[Chapter 4 part 2]
"Hah?" Mark tidak bisa menahan kebingungannya. "Maksud kamu gimana?"
Haechan mulai sesenggukan, tapi dia masih berusaha biar suaranya tidak kedengaran papa-mamanya di luar. "Aku… aku kemaren-kemaren… denger p-papa sama mama… bicara," jelasnya, masih dengan usaha. "…nggak sih, aku nggak denger jelas… tapi papa sama mama nyebut-nyebut namaku gitu…."
Mark mengedutkan alis. Gimana caranya adeknya satu itu bisa mengambil kesimpulan macam itu hanya dari mencuri dengar pembicaraan orangtuanya yang menurutnya tidak terlalu dapat didengar jelas, sehingga yang bisa dia tangkap hanya namanya? Tapi… kalian jangan lupa ya kalo Mark ini cuma setahun lebih tua dari Haechan. Jadi, alesan dia bingung bukan karena itu.
"Mereka nggak nyebut nama aku?"
Haechan menggeleng. "Cuma aku doang yang dibicarain, hyung."
"Bicarain apa sih? Nggak denger yang lain lagi?"
"…katanya, papa harusnya dulu lebih hati-hati lagi, terus juga soal 'makanya sekarang jadi ribet'. Mama juga sempet ngomong soal dulu kenapa bisa percaya sama papa –mama kayak nyesel gitu, hyung…."
Hm. Mark nggak ngerti. Hati-hati ngapain sih? Mark juga sering dibilang begitu sama mamanya tiap berangkat sekolah, tapi kan papanya kerja di rumah. Kenapa harus hati-hati? Aduh, pikiran anak SD mah emang normalnya mentok sampe situ.
Mark nggak ngerti lagi harus ngapain selain menenangkan Haechan supaya berhenti menangis. Dia nggak begitu ingat ngapain aja sampe akhirnya nangisnya Haechan berenti, tapi yang pasti, dia capek. Apalagi, Haechan ketiduran di tempat tidurnya Mark, jadi Mark harus manjat tangga lagi buat tidur di tempat tidurnya Haechan. Tukeran.
Duh, apa kabar PR-nya Mark?
…
…
Besoknya, Haechan susah buat dibangunin, kata Mark. Mendengar itu, Johnny langsung ngajuin diri jadi yang bangunin Haechan. Dia ke kamar, terus sempet nanya ke Mark kenapa Haechan tidur di tempat tidurnya, tapi Mark nggak jawab. Johnny juga nggak nyadar aja Mark sengaja nggak jawab dia.
"Chan, bangun. Sekolah." Johnny goyangin badan Haechan yang masih munggungin mereka, terus dia berasa aneh. Kok anget banget ya tangannya? "Mark, panggil mama deh."
Mark menurut terus langsung keluar kamar, nyari Taeil. Mamanya tadi itu lagi di dapur, nyiapin sarapan –untungnya dia masih sempet kalo masak pagi. Taeil sempet bingung aja kenapa Johnny nyariin dia, tapi karena ngerasa ada yang nggak biasa, dia langsung matiin kompor.
"Kenapa?" tanya Taeil begitu dia sampai di kamar. Dia lihat Johnny sekarang duduk di kursi meja belajarnya Mark.
"Pegang Haechan deh. Kayaknya dia sakit."
Taeil nggak buang waktu dengan nanya lagi. Dia langsung nyamperin Haechan. Tangannya juga ngerasain panas dari kulit Haechan. Fix, Haechan sakit.
Taeil langsung dengan gerak cepat meraih hp-nya yang untung dibawa naik ke kamar anak-anaknya, jadi dia nggak butuh turun tangga lagi. Dia langsung menelpon tempat kerjanya, minta izin tidak mengajar karena anaknya sakit. Dia juga lalu menelpon wali kelas Haechan.
"Yaudah, aku anter Mark ke sekolah ya," kata Johnny, pamit ke Taeil. Taeil jawab sekenanya –dia lagi benerin posisi tidurnya Haechan. Johnny juga nyamperin Haechan, terus ngelus rambutnya. "Papa pergi dulu ya, nganter kakak."
Haechan nggak ngebales. Johnny juga nggak ngarepin dibales sih, jadi dia langsung keluar, nemuin Mark yang daritadi ternyata pas banget di luar kamar. "Yuk, ke mobil." Mark ngangguk sambil sesekali ngelirik ke kamar. Dia jadi kepikiran sama kata-kata Haechan semalem.
