Yoongi terbangun dari tidurnya dengan kepala nyeri dan rasa mual yang tidak tertahankan. Langsung ia berlari ke arah kloset dan memuntahkan sedikit isi perutnya. Setelah menekan tombol flush dan mengingat-ingat bahwa ia hanya minum satu botol Soju, Yoongi berdecak sebal-biasanya ia butuh lebih dari 2 botol dan sekarang dia malah muntah karena minum 1 botol semalam! Alpha tersebut mengacuhkan Heechul yang memandanginya dengan wajah penasaran, namun pria tersebut langsung mengasumsikan bahwa namja pucat tersebut mabuk semalaman.
Jimin...
Tiba-tiba terbesit Jimin di kepalanya. Ia samar-samar mengingat Jimin melenguh seperti ketagihan ekstasi, dan selanjutnya adegan Jimin membentak marah padanya, dan sebagian lagi ingatan samar ia mencium namja tersebut dengan paksa. Memaksakan tubuhnya pada Jimin.
Jika Namjoon-nim yang telah menikah bisa berhubungan dengan Omega sepertimu, maka aku pun juga bisa.
Yoongi terduduk di atas tutup kloset dengan wajah penuh penyesalan.
Ia setengah mabuk saat mengatakannya semalam.
"Ssi-daeng! Apa yang harus aku lakukan nanti kalau aku bertemu dengannya?"
A GENIUS IN LOVE
Bagian 2
Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!
Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, karakter boyband lainnya
Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, TaeKook
23 Oktober 20xx, Seoul
09.42 a.m
Jimin terbangun dengan mata sembab setelah ia menangis penuh semalaman. Dilihatnya alarm di sebelahnya masih berdering keras, dan dengan malas ia menekan tombol off. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.42. Sambil menyeka wajahnya ia berjalan ke arah wastafel di kamar mandi dan menyalakan keran.
Apa yang harus kulakukan hari ini kalau bertemu dengan Yoongi-hyung? Gumamnya.
Ucapan Yoongi semalam mengenai hubungannya dengan Namjoon, cara Alpha tersebut menciumnya dengan paksa... semua bayangan tersebut melebur jadi satu. Jimin kembali membasuh wajahnya dan menatap cermin. Wajahnya terlihat lelah karena ia baru tidur pukul 4 pagi tadi, terlalu sibuk menangis semalaman.
Semua ini karena Min Yoongi.
Jimin menghela napas panjang dan langsung beralih ke sebuah pintu yang terletak berseberangan dengan kamar tidurnya. Ia memutar kenop pintu dan memasang wajah kaget saat mendapati Jungkook melingkarkan tubuhnya—memeluk tubuh Taehyung. Bukan karena mendapati keduanya tidur bersama, tetapi karena ia tahu bahwa tubuh Taehyung dan Jungkook sama-sama telanjang. Pasti semalam tadi, karena ia terlalu sibuk menangis, Jimin tidak menyadari bahwa Taehyung dan Jungkook melakukan seks.
"Hei—Taehyung-ssi, Jungkook-ah—kenapa kalian—"
"Uhn, pagi, Jimin-ssi," kata Taehyung setengah mengantuk, hanya satu mata yang terbuka menatap Jimin. Ia berusaha melepaskan diri dari Jungkook saat menyadari temannya sedang mendapati dirinya tidur dengan teman satu band mereka. Sementara teman satu band mereka yang paling muda, Jungkook, tetap tertidur seperti orang mati.
"Bagaimana kalau ada staff yang kesini dan melihat kalian seperti ini?!" seru Jimin kesal, "Sudah aku bilang, kalau kalian mau berhubungan seks atau melewatkan heat, lebih baik di hotel sekalian!"
"Nggh, jam berapa sekarang—"
"Jam 09.42, kalau kau tidak mau terlambat, lebih baik cepat bangunkan Jungkook-ah sekarang juga," kata Jimin sambil beranjak ke ruang shower.
Jimin menggigit bibirnya mendengar dirinya sendiri menasehati Taehyung dan Jungkook. Ia tahu bahwa beberapa kali Taehyung tidur dengan Jungkook dan melewatkan heat semenjak mereka membentuk boyband BTS. Taehyung juga Omega seperti dirinya, namun yang mengkhawatirkan adalah Jungkook seorang Alpha—namun tidak pernah sekalipun ia menggunakan kondom saat mereka berhubungan seks. Jimin sedikit penasaran, bagaimana caranya mereka melewatkan heat tanpa membuat Taehyung hamil sama sekali.
Ia teringat ucapan Yoongi kemarin, dan membuatnya tersadar bahwa yang Yoongi lakukan sama yang ia lakukan pada Taehyung. Menangkap basah orang yang mereka kenal sedang berhubungan seks dengan satu sama lain. Mungkin pemandangan semalam mengejutkan Yoongi, dan tanpa sadar pria tersebut langsung melemparinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu personal. Tapi kenapa ia sampai harus mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan?
Wajah Jimin memerah tanpa sadar.
Ia berharap tidak usah masuk untuk latihan hari ini.
Atau jika tidak, semoga Yoongi tidak masuk kerja hari ini.
