Chapter 1
.
Nakajima Atsushi, 14 tahun, yatim piatu dan seorang 'omega'.
Tinggal di panti asuhan bukanlah hal yang mudah. Karena ia termasuk dalam ras paling lemah dan paling dijaga, gereja memperlakukannya dengan khusus. Hanya untuk beberapa hal, sisanya ia sama dengan yang lain. Ia diberi pelajaran khusus dari biarawati yang mengerti tentang obat-obatan dan kesehatan. Ia juga diberi nasehat rohani yang menjadi pedomannya saat ini.
Karena itu pula, ia dikucilkan dan dipisahkan dengan anak panti asuhan lainnya.
Tak apa, menurutnya. Jika itu demi hidupnya agar nyaman dan tentram, ia menerimanya. Karena itu pula ia selalu tersenyum setiap berpapasan dengan orang yang dilewatinya.
Namun, entah itu akan berlaku untuk sekarang atau tidak.
Ia mengutuk dirinya yang menjadi orang lemah. Ia seorang 'omega'.
Ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pastor yang selalu dikaguminya ini. Ia juga tidak tahu mengapa ia bisa terjebak kembali dalam situasi ini.
Ia seorang omega. Sang pastor ternyata adalah 'alpha'.
Di dalam ruangan pribadi Akutagawa Ryuunosuke, di mana bangunannya terpisah dari bangunan utama gereja, hawa panas merajalela. Peluh bercucuran di kulit mereka, desahan yang tidak tertahankan karena Akutagawa terus mendorongnya masuk, sementara ia harus kuat menahan pedih di bagian bawahnya.
Dunia sama sekali tidak adil, mungkin Tuhan mengutuknya. Padahal di hadapannya, tepat di belakang sang pastor ada salib tergantung di dinding. Ia tidak bisa begini. Ia ingin hidup tenang. Ia ingin bahagia. Ia tidak ingin seperti ini.
"Bapa..." ia berkata lirih. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa aku bersalah? Apa aku berdosa?"
Pertanyaan itu menghentikan gerakan Akutagawa yang memangkunya. Peluh bercucuran, di bagian bawah sudah sangat basah dan lengket. Kaus yang digunakan Atsushi entah berada di mana, sudah di lemparkan begitu saja tanpa tak tahu kemana. Atsushi menangis, kebingungan bagaimana ia harus menanggapi ini. Rasa sakit di hatinya tak seimbang dengan kenikmatan yang ia dapat di bagian bawahnya. Ia bertanya begini karena ingin meminta penjelasan pada pastor Akutagawa yang memintanya ke ruangannya beberapa menit yang lalu.
"Tidak hanya kau, aku pun juga." Akutagawa menjawab. "Kau dan aku, sejak lahir sudah berdosa."
Setelah berkata begitu, Akutagawa menciumnya. Lidah yang lentur itu memaksa masuk ke dalam mulutnya, melilit dan mengikat satu sama lain. Lidah itu meminta Atsushi membalasnya, tapi ia tak sanggup. Ia tidak tahan dengan gerakan erotis di lidah itu. Ia tidak mampu membalasnya. Sampai Akutagawa menggerakkan kembali pinggulnya dan Atsushi berteriak sekuat tenaga.
Dan walaupun ia berteriak sekuat tenaga pun, tidak ada yang bisa mendengarnya.
3 minggu berlalu, dan kini Atsushi duduk di ayunan sambil menunduk malu. Akutagawa yang sudah selesai bercerita pada anak-anak lainnya kini berpamitan. Sebagian besar di antara mulai mereka kecewa. Namun mau bagaimana lagi, waktu bermain sudah habis. Mereka harus kembali ke tugas masing-masing di panti asuhan ini. Atsushi berdiri, segera menuju gudang di mana ia yang bertugas membersihkan ruangan itu hari ini. Lalu seorang biarawati menghampirinya, "Atsushi-kun. Sudah saatnya pemeriksaan."
Atsushi mengangguk, tidak jadi membersihkan gudang.
Di ruang kesehatan, ia diperksa oleh biarawati cantik berkacamata, Haruno. Seorang wanita yang baik hati, biarawati yang mau melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Tujuan ia tetap berada dalam unit kesehatan panti asuhan ini adalah karena ia melakukan pekerjaan ini demi Tuhan. Ia mengabdi dan melakukan apa yang diperintahkan. Haruno Kirako adalah biarawati yang imannya menjadi panutan Atsushi.
