Nama BTS langsung melejit begitu video mereka di Youtube menembus angka 20 juta kali ditonton. Bahkan di media sosial, hashtag nama mereka menapaki peringkat 2 terpopuler di twitter Korea selama semiggu. Masyarakat Korea—terutama kalangan anak muda, memuji penampilan BTS lewat koreografi, perfoma lagu dengan liriknya yang tidak biasa(Yoongi sebenarnya sangat bangga karena lagu-lagu yang ia produksi, justru yang paling banyak disebut di media sosial), dan fan chant yang unik.
Tawaran untuk tampil di TV dan siaran radio swasta dan nasional Korea sudah seringkali diterima melalui Leeteuk. Bahkan saking banyaknya—ia sampai meminta Namjoon untuk mencarikan satu orang manajer lagi yang bisa membantu tugasnya ("Tidakkah kau mengerti, sajangnim? Bahkan ada TV nasional yang menelepon saat aku tidur! Bagaimana bisa aku menjawab mereka di saat aku dalam keadaan setengah tidur?!").
Akhirnya, Namjoon memutuskan untuk mengadakan photoshoot yang kedua untuk setiap anggota BTS. Kali ini bukan hanya sebagai promosi, tetapi juga sebagai bentuk pemenuhan permintaan penggemar BTS di Korea. Juga sebagai bagian dari peluncuran album pertama mereka ke publik yang akan dilaksanakan pada awal Januari nanti.
Sebenarnya Yoongi sangat mendukung saat nama BTS meroket dalam waktu singkat dan mendapat respon positif hingga saat ini. Hanya saja yang membuat Yoongi kesal adalah, foto-foto Jimin ketika tanpa sengaja memperlihatkan perutnya yang kencang karena otot perut—menarik banyak perhatian di kalangan Alpha lainnya—dan beberapa kalangan Beta dan Omega.
Kalau saja mereka tahu Jimin sudah ada yang punya!
A GENIUS IN LOVE
Bagian 5
Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!
Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos, karakter boyband lainnya. Stalker! Chanyeol (OOC Chanyeol mwaha)
Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV
15 Desember 20xx, Seoul
07.31 p.m
Salju mulai berjatuhan seminggu yang lalu, dan kini udara dingin senantiasa menyelimuti Korea. Toko-toko dan pusat perbelanjaan semakin ramai dengan hiasan-hiasan lampu sementara orang-orang semakin sibuk mencari hadiah dan hiasan natal—memenuhi jalanan trotoar dan toko-toko.
Beberapa hari setelah debut BTS menuai banyak respon positif dan perhatian masyarakat di Korea terutama karena liriknya yang berisi kritik akan kehidupan di Korea dan sangat berhubungan dengan kondisi anak-anak muda sekarang ini, serta sebagian koreografinya yang mudah diingat. Yoongi dan Jimin hampir hanya bertemu empat kali dalam dua minggu belakangan ini, dikarenakan jadwal Jimin yang semakin padat dan kesibukan Yoongi sendiri dalam mempersiapkan album solonya.
Sekali-dua kali Jimin mendatangi apartemen Yoongi—dan mereka berhubungan di apartemen Alpha itu, meski hubungan mereka tidak seintim pertama kali mereka melakukan seks. Setelah itu, kegiatan malam mereka dlanjutkan dengan menonton US TV series dan film Hollywood di Netflix. Di sela-sela menonton Netflix, mereka menonton drama romansa Korea atas permintaan Jimin—yang berakhir dengan Yoongi tertidur di atas sofa ("Bahkan aku tidak tidur saat kita menonton film kesukaanmu, Hyung!"). Lalu kegiatan malam mereka berakhir dengan Yoongi mengantar Jimin ke apartemennya.
Di acara malam mereka yang kedua, Yoongi membuka media sosial setelah berapa lamanya ia tidak mengecek. Kekesalannya sedikit menguar saat melihat foto-foto Jimin yang tidak sengaja memperlihatkan otot perutnya yang kencang.
"Kurasa jika aku bertemu dengan orang-orang yang mengepos fotomu ini, aku akan menendang wajah mereka dengan tidak senang," gerutu Yoongi.
Jimin menepuk bahu Yoongi, "Hyung, mereka itu hanya fans! Kau tidak perlu cemburu dengan fans!"
"Aku cemburu karena mereka ikut melihat bagian perutmu, dan seharusnya hanya aku yang tahu bagaimana bentuk perutmu."
Tawa Jimin terdengar indah di telinga Alpha itu, "Kau pasti ingat, bahwa sudah ada 2 Alpha lain yang sudah melihat aku telanjang selain dirimu," kemudian matanya beralih pada layar ponselnya yang mati.
Yoongi menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Jimin, "Kalau begitu, hanya aku yang bisa melihat perutmu membesar—jika suatu saat nanti kau mengandung anakku."
Jimin menengadahkan kepalanya ke atas wajah Yoongi, "Kau serius mengatakannya, Hyung?"
"Serius apanya?" tanya Yoongi, "Serius kalau perutmu akan membesar?"
Jimin menjewer telinga Yoongi dengan gemas, "Serius kalau kau—umm," wajahnya berubah merah, "Kalau kau bilang—aku akan mengandung anakmu..."
"Memangnya kau mau mengandung anak Alpha lain? Selain diriku?"
"T-tentu saja tidak! Tapi kupikir masih terlalu cepat untukku berpikir sampai situ! Aku baru saja debut, kau ingat 'kan?"
Yoongi tersenyum, "Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kau siap."
Jimin mencubit pipi Yoongi dengan gemas bercampur rasa tersipu.
Rasanya tidak aneh kalau suatu saat kami akan memiliki seorang anak dengan wajahku dan kepribadian seperti Hyung...
Ponsel Jimin berdering beberapa kali menandakan ada pesan berkali-kali masuk. Yoongi yang ikut penasaran tanpa sadar mencondongkan tubuhnya untuk bisa melihat ponsel lebih dekat. Jimin dengan panik mengangkat ponselnya menjauh dari Alpha berkulit pucat itu.
"Memangnya itu pesan dari siapa? Kenapa kau tiba-tiba panik begitu?"
"Bukan dari siapa-siapa!" jawab Jimin cepat, "Umm ini—hanya dari Eomma. Kalau kau membaca pesan darinya, aku bisa malu setengah mati!" wajahnya terlihat kurang meyakinkan.
Tetapi Yoongi hanya mengendikkan bahu. Mungkin dari seseorang yang bukan Eommanya, tetapi tidak masalah jika Jimin tidak mau menceritakannya. Lagipula mereka masih belum terikat satu sama lain dengan pasti. Mereka masih memiliki masalah personal yang mungkin belum saatnya untuk diceritakan pada satu sama lain, kan?
Sekilas ia melihat perubahan ekspresi cemas di wajah Jimin.
"Semoga pesan itu tidak berisi sesuatu yang darurat."
Jimin buru-buru menggelang, "Ani, ini—umm, hanya berisi pesan yang—um agak membuatku cemas. Tapi kurasa tidak apa-apa sekarang."
