A GENIUS IN LOVE

Bagian 4

Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!

Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos, karakter boyband lainnya.

Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV

3 November 20xx, Seoul

6.32 p.m

Ah, shi-bal...

Yoongi mematikan alarmnya yang memainkan lagu rapper Amerika; Lil Wayne. Sambil mengusap wajahnya yang lelah, ia melihat ke sekitar ruangan studio yang ditempatinya bersama Zhoumi, Jieun alias IU—wanita Alpha yang juga seorang penyanyi dan komposer musik terkenal; yang baru saja bergabung dengan NJE-C sebelum dirinya, dan seorang Alpha lainnya bernama Ji-hoon dan terkenal dengan sebutan Rain (yang beberapa hari ini ia sadari sebagai artis idola Jimin)—yang selama beberapa tahun ini berhasil membangun namanya menjadi salah satu penyanyi terkenal di Korea di bawah NJE-C. Ketiga orang itu sudah meninggalkan studio tanpa membangunkan Yoongi (karena ia tahu bahwa mereka akan terancam mati jika berusaha membangunkan Alpha itu dari tidurnya). Mereka saat ini pasti sedang mengganti pakaian mereka dengan kostum Halloween nanti malam—aigoo! Ia baru ingat bahwa pesta Halloween hari ini akan dimulai jam 7 dan ia belum mempersiapkan kostum apapun!

Mungkin Yoongi akan berpura-pura sibuk dengan kejarannya hari ini, karena dua hari lalu Namjoon entah dari mana—tiba-tiba menghubunginya dan memintanya untuk segera menyelesaikan tiga buah lagu lagi untuk BTS hingga tanggal 4 nanti. Tentu saja Yoongi protes karena ia sudah membuat kesepakatan untuk hanya membuat dua buah lagu sampai dengan tanggal segitu, tapi kemudian Namjoon dengan polosnya berkata, "Tapi kau ini kan Minsuga jjang jjang man boong boong? Atau mungkin aku salah dengar untuk beberapa bulan yang lalu?"

Ia merutuki Namjoon setengah mampus tapi tidak berkata banyak begitu ia menyetujui keinginan atasannya itu (bahkan ia tidak tahu ke mana atasannya itu sekarang!). Dan kini akibat ia tidak menolak keinginan Namjoon, ia terpaksa tidak tidur 48 jam, dan barulah tadi ia tidur selama 5 jam setelah 2 hari tidak tidur. Zhoumi sempat mengajaknya untuk makan siang, tapi Alpha itu hanya minta Zhoumi untuk membelikannya satu nasi kotak dan pergi tidur.

Kini di sampingnya terdapat satu kotak nasi yang sudah dingin dan layar ponsel yang menyala dan menandakan beberapa pesan masuk dari Jimin.

Serangkaian senyum muncul di wajahnya melihat pesan dari Jimin yang masih memastikan Alpha itu untuk datang ke pesta Halloween malam ini.

Beberapa hari ini, hubungannya dengan Jimin semakin membaik. Bahkan ia dan Jimin kemarin baru saja makan siang bersama—dengan para staff dan anggota BTS lainnya memandangi mereka dengan tatapan terkejut bercampur bingung dan penasaran. Mereka hanya beberapa kali bertukar kalimat sampai Taehyung dan Jungkook menghampiri meja mereka—Jungkook dan Taehyung mulai merecoki pembicaraan mereka dengan candaan-candaan yang membuat Yoongi ingin melempar nampan makanan ke wajah mereka satu persatu.

Tapi tidak masalah, toh Jimin sudah berjanji bahwa akan ada kencan keempat.

Entah kapan.

Yoongi beranjak dari sofa yang ia tiduri dan berjalan menuju bilik pribadi yang disediakan untuknya (dan 3 bilik lainnya untuk teman-temannya). Sebelum ia beralih ke layar komputer dan keyboard di hadapannya, ia membalas pesan Jimin.

Yoongi Min

Kalau kau mau aku datang, jemput aku di lantai 2.

Baru ia mengomposisikan 2 baris lagu, terdengar suara ketukan di belakangnya. Ia memutar kursi dan melihat Jimin berdiri di depan biliknya dengan wajahnya menempel di dinding kaca. Yoongi nyaris terjatuh dari kursinya karena tertawa (karena Jimin terlihat menggemaskan sekali, wajahnya benar-benar seperti mochi yang menemplok di kaca). Tanpa perlu membukakan pintu, Jimin langsung masuk ke dalam ruangannya dengan wajah cemberut.

"Kenapa kau masih belum berganti kostum sih, Hyung?! Acaranya dimulai jam tujuh!"

Yoongi masih memegangi perutnya yang nyeri karena terlalu banyak tertawa, "Aku mau ke pesta Halloween sebagai 'Minsuga jjang jjang man boong boong' yang kemarin baru mendapat nominasi."

"Oooh, aku baru tahu ada karakter seperti itu. Dari film apa kalau aku boleh tahu?" Jimin melipat kedua tangannya dengan sebal. Ia terlihat lucu dengan kostum werewolfnya (Yoongi yakin bahwa Omega itu mengenakan kostum werewolf), telinga dan ekor palsu, dan sarung tangan yang hanya terpasang di salah satu tangannya.

"Film yang di masa depan nanti akan kau mainkan bersamaku," kata Yoongi menyahut dengan bercanda—memasang wajah datar karena ia tahu bahwa ucapannya itu terdengar terlalu murahan—tetapi ia tidak menyangka saat Jimin menutupi wajahnya yang memerah dengan lengan bajunya.

"Hyuuung, kau ini norak sekali!"

"Jika aku norak, mungkin aku hanya akan norak untukmu."

Jimin menendang kursi Yoongi dan berkecak pinggang dengan wajah hampir semerah kalung choker yang dikenakannya, "Kalau kau memang tidak mau ganti baju, sekarang cepat ke lantai 4!"

"Ne, ne, aku datang."

Keduanya berjalan keluar dari ruang kerja produser dan pergi ke lift. Lift penuh dengan staff dan kru lain yang bermaksud ke lantai 4 bersama mereka. Jimin membungkuk pada semua orang di lift, sementara Yoongi hanya menganggukkan kepala sesekali pada orang-orang yang dikenalnya. Ketika orang semakin banyak berdatangan di lantai 3, Yoongi langsung mengambil posisi melindungi Jimin dari keramaian dengan tangan menahan dinding lift.

