CLAIMED

By

Ellden-K

Prev : Mereka memang masih berstatus teman, namun kegiatan seks yang selalu Jongin mulai tak pernah ia tolak.

Jongin yang dominan, dan Jongin yang dewasa.

Tapi entah kenapa Irene masih merasa kurang, tubuhnya menginginkan sosok lain yang lebih pendiam dan kikuk. Penuh dengan rasa canggung dan kepolosan murni.

Ia terlalu menginginkan Jungkook.

Jungkook yang muda dan penuh oleh gairah.

Maka dari itu ia memutuskan untuk kembali.

Bab 18 - Damn it Kim Taehyung!

Jungkook membuka mata setelah entah sejak kapan ia mulai ketiduran dikursi kerjanya yang empuk dan nyaman.

Pria itu segera bangkit sembari mengusap wajah baru bangun tidurnya dan pergi keluar sembari melirik Monza Calibre 17 dipergelangan tangan kiri.

Waktu menunjukan pukul 12 siang, berapa lama ia tertidur? Astaga tengkuknya sampai terasa sakit.

Dilangkahkan kakinya menuju dapur dan ia segera mendapati Yugyeom tengah mempersiapkan makan siang bersama seorang lelaki cantik yang ia ketahui bernama Minki.

"Selamat siang tuan, anda ingin sup jagung hangat?"

Jungkook sudah duduk di meja makan ketika ia menggeleng, melihat itu Yugyeom segera mengernyit bingung. Tidak biasanya Jungkook menolak sup jagung lezat buatan Yugyeom, kecuali jika ia benar-benar sedang tidak nafsu makan.

"Aku ingin ramen saja." Sahutnya kemudian.

"Tuan, ramen tidak baik untuk pencernaan anda. Lagipula, tidak biasanya—"

"Aku hanya ingin itu saat ini, lagipula sudah lama sekali aku tidak memakannya."

Yugyeom tak dapat menyela lagi jika Jungkook sudah bersikeras, kemudian ia hanya bisa menghela nafas.

Minki menatap Yugyeom untuk sesaat.

"Tapi kita tidak punya persediaan ramen, tuan."

"Suruh dia membelinya." Jungkook menunjuk Minki sambil lalu, yang ditunjuk hanya menegang kaku dan mengangguk patuh.

Beberapa saat setelah Minki pergi untuk membeli ramen, Jungkook pun berdehem ketika Yugyeom tengah membuat jus mangga dan susu.

"Taehyung. Saat kau mengantarnya apa ia bertanya sesuatu?"

Yugyeom nampak tak terganggu, namun pertanyaan Jungkook barusan cukup untuk membuat alisnya mengernyit.

"Dia tidak berbicara apa-apa, tuan."

Jungkook menyesap jus mangga yang baru saja Yugyeom letakan diatas meja.

"Apa dia kelihatan muram?"

"Tidak, dia mendapat teman baru dengan cepat. Sebelum masuk kelas, 2 anak laki-laki menyapa Taehyung dan mereka kelihatan akrab." Yugyeom sengaja tidak mengatakan kalau salah satu temannya itu merangkul Taehyung, ia sudah dapat membaca bagaimana reaksi Jungkook nanti.

Jungkook cuma mengangguk saja, ia sudah tak memiliki kalimat lain untuk menanggapi Yugyeom.

"Tapi tuan, kenapa anda tiba-tiba ingin ramen?" Tanya nya kemudian. Mencoba meraih topik lain.

Sang tuan hanya mengedik bosan.

"Itu cuma alibi ku agar pelayan itu tidak mendengar pembicaraan kita. Juga, memang karena aku ingin makan ramen saja."

Alasan dengan dua makna.

Yugyeom sempat memprediksikannya tadi.

Tipikal Jeon Jungkook sekali.

Bell makan siang baru saja berbunyi dan para siswa segera berhamburan keluar untuk mencari makanan atau sekedar berkumpul bersama.

Tadi pagi, Minjae datang dengan wajah ditekuk dan ia sama sekali tak mengindahkan Taehyung yang duduk disampingnya. Benar-benar seperti saat pertama mereka bertemu.

Minjae begitu dingin dan seperti tak ingin terusik.

Taehyung kebingungan, bahkan baru kemarin ia menyelamatkannya. Tapi sikap heroik itu berubah kembali jadi dingin.

Maka dari itu, Taehyung sama sekali tak berniat untuk menyapanya. Bahkan ketika Sungjae mengusulkan untuk pergi ke kantin.

Ia pergi bersama Sungjae dan Sehun, meninggalkan Minjae sendirian tanpa berbasa-basi atau mengajaknya makan bersama.

Apakah Minjae marah karena perilaku Jungkook kemarin? Pria itu membawa Taehyung pergi tanpa sedikitpun berterima kasih kepada Minjae, atau— ya ini memang bukan salah Jungkook sepenuhnya.

Taehyung telah berbohong tentang beberapa hal, tapi Jungkook pasti sudah tahu sebelum ia mulai berkilah.

Dua pria ini. Minjae dan Jungkook. Taehyung tak dapat mengerti bagaimana jalan pikirannya.

"Hey, Kim Taehyung. Kenapa kau melamun? Sedang tidak nafsu makan ya?" Lagi-lagi, Sungjae membuyarkan pikirannya yang berkelana.

Taehyung sampai lupa kalau ia sedang dikantin yang begitu ramai. Ditatapnya dua sahabat yang selalu bersama itu, lalu menggeleng malu.

"Tidak kok, aku cuma memikirkan sesuatu."

"Cepatlah makan, sebentar lagi jam masuk kelas." Tumben Sehun bicara? "Jangan buat kami mesti menunggumu selesai makan ketika bell berbunyi."

Taehyung mendelik tidak suka.

Apakah Sehun berbicara hanya saat ia merasa kesal saja? Orang itu bahkan tak repot-repot menatap Taehyung yang terkesiap karena gumaman sinisnya.

Oh, ia hampir lupa, satu orang lagi yang sama sekali tak dapat Taehyung mengerti.

Sehun baru saja masuk kedalam daftarnya.

"Jangan terlalu kasar Sehun-a, barangkali Taehyung hanya sedang memikirkan hal lain. Kemarin dia hampir dikeroyok oleh geng Lisa dan Luhan." Sergah Sungjae sembari menyuap nasi ke mulutnya.

"Itu bukan masalah kok, sungguh sudah bukan hal besar." Taehyung kelihatan malu-malu. Kemudian ia memulai makannya yang tertunda.

"Menyusahkan."

Meskipun Sehun menggumamkan itu sambil mendengus, namun Taehyung masih dapat mendengarnya dengan jelas. Ia lalu menatap Sehun seakan berkata, apa masalahmu man?

Ia sengaja tak menanggapinya dan menahan lengan Sungjae ketika pemuda itu hendak menyela kalimat tersebut.

Sungjae cuma berkata tanpa suara kearah Taehyung.

"Jangan hiraukan orang gila ini, dia cuma cemburu."

Taehyung sih mengangguk saja, lalu dengan kecepatan angin ia segera menandaskan kotak bekalnya.

Ya, mengingat peristiwa naas kemarin, ia pun berinisiatif untuk membawa bekal saja. Berhubung semua masakan paman Yugyeom (Taehyung mulai memanggilnya paman beberapa hari terakhir) tak pernah berada di peringkat terbawah, ia tentu tidak merasa ragu untuk minta dibuatkan bekal.

Meski Taehyung luar biasa ingin membuat bekalnya sendiri.

Yugyeom tetap bersikeras melarangnya.

Sore hari semakin kentara akibat langit yang berubah kemerahan, dibangkunya Taehyung masih terduduk dan merapikan meja. Sedangkan Sungjae sedang mengetuk-ketuk meja dibelakang Taehyung sembari tersenyum sumringah, beda lagi dengan Sehun yang nampak bosan.

Kelas semakin sepi saja ketika satu siswa selain mereka berjalan keluar dengan menggendong ransel besarnya.

Taehyung sudah hendak beranjak saat Sungjae dan Sehun berdiri menunggu dideretan bangku depan, namun sebuah tangan kokoh tiba-tiba mencekal hingga Taehyung hampir kembali terduduk.

Ia segera menoleh, lalu tampaklah wajah datar Minjae yang menatap tepat ke retinanya.

Entah karena ia yang menahan pipis atau karena Minjae yang tetiba menatapnya dengan mata cokelat itu, tapi Taehyung merasa merinding.

"E-eh? Ada... Apa?"

Sungjae mendekat untuk melihat keadaan.

