A GENIUS IN LOVE

Bagian 6

Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!

Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos (mungkin akan banyak di chapter ini haha), karakter boyband lainnya. Stalker! Chanyeol (OOC Chanyeol mwaha)

Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV


7 Maret 20xx, Seoul

07.10 p.m


Jimin nyaris tidak dapat merasakan seluruh sendi-sendi di tubuhnya setelah seharian harus mengikuti fansigning pertamanya, setelah kesuksesan debut pertama mereka. Taehyung dan Jungkook juga sama-sama kewalahan karena harus berinteraksi dengan 150 orang sambil duduk di atas kursi dengan permukaan yang keras. Tetapi semenjak beberapa menit lalu ia tidak melihat keduanya, dan ia berasumsi bahwa Taehyung dan Jungkook mungkin pergi mencari makanan atau apalah tanpa sepengetahuan dirinya.

Jimin merapikan hadiah yang diterimanya dari para fans, dibantu oleh staff. Staff yang membantunya kini juga entah pergi ke mana, dan Jimin harus ikut membereskan barang-barang milik Taehyung dan Jungkook.

"Mereka keterlaluan, meninggalkanku dengan barang yang segini banyaknya yang harus dirapikan," gumam Jimin menggerutu, sambil mengambil sebuah boneka yang berselimpangan di koridor, mengganggu transportasi manusia. Tangannya hendak mencapai boneka tersebut saat sebuah tangan mengambil barang itu.

"Perlu kubantu?"

Jimin mendongak, "Hyung!"

Yoongi terkekeh melihat Jimin kewalahan di antara tumpukan barang-barang, "Kau serius mendapatkan hadiah segini banyaknya dari fans?" ia membungkukkan tubuh dan mulai membantu Jimin memasukkan barang-barang yang tergeletak secara acak di atas lantai.

"Sebagian punya Taehyung dan Jungkook. Tapi aku tidak tahu ke mana mereka sekarang. Benar-benar tidak bertanggung jawab," Jimin masih bersungut-sungut. "Bahkan staff yang tadi membantu juga tidak muncul lagi!"

"Tadi aku lihat para staff berkumpul di ruang auditorium membereskan sampah. Sepertinya banyak fans yang sama tidak bertanggung jawabnya dengan Taehyung dan Jungkook."

"Hmm, benar."

"Kau tidak lupa kalau hari Rabu minggu ini kita akan janji bertemu, 'kan?"

Jimin kembali mengangkat kepalanya dan melihat Yoongi, "Tidak lupa kalau kau akan tua dan secara resmi jadi kakek-kakek?"

Yoongi kembali tertawa, "Entah dari mana kau bisa belajar sarkastik seperti itu."

"Mungkin aku terlalu banyak belajar darimu," Jimin tersenyum pada Yoongi.

Mereka kini sudah resmi berpacaran, dan Jimin tidak pernah bisa membayangkan dirinya jauh dari Yoongi dalam waktu lama. Jika pada awalnya ia akan begitu membenci Yoongi, kini ia akan terus menerus memikirkan Yoongi di dalam kepalanya.

Yoongi berbeda dengan Alpha-Alpha lain yang pernah menjalin hubungan dengannya. Yoongi terkadang bisa terdengar sangat blak-blakan dan tidak pernah memperhatikan perasaan orang lain, tapi di lain sisi Yoongi sangat mengerti dirinya. Jika Jimin marah, Yoongi tidak akan mengajaknya bicara untuk menyampaikan masalahnya, tetapi justru ia akan pergi mengajak Jimin makan. Dan pelan-pelan, tanpa diminta pun, Jimin akan menumpahkan perasaannya pada Yoongi.

Pernah juga Jimin menceritakan tentang pertemuannya dengan istri Namjoon dan pesan yang mengatakan bahwa Alpha yang merupakan atasannya itu sudah merelakan Jimin untuk Yoongi, dan Yoongi bereaksi dengan cara yang berbeda dari apa yang ia bayangkan.

