CLAIMED

By

Ellden-K

Prev : "Sialnya..." Kata Jungkook sembari terengah diantara perpotongan leher Taehyung. Ia tidak mungkin berbohong, sensasi ketika menyentuh Taehyung membuat ereksinya mengeras dan terasa sakit. Sangat nyeri dan itu karena Taehyung. "Aku tidak membawa pengaman bersamaku."

Bocah lelaki cantik itu menatap Jungkook dengan wajah memerah penuh birahi, sama terengah dengan kedua tangan bertumpu pada leher sang daddy.

"Jadi, apa yang harus aku lakukan sayang?" Jungkook balas menatapnya. "Kita tidak bisa melakukan kesalahan disini."

Taehyung menggigit bibirnya kemudian berbisik.

"Apapun Jungkook.." Ia terengah, setengah mendesah sambil menurunkan sebelah tangannya dengan gerakan mengelus dada hingga perut bawah Jungkook. "Lakukan apapun.. Daddy Jeon."

Terakhir, Taehyung meremas ereksi Jungkook yang sudah amat keras itu dibawah tangannya. Sama sekali tak jauh berbeda dengan miliknya sendiri.

Jungkook balas menggeram, kemudian dengan gigi bergemeletup ia menyerapah.

"Sialan tangan mungil penuh muslihat itu."

Kemudian, Jungkook pun menyambar bibir Taehyung dalam sekali tarikan nafas. Melumatnya seakan penuh damba, mempererat pelukannya dan menampar — remas pantat Taehyung yang masih terhalang celana sekolah.

Bab 17 - Danger

Yugyeom terlonjak kecil ketika mobil Jungkook nampak memasuki gerbang kondo dengan membabi buta, kemudian berhenti mendadak tanpa memasukannya kedalam bagasi terlebih dahulu. Suatu kebiasaan Jungkook yang dengan anehnya kini tak ia lakukan, namun saat sang tuan keluar dan membanting pintu mobil kuat-kuat disisi lain Taehyung pun mengikuti dengan pakaian sama berantakan seperti Jungkook.

Pria jangkung itu melotot ketika mendapati Taehyung yang melompat ke pelukan Jungkook saat keduanya berjalan terburu-buru untuk mengitari mobil.

Sebentar saling berciuman tanpa malu-malu dan Jungkook berjalan hendak melewati pintu masuk dimana Yugyeom berdiri disampingnya.

Sebelum benar-benar sampai didepan Yugyeom, sekonyong-konyong Jungkook pun meraih remote kontrol untuk menutup pagar otomatis yang masih terbuka disana kemudian melemparkannya pada sang pelayan.

"Tutup gerbangnya." Ia hanya berucap demikian setelah melepaskan pagutan panas itu untuk sesaat, tanpa melirik Yugyeom sekalipun ia lalu melesat kedalam dengan Taehyung yang bergelayut pasrah dibahunya.

Yugyeom masih tertegun sambil menatap kepergian Jungkook menuju lantai dua. Benar terburu-buru dan tak sabaran, namun hal yang membuat ia heran ialah langkah panjang Jungkook yang sama sekali tak membuat kesalahan. Ia tidak terantuk apapun meski dalam keadaan sedang menggendong Taehyung yang tengah mencumbunya habis-habisan.

Luar biasa.

Gumam Yugyeom dalam hati.

Ini masih sore hari dan ia hanya berharap siapapun agar tak melihat adegan gendong-cumbu yang tuan nya lakukan. Apalagi Taehyung masih menggunakan seragam SMA.

Akhirnya, gerbang pun tertutup, dan Yugyeom membuka pintu mobil Jungkook yang sama sekali tak terkunci. Berniat memasukannya kedalam garasi.

Seperti yang ia duga sebelumnya, Jungkook sengaja tidak mencabut kunci kontak mobil untuk memudahkan Yugyeom.

Kemudian mesin pun menyala dan range rover tersebut segera meninggalkan pelataran depan dan menghilang dibalik pintu garasi otomatis.

Dengan tak satupun dari mereka menyadari seseorang yang kini tengah memeriksa hasil jepretan foto dari dalam audi putihnya. Tersembunyi diantara deretan mobil lain yang terparkir dan sama sekali tak terdeteksi.

Ruangan itu benar temaram, karena Jungkook yang tak mau repot-repot menyalakan saklar.

Sedangkan Taehyung masih melilitkan kakinya dipinggul sang daddy sambil sesekali mengecup bibir didepannya dan terengah, Jungkook kini malah sibuk mencari jalan ke arah kasur king size nya diseberang ruangan tanpa sekalipun terjingkat karpet beludru yang tergelar hampir diseluruh ruangan.

Ketika sampai dipinggir kasur, Jungkook langsung melemparkan Taehyung keatas sana. Membuat pemuda cilik itu memekik terkejut.

Tubuhnya memantul walau tak kentara, dan Jungkook segera menyusul dengan berada diatas setelah sebelum itu melepaskan kemejanya dengan sekali tarikan kencang. Kemudian ia menekan bibir Taehyung dalam ciuman menggebu yang tak ditahan-tahan, memerangkap mulut manis tersebut untuk ia kuasai sepenuhnya.

Suara dengus desah melayang hingga ke langit-langit ruangan, dan Jungkook tak dapat memikirkan apapun selain mendapatkan Taehyung dengan cara paling kasar sekaligus menyenangkan.

Bayangan ketika Taehyung sedang memikirkan orang lain dimobilnya beberapa puluh menit lalu membuat Jungkook dilingkupi oleh amarah.

Taehyung tidak boleh memikirkan orang lain selain dia. Tak bisa selain Jeon Jungkook.

Terdengar suara laci yang ditarik secara kasar ketika Jungkook bangkit meninggalkan Taehyung terengah dan luar biasa bergairah.

Seragamnya terbuka dimana-mana, memperlihatkan tulang selangka dan permukaan perutnya yang rata. Bibirnya merah dan membengkak, dengan kedua tangan tergeletak disamping kepala.

Ia menatap Jungkook yang kini nampak gelap dan penuh oleh birahi. Celananya kusut, kelihatan tak jauh berbeda dengan rambut jelaganya yang acak-acakan.

Namun tubuh penuh otot itu sama sekali tak memiliki nilai kurang, beberapa bagian nampak tegang sebagai reaksi dari sentuhannya dengan Taehyung.

Perut Jungkook mengencang tanda ereksinya sudah begitu keras, dan itu nampak hampir tak tertampung.

Taehyung melihat perbedaan kentara antara Jungkook yang sekarang dan perlakuannya beberapa waktu lalu. Pria itu tak pernah segelap ini di pergumulan terakhir mereka.

Jungkook terlihat jahat dan berbahaya, obsidiannya berkabut, hampir sama seperti saat pertama ia menjamah sekaligus menghukum Taehyung ketika pemuda cantik itu menginjakan kaki disini.

"Daddy.."