Begitu tiba di lantai 4, ia hanya tersenyum jahil dan berkata, "Kenapa wajahmu sering kali memerah akhir-akhir ini? Apa kau sudah mau mengalami heat?"

Jimin menutupi wajahnya sebagian dengan telapak tangan dan memukul lengan Yoongi, "Jebal ip dakchyeo! Cepat masuk ke dalam, Jackson Wang-jeonmoonim sudah mau memulai acaranya!"

"Ne, ne."

Di ruangan yang ternyata cukup besar untuk dimasuki sekitar 60 orang lebih, sudah banyak staff dan artis bersama manajer mereka sedang mencicipi makanan yang ditawari oleh petugas catering. Beberapa dari mereka mengenakan kostum yang menurut Yoongi terlalu aneh dikenakan. Saat ia berjalan mendekati stand makanan, dilihatnya Leeteuk, Omega yang merupakan manajer BTS (Yoongi sempat melihatnya beberapa kali bersama Heechul saat ia masih menjadi rapper yang belum dikenal—dan baru tahu akhir-akhir ini bahwa ternyata Heechul dan Leeteuk adalah teman sejak kecil), sedang berbincang dengan Hoseok (apa ia mengenakan kostum kuda? Yoongi tidak yakin). Sementara Zhoumi dengan kostum vampir Cinanya, Taehyung dengan kostum vampir Eropa sedang bercanda secara fisik dengan Jungkook yang mengenakan kostum zombie. Yoongi menepuk-nepuk dadanya, merasa bersyukur pergi ke pesta Halloween hanya dengan menjadi dirinya.

Tepat pukul 7, Jackson memulai acara dengan pidato singkat yang menyertakan bahwa Namjoon tidak bisa hadir karena urusan keluarga (Yoongi hanya mengangguk-angguk mendengar hal itu, Oh, pantas ia tidak masuk seminggu lebih?) dan langsung memulai acara dengan membuka party popper.

Sementara Jimin sibuk berbicara dengan Hoseok dan manajernya, Yoongi berjalan mengelilingi stand makanan dengan wajah kurang tertarik. Tetapi kemudian matanya menangkap sepiring penuh sate domba. Sambil memperhatikan sekitarnya, dengan hati-hati Yoongi mengulurkan tangan ke arah piring berisi sate domba tersebut—dan tangannya menubruk sebuah tangan lain yang dibalut dengan perban palsu.

"Oh, Yoongi-sunbaenim. Shim-yang?"

Wajahnya hampir memerah karena malu terpergok ingin mengambil Shim-yang—tetapi ia hanya melebarkan tangannya ke arah pemilik tangan tersebut dengan maksud menyilahkan.

"Setelah kau, Jungkook-ah."

Jungkook mengambil lima tusuk Shim-yang dan menaruhnya di atas piring yang dibawanya, "Silahkan kalau kau mau ambil, Sunbaenim."

Yoongi merasakan telinganya memerah. Setidaknya ada orang yang punya makanan kesukaan yang sama dengan dirinya.

Jungkook mulai menyerocos tidak jelas selama mereka menikmati sate domba, sementara Yoongi hanya menanggapi dengan beberapa kalimat singkat dan anggukan kepala. Zhoumi datang tiba-tiba dengan kostum Vampir Cinanya yang terlihat aneh—menyelamatkan Alpha tersebut dari cerita tidak jelas Alpha yang lebih muda darinya itu—dan ternyata malah mengajaknya untuk minum. Beberapa botol soju, champagne, bir, dan segala macam alkohol sudah tersebar di beberapa meja yang terpisah dari jangkauan artis-artis yang belum cukup usia.

Zhoumi mengambil dua botol bir dan menawarkannya pada Yoongi, "Ini, minumlah. Malam ini kita pesta!"

"Kalian yakin kita akan minum-minum seperti ini?" tanya Yoongi pada Beta yang sudah menegak botol miliknya, "Bagaimana kalau ada wartawan atau media yang membuat berita aneh-aneh?"

"Tenang saja, jika di antara kita semua ada yang mabuk, sudah ada staff yang siap mengantarkan! Ayo, minum!"

Yoongi menegak bir di tangannya hingga setengah botol saat seorang artis yang paling senior—Jae-sang alias PSY—mengidekan agar mereka melakukan lomba minum bir dengan rekor paling kuat menegak seperti tahun-tahun sebelumnya. Langsung saja ide itu diterima dengan suara riuh dalam satu ruangan. Yoongi meringis, ternyata artis-artis seperti mereka ini tetap saja menyalahgunakan alkohol pada acara tertentu.

Lomba diadakan hampir hingga acara berakhir. Beberapa artis yang lebih muda dan staff lain yang kurang tertarik menonton lomba tersebut, lebih memilih untuk mengumpul di sisi yang lain—menari, karaoke, mengobrol, dan lain-lainnya. Zhoumi yang kalah hanya dalam 1 ronde, langsung menunjuk Yoongi untuk ikut lomba minum. Yoongi hanya meggeram menolak—tapi ia sudah ditarik oleh 3 orang Alpha lainnya untuk minum.

Mau tak mau ia minum dan tanpa sadar sudah menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk delapan buah botol bir—sementara lawannya sudah dari tadi memuntahkan isi perutnya ke toilet. Langsung saja Jae-sang mengumumkan Yoongi sebagai pemenang.

Sementara teman-temannya sibuk mengelu-elukan namanya, Yoongi mulai merasakan kepalanya berat dan perutnya bergejolak hebat. Ia muntah tepat di sebuah baskom yang disediakan oleh pegawai kebersihan—sebelum akhirnya terkapar tidak sadarkan diri di lantai.

Aku tidak akan pernah mau minum di tempat seperti ini—lagi.

3 November 20xx, Seoul

9.52 a.m

Yoongi berusaha membuka matanya yang serasa seperti dilem dengan lem adesif, sementara kepalanya terasa seperti ditinju berkali-kali. Saat ia berusaha bangun, ia merasakan tangannya memeluk sosok manusia—yang kemudian ia sadari sebagai Jimin. Kaget, Yoongi refleks berteriak dan langsung menarik tangannya.

