Terimaksih sebelumnya untuk GUEST? and Liapxi yang udah bersedia memberiku comment.
maaf kalau tata bahasanya masih membingungkan? aku akan berusaha keras untuk memperbaikinya sedikit demi sedikit...karena setiap orang memiliki gaya penulisan yang berbeda hal tersebut akan sulit begitupula dengan apa yang aku lakukan. Tiap kata dan kalimat mungkin agak tidak sinkron atau membingungkan..ah gomen untuk itu.
Aku sering membaca novel asing dan kebanyakan cerita ffn yang aku baca juga dari luar jadi mungkin penulisanku terpengaruhi dari itu?
untuk semua senior dan para pembaca silahkan memberikan masukan kalian. Aku sangat terbuka pada setiap pendapat...
kita hidup di negara demokratis bukan? hehe...
TITTLE : FATE OF LOVE
PAIRING : Akihito x Asami
GENRE : Romatis kritis? fantasy/mysteri.
WARNING / DISCLAIMERS: STORY AND PICTURE IMAGE NOT MINE. OOC! THIS IS JUST FF...NO FLAME. THANKS
BAB I (Old Friend)
Kemahatauan adalah kekuatan namun kekuatan yang tak diinginkan adalah penderitaan
Akihito tengah menikmati sarapan pagi di apartemen Asami yang terlihat sepi dan kosong namun entah mengapa masih merasa hangat.
Duduk sendiri di sofa sembari menikmati acara gosip pagi di tv adalah apa yang dilakukan Akihito semenjak tiga hari yang lalu, berhubung sang tuan kejahatan harus berangkat ke Moscow karena masalah perdagangan senjata di kota Rusia tersebut, dan alhasil beginilah nasib fotografer kita yang hanya bisa duduk manis dan menunggu.
Oke, kalimat diakhir mungkin tidak tepat dan benar-benar sebuah kebohongan. Karena kita semua tahu bahwa Akihito bukanlah orang yang akan duduk manis dan bersedia menunggu kekasihnya datang.
Hal itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi! Kami sama tahu neraka akan membeku bila sang Fotografer melakukan hal itu.
Tapi khusus hari ini Akihito memang menghabiskan pagi damainya di apartemen dengan pandangan yang fokus pada acara gosip.
Sebuah senyum miris dan kilatan sakit hati terlihat beberapa detik kala melihat berita utama acara tersebut.
" Pengusaha kaya dan pria yang paling diinginkan di Jepang terlihat keluar dari sebuah hotel bintang lima bersama seorang model cantik bernama Ayami K pada pagi kemarin di Hotel Kakegawa-Shinjuku..."
Oh bagaimana sakit hatinya ketika melihat orang dicintai menggandeng wanita lain.
Dia tidak terkejut dengan pemberitaan tersebut, tidak pula marah.
Hanya kecewa dan mungkin syukur?
Bukankah akan lebih mudah bila begini. Asami akan terlalu sibuk untuk mengurusi bisnisnya yang sedang bermasalah di Moscow dan juga menangani pemberitaan panas tersebut.
Bahkan bila Kirishima membantunya, Akihito yakin butuh waktu menangani semua itu, dan ini adalah kesempatan Akihito untuk lari.
Lari dari pelukan Asami.
Akihito telah mengundur terlalu lama kepulangannya dan dia tidak mampu untuk terus bertindak seolah tidak ada apa-apa, bahwa semuanya baik-baik saja.
Mimpi-mimpinya dan panggilan dari clan Takaba tidak bisa ia abaikan terus.
Firasat buruk ditambah mimpi yang menjadi sebuah peringatan membuat Akihito merasa cemas, karena ia tahu sesuatu akan terjadi, dan biasanya itu adalah hal yang buruk.
Sayang mimpi-mimpinya masih belum jelas dan itulah yang membuat Akihito frustasi.
Lebih frustasi dibandingkan menyadari kenyataan Asami telah pulang ke Jepang dan bukannya langsung kembali ke Apartemen untuk Akihito, pria itu justu berbelok arah dan lebih memilih menghabiskan malam dengan wanita jalang!
Ia bisa merasakan tangannya bergetar karena geram dan kesal.
Sebuah helaan napas panjang dari Akihito dan beberapa menit untuk menjernihkan pikiran adalah apa yang dibutuhkannya saat ini.