"Semuanya baik-baik saja, Taehyung?"

Mulutnya terbuka untuk menjawab, kendati aneh sekali karena bukanlah suaranya yang terdengar.

"Dia akan pulang denganku." Minjae semakin mengeratkan pegangannya hingga Taehyung terpaksa mesti kembali duduk. Ia meringis karena ngilu itu masih ada. "Kalian pergilah duluan."

"Kau mau main tikung ya Minjae?" Sungjae bertolak pinggang sembari menatap pemuda ganteng yang mencekal Taehyung. "Sejak awal Taehyung kan mau pulang dengan kami!"

"Biarkan saja dia bersamanya, Sungjae-a." Dari belakang Sehun terdengar berujar malas.

"Tidak bisa begitu dong!"

"Minjae, aku berjanji akan pulang dengan mereka." Kata Taehyung pelan meminta pengertian.

Lagipula kenapa Minjae begitu tiba-tiba begini sih? Taehyung kan jadi bingung.

"Aku harus berbicara denganmu," katanya sambil menatap Taehyung. "Kemarin aku menyelamatkanmu, kenapa hari ini kau seperti tak pernah terjadi apapun?"

Ia tak salah dengar kan?

Dia sendiri yang diam dan bersikap dingin, kenapa harus bertanya padaku?

"Kau sendiri yang bersikap dingin, memangnya aku harus apa?"

Minjae nampak terperangah sebentar.

"Setidaknya kau bisa menyapaku, atau bilang terima kasih."

"Kalau ingin menolong ya jangan pamrih." Itu Sungjae, tentu saja.

Pemuda yang merasa tersinggung hanya mendelik sinis, kendati ia tak menjawab apa-apa.

"Maaf, kukira kau marah padaku. Maka dari itu aku tidak berani menyapamu. Tapi terima kasih untuk kemarin ya." Katanya dengan wajah yang hampir melelehkan hati ketiga pemuda disana. "Sekarang, bisakah kita pulang saja? Kau boleh pergi bersama kami juga."

Udara seakan hilang selama beberapa detik, tapi kemudian Minjae menyela dengan cepat.

"Aku masih ingin berbicara denganmu." Penuh penekanan dan wajahnya tak menunjukan niat untuk berbicara secara baik-baik. "Berdua saja."

"Berhenti disitu Kim Minjae, kau tidak bisa bersikap semaumu begitu."

"Kau punya masalah Yook Sungjae?"

"Sudahlah, mari pulang. Biarkan mereka sendiri." Sehun sudah bersiap menahan bahu Sungjae jika seandainya pemuda itu terpancing dengan omongan Minjae.

Namun Taehyung segera menengahi.

"Teman-teman, kita tidak perlu seperti ini oke? Minjae, aku sudah berjanji akan pulang bersama mereka, jadi jika kau ingin bicara katakan saja sekarang."

Semuanya terdiam untuk sesaat, beberapa kali Taehyung menatap Minjae dan Sungjae bergantian. Seakan ketegangan antara keduanya tak akan pernah surut, ia pun menggaruk pipi yang tak gatal.

"Atau kita bisa pulang berempat saja, bagaimana? Aku—"

"Jum'at nanti, mari jalan denganku."

Jungkook sudah kembali mengandangkan diri ketika Taehyung dan Yugyeom datang memasuki rumah.

Seperti biasa Yugyeom akan selalu menjemput Taehyung tepat beberapa menit sebelum jam pulang sekolah, sengaja menggunakan mobilnya sendiri agar tidak terlalu mencolok. Ia punya sebuah BMW keluaran lama, dan merasa sudah terlanjur nyaman untuk menggantinya.

Meskipun begitu Yugyeom tentu selalu merawat barang kesayangan tersebut dengan amat baik, hingga tak mungkin celaka ketika melakukan perjalanan jauh.

Kali ini Taehyung naik ke mobil dengan tanpa bisik-bisik aneh penuh tuduhan, karena Yugyeom terlihat cocok sekali menjadi seorang ayah.

Berbeda saat Jungkook yang menjemputnya kemarin, ia menggunakan Range Rovernya yang tinggi dan hitam.

Sepertinya, mulai hari ini, Taehyung akan melarang Jungkook untuk pergi menjemput lagi, itupun jika ia berhasil menemui pria tersebut.

Seharian ini Taehyung tak menemukan Jungkook dimana-mana, bahkan ketika ia menjelajahi kamar mereka yang bersebelahan. Pria itu tidak ada disana, membuat Taehyung bingung saja.

Ia pun pergi ke kamarnya sendiri, lalu segera melepas seluruh pakaian dan merenung dibawah guyuran shower.

Teringat akan ucapan Minjae tadi sore, Taehyung segera merona dibuatnya.

Amat kentara saat Sungjae mengernyit terkejut dengan usulan Minjae itu, awalnya ia menyalak tidak suka, namun Sehun berhasil menyeretnya keluar kala Taehyung benar-benar tak mampu mengeluarkan kalimat apapun.

Jelas sekali Kim Minjae tertarik pada Kim Taehyung, maka dari itu Sehun membawa sahabatnya pergi. Meskipun agak sedikit kesulitan namun Sungjae akhirnya menurut juga, ia hanya mendengus jengkel lalu menyerapah Minjae untuk sesaat.

Sehun tak pernah melihat sahabatnya bertingkah demikian, itulah sebabnya ia harus lebih waspada dan melakukan pencegahan.

Taehyung adalah seorang yang tidak untuk didekati, Sehun bisa merasakan itu. Mengingat sebuah Range Rover yang menunggunya didepan gerbang kemarin sore, melihat penampilan dan menilik isi dompetnya.

Anak itu bukan pemuda sembarangan.

Ketika akhirnya dua sahabat itu meninggalkan mereka berdua, Minjae semakin mengeratkan genggamannya ditangan Taehyung, membuat ia merapatkan paha defensif. Matanya mengedip waspada dan Minjae segera mendengus geli melihatnya.

"Aku cuma mengajakmu pergi, mengapa kau seperti ketakutan begitu?"

"C-caramu mengajakku itu hampir seperti mafia yang menagih hutang, tahu." Kata Taehyung. "Bisakah kau melepaskan tanganku? Rasanya sakit, omong-omong."

Sembari menikmati air yang mengalir mengguyur tubuh, Taehyung pun mengusap pergelangan tangannya. Dipejamkanlah kedua mata dengan bulu lentik itu, kemudian ia kembali teringat pada percakapannya dan Minjae.

Pemuda itu tidak melepaskan tangannya, namun Minjae malah mengendurkannya dan menggunakan ibu jari untuk mengelus permukaan memerah dipergelangan Taehyung.

"Apa aku benar terlihat seperti itu?" Suaranya merendah satu oktaf, dan ia masih menatap Taehyung dalam-dalam. "Maklumi saja, aku tidak pernah meminta siapapun untuk pergi bersamaku."

Taehyung terdiam untuk sesaat, mencoba menstabilkan nafasnya dan rasa merinding yang mulai makin menjadi.

Dia belum pipis demi Tuhan!

"Memangnya kenapa kau ingin mengajakku pergi jalan?"

"Alasan apapun tidak penting, aku hanya ingin melakukannya." Minjae sempat menatap arah lain, kemudian kembali berujar. "Sebenarnya, aku ingin menonton sebuah film."

Entah Taehyung yang merasa degupan jantungnya terlalu keras hingga menghalangi pendengaran, ataukah suara Minjae memang semakin mengecil seperti malu.

Apa dia berkata ingin menonton film?

"Film apa?" Merinding itu semakin datang dan perutnya mulai berdenyut protes. Taehyung nampak bergidik kecil lalu mendesis sesaat, namun Minjae sama sekali tak mengubrisnya.

Minjae tampak ragu, namun ia menghela nafas juga.

Ia mulai mendekat, lalu menggunakan satu tangan lain yang bebas ditaruhnya dekat pipi Taehyung seperti posisi hendak berbisik.

Kemudian, kala bibirnya seperti hampir menyentuh permukaan pipi Taehyung..

Pria cantik kita tiba-tiba tersentak seperti baru kena sesuatu, tubuhnya kaku dan Taehyung segera menyambar ranselnya.

"Maafkan aku, tapi aku harus pergi sekarang juga. Sungguh ini keadaan yang mendadak. Sekali lagi maafkan aku!"

Belum apa-apa, Taehyung pun menyentak lengan Minjae yang nampak terkejut bukan main. Ia hanya tertegun ketika melihat tubuh kurus Taehyung yang pergi menerjang pintu kelas.

