Bab 3
ARTA
Doko ni ikeba ii kono yami no sakide mata
Nando sayonara ioba ii
Kemana aku harus pergi saat aku berada dalam kegelapan?
Berapakali lagi aku harus mengucapkan selamat tinggal?
Asami tidak pulang untuk makan malam dan Akihito hanya mentap hampa pada makan yang tersaji didepannya.
Ia telah memasak hidangan favorit sang kekasih dengan wine anggur mahal sebagai penutup, tapi apalah daya bila yang dimaksud lebih tertarik pada pekerjaannya dibandingkan pulang dan berpelukan bersama kekasih muda.
Akihito terkekeh memikirkan hal itu, ah...sudah dua tahun lebih ia bersama dengan Asami dan meski banyak hal terjadi diantara mereka pada akhirnya kedua manusia ini akan kembali bersama, pertanyaan untuk sekarang adalah apa hal seperti itu akan terjadi lagi?
Keegoisannya berharap 'ya', tapi rasa rasional dan tanggung jawab pada diri Akihito akan berteriak 'Tidak'.
Dia tidak ingin Asami harus menderita bersamanya.
Pria itu layak mendapatkan kebahagian bahkan bila kebahagiannya tidak bersama Akihito.
Asami mungkin bukan manusia tebaik dan orang suci, tapi begitupun Akihito.
Berbalik terbanding dengan apa yang disangka Asami dan teman-temannya.
Akihito jauh dari kata kebaikan dan kepolosan. Ia bukan orang naif dan bodoh.
Oh.. jauh dari itu. Akihito sejak dini telah melihat jauh dari manusia berusia 100 tahun bisa alami.
Ia telah melihat banyak hal, tahu rahasia-rahasia gelap dunia ini dan kebobrokan umat manusia.
Ia telah mengalami apa itu neraka bahkan sebelum usianya genap 15 tahun.
Ia tahu rasa sakit dan penderitaan, rasa tak berdaya dan ketakutan untuk melangkahkan kaki kedepan.
Keluarganya, Klan Takaba telah memastikan sang ahli waris untuk tahu tempatnya di muka bumi ini. Untuk tahu tanggung jawab apa yang dia emban dan pikul di pundak kecil itu.
Mereka telah mengajarkan dan menceritakan kisa-kisah yang bagi banyak orang lain hanyalah mitos atau legenda.
Mereka telah membuatnya mengerti bahwa apa yang dimiliki sang pewaris dari klan bukanlah hadiah namun sebuah kutukan.
Hukuman untuk keluarga mereka.
" Dosa kita, dari nenek moyang akan dibayar oleh pewaris keluarga yang menanggung kutukan kematian. Harganya adalah jiwa dan hidup sang kepala keluarga yang memegang pengetahuan terlarang. "
"Jadi biarkanlah aku tenggelam kekedalaman terdalam lautan dan engkau di dataran hangat yang aman."
Kepalanya menengadah menatap pada cahaya lampu kristal.
Akihito bisa merasakan sakit itu mulai kembali menyerang kepalanya, namun ia akan membiarkan setiap informasi yang datang kali ini
Penyangkalan dan pengekangan hanya akan menyebabkan sakit yang lebih buruk.
Helaan napas panjang yang gemetar dan erangan kecil adalah satu-satunya yang terdengar di penthouse.
Kelopak matanya tertutup namun dibalik itu Akihito masih bisa melihat, melihat sesuatu yang lain.
Kutukannya.
Masa depan.
Darah
Perang
Pengorbanan
Kehilangan
Jeritan.
Gerbang terlarang yang terbuka
Prajurit
Iblis!
Tubuh yang terlihat mati lemas itu tiba-tiba tersentak dan mata iris biru menatap lebar kedalam ruang kosong di depannya.
Tangan pucat dan jari-jari lentik Akihito gemetar bersamaan dengan bibir merah menggodanya.
Tremor dan takut luar biasa seperti mantel yang menyelimuti tubuh keciltersebut.
"Kami-sama..oh..Kami..." kata kata yang sama berulang kali terus digumamkan dengan bibir yang masih gemetar.
Ruang yang hangat tersebut serasa dingin saat tubuhnya gemetar, terguncang dengan shock.
"Oh Kami-sama..."
Terlalu cepat, hal ini terjadi terlalu cepat, pikir Akihito.
Ia harus segera memberi tahu yang lain.
Dengan hitungan detik segera Akihito membawa ponsel dari saku belakang celan jinsnya.
Nomor panggilan darurat sang sepupu adalah apa yang dituju Akihito.
" Moshi—"
" Masao, ini aku, Akihito. Hanya dengarkan dan jangan memotong kata-kataku. Dua hari dari sekarang aku ingin pertemuan darurat semua watcher di Hokaido. Hubungi mereka dari sekarang dan katakan itu pertemuan resmi dengan kode merah mengerti!"
"Ah..ne..ya tentu saja Takaba Sama"
" Terimakasih, dan Masao beritahu juga para tertua. "
" Ya Takaba-sama, akan ku laksanakan"
" Arigatou.. hounto"
Akihito segera menyenderkan punggungya ke sofa dan memejamkan mata, berusha menghilangkan pemandangan yang bahkan akan membuat seorang sekaliber Suoh dan Asami muntah.
Tapi bahkan saat memejamkan mata gambar itu tidak akan hilang dan Akihito tahu betul.
Apa yang dilihatnya tidak akan bisa dilupakan, akan terus berada dalam pikiran.
Karena untuk melihat masa dapan adalah hal terlarang, dan sebagai gantinya salah satu dari hukuman adalah tidak bisa melupakan apa yang telah ia lihat.
Mereka yang berani mengintip pada masa depan dan masa lalu sesuatu yang seharusnya tetap rahasia dan saklar akan membayar harganya, tidak peduli seberapa besar yang harus dibayar, karena ini bukan hadiah