…
…
Semoga kalian udah kebiasa sama saya yang suka ngeskip bagian kelasnya. Tau-tau sekarang Mark udah di kantin aja, jajan. Dia nggak lagi sama temen-temennya nih bos. Temen-temennya lagi mikir dia rada aneh hari ini, gara-gara dia nanya sesuatu di kelas sama gurunya.
"Gimana cara tau aku itu anak kandung papa sama mama atau nggak?" terus gurunya nggak tau kenapa malah jelasin soal perzinaan ke anak SD yang baru naik kelas dari kelas 1. Parah.
Iya, jadi ceritanya Mark juga jadi kepengaruh sama pikiran Haechan; jangan-jangan malah Mark yang bukan anak kandung?! Gitu. Soalnya, Mark ngeliatnya tuh papa sama mamanya bener-bener sayang kok sama Haechan. Kenapa Haechan bisa kepikir gitu sih?
"Tuh, ada hyung!"
Mark nggak tau kenapa berasa banget dia yang lagi dipanggil, terus nengok. Oh, Jaemin dan Renjun. Kayaknya mereka juga mau jajan.
"Hyung, Haechan ke mana? Renjun nyariin." Jaemin nunjuk Renjun yang ada di sebelahnya.
"Nyariin? Kenapa? Haechan sakit, jadi dia di rumah." Mark nanya Renjun. Tumben banget. Tapi nggak juga sih, emang baru sekarang aja si adeknya itu ngilang.
"Nggak kenapa-napa sih… cuma, aku bawa mochi bubblegum lagi buat dia," kata Renjun sambil nahan malu, gatau kenapa. "soalnya kemarin dia kayak bete gitu."
Oh, ternyata betenya keliatan banget ya sampe temen-temennya pada mikirin. Mark kan nggak sekelas, dia jadi nggak tau mereka-mereka jadi ngobrolin apa aja.
"Sakit apaan, hyung? Si Haechan."
"Ngg… nggak tau sih. Demam, kayaknya."
Jaemin dan Renjun ngangguk-ngangguk. Mereka rada nggak nyangka aja bahkan Haechan juga bisa kena demam.
"Terus? Hyung nanti pulang sama aku lagi nggak? Lega kan nanti, Haechan nggak ada." Jaemin ketawa. Emang, mobilnya kemaren itu penuh sesak. Nggak juga sih. Tapi Haechan tuh duduknya nggak bisa diem. Kemaren, mungkin rada mendingan soalnya dia lagi bete, jadi nggak petakilan, tapi tetep aja.
Mark menggeleng. Tadi Johnny bilang sama dia kalo nanti Johnny yang jemput, jadi nggak perlu ikut mobilnya Jaemin. Jaemin rada kecewa pas dijawab begitu, tapi ya mau gimana lagi.
…
…
Haechan sekarang udah bangun. Matanya sudah terbuka walaupun tidak begitu lebar. Panas wajahnya membuat untuk membuka mata rasanya perih. Dia hanya berbaring di tempat tidur kakaknya itu, sambil menikmati kompresan dingin pada keningnya.
Tadi, mamanya sempat mengajaknya pindah ke kamarnya agar lebih mudah mengurus Haechan, tapi Haechan menolak. Dia bersikeras tidak mau meninggalkan kamarnya. Akhirnya mamanya hanya menghela napas lalu keluar dari kamar untuk membawa masuk air minum dan baskom untuk kompres.
"Minum yang banyak dan sering-sering ke kamar mandi ya? Biar panasnya cepat turun." Itu kata Taeil sambil menunggu Haechan selesai minum. Haechan suka kok disuruh minum banyak air, tapi maunya air es. Tapi siapa sih yang bakal ngasih air es ke anak yang lagi demam? Yang pasti bukan Taeil.
Sekarang, Haechan sendirian di kamar nggak ada kerjaan. Taeil lagi di lantai bawah, nggak tau ngapain. Haechan lama-lama jadi bosen juga, sampe-sampe dia obok-obok air yang ada di dalam baskom.
Nggak lama, Haechan denger suara pintu depan dibuka. Oh, kayaknya papanya udah pulang. Haechan bisa denger obrolan mereka, tapi cuma samar-samar. Pelan-pelan, Haechan turun dari tempat tidurnya terus keluar dari kamar. Dia mengintip dari celah-celah tangga.