Ia mengajak Jimin pergi ke bioskop, menonton film keluaran terbaru, dan mengatakan, "Aku mengajakmu menonton tadi sebagai bentuk perayaan, karena kini kita bisa bebas menjalin hubungan."

Jimin tertawa mendengar ucapan itu dari mulut Yoongi dan ia menyadari bahwa ia telah mendapatkan Alpha yang begitu mengerti dan memperhatikan dirinya. Meski Chanyeol dan Namjoon telah pernah tertambat di hatinya, ia merasa sangat beruntung justru ketika Yoongi menawarkan dirinya sebagai pengganti mereka.

"Ngomong-ngomong," kata Yoongi mengalihkan pikiran Jimin kembali, "Ada fans yang memberimu buket bunga sebesar ini?" ia mengangkat sebuah buket berisi mawar merah dengan ucapan dalam bahasa inggris—'congrats on your first fansign'—dan tulisan bahasa korea di bawahnya.

Jimin menyipitkan matanya, berusaha mengingat-ingat, "Aku tidak ingat. Mungkin itu hadiah milik Taehyung atau Jungkook?"

Yoongi membolak-balikkan buket bunga itu, "Di sini tertulis untuk Park Jimin."

Jimin tersentak dan tiba-tiba ia teringat orang misterius yang menungguinya di depan apartemen, mengiriminya buket bunga yang sama. "Chanyeol."

Yoongi membelalakkan matanya, "Huh? Dia mengirimimu buket bunga ini? Kukira dia sudah menyerah setelah aku hampir menghajarnya waktu dulu!" ia menimang-nimang buket bunga mawar di tangannya dan melirik pada Jimin, "Apa boleh jika aku buang saja benda ini?"

"Tunggu, Hyung! A-aku tidak yakin kalau Chanyeol yang mengirimiku ini, tapi dia pernah mengirimiku buket mawar yang sama. Dan mungkin saja, ini memang kiriman dari fans lain tanpa sepengetahuanku," kata Jimin.

"Apa kalau begitu lebih baik aku geletakkan saja di sini?"

Jimin merasa bahwa Yoongi yang protektif terlihat menggemaskan, "Lebih baik tinggalkan di ruang staff. Biarkan staff yang membereskannya."

Yoongi mengangguk dan berdiri untuk menaruh buket bunga tersebut. Tetapi kemudian ia kembali berbalik untuk membungkukkan tubuh, mengendus leher Jimin. "Baumu hari ini—lebih manis daripada biasanya."

Jimin memegangi lehernya, "Ohh! Benarkah? Aku—" ia teringat bahwa bulan ini ia lupa untuk membeli pil penunda heat, dan kini akibatnya ia sudah memasuki tahap pre-heat. "Aigoo! Aku lupa membeli pil penunda heat! Apa yang harus aku lakukan—"

"Kau mau mencoba menghabiskan heat bersamaku?" tanya Yoongi dengan wajah datar.

"Eo?"

Ia bisa melihat daun telinga Yoongi memerah sedikit, "Aku bisa pakai kondom, untuk berjaga-jaga. Kau tahu, jika kita tidak melakukannya, mungkin heatmu akan lebih menyakitkan. Jadi kupikir—"

"Ayo kita melakukannya," kata Jimin menyetujui. Ia tertawa melihat ekspresi kaget di wajah Yoongi, "Kenapa kau malah terlihat kaget begitu, Hyung? Kau 'kan yang menyarankan aku agar kita melakukannya!"

Yoongi gelagapan, "Hmm, yeah, bagus. Kalau begitu kabarkan saja kalau heatmu sudah mulai." Ia pergi menuju ruang staff.