23 Oktober 20xx, Seoul
10.30 a.m
Yoongi datang lebih pagi hari itu. Selama 10 menit ia mencari petugas keamanan yang tugas berjaga semalam, mencari tahu apakah salah satu dari mereka ada yang menemukan kunci apartemennya—yang dijawab mereka dengan bahu terangkat. Ia harus menunggu selama 25 menit lainnya untuk akhirnya menyapa Zhoumi, sebagai orang kedua yang tiba di kantor. Zhoumi menatap Yoongi dengan tatapan takjub, "Sejak kapan kau datang, Yoongi-ah? Kenapa tumben sekali kau datang pagi-pagi?"
"Aku mau menyelesaikan lagu yang kemarin belum sempat aku selesaikan dan membicarakannya dengan Namjoon-nim," sahut Yoongi dengan wajah datar.
"Oh, paling Namjoon-nim baru datang sehabis makan siang hari ini."
Yoongi menepuk dahinya dengan menyesal, "Kalau begini aku bisa tidur lebih lama satu jam!"
Zhoumi hanya menyahut dengan tawa.
Sambil menunggu Namjoon tiba, Yoongi memutuskan untuk pergi ke lantai 2 untuk membeli minuman di mesin penjual otomatis dan pergi tidur di kursinya. Toh di tempat bekerjanya, tidak ada peraturan yang melarangnya untuk tidur di saat jam kerja—selain itu ada sofa yang khusus disediakan untuk pegawai dan staff yang kelelahan.
Saat ia tiba di lantai 2 dengan menuruni tangga darurat, Yoongi mendapati Jimin sedang mengambil sebotol greentea dari mesin penjual otomatis. Sontak dada Yoongi terasa sesak, mengingat hal yang diperbuatnya pada Jimin semalam. Namun sudah terlambat baginya untuk kabur saat Jimin membalikkan badan dan hampir melompat kaget saat melihat Yoongi berdiri dari tadi di belakangnya.
"Ah, Jimin-ah."
Jimin terlihat panik dan hanya membungkukkan tubuh sekilas pada Yoongi, sebelum akhirnya berusaha melarikan diri. Tapi Yoongi menarik tangannya dan berkata, "Aku minta maaf, untuk kejadian semalam. Aku—aku terlalu mabuk, jadi aku tidak sepenuhnya menyadari apa yang aku katakan."
"Tidak masalah bagiku," jawab Jimin cepat sambil berusaha melepaskan tangannya, "Jika kau tidak keberatan, kau bisa melepaskanku sekarang."
"Tidak sebelum kau memaafkanku," Yoongi menarik tangan Jimin lebih keras, sehingga namja tersebut memekik pelan. Mau tidak mau Jimin menatap kedua mata Yoongi dengan wajah kesal.
"Lepaskan sekarang sebelum aku meninju wajahmu."
"Lakukan saja sekarang kalau bisa."
Jimin meninju wajah Yoongi hanya untuk mendapati tangannya yang terkepal, dengan mudah ditangkis oleh Yoongi. Kini kedua tangannya berada di genggaman Yoongi. Sebelum orang-orang mulai mempertanyakan apa yang sedang mereka lakukan, Yoongi menarik Jimin menuju tangga darurat, tidak peduli dengan lengkingan Jimin.
"Kau kira aku mau memaafkanmu setelah kau memaksaku seperti kemarin, hah?!" seru Jimin marah, "Aku tidak peduli jika kau mau membocorkan soal kemarin—"
Yoongi menutup mulut Jimin dan mendorong tubuh namja tersebut ke pojokan dekat pintu darurat, "Tutup mulutmu jika kau tidak ingin ada orang yang mendengar soal kemarin. Ingat, aku sendiri tidak ada niatan untuk membocorkan soal yang kulihat antara kau dan Namjoon-nim."
"Lalu apa yang mau kau lakukan sekarang?"
Jimin menatap marah Yoongi, yang justru di mata pria tersebut malah terlihat manis. Ia hanya tersenyum kecil dan menatap kedua mata Jimin, "Aku ingin mengajakmu jalan hari ini, sebagai permintaan maaf."
"Mwo?" Jimin mendengus meremehkan ucapan Yoongi, "Kau kira dengan mengajakku jalan, aku mau memaafkanmu? Bahkan aku tidak akan pernah mau pergi dengan kau setelah apa yang kau lakukan kemarin, Yoongi-ssi!" kali ini Jimin tidak memanggil Yoongi tanpa sebutan formal sama sekali.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak jadi meminta maaf. Tapi sebagai gantinya kau tidak mau memaafkanku, kau harus jalan denganku. Bagaimana?"
Jimin meringis menatap Yoongi seolah-olah pria tersebut adalah alien, "Ucapanmu tidak masuk akal, tahu?"
"Sekarang pilihannya," kata Yoongi setengah malas, "Kau pergi denganku hari ini atau memaafkan semua tentangku soal kemarin?"
"Hah, yang be—"
Yoongi meninju tembok dengan sedikit lebih keras daripada yang ia inginkan, membuat Jimin terlompat kaget, "Pilih. Salah. Satu."
Jimin menatap Yoongi dengan tatapan nanar seperti ingin menangis dan menjawab dengan suara bergetar, "B-baiklah. Hari ini."