"Kamu lagi banyak kerjaan, kan? Aku bisa jaga Haechan sendiri, kok." Itu suara Johnny. Ada nada-nada bersalah dari cara bicaranya.
"Nggak, Youngho. Aku udah nggak bisa percaya kamu lagi." Suara Taeil. Dia sepertinya sedang sibuk mengoreksi kertas ulangan muridnya.
Johnny menghela napas. "Aku minta maaf yang waktu itu. Nggak akan kuulangi lagi."
Taeil tidak membalas apapun. Yang terdengar selanjutnya hanya suara kertas yang dibolak-balikkan.
Haechan tanpa sadar mengencangkan cengkeramannya pada pegangan tangga sampai terdengar suara deritan. Johnny langsung mendongakkan kepala dan menemukan Haechan di sana dengan wajah merah. "Haechan? Ngapain di situ?"
Taeil mengikuti arah pandang Johnny. Haechan berjengit karena dipikirnya dia kepergok mencuri dengar. "Haechan mau makan? Mama nanti ke atas. Tunggu ya," kata Taeil sambil merapikan kertas-kertasnya sekadarnya saja. Dia lalu berdiri dan berjalan ke ruang makan, sementara Johnny menaiki tangga. Haechan takut.
"Haechan di bawah aja ya. Kasian mama kalo naik-turun tangga." Johnny lalu meraih badan Haechan dan menggendongnya dengan satu tangan –dasar. Haechan berpegangan erat karena duh papanya ini tinggi sangat, beda sama mamanya. Dia takut jatuh, apalagi digendong seperti itu sambil menuruni tangga.
Johnny menempatkan Haechan di kursi meja makan tanpa disadari Taeil yang sedang mengambilkan makan untuk Haechan. Johnny hanya berdehem untuk membuat Taeil membalikkan badan lalu tersenyum ketika melihat mereka sudah duduk manis.
"Kamu juga mau makan?" tanya Taeil pada Johnny. Diletakkannya piring berisi makanan di depan Haechan, lalu dia juga duduk di kursi sebelahnya. Johnny sok-sokan berpikir.
"Mau sih… tapi aku lagi sibuk banget ini hmm…." Halah. Banyak gaya.
"Yaudah, nggak usah. Balik kerja sana."
Johnny ketawa karena memang itu reaksi yang diharapkannya dari Taeil. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Taeil yang sedang menyuapi Haechan. "Mau sesendok."
Taeil geleng-geleng, tapi dia langsung menukar sendok yang digunakannya untuk menyuapi anaknya itu dengan sendok baru yang ada di meja. Taeil tidak mau Johnny jadi sakit juga. Dia tidak mau kalau harus izin dari mengajar lagi hanya karena ada bayi besar yang harus dirawat di rumah.
Haechan hanya diam melihat tingkah orangtuanya. Dia jadi makin tidak mengerti setelah mendengar pembicaraan mereka yang berlangsung tidak begitu lama tadi. Dia sibuk memikirkan apa kesalahan yang papanya lakukan sampai-sampai mamanya tidak bisa percaya lagi padanya –dan papanya juga sudah minta maaf.
Apa Haechan yang jadi masalahnya di sana? Haechan jadi berpikir seperti itu saking tidak mengertinya.
Haechan tiba-tiba menangis. Dia tidak meraung-raung, tapi Taeil dibuat bingung sebingung-bingungnya saat itu juga. Dia langsung meletakkan sendoknya dan mengusap-usap pipi Haechan yang basah, sambil terus bertanya apa yang salah.
Johnny yang tadi sudah pergi untuk melanjutkan pekerjaannya juga jadi kembali lagi ke ruang makan. "Haechan kenapa?" tanyanya, entah pada Taeil atau pada Haechan. Dia hanya ingin dijawab.
Taeil menggelengkan kepala. Dia juga tidak tahu. Yang dia rasa bisa lakukan sekarang cuma menenangkan tangisan Haechan yang malah makin menjadi.
Johnny mendekat untuk niatnya memeluk Haechan yang juga sedang dipeluk Taeil, tapi Haechan makin mengeraskan tangisannya, sehingga Johnny tanpa sadar menarik diri. Tapi Johnny tidak pergi dari sana karena Haechan menarik ujung baju yang dikenakan Johnny, seakan melarangnya pergi.
