"Tenanglah, Sansy... aku akan "menemani"mu di sini..."
"Sans... apa... apa yang kau lakukan?!"
"Snow... aku ini... gila ya?"
Undertale © Toby Fox
Black Something © Apria Ling
.
.
.
Aku paling tidak suka menceritakan masa lalu, apalagi tentang Dokter bernama Gaster dan teman "baru"ku bernama Sans serta "saudara"nya bernama Papyrus. Tapi, untuk kalian, apa salahnya jika aku membocorkannya? Pada akhirnya, kalian hanya sebagai pembaca yang penasaran dengan rahasia seseorang. Kalian akan menyadari selama aku bersama Dokter Gaster, Sans, dan Papyrus dulu, aku hanya kehilangan ingatan hingga mataku tidak memiliki irisnya. Barulah saat aku menghilang dan kembali untuk menolong Sans, perlahan aku bisa mengingat semua masa laluku yang sebenarnya.
Dua hal yang harus kalian ingat.
Waktu aku belum bertemu Dokter Gaster, aku memang pernah buta 3 tahun, tapi bisa melihat lagi.
Dan aku bukanlah manusia atau monster seperti yang kalian kira.
.
Dua hari setelah kejadian itu, aku hanya mengurung diri di kamar.
Tak terdengar lagi suara rintihan kesakitan Sans di kamar sebelah. Dokter Gaster sudah dua kali datang ke kamarku, bertanya keadaanku. Aku baik-baik saja, hanya masih takut dengannya saat dia melakukan percobaan anehnya itu. Bayangkan saja, mata kita disuntik pasti rasanya sangat sakit, apalagi jika cairan aneh masuk ke sana, mungkin aku sudah pingsan duluan sebelum cairan itu sempurna masuk.
Aku menjadi khawatir dengan Sans. Apa dia baik-baik saja? Kemarin, aku sempat mengintip ke kamarnya, hanya sebentar. Yang kulihat, Sans terbaring di kasurnya, menggigil hebat dengan napas tersengal. Perban masih menutupi kedua matanya, sebelah kiri ada bercak-bercak darah. Aku hampir menangis melihatnya, kasihan dengan keadaannya yang memprihatinkan. Kuharap dia masih bisa tersenyum, kalau dia sudah sehat.
"5N-0W, kau masih di sana?" Dokter Gaster membuka pintu kamarku.
Aku sedang menulis di atas kasur, menoleh. Buru-buru menyimpan kertas dan tersenyum manis kepadanya. Dokter Gaster masuk ke kamarku. Di tangannya ada baki dengan di atasnya sesuatu seperti makanan dan gelas berisi air. Tumben? Pikirku sambil menggeser posisi dudukku, memberi tempat untuk Dokter Gaster.
"Ada sedikit makanan untukmu, semoga kau suka." Dokter Gaster menyerahkan baki itu dengan senyuman tipis.
Aku menerimanya dengan senang hati. Jarang-jarang Dokter Gaster baik hati memberi makanan seperti ini, terakhir kali kuingat saat aku masih dalam perawatannya. Ada dua bungkus roti, kelihatannya enak. Aku pun membuka plastik bungkusnya, mengeluarkannya sedikit, mengigitnya, dan mengunyahnya. Rasa stoberi. Mataku melirik Dokter Gaster yang masih di sampingku, membuatku segera menelan rotiku. Tidak sopan memakannya jika pemberinya masih di samping kita. Malu-malu, kutawari satu bungkus lagi.
"Terima kasih." Ujar dokter Gaster seraya menggerakkan tangan, menolak.
Aku hanya mengangguk, tak apa-apa. Dokter itu masih di sampingku, memerhatikanku memakan roti. Setelah beberapa gigitan, aku menoleh kepadanya.
"Dok, 5A-N5 dimana ya?" tanyaku (polos).
Dokter Gaster terdiam, seperti kaget dengan pertanyaanku itu. Sebenarnya aku tahu dimana dia, tapi dengan wajah polos (dibuat-buat), kutanyakan saja. Dia pun menghela napas, kembali tersenyum sambil mengelus rambut putihku.
"Dia sedang di kamar, beristirahat, nak. Wajahnya masih pucat dan badannya masih panas. Berharap saja dia cepat sembuh, 5N-0W." Jawab dokter Gaster.
Aku kembali mengangguk. Kuharap begitu.
.