Ia hanya teringat bahwa ia diumumkan sebagai pemenang lomba minum bir terkuat sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

Alpha itu dengan panik memegangi tubuhnya yang masih dibalut dengan pakaian lengkap. Masih khawatir, ia memeriksa tubuh Jimin dan menghela napas lega saat menyadari bahwa Omega itu juga masih mengenakan kostumnya semalam minus telinga dan ekor bodohnya itu.

Dengan suara setengah berbisik, Yoongi mengguncangkan tubuh Jimin dengan pelan, "Jimin-ah?"

"Hngggh, Hyung?" Jimin mengangkat kepalanya, matanya masih tertutup.

"Hampir jam 10."

Jimin langsung duduk tegak di atas tempat tidur, "Aigoo! Jam 10?"

"Ini hari Minggu."

Jimin menatap Yoongi, "Oh, Hyung. Kurasa—semalam aku ketiduran di tempatmu."

"Bagaimana aku bisa di apartemenku? Siapa semalam yang membawaku ke sini?" ia memperhatikan Jimin, "Kau tidak mungkin membawaku ke sini sendirian, kan?"

"Zhoumi-hyungnim yang membawamu ke sini dengan mobilnya."

"Lalu kenapa kau masih di sini?"

Jimin menjawab dengan malu-malu, "Uuh—aku bilang padanya bahwa aku akan menemanimu dan minta diantar pulang kalau kau sudah sadarkan diri."

Yoongi mengusap wajahnya. Pasti Zhoumi semakin curiga dengan hubungannya dan Jimin. "Lalu kenapa kau bisa ada di tempat tidurku?"

"Soal itu—ehm, saat aku mau tidur di atas sofamu, kau malah menarikku ke tempat tidur." Wajah Jimin yang memerah menandakan bahwa semalam tidak terjadi apa-apa—Yoongi sesaat merasa lega.

Alpha itu kembali menidurkan kepalanya di atas bantal, "Kalau begitu aku mau tidur lagi. Kau tidak keberatan 'kan, kalau harus menunggu beberapa jam lagi? Kepalaku masih pusing."

"Lalu kau mau membiarkanku bengong sementara kau tidur?!" Jimin memukul wajah Yoongi dengan bantal.

Yoongi menepuk-nepuk sisi kosong di tempat tidurnya, "Di sini masih ada tempat kosong kalau mau tidur." Alpha itu tertawa saat Jimin kembali memukulinya dengan bantal.

Yang sempat ia lupa tanyakan pada Jimin saat itu adalah, dari mana ia tahu dimana ia meletakkan kunci apartemennya?

4 November 20xx, Seoul

10.30 a.m

Suasana kantor setelah ia tinggalkan selama lebih dari seminggu, sedikit asing begitu ia tiba di sana. Kemarin setelah ia menghabiskan heat terakhir Seokjin, Alpha itu sama sekali tidak bisa tenang karena 3 minggu lagi BTS akan memulai debut mereka—sebagai satu-satunya boyband di bawah nama NJE-C. Selama beberapa hari itulah ia mengawasi BTS melalui bawahannya, Jackson. Dan selama beberapa hari ini pula selama 2 tahun berhubungan dengan Jimin, ia tidak pernah melewatkan satu pesanpun dengan Jimin. Dua hari lalu ia mencoba menghubungi Jimin, tapi Omega tersebut tidak mengangkat teleponnya, dan beranggapan bahwa Jimin sibuk dengan urusan Halloween.

Seokjin kembali ke pekerjaannya sebagai kardiologis setelah heatnya berakhir—karena mereka harus menunggu beberapa minggu lagi untuk mengetahui bahwa Seokjin hamil atau tidak. Oleh karena itu Namjoon butuh beberapa minggu pula untuk menjelaskan Jimin mengenai hubungan mereka. Menentukan keputusan bahwa hubungan mereka lebih baik berlanjut atau tidak.

Diriku memang tak lebih dari seorang Alpha yang bajingan, batinnya sedih, Cepat atau lambat, semuanya pasti akan terkuak.

Saat ia hendak memasuki lift, dilihatnya Jimin dan Yoongi sedang mengobrol. Dadanya terasa memanas untuk sesaat, tetapi begitu ia melihat Jimin tertawa dan menepuk bahu Yoongi sambil bercanda, ia hanya bisa tersenyum kecil.

Yoongi yang pertama menyadari keberadaannya dan langsung membungkukkan tubuh ke Alpha yang lebih tua itu, "Sajang-nim."

"Yoongi-ah," ia tersenyum pada Jimin, "Jimin-ah."

Jimin tersentak melihatnya dan hanya membungkukkan tubuh dengan cepat—tidak berkata apa-apa setelah itu. Selama berada di dalam lift, Omega mungil itu bersembunyi di balik tubuh Yoongi.

Mereka tidak bertukar kata-kata sampai akhirnya Namjoon berkata pada Yoongi, "Sesuai kesepakatan, kita bertemu di studioku jam 2 siang. Oke?"

Yoongi membungkukkan tubuhnya, "Ye."

Ia hanya tersenyum pada Jimin dan menunggu pintu lift menutup—membawanya ke lantai 4.

4 November 20xx, Seoul

2.00 p.m

Yoongi mendatangi ruangan Namjoon sambil membawa hardisk berisi lagu yang telah selesai ia produksi. Namjoon dengan sikap berwibawanya yang seperti biasanya mempersilahkan Yoongi duduk.

"Maaf untuk beberapa hari ini aku terlalu banyak memberimu pekerjaan," kata Namjoon berterus terang, "Aku hanya ingin mencoba mengetes sampai mana kemampuanmu. Dan jika ternyata lagumu memang bagus, aku akan langsung memasukannya ke dalam album pertama BTS dengan kau sebagai produsernya."

"Mmm, aku mengerti," Yoongi hanya menganggukkan kepala.

Namjoon memainkan musik yang telah dikomposisikan oleh Alpha yang lebih muda itu. Dimulai dengan satu lagu sebagai intro dan dua lainnya sebagai bagian dari album yang telah disepakati. Yoongi tanpa sadar tersenyum saat Namjoon menghentak-hentakkan kakinya sesuai dengan irama, kepala bergerak-gerak dengan wajah puas. Setelah ketiga lagu Yoongi berakhir, ia bertepuk tangan.