Taehyung menutup mukanya malu hingga guyuran air yang terjun dari atas bercipratan ke dinding, kemudian ia menyugar rambutnya kebelakang dan meraih sabun mandi diatas rak, menekan itu hingga larutan kental berwarna putih memenuhi permukaan tangan.

Ia memandanginya sebentar.

Seperti teringat sesuatu. Pikirnya malu.

Taehyung mendengus, ia pun mengecilkan laju air dan menggosok badannya dengan sabun beraroma susu tersebut. Rasanya nyaman dan kepenatan tiba-tiba menghilang.

Ia mendesah lega, namun kembali menepuk wajahnya sembari mengerang ketika mengingat alasan Taehyung berlari dari Minjae ialah karena tak bisa menahan kencing.

Memalukan sekali!

"Apa yang kau lakukan?"

Taehyung hampir menjerit ketika mendengar suara Jungkook yang tiba-tiba melesak diantara acara berangannya.

Ia segera membasuh wajah guna menghilangkan busa disana, lalu berbalik dan mendapati Jungkook tengah berdiri didekat kerai yang dibukanya dengan hanya mengenakan celana pendek saja.

Dadanya tak terhalang apapun, dan ia melipat tangan seperti biasa.

Taehyung sampai tidak sadar kalau ia baru saja menganga terlalu lama.

Ia mengatupkan rahang lalu menatap Jungkook seakan marah, kemudian berbalik dan melanjutkan mandinya tanpa mengubris Jungkook sedikitpun.

Tentu saja Taehyung masih marah, Jungkook dapat melihat rona samar kemerahan dipantatnya masih ada.

Namun Jungkook berniat untuk tidak terlalu buru-buru, ia mengerti jika seseorang sedang marah maka ia harus menunggu beberapa saat agar tak terkena dampak terlalu serius.

Ia hanya memperhatikan cara mandi Taehyung yang unik, dimana ia terbiasa mencuci rambutnya dengan tubuh masih dipenuhi oleh busa.

Taehyung sadar kalau Jungkook masih berdiri dibelakangnya, memperhatikan dalam diam dan tidak berniat mengatakan satu patah katapun.

Hal tersebut malah membuatnya semakin kesal, tak adakah inisiatif untuk meminta maaf? Taehyung masih marah pada Jungkook, harusnya pria itu tahu.

Ia pun kembali memutar keran agar air mengguyur deras, namun karena Taehyung yang terlalu diliputi oleh perasaan kesal, arah keran yang ia putar malah berlawanan.

Jadilah air panas nun mendidih yang datang menerjang.

Merasakan kulit kepalanya seperti terbakar akhirnya Taehyung menjerit dan pergi menjauh hingga Jungkook yang masih terdiam dibelakang sama terkejutnya.

Pria itu segera melompat untuk menahan Taehyung yang hampir terjungkal kebelakang lalu merasakan siraman panas menyengat itu menerjang punggungnya.

Jungkook mengerang, lalu sebelah tangannya terulur untuk memutar arah keran.

Tergantilah sengatan nyeri dari air panas tersebut dengan guyuran sejuk yang kian membasahi tubuhnya dan Taehyung.

Jungkook mendesah lega, sedangkan pria kecil penuh busa yang masih ia peluk nampak memegangi bahunya panik.

"Astaga, t-tuan tidak apa-apa? Itu sakit? Maafkan aku."

Busa dirambut dan wajahnya meluruh juga, ia menatap Jungkook sembari mendongak panik. Sedangkan pria tampannya kini sedang terpejam dan menarik nafas.

Keduanya basah kuyup dan Taehyung dapat merasakan benda berat yang mengganjali perutnya, terasa hangat dan masih terhalang sesuatu.

Jungkook pun membuka mata sambil menghela nafas, lalu nampaklah kernyitan khas diwajah seriusnya.

Oh, Taehyung tidak menyukai ini.

"Dasar teledor. Bagaimana jika kau terluka gara-gara ini?"

Taehyung cuma mengigit bibirnya, kemudian menyembunyikan wajah didada bidang Jungkook.

"Aku sedang marah padamu."

Marah? Seperti ini?

Lagi-lagi, Jungkook menghela nafas.

Ia mundur selangkah untuk menanggalkan celananya yang kebasahan, lalu berdiri didepan Taehyung sama tanpa mengenakan apapun. Kedua tangan menangkup wajah Taehyung penuh kelembutan, dan Jungkook menundukan wajahnya untuk segera memagut bibir Taehyung.

Kali ini tanpa dengusan penuh nafsu, yang terdengar hanya decakan halus dari bibir bertemu bibir. Jungkook mengecapnya ketika itu hampir terlepas, menimbulkan suara kecipak basah diantara deru air yang berjatuhan.

"Basuhkan tubuhku.." Bisiknya dengan tatapan hangat.

Taehyung tidak menyetujui apapun, namun ia tetap meraih sabun cair di rak dan mulai menggosok dada dan perut Jungkook hingga berbusa.

Pria itu hanya memperhatikannya dalam diam, dan sesekali mengusap pantat Taehyung cukup lembut, bahkan ketika pemuda itu berjengit kaget awalnya, Jungkook semakin merapatkan tubuh mereka.

Taehyung membalikan Jungkook agar membelakanginya, ia tak memprotes apapun namun Jungkook tetap melakukannya. Kemudian nampaklah rona kemerahan disekujur punggung sampai tengkuknya.

Ia segera mengusap itu dengan tangan lembutnya, mengecup tulang belakang Jungkook ketika air meluruhkan busa sabun yang tercium wangi.

"Ini salahku."

Jungkook kembali berbalik setelah mendengar gumaman itu, lalu ia merunduk untuk menyesap leher jenjang Taehyung, mengusap dengan lembut permukaan bokong pemudanya yang licin dan halus.

"Bukan salahmu." Katanya sembari mengecupi pipi Taehyung. "Tapi yang satu ini benar salahku."

Kemudian Jungkook meremas bokong Taehyung, pelan namun menggairahkan.

Pemuda itu tak menjawab apa-apa, ia hanya balas memeluk Jungkook semakin erat, lalu sebelah tangannya turun kebawah untuk membelai bagian lain yang belum sempat ia jamah. Perlahan-lahan, benda itu semakin naik dan berkembang, sedangkan disisi lain Jungkook mulai melancarkan godaannya di bibir Taehyung.

Nafas semakin memberat seiring dengan terbangunnya hasrat yang menagih kepuasan.

Hingga kemudian semuanya terjadi begitu cepat.

Jungkook yang mematikan shower langsung melesat ke dalam kamar dengan Taehyung dalam gendongannya, sepasang handuk tebal terlupakan seketika, dan udara sejuk berubah panas ketika ia menjatuhkan tubuh diatas ranjang, menindih Taehyung diantara kungkungan ototnya yang kokoh nun keras.

Permukaan leher yang nampak licin itu mendapatkan sebuah jejak hangat tepat disela bahu, dan Taehyung hanya mampu mengerang ketika Jungkook menggoda puting tegangnya menggunakan ujung lidah.

"Jangan marah lagi." Jungkook mendongak disela kegiatannya menghisap permukaan perut Taehyung, pemuda itu balas menatap dengan sorot terkabut nafsu, tapi kemudian mengangguk juga.

Ia belai rambut basah Jungkook, lalu dengan punggung jari telunjuknya yang menekan bibir bergigi kelinci tersebut Taehyung tersenyum, dan Jungkook segera mengigit lembut permukaan kulitnya.

Dengan itu, ia mendesah lesu dan punggungnya terangkat indah kala Jungkook meraup seluruh kebanggaannya untuk ia miliki. Kepala berambut jelaga tersebut menghisap dan menghempas menuju selangkangan Taehyung. Terus-terusan memompa kenikmatan luar biasa yang menyerang setiap saraf ditubuhnya.

"Daddy!" Taehyung menjerit dengan suara putus-putus sambil menjerat lapisan linen yang nampak berantakan.

Dadanya naik turun dengan panik ketika letupan gairah itu semakin mendekat.

"Tolong lepas—, aku mau—"

'PUK'

Ia menjatuhkan kepalanya diatas bantal ketika kenikmatan itu meledak sesaat sebelum Taehyung mendesah lega, pinggul mengejang sebentar dan Jungkook terdiam menunggu mulutnya sampai penuh.

Udara seakan menderu masuk kedalam paru-parunya mana kala Taehyung meraup itu dengan mulut. Bintang-bintang bagai bertaburan diatas wajahnya, dan langit terdengar menyoraki penuh kegembiraan.