Yoongi tersenyum penuh kemenangan, "Bagus. Hari ini, jam 6. Kalian latihan sampai jam 6 bukan?" ia melepaskan tangannya dari Jimin.
Jimin tidak mengiyakan dan hanya berlangsung pergi dari hadapan Yoongi.
Setelah Jimin pergi, Yoongi merasakan tangan kanannya sakit luar biasa. Ia baru sadar bahwa ia meninju tembok terlalu keras. Zhoumi yang dari tadi memperhatikan Yoongi mengompres tangannya dengan Coca Cola dingin di tangannya, bertanya dan hanya dijawab dengan lenguhan malas dari Yoongi. Setidaknya hari ini mendapat janji kencan dengan Jimin.
23 Oktober 20xx, Seoul
11.52 a.m
Namjoon memperhatikan latihan boyband baru didikannya yang akan debut dalam waktu kurang dari 5 bulan dari balik kaca. Ia melihat mereka sibuk berdiskusi dengan Hoseok mengenai koreografi untuk lagu yang sudah ditulis dan diproduksi oleh dirinya sendiri. Kemudian matanya menangkap wajah Jimin yang terlihat lesu. Beberapa kali ia kehilangan fokus dan Hoseok harus menepuk bahunya untuk mengembalikan perhatian namja tersebut, sementara kedua temannya hanya tertawa mengejek Jimin.
Saat ia berhasil mendapatkan perhatian Jimin, ia memberi kode agar Jimin pergi menemuinya saat makan siang. Jimin hanya diam beberapa saat sebelum membalas dengan jempol tangannya.
Selesai BTS melakukan latihan mereka, Namjoon sudah menunggu di depan studio tari. Tangannya memberi petunjuk pada Jimin untuk mengikutinya ke ruangan studionya di lantai 4. Jimin mengekorinya dengan langkah malas, membuat Namjoon semakin penasaran dengan tingkah laku orang kesayangannya tersebut hari ini. Setelah mereka sampai di studio Namjoon dan memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mengikuti mereka, Namjoon berkata, "Ada apa denganmu hari ini? Kau masih memikirkan soal kemarin?"
Jimin menatap Namjoon sebentar dan langsung mengalihkan pandangannya ke kaki, "...mungkin? aku hanya khawatir akan ada orang yang mengetahui hubungan kita, cepat atau lambat."
"Hei," Namjoon mengulurkan tangannya dan mengelus wajah Jimin dengan penuh kelembutan, yang membuat Jimin semakin tidak dapat menahan air matanya, "Hei. Aku sudah bilang, kan? Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Publik hanya akan menganggap hal itu sebagai rumor, apalagi kau masih belum memulai debut. Dan jika memang ada staff atau pegawai di sini yang mengetahui hubungan kita, dia pasti akan tutup mulut."
Jimin hanya mengangguk dan menghapus airmatanya. Ia sangat menyukai aroma Alpha di hadapannya ini. Suaranya juga, sikapnya terhadap Jimin. Sungguh berbeda dengan Yoongi. Namjoon lebih menenangkan, dan ia menyukai hal itu.
"Kau mau kita melakukannya lagi hari ini?" tanya Namjoon lembut setelah Jimin menghentikan tangisan kecilnya.
"Hari ini?" tanya Jimin, "Namjoon-sajangnim, aku rasa—" Jimin menelan ludahnya. Mengingat bahwa hari ini Yoongi membuat janji untuk pergi dengannya. Bisa saja ia menolak tanpa memberitahu Yoongi, bisa saja ia—"Tidak bisa, aku ada janji hari ini. Lain kali saja? Bukankah sedikit melelahkan untuk melakukannya setiap hari?"
Namjoon hanya mengangguk pelan dan meremas tangan Jimin, "Baiklah kalau begitu. Lain kali, tapi harus dalam waktu minggu ini, oke?"
Jimin mengangguk pelan, "Oke."
Setelah mereka berbincang beberapa saat lebih lama, Jimin meminta izin pada Namjoon untuk makan siang bersama anggota lainnya. Namjoon mengangguk mempersilahkan dan kembali pada pekerjaannya yang seharusnya ia selesaikan kemarin. Tidak lama ia menyalakan layar komputernya, ponselnya bergetar. Namjoon mengangkat ponsel dan berbicara di telepon, "Jin?"
"Namjoon. Hari ini sepertinya aku akan pulang malam."
"Oh, kenapa tiba-tiba mendadak?"
"Hari ini acara baby shower Ken. Kau ingat 'kan, kita sudah membicarakannya sejak beberapa hari lalu."
Namjoon pura-pura ingat, "Baiklah kalau begitu. Aku titip salam untuk Jae-hwan dan Won-sik."