"Tidak bisa dipungkiri kalau kau memang Minsuga jjang jjang man boong boong seperti yang disebut orang-orang," kata Namjoon terpukau. "Kurasa minggu ini kita bisa langsung mulai rekaman dengan suara artis yang aslinya. Chugha haeyo, kau sukses membuat lagu yang bagus," ia menyalami Yoongi yang dari tadi mengangguk-angguk puas—seolah-olah sudah tahu dengan reaksi yang diberikan oleh Namjoon. "Tinggal kita tunggu saja reaksi dari orang-orang nantinya. Dan aku juga harus mendengarkannya dulu bersama Jackson dan yang lain."

"Ye, kurasa tugasku hari ini sudah cukup, kalau begitu?" tanya Yoongi, "Apa aku sudah boleh kembali ke ruanganku?"

Namjoon agak terkejut dengan pernyataan Yoongi. Ia melempar kepalanya ke belakang dan tertawa, "Luar biasa! Kau ini unik sekali, Min Yoong-ahi!" Alpha yang lebih tua itu melipat kedua tangannya dengan rasa geli, "Sebelum kau pergi, mungkin aku harus bertanya padamu tentang satu hal dulu."

"Pertanyaan apa?"

"Apa ada sesuatu di antara dirimu dengan Jimin?"

Yoongi beku mendengar pertanyaan Namjoon. Tapi kemudian ia sadar bahwa seharusnya ia sudah memprediksi bahwa pertanyaan ini cepat atau lambat akan terlontarkan dari Namjoon. Apalagi ia sudah memasang foto profil bersama Jimin di media sosialnya.

"Ya. Kurasa. Tapi mengingat bahwa ia akan debut, mungkin kami tidak bisa lebih dari sekadar teman."

"Hmm," Namjoon hanya termangut-mangut mendengar jawaban Yoongi. Wajahnya menatap Alpha yang lebih muda tersebut dengan serius. Yoongi bisa merasakan aura dingin menyelimuti Namjoon, menghakiminya, "Jika begitu, katakan padaku... Apa yang membuatmu yakin bahwa Jimin akan lebih memilih dirimu dibanding—Alpha lainnya?"

Yak, pertanyaan lain yang tidak ia nantikan. "Apa aku bilang bahwa aku berniat untuk mengencani Jimin?" ia balas bertanya.

"Jadi hubungan kalian tidak pernah kau anggap serius?"

AH! Rasanya ia mau mati saja sekarang! "Tentu saja aku menganggap hubungan kami serius. Tapi aku juga tahu bahwa dia adalah Omega yang masih muda dan masih butuh waktu untuk mengembangkan bakatnya. Jika memungkinkan untuk kami menjalin hubungan, aku bersedia langsung menjadikannya pasangan hidup."

Namjoon tertawa mendengar ucapan Yoongi, "Kurasa kau pasti mengerti arti kata naif, Yoongi-ah?"

"Kau mungkin juga mengerti arti 'jangan ikut campur urusan orang lain', Namjoon-nim?"

"Tentu saja aku akan ikut campur jika ini menyangkut urusan artis-artis di bawah naunganku. Jika mereka menjalin hubungan dengan seseorang dan ternyata hubungan itu menurunkan reputasinya, maka berhak untukku meminta mereka memutuskan hubungan," kata Namjoon, kali ini wajahnya terlihat benar-benar serius.

Lidah Yoongi seperti menancap di dinding mulutnya, Bagaimana denganmu dan Jimin? Bukannya itu sama saja untukmu bunuh diri? "Jadi apa kau ingin aku untuk berhenti menemui Jimin?"

"Bukan begitu maksudku," Namjoon menghela napas panjang, "Aku hanya ingin kalian menjaga hubungan kalian, tidak lebih dari sekadar rekan kerja. Mengerti?"

Yoongi hanya diam menatap Namjoon seolah-olah atasannya itu adalah musuhnya. "Ye, arasso."

Alpha itu pergi meninggalkan Namjoon tanpa mengucapkan izin. Ekspresi wajahnya begitu ia keluar dari ruangan atasannya itu langsung membuat beberapa orang staff berusaha menghindarinya. Ia berjalan menuju lift, berusaha mengontrol emosinya. Tetapi begitu ia sampai di ruangannya, emosinya yang memuncak membuatnya menendang sebuah kardus besar sekuat-kuatnya, membuat Ji-hoon yang sedang meminum kopinya—menumpahkan semua isinya ke bajunya, sementara Jieun dan Zhoumi keluar dari ruangan mereka masing-masing, memastikan asal suara tersebut berasal.

"Jen-jang?! Hei, Yoongi-ah—kenapa tiba-tiba kau—" ia melihat ekspresi di wajah Yoongi dan langsung melihat ke kedua temannya sambil berbisik, "Kenapa tiba-tiba dia marah-marah begitu, sih?"

Ketiga temannya hanya memperhatikan Yoongi masih dengan ekspresi marahnya dan menghilang di ruangannya.

Sementara Namjoon masih di ruangannya, ia membuat pesan pada Jackson dan beberapa bawahannya yang lain untuk mendengarkan lagu yang telah dikomposisikan oleh Yoongi besok pagi. Setelah mengirim pesan, ia mencari nama Jimin.

Kim Namjoon

Chim, bisa kau ke ruanganku setelah ini?

4 November 20xx, Seoul

3.13 p.m

Jimin hampir melempar ponselnya saat ia melihat Namjoon mengiriminya pesan. Jantungnya berdegup kencang saat ia membaca pesan tersebut.

Chim, bisa kau ke ruanganku setelah ini?

"Jiminnie, mukamu kenapa kelihatan panik begitu?"

"E-eh, bukan apa-apa, Tae."

Setelah seminggu tidak melihat Namjoon, ia mulai tidak merasa terikat pada Namjoon. Dengan mudahnya hubungan mereka yang terjalin selama dua tahun perlahan pudar—hanya karena seorang Min Yoongi yang pelan-pelan tapi pasti telah menarik dirinya. Tetapi begitu ia melihat pesan Namjoon di ponselnya, semua kilasan balik akan hubungan mereka selama dua tahun ini kembali berkelebatan di kepalanya.

Kalau aku tidak datang ke ruangannya pun, pasti ia akan mendatangiku.

Jimin berkontemplasi selama beberapa menit sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menemui Namjoon di ruangannya.

Alpha tersebut sedang memainkan koleksi pribadi yang menjadi kebanggaannya—dan langsung menoleh saat melihat Jimin masuk ke ruangannya.

Jimin menutup pintu dengan pelan, menarik napas dalam-dalam—dan pintu terkunci secara otomatis.