Oh, Taehyung bisa melihat kembang api yang meletup-letup didalam kepalanya.

Ini benar teramat memabukan. Jungkook sungguh terlalu ahli untuk urusan seperti demikian.

Beberapa saat terlalui dan kehangatan terasa hilang untuk sekejap, kendati Jungkook nampak telah mengangkangkan dua paha Taehyung sambil tersenyum, ia menciumnya menggunakan lidah, masih terasa asin dan sedikit aneh. Namun Taehyung tak dapat menemukan lebih banyak cairan yang baru saja ia keluarkan selain hanya mengecap sisanya saja.

Ia menatap Jungkook tak percaya ketika ciumannya terlepas.

Jungkook hanya menyeringai lalu menjilat bibirnya sendiri.

"Kau terasa sangat lezat sayang."

Kemudian tergantilah satu keping kenangan buruk.

Taehyung hanya mampu merona dan kembali meraup tengkuk Jungkook untuk ia peluk erat-erat.

Kemudian, tanpa ia sadari Jungkook telah melakukan penetrasi dengan kebanggaannya yang diluluri pelumas, ia mendorong perlahan-lahan ketika dirasa Taehyung menegang kaku dan meringis kecil.

"Kali ini perlahan sayang, daddy tidak akan menyakitimu." Bisiknya ditengah dengusan nafas lembut nun panas.

Bulir air dingin berganti dengan keringat ketika Jungkook semakin melangkah begitu cepat, membawa Taehyung terbang bersamanya menuju nirwana yang penuh oleh terjangan birahi dan kepuasan total.

Jungkook merintih tepat didepan wajah Taehyung, bercinta tanpa pengaman membuatnya jauh lebih sensitif, hingga ujung kenikmatan itu datang terlalu dekat.

Ia mengurangi intensitasnya, mulai bergerak perlahan-lahan dan Taehyung sama sekali tak kuasa untuk menahan suaranya agar tetap kedengaran biasa saja.

Peduli setan, jika Jungkook terus berlaku seperti demikian Taehyung mungkin akan kembali datang untuk yang kedua kalinya.

Ia menatap Jungkook, menumpukan kedua tangan dibahu dan lehernya, lalu sepasang lengan kurus itu merambat turun pada perut dan dada Jungkook.

Taehyung menggodanya terang-terangan, dengan tubuh berjingkat lembut ia pun menjepit kedua puting Jungkook dan memelintirnya gemas.

Sial, belajar dari mana dia?

"Oh sayang.." Nafasnya gemetaran, lalu ia pun menyambar bibir Taehyung penuh nafsu. Sebelah tangan turun kebawah guna melaksanakan pembalasan.

"Ahh jangan— aku hampir datang lagi—"

Rektumnya mengetat seraya perut mengejan memuntahkan muatan.

Sedangkan Jungkook menggeram berat sembari menunggu Taehyung selesai dari pelepasannya. Ia merasakan kehangatan itu menoreh di perut, dada dan dagunya.

Jungkook mengusap rahangnya yang terkena cairan, lalu mengoleskan itu diputing Taehyung.

Ia terkekeh kecil.

Hanya menyeringai dan mendengus senang.

"Cantik sekali." Jungkook mendesah, kemudian ia kembali melakukan pergerakan. Mulai memompa lebih cepat untuk pencapaiannya sendiri.

Dipagutlah bibir penuh Taehyung, dan ia melumatnya dalam-dalam bagai kehausan, lalu ketika dengusan nafas itu berubah menggebu, Jungkook pun melepaskan ciumannya.

Ia menatap Taehyung yang berkeringat dan terengah dibawahnya, terlonjak kuat dan merintih nikmat kala Jungkook semakin menyatukan tubuh mereka.

Ledakan itu terasa semakin dekat, dan mana kala kebanggaannya berdenyut liar tak menentu ia pun segera mencabut keluar ereksi nya lalu mengocok itu dengan gerakan cepat diatas perut Taehyung.

Saat ia merasa kosong karena Jungkook sudah tak menyatukan tubuh mereka lagi, kepalanya terangkat untuk menyaksikan puncak kepuasan pria Jeon tersebut.

Luapan cairan hangat itu tumpah membasahi perut dan dada Taehyung, sedangkan Jungkook hanya mampu mengerang lalu menyerapah dengan rahang terkatup.

Mulut bergigi kelinci itu terbuka, beserta mata yang tertutup, Jungkook tak henti mendesahkan kepuasannya.

Terdiam beberapa saat, Jungkook pun menunduk setelah dirasa terjangan rasa nikmat itu usai tak bersisa. Ia bernafas dengan begitu leluasa kali ini, kemudian kembali meraup bibir Taehyung yang sudah siap menyambutnya.

Mereka berciuman untuk sesaat, saling lumat dan hisap. Sebelah tangan Taehyung nampak meremas tengkuk Jungkook, dan ketika tautan bibir itu terlepas—

"Maafkan aku untuk apa yang aku lakukan kemarin." Jungkook berbisik dengan nafas lembut tepat didepan telinga Taehyung. "Aku sudah keterlaluan."

Kemudian, pemuda cilik tersebut pun mengangguk tanpa ragu.

Aku memaafkanmu Jeon Jungkook, sudah sejak awal kau mulai menciumku dikamar mandi.

Taehyung yakin saat ia membuka mata malam pastilah sudah berganti menjadi pagi buta. Ia hendak beranjak kekamar mandi, namun sesuatu yang melingkari perutnya membuat Taehyung kesulitan bergerak.

Ia mendapati wajah tertidur Jungkook tepat ketika menoleh kebelakang, nampak masih sama bertelanjang meski tubuhnya tertutupi selimut tebal.

Taehyung mengangkat lengan berotot Jungkook untuk segera melepaskan perutnya, namun saat Taehyung hampir bebas tangan itu kembali mendekapnya. Kali ini dengan Jungkook yang bergumam malas dari belakang, suaranya serak dan dalam, khas sekali baru bangun tidur.

"Mau kemana?"

"Kamar mandi," katanya setengah malas. "Dan harus secepatnya." Setelah mengatakan itu, pelukan diperut pun melonggar tanpa perlu perintah kesekian.

Jungkook nampak membenahi diri ketika Taehyung sudah bangkit dalam keadaan polos, berjalan kekamar mandi tanpa menoleh kebelakang.

Taehyung melakukan kegiatan alamnya cukup lama dikamar mandi, berharap Jungkook telah kembali terlelap saat ia selesai nanti.

Namun ketika ia melangkah keluar dengan handuk terlilit didada, betapa heranlah dia kala melihat Jungkook yang kini malah bersandar dikepala ranjang sambil memangku tangan.

Pria itu berselimut sampai pinggul dan diatas pangkuannya terdapat sebuah nampan, lalu penutup makanan dari alumunium tampak menyembunyikan sesuatu didalamnya.

Taehyung pun mendekati dengan wajah penasaran.

"Apa itu?" Katanya sembari beringsut naik dan duduk disamping Jungkook.

"Mata yang tajam anak muda, kalau begitu bukalah sendiri."

Kali ini, Jungkook nampak menadah nampan tersebut, kemudian didekatkannya kepada Taehyung yang kini menatap bingung.

Ia terdiam untuk sesaat dan sebelah tangan terulur guna mengangkat penutup itu perlahan-lahan.

Taehyung mengira ia akan disuguhi suatu makanan yang tak mungkin ia hafal namanya, namun ketika sebuah kotak segi panjang dengan logo apel setengah tergigit itu tertangkap matanya, Taehyung segera menoleh pada Jungkook meminta penjelasan.

"Anggap saja hadiah permintaan maaf." Katanya. "Lagipula kau tentu membutuhkan yang satu ini."

Jungkook memberinya ponsel yang nampak terikat oleh pita warna ungu, seperti tak bermodal sekali untuk menciptakan suasana romantis, tapi harga ponsel itu pastilah selangit.

"Ini, untukku?"

Pertanyaan retoris itu membuat Jungkook mengernyit, kendati ia tetap mengangguk juga.

"Tadinya aku tertarik dengan sebuah Volvo seri terbaru, tapi aku ingat kau masih kecil."

Taehyung segera mengerang.

"Tuan!"

"Daddy." Jungkook mengoreksi sambil terkekeh tanpa suara.

Ia mengambil ponsel yang terikat pita itu lalu meletakan nampan beserta penutupnya diatas nakas.