Jimin tersenyum melihat Alpha berambut legam itu masih terlihat malu-malu ketika pergi meninggalkannya. Mungkin mereka sudah melakukan seks beberapa kali, tapi Yoongi belum pernah melewatkan heat satupun bersama Jimin. Wajar saja, karena mereka baru resmi berpacaran tidak lebih dari 5 bulan dan Jimin sebagai seorang idol, tidak boleh heat dan tidak boleh menjalin hubungan dengan orang lain selama masa debutnya berlangsung. Setidaknya ia dan Yoongi dengan baik telah merahasiakan hubungan mereka dari publik, bahkan dari staff dan anggota BTS lainnya—kecuali Namjoon tentunya.

Jimin diam-diam berterima kasih pada atasannya karena ia tidak menentang hubungannya dengan Yoongi dan menyuruh Jimin dan Yoongi agar dapat merahasiakan hubungan mereka dari publik.

Ia kembali sibuk dengan barang-barangnya saat ia tidak menyadari ada orang lain di koridor yang sepi. Orang itu memperhatikan Jimin dan berbalik pergi ketika staff dan Leeteuk kembali ke koridor untuk membantu Jimin membereskan barang-barang.


8 Maret 20xx, Seoul

10.18 p.m


Yoongi menghabiskan waktunya seharian jalan-jalan dan pergi minum bersama Heechul dan Namjoon (mengejutkan, memang. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini ia jadi sering pergi minum dengan Namjoon). Mereka mengobrol tentang album terbaru Yoongi yang akhirnya waktu peluncurannya diundur, debut BTS yang menggemparkan, dan sedikit obrolan tentang istri Namjoon.

"Oh? Kau akan menjadi seorang ayah? Wow, chukhahamnida untukmu!" seru Heechul senang sambil menyalami Namjoon. Ia melihat ke arah Yoongi yang hanya diam mengamati, "Kenapa kau tidak menyelamatinya juga, Yoongs?"

"Aku sudah dengar dari Namjoon-nim langsung. Jadi aku sudah memberikan selamat untuknya sebelum ini," kata Yoongi menjelaskan. Namjoon hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Yoongi.

"Tidak kusangka kalian juga sekarang berteman. Jarang sekali ada atasan yang mau berteman dengan bawahannya," Heechul tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya dengan pertemanan unik antara Namjoon dan Yoongi. "Memangnya bagaimana kalian bisa memutuskan untuk berteman seperti ini?"

Yoongi memandangi atasannya, dan Namjoon berbalik memandanginya. Mereka saling berkomunikasi dengan mata, menyuruh satu sama lain untuk menjelaskan. "Umm," Namjoon berusaha menjelaskan pada akhirnya, "Karena aku baru menyadari bahwa ada orang semuda dia yang memiliki passion dan talent tinggi, juga peduli terhadap dunia rap, hal yang jarang ditemukan di Korea saat ini. Dan—umm, kami juga sama-sama—" ia melirik ke arah Yoongi, dan Yoongi memberengut ke arahnya—menyuruh Alpha itu untuk terus melanjutkan, "Kami juga sama-sama senang menulis lagu tentang generasi saat ini. Kurasa persamaan ini menyatukan kami."

"Hmm, begitu rupanya," Heechul mengangguk-ngangguk memahami.

Yoongi menarik napas. Heechul tahu bahwa Yoongi dan Jimin sudah menjadi sepasang kekasih dan pernah bercerita bahwa Namjoon menentang hubungan mereka, tetapi Beta itu tidak tahu bahwa Jimin pernah berhubungan dengan Namjoon. Lagipula sangat gawat jika Heechul sampai mengetahui soal hubungan atasannya itu dengan Jimin. Pelecehan seksual terhadap idol di Korea beberapa tahun belakangan ini semakin banyak muncul, terutama di agensi-agensi yang sudah memiliki nama. Jika sampai hubungan Namjoon dan Jimin diketahui oleh Heechul, Yoongi tidak menjamin bahwa nama baik Namjoon akan tetap terjaga untuk seterusnya.