"Sejauh ini baik-baik saja," kata Haruno selesai memeriksa Atsushi. "Tapi ada yang aneh. Bau tubuhmu agak berbeda. Ada apa?"
Haruno juga orang yang tidak begitu mengerti sistem Alpha-Omega. Ia hanya manusia biasa yang hidup dengan biasa.
Atsushi yang sudah lama menyadarinya langsung menjawab-
"Ah, maaf. Aku sengaja memakai parfum milik orang. Wanginya sangat harum dan aku memakainya walaupun sedikit."
-kebohongan. Bahkan itu adalah kalimat dusta yang sangat payah.
Haruno menaikkan satu alisnya, berlanjut dengan memakluminya. "Baiklah. Kalau begitu, jangan lakukan lagi. Mengerti?"
Atsushi mengangguk paham. "Kalau begitu, saya ingin membersihkan gudang dulu. Itu tugas saya hari ini."
"Hm. Dan jangan lupa minum obatmu."
Mereka pun berpisah, Atsushi keluar dari ruangan dan segera menuju gudang.
Gudang panti asuhan adalah tempat favorit Atsushi. Sebagian besar anak panti asuhan akan menyerahkan tugas piket membersihkan gudang padanya, hingga ia membereskannya sendirian. Tapi, tak apa. Setelah ia membersihkannya, ia akan tertidur di ruangan itu sampai biarawati tua yang bersifat galak akan memarahinya. Atau ia bisa membaca buku bekas yang tersimpan di kotak-kotak kardus yang bertumpuk. Apalagi saat masa 'heat' miliknya, ia bersembunyi di tempat ini. Karena, tidak ada satupun orang yang mau datang kemari kecuali jika perlu. Gudang ini sudah menjadi markasnya.
Setelah membersihkan debu yang selalu menempel di ruangan sumpek ini, Atsushi merebahkan tubuhnya di lantai kayu. Dengan buku sebagai bantalnya, memandang ke langit-langit ruangan yang atapnya sudah bolong dan membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam. Kemarin memang hari yang terburuk. Tapi hari ini pasti akan baik. Atsushi tertidur dengan pemikirannya itu, berharap ada hal baik yang akan menemaninya.
Saat tertidur itulah, pintu gudang terbuka. Langkah kaki terdengar jelas menapak di atas lantai kayu. Berderit, namun tidak membuatnya terbangun. Langkah kaki itu terhenti di belakangnya. Lalu ia merasakan elusan lembut di rambutnya. Ada seseorang yang mengusap kepalanya, membelai rambutnya. Atsushi setengah terbangun, tapi ia merasa nyaman hingga ia tidak bergerak dan terus seperti ini. Siapapun yang berada di sisinya sekarang, ia sangat berterimakasih.
Kecupan kecil mendarat di keningnya, membuat Atsushi terpaksa membuka mata. Lalu ia terbelalak, bangun dan mundur beberapa langkah.
"Ba-Bapa?!" serunya lirih. "Kenapa?"
"Aku ke sini hanya untuk mengambil barang." Akutagawa, yang berada di hadapannya menjawab dengan nada datar.
"A-ah... Maafkan saya. Saya akan segera kembali."
Atsushi berdiri, memilih kabur dan keluar dari gudang. Ia mengambil langkah panjang untuk mempercepat jalannya sekaligus menjauhkan diri dari tempat itu. Setelah cukup jauh, ia hanya bisa mengambil napas cepat. Keringat dingin membasahinya. Tubuhnya merinding tidak karuan.
Ia menarik napas panjang, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua yang terjadi pada dirinya hanya karena musim gugur yang sebentar lagi tiba.
Lah, chap 2 cuma sampe sini?
Ekhem2. jadi ya, saya mulai saat ini mencoba menyibukkan diri sendiri dengan mempublish beberapa cerita yang saya punya. Salah satunya di webcomics, saya aplod di situ :v ku juga lagi berusaha ngejar tayang beberapa fanfic lain. Jadi, mohon bersabar yah. Ini juga laptop baru nyampe :'D Sekian dari saya, sampai jumpa chap depaaannn~~