"Apa urusanmu dengan istrimu sudah selesai, Kim Namjoon-sajangnim?"

Namjoon tergelak, "Kenapa kau tiba-tiba menjadi formal seperti itu? Kemari Chimchim."

Jimin menurut.

Tangan Namjoon merangkul pinggulnya—dan memeluknya. Alpha itu menciumi aroma tubuh Jimin yang seperti cherry, dan wajahnya bergerak menuruni bagian leher dan bahu Jimin. Jimin tersentak kaget dengan sensasi yang sudah seminggu ini tidak ia rasakan. Refleks, Omega itu mendorong tubuh Namjoon menjauh darinya.

"Kurasa ini bukan saat yang tepat."

"Kapan saat yang tepat? Kau tidak kangen padaku?"

"Namjoon-sajangnim—aku—"

"Apa kau sudah sampai berhubungan seks dengan Min Yoongi? Apa karena itu kau ragu?"

Jimin membelalak, "K-kenapa tiba-tiba kau menyebut nama Yoongi-Hyung?"

"Tidak perlu berbohong. Aku sudah melihat buktinya, dan memastikannya dengan mata kepalaku sendiri."

Jimin menelan ludah.

Namjoon memutar tubuh Jimin ke arah dinding yang kosong, dan menciumi lehernya secara perlahan, menghasilkan suara erangan. Jimin buru-buru menutup mulutnya dan kembali mendorong tubuh Alpha yang lebih besar itu.

"Meomchwosseo!"

Namjoon memandanginya dengan wajah bingung, "Chims?"

"Antara aku dan istrimu, mana yang lebih penting?"

Alpha tersebut terlihat bingung, "Aku tidak bisa membandingkannya karena aku sama-sama mencintai kalian."

"Jika istrimu sudah memiliki anak kalian, apa kau tetap akan mencintaiku?"

Pertanyaan itu membuat Namjoon diam membeku.

"Chim—"

"Kau sendiri ragu untuk menjawab pertanyaanku, kan? Bahkan jika kau mencintaiku sama besarnya seperti kau mencintainya, kenapa kau tidak menikahiku?"

"Lalu bagaimana dengan karirmu? Kau mau membuang bakatmu dengan sia-sia?"

Jimin merasakan airmatanya mulai menggenang, "Jadi kalau aku tidak pernah bisa menari, tidak pernah bisa bernyanyi, kau tidak akan pernah mau tidur denganku?"

Namjoon kehilangan kata-kata saat Jimin menghapus airmatanya dan berlari keluar dari ruangan studionya.

5 November 20xx, Seoul

10.44 p.m

Yoongi benar-benar tidak bisa menemui Jimin hari itu. Omega blonde yang dalam seminggu lebih telah mengisi hati dan pikirannya itu tidak ada di ruang latihan seharian. Hoseok menjelaskan bahwa Jimin mengeluh bahwa ia tidak enak badan, sehingga ia izin seharian beristirahat di asrama.

Hari ini juga ia tidak bisa keluar lebih awal dari studio karena Jackson memintanya untuk melakukan editing sekali lagi sebelum besok mereka mulai melakukan rekaman (meski Jackson berkali-kali memujinya karena lagu yang dihasilkannya benar-benar bagus).

Yoongi mengirim Jimin pesan—menanyakan kabar Omega itu, tetapi belum satupun pesannya dibalas.

Ia hampir putus asa dengan rasa khawatir dan kekesalannya pada Namjoon—juga pada pekerjaannya yang hampir beberapa baris lagu lagi untuk selesai.

Besok aku akan bertemu dengan Jimin. Besok hari rekaman. Ya, besok aku akan bertemu dengannya. Masa bodoh dengan Namjoon-nim.

Dua jam ia menyelesaikan lagunya—puas dengan hasil akhir yang telah dicapai, Yoongi langsung pulang ke apartemennya.

Tetapi jantungnya berdebar kencang saat mendapati pintu apartemennya tidak terkunci.

Shi-bal.

Apa ada pencuri yang berhasil masuk membobol ke sini?

Dengan hati-hati ia membuka pintu apartemennya, tanpa suara. Beberapa ruangan di apartemennya menyala, dan Yoongi sama sekali tidak ingat menyalakan lampu pagi itu. Dengan waspada, ia pergi menuju kamarnya—yang berisi barang-barang pasti diincar oleh pencuri kebanyakan.

Tetapi yang ditemukannya bukanlah pencuri.

Melainkan Jimin yang tengah tertidur.

Mulut Yoongi terbuka lebar, dan matanya membelalak tidak percaya.

"JIMIN-AH?!"

Jimin melompat dari tempat tidurnya dan langsung membuka matanya. Ketika ia melihat Yoongi ada di hadapannya, wajahnya kembali lemas karena pengaruh rasa kantuk.

"Yoongi-hyung?"

"Kenapa kau bisa di apartemenku? Bagaimana kau bisa masuk?!"

Omega tersebut melingkarkan lengannya ke leher Yoongi dan menariknya ke atas tempat tidur—mencumbunya dalam-dalam—seperti hendak melahap bibir Alpha berambut hitam di hadapannya ini. Tanpa sadar Yoongi menikmati cumbuan yang dimulai oleh namja cantik yang lebih muda darinya itu. Tangannya bergerak ke pinggul Jimin, mendekapnya lebih dalam.

Saat keduanya kehabisan napas, barulah Jimin berkata, "Bercintalah denganku. Sekarang."

"Wae yo? Eotteohge doen geoyeyo?"

"Hyung, jebal."

Yoongi menarik lengan Jimin lebih kasar daripada yang ia inginkan, "Andweyeo. Kubilang tidak. Sekarang ceritakan kenapa kau tiba-tiba seperti ini."

Omega berwajah cantik itu menangis saat Yoongi menatapnya dalam-dalam—khawatir, cemas, penuh perhatian.

"Namjoon-nim tidak benar-benar mencintaiku—dia—" Jimin terisak, "Bahkan dia tidak bisa memilih antara a—aku dan istrinya!"

Dahi Yoongi mengerut, tetapi ia menarik Omega itu ke pelukannya, kepalanya berada di atas kepala Jimin, "Bukankah kalau ternyata ia tidak bisa memilih antara kau dan istrinya, masih ada aku yang benar-benar mencintaimu?"