Taehyung beringsut semakin ketengah ketika Jungkook nampak melemparkan sepasang borgol dan alat-alat yang sempat Taehyung lihat beberapa waktu lalu keatas kasur. Ia menatap benda-benda itu dengan ngeri, kemudian tatapan penuh tanya nya beralih pada Jungkook yang kini sudah nampak lebih tenang.

Mungkin lebih tepatnya, tak terbaca.

Kengerian nampak merambat diwajah cantik Taehyung ketika Jungkook mulai menanggalkan seragamnya, menarik Taehyung untuk lebih dekat hingga otot-otot dilengannya kelihatan timbul dan berdenyut.

"Daddy.." Kembali Taehyung memanggil Jungkook, kali ini dengan suara lembut mendayu-dayu. Berharap pria atletis itu akan luluh juga, tapi Jungkook malah menyergahnya dengan mengacungkan jari telunjuk didepan wajah Taehyung.

"Anak nakal!"

Bocah itu bungkam, ia hanya membiarkan Jungkook melucuti baju dan celananya, hingga kini tak tersisa satupun untuk menutupi ketelanjangan Taehyung.

Ia tampak merona hebat.

"Selama ini apakah aku terlalu baik kepadamu?" Kalimat tersebut kontan membuat jantung Taehyung berpacu lebih cepat. Ia menatap Jungkook lekat-lekat. Apa maksudnya pria ini? "Apakah terlalu sering aku memberimu kelonggaran?"

Jungkook memasangkan borgol pada kedua tangan Taehyung dan mengaitkannya dengan borgol lain lalu kepala ranjang, tepat pada celah kayu yang memang dikhususkan untuk itu.

Sedangkan Taehyung hanya tergeletak pasrah dibawahnya.

"A-apa maksudmu?" Ia mulai sedikit mengerti, namun Taehyung tetap meminta penjelasan kepada Jungkook.

"Sudah lama sekali aku tidak menghukummu." Katanya. Ia menatap Taehyung dengan wajah tanpa canda. "Itukah alasanmu menolak jujur padaku?"

Taehyung segera menggeleng.

"Aku tidak—"

"Stttt.." Jungkook menekan telunjuknya dengan lembut dibibir Taehyung. "Tak perlu bicara jika kau hanya akan berbohong lagi."

Akhirnya Taehyung pun bungkam, sama sekali tak berani mengintrupsi Jungkook yang kini mulai meraih pelumas dan mengolesi lubangnya tanpa bersuara.

Meniup pusarnya sampai Taehyung berjengit geli karena terdorong oleh gairah, atau terkadang ia hanya mendengus lembut, namun kocokan diselangkangan sungguh terasa lebih luar biasa.

"Kau milikku Kim Taehyung..."

Kali ini ia tidak menyangkalnya, Taehyung malah ikut mengangguk setuju untuk itu. Tubuhnya sudah bukan milik jiwanya lagi, sudah semenjak pertama kali ia memasuki rumah ini. Bahkan dengan egois, Jungkook juga telah mengambil perasaan Taehyung, menyimpan itu untuk dirinya sendiri.

"Ya, aku milikmu." Suaranya terdengar membisik, kentara sekali antara takut dan penyerahan diri sepenuhnya. Tunduk atas apapun yang akan pria itu putuskan.

"Tiada seorang pun yang boleh menyentuhmu,"

Kini Jungkook sudah berada tepat didepan wajahnya, menghembuskan nafas hangat dan menatap tepat diretina.

Taehyung balas menilik wajah kelam nya lamat-lamat, kemudian ia melanjutkan kalimat dari Jungkook.

"Selain dirimu."

Akhirnya pria itu tersenyum juga.

Dibelainya wajah cantik tersebut, dan segera ia mengecup kening dan bibir cherry Taehyung penuh minat.

"Selain diriku.." Tanpa sadar Jungkook pun mengulang kalimatnya, merasakan hasrat penuh damba untuk penyerahan diri dari Taehyung. Bagai telah begitu lama menunggu dan tersesat.

Kini Jungkook menemukan dirinya kembali, berdiri diatas keseimbangannya yang semula. Ia yakinkan hati untuk tak pernah goyah terhadap lelaki manis itu, menekan pikirannya yang menganggap perasaan asing ini adalah sebuah jalan keluar untuknya.

Kendati saat bibirnya kembali menyentuh permukaan kulit lembut Taehyung, seketika itu pula ia merasa gila.

Jungkook dapat merasakan degup hangat yang meletup-letup pada permukaan dada Taehyung, ia menghirupnya penuh keinginan. Sungguh aroma pemicu gairah yang manjur.

Ia segera merutuk dalam hati, amat penuh oleh amarah yang tentu bukan untuk Taehyung. Hal itu tercipta untuk dirinya sendiri, yang mulai merasa kalau perasaannya bukan lagi kepunyaannya.

Sial, ini lebih dari obsesi dan nafsu. Satu hal yang paling ia tekan habis-habisan agar tak pernah lagi Jungkook rasakan.

Perasaan cemburu, ingin melindungi dan saling memiliki seutuhnya.

Tidak, Jungkook tidak boleh memiliki perasaan aneh seperti itu. Tidak boleh setelah apa yang pernah terjadi kepada hidupnya. Bahkan ketika dunia telah melawan dan membenci, mengasingkan dan menghakimi.

Perasaan itu malah akan membuatnya semakin bersalah. Salah atas apa yang ia perbuat dan ia rasakan.

Tidak boleh..

Tidak..

Ini hanya nafsu..

Bukan cinta.

Jungkook terus menekannya, dalam-dalam.

Matahari semakin menyingsing tanda pagi hari telah datang, dan Taehyung sudah tak terkejut lagi ketika ia merasakan kekosongan disampingnya. Dimana sisi ranjang itu sempat menjadi tempat pembaringan dari Jungkook.

Pria itu kembali melakukan kebiasaan lamanya, selalu saja menghilang bahkan sebelum fajar muncul dilangit.

Taehyung bahkan penasaran, apa mungkin ia mulai menyelinap keluar saat tengah malam menuju pagi buta ketika Taehyung masih tidur. Barangkali Jungkook memiliki kebiasaan berjalan sambil tidur yang tak pernah ia sadari.

Namun itu kedengarannya seperti tidak mungkin. Karena orang dengan kebiasaan seperti itu cenderung suka menabrak beberapa benda yang juga dapat menimbulkan keributan. Saat itu, bisa saja Taehyung sudah terbangun.

Tapi Jungkook tampak sengaja meninggalkannya sendirian saat Taehyung terlelap.

Ada apa lagi dengan pria itu? Apa dia masih marah kepada Taehyung setelah kejadian semalam?

Padahal Taehyung sudah menerima hukumannya, tapi mengapa Jungkook tetap juga marah? Biasanya ia akan berubah manis, kembali memperlakukan Taehyung dengan segala sentuhan magisnya yang membangkitkan keinginan.

Taehyung kira ia akan terus terbangun dengan Jungkook disisinya, tapi..

"Aduh!" Rasa perih tiba-tiba merayap diantara bokong dan pinggulnya.