Dirinya tidak boleh larut terbawa arus air, Akihito harus tenang dan bijak saat ini.
Yah ini adalah yang terbaik bagi keduanya.
Dua tahun yang mereka miliki dan sepertinya hal ini tidak berarti sama sekali untuk Asami.
Laki-laki tua itu mungkin hanya menganggapnya sebaik sex toy belaka selama ini.
Tapi hei, bukankah itu adalah Asami Ryuichi jadi , Akihito kenapa kau merasa kecewa?
Pada akhirnya tidak peduli bagaimana perasaan Akihito pada Asami, laki-laki itu tidak mungkin membalasnya.
Dan Akihito tidak marah, ia hanya bersyukur Asami memiliki hati yang dingin dan watak keras.
Lebih mudah melepas pria itu bila tahu tidak ada cinta untuknya.
Lebih mudah menjauh dan melupakan bila tidak ada rasa.
" pada akhirnya bukan Asami yang akan memutuskan benang merah ini, tapi aku" gumam suara lembut pada udara tipis.
Akihito merasa lemas dan sedih, disandarkan tubuh itu pada sofa dan menutup matanya sebentar.
Ia ingin mengistirahatkan pikirannya, ia ingin larut dalam mimpi dan menjauh dari kenyataan. Setidaknya untuk sementara.
Restoran Tokyo..pkl 22.30
Akihito duduk manis dengan punggung bersandar pada kursi nyaman di restoran ternama Tokyo.
Tidak seperti tamu-tamu lainnya yang memakai stelan mahal nan glamor, Akihito hanya menggunakna kemeja putih polos yang melekat pas pada tubuhnya dan sebuah jins pudar.
Oh bagaimana penampilannya ini bisa membuat sakit mata orang-orang yang berada di restoran tersebut.
Tapi justru para pelayan senior yang telah lama bekerja di restoran ternama jauh lebih tahu.
Ini bukan kali pertama Akihito datang ketempat ini dan bukan pula karena koneksi hubungannya dengan Asami para pelayana senior mengetahui dirinya.
Tapi Karena Akihito adalah dari klan tua di jepang yang memiliki pengaruh cukup tinggi.
Setelah semua nama Takaba mungkin cukup umum namun Clan Takaba hanya ada satu di jepang dan mereka memiliki hubungan langsung dengan keluarga kerajaan ,
Pemesanan ruang VIP yang khusus untuk tamu Takaba telah dipesan semenjak dua hari yang lalu, hanya selang satu hari setelah berita mengenai Asami dan top model Ayame, Akihito memutuskan untuk mengenal jauh perempuan itu.
Tenang saja, Akihito tidak disini untuk menyakiti ataupun merugikan gadis itu.
Hal yang mudah untuk mendapatkan nomor pribadi wanita itu, dan selanjutnya Akihito hanya tinggal menghubungi Ayame, mengatakan dirinya adalah sekertaris pribadi Asami dan bahwa tuannya ingin bertemu kembali di restoran ini.
Ah.. benar-benar wanita yang mudah tertipu. Pikir Akihito geli.
Hanya menunggu lima menit dan wanita yang dinantinya datang dengan menggunakan dress kasual sederhana namun tetap elegan.
Akihito bisa melihat kebingungan diwajah Ayame ketika wanita itu mendapati bukannya pria tampan kaya yang berbalut style Armani, justru yang ada adalah seorang bocah dengan pakaian yang lebih cocok untuk ke pasar.
" Ayame, bukan? Silahkan duduk" Minta Akihito dengan suara tenang.
Ayame duduk di kursi depan Akihito dengan raut wajah yang masih bertanya-tanya. Bola mata coklatnya melihat sekitar seolanh mencari sesuatu atau mungkin seseorang.
" Dimana Asami?" tanya Wanita itu yang dijawab Akihito dnegan sebuah kebenaran.
" Tidak ada Asami disini, dan pria itu tidak akan datang. Pertama perkenalkan, namaku Akihito. Takaba Akihito"
Tidak seperti biasanya, Akihito hanya memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangannya. Sementara Ayame semakin mengerutkan dahinya saat mendengar nama pemuda yang meski pakaiannya sangat undress namun tidak dapat disangkal keindahannya, tampan namun lebih condong kearah feminim.
Ayame serasa familiar dengan nama itu, seolah ia pernah mendengarnya disuatu tempat.