"Tapi..." Air mata Jimin membasahi kaus lengan panjang Yoongi, "Kalau su—suatu saat nanti—kau... kau bertemu dengan Omega yang lebih menarik—bagaimana?"

"Maka aku akan mengingat bahwa aku sudah punya Omega yang cintanya tidak akan pernah aku mau bagi dengan siapapun."

Jimin membenamkan wajahnya ke dada Yoongi dan menangis semakin keras, "K-kenapa—kenapa di antara banyak Alpha—uh... Kenapa aku tidak bertemu denganmu duluan? Kenapa—kenapa aku harus bertemu denganmu sekarang?"

Yoongi hanya terdiam. Ia memikirkan jika dua tahun lalu ia bertemu dengan Jimin lebih awal—daripada Namjoon.

Apakah kehidupanku akan sama seperti sekarang ini?

Jimin menangis lebih lama sampai ia terisak-isak di dada Alpha berambut hitam itu. Tetapi Yoongi tidak memprotes saat baju kesayangannya yang disablon dengan gambar film Pulp Fiction itu penuh dengan ingus dan air mata Jimin. Justru ia menemukan hal itu sebagai sesuatu yang menggemaskan (masa bodoh jika orang-orang tahu dan menertawakan kesukaannya akan hal itu). Ia menunggu beberapa menit lainnya sampai Jimin benar-benar tenang.

"Jimin-ah."

"Ne."

"Apakah kau sudah mau menerimaku? Maksudku—apa kau sudah mau melihatku sebagai Alpha yang kompeten?"

Jimin terdiam selama beberapa detik di dadanya, "Kau itu Alpha yang kompeten sejak awal. Hanya saja kau pendek."

Yoongi menggerutu kesal, "Kau juga pendek."

"Aku berani taruhan bahwa perbedaan tinggi kita tidak lebih dari dua sentimeter!"

"Ne, ne. Terserah kau saja," bisik Yoongi melembut, "Intinya, kau sudah siap menjalin hubungan denganku tidak?"

Jimin mengangkat wajahnya. Pipinya memerah, "Dengan satu syarat."

"Katakan."

"Bercintalah denganku."

"Kau sedang heat? Kenapa kau terus-terusan mengajakku bercinta?"

"Jadi kau tidak mau?"

Yoongi menyerah, "Kalau begitu buka bajumu."

"Kau sendiri tidak membuka baju?"

"Aku mau jadi penonton untuk sementara."

Jimin hanya mencubit lengan Alpha itu dengan gemas dan membuka bajunya dengan perlahan.

Yoongi memperhatikan setiap lekukan di tubuh Jimin yang bercahaya akibat cahaya lampu. Alpha tersebut menjilat bibirnya dengan tidak sabar setiap Jimin melepaskan bajunya satu persatu—dimulai dari pakaian terluarnya hingga pakaian dalamnya. Lengan dan perut Omega itu memiliki massa yang terbentuk oleh latihan yang dijalaninya selama beberapa tahun terakhir. Tidak sabar, Yoongi menarik pinggul Jimin—memposisikan Omega tersebut sehingga ia duduk tepat di panggul dan pahanya.

"Apa kau sudah meminum pil penunda heat?"

"Ne."

"Shi-bal. Aku tidak punya kondom."

Jimin mengambil sesuatu dari kantungnya dan melemparnya ke arah dada Yoongi. "Pakailah ini."

"Kau sudah mempersiapkan semuanya, ya?"

Omega itu hanya menjawab dengan seulas senyuman.

Yoongi melepas baju berwarna hitamnya dan mulai menurunkan risleting celananya. Sementara Jimin telah sepenuhnya melepas celananya, kini ia benar-benar telanjang di hadapan Yoongi.

Keduanya memulai dengan pelan-pelan. Yoongi mempersiapkan Jimin dengan sangat waspada dan hati-hati, meski Jimin bilang bahwa ia sudah berpengalaman dalam hal ini—tetapi Yoongi tetap tidak mau menyakiti Omega di hadapannya ini.

Mereka memulai dengan ciuman, dan kemudian dilanjutkan dengan Yoongi memainkan puting Omega tersebut. Jimin menggeliat setiap kali Yoongi memutir salah satu putingnya dengan lembut, sementara tangannya yang lain meremas pantat montoknya. Jimin benar-benar terlihat seperti malaikat.

Penetrasi yang pertama ia lakukan pada Jimin berlangsung cukup lama, dan beberapa kali keduanya berorgasme bersama, sebelum akhirnya Jimin terjatuh di atas tubuhnya—dengan kemaluan Yoongi masih tertanam di antara selangkangannya.

"Sebelum kau—tertidur, hah, aku mau bertanya—bagaimana—kau bisa masuk ke apartemenku?" Yoongi bertanya di antara desahan napas.

"Kau ingat kunci apartemenmu di hari pertama kau masuk?"

"Eo?"

"Aku menemukan kuncimu."

Alpha itu membelalakkan matanya dengan kaget, "Rupanya kau—"

Jimin mendiamkannya dengan ciuman di bibir.

Beberapa minggu berikutnya hubungan mereka mengalami perkembangan. Setelah kencan keempat mereka yang diadakan tepat sehari mereka melakukan seks pertama di antara keduanya. Mereka pergi menonton Kingsman 2 di kencan keempat mereka dan berciuman di antara gang-gang sepi. Dan kencan-kencan mereka selanjutnya selalu berakhir di apartemen Yoongi. Sementara di gedung kantor, mereka hanya beberapa kali berinteraksi—mengingat bahwa hubungan di antara keduanya sudah semakin mengundang banyak perhatian orang. Bahkan termasuk Taehyung, Jungkook, Zhoumi, dan lebih buruknya lagi: Namjoon.

Alpha itu akhir-akhir ini sering bersikap dingin pada Yoongi—meski ia menutupinya dengan keprofesionalan seorang atasan terhadap bawahannya.

Dan untuk Jimin sendiri, Namjoon sudah jarang menungguinya di depan studio tari kecuali untuk melakukan pengarahan langsung kepada anggota BTS yang lain. Omega itu sendiri sering berusaha menghindari Namjoon sebisa mungkin—atau jika bisa hanya membungkukkan tubuh pada Namjoon sebelum akhirnya melarikan diri dari Alpha tersebut. Beberapa kali Namjoon terlihat menungguinya di ruang rekaman, tetapi Jimin dengan lincahnya keluar sambil sembunyi-sembunyi. Bagaimanapun juga, Omega itu sedang berusaha membuang jauh-jauh Namjoon dari kehidupannya. Toh siapa tahu sebentar lagi Alpha itu akan punya anak bersama istrinya, kan?