Haechan mengerti dia tidak terlalu pandai dalam menyimpulkan hal satu dengan hal yang lainnya, tapi dia sekarang benar-benar tidak bisa tidak curiga jangan-jangan dia adalah anak dari salah satunya saja. Dia sedih tentang itu, tapi dia menangis karena melihat ternyata papa dan mamanya tetap menyayanginya walaupun Haechan bukan anak dari keduanya.
Duh, kasian. Ini butuh diluruskan.
"Haechan, bilang sama kita. Kamu nangis kenapa?" Johnny ngelus rambutnya Haechan. "Kita nggak bakal marah kok."
Haechan berenti sebentar buat ngeliat papanya. "Beneran?"
Johnny ngangguk.
"…aku sebenernya anak siapa?"
…ngg?
Taeil natep Johnny. Johnny natep Taeil. Haechan natep dua-duanya bergiliran. Dia bener-bener nunggu siapa yang kira-kira bakal jawab duluan.
"…kamu…." Haechan natep Johnny, ngiranya dia yang bakal pertama jawab. "Kamu kenapa bisa nanya gitu? Ya kamu anak papa sama mama lah."
"Boong!" pekik Haechan, ngebuat papa sama mamanya kaget lagi. Suaranya nyaring banget. "Aku denger tadi papa sama mama ngomong! Katanya mama nggak percaya lagi sama papa! Terus kemaren-kemaren papa sama mama ngomongin soal aku! Katanya papa bikin salah!"
Haechan nangis lagi. Dia capek diboongin mulu sama orangtuanya. Padahal Haechan cuma mau dijawab jujur aja. Kalo misalnya dia emang cuma anak salah satunya dari mereka, Haechan bisa terima.
Episode dua dari Johnny dan Taeil yang tatep-tatepan. Mereka nggak tau mau ketawa apa gimana, tapi… mereka bingung gimana jelasinnya!
"Haechan, Haechan. Dengerin mama ya," kata Taeil sambil megang kedua pipi Haechan. "Haechan itu anak mama sama papa. Kamu tau kan mama sibuk banget?" Haechan ngangguk. "Mama nggak bakal mau ngurusin kamu sampe nggak masuk kerja kalo emang kamu bukan anak mama."
"Soal omongan papa sama mama itu… hmm… itu kamu nggak usah pikirin ya? Itu masalah uang. Papa dititipin uang sama mama, terus papa lupa nyimpen uangnya di mana terus ilang. Makanya mama udah nggak mau lagi ngasih papa uang," kata Johnny sambil kedip-kedipin mata ke Taeil yang sekarang ngeliatin dia. "Yang penting, kamu anak papa sama mama. Udah, kamu cukup ngerti itu aja."
Haechan sekarang nggak nolak lagi pas Johnny meluk mereka berdua sekaligus. Johnny sekarang jadi kepikiran jangan-jangan Haechan sakit gara-gara mikirin obrolannya dia sama Taeil kemaren-kemaren. Duh, dia ngerasa salah banget.
Pas Johnny lepasin pelukannya, ternyata Haechan ketiduran. Taeil ketawa pelan. "Saking leganya ya?"
"Iya kayaknya." Johnny gendong Haechan lagi, mau dibawa ke kamarnya.
Sebenernya mumpung anaknya udah tidur, dia pengennya nempatin Haechan di kamar Taeil sama Johnny aja yang ada di lantai bawah biar gampang, tapi… mereka masih butuh bicara. Dan mereka nggak mau Haechan denger lagi.
…
…
"Youngho," panggil Taeil pada Johnny yang baru masuk kamar. Dia baru aja balik dari kamar Haechan. "Soal yang kemarin, aku udah pikir-pikir lagi."
"Jadi?" muka Johnny jadi lebih cerah. Dia menanti jawaban selanjutnya dari Taeil.
"Aku tetep mau minta biar jam kerjaku dipotong."
Lalu muka Johnny berubah keruh. "Kenapa?" dia mendekat ke Taeil. "Kamu segitunya nggak bisa percaya aku bisa ngurus Mark sama Haechan sendiri? Aku janji aku nggak bakal ngulangin lagi yang waktu itu!"