Sementara Ayame masih berpikir dan mencoba mengingat, Akihito terus menatap dan menilai wanita didepannya.
Pandangannya untuk beberapa detik menerawang seolah melihat hal lain.
" Jadi, Asami tidak akan datang? Kenapa dia tidak menghubungiku?" tanya Ayame semakin bingung.
Akihito meminum anggurnya dan menghirup bau khas dari minuman yang menenangkannya.
" Tidak, Asami Sama memiliki panggilan mendadak beberap menit yang lalu beliau harus meninggalkan. Sebuah permohonan maaf langsung darinya, Nona Ayame karena tidak sempat untuk menghubungi anda." Terang Akihito dengan kelancaran bak aktor profesional.
"Oh..jadi kau disini untuk menyampaikan pesannya? Hm kalau begitu tidak apa-apa, aku juga harus kembali segera karena pemotretan"
Jelas Ayame tidak ingin duduk lama-lama diruangan tertutup tersebut, dan bahkan bila pemuda di depannya terlihat lebih muda dan seperti malaikat tak bersalah entah kenapa Ayame merasa tidak nyaman.
Sayang untuk Ayame, karena Akihito jelas tidak ingin model cantik ini pergi dulu.
" Tidak! Tunggu sebenatar nona Ayame, hmm.. aku adalah penggemar anda jadi mungkin bisakah..hmm yah kau tahu hanya duduk sebentar saja beberapa menit disini bersamaku dan kalau tidak keberatan bolehkah aku meminta tanda tangan anda?"
Ayame yang sudah bersiap-siap pergi harus menelan salivanya kala melihat tatapan manis super lovey dovy dari Akihito.
Kami sama, tentu saja tidak akan ada yang bisa menolak pemuda itu bila memperlihatkan ekspresi wajahnya yang seperti anak anjing malang.
" Ya, tentu saja Takaba san."
Akihito tersenyum kemenangan dan langsung menyodorkan sebuah topi biru dan spidol pada Ayame.
" Tolong tandatangani disini, Ayame-san" Pinta Akihito sembari tersenyum manis.
Dengan cepat ia memberikan tandatangannya didepan topi biru itu dan tidak lupa tambahan ciuman lipstik disamping tandatangannya.
" Ini, Takaba-san. Aku harap kau senang" Kembali dengan senyuman ramah dan menggodanya, Ayame memberikan topi tersebut pada Akihito yang diterima dengan sangat antusias dan langsung dikenakannya si topi biru diatas kepalanya.
" Oh Ya, Ayame san, untuk rasa terimakasih bagaimana kalau aku meramalmu?"
" ramalan?"
" Ya, Ramalan, kebetulan sewaktu SMA aku pernah belajar membaca garis tangan dan prediksinya sangat akurat. Jadi bagaimana, Ayame san, kau mau aku ramalkan?"
Ayame yang mendengar kata ramalan dan membaca garis tangan mengangguk antusias.
Akihito tanpa kehilangan senyum super duper manisnya memegang lembut telapak tangan sang model dan menelusuri garis-gais tangan dengan telunjuk jarinya.
Ayame sementara itu terlihat antusias meskipun ia tidak sepenuhnya percaya.
Ayame yakin Takaba Akihito hanya membuat sebuah alasan untuk dapat memegang ...dasar pria.
Rasa antusias pada Ayame dan kepercayaan dirinya tiba-tiba saja menghilang saat merasakan firasat tidak mengenakan.
Tubuhnya serasa menggigil padahal Ac di ruangan ini tidak terlalu dingin dan kemudian ia tahu apa yang menyebabkan perasaan tidak mengenakan itu.
Pandangan mata si model tertuju pada Akihito yang kala itu menatapnya dengan wajah kosong dan pandangan menerawang.
"Hati-hati dengan apa yang kau inginkan, Ayame san. Terkadang apa yang kita Inginkan bukanlah apa yang dibutuhkan dan hati manusia yang serakah akan membuat buta matanya, pada saat itu kau tidak bisa melihat apapun selain apa yang diinginkanmu namun juga tidak dapat dimiliki. Pada akhirnya mereka yang putus asa akan memilih membutakan hatinya untuk selamanya. Jadi hati-hatilah Ayame-san."
Suara itu begitu tenang dan lembut namun terus berdengung di dalam kepala Ayame. Tubuhnya semakin bergetar, sebuah perasaan takut namun juga marah.