Setelah Jimin mematikan ponselnya tanpa membalas apapun, Omega itu kembali mendekat ke Yoongi dan menyandarkan kepalanya ke bahu Yoongi. Yoongi, berusaha menutupi rasa curiganya terhadap pesan tadi, melingkarkan lengannya ke tubuh Jimin.
Keduanya menonton tanpa bertukar kalimat sampai Jimin memutuskan kembali ke apartemennya.
16 Desember 20xx, Seoul
10.02 a.m
EXOChanyeol
Jimin?
Ini Yeollie, aku mendapatkan kontakmu dari Leeteuk-nim.
Beberapa hari lalu aku pergi untuk melihat debut pertamamu jika kau sadar.
Kurasa jika kau tidak keberatan, apa kita bisa bertemu lagi kapan-kapan?
Aku tunggu balasanmu.
Sudah lebih dari 12 jam semenjak ia melihat pesan itu dikirimkan padanya. Jimin masih diam memandang layar ponselnya, tidak memiliki niatan untuk membalas pesan Chanyeol. Bahkan ia tidak menyangka bahwa Chanyeol akan berusaha menghubunginya setelah mereka tidak pernah bertemu selama 2 tahun lebih! Hubungan mereka di masa lalu hanya menimbulkan bayangan hitam di benak Jimin. Ia tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa Chanyeol pergi ke Seoul tanpa pamit padanya, dan melejit sebagai idol yang populer di Korea.
Kenapa baru sekarang?
Kenapa setelah hubungannya dengan Namjoon mulai pudar?
Kenapa Chanyeol baru muncul saat ia dan Yoongi mulai bersama?
Jimin kehabisan akal. Ia akan mendiamkan pesan Chanyeol. Karena ia sudah tidak perlu seorang Chanyeol di kehidupannya saat ia sudah memiliki Yoongi.
Tepat ia ingin melempar ponselnya ke atas meja di ruang TV, muncul Taehyung.
"Jiminnie! Temani aku belanja hadiah natal untuk orang tuaku!"
"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku? Mana Jungkook-ah?"
Omega berambut abu-abu itu hanya memasang wajah sebal, "Jungkookie lebih memilih untuk pergi bersama teman Betanya yang bernama Yugyeom itu daripada aku! Padahal dari kemarin aku sudah memohon-mohon agar ia mau menemani aku pergi belanja hari ini!"
Karena merasa bahwa hari ini mereka tidak akan melakukan kegiatan apa-apa (Yoongi hari ini pun menghabiskan waktunya sampai malam di studio seperti biasa), Jimin akhirnya mengiyakan ajakan Taehyung. Toh ia juga belum membelikan apa-apa untuk kedua orang tua dan adiknya di Busan. Padahal bulan ini ia sudah mendapatkan gaji pertama dari Namjoon (dan bonus tambahan dari atasannya itu—mengingat mereka sudah pernah berhubungan selama 2 tahun), tetapi belum sempat membelikan apapun untuk keluarganya tersebut.
Mereka pergi ke Dongdaemun dengan naik bis. Karena sehabis debut wajah mereka mulai dikenali, Jimin dan Taehyung mengenakan masker di wajah mereka. Begitu sampai di sana, Jimin menemani Omega yang lebih muda itu ke sebuah toko elektronik ("Kau serius mau membelikan ibumu mesin penyedot debu?" Taehyung hanya tersenyum dengan senyuman kotaknya menanggapi pertanyaan Jimin). Kemudian mereka pergi ke toko pakaian untuk membeli hadiah natal anggota keluarga mereka yang lain—sekaligus mencari baju yang akan dipakai mereka untuk tahun baru nanti.
Terbesit di kepala Jimin untuk membeli Yoongi hadiah natal, tetapi kemudian Omega itu mengurungkan niatnya.
Mungkin aku akan pergi mencari hadiah natal untuk Yoongi-Hyung jika nanti sudah dekat dengan waktu natal...
"Kau akan membelikan sesuatu untuk Jungkook-ah tahun ini tidak?" tanya Jimin pada Taehyung yang masih sibuk mencarikan baju untuk kedua adik-adiknya.
"Tentu saja! Tapi aku yakin dia tidak akan membelikanku apa-apa tepat di hari natal," gerutu Omega itu. Jimin tertawa, karena Jungkook memang tipikal orang yang tidak akan memberikan orang hadiah kecuali orang itu memintanya langsung (Bukannya jika kita memintanya langsung, justru namanya bukan hadiah?).
Tiba-tiba seseorang berkacamata hitam dengan mantel berkerah tinggi dan syal yang menutupi hingga setengah wajah, pergi menghampiri keduanya dan menepuk bahu Taehyung.
Taehyung dan Jimin sama-sama membalikkan tubuh untuk memperhatikan orang yang mendatangi mereka itu.
"Taehyung—"
"Heok? Baekhyun-hyung?"
Tiba-tiba airmata menetes dari balik kacamata hitamnya. Sosok misterius itu memeluk Taehyung dan mulai menangis.
16 Desember 20xx, Seoul
1.26 p.m
Suasana cafe yang mereka tempati saat itu sepi dikarenakan letaknya yang di ujung dan hanya sanggup didatangi oleh orang-orang yang punya uang lebih. Jimin sebenarnya bersyukur mereka pergi ke cafe itu saat ini, karena suara tangisan Baekhyun yang seorang idol boyband no 1 di Korea cukup menyita perhatian orang-orang sekitar. Bahkan pelayan yang melayani mereka terlihat ragu-ragu untuk menawarkan tisu lebih pada mereka.
"Ne, Hyung, sekarang tarik napas dalam-dalam dan keluarkan. Aku tidak bisa mendengarmu jikau kau menangis seperti itu."
"Emm, kalau kalian tidak mau aku mendengar percakapan kalian, mungkin aku bisa keluar dari cafe sekarang?"
Baekhyun menarik tangan Jimin dan menyuruhnya duduk.
"Aku sudah tidak a-apa-apa. Jimin, kau boleh duduk dan—mendengarkan, karena kau terlihat seperti orang baik-baik," kata Baekhyun di tengah-tengah isakannya.
"Jadi—kau bilang tadi, kau dan Chanyeol-sunbaenim—umm, apa tadi katamu?" tanya Taehyung membalikkan percakapan.
"Kami pu-putus."
Jimin dan Taehyung tidak dapat menyembunyikan ekspresi kaget mereka. Jimin sebenarnya tidak terlalu kaget karena ia melihat Chanyeol dan Baekhyun jalan berduaan ketika ia dan Yoongi pergi berkencan sebulanan yang lalu. Justru Taehyung lah yang paling kaget karena bahkan perusahaan hiburan yang mewadahi mereka sangat diskrit dan tertutup mengenai hubungan keduanya—bahkan media yang dulu sempat mengabarkan hubungan Chanyeol dan Baekhyun sudah tidak pernah lagi membuat berita tentang mereka. Karena semenjak muncul berita bahwa Chanyeol yang seorang Alpha menjalin hubungan dengan rekannya yang seorang Omega dan dari satu boyband yang sama, keduanya sama sekali tak pernah memberikan respon pasti pada media manapun.