Ia menutup telepon dan mengingat-ngingat bahwa Ken alias Jae-hwan saat ini sedang hamil anak ketiganya bersama Won-sik, suaminya. Pasangan Omega dan Alpha tersebut sudah menikah hampir sama lamanya dengan Jin dan Namjoon, tetapi nasib mereka begitu baik sehingga mereka memiliki 2 anak dan 1 anak yang masih dalam proses kehamilan (dan mereka membentuk duo penyanyi sejak 10 tahun lalu). Namjoon membayangkan di masa-masa dulu Jin sedang hamil (anak yang apabila masih hidup, yang mungkin saat ini berusia 4 tahun), bagaimana mereka dulu sangat menanti-nantikan kehadiran anak mereka—membayangkan bagaimana Namjoon akan memanjakan anaknya—tidak peduli Alpha, Beta atau Omega, karena ia akan menyayangi anaknya dengan setulus-tulusnya.
Setelah Jin keguguran di usia kandungannya yang menginjak 6 bulan (Namjoon mengingatnya sebagai tahun-tahun tersedih dalam hidupnya), meski beberapa bulan setelahnya Ken dan Ravi berusaha menghibur Namjoon dan Jin, dengan menjanjikan mereka untuk menjadi bapak baptis dari anak kedua mereka (seorang Beta laki-laki bernama Ji Sung yang kini berusia 2,5 tahun), tidaklah sebanding dengan memiliki seorang anak yang lahir dari rahim Omega yang menjadi istri sendiri.
Memorinya terputus saat Namjoon memperhatikan Yoongi berdiri di depan ruangannya dengan sikap menunggu. Ia langsung membukakan pintunya dan berusaha tersenyum, "Kenapa kau tidak mau mengetuk pintunya kalau ingin bertemu denganku?" tanya Namjoon—langsung memahami tujuan Yoongi.
Yoongi membungkukkan tubuhnya dengan sikap hormat, "Maafkan aku Namjoon-nim, tadi aku hendak menunggu selama 10 menit karena mengira kau masih berada di luar."
"Ye, ye, silahkan masuk," ia mengembangkan tangannya, menyuruh Yoongi untuk masuk. "Pasti kau ke sini karena ingin membicarakan soal lirik lagu yang sudah kau tulis?"
Yoongi hanya mengangguk sambil menyerahkan beberapa lembar kertas, "Aku membuat 2 lirik lagu, salah satunya ada memiliki ballad," kata Yoongi menjelaskan, "Ballad ini sebenarnya sedikit personal. Soal mimpi dan kisah patah hati di saat yang bersamaan."
Namjoon mengamati lembaran kertas tersebut dengan wajah tertarik, "Kini aku semakin bersyukur menarikmu menjadi penulis dan produser lagu," ia tersenyum lebar, "Pasti lagu ini akan terkenal dengan banyak orang. Tinggal hanya memikirkan instrumennya saja untuk mempernarik lagu."
"Kira-kira apa tujuanmu membuat grup boyband untuk pertama kalinya?" tanya Yoongi tiba-tiba, membuat Namjoon menatapnya dengan tatapan aneh, "Maksudku, selama ini kau hanya memperkerjakan penyanyi solo dan grup musik duet."
"Ah, pertanyaan yang bagus," Namjoon tersenyum. Ia menyilahkan Yoongi untuk duduk di hadapannya, "Begini, alasanku membuat grup boyband adalah karena mereka memiliki potensi lebih besar untuk menarik perhatian orang."
"Oh?" Yoongi hanya mengangkat alis. Bukankah itu adalah alasan yang sudah umum? Karena boyband sekarang menjadi trend dan mendarah daging di Korea.
"Tapi," Namjoon melanjutkan, "Dengan sekarang banyaknya kasus depresi dan bunuh diri di kalangan anak muda, entah karena masalah personal ataupun masalah lainnya, Korea butuh sosok yang lebih baik. Tujuanku membentuk boyband BTS ini adalah, untuk membuat anak-anak muda di Korea—tidak peduli mereka Alpha, Beta atau Omega, untuk menjadi diri yang lebih baik. Alasanku memilih Jimin, Jungkook dan Taehyung sebagai orang-orang pilihan bukan hanya karena bakat, tapi juga visi dan keinginan kuat mereka untuk menjadi percontohan bagi anak-anak muda di Korea."
Yoongi sekilas terpikir, Jadi kau memilih Jimin bukan karena tertarik dengannya? Tetapi memilih untuk menanggapi, "Ye, aku mengerti." Sesungguhnya ia juga sedikit setuju dengan ucapan Namjoon, karena perusahaan-perusahaan hiburan pada umumnya hanya membentuk grup band yang hanya terdiri dari Alpha-Beta ataupun Omega-Omega. Kecenderungan ini membuat persaingan yang menyulitkan bagi grup band yang hanya terdiri dari Omega, karena di mata dunia hiburan mereka hanya dianggap sebagai simbol seks dan hanya dinikmati oleh Alpha dan Beta yang haus mata.
Sepertinya Namjoon-nim adalah orang yang menjunjung tinggi persamaan gender, pikirnya sedikit takjub. Karena di jaman sekarang ini, baik di dunia pekerjaan maupun dunia politik, Omega masih dipandang sebelah mata. Hanya segelintir Omega yang bisa sukses di keduanya, meski sekarang sudah banyak bermunculan organisasi-organisasi yang mendukung kebangkitan dan persamaan hak Omega.
Tiba-tiba Yoongi kembali merasa bersalah dengan perlakuannya kemarin terhadap Jimin.