" Apasih! Takaba san kau pasti bercandakan. Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan! Ah sudahlah, lebih baik aku pergi dari sini."
Ayame yang takut dan marah segera beranjak dari tempat duduknya dan bergegas keluar dari ruang restoran VIP, wanita itu setengah berlali dan hampir tersandung hak tingginya sendiri setelah membuka pintu.
" Lucu sekali, padahal aku belum selesai membacakan garis tangannya" Gumam Akihito yang kembali meminum Wine anggur merah.
Oke, Akihito tidak benar-benar membaca garis tangan Ayame, dia bahkan tidak bisa sama sekali melakukan hal itu, tapi bukan berarti apa yang dikatakan Akihito adalah kebohongan. Terlepas dari semua itu, Akihito berkata kebenaran.
Dia tidak bisa berbohong dalam hal yang terkait takdir.
Setelah kepergian Ayame, Akihito tidak segera beranjak. Pemuda dengan surai pirang kecoklatan itu tetap duduk dan memainkan glass kristal wine di jari-jari tangannya.
Dia tidak bisa pulang ke apartemen saat ini karena harus menunggu satu tamu yang sebentar lagi akan datang. Bahkan bila jam telah menunjukan hampir tengah malam Akihito tidak berniat untuk meninggalkan.
Asami mungkin kini sedang dalam perjalanan kembali ke Apartemennya, tapi tetap saja Akihito tidak bisa meninggalkan tamu penting yang akan datang.
Pertemuan dengan model cantik Ayame bukan tujuan utama, hanya sebuah selingan semata untuk menghabiskan waktu dan mungkin sedikit bermain-main. He he he wanita itu sudah berani tidur dengan Asami jadi tidak ada salahnyakan kalau dirinya sedikit memberi ceramah.
Akihito adalah anak baik, jadi ia dnegan gratis memberi saran pada Ayame san. Ckck seharusnya wanita itu berterimakasih bukan lari begitu saja.
Pemuda bersurai pirang itu menatap langit-langit restoran yang menggambarkan bintang di langit malam. Sungguh indah, pikir pemuda itu dengan wajah melamun. Jelas pikirannya sedang berada jauh disuatu tempat.
langit malam selalu mengingatkannya pada wanita yang memiliki surai bak tirai hitam malam hari. Begitu indah namun tidak bisa dijangkau.
Sudah lama ia tidak bertemu dengan orang ini dan bila Akihito jujur, dirinya agak takut juga bersemangat untuk melihat teman lamanya.
Tidak butuh waktu lama untuk menanti kedatang si tamu karena hanya selang 10 menit setelah si model meninggalkan, seorang wanita berambut hitam panjang hampir menyentuh kakinya dengan gaun kimono merah sutra masuk dan Akihito segera menghampiri wanita tersebut
Bila Ayame di gambarkan sebagai model seksi maka tamunya satu ini dapat di gambarkan sebagai wanita nadeshiko Jepang asli dengan keanggunan melebihi rahmat seorang putri raja. Tentu saja itu adalah pandangan orang awam yang belum mengenal baik siapa wanita nadeshiko ini.
" Lama tidak berjumpa, Yuuko chan. Selalu cantik seperti biasa" Sebuah pelukan erat dan akrab diberikan Akihito pada wanita bernama Yuuko.
" Aki kun, selalu bisa menggoda seorang wanita dengan kata-kata manismu itu ya. Tapi terimakasih untuk pujiannya"
Akihito hanya tertawa riang sembari mengantar Yuuko ke meja mereka, dengan sigap ia menggeser kursi untuk ditempati temannya.
" dan juga Gantle..ho ho ho" tambah Yuuko setelah duduk dan menatap Akihito dengan senyum yang terlalu riang.
" Hanya padamu, Yuuko chan."
"hm...jadi kau sudah memutuskan Aki kun?" Tanya Yuuko yang saat ini masih memandang Akihito. Yang ditanya hanya mengangguk sedang tangannya sibuk menuangkan wine putih pada Yuuko.
" selalu to the ponint namun Ya, aku telah menunda keputusan ini terlalu lama, tapi Yuuko, apakah menurutmu ini merupakan jalanku? Apakah tidak ada kebebasan sama sekali bagiku, bagi kami?"