Taeil diem. Dia lagi inget-inget ke beberapa tahun lalu waktu mereka baru pindah ke Neokultur. Haechan waktu itu umurnya 4 tahun, Mark 5 tahun. Taeil baru mulai kerja jadi guru, jadi bisa dibilang mereka sedang beradaptasi baik dengan tempat tinggal maupun jadwal kerja.
Sebenernya, orangtua Taeil bilang kalo anak-anak masih pada kecil-kecil, jangan jadi guru di sekolah yang full-day, biar bisa ngurus anak-anak sendiri. Tapi Johnny bilang, karena dia kerja di rumah, dia bisa jaga mereka. Jadilah Taeil tetep ngelamar kerja di sekolah swasta yang gajinya tinggi.
Minggu-minggu pertama, nggak ada masalah. Taeil nanya ke Johnny, anak-anak udah pada makan belum? Kata Johnny 'udah', jadi Taeil tenang-tenang aja di sekolah.
Dulu, pas jam pulangnya Taeil masih kisaran jam 5, dia pernah pulang terus cuma bisa nemuin Johnny yang lagi kerja di depan laptop dan Mark yang lagi nonton TV. Taeil nanya ke Johnny, Haechan di mana? Terus dijawabnya 'ke toilet kali'. Taeil cek ke toilet, nggak ada. Akhirnya Taeil nanya ke Mark.
"Haechan tadi diajak pergi sama orang. Katanya mau dikasih mobil-mobilan. Aku juga tadi minta ikut, tapi katanya cuma ada satu doang mobil-mobilannya jadi cuma Haechan yang diajak."
Seketika itu juga, Taeil langsung teriak manggil-manggil Johnny. "Youngho! YOUNGHO!"
"Eh apa apa kenapa?" Johnny berlarian ke ruang TV, panik denger suara Taeil yang kayak mau nangis. "Hyung, kenapa hyung?"
"Haechan…! Haechan…!"
Johnny nggak ngerti, terus Mark jelasin walaupun Johnny belum nanya. Dia kayak ngerti aja mamanya jadi begitu gara-gara jawabannya dia. Terus Johnny diem. Demi apa men?
"Kamu gimana sih?! Haechan diambil orang kan sekarang…!" Taeil udah nggak bisa buat nahan paniknya. Dia udah kebayang nggak bakal ketemu anaknya yang paling kecil itu lagi.
"T-Tenang, tenang dulu…," kata Johnny, sambil megangin Taeil biar dia berenti mukul. "K-Kamu tau kan Haechan anaknya gimana? Paling penculiknya nggak tahan sama dia, terus nggak lama lagi bakal mulangin…haha."
Haha.
Haha.
Oh, dia masih bisa ngelawak? Taeil mau liat dia masih bakal ngelawak apa nggak setelah Taeil pukul sampe abis laptopnya dia.
Taeil nggak tau kalo keadaan gitu harus gimana, apalagi suaminya juga nggak bisa dijadiin andalan. Dia kepikiran kalo kayak gitu, lapor dulu ke ketua RT. Tapi… ketua RT-nya kan…! Nggak, waktu itu belum Johnny yang jadi ketua. Kan dia baru pindah. Waktu itu, ketuanya tuh Suho. Dia jauh lebih normal dari Johnny, Taeil sampe rasanya lega banget.
Pas dapet laporan itu, langsung pada ribut. Jaehyun langsung gandeng Jeno terus-terusan, biar dia nggak ke mana-mana. Ten –wah, Ten waktu itu pasti bakal kelimpungan banget kalo misal Taeyong nggak di rumah. Jisung masih kecil banget, harus digendong –walaupun sekarang ternyata juga masih minta digendong walaupun nggak harus-harus banget. Taeyong juga gandeng Jaemin, tapi bedanya sama Jaehyun, Taeyong bener-bener harus lebih extra kuat dalam menggandeng Jaemin –Jaemin udah siap lari-larian ngejar si penculik buat bawa pulang Haechan.
Oh, iya. Ada Yuta lho. Tapi yang keliatan di sana cuma dia doang. Pas dapet kabar itu, Yuta langsung ngelarang Winwin, Renjun sama Chenle buat keluar dari rumah. Biar Yuta aja yang nengokin. Kalo mau jujur, Yuta lebih takut Winwin yang diculik. Soalnya, Winwin kayak yang ngerti nggak ngerti sama orang asing. Beda sama Renjun dan Chenle yang sama orang buang sampah sembarangan aja langsung diteriakin –apalagi yang asal main ajak pergi.