Borgol yang semalam juga memberikan bekas kemerahan dipergelangan tangan. Jungkook memukulnya lebih dari 20 kali, saat itu Taehyung benar-benar menangis karena nyeri dan perasaan aneh.

Harusnya ia yang merasa marah, karena Jungkook sama sekali terlalu egois untuk sekedar menyadari apa maksud Taehyung dengan tidak mengatakan yang sebenarnya. Meskipun Taehyung berkali-kali ingin sekali menggumamkan alasan.

Jungkook malah membungkam mulutnya dengan dasi. Semakin membuatnya tunduk dan tak berdaya.

Semestinya Taehyung yang marah, seharusnya Jungkook tahu.

Ia memiliki batasnya sendiri dan Jungkook nampak tak melihat itu.

Tapi perilaku Jungkook semalam sudah keterlaluan, ia merasa tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti itu hanya karena ia mencoba untuk melindungi Jungkook dari perilaku gegabahnya.

Jika Taehyung mengakui seseorang memang meminta uangnya dan melakukan penyerangan. Jungkook mungkin akan bertindak menggunakan tangan besinya, membumi ratakan orang-orang itu, lalu muncul lah bermacam prasangka yang tertuju padanya.

Dia sendiri yang bilang ini adalah rahasia, tapi dia sendiri yang akan membuat orang lain mengetahuinya.

Taehyung tidak ingin itu terjadi, tapi apa yang ia lakukan malam ini sungguh berlebihan. Ia tak tahu apa-apa, namun Jungkook terlalu mengandalkan emosinya.

Ini tidak adil.

Haruskah sesakit ini untuk mencintainya?

Taehyung menghapus air mata yang menjejak pipi dan menetes di dagu. Kemudian melangkah dengan marah kekamar mandi.

Masa bodoh dengan itu semua, ia tetap harus pergi sekolah. Lagipula, mereka akan kembali bertemu dimeja makan nanti, Taehyung akan lihat, apakah dia benar-benar marah atau hanya ada pekerjaan mendesak.

Kendati Jungkook tidak pernah datang ke meja makan, bahkan ketika Taehyung mulai menghabiskan bacon dan telur dipiringnya.

"Waktunya berangkat tuan, saya akan membereskannya."

Taehyung sengaja tak menanyakan tentang Jungkook, dan nampaknya Yugyeom juga tidak berniat untuk memberikan informasi apapun. Ia hanya merapikan meja dan bergegas pergi untuk mengambil mobil. Dibelakang, Taehyung berjalan mengikuti Yugyeom dengan wajah muram.

Ternyata benar, Jungkook sedang menghindarinya.

Jeon Jungkook hanya butuh sendirian dan tak tersentuh. Maka dari itu ia membiarkan diri bersandar lesu dikursi kerjanya, menutup seluruh gorden untuk menghindar dari terpaan matahari.

Ia tengah memejamkan mata ketika suara deru mobil terdengar meninggalkan gerbang.

Jungkook segera terjaga, kemudian untuk beberapa detik kedepan nampak menatap sisi jendela yang nyaris tertutup sepenuhnya.

Taehyung baru saja berangkat sekolah, kendati kali ini Jungkook tidak ikut andil mengantarkannya.

Entah mengapa, ia merasa perlu menghindarinya untuk sesaat. Setelah peristiwa hilang kontrol semalam, Jungkook tidak mungkin menemui Taehyung dengan seluruh kecanggungan yang mencekik lehernya.

Jungkook sadar ia telah menyakiti Taehyung terlalu berlebihan, tapi Jungkook tak pernah merasakan perasaan asing seperti itu sejak lama sekali.

Banyak hal yang mengganggu pikiran, salah satunya ialah Bae Irene. Ia biasa menyebut dirinya dengan Jeon Joohyun. Namun Jungkook tak pernah memenuhi keinginannya untuk dipanggil demikian.

Nama keluarga Jeon terlalu murni untuknya, ia bahkan tak pantas menyandang nama Jeon setelah apa yang dilakukannya terhadap Jungkook.

Sial. Ingatan tersebut membuatnya semakin membenci perempuan itu.

Jungkook mengepalkan tangannya. Benar-benar penuh oleh angkara yang begitu hitam dan gelap.

Diantara keheningan itu, tiba-tiba ponselnya bergetar dan menyala. Tepat diatas meja kerja Jungkook yang dipenuhi oleh berkas, bersampingan dengan sebuah macbook putih.

Jung Hoesuck is calling...

"Jeon." Ia sedikit menggeram, entah untuk apa— hanya saja Jungkook merasa melupakan sesuatu.

"Jungkook, kemana kau semalaman kemarin?" Hoseok kedengaran tidak seperti biasanya. Tapi apa yang membuatnya seperti itu?

"Urusan lain. Ada apa?"

"Sial, entah aku harus menyerapahmu atau malah bernafas lega sekarang."

"Hm?"

"Sepertinya kau lupa kita harus berbicara tentang Bae Irene semalam."

Ah, jadi ini yang ia lupakan.

Ternyata, Hoseok memang perlu menyerapahnya.

"Dia sudah kembali ke Amerika."

Jungkook segera menarik nafas tidak mengerti.

"Tapi kukira kau tidak perlu bersusah payah menelponku pagi-pagi dengan informasi kacangan seperti itu." Ia menautkan alis, bersandar pada punggung kursi dan memainkan bibirnya menggunakan jari tangan.

"Kau belum tahu alasanku memperingatkanmu sebelumnya Jungkook. Sejak awal Irene memang hendak menemuimu dan kuyakin ia pasti akan berbuat onar lagi."

Jungkook mencoba meraih nafasnya.

"Ya, baiklah. Aku hafal dengan kebiasaannya yang satu itu, tapi bisakah aku memercayai informasi ini?"

"Kim Jongin yang mengatakannya sendiri."

Jungkook menegakan posisi duduk.

"Kim Jongin?" Ada jeda sesaat, kemudian ia kembali bersuara. "Sepupu hitammu itu?"

"Dia tan, bukan hitam." Suaranya kedengaran jengah dan ia sedang memutar mata sekarang. "Irene bilang ia akan menemuimu, tapi ternyata dia kembali begitu cepat. Tidak seperti biasanya."

Jungkook menghela nafas sembari mengurut batang hidungnya.

"Ia memang sempat menemuiku, dipesta pernikahannya Jimin waktu itu."

"Oh? Pantas aku tidak melihatmu dimana-mana, dia melakukan sesuatu?"

"Tidak, tapi itu cukup untuk membuatku merasa diambang kematian."

"Astaga, man. Kuharap dia tak akan kembali lagi dan Jongin telah berhasil menyadarkannya."

Jungkook mendenguskan senyuman. "Dia pria dengan daya juang yang kuat."

"Sekaligus tolol, aku tahu."

Ia hanya bergumam untuk menanggapi Hoseok, namun beberapa detik kemudian hanya ada sepi yang mengisi sambungan telepon.

"Jungkook, kukira kau memiliki banyak hal untuk diselesaikan. Sampai nanti."