Wajah cantik dengan senyum lebar itu menjadi serius. Yuuko untuk beberapa saat tidak menjawab Akihito. Dia melihat cairan putih dengan bau memabukan didepannya.
" keputusan yang kau buat akan mempengaruhi segalanya, Aki kun. Dari mulai organisme terkecil hingga para predator buas besar. Keputusanmu akan membawa kita dalam keamanan namun sebelum merasakan keamanan itu akan ada gelombang besar yang mengacaukan dan menghancurkan. "
Akihito mengalihkan penglihatanya dari Yuuko dan lebih memilih memandang pada kota tokyo dibawah melalui jendela lebar diruangan tersebut. Meski pandangannya beralih namun Akihito tetap mendengarkan kata-kata Yuuko dengan baik dan menyerapnya seperti spons.
"Setiap kata-kata memiliki kekuatan melebihi senjata manapun begitu pula dengan keputusan. Karena keputusan itu akan menjadi kata-kata yang akan mengikat rantai nasib kalian. Sementara kebebasan. Kebebasan apa yang kau inginkan dan maksudkan Aki kun?"
" Sebuah kebebasan tanpa aturan ataukah kebebasan untuk perdamaian? Tapi terlepas dari keduanya, kita sejak awal tidak ditakdirkan untuk kebebasan. Tidak ada kebebasan nyata bahkan dalam kematian sekalipun"
Yuuko menghela napas panjang dan segera mengeluarkan kipas kertasnya. Keseriusan dalam wajah itu mencair digantikan oleh senyum lebar yang terkesan main-main.
Dengan lihai ia melemparkan kipas kertas dengan keras pada pemuda yang masih asik mentap kota Tokyo. Sayangnya Akihito dapat menangkap kipas tersebut dengan lihai.
" Ah..Aki kun, kecepatan tanganmu masih sama rupanya. Aku benar-benar rindu saat kau masih kecil. Waktu itu bahkan Aki kun tidak bisa menghindar apa lagi menangkap kipas kesayangnku."
Akihito langsung menatap kesal Yuuko yang hanya dibalas dengan senyum lebar menyebalkannya.
Sementara yang dilempar Yuuko memang kipas kertas namun bukan berarti kipas tersebut ringan seperti kipas lainnya. Kalian salah besar!
Akihito masih ingat sesakit apa rasanya terkena pukulan dan lemparan kipas nenek sihir yang tengah menjelma menjadi nadeshiko ini.
Hal itu seperti kau ditimpa batu besar dengan berat berton-ton. Ini disebabkan karena Yuuko melempar kipas tersebut dengan kecepatan luar biasa tinggi yang akhirnya kertas ringanpun bisa berubah menjadi padat dan lebih keras dari batu.
"Yuuko, berhenti melempari ku dengan benda-benda seperti ini. Padahal hanya beberapa detik lalu kau bisa serius dan sekarang...hhh"
Akihito menghela napas pasrah. Yuuko adalah satu-satunya orang dibumi ini yang memiliki kepribadian sulit, bahkan lebih sulit dari pada dirinya sendiri. Satu saat wanita ini bisa riang dan tertawa lepas seperti musim semi, namun tidak lama berubah menjadi dingin seperti musim dingin. Di lain kali kau akan menemukan wanita ini marah seperti api yang berkobar bak musim panas terik di siang hari.
Pada dasarnya keperibadian Yuuko seringkali berubah-rubah seperti halnya musim.
Tapi terlepas dari kepribadian sablengnya, Ichihara Yuuko adalah seorang wanita yang memiliki pengetahuan tinggi dan kebijaksanaan melampaui seorang pendeta pertapa berusia 100 tahun.
Setiap kata-katanya penuh pertimbangan bahkan bila ditelinga orang lain terdengar seperti gurauan atau kegilaan.
Namun bagi Akihito dan beberapa orang lain yang mengenal lama Yuuko, mereka tidak pernah meremehkan kata-kata si Nadeshiko.
Karena seperti yang Yuuko katakan, kata-kata memiliki kekuatan tersendiri yang dapat mempengaruhi setiap individu. (1)
"Akihito, hanya ingat ini, apa yang terjadi di masa depan adalah karena pilihan dan tindakan kita. Kita yang dianugrahi kemampuan ini memiliki tanggung jawab, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi namun bukan berarti hal-hal tidak dapat dihindari. Ada alasan mengapa kau memiliki hadiah tersebut"
Akihito mendengus dan tersenyum miris
" Ini lebih seperti kutukan dari pada hadiah. Tapi masa depan memang hal yang rumit. Bahkan bila aku bisa mengetahuinya bukan berarti aku bisa ikut campur dan memperbaiki segala hal. Lagi pula masa depanku bahkan tidak akan lama lagi bukan?"