Pas akhirnya mereka mutusin mau lapor ke polisi, satpam bilang kalo Haechan udah pulang dianter banyak orang. Taeil langsung melukin Haechan sambil nangis. "Kamu ke mana aja? Mama takut banget…."
Terus Haechan jelasin kalo tadi dia diajak sama orang yang katanya mau ngasih mobil-mobilan –persis kayak yang Mark ceritain. Tapi setelah kira-kira 15 menit mereka jalan dan 15 menit mereka berdiri di pinggir jalan, orang itu masih aja jawabnya 'nanti ya', 'pasti dikasih kok' tiap Haechan nagih mobil-mobilannya. Kesel, akhirnya Haechan mukulin orang itu sambil teriak-teriak 'KATANYA MAU NGASIH MOBIL-MOBILAN! CAPEK TAU JALANNYA!'. Jalanan di situ lagi rame, dan untungnya orang-orang di sana langsung bisa ngartiin kalo orang yang lagi dipukulin Haechan itu penculik. Mereka langsung amanin Haechan terus gantiin dia ngegebukin.
Dalam hati, si penculik nyesel kenapa dia nggak ngajak anak yang satu lagi aja yang kayaknya lebih kalem –Mark.
Taeil langsung keinget sama candaan Johnny sebelum itu. Kok ada benernya juga ya, tapi Taeil tetep nggak terima. Kasusnya akhirnya ditutup dengan Taeil nggak berani lagi buat ninggalin Mark dan Haechan bareng sama Johnny doang buat lebih dari dua jam.
Terus sekarang Taeil ngerasa dia udah harus lebih banyakin waktu sama Mark dan Haechan, jadi kemarin-kemarin dia bilang ke Johnny kalau dia ada rencana buat minta jam kerjanya dipotong –yang tentu juga berimbas ke gaji. Atau kalau misal nggak dikabulin pun berarti dia mau resign aja.
Johnny langsung mukanya nggak enak banget. Dia mikirnya Taeil masih takut soal yang waktu Haechan diculik. Jadi dia nggak mendukung. Padahal Taeil udah jelasin kalau dia cuma mau lebih sering sama anak-anak.
"Kamu kenapa sih nggak mau aku bisa lebih sering di rumah?" tanya Taeil, tanpa niat apa-apa. Dia cuma asal ngomong aja. "Jadi nggak bebas?"
"Bukan… tapi… kamu suka banget sama kerjaan kamu kan?"
"Hmm… tapi nggak sesuka itu sampai aku jadi lebih pilih kerjaan daripada Mark sama Haechan."
Johnny diem. Iya juga. Tapi dia tuh bener-bener berasanya kalau dia yang bikin Taeil jadi lebih pilih di rumah daripada di sekolah tempatnya mengajar.
Taeil menghela napas. Dia jadi bingung juga gimana cara ngeyakinin Johnny.
"Youngho, jujur aja aku emang masih rada nggak yakin buat kamu jagain Mark dan Haechan gara-gara yang waktu itu," kata Taeil sambil benerin posisi duduknya, mendekat ke Johnny. "Tapi kalau alasannya cuma kayak gitu aja, aku bisa saja lho terus-terusan minta titip mereka ke tetangga –Jaehyun dan Ten juga sering nawarin biar Mark sama Haechan main di rumah mereka aja sampai aku pulang."
Johnny nggak ngerti Taeil sebenernya maksudnya gimana. Mau nunjukin seberapa nggak percayanya Taeil ke Johnny, gitu?
"Tapi alasan yang paling utama itu aku mau –… ya… aku mau jadi yang berperan paling besar dari tumbuhnya Mark dan Haechan. Dan aku sadar aja, kalau misalnya aku nggak ngurangin jam kerja, aku malah jadi nggak ada peran sama sekali."
Johnny melihat Taeil menundukkan kepalanya. Tangannya bergerak-gerak gelisah –mungkin malu karena ucapannya yang tidak biasa. Setelah itu, mereka membicarakan lagi lebih lanjut soal pekerjaan Taeil. Diputuskan Taeil akan mengajukan pemotongan jam kerja dengan alasan mengurus anak, dan diharapkannya bisa kembali ke jam kerja semula setelah paling tidak Mark dan Haechan kelas 6 –lama juga.