Malamnya, aku kembali nekad mengintip ke kamar Sans.
Pintu kamar Dokter Gaster tertutup, membuatku aman untuk keluar. Pintu kamar Sans terbuka sedikit, celah untukku mengintip. Aku berjalan pelan-pelan ke kamar Sans, mengintip lewat pintunya. Terlihat Sans terbaring lemah. Perban di matanya sudah menghilang, melihatkan kedua matanya terbuka sayu. Mata kirinya (entah kenapa) berwarna biru dan bercahaya. Di dekatnya, bayangan hitam yang mata kanannya juga bercahaya biru, memeluk Sans. Kepalanya mendekat ke kepala Sans, berbisik pelan seperti menyanyikan sesuatu. Pemandangan itu membuatku merinding ngeri. Bayangan apa itu?
"Sakit..." rintihan Sans terdengar lemah, "Aku sangat lelah... semuanya terasa sakit..."
"Tenanglah, Sansy... aku akan "menemani"mu di sini..." terdengar bisikan dari bayangan itu.
Aku mundur perlahan, berusaha tidak membuat suara. Tiba-tiba, bayangan itu mengangkat kepalanya, langsung menyeringai lebar menatapku. Aku tersentak, berlari kecil dan pelan ke kamarku, menutup pintu tanpa suara, dan loncat ke kasur seraya menarik selimut.
Apa yang terjadi pada Sans?
Dan apa itu tadi? Bayangan mengerikan itu?
Apa itu... sesuatu dari mata kiri Sans itu?
.
Beberapa hari setelah itu, dokter Gaster membawa kerangka lain, masih kecil.
Namanya Papyrus.
Dia imut, tingkah lakunya yang polos dan lucu sering membuatku tertawa geli. Sans yang sudah sehat juga ikut tertawa. Hanya karena Papyruslah Sans bisa tertawa dan tersenyum, membuatku menjadi sayang kepadanya, bagaikan sayang kakak kepada adik.
Dokter Gaster mulai sering fokus di labnya, entah apa yang ditelitinya sekarang, tapi kali ini tidak berhubungan dengan Sans. Aku lega mengetahuinya.
Kemudian, Sans dijadikan sebagai asistennya, katanya untuk penelitian selanjutnya itu. Dia tidak terlalu mempermasalahkannya, hanya saja sering kulihat dia bersikap dingin dengan Dokter itu. Mungkin karena kejadian itu, ya. Aku ditugaskan untuk menjaga Papyrus, tugas yang menyenangkan. Papyrus tidak anak bandel, selalu patuh dengan "permintaan"ku.
Setiap Papyrus tidur, aku diam-diam selalu mengintip lab, melihat Dokter Gaster dibantu Sans melakukan penelitian, kini tentang hati-hati yang aneh. Ada enam hati yang disimpan di dalam toples, warna-warni seperti pelangi, kecuali warna merah yang tidak ada disana. Katanya itu jiwa manusia yang (mungkin) bernasib sama denganku, terdampar di tempat entah berantah ini. Aku tidak pernah tahu cara mengetahui apa warna jiwaku, tapi aku tidak berani menanyakannya kepada Dokter Gaster.
Pernah sih kutanyakan.
Tapi kepada Sans.
"Warna jiwa?" tanyanya heran.
Aku mengangguk, menatapnya memohon.
Dia menatapku heran, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku tidak terlalu tahu, tepatnya tidak mengerti. Tapi, akan kucoba."
Tangannya terangkat, lalu jari menjentik.
Hati berwarna setengah putih setengah hitam muncul dari dadaku, bersamaan dengan tulisan aneh.
Suzuran, White Black Soul, ?
LOVE: 9
HEALTH POINT: 90
Sans langsung terdiam dengan mata menghitam kelam, aku menatap soulku dengan tatapan kagum.
"Tunggu," dia menatapku penasaran, "Suzuran? Namamu sebenarnya Suzuran?"
Aku yang kini terdiam.
.
Ingatanku waktu itu hanyalah saat pertemuanku dengan Dokter Gaster, permintaanku pada Sans, percobaan mengerikan itu, masa-masa menyenangkan dengan Papyrus, dan penelitian jiwa manusia milik Dokter Gaster.
Sisanya, aku tidak tahu.
Bahkan, dulu, aku tidak tahu nama asliku.