Dan tiba-tiba saja, langsung di kedua wajah Jimin dan Taehyung, Baekhyun mengumumkan bahwa hubungannya dan Chanyeol berakhir begitu saja.
"Kenapa kalian putus?!" tanya Taehyung masih belum pulih dari rasa kagetnya.
Jimin tiba-tiba khawatir mengenai pesan yang dikirim oleh Chanyeol kemarin.
"Perusahaan rekaman kami—SMTown, tiba-tiba saja mengumumkan bahwa media kembali panas soal hubungan kami—dan entah dari mana, beredar foto kami saat pulang berduaan dari sebuah hotel beberapa hari lalu. M-mereka bilang, lebih baik untuk kami agar putus—karena jika tidak, fans kami akan gempar, terutama fans Chanyeol."
"Ck, Omega-Omega posesif seperti mereka pantas untuk ditenggelamkan! Padahal mereka hanya fans!" kata Taehyung kesal, "Kenapa mereka tidak bisa membiarkan idola kesukaan mereka hidup sesuai keinginan mereka, sih?!"
Jimin memukul paha Taehyung, berharap bahwa namja Omega yang lebih muda itu menjaga perkataannya, "Berarti saat ini, hubungan kalian sudah diketahui semua orang?" tanya Jimin pada Baekhyun.
Omega itu mengangguk, "Ne, kau bisa lihat ini," ia menunjuk ke layar browser di ponselnya, "Soompi dan AllKpop bahkan sudah mengumumkan hubungan kami ke media internasional. Pagi ini pun tiba-tiba saja aku banyak mendapatkan surat ancaman yang mengatakan bahwa hubunganku dengan Chanyeol tidak direstui!"
Taehyung menatap Jimin dan menggumamkan nama Jungkook dengan ekspresi khawatir.
"Jadi sekarang bagaimana? Kalian benar-benar putus?"
"Perusahaan kami meminta kami putus—dan Chanyeol sendiri bilang bahwa lebih baik hubungan kami agar tidak diteruskan, sebelum fans kami berbalik menyerangku. Tapi—tapi—" Baekhyun kembali terisak, "Aku masih mencintainya—aku tidak pernah mau putus darinya—"
Kedua Omega yang lain hanya bisa diam karena terlalu bingung harus menanggapi seperti apa. Taehyung pada akhirnya berusaha menenangkan Baekhyun dengan memeluk temannya itu dengan merangkul bahunya, sementara Jimin hanya termenung memikirkan pesan Chanyeol semalam. Ia berharap bahwa tidak ada maksud lain dari Chanyeol saat itu. Karena jika ya, Jimin akan mengutuki dirinya sampai mampus.
16 Desember 20xx, Seoul
7.26 p.m
Yoongi benar-benar bosan hari itu. Ia harus segera menyelesaikan kumpulan mixtape terbarunya sebelum natal jika ia ingin cepat-cepat meluncurkan albumnya awal Februari nanti. Berhubung hari ini BTS diliburkan untuk datang ke studio setelah lonjakan nama mereka setelah debut, Yoongi semakin stres karena artinya hari ini ia tidak akan bisa bertemu dengan Jimin. Bahkan terakhir kali Omeganya itu membalas pesannya adalah sekitaran 6 jam yang lalu. Dan kini Alpha pucat itu benar-benar kehabisan akal dalam menyelesaikan deadline penyelesaian mixtapenya.
Karena seberapapun jeniusnya ia, kata 'jenius' tidak akan ia dapatkan jika ia tidak membanting tulang dan memeras keringatnya sampai mau mati rasanya. Semuanya diperlukan proses, waktu, dan tenaga yang besar. Entah berapa lama lagi ia akan tidur 2 jam sehari.
Hampir beberapa hari ia juga tidak bertemu dengan Namjoon secara langsung—sehingga mereka hanya berkomunikasi lewat KakaoTalk. Akhir-akhir ini juga ia merasa jawaban Namjoon terlalu singkat bahkan tidak berbasa-basi seperti pertama ia mengenal atasannya itu. Yoongi berpikir bahwa obrolan mereka sebulan yang lalu telah membuat atasannya marah.
Tetapi Yoongi bersyukur karena Alpha yang lebih tinggi itu tidak memilih untuk mendiamkannya, apalagi memecatnya secara cuma-cuma.
Ketiga rekannya, Zhoumi, Jieun, dan Ji-hoon tidak pernah datang ke studio semenjak dua hari yang lalu. Mereka semua memanfaatkan bulan Desember ini untuk pergi berlibur entah kemana—itu informasi yang didapatkan Yoongi dari manajer mereka, yang kebetulan sering Yoongi temui jika ia makan siang di lantai 1 (Padahal manajer mereka sendiri masih belum libur, hmm). Hanya Zhoumi saja yang masih rajin mengiriminya pesan. Dan beberapa saat lalu, Zhoumi mengirimkan foto ia di Cina—liburan bersama keluarganya di sana.
Yoongi teringat akan keluarganya di Daegu.
Ia sudah hampir 3 tahun tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Terakhir kali ia bertemu dengan Appanya adalah ia meminta izin untuk pergi ke Seoul, sementara Eommanya hanya memandangnya dengan wajah cemas bercampur ragu. Hanya kakak laki-lakinya lah yang sangat mendukung cita-citanya tersebut, terang-terangan membela Yoongi di hadapan orang tuanya.
Yoongi ragu apakah ia mungkin harus pulang ke Daegu untuk bertemu dengan mereka, atau hanya mengirimkan uang hasil penjualan albumnya bulan kemarin ke rekening Appanya. Karena ia tahu, jika ia mengirimkan uang dengan jumlah yang mencurigakan, Appanya pasti akan membuang uang itu mentah-mentah, bagaimanapun caranya.
"Yoongi-ah?"
Yoongi memutar kursi kerjanya, tanpa sadar Namjoon telah berada di belakangnya.
"Oh, Namjoon-nim," katanya dingin.
Namjoon hanya tersenyum agak kaku padanya, "Kurasa kau masih mau menyelesaikan album mixtapemu hari ini."
"Aku memang mau menyelesaikannya sebelum natal jika bisa," jawab Alpha yang lebih pendek itu, "Aku rasa kedatangan Anda ke sini pasti memiliki tujuan khusus, karena akhir-akhir ini Anda hanya berkomunikasi lewat pesan-pesan singkat."
Namjoon tergelak, "Kau bisa bilang bahwa kau adalah orang yang sangat tajam, Yoongi-ah," Namjoon melipat kedua tangannya, "Jika kau tidak keberatan, boleh aku mentraktirmu minum?"
"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku minum? Memangnya ada perayaan sesuatu?" tanya Yoongi—menjatuhkan pengucapan formal dari cara ia bicara, "Atau ada sesuatu yang memang harus dibicarakan dengan minum?"
"Pemikiranmu memang tajam, Yoongi-ah. Dan benar, aku memang perlu mengajakmu berbicara," Alpha yang lebih tinggi itu terdiam selama beberapa detik. "Soal Jimin."
Yoongi menatap Namjoon dengan tatapan sedikit menghakimi, tetapi kemudian akhirnya ia mendesah panjang dan berkata, "Baiklah, aku ikut."