"Manfaatkan benda ini dengan baik, aku sudah menyimpan nomorku disini." Jungkook nampak melepas pita yang melilit, lalu memberikan ponsel tersebut kepada Taehyung. "Aku akan memeriksanya tiap minggu, jadi pastikan hanya nomorku saja yang tertera disana."

Mendengar itu, Taehyung pun mendelik jengkel sembari bibirnya mengerucut lucu.

Baru saja mau merasa senang, ternyata menggunakan ponsel saja ia atur.

Taehyung pergi sekolah seperti biasa, dan diantar Yugyeom selayaknya hari-hari sebelum itu.

Meski pagi ini Jungkook tetap tak ikut sarapan dengannya karena urusan pekerjaan, yang penting Taehyung sudah tidak merasa dibuang lagi seperti kemarin.

Jungkook sudah minta maaf, dengan cara paling tidak romantis menurut Taehyung.

Bukankah ini lebih terlihat seperti melakukan suap dari pada meminta permohonan maaf?

Taehyung tersenyum sendiri mengingat itu, Jeon Jungkook memang terlalu sulit untuk ia tebak.

"Wah, apa yang membuatmu tersenyum pagi-pagi begini Taehyung?" Itu Sungjae, dan seperti biasa Sehun sudah terduduk dibelakang karena kali ini Sungjae menduduki bangku Minjae yang masih kosong.

Taehyung sudah ada dikelas sejak beberapa menit lalu, dan nampaknya sahabat double 'S' itu baru saja tiba.

"Selamat pagi Sungjae." Taehyung menimpali dengan topik lain sambil tersenyum malu.

Dalam beberapa detik yang singkat, Sehun sempat mendongakan kepalanya untuk melihat senyuman manis itu secara cuma-cuma. Meskipun hanya dari samping.

Ia segera mengalihkan atensinya ke arah lain.

"Kemarin itu, Kim Minjae tidak melakukan hal-hal yang merugikanmu kan Taehyung?" Sungjae kembali bersuara, kelihatan masih kesal karena kejadian kemarin sore.

Taehyung terdiam, ia ingat kalau Minjae sempat mengajaknya pergi nonton film, entah kapan. Tetapi ia malah meninggalkannya akibat keadaan mendesak yang melibatkan masa depan kantung kemihnya.

Rona kemerahan segera merambati pipi dan Taehyung tak sadar kalau ia mulai mengigiti bibir gugup.

"Eh? Taehyung kau memerah! Apa yang dia lakukan padamu huh?" Sial. "Jangan bilang kalau alasanmu tersenyum-senyum tadi itu adalah Minjae?"

Double sial—

Tunggu, Sungjae salah paham.

"Ah, anak itu, dia sudah jadi tukang tikung sungguhan rupanya. Awas saja."

"Tidak kok, kau salah paham. Dia hanya mengajakku pergi jalan." Katanya berniat memberi penjelasan, kendati belum selesai ia melanjutkan kalimat, Sungjae sudah keburu berseru.

"Sial, dia sudah ambil langkah duluan? Taehyung kau menyetujuinya?" Sungjae kelihatan kecewa bercampur main-main, Taehyung jadi bingung bagaimana harus menanggapinya.

"Kau membuatnya bingung Sungjae, kembalilah, Minjae sudah datang." Sehun, tanpa menolehkan wajah pun seperti sudah dapat merasakan keberadaan Minjae yang kini terambang didepan pintu, nampak mengobrol sebentar dengan seseorang.

"Sayang sekali." Gerutunya sambil mengepalkan tangan gemas. Tapi Sungjae tetap berpindah juga kebangkunya dibelakang. "Taehyung, jam istirahat nanti kau harus bersama kami oke? Jangan biarkan si Minjae itu bertingkah sesukanya."

Taehyung cuma tersenyum kikuk, namun ia tak menjawabnya dengan pasti.

Kemudian saat Minjae telah benar-benar duduk disampingnya, Taehyung mendesah lesu dalam hati.

Aku harus meminta maaf pada Sungjae lagi.

Karena dengan tak biasanya Minjae tersenyum miring pada Taehyung, tepat setelah ia meletakan ransel diatas meja.

Sial, peristiwa memalukan kemarin terus melayang dikepalanya.

Waktu istirahat kali ini memang diberikan kepada Sungjae dan Sehun untuk memiliki Taehyung bagi mereka sendiri.

Meski Minjae sempat meminta waktu bicara sebentar dengan Taehyung karena pemuda cantik itu bilang ia akan bersama Sungjae dan Sehun. Sedangkan dua sahabat itu sudah pergi ke kantin lebih dulu.

Akhirnya, Minjae hanya mengungkit sedikit tentang mengapa Taehyung tiba-tiba meninggalkannya bahkan sebelum menjawab pernyataan pemuda itu.

Kendati, jawaban Taehyung yang kelewat lugu malah membuatnya tergelak gemas.

Kebelet pipis. Tidak semua orang akan sejujur itu.

Para siswa dikelas sampai melihat Minjae dengan tatapan aneh sekaligus terkejut.

Tidak biasanya Minjae akan menunjukan emosi seperti demikian, tersenyum saja jarang, tapi kini pemuda itu malah terkikih geli. Taehyung sih cuma terdiam kaku, tidak tahu harus berkata bagaimana lagi. Namun yang ia lakukan hanya menggaruk pipinya saja.

"Sudah kuduga kau memang sangat lugu." Katanya setelah tawa itu berhenti. Ia menatap Taehyung yang kelihatan tidak nyaman.

Minjae sempat kebingungan sesaat.

Namun ketika ia menatap sekeliling, tampaklah beberapa teman sekelas yang menatap keduanya sambil berbisik-bisik. Mereka memang sempat berhenti untuk sesaat karena Minjae menyadari hal tersebut.

'BRAK!'

Minjae memukul meja keras sekali, hingga tak hanya Taehyung yang terlonjak kaget.

Suara gebrakan tersebut cukup menjadi alasan kuat bagi para penggosip itu untuk berhamburan keluar karena takut, beberapa ada yang lari tunggang langgang dan menabrak meja.

Namun Minjae tak mengindahkan itu, ia kemudian menarik nafas dan menatap Taehyung yang kelihatan kikuk.

"Maaf Minjae, aku harus pergi." Karena atmosfer gelap itu Taehyung pun jadi ikut ketakutan, debaran didadanya tentu kelewat keras. Ia sama terkejut seperti beberapa siswa lain, apalagi gebrakan itu tepat terjadi didekatnya.

Minjae tak berniat menahan Taehyung, kendati ia hanya tersenyum miring melihat tingkah menggemaskan itu.

"Terlalu lugu," gumamnya hampir tanpa suara mana kala Taehyung sudah menghilang dibalik pintu. "Namun kelewat menarik."

Seminggu telah berlalu, dan Minjae sama sekali tak mengungkit apapun lagi. Ia tetap bersikap seperti biasa, terkadang baik, namun terkadang merasa tak ingin diganggu, dan Taehyung hanya akan menuruti bagaimana pun suasana hatinya.

Sedangkan Jungkook, ia bilang akan mengurus beberapa pekerjaan dikantor cabang Swiss untuk beberapa hari kedepan, tentu saja hal itu membuat Taehyung murung semalaman.

Akhir pekan ini ia akan kesepian dan merasa bosan jika Jungkook tidak ada.

Namun teringat pria itu mengemban lebih dari 3 perusahaan dengan tangannya sendiri, Taehyung tentu tak dapat merajuk terlalu lama.

Pada Minggu pagi, ia pergi untuk mengantar Jungkook, bersama dengan Yugyeom dan beberapa penjaganya yang akan ikut bersama sang atasan ke Swiss.

Tiga jeep besar itu mulai memasuki sebuah hanggar pribadi, lalu untuk pertama kalinya Taehyung dapat melihat super jet gagah yang hanya mampu ia bayangkan tanpa melihat secara langsung.

"Jangan cemberut, aku jadi tidak tahan untuk menciummu." Kata Jungkook beberapa detik sebelum mobil berhenti tepat didekat pesawat, Taehyung hanya menoleh kemudian tersenyum singkat dan kembali merengut. "Hanya seminggu, aku akan kembali dengan cepat."

"Seminggu itu lama." Taehyung mulai meremat manset Jungkook, ia menggunakan setelannya seperti biasa dan Taehyung sempat melirik dasi yang kini terikat rapi dilehernya.

Mobil berhenti dengan suara halus dan sopirnya Dongmin berujar dari balik kemudi tanpa menoleh kebelakang.

"Kita sudah sampai, pak."