"Um, tunggu—" Hoseok menahan jarinya yang hendak menekan icon merah.

"Ada apa?"

"Aku akan pergi ke kantor agak siang—"

"Tidak, kau punya masalah Jungkook. Bereskan dulu itu baru kau boleh datang. Jangan buat dirimu sendiri menyusahkanku." Kata Hoseok sembari kembali menaburi kalimatnya dengan nada gurau.

Jungkook hanya kembali bergumam, lalu untuk kesekian kali setelah sambungan terputus, ia menghela nafas.

Taehyung turun dari mobil, kali ini Yugyeom tidak ikut mengantarnya sampai kedalam seperti kemarin.

Tentu saja, dia bukan bayi.

Pria itu mengendarai mobil sendirian, tanpa ditemani para bodyguard yang biasa ada disekelilingnya. Tidak ada 3 mobil beriringan, hanya satu, dan itu karena Jungkook tidak ikut bersamanya.

Tentu, yang mereka jaga kan Jungkook bukan Taehyung. Ia tidak mungkin mendapat penjagaan ketat seperti yang Jungkook selalu dapatkan.

Sial, kenapa Taehyung malah jadi sinis begini?

Mungkinkah akibat dari berbagai tatapan menilai yang terasa seperti menusuk-nusuk punggungnya? Ia dapat mendengar bisikan-bisikan samar disamping kanan dan kiri, lalu dari belakang seseorang menepuk bahunya hingga Taehyung hampir terlonjak.

"Selamat pagi! Eh? Taehyung, kau baik-baik saja?" Seperti biasa, Sungjae selalu menyapanya dengan ramah. Berbeda dengan Oh Sehun yang hanya mengandalkan tatapan tajam mata sipitnya.

Sebentar, Taehyung nampak kehilangan kata. Pertanyaan Sungjae seperti memiliki dua maksud, apakah ia memang menanyakan tentang keadaan tubuh Taehyung akibat Jungkook ataukah kondisinya setelah kejadian kemarin.

Karena, anak-anak gadis yang sejak tadi membicarakannya tengah bergosip tentang geng Lisa-luhan yang kena hukuman.

Taehyung sudah tidak merasa terkejut lagi. Harusnya.

"Um, ya, aku baik-baik saja. Terima kasih." Ia tersenyum seperti biasa, namun terasa ada hal lain.

"Benarkah? Matamu sembab."

Kena.

"Oh? Aku hanya kurang tidur saja." Dan juga dapat banyak tamparan dibokong, tentu saja.

Sungjae segera merangkulnya. "Tenang Taehyung, mulai hari ini, aku dan Sehun akan pulang bersamamu, oke?"

Mendengar itu, Sehun segera mengernyitkan alis. "Apa katamu?"

"Itu tidak perlu Sungjae, kemarin hanya insiden kecil." Sanggah Taehyung.

"Ya, setidaknya kami akan menunggumu sampai keluar kelas. Tidak perlu harus pulang bersama. Sehun juga akan ikut menjagamu."

Mereka melangkah berbarengan, sedangkan Sehun kembali memutar bola matanya malas.

"Aku tak ingat pernah menyetujui nya."

"Ayolah Sehun, Taehyung kan teman kita juga." Sungjae merangkul Sehun menggunakan lengan yang lain. "Kalian harus mulai akrab, satu sama lain."

Sedangkan Sungjae cuma tersenyum-senyum cerah dengan dua temannya yang ia rangkul, Sehun dan Taehyung sempat bertatapan sebentar, namun Sehun segera melemparkan pandangannya kearah lain.

Taehyung kebingungan, ia seperti melihat Sehun nampak tersenyum sekilas. Tapi ketika meliriknya lagi, pria itu sudah kembali ke mimik semula. Datar dan terlampau rasional.

Beberapa tahun lalu, Jungkook mendapatkan sebuah telepon dari Amerika, saat itu sang ibu lah yang menghubungi. Ia berbicara tentang merayakan kelulusan anaknya dan pengangkatan Jungkook sebagai CEO Jeon Corp di Korea.

Tentu saja, ia sudah berhak untuk mendapatkan seluruh peninggalan sang ayah. Termasuk rumah, saham dan beberapa perusahaan cabang-cabang kecil di tiap kota disana.

Jungkook menjalani masa kuliah selama kurang lebih 4 tahun di Korea, ia sendiri yang memutuskan hal tersebut. Pria muda itu bersikeras ingin melanjutkan studi nya di Korea saja, beralasan kalau itu adalah kampung halamannya. Sekaligus ia menjauhi Irene perlahan-lahan.

Setelah semua rasa sakit yang ia dapat, Jungkook tak mampu lagi bertahan di Amerika. Apalagi jika mesti setiap hari bertemu tatap dengan perempuan itu.

Maka saat umurnya 17, ia segera mengudara ke Korea, menghindari hampir semua anggota keluarganya, mengumpulkan seluruh alasan paling muntakhir guna menyelamatkan diri. Sekalipun sang ayah yang menghubungi.

4 tahun berlalu dengan begitu cepat, Jungkook tetap memberikan kabar kepada ayah dan ibunya, kendati selalu mengabaikan betapapun Irene ingin mendengar suaranya. Ratusan telepon tak pernah dijawab, ribuan pesan singkat tak pernah dibaca.

Hatinya sudah kepalang hancur.

Namun kabar tentang kelulusannya tentu malah menjadi umpan besar bagi Bae Irene.

"Kami tidak menghadirinya Jungkook. Kini adalah saat yang tepat untukmu membalasnya." Kata sang ibu di seberang jalur telepon. "Kau sama sekali tidak memberi kabar, dan kami baru tahu kau baru saja mendapatkan gelarmu. Ini keterlaluan, nak."

"Maafkan aku ibu, masih ada video dokumentasi, kalian bisa melihat itu kapan-kapan. Aku terlalu sibuk disini, hingga tak sempat memberi kabar."

"Tapi ini berbeda, sayang. Kami ingin melihatnya secara langsung, astaga, sudahlah. Aku akan memarahimu nanti. Ayah ingin membicarakan sesuatu, datanglah kemari nak, kakakmu juga akan berulang tahun beberapa hari lagi."

Jungkook terdiam, ia merasakan aliran darah menuju tangan terhenti hingga membuat jemarinya bergetar kaku.

Kembali ke Amerika?

Kembali bertemu dengan wanita itu?

Setelah insiden besar yang menghancurkan jiwanya?

Setelah argumentasi panasnya dengan Bae Irene?

Jungkook hampir tak merasakan satu katapun keluar dari tenggorokannya, tahun ini wanita itu akan berusia 27. Mungkin ia akan kelihatan lebih matang, jauh lebih menawan dan lebih dari mampu untuk menarik Jungkook kembali menjadi budaknya seperti dulu.

Tidak.

Kendati Jungkook juga sudah berubah, ia bukan lagi remaja berumur 17, ia sudah dewasa dan mandiri. Ia menghindari puluhan wanita selama masa hidupnya, mengapa mesti tak sanggup untuk mengatasi satu Bae Irene saja?