Bahkan suasana di perjalanan semakin bertambah canggung ketika Yoongi memasuki mobil mewah milik bossnya itu. Alpha yang menjadi bossnya itu sama sekali tidak mau memulai percakapan. Bahkan Yoongi yang cukup anti-sosial pun dibuat menderita dengan suasana hening dan canggung di dalam mobil.
Mereka tiba di sebuah stasiun kereta api dan berjalan menuruni tangga bawah tanah. Yoongi tidak menyangka bahwa bossnya itu akan mentraktirnya ke sebuah bar mewah bergaya old country, dengan segala minuman beralkohol berlabel merk-merk terkenal. Yoongi yakin, bahwa dengan pendapatannya bulan kemarin pun dompetnya akan tetap menangis. Bahkan banyak sekali sertifikat internasional yang menandakan bahwa bartender di sini sudah terlatih. Pintu saat ia masuk pun dijaga oleh dua orang bodyguard yang berpakaian seperti petarung jalanan!
Namjoon memesan Martini, sementara Yoongi (dia harus menghabiskan waktu sepuluh menit untuk memahami menu minuman yang tertera) memesan Grill & Tonic. Butuh waktu tidak sampai lima menit untuk minuman mereka jadi.
Sambil menyeruput minumannya, Namjoon akhirnya (Akhirnya ia bicara! Batin Yoongi senang), "Kau dan Jimin—kalian masih berhubungan?"
"Ya. Dan aku tidak akan berniat putus, bahkan jika kau memecatku sekalipun," kata Yoongi. Ia langsung membayangkan betapa ingin ia menghajar dirinya sendiri karena ucapan terakhirnya itu.
Tetapi Namjoon malah tersentak dan tertawa, "Aku tidak akan berbuat sampai seperti itu. Lagipula, kau ini terlalu berharga untuk kami lepaskan. Bukankah aku sudah pernah bilang begitu?"
"Hmm, kurasa ya, tapi aku tidak ingat kapan."
"Kurasa kau harus melihat ini," Namjoon mengulurkan ponselnya yang berisi sebuah headline berita.
BYUN BAEK-HYUN DAN PARK CHANYEOL BERPACARAN? KINI MEREKA DIKABARKAN TELAH PUTUS
Yoongi nyaris menelan es batu yang dari tadi ia gigit, "Mwoya?! Ini berita apa?! Kenapa tiba-tiba kau—"
"Coba kau baca." Namjoon memandang Yoongi dengan penuh kesabaran.
Alpha yang lebih muda itu akhirnya membaca berita yang tertera di layar ponsel Namjoon. Inti dari berita itu menyatakan bahwa SMTown selaku branch dari SM yang merupakan perusahaan hiburan saingan NJE-C, mengeluarkan pernyataan bahwa Chanyeol dan Baekhyun kini telah putus. Sebelum-sebelumnya, hubungan mereka yang tidak pernah diliput media, tiba-tiba muncul ke permukaan dan menjadi pembicaraan hangat di publik. Tetapi pada akhirnya, hubungan mereka kini sudah berakhir—meski tetap terjadi perpecahan di antara fans yang mendukung dan kontra dengan hubungan mereka.
"Kini kau sudah mengerti, kan? Yang aku takutkan adalah, jika saat hubungan kalian sampai terliput oleh media, justru hal itu akan membuat kegaduhan di antara fans BTS. Apalagi BTS baru saja memulai debut, padahal ini adalah permulaan yang bagus bagi mereka untuk memulai karir," Namjoon meminum habis Martininya dan memesan satu gelas lainnya pada Bartender, "Kalau ada media yang meliput hubungan kalian, maka aku tidak akan punya pilihan kecuali membatalkan penampilan BTS untuk debut yang berikutnya. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Kau berbicara dengan berputar-putar, Namjoon-nim, tapi aku mengerti maksudmu," kata Yoongi, masih bersikap tidak peduli, "Fans bisa memikirkan diri mereka sendiri. Kami berdua—aku dan Jimin, bebas untuk melakukan apa yang kami sukai, bukan?"
Wajah Namjoon berubah seidkit frustasi, "Ini menyangkut karir kalian berdua, Yoongi-ah. Bukan hanya Jimin. Bisa saja setelah ini presentase fansmu berkurang karena kau dan Jimin-ah menjalin hubungan."
"Kalau begitu, dengan kami saling merahasiakan hubungan kami dan berhati-hati dengan publik, semuanya akan baik-baik saja, bukan?"
"Tapi aku tidak menjamin—"
"Apa perlu aku menghapus foto profilku dengan Jimin di media sosial?"
"Yoongi-ah—"
"Bukankah ada orang lain yang berhasil menjalin hubungan dengan Jimin tanpa ketahuan oleh media selama 2 tahun? Padahal orang itu adalah orang yang dikenal sebagai pengusaha sukses termuda di Korea?"
Namjoon memasang wajah kaget bercampur rasa tidak percaya. Ia nyaris melempar gelas kedua yang diterimanya dari bartender karena rasa terkejut mendengar ucapan Alpha yang lebih muda itu.
"Apa maksudmu?"
"Dimulai dengan hari pertamaku bekerja, aku tanpa sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku lihat. Di sebuah ruangan yang hanya bisa dimasuki dengan orang atas seizinmu, Namjoon-nim."
Namjoon nyaris kehilangan kata-kata. Kepalanya kini mengingat kejadian berbulan lalu—di mana ia tengah menggagahi Jimin—memakan segala nikmat ekstasi yang ada di seluruh penjuru tubuh namja Omega cantik itu. Ketika Jimin tiba-tiba memanggilnya—berasumsi bahwa ada seseorang yang melihat hubungan mereka. Namjoon tanpa sadar menarik kerah baju Yoongi, ekspresinya berubah marah, "Rupanya kau, yang melihat kami malam itu."
Yoongi hanya menatapnya dengan dingin, tatapan matanya menantang, "Aku tidak mengerti kenapa kau bisa sebodoh itu, Namjoon-nim. Ne, aku melihat semuanya. Bagaimana kau bersetubuh dengannya. Tapi sekarang ia adalah milkku, dan kau sudah harus melepaskannya."
Terkesiap mendengar ucapan Yoongi, Namjoon melepaskan kerah baju Yoongi, kembali pada minumannya, "Kurasa kau bukan tipe orang yang mau mencampuri urusan orang lain tentang hal itu, kan? Aku berani taruhan, kau pasti tidak punya niatan untuk menjual informasi ini ke media manapun."
Kedua Alpha itu saling bertatapan, menantang satu sama lain, tetapi dengan suasana lebih tenang daripada sebelumnya. Bartender yang tadi nyaris memanggil temannya untuk melerai mereka, kini hanya terbengong-bengong melihat keduanya begitu cepat berdamai.
"Karena jika aku memberitahu media," kata Yoongi sambil merapikan kerah bajunya, "Bukan hanya reputasimu saja yang hancur, tapi juga hidup Jimin akan hancur karenanya. Karena itu, biarkan aku saja yang cukup tahu hubungan kalian."