Setelah ia berbincang dengan Namjoon dan berdiskusi mengenai instrumen dan komposisi musik, Yoongi mengundurkan diri dari ruangan Namjoon. Ia hendak masuk ke lift untuk pergi ke lantai 2—melihat Jimin latihan di studio tari—tapi kemudian memilih untuk pergi makan siang di lantai 1.
23 Oktober 20xx, Seoul
05.42 p.m
Hoseok orang kedua yang mengomentari perubahan sikap Jimin hari itu, "Jimin-ah, kau sakit? Atau mungkin sudah memasuki waktu heat-mu?"
Jimin tergagap dari lamunannya, "Oh, tidak, Hyung, aku baik-baik saja!" wajahnya sedikit memerah karena sebulan lalu—saat ia pertama kali berkenalan dengan Hoseok, ia harus minta ijin pulang duluan karena sedang mengalami heat yang mendadak menyerang tubuhnya.
"Kau terlihat kurang bersemangat hari ini," komentar Hoseok terus terang. Ia menepuk bahu Jimin, "Lihat Jungkook dan Taehyung, setidaknya kau harus mencontoh mereka—bersikap gila setiap hari. Aku penasaran kapan mereka benar-benar istirahat, maksudku, hampir setiap saat mereka mencandaiku!" gerutu Hoseok sambil menunjuk ke arah Jungkook dan Taehyung yang semenjak latihan sesi kedua dimulai, masih bercanda di sela-sela latihan. Jimin hanya mendengus.
"Aku mengerti, Hyung. Kurasa aku hanya sedikit lelah karena kemarin aku latihan sampai jam 10," kata Jimin berusaha meyakinkan Hoseok.
Hoseok berdengung, "Ho-oh, baiklah kalau begitu. Mungkin hari ini aku bisa mengijinkanmu untuk pulang lebih awal kalau kau mau? Lebih awal 18 menit, sih, tapi kurasa cukup untukmu," candanya.
Jimin hanya bergidik mengingat bahwa ia membuat janji dengan Yoongi, "Tidak apa-apa, Hyung, aku bisa—" Ia tidak bisa menahan rasa kagetnya saat melihat Yoongi sudah siap menunggu di depan ruang studio. Wajahnya terlihat seperti sedang menghakimi sikap Jimin dari kejauhan. Buru-buru ia membuang wajah.
"Aku memaksa." Hoseok menekan kata-katanya, "Besok juga aku akan memberimu ijin untuk datang telat sampai jam makan siang. Kau sudah banyak mengalami peningkatan dibanding Jungkook dan Taehyung. Kurasa aku harus membuat latihan intensif untuk mereka, sedangkan kau bisa membantuku memikirkan koreografi untuk bagian minggu depan."
Jimin hanya membungkukkan tubuh dan berjalan dengan berat hati ke pintu keluar studio (bahkan ia hanya mendesah kesal saat Jungkook dan Taehyung memprotes Hoseok, "Kenapa Jimin-ssi lebih duluan pulang?!"). Dilihatnya Yoongi sedang bersandar di seberang studio tari sambil melipat kedua tangannya ke dada. Alisnya terangkat malas saat melihat Jimin keluar dari studio.
"Jadi, akan ke mana kita?"
"Kenapa kau bertanya padaku padahal kau lah yang mengajakku pergi?"
"Kenapa kau marah saat aku hanya menanyakan ide darimu?"
Jimin mengerang sebal, "Terserah! Aku tidak peduli! Bawa aku ke sungai atau hutan pun terserah!"
Yoongi tersenyum nakal, "Serius?"
Jimin balas menatapnya dengan tatapan jijik, "Oke. Apapun selain kedua tempat itu!"
Alpha berambut hitam di hadapannya tersebut hanya tersenyum tipis sambil memimpin perjalanan mereka menuju lantai 1. Di dalam lift ada beberapa staff yang mengenali Jimin dan memberi salam pada Omega manis tersebut, sementara mereka hampir mengacuhkan Yoongi karena mereka belum terbiasa melihat Alpha tersebut di dalam gedung.
Yoongi membawa Jimin ke mobilnya dan mereka pergi keluar dari area gedung Cheong-du. Selama perjalanan Yoongi hanya memutar radio secara random, sementara Jimin hanya mengepalkan kedua tangan dengan gugup di atas pangkuannya. Mereka diam selama di dalam mobil (yang kemungkinan menghabiskan waktu hampir 1 jam)—karena Jimin terlalu malas untuk berbicara dengan Yoongi; dan Yoongi karena ia terlalu bingung dan gugup untuk memulai percakapan dari mana. Ia hanya menyetir mobil ke arah Mapo-gu.
Jimin baru membuka suaranya saat Yoongi memarkirkan mobilnya di area parkir bangunan tersebut, "Kita mau ke mana?"
Yoongi hanya diam dan membukakan pintu untuk Jimin begitu mereka sampai.
Keduanya tiba di dalam gedung setelah membayar tiket masuk (yang sesungguhnya dibayar penuh oleh Yoongi) dan Jimin nyaris bergumam keras, "Yah-yeet!" ia buru-buru menutup mulutnya saat melihat Yoongi mengangkat alisnya—antara kaget dan sedikit puas dengan reaksi Jimin.
