah memancing Taehyung seperti ini.

Taehyung memang belum dewasa, maka demikian ia tak mampu menahan emosinya.

"Kau selalu bilang aku adalah milikmu. Jika aku adalah kepunyaanmu maka milik siapa kah dirimu itu?!"

Semua terjadi begitu cepat.

Setelah Taehyung berkata demikian, Jungkook pun menggertakan giginya dan secepat kilat melepas sabuk pengaman Taehyung dengan sekali sentak, lalu menarik bocah itu diantara dua ketiaknya hingga ia terduduk diatas paha berotot milik Jungkook.

Taehyung merasakan pening untuk sesaat kemudian remasan dirambutnya membuat ia harus mendongak keatas sembari mengerang.

"Terlalu banyak untukku sayang." Bisik Jungkook ditelinganya. "Yang perlu kau tahu adalah kau hanya milikku. Untukku."

Jungkook mulai membuka kancing seragam Taehyung dengan sebelah tangannya, sedangkan kedua tangan Taehyung meremas bahu Jungkook kuat-kuat.

"Kau harus menjaga dirimu tetap ditempat yang seharusnya demi egoku." Katanya lalu Jungkook mulai menjentikan lidah diatas puting cokelat kemerahan milik Taehyung.

Ia hanya mendengar erangan setelah itu dan juga deru nafas bersahutan yang mulai memanaskan tubuh keduanya.

"Aku egois sayang, aku tak akan membohongi diriku sendiri untuk tidak mengakuinya." Cengraman pada rambutnya semakin menguat, hingga Taehyung harus mendesah-erang karena hisapan kuat dari Jungkook diputingnya.

Taehyung balas menarik sejumput rambut Jungkook yang sebelumnya sudah tertata rapi, menancapkan kuku tumpulnya dipermukaan kulit kepala tampan itu sebagai reaksi dari perlakuan sang dominan.

Perpaduan antara gairah dan amarah ternyata sangat panas dan menggebu-gebu. Taehyung bahkan merasa keringatnya mulai bercucuran ketika Jungkook melahap dada sekaligus lehernya habis-habisan.

Sedangkan Taehyung, ia hanya mampu berjengit dan mendesahkan geraman ketika Jungkook mengigit-hisap permukaan dadanya yang mulus. Menyisakan rona lebam keunguan yang tak mungkin hilang dalam waktu dekat.

"Jungkook!"

"Ya, baby.." Ia menyeringai dengan bibir dan dagu berkilauan oleh liur. Terlihat mengkilap namun tak begitu basah. "Mulai sekarang, biasakan untuk hanya memanggil namaku."

"Hmhh! Jungkook!"

Taehyung hampir menangis dalam gelombang keinginan. Setengah merengek ketika Jungkook malah memindahkan kedua tangannya untuk meremas pantat Taehyung.

Sama sekali tidak memperbaiki keadaan. Ia malah menginginkan lebih, dengan sesuatu mengisi rektumnya yang berkedut.

Kemudian Taehyung memindahkan tangannya pada kerah Jungkook, menariknya dan berharap pria itu akan mengerti.

Namun Jungkook malah menghisap putingnya yang lain kuat-kuat, memutar-mutar ujung lidah yang menajam itu lalu kembali meraup dada Taehyung kedalam mulut.

Pemuda diatasnya menjerit dalam erangan tersiksa, semakin meremat kerah Jungkook dan menggesekkan ereksi mereka tanpa tanggung.

"Sialnya..." Kata Jungkook sembari terengah diantara perpotongan leher Taehyung. Ia tidak mungkin berbohong, sensasi ketika menyentuh Taehyung membuat ereksinya mengeras dan terasa sakit. Sangat nyeri dan itu karena Taehyung. "Aku tidak membawa pengaman bersamaku."

Bocah lelaki cantik itu menatap Jungkook dengan wajah memerah penuh birahi, sama terengah dengan kedua tangan bertumpu pada leher sang daddy.

"Jadi, apa yang harus aku lakukan sayang?" Jungkook balas menatapnya. "Kita tidak bisa melakukan kesalahan disini."

Taehyung menggigit bibirnya kemudian berbisik.

"Apapun Jungkook.." Ia terengah, setengah mendesah sambil menurunkan sebelah tangannya dengan gerakan mengelus dada hingga perut bawah Jungkook. "Lakukan apapun.. Daddy Jeon."

Terakhir, Taehyung meremas ereksi Jungkook yang sudah amat keras itu dibawah tangannya. Sama sekali tak jauh berbeda dengan miliknya sendiri.

Jungkook balas menggeram, kemudian dengan gigi bergemeletup ia menyerapah.

"Sialan tangan mungil penuh muslihat itu."

Kemudian, Jungkook pun menyambar bibir Taehyung dalam sekali tarikan nafas. Melumatnya seakan penuh damba, mempererat pelukannya dan menampar - remas pantat Taehyung yang masih terhalang celana sekolah.

.

.

.

TBC

Nah, NC nya dibikinin tidak ya e,e

Ada yang nungguin fanfic ini? /ga

Maklumin JK ya, dia lgi banyak pikiran jadi TH pun kena amuk :'v tapi ujung-ujungnya make out juga hm...

Buat yang penasaran siapa orang yang merokok di bab sebelumnya, nama dia sudah pernah di mention kok entah di bab berapa :'v

Untuk masalah Bae Irene, ya nanti pasti bakal lebih seru /mehehe

Sekaligus kita akan tahu gimana perasaan JK ke Tae itu seperti apa hm hm..

Ditunggu saja^^

And always, jangan lupa feedback nya..

Demi apa, ell selalu baca review kalian buat bikin mood nulis kembali lagi dan beberapa bahkan ada yang membuat ell terinspirasi.. Terima kasih ya^^ meskipun tidak bisa membalas satu persatu, tapi aku cinta kalian~

See ya ma bae~

Ketemu di bab selanjutnya^^

Terakhirr /nongol lgXD

Jika punya akun wattpad boleh follow ell disana juga, uname nya sama kok^^