"Hmm, aku suka cara berpikirmu—dan cukup berterimakasih karena kau mau menjaga rahasia."
"Tapi kenapa kau memilih Jimin, yang seorang rookie sebagai selingkuhanmu? Apa alasanmu berselingkuh?" cecar Yoongi—tidak dapat mengontrol dirinya. Ia benar-benar ingin perkelahian mereka berlanjut, karena ia sangat membenci semua Alpha yang pernah disukai oleh Jimin. Entah sejak kapan, pikirannya menjadi posesif setiap kali ia ingat Jimin.
"Pertama, aku berselingkuh dengannya karena aku memang tertarik padanya. Jujur, aku sangat terpukau dengan penampilan dan sifatnya. Kepribadian kami—sangat melengkapi satu sama lain. Bahkan ia mengingatkanku pada istriku setiap kali kami melakukan seks," Namjoon pada akhirnya bercerita. Pandangannya kembali fokus pada gelas Martininya yang hampir kosong, "Dia mengisi kekosongan yang istriku tidak dapat penuhi setelah kami kehilangan anak kami."
"...anak?"
"Istriku pernah keguguran," jelas Alpha yang bertubuh tinggi itu pada akhirnya, "Hubungan kami setelah itu tidak pernah membaik. Hubungan suami istri kami pun tidak bisa terpenuhi seutuhnya, dan aku merindukan bagaimana rasanya menyetubuhi seorang Omega. Tapi tanpa kusadari, aku benar-benar jatuh hati pada Jimin."
"Apa kau gila? Jimin jauh lebih muda darimu!"
"Aku tahu—tapi aku terbutakan oleh naluriku sendiri selama dua tahun itu. Bagiku, Jimin adalah sosok Omega ideal yang bahkan istriku tidak dapat penuhi. Aku sempat memikirkan bahwa aku ingin menjadikannya istri keduaku, tapi pada akhirnya, aku tidak rela untuk membuang jauh-jauh bakat emasnya."
"Lalu, apa kau masih mencintainya?"
Namjoon menoleh pada Yoongi, tersenyum kecil, "Jika kau bertanya padaku sekitaran sebulan yang lalu, maka aku akan menjawab ya. Tapi sekarang, maka aku akan bilang tidak. Aku hanya mencintainya karena naluri, bukan karena hati dan pikiranku saat itu."
Yoongi menghela napas lega, "—tapi kenapa?"
"Aku akan menjadi seorang Appa."
"Ah, begitu. Rasanya agak canggung untuk mengucapkan selamat setelah tadi kau hampir menghajarku."
"Terima kasih, aku tahu kau akan mengucapkan selamat tanpa perlu mengatakannya," balas Namjoon enteng. "Begitu aku tahu bahwa Seokjin—istriku hamil, aku langsung menyadari betapa aku mencintai istriku. Bukan berarti aku langsung puas hanya karena tahu bahwa Omegaku hamil, tapi karena aku merindukan sosoknya. Aku merindukan dirinya yang baru aku temui lagi saat kami menghabiskan heat bersama."
Yoongi terdiam—karena memang ia tidak punya sesuatu yang harus dikatakan begitu mendengar cerita Namjoon. Ia hanya termangut-mangut sambil meminum minumannya.
"Tetapi jika kau memang mencintai Jimin," lanjut Namjoon lagi, "Kuharap kau tidak akan pernah menjadi orang brengsek sepertiku. Jangan pernah jatuh cinta hanya karena suatu kesalahan."
"Aku tahu itu."
"Good."
"Berarti sekarang aku bisa melanjutkan hubunganku dengan Jimin dengan tenang."
"Aku akan menguliti kulitmu yang pucat seperti mayat itu jika media sampai tahu soal kalian. Jimin masih terlalu berharga untuk kuserahkan pada Alpha sepertimu."
Yoongi meneguk gelasnya hingga kosong, "Ne, ne."
Malam itu, keduanya menghabiskan malam dengan minum-minum sampai setengah mabuk—dengan percakapan mereka berlanjut masih dalam keadaan canggung. Tapi setidaknya keesokannya ia bisa pergi ke studio dengan perasaan tenang, karena bukan saja ia sudah berdamai dengan Namjoon, tapi juga berhasil membuat teman baru.
Aneh, karena ia berteman dengan boss sekaligus mantan saingannya dalam memperebutkan cinta Jimin.
22 Desember 20xx, Seoul
8.11 p.m
Jimin menanggapi cerita bahwa Yoongi dan Namjoon kini berteman dengan ekspresi yang menggemaskan. Ia tidak bisa percaya bahwa dengan mulusnya Namjoon melepaskan Jimin dan kini menerima Yoongi sebagai Alphanya. Tetapi Omega itu menitikkan air mata begitu mendengar kabar bahwa Namjoon akan menjadi seorang ayah.
"Benar kataku, kan! Dia hanya menganggapku sebagai pengganti istrinya! Dan sekarang mereka akan punya anak! Lalu aku begitu saja dilupakan olehnya!" seru Jimin setengah menangis.
"Kenapa kau mengatakannya seolah-olah kau masih mencintainya, huh? Apa kau sudah bosan denganku?" Yoongi menatap wajah Omeganya, tangan kanannya menepis air mata yang berjatuhan dari mata Jimin.
"Soalnya dia orang yang pernah mengisi hatiku! A-aku—"
"Kalau begitu sekarang aku akan pelan-pelan membuatmu melupakannya, oke?"
Jimin menghapus air matanya, "Ne. Cium aku kalau begitu."
Mereka berciuman dengan orang-orang di sekeliling mereka memperhatikan, tapi Yoongi tidak peduli. Karena Jimin adalah miliknya dan biarlah orang-orang tahu mengenai hal itu—kecuali media tentunya. Oleh karena itu, ketika mereka berjalan di Common Ground Seoul dengan penampilan yang tertutup. Yoongi mengenakan masker yang ia buka sesekali dan sebuah topi Puma berwarna hitam, sementara Jimin mengenakan kacamata hitam dan syal yang menutupi hingga setengah wajahnya—dengan kepala tertutup beanie berwarna maroon.
Karena pada tanggal 25 nanti Jimin dan Yoongi akan tampil di dua acara yang berbeda, mereka memutuskan untuk melewatkan natal dahuluan dan melakukan acara bertukar kado lebih cepat. Setelah kemarin seharian tidur seharian karena seminggu harus mengejar deadline, akhirnya Yoongi memiliki kesempatan untuk memesan tempat di sebuah restoran mewah di dekat Common Ground tepat tadi pagi pukul 1 siang.
Begitu sampai di sana, mereka langsung disambut pelayan dan diantar ke meja yang telah dipesan Yoongi. Jimin tidak bisa menyembunyikan rasa terpukaunya ketika mereka tiba di sana.
"Hyung, bukankah ini salah satu tempat makan termahal di Seoul?"
"Memangnya kau kira aku tidak sanggup bayar? Sekarang cepat pilih menu makanan, atau jika tidak aku yang akan memilihnya untukmu!"
Jimin buru-buru melihat ke daftar menu dengan agak canggung.