"Kalau kau memang senang ke sini, kau tidak perlu menyembunyikannya."
"A-aku tidak senang! Sama sekali!" sahut Jimin dengan wajah memerah.
"Ya, terserahlah. Mau masuk atau tidak?"
Jimin hanya mengekor di belakang Yoongi sampai Alpha tersebut merangkul pinggul Jimin—menyuruhnya untuk berjalan beriringan dengannya. Di dalam tempat yang mereka masuki terdapat lukisan-lukisan trick eye—yang membuat Jimin nyaris melompat senang setiap kali mereka melewati sebuah karya unik. Beberapa kali Jimin mengangkat ponselnya untuk mengambil gambar. Bahkan ia nyaris melupakan Yoongi yang dari tadi terlihat geli dengan reaksi Jimin. Setidaknya ia memilih tempat yang tepat untuk berkencan dengan Jimin.
Alpha tersebut sibuk memperhatikan tingkah laku Jimin di dalam museum trick eye sampai akhirnya Jimin menyodorkan ponselnya dengan malu-malu, "Umm—jika Hyung tidak keberatan, boleh tolong foto aku?" ia menunjuk ke arah lukisan berbentuk sayap.
Yoongi menatap Jimin dengan tatapan menghakimi selama beberapa saat dan menertawakan reaksi Jimin (wajah namja Omega itu memerah karena harus meminta Yoongi mengambil foto dirinya), "Ye, aku mengerti."
Jimin siap-siap mengambil posisi dengan mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf 'V', sementara Yoongi dengan cepat memasukkan ponsel Jimin ke kantung bajunya dan malah mengambil foto dengan ponselnya sendiri. Wajah Jimin kembali memerah kesal, "Kenapa kau malah—" ia berusaha menarik ponsel Yoongi dengan kasar, tapi Alpha tersebut dengan mudahnya mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
"Kalau kau mau gambar tadi dan ponselmu kembali, kau harus beritahu aku kontak ID-mu."
"Aku tidak mau!"
"Kalau begitu kau bisa mengambil ponselmu besok," kata Yoongi tidak peduli sambil beranjak ke area pameran selanjutnya.
Jimin menarik jaketnya, berusaha menahan Yoongi, "Baik. Aku akan memberimu kontakku, jadi kembalikan ponselku sekarang."
Yoongi justru hanya memainkan ponselnya, "Oke, kontak ID-mu apa?"
Jimin menggerung kesal, "Uuuuh! Yang benar saja—" ia menarik napas menahan amarah, "Chimchimmanggae..."
"Huh? Bisakah kau mengejanya untukku?" Wajah Jimin memerah. Dengan sabar ia mengeja satu persatu IDnya pada Yoongi, berusaha mengacuhkan senyum tipis di wajah Yoongi sementara Alpha tersebut berusaha untuk tidak membayangkan arti nama ID Jimin. "Chimchim? Manggaeddok? Memangnya kau ini kue beras? Seperti mochi?"
"I-itu nama kesayangan Namjoon-nim... untukku," jawabnya berusaha menjelaskan, bibirnya mengerucut dengan malu.
Yoongi merasakan jantungnya berdegup, entah antara kesal dengan jawaban Jimin atau terlalu gemas dengan ekspresi namja tersebut saat ini. Ia menekan beberapa tombol di layar ponselnya dan mengambil ponsel Jimin dari kantung baju, "Ini aku kembalikan. Sekarang kita bisa lanjut melihat yang lain-lainnya," katanya dingin.
Jimin tampaknya menyadari perubahan di sikap Yoongi, namun memilih untuk tidak berkomentar apa-apa.
Mereka kembali diam di antara kerumunan orang sampai akhirnya tiba di karya terakhir museum. Sebuah karya trick eye yang dilukis di atas lantai dan langit-langit museum.
Yoongi memperhatikan lukisan tersebut agak lama sampai akhirnya ia menyadari bahwa saat ini ia sedang berdiri di lukisan mulut hiu.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Namjoon-nim?"
Ia bisa merasakan Jimin menoleh ke arahnya, "Mwo?"
Yoongi hanya menghela napas, "Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Namjoon-nim?" ia mengulangi pertanyaannya. Kali ini matanya menangkap mata Jimin—yang selalu menyipit membentuk bulan sabit setiap kali ia tersenyum—," Mengapa kau mau melakukan seks dengan Alpha yang jelas-jelas sudah memiliki pasangan hidup?"
Jimin hanya terdiam, dan Yoongi tidak memaksa namja tersebut untuk menjawab pertanyaannya.
Di dalam perjalanan pulang, Yoongi tidak mengira Jimin akhirnya menjawab pertanyaannya dengan suara setengah berbisik, "Namjoon-sajangnim," katanya, "Sebenarnya dia bukan Alpha pertama yang melakukan seks denganku. Chanyeol—kalau kau mengenal nama itu, sebelum dia debut dengan EXO, aku sering melakukan seks dengannya," Jimin tidak berani menatap Yoongi, "Tapi kemudian tanpa perpisahan, dia meninggalkanku sendirian."