"Beri aku beberapa menit." Timpal Jungkook tanpa mengalihkan atensinya dari Taehyung.

Dongmin mengangguk mengerti lalu meninggalkan kemudi dan menunggu diluar.

"Aku tak bisa membawamu bersamaku karena kau harus sekolah, Taehyung." Katanya sambil mengelus surai lembut pemuda cantik tersebut.

Taehyung sempat tertegun sesaat.

"Kau bisa melakukannya?"

"Sangat bisa."

"Lalu kenapa tidak boleh?" Ia kembali cemberut.

"Besok kau sekolah." Kali ini Jungkook menciumnya tepat dibibir. "Kita lakukan di lain kesempatan, kali ini aku harus mengurus beberapa pekerjaan juga."

Seseorang nampak hampir mengetuk jendela mobil, namun Dongmin segera menahannya.

Orang itu kelihatan bingung untuk sekejap, kendati mengangguk juga.

"Lain kali, janji." Jungkook tak berhenti mengecupi permukaan wajah Taehyung. "Akan kubawa kau kebelahan bumi manapun, jika kita libur sayang."

Namun Taehyung tiba-tiba menghentikan acara kecupan Jungkook dengan mendorong bahunya lembut.

"Tak perlu melakukan itu." Katanya sambil tersenyum, Taehyung kemudian membawa dirinya untuk duduk dipangkuan Jungkook. Kedua tangan mengelus leher tegas dengan nadi yang berdenyut tenang itu begitu lembut, dan dikecuplah bibir penuh Jungkook. "Yang terpenting, pulangnya cepat-cepat."

Jemari lentik itu menarik lepas sampul dasi yang mengikat leher Jungkook.

Perlahan-lahan.

Sembari menatap dari balik bulu matanya, Taehyung mencoba melakukan godaan dengan trik klise yang dengan ajaib begitu mempengaruhi Jungkook.

Hingga ketika dasi itu telah berpindah tangan pada Taehyung, Jungkook sungguh tak sanggup untuk menahan geramannya.

"Oh sayang, aku akan membutuhkan itu untuk pertemuan nanti." Jungkook mengelus pinggul Taehyung sembari mendengus tepat dipipi lembutnya.

"Kau masih punya yang lain didalam kopermu." Taehyung bergumam sembari mengikatkan dasi tersebut dikedua tangannya, lalu mengancangkan ikatan itu dengan mulut.

Lebih dari cukup untuk membuat Jungkook merasakan sesuatu menggeliat dari balik celananya.

"Sial, baby, yang satu ini akan jadi favoritku." Katanya sembari mengecup genggaman tangan Taehyung.

"Favoritku juga."

Ia tersenyum, lalu mengalungkan tangannya pada Jungkook, mencium bibir penuh bergigi kelinci tersebut tanpa malu-malu. Taehyung melenguh kecil ketika Jungkook membalas dengan lebih antusias, menyesap bagai itu adalah ambrosia ternikmat disemesta.

Ketika pagutan terlepas, Taehyung dapat merasakan nafas panas Jungkook yang menggebu-gebu. Pria itu amat terpengaruh olehnya.

Jungkook melepaskan diri dari kungkungan tangan Taehyung, lalu dengan lembut dilepaskannya ikatan itu. Ia membiarkan Taehyung menggenggam dasi tersebut.

"Aku harus pergi sekarang juga."

Taehyung beringsut turun setelah mengangguk patuh, namun ia masih meremat lengan Jungkook tidak rela.

"Aku akan menghubungimu, jangan manja." Sembari mengatakannya, Jungkook terkekeh dan menggesekan kening mereka. "Tak perlu keluar. Aku akan langsung masuk pesawat."

Taehyung mengangguk lagi, namun kali ini tanpa cemberut.

Jungkook pun pergi keluar, dan super jet itu mengudara tepat setelah Taehyung meninggalkan kawasan hanggar. Memisahkan mereka dengan jarak dan waktu.

Taehyung sempat ketakutan, namun diliriknya dasi bercorak hitam dengan garis merah itu lamat-lamat.

Jungkook tak mungkin lebih lama dari satu minggu, ia akan kembali dan memeluk Taehyung sama seperti biasa.

Kemudian ia tersenyum kecil, wajahnya mendongak keluar jendela dan menyaksikan bayangan pesawat yang mulai mengecil dan hilang tertelan awan.

Hari Senin adalah waktunya Sungjae dan Sehun berlatih untuk club Teaternya setelah jam pelajaran usai, jadi 2 sahabat itu akan tinggal disekolah sampai jam 8 malam.

Awalnya, Sungjae bersikeras untuk mengajak Taehyung mendaftarkan diri sebagai salah satu anggota club Teater. Mengiminginya dengan bujuk rayu dan kalimat manis. Namun karena Taehyung yang masih kebingungan, ia pun meminta waktu untuk memikirkannya dahulu.

Pasalnya, ia masih menunggu keputusan dari Jungkook. Karena mereka belum pernah membicarakan tentang kegiatan-kegiatan diluar sekolah yang Jungkook izinkan. Bisa saja pria itu tidak menghendakinya karena beberapa alasan.

Taehyung masih berjalan keluar kelas ketika ponselnya bergetar dari dalam saku. Ketika ia memeriksanya, munculah satu pesan dari Jungkook.

Kebetulan sekali, pikir Taehyung.

Daddy

Sedang menuju hotel.

Bagaimana hari ini?

Ps. Langsung pulanglah kerumah dan jangan kemana-mana.

17.08 pm

Taehyung sempat melotot untuk sesaat melihat I'd name yang tertera di ponselnya.

Oh, tentu, sesukamu sajalah tuan Jeon.

Mencoba mengabaikan itu, ia pun mengetik beberapa balasan dan segera mengirimnya.

Baby

Hari ini baik.

Bagaimana disana?

Ps. Tentu aku tak akan kemanapun.

Pss. Yugyeom terlalu menuruti perintahmu!

17.10 pm

Baby? Sejak kapan namaku berubah!

Taehyung hampir terantuk sebuah undakan tangga, dan ia pun segera mengantongi ponselnya kembali. Setelah tiba ditangga teratas, ia nampak setengah berlari, hingga tiba digerbang sekolah.

Disana, sebuah BMW sudah menunggu dengan patuh. Saat Taehyung mendekatinya, Yugyeom nampak telah menyadari eksistensi pemuda itu, kemudian deru mobil terdengar beberapa detik sebelum Taehyung membuka pintu depan.

"Selamat sore." Sapa Yugyeom sembari memindahkan persneling. "Kau menghabiskan bekalnya?"

Taehyung tersenyum untuk sesaat. "Hm! Tentu saja, terima kasih sudah mau repot-repot."

"Jangan sungkan, aku pamanmu sekarang." Baru kali ini pria itu kelihatan tersenyum. "Kubuatkan lagi besok."

Pemuda disampingnya cuma mengangguk antusias.

Beberapa menit berselang, sebuah getaran ponsel dari dalam saku mengalihkan atensi Taehyung dari jalanan yang mulai basah oleh air hujan.

Jungkook membalas pesannya agak lama.

Daddy

Membosankan seperti biasa.

Kukira kau harusnya memanggil dia paman?

17.19 pm

Taehyung segera membalas.

Baby

Semangat dadda!

Aku sedang membiasakan diri, akan kuingat terus.

Ps. Merindukanmu.

17.20

Kali ini balasan datang tak begitu lama.

Daddy

Terima kasih.

Tentu, panggil dia dengan sebutan yang kalian kehendaki.

Ps. Ini baru sehari bukan? Bersabarlah sayang.

17.20

Taehyung mengigit bibirnya gemas setelah melihat balasan tersebut, ia mencebik kesal lalu menghela nafas dan kembali mengetik.

Ini adalah pertama kalinya ia dan Jungkook bertukar pesan. Namun pria itu bagai memiliki kepribadian lain, dia tak pernah melontarkan kalimat chessy atau bahkan menambahkan emoji pada pesan singkatnya.

Namun Taehyung tak pernah kehabisan akal.

Baby

Kalau begitu aku boleh memanggilnya papa?^^

Cobalah menggunakan emoji! Pesan ini datar sekali. u,u

17.22

Daddy

Tidak. Kuperingatkan kau jangan berani-berani!

Kau tak bisa memaksaku.

17.22

Wow jawabannya cepat sekali.

Baby

Kenapa? Aku baru saja memanggilnya papa!

Menyebalkan!

17.23

Daddy

Menyebalkan?