Ketika pesanan wine mereka tiba, Yoongi dan Jimin menaruh hadiah natal untuk satu sama lain di atas meja. Mereka saling berpandangan, yakin dengan hadiah masing-masing telah persiapkan.
"Kurasa aku harus mulai duluan," kata Jimin sambil menyerahkan sebuah kado. "Merry Christmas, Hyung! Sekarang buka kadonya!"
Tanpa perlu diminta dua kali, Yoongi membuka kado dari Jimin dan langsung memekik kagum, "Uwa! Kau sungguh-sungguh membelikanku sweater?"
"Soalnya kau bilang bahwa sweatermu yang lama sudah bolong, jadi aku belikan saja yang baru," kata Jimin sambil tersenyum. Ekspresinya langsung berubah saat melihat Yoongi langsung mengenakannya—tepat di meja makan mereka, "Hyung! Kau serius mau mengenakannya sekarang? Orang-orang melihat kelakuanmu tahu!"
"Masa bodoh dengan orang-orang. Toh bukan mereka yang mengenakannya," Yoongi hanya mendengus. Ia berpose dengan sweater barunya, "Bagaimana? Cocok denganku, kan?"
Jimin meletakkan wajahnya di antara telapak tangannya, ekspresinya terlihat bahagia dengan reaksi Yoongi, "Ya! Aku senang memilihkan warna biru tua untukmu!"
"Sekarang hadiah dariku," kata Yoongi sambil mengeluarkan sekotak kecil bingkisan, "Kuharap kau juga akan menyukainya."
Jimin mengambil barang tersebut dan membuka penutupnya. Dilihatnya sepasang anting dari timah dan perak berbentuk mata rantai. Senyuman langsung merekah di wajahnya, "A-astaga, Hyung, ini—"
"Kurasa kau akan semakin cantik dengan anting seperti itu."
"Aku juga akan mengenakannya sekarang," kata Jimin sambil memasang antingnya pada bekas lubang tindikkan. Ia mengambil ponselnya dan bercermin, "Wow, pilihanmu bagus sekali!"
Yoongi hanya tersenyum penuh kemenangan.
Di tengah-tengah acara makan malam mereka, tiba-tiba Yoongi naik ke atas panggung dan meminta pada pengisi acara malam itu untuk bermain piano. Mata seluruh pengunjung langsung tertuju padanya, termasuk Jimin yang dengan kebingungan langsung berhenti memakan wagyu steaknya.
"Lagu ini kupersembahkan untuk Park Jimin."
Orang-orang langsung bertepuk tangan, sementara Jimin menutup wajahnya dengan malu.
You see this guy
This guy's in love with you
Yes, I'm in love
Who looks at you the way I do
When you smile I can tell
We know each other very well
How can I show you
I'm glad I got to know you, 'cause
Yoongi menoleh sedikit ke arah Jimin dan melihat Omega itu menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, namun matanya tersenyum melihat Yoongi.
I've heard some talk
They say you think I'm fine
Yeah, I'm in love
And what I'd do to make you mine
Tell me now, is it so?
Don't let me be the last to know
My hands are shaking
Don't let my heart keep breaking, 'cause
I need your love
I want your love
Say you're in love
In love with this guy
If not, I'll just die
Alpha itu hanya bisa tersenyum ketika ia melihat Jimin mulai berkaca-kaca, wajahnya masih memerah karena malu.
Tell me now, is it so?
Don't let me be the last to know
My hands are shaking
Don't let my heart keep breaking, 'cause
I need your love
I want your love
Say you're in love
In love with this guy
If not, I'll just die
Suara riuh tepuk tangan memenuhi seisi restoran. Yoongi langsung beranjak dari piano dan membungkukkan tubuhnya, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Jimin yang sudah beruraian air mata. Tetapi Omega itu tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Yoongi, "Hyung, kau membuatku hampir mau mati tadi..."
"Aku hanya ingin membuat kejutan kecil untukmu," kata Yoongi sambil mengecup bibir Omeganya dengan lembut. "Jeongmal saranghaeyo, Jiminnie."
"Nado," Jimin menjilat bibirnya sambil tertawa. Kemudian ia berbisik pelan saat Yoongi duduk di kursinya, "Ngomong-ngomong, barusan kau menyanyikan lagu apa tadi?"
22 Desember 20xx, Seoul
11.44 p.m
Kencan mereka hampir berakhir, tetapi Yoongi dan Jimin tidak melepaskan genggaman tangan mereka. Salju mulai turun lagi, dan Jimin semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Alpha berambut hitam dan berkulit pucat itu, sementara Yoongi mendekap bahu Jimin mendekat ke tubuhnya—berusaha membagi kehangatan tubuhnya pada Jimin.
Mereka hendak kembali ke tempat Yoongi memarkirkan mobilnya, ketika seorang pria bertubuh tinggi berhenti tepat di hadapan mereka.
Tanpa perlu melepas kacamata, masker dan topi hitamnya, Jimin mengenali orang itu.
"Yeollie? Kenapa kau—"
Chanyeol menurunkan maskernya dan tersenyum, "Hai, Jimin-ah. Tidak kusangka aku akan bertemu lagi denganmu di tempat yang tidak terduga." Wajahnya tidak sedikitpun melirik ke arah Yoongi.
Jimin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Yoongi, "A-aku juga tidak."
Chanyeol akhirnya melihat ke arah Yoongi yang menatapnya dengan tidak senang, "Tidak kukira kau akan jalan berdua dengan Alpha seperti ini. Pendek... dan terlihat lemah."
Yoongi akhirnya berdiri di depan Jimin, berusaha menghadang Alpha bertubuh lebih besar itu untuk mendekati Omeganya lebih dekat lagi, "Apa urusanmu dengan Jimin? Kenapa kau tidak pergi dengan Omega milikmu, huh?"
Seringaian aneh muncul di ekspresi Chanyeol, "Memang tidak aneh sih, kalau kalian sudah tahu hubunganku dengan Baekhyun. Media memang keparat," katanya. Ia mengulurkan tangan ke arah Jimin, tapi kemudian ditepis oleh Yoongi dengan kasar.
"Jangan menyentuhnya, jika kau tidak ingin kehilangan wajah tampanmu," kata Yoongi dengan nada mengancam. Suaranya berat dan lebih rendah dari biasanya, membuat Chanyeol hampir melompat mundur di hadapannya—bahkan Jimin mulai terlihat tidak tenang, ia bergidik takut-takut jika Yoongi akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Alpha yang lebih tinggi itu berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya dan kembali tersenyum, "Mungkin kau bisa bilang pada Jimin untuk membalas pesan-pesanku. Aku paling tidak suka jika ada orang yang mendiamkan chat terlalu lama."
Jimin tersentak kaget, sementara Yoongi yang merasakan kemarahannya meluap—melampiaskannya ke sebuah tempat kaleng bir yang kosong. Ia menendang wadah tersebut keras-keras, menyebabkan benda tersebut penyok parah. Chanyeol menatap benda malang tersebut dengan ekspresi kaget, tetapi ia masih berusaha memposisikan dirinya sebagai seorang Alpha yang terlihat berani. Meski Yoongi bisa melihat matanya sedikit berkedip karena kaget.