Tapi, saat melihat daftar soulku itu, aku terkejut melihat nama "Suzuran" terpampang di sana, bukan "Snow" atau "5N-0W". Nama itu seperti nama orang Jepang—aku pernah baca di sebuah buku, itu nama bunga lili—, membuatku bertanya-tanya, apakah aku orang Jepang?
Entahlah, setiap memikirkannya, itu selalu membuatku sakit kepala.
.
"Well, seharusnya ini tinggal percobaannya saja." Dokter Gaster tersenyum puas.
"Apa itu tidak berbahaya, Dok?" Sans menatap cemas.
"Semua percobaan selalu ada resikonya, 5A-N5, tapi kita bisa menepikan semua resiko itu." Dokter Gaster memandangnya tajam, "Berharaplah semua baik-baik saja."
Aku memandang dari kejauhan sambil mengendong Papyrus, berusaha menina-bobokan "adik kecil"ku dan Sans. Terlihat benda hitam berbentuk aneh terpajang di sana, di depan Dokter Gaster dan Sans. Katanya itu alat yang berhubungan dengan hati-hati hasil penelitian mereka. Aku tidak tahu apa cara kerjanya, tapi aku sama cemas dengan Sans, apa itu tidak berbahaya? Tapi, melihat wajah Dokter Gaster yang terlihat tenang, kuharap percobaan ini tidak berbahaya.
Dokter Gaster menekan tuas.
Mesin itu berbunyi nyaring.
Menunggu.
Dan, mesin itu mulai bekerja.
Dokter Gaster tersenyum puas, tapi Sans langsung menunduk. Aku mulai merasa resah, karena aku melihat kegelapan dari mesin itu tiba-tiba menyelimuti lab. Papyrus masih tertidur nyaman, seolah tidak terganggu. Aku bersembunyi di balik pintu lab, menatap ketakutan.
Lihatlah! Sans tiba-tiba bersikap aneh. Dari mata kiri, keluar cahaya biru. Tangan kirinya begerak, jarinya bersiap berjentik.
Saat itulah, sebuah lubang hitam muncul dari mesin itu.
"Ini...?" Dokter Gaster mulai panik, "Ini di luar dugaan—AH!"
Tubuh si Dokter terangkat, hati terbalik berwarna biru muncul di dadanya. Tangan kiri Sans terangkat, seperti mengendalikan Dokter Gaster (Teknik ini kemudian kuketahui adalah telekinetis). Sans mengangkat kepalanya, menatap sinis. Mata kanannya total hitam, mata kirinya ada bulatan biru yang bercahaya. Sans menyeringai sinis.
"5A-N5, kau... bagaimana...?" Dokter Gaster terlihat terkejut.
"Kau seharusnya tahu kekuatan 'kami', Dokter Wingding Gaster..." kata Sans, tapi suaranya seperti bayangan hitam itu.
"Kau... 'mengendalikan' Sans...?" desis Dokter Gaster.
Aku terkejut mendengar Dokter Gaster (akhirnya) memanggil Sans dengan nama "Sans".
Sans tertawa sinis, "Mengejutkan, kau akhirnya mau memanggil anak ini dengan nama yang Arial berikan padanya. Well, sekarang, terimalah hukumanmu, Ayah..."
Tangan Sans bergerak, mendorong Dokter Gaster ke lubang hitam itu. Aku langsung berteriak ketakutan. Sans tersenyum puas bercampur sinis, memandang datar Dokter Gaster yang mulai terhisap ke lubang hitam. Wajahnya mulai retak di mana-mana. Dia menatap sedih Sans, tersenyum tipis dan pasrah.
"Maafkan Ayah, Sans... Jangan lupa..." perlahan Dokter Gaster berubah menjadi debu.
Aku tidak bisa membiarkan ini. Tanpa sadar aku meninggalkan Papyrus dekat pintu, melompat memeluk Sans, mencoba menyadarkannya. Sans menghempasku kasar. Aku meringis, tapi tidak menyerah, menampar pipi Sans.
Mata Sans berubah menjadi normal.
"Snow..." dia memandangku bingung, "Apa... yang terjadi...?"
Aku pun menangis, menunjuk lubang hitam, "Sans... apa... apa yang kau lakukan?!"
Sans memandang arah tanganku, terpaku. Dokter Gaster total menjadi debu yang bertumpuk dekat mesin itu. Kegelapan semakin mencekam, sudah menyelimuti lab. Aku tidak tahu apakah Papyrus sudah terbangun, tapi kulihat Sans sudah menatap kosong dengan mata berair.