Yuuko mengeluarkan kitsiru yang entah dari mana dan menghirup cerutu tersebut. Dia memikirkan apa yang di katakan pemuda di depannya dan masa depan pemuda terebut.
Ya, Akihito benar bahwa hadiah tersebut terutama yang dimilikinya dan telah turun temurun adalah kutukan. Tapi bukan berarti masa depan tertulis dalam tinta hitam diatas lembar putih itu tidak bisa dihapus.
Yuuko telah berkecimpung dalam urusan hidup dan mati, masa lalu dan masa depan, dan ia tahu betul Akihito keliru dalam satu hal ini.
" Jarum jam waktuku mungkin telah berhenti berdetak Aki kun, tapi tidak milikmu. Jarum jam yang kau miliki masih berdetak dan berputar, Aki kun, kamu masih memiliki waktu tidak peduli sesingkat apa itu, pergunakanlah dengan baik. Masa depan seperti ombak di laut yang sulit untuk diprediksi, tapi pelaut yang baik selalu dapat memperkirakan pergerakan ombak dan menentang arus laut untuk tujuannya. Bukankah itu yang kamu dan lainnya lakukan selama ini.
Ada alasan mengapa orang-orang seperti kita ada di dunia. Bukan hanya menjadi penonton dan duduk manis serta menerima nasib apapun.
Tidak. Kita bergerak melawan arus, menantangnya dan menang! Kamu bukan boneka yang dikendalikan namun seorang marionet."
Akihito dari semua orang adalah yang paling mengenal Yuuko, ia sedikit merasa bersalah untuk harus membuat temannya mengatakan hal yang paling menyakitkan.
Karena Akihito tahu, Yuuko selama ini telah menentang takdir cukup lama untuk meraih keinginan yang tidak bisa didapatkannya. Untuk melindungi perdamaiana dan keseimbangan, wanita ini telah mengorbankan banyak hal termasuk waktu kehidupannya sendiri.
" Kau benar Yuuko, aku terlalu takut untuk menghadapi masa depan dan terlalu terbuai dengan kehidupan tenangku saat ini. Terimakasih Yuuko, karena seperti biasa kau selalu mengingatkanku"
Yuuko melambaikan tangannya seolah itu adalah hal biasa dan pembicaran mereka bukan sesuatu yang penting.
Yuuko dan Akihito mungkin memiliki pandangan tersendiri mengenai dunia ini dan takdir tapi mereka memiliki banyak kesamaan dan salah satunya adalah beban berat yang harus dipikul semenjak kelahiran sampai kematian mereka.
-tbc-
Well well jadi di sini ada penampakan...seorang tokoh ...mungkin sedikit crossover?
bagi yang belum tahu siapa itu Yuuko, dia tokoh dalam komik xxx Holic...karakter keren namun juga aneh..dan sadis .(=_=) ini komik bacaan pas masih SMP dulu..udah agak lupa cuman kalau gak salah ingat ada kata-kata ini yang diucapkan yuuko ke watanuki.
Kata-kata ini diambil dari manga XXX Holic, dimana Yuuko berkata pada watanuki bahwa kata-kata seperti rantai yang memiliki kekuatan untuk mengikat dan mempengaruhi mansuia. Aku hanya mengingat sedikit karena sudah lama sekali membaca manga ini. Tapi pada intinya adalah seperti yang dikatakan diatas, yah...kurang lebih ,mungkin. Gomenne Minna T.T
Aku tahu akan ada banyak pertanyaan...tapi ingat ini cerita ff masih di bab 1! tentu saja akan banyak hal yang belum bisa dipahami, untuk itu silahkan mengikuti cerita ini sampai selesai..barulah pintu yang tertutup akan terbuka, aka kalian akan tercerahkan. HAHAHA. xD
Harap bersabar denganku dan juga ff ini. ^.^''
MAAF UNTUK TYPO DAN KETIDAK SESUAIN EYD.
Yang menemukan Typo silakan langsung pm atau comment biar aku nanti bisa langsung perbaiki..