Dan tepat di tanggal 26 November, di hari BTS memulai debut mereka di sebuah panggung yang disaksikan oleh ratusan manusia—entah Alpha, Beta atau Omega—Jimin sudah tidak dapat melarikan dirinya saat Namjoon berdiri di area backstage. Alpha itu—dikelilingi dengan bawahannya yang setia termasuk manajernya sendiri, Leeteuk, serta Hoseok berdiri mengelilingi Jimin dan kedua temannya yang lain (bahkan di saat mulai debut pun Taehyung dan Jungkook tidak bisa berhenti menggoda satu sama lain). Memberikan mereka semangat dan dukungan moral. Jimin menundukkan kepalanya begitu Namjoon menangkap matanya—tetapi tersenyum begitu melihat Yoongi mengacungkan kedua jempolnya.

"Hari ini kita akan memulai perjalanan baru," mulai Namjoon, "Dan perjalanan baru ini akan menjadi awal dari mimpi kalian. Semoga berhasil, kami semua mendukung kalian di belakang sini."

Pidato singkat Namjoon diakhiri dengan salam penutup yang diucapkan bersama-sama oleh BTS.

Jimin merasakan punggungnya didorong dengan lembut saat ia berjalan menuju. Ia menoleh dan melihat Namjoon tersenyum padanya—dua lesung pipit di kedua pipinya—dan Jimin merasakan air matanya mulai berkumpul di matanya.

"Good luck. Godspeed. Hangsang hwaiting!"

Omega itu sedikit kaget dengan ucapan Namjoon. Jimin mengangguk, dan untuk sebulan lamanya, pada akhirnya ia tersenyum pada Namjoon.

Yoongi hanya diam memperhatikan. Lagipula ia tidak akan cemburu hanya karena hal seperti itu, kan?

26 November 20xx, Seoul

11.23 p.m

Jimin, Taehyung, dan Jungkook bersimbah keringat ketika pertunjukkan debut mereka selesai—namun wajah mereka memancarkan keceriaan yang tidak dapat tergambarkan hanya lewat kata-kata. Taehyung memeluk Jungkook dengan wajah basah oleh keringat dan airmata. Alpha yang lebih muda itu ikut menangis ketika melihat tangis Taehyung pecah selesai debut pertama mereka. Sementara Jimin hanya bisa mencandai kedua rekannya tersebut, meski matanya sendiri basah oleh air mata.

Hoseok, Leeteuk, Namjoon, Jackson, dan staff lainnya langsung menggerubungi mereka, memberikan ucapan selamat. Bahkan dari balik panggung mereka bisa mendengar suara penonton masih riuh memberikan tepuk tangan pada grup boyband yang baru debut itu.

Sementara yang lain masih memberikan ucapan selamat pada BTS, Yoongi masih berdiam diri di pojokan. Menunggu saat yang tepat untuk menghampiri Jimin. Barulah sekitar tiga puluh menit kemudian, ketika Jimin pergi ke toilet, Alpha itu menghampiri Jimin yang sedang mencuci tangannya.

"Kurasa hanya aku yang belum mengucapkan selamat."

"Ne. Kau sudah telat beberapa menit untuk mengucapkan selamat dibanding yang lainnya."

"Aku sudah mengucapkan selamat pada Jungkook-ah dan Taehyung. Hanya saja aku belum secara resmi memberimu selamat."

"Kurasa orang-orang menyukai lagu buatanmu. Tepukan mereka meriah sekali ketika kami memainkannya di panggung."

Yoongi hanya mendengus mendengar ucapan Jimin.

Tanpa pikir panjang, Alpha itu melihat ke sekelilingnya—memastikan bahwa tidak ada yang melihat mereka—sebelum akhirnya menarik Jimin masuk ke sebuah bilik.

Jimin menahan napasnya ketika Yoongi mengulum bibirnya dengan sedikit keras—sementara tangannya berusaha meremas bahu lebar Yoongi—menyuruhnya agar pelan-pelan.

"Hyung—A-Alpha—"

Yoongi mengusap dagu Jimin, "Saranghae, aku sangat bangga padamu."

Jimin tersenyum lebar dan mengecup bagian bawah bibir Yoongi, "Nado saranghae."

Keduanya keluar dari toilet umum saat Jungkook mendapati keduanya dengan wajah terkejut. Tetapi begitu ia menoleh pada Yoongi, senyum kelinci Alpha muda itu muncul. Ia menepuk-nepuk bahu Yoongi sambil mengacungkan jempolnya. Yoongi mengerutkan wajahnya dengan sikap kesal.

"Ada apa dengan anak itu, sih?"

"Bukannya kalian belum lama berteman akhir-akhir ini?"

Yoongi mengernyitkan dahi dengan bingung, "Eo? Kenapa kau bilang begitu?"

"Lalu siapa orang yang selama ini sering mengajaknya pergi makan Shim-Yang?"

4 Desember 20xx, Seoul

08.44 p.m

Namjoon hampir melupakan bahwa hari ini adalah ulang tahun Seokjin yang ke 38. Omega yang berusia lebih tua darinya itu selalu mengadakan acara makan malam di luar bila salah satu dari mereka ada yang berulang tahun. Tetapi anehnya seharian ini Seokjin tidak mengiriminya pesan sama sekali untuk cepat pulang ataupun pesan yang mengatakan bahwa hari ini akan ada acara makan malam di luar. Tadi pagi ia hanya sekilas saja mengucapkan selamat ulang tahun pada istrinya itu—sebelum akhirnya berangkat ke kantor studionya karena hari ini ia ingin mengadakan rapat membahas promosi BTS kedepannya sampai dengan awal Maret nanti.

BTS akhirnya mendapat pengakuan yang hangat dari publik, karena hanya memiliki 3 orang anggota dengan koreografi dan lagu yang menarik di kalangan anak-anak muda di Korea. Tidak sampai seminggu untuk video mereka mencapai 5 juta penonton di Youtube, sebuah pencapaian yang sangat besar untuk grup rookie di Korea.