"Nak, kau masih disana?" Suara ibunya kembali mengintupsi.

"Hm, ya ibu. Aku akan segera kesana." Katanya sembari menaruh sumpit yang sempat terabaikan, Jungkook tengah menikmati ramen kesukaannya ketika telepon berdering diatas meja.

Tapi siapa sangka jika yang menelpon adalah ibu tersayangnya?

"Kalau begitu ajak juga temanmu Jimin. Hingga kau tidak akan merasa bosan diperjalanan."

"Tapi sepertinya dia tidak bisa, Jimin mengatakan sebelumnya kalau dia akan pergi menemui keluarganya juga." Jungkook memandangi mie nya tanpa hasrat.

"Sayang sekali, kalau begitu ajak siapapun yang kau mau sayang. Lebih bagus kalau itu pacarmu, iya kan?" Nyonya Jeon kedengaran seperti sedang menggoda Jungkook, ada nada geli dan humor dalam suaranya.

Tapi Jungkook cuma membalas dengan dengusan saja, kemudian tersenyum kecil.

"Baiklah, sampai jumpa nanti ibu. Aku akan menyelesaikan beberapa hal dulu."

"Kalau begitu, makan yang banyak sayang. Jangan sampai kau terlihat kurus ketika datang. Ibu akan segera menjejalimu dengan makanan terenak disini."

Ia akhirnya dapat tertawa juga.

"Tentu, ibu pasti terkejut saat melihatku nanti."

"Astaga, putraku pasti sudah semakin dewasa sekarang. Baik, jaga dirimu baik-baik nak. Kami menyayangimu."

"Aku menyayangi kalian juga."

Telepon pun tertutup, lalu Jungkook segera menoleh ketika sekonyong-konyong Hoseok muncul dari balik pintu apartemennya.

"Bagus sekali, jangan sampai kau mulai menyalah gunakan password apartemenku ketika kau tak punya tempat untuk menjajal kekasih barumu." Serang Jungkook ketika Hoseok berjalan mendekatinya dengan cengiran khas.

"Santai man, aku tak pernah melakukan itu."

Sebagai seorang yang masih jadi pengangguran sampai sekarang, harusnya Hoseok terlihat kelimpungan untuk mengincar beberapa perusahaan ternama. Tapi orang itu seperti kehilangan rasa takutnya ketika sudah bersama Jungkook.

Jung Hoseok, masih 24 saat itu. Mestinya ia 3 tingkat diatas Jungkook, namun karena terlalu sibuk dengan hobi bermusiknya, mereka malah jadi teman setingkat sekarang.

Ia berteman baik dengan Jungkook dan Jimin sejak tahun pertama, dan itu terjadi hingga saat ini.

Hoseok nampak tengah sibuk dengan kegiatannya membuat kopi, sedangkan Jungkook kembali melanjutkan makan malamnya yang super mewah. Ya, satu cup ramen dan kimchi kalengan.

Sebenarnya Jungkook punya banyak uang untuk sekedar memesan makanan yang lebih layak, tapi ramen dimalam basah dan berhawa dingin terasa lebih luar biasa.

"Tidak ada yang kau lakukan saat masa liburan?" Hoseok kembali dengan gelas kopinya yang mengepul hangat, kemudian terduduk didepan Jungkook. "Mari ikut aku ke Amerika."

Jungkook mendongak setelah menyeruput mie nya dan menelan itu tanpa banyak dikunyah.

"Amerika? Aku juga akan pergi kesana."

"Wah, kebetulan sekali." Hoseok menyeringai sumringah. "Kau akan menemui keluargamu?"

Jungkook mengangguk.

"Mari pergi bersama, aku dan sepupuku akan berangkat Selasa nanti."

"Sepupumu?"

"Ya, Jongin akan pindah kesana. Kau harus bertemu dengannya, dia suka dance juga."

Jungkook mendengus.

"Itu sih hobi mu."

"Hobimu juga bodoh!"

Pertama kali bertemu Jongin adalah saat dibandara, ia memiliki tinggi 1,8 meter. Sedikit lebih tinggi dari Hoseok dan ia ramah.

Tipikal keluarga Jung sekali, tapi mendengar nama lengkapnya, mereka pastilah bersaudara dari ibunya.

"Kim Jongin." Kata Hoseok sembari memperkenalkan sepupunya tersebut. "Nama kerennya sih Kai."

Jongin segera menyikut Hoseok setelah sesi bersalamannya selesai dengan Jungkook.

"Jeon Jungkook-nim, senang berkenalan denganmu." Kata Jongin pada Jungkook, pria itu cuma mengangguk kecil saja.

"Jangan terlalu sungkan padanya, ia bahkan tak pernah berlaku sopan didepanku."

"Ya, lagipula aku lebih muda dari kalian."

"Tak perlu kau beritahu." Hoseok sempat memutar matanya, namun Jongin hanya terkekeh pelan melihat itu.

Ia orang yang baik. Itulah hal pertama yang Jungkook pikirkan setelah melihat bagaimana Jongin berperilaku. Berbeda dengan Hoseok apalagi dirinya.

Ada beberapa alasan mengapa Jungkook memutuskan untuk mengajak dua saudara sepupu itu agar pergi dengannya ke pesta ulang tahun Irene ketika mereka sudah sampai di Amerika.

Salah satunya ialah untuk sekedar menjadi alibi kuat agar ia dapat selalu berjauhan dari Irene.

"Sial! Jika aku tahu kau akan mengajak kami ke pesta besar begini, aku pasti akan menyiapkan setelan terbaikku." Seperti biasa, itu adalah suara Hoseok. Ia keluar dari taxi lalu diikuti oleh Jungkook dan Jongin.

"Kau sudah pakai setelanku, omong-omong."

Jungkook menyusulnya setelah membayar tarif, tapi Jongin malah tak mengungkapkan apapun dibelakangnya.

Jongin menatap sebuah mansion mewah yang terangi oleh puluhan lampu, mereka berdiri tepat didepan gerbang besar yang menjulang tinggi.

Kelihatan didepan sana, mereka nampak mesti melewati sebuah padang lapang yang amat luas untuk sampai ke sebuah bangunan putih dan cokelat. Rumah itu diterangi oleh banyaknya lampu taman dan dekorasi pesta nun menawan.

Setitik pintu mahogani tampak begitu jauh, karena dapat dipastikan jika mereka tengah berdiri dikejauhan beberapa hektar dari rumah utama. Sepertinya orang bernama Jeon Jungkook ini luar biasa kaya raya, atau setidaknya ia memiliki orang tua dengan harta berlimpah.

Jungkook nampak menekan tombol interkom disamping gerbang, kedengaran suara seseorang yang menyapanya, lalu setelah beberapa detik percakapan baku itu berlangsung, terbukalah gerbang besar tersebut bagaikan digerakan oleh arwah.

Jungkook melangkah masuk, diikuti oleh Hoseok dan Jongin. Kemudian seseorang datang dengan mengendarai sebuah kendaraan yang biasa Hoseok lihat dilapangan golf.