Tanpa kata-kata, Yoongi menarik tangan Jimin—menyeretnya masuk ke daerah parkiran, meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di tempat mereka tadi.
Di mobil, Yoongi akhirnya lepas kendali dan langsung meninju setirnya dengan marah—membuat Jimin kembali melompat kaget.
"Kenapa kau tidak cerita padaku bahwa dia mengirimimu pesan?"
"A-a-aku—aku—" kata Jimin terbata-bata, wajahnya terlihat ingin menangis, "Aku tidak berpikir untuk menceritakannya padamu. Karena aku sendiri—tidak bermaksud untuk membalas pesan Chanyeol."
"Si bajingan itu—aku yakin pasti ia mengincar dirimu! Masuk akal, mengingat ia baru putus dengan Byun Baekhyun..."
"Hyung! Jebal, dia adalah orang di masa laluku!"
"Lalu apa? Bagaimana kalau tiba-tiba kau malah kembali padanya? Aku harus apa?"
Kali ini Yoongi meninggikan suaranya pada Jimin, dan Omega itu tersentak karena rasa takut dan kaget. Air mata mulai mengalir dari mata Jimin, dan Omega itu hanya terdiam menatap tangannya. Ia terlalu takut pada Yoongi saat ini. Beberapa detik kemudian, air matanya mulai membanjiri wajahnya.
Yoongi kemudian menyadari sikapnya dan menghela napas panjang. Tangannya mengusap-usap wajah dengan frustasi, "Mianhae, aku lepas kendali. Aku tidak bermaksud, ah, aku hanya tidak menyukai Park Chanyeol sialan itu!"
"Ini semua salahku," kata Jimin terisak, "Harusnya aku bercerita padamu."
"Tidak ada yang salah dari kita berdua. Hanya si Park Chanyeol itu yang salah." Yoongi mencondongkan tubuhnya ke arah Jimin, "Aku juga minta maaf sudah marah padamu tadi. Aku hanya takut kau akan kembali pada Chanyeol suatu saat nanti. Aku tidak bisa membayangkan dirimu direbut dariku," tangannya mengusap air mata Jimin. "Jangan menangis lagi, oke?"
Jimin mengangguk, "Ne."
Tetapi Yoongi tahu, bahwa masalah tidak akan berhenti sampai disitu.
30 Desember 20xx, Seoul
Tepat di hari ulang tahun Taehyung, Jimin menerima pesan baru lagi dari Chanyeol.
EXOChanyeol
Merry christmas Jimin
Aku menonton penampilan kalian pada natal yang lalu
Kau terlihat cantik
Aku akan terus menunggu sampai kau mau bertemu lagi denganku
Aku ingin sekali berbicara berdua denganmu
Saat itu, ia tengah mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk Taehyung bersama Leeteuk, Jungkook, Yugyeom, Hoseok, Baekhyun dan beberapa artis yang merupakan teman Taehyung. Jimin melirik Baekhyun dengan perasaan serba salah, takut-takut jika pesannya akan diketahui oleh Baekhyun. Ia tidak bisa membayangkan bahwa Baekhyun—orang yang baru-baru ini menjadi temannya—mengetahui bahwa mantan Alphanya dulu mengiriminya pesan.
Bahkan Namjoon hanya mengiriminya satu pesan ucapan natal!
Jangan sampai ia tahu, batin Jimin khawatir.
Tetapi ia menceritakannya pada Yoongi, yang kemudian oleh Alpha itu ditanggapi dengan perintah untuk memblokir Chanyeol.
3 Januari 20xx, Seoul
Yoongi sudah lupa rasanya menghabiskan waktu tahun baru bersama keluarganya. Bahkan ia terpaksa menghabiskan tahun baru yang lalu dengan minum-minum bersama Heechul dan teman-teman semasanya kuliah dulu (tentu saja, Jimin menghabiskan waktu liburan tahun barunya bersama keluarganya di Busan). Kini Heechul menjadi tempat ia bercerita soal Jimin. Meski belum pernah bertemu Jimin secara langsung, tetapi Heechul menyukai sosok Jimin. Ia begitu mendukung hubungan Yoongi dan Jimin, bahkan mengutuki Namjoon yang pernah menyuruh mereka putus.
"Kadang dia memang bodoh kalau bukan soal bisnis atau soal dunia hiburan. Otak emas kadang juga bisa berubah jadi otak udang."
Yoongi hanya mendengus mendengar ucapan seniornya itu.
Hanya saja, ia tidak pernah bercerita mengenai Chanyeol pada Heechul, karena ia tahu Heechul memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Jika ia sampai menceritakannya pada Heechul, kemungkinan besar Heechul akan membocorkannya ke teman-teman selebritinya dan menimbulkan kekacauan. Ia sendiri harus mati-matian meminta Heechul berjanji agar tidak membocorkan hubungannya pada siapapun.
Tetapi kekhawatiran baru muncul saat tepat 2 hari setelah perayaan tahun baru, ia mendapat pesan dari Jimin.
Chimchim Park
Hyung, ada nomor mencurigakan menelepon.
Aku sudah coba blokir, tapi ada muncul nomor baru lagi
Apa mungkin ini dari Chanyeol?
Yoongi sudah kehabisan akal.
28 Februari 20xx, Seoul
Jimin nyaris tidak bertemu dengan Yoongi setelah mereka disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Tidak lama setelah peluncuran album pertama mereka, BTS berhasil menjual 410,000 kopi hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Hal ini menempatkan BTS sebagai salah satu band rookie yang berhasil memecahkan rekor dalam penjualan album. Mereka diundang untuk mengisi sebagai bintang tamu di beberapa acara variety show dan sebuah fanmeeting untuk pertama kalinya di Seoul. Beberapa minggu ini pesan-pesan aneh dan nomor telepon mencurigakan yang ia khawatirkan berasal dari Chanyeol, sedikit berkurang jumlahnya. Setidaknya hal itu cukup menyemangatinya untuk melanjutkan karirnya sebagai seorang idol. Ia tidak butuh bertemu dengan seorang Chanyeol jika hal itu bisa memecah fokusnya.
Sementara Yoongi disibukkan dengan promosi album mixtape nya yang akhirnya diputuskan akan dirilis pada awal Maret, berdekatan dengan ulang tahunnya. Jimin menahan diri selama 2 minggu tidak pernah bertatap muka dengan Alphanya itu. Bahkan mereka bertukar pesan hanya dua kali dalam sehari, akibat jadwal yang saling bentrok.
Omega itu mulai dipenuhi dengan perasaan kalut jika Yoongi akan bertemu dengan Omega yang lebih menarik, dan kemudian jatuh cinta dengan Omega itu. Jimin akan memburu Yoongi habis-habisan jika hal itu sampai terjadi. Tentu saja ia juga bisa bersikap posesif seperti Alphanya itu!