"Itu... bukan aku... BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA?!" berseru frustasi, "Dia... dia yang melakukannya... dia yang membunuh Ayah..."
Terdiam, aku bisa melihat Sans langsung terduduk, mencengkeram kepalanya.
"Walau Dokter tidak selalu berbuat baik padaku... dia tetap Ayahku... bukan aku yang melakukannya..." Sans menangis pilu, "Snow... aku ini... gila ya?"
Aku menggeleng kuat.
Sans tetap menangis.
Kegelapan mulai mendekati kami. Aku buru-buru menaikkan tuas, membopong Sans keluar dari lab, menutup pintu lab. Sans mengendong Papyrus, memeluknya erat. Kami menjauh dari lab, memandang saat lab itu meledak, meninggalkan abu dan debu yang bertebaran. Kami terdiam, terduduk di lantai.
Aku menatap sedih Sans yang menangis bisu memeluk Papyrus erat sekali.
.
Kemudian, aku menghilang.
Sans dan Papyrus pergi ke suatu tempat, entah ke mana. Aku tidak bisa ikut, karena saat aku mulai mengikuti mereka, tiba-tiba ada anak lelaki yang menemuiku, menarik tanganku, dan membawaku pergi. Anak lelaki itu bilang kepada Sans dan Papyrus kalau dia akan membawaku ke tempat seharusnya. Sans hanya mengangguk, lalu berjalan pergi sambil mengendong Papyrus.
Setelah anak itu membawaku menjauh dari tempat bersalju itu.
Semuanya memutih,
Dan, kepalaku terasa di bentur.
.
"HEI, SNOW!" teriakan nyaring mengagetkan.
Aku tersentak, langsung menoleh, lalu menatap datar.
"Kau ini melamun terus!" kata gadis seusiaku yang berambut hitam panjang dan memakai dress selutut lengan panjang putih dilapisi T-shirt hitam.
"Seperti tidak pernah saja, Naki." Jawabku sambil merapikan kaos lengan panjang putih yang dilapisi dress selutut tanpa lengan hitamku.
"Terserah." Naki mendengus, menarik tanganku, "Kita keluar sekarang, kan sudah janji."
Aku hanya mengangguk malas, mengikutinya (yang menyeretku).
Siang ini, aku ada janji dengan Naki (temanku yang menyebalkan) pergi ke Mall, katanya dia mau melihat lukisan terbaru di sana. Menurutku, itu aneh sekali, masa melihat lukisan harus ke Mall? Yah, biarlah, aku hanya sebagai temannya yang sukarela menemaninya.
Kami berhenti di lampu lalu lintas, menunggu lampu menyala hijau.
Untuk mengurangi kebosanan, aku memandang sekitar, mencoba meniru gaya detektif meneliti sekitarnya. Naki sedang mendengar lagu klasiknya lewat headset, tidak bisa diganggu. Di depan ada ibu-ibu yang membawa sekeranjang belanjaan dan sekantung roti panjang, lalu di sampingnya om-om yang jelalatan memandang genit wanita berpakaian glamor, kemudian di sampingku—
Kerangka berjaket biru yang juga memandangku.
Lampu hijau menyala.
Kerumunan itu menjadi kacau.
Aku menoleh ke sana-sini, mencari kerangka itu. Naki dengan malas menyeretku berjalan walaupun aku masih mencari. Kami sudah sampai di seberang saat kerumunan mulai hilang. Aku masih juga mencari-cari kerangka berjaket biru itu. Naki menjadi kesal, menjewer kepalaku.
"ADUH!" jeritku kesakitan.
"Kau cari apaan sih?" tanyanya kesal.
Aku hanya terdiam di tempat, memandang kerangka berjaket biru berlari menjauh.
Kerangka itu... Sans...
.
End(?)
Akhirnya bisa lanjut setelah sudah berbulan-bula kefokusan dengan proyek baru di Wattpad. Typo mungkin bertebaran indah, jadi comment ya. Lalu...
Snow: Nani? Apa maksudmu dengan memasukkan "Suzuran" di sini?!
Me: Ya... begitulah...
Snow: *nyekik Ling dengan tali*
Me: *nyoba lari*
Sans: *sweatdrop* Welp, selamat menunggu fanfic selanjutnya!