Orang itu melangkah turun dari kendaraannya, lalu membungkuk sopan kepada Jungkook.

"Selamat malam, tuan muda Jeon. Kami sangat menantikan kedatangan anda."

Sial, sudah seperti pangeran saja.

Hoseok ternganga sesaat, lalu setelah Jungkook menimpali, mereka pun pergi ke rumah itu menggunakan kendaraan tersebut.

Sempat menghela nafas lega karena ia tak perlu berjalan kesana hingga kakinya lemas karena kelelahan.

Mereka turun tepat didepan pintu yang terus terbuka, beberapa orang yang nampak tengah menikmati udara malam ditaman memperhatikan ketiganya dengan berbagai tanggapan.

Setelah melangkah sampai didalam, semuanya tampak semakin luar biasa saja.

Lampu dimana-mana, makanan, minuman, dan banyak wanita serta lelaki cantik.

Jungkook melihat orang tuanya nampak menyongsong dengan tatapan merindu, ia memeluk ayah dan ibu dengan dada berdegup kencang.

Hatinya dipenuhi oleh rasa hangat, ia melepas rangkulannya dan menatap wajah orang tua yang paling ia sayangi. Keduanya mulai menua, namun tetap menawan.

"Kau berubah terlalu banyak nak." Itu ayahnya, ia menepuk bahu Jungkook sembari tersenyum bangga.

Jungkook balas menyeringai kecil, ia mengangguk lalu beralih mencium pipi ibunya, dan dibalas dengan elusan lembut dikepala.

"Tidak kusangka kau sudah dewasa nak, dulu aku bertemu denganmu saat kau begitu kecil dan rapuh." Ia membingkai wajah Jungkook, lalu kembali memeluknya untuk dirinya sendiri.

Jungkook membalas dengan tangannya yang kokoh dan kuat.

Namun, ketika siluet seorang wanita tiba-tiba tertangkap oleh sudut matanya, ia seperti membeku untuk sesaat.

Pelukan pun terlepas, lalu Jungkook kembali tertegun oleh panggilan khas yang begitu ia benci.

"Kookie!" Irene datang, dengan sepatu hak tinggi dan gaun mewah berwarna merah, berjalan amat anggun, semakin dewasa dan menarik. "Akhirnya kau datang juga."

Hampir saja ia memeluknya, namun Jungkook segera merangkul seseorang disebelah kiri.

Jongin kelihatan terlalu terkejut untuk hal itu, kendati ia tetap tak bereaksi apapun sampai Jungkook meliriknya dan nampak sama terkejut juga.

Beruntung ia segera menemukan suaranya.

"Perkenalkan, ini Kim Jongin temanku." Tuan dan Nyonya Jeon menyambutnya dengan suka cita, bergantian menyalami. Sedangkan Irene tampak menatap Jungkook tak percaya.

Setelah Jungkook melepaskan rangkulannya dari Jongin, Irene benar-benar sudah dekat dan Jungkook bukan dalam keadaan untuk menolaknya, namun lagi-lagi ia merangkul orang lain.

"Ini temanku juga, Jung Hoseok. Ia dan Jongin bersepupu."

Sama seperti tadi, keluarga Jeon selalu ramah dan menyambut siapapun dengan baik. Berbeda dengan Irene yang kini menampilkan mimik penuh emosi dan marah.

Bagaimana mungkin Jungkook menolaknya terang-terangan dipesta ulang tahunnya sendiri?

Pria muda itu semakin dewasa dan tampan. Tumbuh dengan begitu baik, juga setelan jas mahal tersebut lebih dari mampu untuk menonjolkan fakta bahwa ia memiliki tubuh yang bagus dibaliknya.

Sial, dia bagaikan bistik panas diantara deretan salad dingin!

"Irene, selamat untuk ulang tahunmu." Akhirnya setelah beberapa saat sempat mengabaikannya, Jungkook pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jas nya. "Ini dari kami bertiga."

Apakah ini penghinaannya yang lain? Irene sudah hampir menyunggingkan senyuman congkak ketika Jungkook untuk pertama kalinya memberi ia hadiah.

Tapi, dari mereka bertiga?

Belum cukupkah ia menginjak harga dirinya?

Bukannya menjawab dan menerima hadiah tersebut, Irene malah menyergap Jungkook dengan pernyataan.

"Kau datang terlalu larut Jungkook, kita masih harus berbicara banyak. Aku ingin berbicara denganmu."

"Oh, kami juga ingin berbicara dengannya sayang. Tunggu giliranmu, oke? Sekarang mari kita serbu makanannya." Seperti biasa, nyonya Jeon selalu menengahi, ia merangkul Jungkook untuk membawanya semakin masuk kedalam. Sedangkan Jongin dan Hoseok dijamu oleh tuan Jeon sendiri.

Jungkook sempat menoleh kebelakang, jelas sekali ia kelihatan tidak senang. Namun ia tetap bergumam kepada dua sepupu itu.

"Nikmati pestanya."

Mereka disana sampai tengah malam, dimana suasana pesta semakin dipenuhi hingar bingar yang kentara. Para anak muda kini semakin menguasai jalannya pesta.

Sedangkan tuan dan nyonya Jeon sudah mengungsikan diri di lantai 3, dimana suara bising itu betul-betul lenyap tak tersisa. Sebelumnya mereka sudah membicarakan tentang pemindahan saham atas nama Jeon Jungkook juga proses penyerahan tanggung jawab Jeon Corp pada anak lelaki mereka.

Hoseok sih hanya ternganga sesaat ketika dengan gampangnya Jungkook mendapatkan kedudukan tertinggi setelah beberapa hari lalu terbebas dari universitas dengan IP paling tinggi.

Tapi bagaimana mungkin ia menolak untuk menginap dirumah orang tuanya sendiri bahkan setelah nyonya Jeon bersikeras melarangnya tidur ditempat lain?

Sejak awal, mereka memang berencana untuk menginap di apartemen Jongin, namun siapa sangka kalau rumah Jungkook bahkan lebih menggiurkan dari apartemen termahal sekalipun!

Akhirnya, setelah perdebatan keras membujuk Jungkook yang tak ingin menginap sendiri, nyonya Jeon pun menang, dan pergi ke lantai 3 untuk beristirahat.

Jungkook setuju untuk menginap disana, namun tentu bersama Hoseok dan Jongin. Tentu saja nyonya Jeon mengizinkan, namun yang kelimpungan kali ini adalah dua sepupu itu.

Mereka mesti membawa barang bawaan nya ke rumah ini. Sungguh merepotkan, tapi tetap mereka setujui juga.

.

.

Jungkook hampir meminum gelas kesekiannya jika saja ia tak ingat bahwa masih ada bahaya yang mengancam disekitar sini, ia mengobrol banyak dengan Jongin, terang-terangan menghindari Irene yang sudah sejak awal menahan perasaannya.