Meski akhir-akhir ini ia jarang sekali berinteraksi dengan Jimin, bahkan sampai merindukan seks dengan Omega itu, Namjoon tidak pernah memaksakan keinginannya. Jika melihat Jimin cukup bahagia dan sukses seperti ini, itu sudah cukup baginya. Apalagi ia juga cukup lama bersikap dingin setelah mengetahui hubungan keduanya. Toh Yoongi dan Jimin sudah saling menyukai satu sama lain. Ia hanya perlu wanti-wanti jika ada media yang kedapatan meliput hubungan keduanya dan mengeksposnya ke publik. Tetapi ia tahu bahwa Yoongi cukup hati-hati dengan hal itu.

Ia nyaris membanting pintu mobilnya ketika ia sadar bahwa ia belum membelikan hadiah untuk Seokjin sama sekali. Buru-buru ia pergi ke pusat perbelanjaan yang terletak lima belas menit lamanya apabila dijangkau dengan berjalan kaki. Ia meringis ketika menyadari bahwa hadiah yang dibelinya untuk Omeganya terlalu cliche seperti tahun-tahun sebelumnya, mawar dan sekotak coklat berbentuk hati. Maka tanpa pikir lama-lama ia juga membeli parfum yang ia pikir akan sesuai dengan kesukaan istrinya itu.

Cukup puas dengan apa yang ia beli, Namjoon langsung mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Sesampainya di sana, ia mendapati Seokjin sedang duduk di sofa dengan wajah menghadap televisi.

"Saengil chukahamnida, jagiya."

Seokjin tersenyum lebar dan memeluk Alphanya, "Selamat datang, Joonie."

Namjoon memberikan hadiah yang ia beli pada Omeganya tersebut, yang disambut hangat, "Maafkan aku tidak bisa pulang lebih awal. Kukira kau juga bekerja hari ini."

"Ani—aku ijin karena sudah beberapa hari ini aku tidak enak badan. Makanya aku pergi ke dokter."

Dahi Namjoon mengerut, "Oh, kau tidak apa-apa? Apakah kau flu?"

"Joonie! Apa aku harus menerangkan semuanya padamu? Kenapa kau tidak menyadari bahwa heatku juga sudah sebulan belum muncul lagi?" Seokjin tersenyum jahil saat ia melihat Namjoon mengerutkan alisnya dengan bingung. Omega itu memberikan sesuatu pada Namjoon. Sebuah amplop yang berisi kertas berukuran lebih kecil dari kertas A4. "Coba kau lihat."

Jantung Namjoon berdetak lebih cepat, hal biasa yang ia rasakan apabila ia khawatir, atau jika ia terlalu senang. Tangannya nyaris gemetaran saat ia membuka amplop tersebut. Takut-takut ia membuka amplop, jika sampai merobek apa yang di dalamnya. Sesuatu berwarna putih abu-abu muncul di ujung amplop, "Jin..." ia menoleh ke arah Omeganya yang berlumuran air mata.

"Chukha-hapnida, kau akan menjadi seorang Appa dalam 8 bulan ke depan!" Seokjin mulai menangis—tetapi dengan senyuman merekah di wajahnya.

Namjoon langsung menggendong tubuh Seokjin dan mencium Omeganya itu dengan rasa bahagia luar biasa.

Appa, ia akan menjadi seorang Appa! Seorang Alpha dan seorang Appa!

"Seokjin—aku—"

Seokjin menyeka airmata di wajah Namjoon, tertawa karena Alphanya juga menangis bersamanya, "Kenapa kau menangis? Kau akan menjadi seorang Appa, Joonie!"

"Aku menangis karena aku akan menjadi seorang Appa! Aku tidak peduli jika aku seorang Alpha berusia 37 tahun dan menangis saat ini, karena aku akan menjadi seorang Appa!"

Sesaat Namjoon melupakan Jimin dalam benaknya. Sekarang pikirannya dipenuhi dengan seorang anak kecil—entah laki-laki atau perempuan, berlari-lari memanggil Seokjin Eomma dan dirinya Appa. Anak kecil yang merupakan bagian dari Seokjin dan setengahnya lagi dari dirinya. Betapa ia beruntung akan memiliki seorang anak yang memiliki wajah cantik Seokjin dan lesung pipit darinya.

Betapa beruntungnya ia memiliki Omega secantik

Malam itu Namjoon bersyukur pada Tuhan yang sudah lama tidak pernah lagi menjadi tempat ia berdoa.

4 Desember 20xx, Seoul

09.25 p.m

Jimin, Taehyung, dan Jungkook sedang di tengah-tengah menonton siaran ulang debut mereka di TV ketika bel apartemen asrama mereka berbunyi. Bel tersebut berbunyi beberapa kali. Jimin menendang kedua pasangan Alpha dan Omega yang lebih muda darinya itu satu persatu—menyuruh mereka untuk membukakan pintu. Tetapi karena keduanya hanya memberikan respon dengan menendangnya balik, akhirnya Jimin menyerah dan beranjak ke pintu.

Ia melihat lewat lubang di pintu, seorang pria tinggi dengan tubuh membelakangi pintu membawa sebuah buket besar berisi bunga mawar. Jimin mengerutkan dahi, Jika dia memang petugas pengantar paket, kenapa dia tidak mengatakan sesuatu?

"Tunggu sebentar—"

Ia membuka pintu dan hanya mendapati sebuket besar bunga mawar merah di depan pintunya. Dilengkapi sebuah amplop kecil berwarna kuning. Jimin berlari mengitari lorong dan mendapati orang misterius tadi sudah menghilang entah ke mana. Wajah Omega itu semakin diliputi rasa penasaran.

Dibukanya amplop kuning tersebut.

Untuk Jimin,

Selamat atas kesuksesan pada debut pertamamu. Kuharap selanjutnya aku bisa bertemu denganmu lagi.

Dari, seseorang yang pernah mencintaimu.

.

Mata Jimin membelalak karena ia tahu inisial huruf yang tertera di akhir surat. Jantungnya berdegup kencang.

Uh oh.

TBC

Catatan penulis:

Segala macam rintangan tidak akan pernah berakhir bagi Yoongi, mwaha.

Terimakasih untuk yang telah menambahkan cerita ini ke favorite dan followed stroies! Termasuk untuk reviewer: MinPark, Gasuga, LittleOoh, ChiminsCake, Daisy Uchiha, melyauyut575, virgiawan738, noonim, danhoneymon

Sampai jumpa di bagian 5!