Mendekati bulan Maret dan mendekati ulang tahun Yoongi, Jimin berusaha membujuk Leeteuk agar memberinya kelonggaran di tanggal 9. Ia berjanji pada Leeteuk bahwa ia akan datang latihan lebih pagi daripada Taehyung dan Jungkook. Akhirnya Oemga itu mengijinkan karena ia terbujuk oleh aegyo Jimin yang selalu muncul entah namja cantik itu melakukan apa.
Ia ingin membuat kado ulang tahun terbaik untuk Yoongi.
1 Maret 20xx, Seoul
10.42 a.m
"Jiminnie, aku masih mengantuk—"
"Kita terlambat 12 menit untuk latihan Taehyung!"
"Tapi Jungkookie masih tidur di apartemen—"
"Hoseok-Hyungnim sudah mengijinkannya untuk istirahat hari ini. Kemarin dia kan baru saja terkilir di bagian tangan!"
Jimin menarik paksa Taehyung yang malas-malasan untuk masuk ke dalam lift. Pada akhir Maret nanti mereka akan mengikuti acara pementasan ulang tahun sebuah TV nasional, dan Namjoon meminta mereka untuk semaksimal mungkin tampil. Karena hal ini merupakan salah satu kesempatan BTS semakin menaikkan nama mereka di antara masyarakat Korea. Sayangnya dua hari lalu, tiba-tiba saja tangan Jungkook terkilir sehingga ia harus beristirahat selama empat hari. Akibatnya, Jimin dan Taehyung kewalahan karena tidak ada orang ketiga yang dapat menjaga posisi mereka selama latihan dalam seminggu ini.
Sesampainya di depan lift, pintu otomatis terbuka dan memunculkan seorang Omega—Jimin membelalakkan matanya—Omega tercantik yang pernah ia lihat di Korea. Omega yang pernah dilihatnya di suatu tempat—ya, di ponsel Namjoon. Omega yang merupakan istri atasan yang pernah berhubungan selama 2 tahun dengannya. Jimin merasakan dirinya menciut di hadapan Omega itu.
Wajahnya berbentuk bulat telur sempurna, dengan alis tebal, bibir montok, dan tubuh tinggi semapai. Jimin sampai tertegun, berpikir kenapa Namjoon tertarik dengan Omega seperti dirinya, sementara ia bisa memiliki Omega secantik ini sebagai istrinya.
Omega itu melihat ke arah Jimin dan Taehyung, menganggukkan kepalanya dengan sopan—menyapa mereka. Jimin dan Taehyung langsung membalas dengan membungkukkan badan mereka. Tanpa sadar, mata Jimin langsung tertuju pada perut Omega cantik itu. Ah, ya, Yoongi-Hyung bilang kalau mereka akan memiliki anak.
"Jinnie!"
Jimin, Taehyung dan Omega itu langsung menoleh—mendapati Namjoon berlari menuruni tangga. Napasnya tersengal-sengal ketika ia menghampiri Omega yang merupakan istrinya. Sesaat ia memandang ke arah Jimin dengan tatapan kaget, tetapi buru-buru ia beralih pada istrinya, "Kalau kau mau pulang, lebih baik aku saja yang mengantarmu."
"Ani, aku bisa bawa mobil sendiri."
"Tapi kau—"
"Oh! Ini istri Kim Namjoon-sajangnim?" seru Taehyung, otomatis begitu ia melihat kedua pasangan itu nyaris berdebat.
Jimin bisa merasakan tangannya refleks menyapu wajahnya dengan frustasi, sementara Namjoon langsung gelagapan sambil melirik ke arah Jimin, "Uh—ya—hey kiddos, ini..."
Omega itu tersenyum pada Jimin dan Taehyung, "Ah, ne, aku tahu kalian. Kalian anggota BTS, bukan? Bangtan Sonyeondan? Baru pertama kali aku melihat kalian dari dekat. Kalian manis-manis sekali." Jimin dan Taehyung hanya bisa saling bertatapan dan tersenyum malu-malu, "Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Aku istri dari Alpha yang sangat ceroboh ini, namaku Kim Seokjin. Senang sekali bisa bertemu kalian."
Taehyung dengan bersemangat langsung ikut memperkenalkan dirinya, "Namaku Kim Taehyung! Dan ini Park Jimin!" ia menunjuk pada Jimin. Jimin panik dan langsung tersenyum canggung.
"Uhh—aku Jimin, Kim—"
"Panggil aku Jin saja, jika kalian bertemu denganku di luar kantor. Ya 'kan, Joonie?"
Namjoon berusaha bersikap senormal mungkin.
Tapi bagaimana caranya bersikap normal jika istrimu kini sedang bercakap-cakap seperti biasa sambil memperkenalkan dirinya dengan mantan selingkuhanmu?!
"Sudah berapa bulan?" tanya Taehyung ramah sambil mengarahkan tangannya ke perut Seokjin. Sifat alaminya adalah ia sangat mudah berinteraksi dengan orang lain, bahkan lebih mudah daripada Jimin.
Tangan Jin bergerak ke atas perutnya yang mulai membuncit, "16 minggu, sekitar 4 bulan."
Perasaan lega bercampur iri muncul di dada Jimin. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya yang tulus saat ia berkata, "Kalau begitu selamat, semoga semuanya berjalan lancar."
Jimin bisa merasakan Namjoon menatapnya dengan tatapan terkejut saat ini.
"Aku harap juga begitu, terimakasih, Jimin-ah." Seokjin tersenyum pada Omega yang lebih muda itu.
Namjoon langsung merangkul istrinya—dan dari percakapan mereka, akhirnya Seokjin menyerah dan menurut saat suaminya memutuskan untuk mengantarnya dengan mobil.
Jimin tersenyum kecil melihat mereka, dan berlari kecil mengikuti Taehyung kita pintu lift kembali terbuka.
Hari itu pada malamnya, ia mendapat pesan dari Namjoon.
Begitu membaca isinya, Jimin tidak bisa membendung airmatanya.
Kim Namjoon
Aku dan Jin berterimakasih atas ucapanmu tadi
Aku harap dengan ini, hubungan kita bisa berakhir dengan baik
Maaf aku telah menjadi Alpha yang buruk
Semoga Yoongi-ah bisa menjadi Alpha yang terbaik bagimu
TBC
Catatan penulis:
Karena sudah update konstan sampai 5 bagian dalam 1 bulan, maka saatnya untuk saya meliburkan diri haha.
Dalam bayangan saya fanfic ini akan berakhir sampai 10 bagian, mungkin kurang mungkin lebih.
Maaf kalau ceritanya kurang greget, sudah 3 tahun hampir tidak menulis fanfic :") Tapi saya bersyukur masih ada yang mau membaca dan mengikuti fanfic ini. Saya usahakan ceritanya akan semakin berkembang ke arah yang lebih baik kedepannya!
Sampai jumpa di chapter 6 !
Maaf juga kalau kemungkinan akan lebih lama update cerita selanjutnya, tapi akan saya usahakan untuk menyelesaikan cerita ini sampai tamat.
Terimakasih untuk yang telah mereview di chapter sebelumnya:
LittleOoh, honeymon, Daisy Uchiha, gglorrsp, melyauyut7575, GeniusMYG, noonim, Gasuga, MinPark, ChiminsCake, julia kie, virgiawan738