Musik dimana-mana dan minuman keras seperti tak mau habis, gadis-gadis dengan bikini dan setelan jas para pria berubah tak beraturan. Barangkali salah satunya yang masih waras hanyalah mereka bertiga.

Hoseok sempat mendelik ngeri ketika seorang wanita tiba-tiba meremas pahanya sembari menjilat bibir sensual.

Akhirnya ia segera merapat pada Jungkook dan Jongin yang kelihatan tengah berbincang singkat.

"Pergaulan anak muda disini sungguh terlalu berbahaya untuk pria saleh sepertiku."

Jongin segera terbahak untuk itu.

"Kau? Saleh? Biar kuhitung berapa wanita dan pria yang pernah kau tiduri."

"Maksudku, mereka memang hot, tapi kelewat agresif."

Jungkook kembali meletakkan martini nya. "Aku harus ke toilet."

Ia sampai didepan pintu kamar mandi dengan wajah mulai mengantuk, namun suara-suara aneh dari dalam kembali membangunkan pikirannya.

Jungkook terdiam untuk beberapa saat, lalu segera memutar bola mata dengan jengah.

Haruskah party diselingi dengan seks?

Mestinya mereka memilih tempat yang lebih layak.

Jungkook pergi untuk mencari kamar mandi lain, hanya berbeda 3 ruangan setelah kamar tamu dan ruang seni.

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pintu mahogani dengan tulisan 'Kamar Mandi' diatasnya, lalu melangkah kedalam.

Ia memasuki bilik toilet, lalu segera mengosongkan muatannya kedalam closet, dan meraih beberapa lembar tissue untuk membersihkan kebanggaannya.

Setelah tersiram habis, ia pun melangkah keluar dan mencuci tangan diwashtafel. Kamar mandi itu memang luas, satu bagian paling dalam untuk membersihkan diri dan berendam dan bagian lain untuk mengeringkan tubuh lalu berganti pakaian.

Tidak heran jika Irene selalu melangsungkan pestanya disini, karena ia tak perlu takut jika salah satu temannya kedapatan kencing sembarangan dihalaman kesayangan ayah.

Tuan Jeon sudah memfasilitasi dengan baik.

"Kau menghindariku."

Jungkook menarik nafas sebagai refleksnya, ia segera mematikan keran air lalu berbalik dan mendapati Bae Irene nampak muncul dari balik gorden shower.

"Bagaimana kau—" Jungkook kehilangan kata-katanya. "Kau menguntitku!"

"Itu karena kau yang selalu menghindar Jungkook!" Sergahnya semakin melangkah dan mendekat, sedangkan Jungkook nampak berjengit dan beringsut mundur. "Aku merindukanmu.."

"Omong kosong." Katanya. "Berhenti disitu!"

"Kenapa? Kau takut kembali jatuh kepadaku?" Kini Irene sudah ada didepannya. Sengaja menyentuh permukaan dada bidang Jungkook dengan telapak tangannya yang lentik. "Aku tahu kau masih menginginkanku juga Jungkook."

Ia segera menepis elusan penuh hasrat mengundang itu, lalu menatap Irene penuh kebencian.

"Jaga bicaramu, aku tak pernah menginginkan apapun dari mulut penuh muslihat itu." Irene menatapnya tak percaya. "Kau hanya menggunakanku untuk kesenanganmu saja, kau menyiksaku hingga aku ingin membunuh diriku sendiri!"

"Tidak, itu tidak benar." Ia mulai menampilkan wajah memerah dengan mata penuh cairan bening yang siap tumpah, namun sayang Jungkook sudah terlalu lelah untuk percaya semua tipu daya itu. "Aku tidak berniat menyakitimu Jungkook, aku tidak begitu, aku mencintaimu."

"Bohong! Kau tidak pernah mencintaiku, dan aku hanya alat untukmu. Aku hanya—" kalimat itu kembali hilang, lalu Jungkook menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku hanya—"

Sial, ayo katakan.

"Aku hanya pemuas nafsumu saja."

"Jungkook, kau sungguh salah sangka, yang waktu itu bukan apa yang terjadi sebenarnya. Aku melakukan hal itu agar ayah dan ibu tidak merasa kecewa dengan kita berdua."

"Ayah dan ibu akan tetap kecewa suatu saat nanti. Tapi setidaknya tidak dengan cara seperti ini jika saja kau tak—"

Jungkook memejamkan matanya, dengan nafas gemetar ia berusaha meraih pegangan apapun, lalu punggungnya merasakan pinggiran washtafel yang begitu kokoh.

"Aku minta maaf. Kita harus membicarakannya ditempat lain, ayo kekamarku dan kita bicara disana."

Irene hampir mendapatkan tangan Jungkook, namun lelaki itu segera mengibas bagaikan merasa jijik.

Kamarnya? Atau kamar mereka dulu melakukan hubungan badan? Terserah yang manapun asal jangan keduanya. Jungkook tak mungkin pergi ke tempat dimana masa lalu buruknya pernah berlangsung disana.

"Tak ada yang perlu dibicarakan, aku sudah muak." Jungkook bangkit untuk merapikan pakaiannya, kemudian dengan tanpa menatap Irene ia mulai melangkah menuju pintu keluar.

Irene segera menahannya dengan menghalangi jalan didepan pintu.

"Tidak Jungkook, jangan dulu pergi. Kau harus mendengar penjelasanku."

"Minggir."

"Kau akan menyesal jika pergi sekarang."

"Kubilang, minggir."

"Aku mencintaimu Jungkook! Kau pernah bilang kalau kau mencintaiku juga!"

Jungkook terdiam mendengar itu.

Cinta? Tentu saja, sekarang hal tersebut sudah menjadi omong kosong. Sebuah kebohongan besar yang memperbudaknya.

"Aku tak pernah benar-benar mencintaimu." Katanya dengan nada datar. "Kau hanyalah sebuah fase. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti."

Ia mendekat untuk memberikan Irene tatapan penuh angkara. "Bahwa kau berdusta hanya untuk kepentinganmu sendiri."

Kemudian, Jungkook menyingkirkan Irene dengan mendorong bahunya menjauh dari pintu, lalu pergi keluar dengan bedebam keras dari kusen yang bertabrakan.

Kali ini, menginggalkan Irene dengan air mata yang benar-benar turun untuknya.

Sedangkan disisi lain, Jongin nampak tertegun dengan kepergian Jungkook yang tiba-tiba, ia kelihatan marah dan sama sekali tak menyadari keberadaan Jongin dekat guci tinggi tepat disamping pintu kamar mandi.

Menatap punggung Jungkook yang berjalan begitu cepat melawan arah.

Ia sungguh tak sengaja, ia bersumpah ia sungguh tak bermaksud untuk melihat kemarahan Jungkook.

Meskipun ia tak begitu mengerti mengapa Jungkook tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan reaksi yang amat aneh. Barangkali ia baru saja bertelepon dengan seseorang, karena samar-samar Jongin dapat mendengar suara percakapan dari dalam.

Ia hanya berniat pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasrat yang memenuhi kantung kemihnya.

Tapi siapa sangka ia akan menemukan Jungkook yang marah-marah begitu?