…
…
"Hati-hati," kata Taeil pada Johnny yang sekarang berada dalam mobil. Dia akan menjemput Mark karena sudah jam setengah 1.
"Haechan, papa pergi dulu." Johnny melambaikan tangan pada Haechan yang ada di gendongan Taeil –tadi Haechan memang tidur, tapi dia tiba-tiba keluar dari kamar sambil memanggil-manggil 'papa' karena mendengar suara mobil yang dinyalakan. Haechan balas melambai tanpa senyuman, tapi bisa terlihat moodnya sedang bagus.
Taeil mengajak masuk Haechan begitu mobil Johnny sudah tidak kelihatan. Dia bertanya pada Haechan apa dia mau kembali tidur atau tidak, dan Haechan menjawab dia ingin menonton TV saja. Ketika Taeil menurunkan Haechan supaya duduk di sofa ruang TV, tiba-tiba Taeil terpikir sesuatu.
"…kamu bisa kepikiran sesuatu yang kayak… kamu bukan anak papa sama mama gimana caranya?"
Haechan yang sekarang sudah sibuk memindahkan channel TV tidak langsung menjawab. "Aku denger papa sama mama bicara."
"Bukan. Maksudnya… kamu tau hal kayak begituan darimana?"
Iya ya. Kenapa Taeil baru kepikiran anehnya sekarang ya? Haechan masih kelas 1 tapi dia udah yang kayak paham aja pembicaraan yang rada dewasa dan rumit kayak gitu –Taeil pasti bakal tambah bingung lagi kalau dia tau yang dicurigain Haechan itu sebenarnya dia cuma anak dari salah satu Taeil atau Johnny. Maksudnya, ada beberapa cerita anak yang membahas tentang anak pungut dan segala macamnya, tapi kayaknya jarang atau hampir nggak ada yang bahas soal anak dari salah satunya saja –mungkin ada Cinderella, tapi kalau dalam cerita, Cinderella jelas-jelas tahu kalau ayahnya menikah lagi. Johnny dan Taeil kan tidak begitu.
"Aku dulu pernah liat di TV ada yang orang-orangnya bicaranya kayak papa sama mama kemarin," jawabnya. Matanya mulai terkunci pada TV. "Udah lama sih. Waktu kita baru pindah ke sini."
Taeil diam. Waktu baru pindah? Itu kan waktu Taeil baru dapat kerja. Waktu itu, Taeil udah langsung sibuk jadi dia nggak ada di rumah. Tapi dia tenang-tenang aja karena… ada Johnny di rumah….
Hah. Taeil buang napas. Dia jadi mikir mending Johnny cari kerja di luar aja lah.
…
…
"Pa."
"Hm?" Johnny menyahut panggilan anak tertuanya yang sekarang sudah ada di kursi penumpang di sebelahnya. "Kenapa Mark?"
Mark berpegangan erat pada sabuk pengamannya. "…aku dipungut di mana pa?"
TIIIIN. Johnny nggak sengaja jedotin kepalanya pada setir mobil. Dia nggak peduli pas ada yang gedor-gedorin kaca mobilnya. Dia udah nggak peduli. Dia capek. Tapi dia langsung mulai jawabin pertanyaan Mark waktu Mark mulai kedengeran nangis gara-gara papanya nggak jawab pertanyaannya.
.
.
.
Chapter 4 part 2 END
a/n. gw kenapa sih. Mau lambai-lambai dulu sama pembaca baru, halooo!
Oh iya. Aku bingung ini dilanjut apa nggak. Aku baru tau ternyata udah ada yang nulis ff kayak gini juga huhu emang gak pernah nyari pairingnya soalnyaa. Aku liat review-review di ff itu kayaknya bagus, pengen baca, tapi aku gampang ter-influenced jadi aku baru mau baca kalo udah gak lanjutin ff ini tapi gatau kapan karena aku betah haha. Tapi yah yang penting, cuma pengen bilang aku bikin ini bukan pengen niru ff yang itu. emang keikut pengen nulis ff domestic dan familial kayak gini gara-gara ff yang juga udah ada sih, tapi ff yang ditulis leejegun –dan orangnya juga udah tau (ya kan kak haha tuing tuing). Jadi yah… yaudah gitu aja.