Tentu Yoongi mengingat Park Chanyeol, salah seorang anggota dari boyband Alpha terkenal EXO yang baru debut 2,5 tahun lalu. Tinggi dan tampan, pujaan Beta dan Omega tentunya, "...lalu?"
"Aku memutuskan untuk ikut audisi NJE-C, berpikir bahwa aku akan bertemu lagi dengan Chanyeol," Jimin menghela napas, "Tapi ternyata justru aku terlanjur tertambat dengan Namjoon-nim. Namjoon-nim, dia banyak mengingatkanku pada Chanyeol. Mereka tinggi, lembut, dan Alpha yang sangat perhatian."
Yoongi merasa dirinya seperti dipukuli oleh beratus-ratus batu kerikil kecil. Sangat menggambarkan Alpha yang diidam-idamkan Jimin, yang justru berbalik 360 derajat dengan dirinya. Tapi ia tahu Jimin tidak menyindir dirinya. Yoongi hanya menggigit bagian dalam mulutnya dengan perasaan setengah kesal, "Jadi kau berniat balas dendam pada Chanyeol?"
"Mungkin lebih tepatnya membuktikan diriku pada Chanyeol bahwa aku mampu," kata Jimin mendengus geli, "Aku tahu bahwa alasan dia pergi meninggalkanku tiba-tiba adalah karena aku dulu seorang anak yang gendut dan tidak menarik. Hanya Omega yang tidak memiliki bakat istimewa apa-apa, Omega yang tidak berguna. Kupikir, kalau aku bisa ikut bergabung boyband dan menjadi lebih terkenal darinya, dia akan menyadari bahwa aku sepadan dengannya."
Yoongi mengangkat alis, "Bukannya sama saja dengan balas dendam? Sekarang, setelah kau lebih menarik, kau bermaksud debut agar bisa membuatnya menyesal telah meninggalkanmu?"
Jimin tergagap antara karena ucapan Yoongi mengenai dirinya yang menarik atau merasa dikonfrontasi oleh Yoongi mengenai pembalasannya terhadap Chanyeol, "Kau tidak mengerti, justru aku bisa seperti sekarang ini berkat Namjoon-nim. Aku tidak peduli dengan penampilanku saat itu jika Namjoon-nim tidak terus menerus memuji kemampuanku menari."
Yoongi menghentikan mobilnya tepat di belokan sebelum apartemen Jimin berada. Jimin hendak menanyakan maksud Yoongi saat Alpha tersebut mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jimin. Mengecup bibir Omega tersebut dengan lembut, sebelum lama-kelamaan kecupan tersebut berubah menjadi ciuman yang lebih dalam. Jimin membelalakkan matanya dengan kaget dan mengerang, berusaha menarik dirinya. Namun Yoongi menahan bahu Jimin dengan kedua tangannya.
Keduanya terengah-engah. Mata Jimin berkaca-kaca melihat Yoongi, ketakutan bahwa Alpha tersebut mungkin akan memaksanya untuk melakukan seks.
Tapi Yoongi membukakan pintu mobil untuknya sambil berkata, "Aku minta maaf atas perbuatanku kemarin," matanya tidak pernah lepas dari mata Jimin, "Tapi aku juga tidak peduli harus sebanyak apa aku memaksamu untuk pergi kencan denganku, sampai kau mau menerima diriku sebagai Alpha yang kompeten. Setidaknya lebih dari Namjoon-nim dan Park Chanyeol."
Jimin tertegun mendengar ucapan Yoongi dan berusaha mengeluarkan tubuh mungilnya dari kursi penumpang. Ia membalikkan tubuh untuk menutup pintu dan melihat Yoongi, kali ini tersenyum lebar padanya (apakah ia serius sedang melihat Yoongi tersenyum lebar padanya?).
"Annyeonghi jumuseyo. Jal jayo."
Mobil Yoongi langsung beralih keluar jalan, meninggalkan Jimin di depan apartemennya dengan wajah memerah.
Astaga.
Astaga.
23 Oktober 20xx, Seoul
11.22 p.m
Kali ini Namjoon yang menunggui kepulangan istrinya di ruang tengah. Sejam lalu Seokjin mengatakan bahwa sehabis pergi dari acara baby shower Ken, ia akan pergi menemani Sandeul minum sampai jam 11. Sebenarnya Namjoon berniat untuk melarang istrinya pergi minum tanpa ditemani dirinya sendiri, tapi mengingat bahwa Sandeul adalah Beta yang terpercaya dan sudah dikenalnya semenjak ia berpacaran dengan istrinya, Namjoon memberi izin Jin untuk pergi.
Jin tiba di rumah saat Namjoon nyaris tertidur dengan TV masih menyala. Begitu Namjoon membuka matanya, ia mendapati Seokjin setengah tengkurap di atas tubuhnya, matanya memandang Alphanya dengan wajah setengah menunggu dan setengahnya lagi rasa cinta (mengingatkannya pada masa-masa ia masih berusaha menjadi seorang CEO yang terampil—dan di lain waktu berusaha mendapatkan perhatian Jin yang masih mahasiswa kedokteran).
"Ungh, Jin?"