Jongin pun membuka pintu kamar mandi, dan begitu luar biasa terkejut ketika tiba-tiba seorang wanita menerjangnya dengan pelukan.

"Jangan pergi lagi, kumohon."

Sejak saat itu, Jongin memandang Bae Irene dengan tatapan berbeda. Melihat bagaimana rapuhnya ia ketika menangis sesegukan dalam pelukannya.

Ia mendapatkan pekerjaannya di Amerika, dan itu merupakan sebuah kebetulan yang manis.

Meski awal pertemuan keduanya merupakan kesalahpahaman yang tak disengaja.

"Maafkan aku, kukira kau..."

"Tidak masalah, kau pasti sedang sedih."

Jongin tak mampu berkata apapun lagi selain menghapus air matanya, dan ia segera mendapati hatinya sudah tak lagi ditempat seharusnya berada.

Ia tahu jika Irene masih mencintai orang lain ketika beberapa bulan setelahnya Jongin mengusulkan untuk berkencan. Wanita itu tetap menerimanya walaupun ia telah berkata dengan terang-terangan kalau Jongin hanya akan ia anggap sebagai adiknya saja.

Namun Jongin tentu bukan orang dengan tekad yang tipis, ia merasa Bae Irene perlu untuk diselamatkan.

Meski wajah cantik itu nampak selalu tersenyum cerah, tapi baginya hal tersebut hanya berupa kepalsuan yang ia timbun hingga demikian tinggi.

Sampai siapapun tak bisa membedakan mana palsu dan asli, namun hanya Jongin seorang yang mampu memisahkan hal tersembunyi itu.

Hingga 4 tahun kemudian berlalu seperti terlalu cepat, kini ia sudah benar-benar sukses. Hampir seperti Jung Hoseok sepupunya.

Ia sudah kembali ke Korea satu minggu setelah perayaan ulang tahun Irene 4 tahun lalu. Bersama dengan Jungkook.

Mengingat nama itu, ia jadi teringat peristiwa di kamar mandi waktu lalu.

Jungkook keluar dari sana dengan Bae Irene yang masih menangis-nangis didalam. Apapun yang sempat mereka perdebatkan pastilah suatu hal berat, kehidupan antar saudara terkadang memang selalu penuh cobaan.

Apalagi jika mereka adalah saudara tiri yang tak memiliki ikatan darah apapun selain terikat oleh hukum saja.

Suatu ketika, Irene bilang ia akan pergi ke Korea untuk menemui Jungkook, entah membicarakan apa, tapi Jongin tak pernah bertanya apapun mengenai hubungan Irene dengan adiknya itu.

Jongin melepas kacamatanya setelah turun dari mobil, kemudian sedikit berlari untuk membukakan pintu penumpang disebelahnya. Cuaca di Amerika selalu berubah-ubah akhir pekan ini, maka dari itu ia mengenakan syal untuk menutupi lehernya. Nampak pas dan cocok saja dengan celana jeans beserta jaket kulit dan juga kaus hitam yang kelihatan senada.

Ia membukakan pintu mobil tersebut, kemudian mengulurkan tangan pada Irene. Kesopanan khas Amerika.

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini, maaf ya." Kata Jongin setelah keduanya berdiri saling berhadapan, ia berbicara sembari mengeluarkan beberapa kopor dari kursi penumpang dibagian belakang.

Sedangkan Irene hanya mengangguk maklum. "Tidak apa, aku bisa sendiri. Lagipula aku sudah tahu alamatnya."

"Perlu aku menelpon Jeon Jungkook untuk menjemputmu?" Tanya nya lagi.

Irene nampak terkesiap sedikit. "Tidak. Kau tahu itu tidak perlu dilakukan."

Jongin mengangguk, kemudian dua petugas bandara pun menghampiri mereka untuk membawakan kopor-kopor tersebut.

"Baiklah jika begitu.." Katanya sembari kembali memasangkan kacamata. "Sampaikan salamku untuknya."

"Tentu saja." Irene membalas sembari tersenyum kecil. Cantik, tapi kelihatan sedikit angkuh.

Itu adalah saat dimana ia mengantarkannya ke bandara, terasa begitu berat, karena Jongin mengira Irene akan tinggal cukup lama disana.

Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati Bae Irene sudah kembali dengan terlampau cepat.

Ia tersenyum cerah kearahnya. Berdiri didepan pintu apartemen mereka, tapi kali ini tanpa membawa apa-apa.

Kemana kopor-kopor berat yang terakhir kali Jongin lihat?

"Cepat sekali?" Katanya sembari membukakan pintu lebih lebar.

"Tentu, aku terlalu terburu-buru kemarin, sampai lupa sesuatu." Jawab Irene lalu masuk kedalam.

Jongin hanya mampu mengernyit, apa yang dia lupakan?

Sejauh 8 bulan tinggal bersama Bae Irene ia tetap tidak dapat mengerti dengan jalan pikirannya, wanita itu selalu tampak misterius.

Hubungan mereka memang tampak begitu rumit, keduanya tidak memiliki hubungan apapun, kendati Irene menghendaki permintaan Jongin untuk tinggal bersama.

4 tahun lamanya mereka sudah saling kenal, dengan kesungguhan Jongin yang tak pernah memudar.

Selalu bertahan meskipun Irene sempat beberapa kali berkencan dengan teman lelakinya yang lain, begitupun sebaliknya dengan Jongin. Namun hatinya selalu kembali memanggil nama Irene.

Entah sihir apa yang ia gunakan, Jongin bagai tak mampu berpaling kepada wanita manapun selain dirinya.

Hingga ia membuat pilihan paling besar dalam hidupnya.

"Mari tinggal bersama."

Itulah yang ia katakan pada Irene, dan wanita tersebut hanya menatap Jongin seakan terkejut.

Namun setelah beberapa lama menunggu jawaban dengan penuh harap, akhirnya Irene pun menyetujuinya.

Mereka memang masih berstatus teman, namun kegiatan seks yang selalu Jongin mulai tak pernah ia tolak.

Jongin yang dominan, dan Jongin yang dewasa.

Tapi entah kenapa Irene masih merasa kurang, tubuhnya menginginkan sosok lain yang lebih pendiam dan kikuk. Penuh dengan rasa canggung dan kepolosan murni.

Ia terlalu menginginkan Jungkook.

Jungkook yang muda dan penuh oleh gairah.

Maka dari itu ia memutuskan untuk kembali.

.

.

TBC

Maaf ya karena update terlalu lama, ell sempat mengalami krisis kata-kata, atau WB :'

Disini kebanyakan flashbacknya, nanti di next chapter ell bakal masukin lebih banyak penjelasan. Kalau masih bingung boleh tanya-tanya :'V

Ell ngetiknya pas lagi banyak orang jadi agak kurang fokus, kalau ada kekurangan, ya mohon maaf sekali.

Next bab akan fast up, seneng kan?

Oh ya itu demi kalian kok bae..

Jadi jangan lupa feedback nya.

See you~