Mari kutunjukan apa yang menyebalkan itu. Kau bilang baru saja memanggil Yugyeom dengan sebutan papa!

17.24

Taehyung menyeringai, baiklah sekarang balasannya mulai panjang.

Senang rasanya menggoda Jungkook seperti ini, beruntung Swiss itu ribuan mil jauhnya.

Baby

Yup. Aku memanggilnya papa. :P

17.24

Ia tak mendapat balasan lagi untuk beberapa menit, lalu setelah bosan menunggu, tiba-tiba suara dari ponsel lain terdengar menggema didalam mobil.

Yugyeom nampak mengernyit bingung. Itu adalah suara ponsel miliknya, dan ia masih berkendara.

Ditekannya sebuah tombol diatas daskboard yang telah terhubung dengan panggilan telepon. Kemudian terdengarlah suara Jungkook yang berseru dari seberang sana.

"Jangan kau berani menyetujui panggilan aneh apapun yang Taehyung sematkan untukmu."

Yugyeom makin kebingungan saja, ia menolehkan wajahnya sekilas kearah Taehyung, berniat meminta penjelasan secepatnya. Namun pemuda itu malah kelihatan seperti tengah mengalami mode luar angkasa.

"Maafkan aku tuan, tapi aku sama sekali tidak mengerti."

Kedengaran suara menggeram setelahnya.

"Kim Taehyung."

Ia hanya melonjak kecil mendengar suara rendah Jungkook dari seberang telepon.

"Aku tahu kau disana, ini masih jam 5 lewat di Korea. Kalian tak mungkin sampai dirumah sebelum jam 6 pas. Jawab aku."

Sialan! Jungkook tahu kalau dia masih ada dimobil bersama Yugyeom? Bagaimana mungkin perhitungannya bisa setepat itu?

"Y-ya.. Aku disini..." Akhirnya Taehyung pun menyahut dengan sedikit ragu-ragu.

Masih ada jeda beberapa saat, kemudian suara Jungkook kembali terdengar, kendati kali ini terasa sedikit berbeda. Tak ada kemarahan, yang terdengar hanya janji tersirat.

"Kau beruntung aku sedang dalam suasana hati yang baik. Lain kali, tak akan ada toleransi lagi."

'PIP

Kemudian, panggilan pun terputus.

Tiga hari berlalu dengan amat monoton dan Taehyung kesal lagi kali ini. Jungkook memang tidak jadi marah waktu itu, namun ia tetap datar seperti biasa. Membalas pesan seperlunya atau kadang sama sekali tak memberi respon.

Taehyung mengerti ia sangat sibuk, tapi tidak dengan mengabaikannya bukan? Meskipun ia sedikit khawatir mengapa Taehyung seperti tak bisa berjauhan dengan Jungkook. Pasalnya mereka tak pernah terpisah sejauh dan selama ini sebelumnya, ketika Jungkook menghindar ia hanya menyembunyikan diri di area rumah. Namun kali ini pria itu benar-benar jauh dan tak mungkin dicapai.

Taehyung takut ia mulai merasa ketergantungan dengan Jungkook.

Oh, jangan menganggapnya sepele.

Tiga hari ini ia hanya dapat bertukar pesan saja dengan Jungkook, pria itu terlalu sibuk bahkan untuk sekedar menerima panggilan telepon. Kadang sambungan tak bisa terhubung dan mereka hanya bisa saling mengirim email.

Itu menyebalkan. Sungguh.

Apalagi Jungkook seperti memiliki kepribadian yang berbeda jika dibandingkan dengan menemuinya secara langsung dan menghubunginya lewat pesan elektronik.

Double menyebalkan.

Waktu baru saja menunjukan pukul 8 malam, tapi Jungkook belum juga memberinya kabar. Terakhir pria itu hanya mengatakan hendak menemui seorang kolega disana, dan itu sudah 2 jam yang lalu.

Ia memang tak pernah menghadiri pertemuan seperti demikian, ataupun sekedar mengetahui detail tertentu dari Jungkook tentang berapa lama sebuah pembicaraan penting akan berlangsung.

Kendati entah mengapa hari ini Taehyung begitu merindukan Jungkook. Hati kecilnya teringat akan sesuatu yang memisahkan mereka, dimana pria arogan itu berada jauh dari jangkauannya.

Teramat rindu hingga Taehyung terlelap dengan mimpi erotis yang datang menggoda jasmaninya.

Ia sempat menunggu Jungkook terlalu lama, membaringkan diri sambil sesekali mengecek ponselnya yang tak kunjung menampilkan notifikasi pesan masuk.

Karena balasan tak kunjung tiba Taehyung akhirnya jatuh tertidur, dimana dalam mimpinya Jungkook datang dengan menggunakan pakaian serba hitam dan hampir diseluruh permukaan pungggungnya menggunakan bahan transparan.

Ia menggoda Taehyung dengan punggung jari telunjuknya, pertama menekan bibir Taehyung lalu turun kebawah Jungkook tiba-tiba mencubit permukaan putingnya menggunakan dua jari.

Kemudian semuanya terjadi begitu saja, dimana hasrat turut membangunkan suasana menjadi lebih panas dan penuh gairah. Jungkook menciumnya, dalam sekali. Sampai terasa ujung lidah itu membelai langit-langit mulut.

Setelahnya ia bergerak, membawa Taehyung hampir menuju ke tingkat paling atas. Memompa keluar masuk sambil meritih seksi.

"Ah.." Taehyung menggeliat dalam tidurnya, dengan dua mata terpejam erat, nampaklah kening dan leher nya mulai berkeringat.

Ponsel diatas bantal kelihatan berkedip tanda pesan masuk, dan waktu baru saja menunjukan pukul 10 malam kala itu. Nampaknya, Jungkook memang sangat sibuk disana.

Masih dalam mimpinya, Taehyung dapat merasakan tubuh Jungkook bergemetaran sebentar, kendati tumbukan itu tak berhenti begitu saja.

Gemetarnya semakin terasa jelas, gemetar itu terasa berbeda, seperti berasal dari samping bantalnya.

Dddrrrrttt

Ddrrrrtttt

Drrrrrtttt

Daddy is calling...

Getaran itu akhirnya membangunkan Taehyung dalam keadaan penuh peluh dan terengah hebat. Ia mendesah kecewa setelah menyadari apa yang dirasakannya barusan hanyalah mimpi, puncak itu hampir datang ketika Taehyung baru saja terbangun, hingga akhirnya hilang begitu saja dan hanya menyisakan kehampaan.

Taehyung kehilangan momen, padahal hendak mencapai kepuasan tertinggi sedikit lagi. Namun panggilan masuk itu mengacaukan semuanya.

Ia mengerang lalu mengangkat telepon dengan serampangan, sambil masih terbaring lesu, Taehyung pun menatap jam dinding dikamarnya.

Jungkook baru menelepon setelah jam 10 lewat? Bagus sekali tuan Jeon. Terima kasih banyak.

"Taehyung?" Suaranya dalam, berat, dan sialnya Taehyung kembali teringat mimpi itu lagi.

"Daddy, kenapa kau jahat sekali!"

"Ada apa sayang? Mengapa tiba-tiba sekali? Padahal aku baru saja mengkhawatirkanmu karena kau tak membalas pesan sejak satu jam terakhir." Jungkook kedengaran sedikit kebingungan dan suara-suara dibelakang sana cukup memberitahu Taehyung bahwa ia masih berada ditempat pertemuan.

"Aku tertidur, dan kau mengacaukan mimpiku." Taehyung merengut lalu menggosok matanya yang lengket. "Sedang dimana?"

"Restoran." Jawabnya singkat. "Mimpi? Apa yang kau mimpikan?"

"Belum ke hotel?" Kali ini ia cemberut. Namun merona kemudian. "Aku memimpikan daddy."

Jungkook kedengaran berdehem. Disampingnya nampak sesosok wanita keturunan Italia tengah memperhatikan dengan teliti, ia ingat kalau orang itu adalah istri dari salah seorang koleganya. Jungkook mencoba mengabaikan dengan memutar posisi duduk, kendati wanita itu terus menatapnya penuh minat.

"Acaranya sampai jam 12. Oh ternyata kau ketiduran?"

Restoran nampak ramai untuk ukuran jam malam, meja panjang nan besar itu dipenuhi oleh hidangan yang silih berganti.

Sambil menunggu hidangan penutup, mereka saling mengobrol satu sama lain, kendati berbeda dengan Jungkook, ia lebih memilih untuk menelepon Taehyung yang terlihat sedikit marah dipesan terakhir.