"Maaf aku telat pulang," kata Jin—masih belum bergerak turun dari atas tubuh Namjoon, "Tadi aku harus menemani Sandeul memuntahkan isi perutnya di toilet dulu."
"Mmh, tidak masalah," Namjoon masih merasa dirinya digelapi oleh rasa kantuk, "Bagaimana acaranya tadi?"
Jin masih menatap Namjoon dalam-dalam, tangannya bergerak untuk merangkul kepala Namjoon, "Joonie," katanya lembut, "Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?"
"Melakukan apa maksudmu?"
Jin ragu beberapa saat, "Mencoba untuk membuat anak lagi, maksudku."
Namjoon terbangun dari posisinya sambil berusaha memegangi tubuh Jin, "Kenapa tiba-tiba, Jin?"
"Kau tahu, tadi saat aku melihat anak-anak Ken dan Ravi, aku berpikir jika anak kita bisa hidup hingga saat ini, mungkin ia akan menjadi teman bermain Ji-sung dan Euigeon," kata Jin. Matanya mulai berkaca-kaca, "Aku sudah lama menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan bahwa setelah kehilangan anak kita, aku masih bisa memberi kesempatan yang lain untuk calon anak kita yang lainnya. Aku—"
Namjoon mengelus wajah Jin, "Seokjin," panggil Namjoon lembut, "Kita sudah pernah membahas sebelumnya bukan?" Jin mengangguk lemah sambil berurai air mata, "Aku hanya menunggu sampai kau siap. Sampai kau sudah membuang jauh-jauh rasa takutmu untuk memilki anak. Pertanyaanku sekarang adalah, apakah sudah siap untuk menerima kenyataan bahwa akan ada anak yang terlahir ke dunia ini? Bahwa hidupnya adalah tanggungan kita berdua?"
Jin terus mengangguk, "A-aku hanya ingin... A-aku ingin jika anak kita nanti akan tumbuh sehat, dan hidup melebihi kita berdua..."
Namjoon mendekap tubuh Jin, menghirup aroma Omega tersebut—manis dan menggairahkan, "Aku mengerti Jin. Aku mengerti. Heat yang selanjutnya, kita akan mencobanya, ya?"
"Jeongmal... gomawoyo."
Namjoon dilingkupi rasa bersalah.
23 Oktober 20xx, Seoul
10.10 p.m
Yoongi berdiri di depan apartemen Heechul dengan wajah berseri-seri yang tidak dapat ia sembunyikan. Melihat perubahan sikap Yoongi yang tidak biasa, Beta tersebut langsung mengejek pria berkulit pucat itu tanpa ampun.
"Mukamu itu seperti kau baru mendapat kabar besok kau tidak perlu ke kantor selama seminggu."
"Begitukah?" Yoongi langsung berusaha mengurangi senyuman di wajahnya, tapi gagal total. Kini wajahnya terlihat seperti orang bodoh.
Orang bodoh yang sedang jatuh cinta.
"Hapus muka bodohmu yang menyebalkan itu. Dan lagi, kenapa kau masih tidur di tempatku?"
"Aku lupa membuat kunci apartemenku yang baru, Hyung."
"Tapi kau tidur di kursi."
Yoongi setengah memedulikan ucapan Heechul dan mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi KaTalk, dan mengetuk nama Jimin di ponselnya. Tanpa berpikir panjang ia mengirim chat ke namja tersebut.
Yoongi Min
Besok kau ada ide mau ke mana?
23 Oktober 20xx, Seoul
10.10 p.m
Jimin keluar dari dalam shower saat ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ia menggigit bibirnya dengan ragu dan mengambil ponselnya.
Yoongi Min
Besok kau ada ide mau ke mana?
Yang benar saja...
Ketika Jimin mendapati dirinya tersenyum, ia langsung menggerutu, "Kenapa dia berpikir aku mau pergi untuk yang kedua kali dengannya?! Babo!"
Chimchim Park
Memangnya aku mau pergi bersamamu untuk yang kedua kalinya?
Tidak sampai semenit Yoongi membalas,
Yoongi Min
Kalau begitu besok aku lagi yang menentukan tempat kita pergi
Jimin tidak membalas dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa di ruang tamu.
Jungkook yang sedang mengunyah keripik beras di tangannya mengomentari Jimin, "Hyung, mukamu kenapa memerah begitu? Air panasnya tadi pasti terlalu panas, ya? Atau kau sudah mulai masuk heat?"
"Berisik!" semprotnya pada Jungkook yang langsung pergi sambil memasang wajah bingung padanya.
Jimin tidak bisa berhenti memandang layar ponselnya.
...seharusnya ia tidak boleh merasa senang sedikitpun...
Kenapa perubahan sikap Yoongi yang begitu tiba-tiba membuat hatinya berdegup seperti ini?
TBC
Catatan penulis:
Ada tipe Alpha yang menjadi kelemahan Jimin, Alpha bertubuh tinggi yang perhatian; dan Alpha yang dingin tapi diam-diam hangat. HAHA.
Bagian ketiga dan yang lainnya mungkin akan diupdate lebih lama karena sudah hampir masuk waktu kuliah, haha. Terimakasih yang sudah memfollow cerita ini!