Pemuda itu sudah terabaikan lebih dari 2 jam lamanya. Ia jadi sedikit merasa bersalah.

Sebenarnya Jungkook sudah selesai dengan semua urusannya, kendati yang masih ia tunggu hanya keputusan dari calon rekan bisnisnya untuk melakukan kerja sama.

Rentetan acara yang disuguhkan hanya beruba kesopanan dan formalitas saja. Meskipun begitu, Jungkook sudah terbiasa dengan daftar jadwal semacam ini.

Makan malam, mengobrol, pembicaraan tentang bisnis, dan bahkan penawaran-penawaran menyimpang seperti persetujuan kontrak yang diselipi pemanis. Seorang pemilik perusahaan akan mengirim pegawai wanitanya untuk mengantarkan kontrak yang perlu ditanda tangani, tentu setelah dua belah pihak menyetujuinya. Kemudian ia bisa melakukan apapun pada wanita itu.

Jungkook sih sudah tidak merasa aneh, namun ia telah memutuskan untuk menjauhi sistem kerja semacam itu.

Bisnis ya bisnis. Wanita atau lelaki cantik itu beda urusan.

Sementara diseberang sana, Taehyung tengah berdiam diri memikirkan sesuatu.

Ponsel menempel di telinga dan ia masih sedikit kesal karena mimpinya terganggu, lalu Jungkook malah menambah itu dengan bersikap seolah ia tak sama merindukannya.

Taehyung menghela nafas sambil tersenyum.

Oh tentu, kau harus merindukanku juga.

"Ya, aku ketiduran, dan mimpi itu sangat menyiksaku." Katanya sambil mengigiti ujung jari.

Jungkook belum menyadari arah pembicaraan Taehyung akan kemana. Namun ia tetap menimpalinya seperti biasa.

"Kau mimpi buruk? Kalau begitu minum susumu dan kembali tidur."

"Tidak, bukan." Taehyung segera menyela. "Aku kan sudah bilang kalau aku memimpikan daddy."

Jungkook mengernyit untuk kesekian kali, dan wanita itu masih menatapnya sembari menyesap anggur pelan-pelan.

"Lalu? Bagaimana itu bisa sangat menyiksa jika bukan mimpi buruk?"

"Aku mimpi daddy menggodaku."

Kena.

Pria itu nampak terdiam sekarang.

"Aku mimpi daddy mencium seluruh tubuhku." Suaranya kedengaran rendah dan Taehyung mulai memasukan satu tangannya kedalam celana, perlahan tapi pasti.

"Aku bermimpi daddy mendapatkanku dengan begitu keras. Menyentak amat dalam dan rasanya begitu nikmat."

Tarikan nafas terdengar dikemudian detik dan Jungkook nampak meremas ponselnya tanpa sadar, sebelah tangan yang lain mulai mengelus pahanya gelisah.

Sial. Apa yang Taehyung pikirkan? Ia baru saja bermimpi romantis dengannya dan bocah itu bercerita tanpa menunggu Jungkook sendirian diruangannya.

"Sialan. Seandainya aku ada disana." Jungkook menggeram, namun tetap menjaga suaranya agar tak terlalu keras.

"Ya, aku berharap daddy ada disini dan melakukan apapun yang dapat menyelamatkanku." Kali ini Taehyung kedengaran mendesah kecil, sedikit lesu dan penuh godaan. "Aku tersiksa daddy, aku siap untukmu tapi kau sangat jauh."

Sebelah tangan itu naik turun mengelus kebanggaannya, dan Taehyung sengaja membiarkan nafasnya terdengar mendengus nafsu.

"Berhenti. Jika kau terus melakukannya aku akan keras." Bisiknya dengan nafas yang terdengar tidak stabil.

Taehyung tidak menurutinya.

"Ya, keraslah untukku daddy. Aku menginginkanmu terlalu buruk. Aku siap untukmu, aku ingin memuaskanmu, aku ingin melepaskannya bersama daddy." Kali ini ia benar-benar mendesah.

Celana pendek yang ia kenakan melorot sampai dibawah dengkul, dan Taehyung sedang mencoba mencari kenikmatannya sendiri.

Jungkook merutuk dalam hati, kepalan tangan tampak berpindah keatas meja dan ia membenturkannya tanpa disengaja, menahan seluruh hasrat yang berkumpul pada bagian paling primitif dari tubuhnya.

Wanita yang sejak tadi memperhatikannya kemudian berdehem. "Anda baik-baik saja pak?"

Jungkook menoleh sekilas, ia pun mengangguk kecil dan menjawab. "Bukan masalah."

Sedangkan dari balik ponselnya masih terdengar desahan-desahan nakal Taehyung yang masih mengalun indah dan mengundang.

"Daddy, aku menginginkanmu. Aku hampir datang."

Jungkook tahu apa yang sedang Taehyung lakukan dan pria itu memindahkan kepalan tangannya kebawah meja. Sesuatu dari antara selangkangannya menggeliat liar, namun terhalang celana dalam yang lumayan ketat.

"Jangan kau berani melakukannya sendirian tanpa aku." Orang-orang masih mengobrol dan tak memperhatikannya, Jungkook hanya berharap wanita tadi sudah tak memiliki minat untuk melihat ia yang nampak tengah berdebat menggunakan bahasa asing.

"Aku tidak bisa menahannya daddy, kau begitu jauh. Aku ingin bersamamu, teramat ingin! Aku ingin menciummu, aku ingin melumat peni-"

Jungkook kembali menarik nafas ditempatnya, ia melirik kebawah dengan tatapan kesal dan diselingi hasrat tersembunyi.

Ia hampir keras sempurna, dan hatinya tak berhenti merutuk ketika Jungkook ingat kalau ini adalah tempat umum.

Para wanita mungkin akan memukulinya dan beberapa yang lain akan melaporkannya ke polisi ketika mendapati hal tidak sopan yang menonjol diantara kedua pahanya.

Oh anak nakal, awas saja kalau ia sudah kembali ke Korea.

"Kau menyiksaku, demi Tuhan. Aku keras untukmu, kau puas? Nantikan hukumanmu anak nakal." Gerutunya saat makanan penutup kemudian tiba beberapa saat kemudian.

Namun Taehyung hanya tersenyum sayu mendengar itu.

"Tentu daddy, itulah tujuanku. Kau dan aku sama-sama merasakannya. Bukan hanya aku saja."

Mendesah, penuh dengusan nafas dan nada rendah.

"Damn it Kim Taehyung!"

"Cepatlah pulang.." Kenikmatannya hampir tiba, dan Taehyung menggulirkan bola matanya keatas sambil terpejam. "Kali ini aku menunggu hukumanku, daddy. Dapatkan aku dengan keras. Dapatkan aku dengan penuh.. Cinta- Ah!"

"Ohh f*ck yeah baby. Tunggulah, daddy akan segera pulang sayang. Akan kudapatkan kau hingga nikmat itu tak pernah usai."

Jungkook terdengar menggeram dan kali ini ia tak menahan-nahan suaranya lagi.

"Ya! Daddy! Ah! Aku datang!"

Kemudian diseberang sana, Taehyung hanya mampu mendesah kuat sembari terpejam kala kenikmatan itu tiba. Nafas memburu tak karuan dan tangannya sudah berhenti bergerak ketika lelehan cairan putih nampak tercecer diatas perut dan dadanya.

Oh ya, nikmat sekali.

Ia mencapai itu dengan penuh kepuasan.

Puas karena puncak tertinggi telah ia dapatkan, dan puas karena telah berhasil menundukan Jungkook untuk kesekian kalinya.

.

.

.

TBC

Paling panjang nih gaes :"

Maaf kalau masih ada yang kurang juga, ell sedikit blank karena memori sempat gk bisa dibaca. Tapi file ini masih bisa terselamatkan untungnya :"

Jungkook mulai whipped ehe /emot mesum

Dia antara gak mau ngaku kalau dia sebenernya punya perasaan sama Tete tapi dia gk bisa nahan perasaannya sendiri :'V

Maaf kalo JK agak gk konsisten persaannya, tapi alasan sebenarnya ia cuma gk tahan aja kalau harus berpura-pura depan Tae.

Meskipun sampai skrng ia ttp merahasiakan semuanya :"

Jangan bosen ya bacanya, ell akan terus update sampai ini end.

So, kalau suka boleh voment nya

Buat kritik dan saran boleh langsung pm ell juga, siapa tau itu akan sangat membantu nanti.

See you next bab~

[04.05.2018]