"Ngomong-ngomong, besok kau ulang tahun, 'kan?" Yoongi mengangguk menjawab pertanyaan Heechul. "Bagaimana kalau kita besok pergi untuk minum-minum? Aku akan mengajak Leeteuk, Zhoumi, dan yang lain kalau kau mau."

Yoongi menggeleng, "Aku tidak bisa. Sudah ada janji dengan seseorang besok."

Heechul bersiul dan memainkan alisnya, "Ooh. Sudah ada janji rupanya. Dengan pacarmu, kan?"

Namjoon memandangi Yoongi yang memerah dan menundukkan kepalanya, mengeluh pada Heechul untuk berhenti menggodanya. Alpha itu tahu siapa orang yang dimaksud oleh Heechul dan Yoongi. Hatinya masih belum rela melepaskan Jimin, tetapi ia berkata, "Kau ulang tahun besok, Yoongi-ah?"

"Hmm, ye."

"Kalau begitu habiskan waktumu dengan banyak hal berharga bersama kekasihmu. Tapi jangan lupa bahwa Kamis nanti kau harus datang menghadiri preview mixtape yang sudah kau selesaikan."

Yoongi terdiam beberapa saat. "Ah, gomawoyo. Pasti aku akan melakukannya." Ia meminum botol sojunya.

Mereka berpisah ketika waktu menunjukkan pukul 12 malam, ke rumah masing-masing. Yoongi pulang dalam keadaan setengah mabuk, menyalakan TV dan menyetel siaran Netflix. Tanpa sadar ia langsung terlelap di atas sofa dengan layar TV masih menyala, menyiarkan siaran maraton TV seri Stranger Things. Ia masih terlelap ketika ia mendengar ponselnya berdering. Yoongi dengan susah payah membuka matanya yang terasa berat, mengambil ponselnya dan melihat nama Jimin tertera di layar.

Matanya langsung terbuka lebar dan ia menggeser tombol panggilan, "Yeoboseyo? Jiminie?"

Ia mendengar suara erangan, "Hyuuung? Bi-bisakah... Kau datang ke apartemenku sekarang?"

"Sekarang? Bukankah ada Taehyung dan Jungkook?"

"Mereka bilang mereka pergi menginap di rumah keluarga Taehyung di Daegu... Saat ini," Jimin kembali mengerang dan diikuti suara desahan napas. "Hanya ada aku sendiri. Aku—heatku sudah datang."

"Baiklah. Aku akan segera ke sana," kata Yoongi mematikan sambungan telepon.

Ia buru-buru mencuci muka, mencari kunci mobil, dan hampir melupakan kondom yang sudah disiapkannya dari tadi siang. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini untuk pertama kalinya ia akan menghabiskan heat bersama Jimin.

Mungkin ia pernah beberapa kali melewatkan heat bersama Omega lain, tapi heat Jimin adalah hal yang paling dinantikannya.

Ia melaju dengan kecepatan nyaris menembus 200 kilometer perjam. Tetapi karena hari itu waktu baru menunjukkan jam 4 pagi, jalanan di kota Seoul nyaris sepi. Hanya ada satu dua mobil yang melintas di jalan dan tidak terganggu dengan kecepatan mobil Yoongi. Ia sampai di apartemen Jimin dalam hitungan menit.

Saat Yoongi memencet bel, Jimin muncul membukakan pintu. Ia berkeringat dan wajahnya memerah meski udara Seoul hari itu masih dingin, dan Yoongi bisa mencium aroma manis cherry menguar di hidungnya. Yoongi menjilati bibirnya saat sensasi lain merasuki dirinya, menyuruhnya untuk segera menggagahi Jimin.

"Hyung."

"Jiminie."

Yoongi langsung memasuki apartemen Jimin, membantu Omega itu untuk berjalan. Jimin seperti setengah sadar, karena matanya terpejam menahan rasa sakit.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yoongi sambil melingkarkan tangannya di panggul Jimin.

Jimin mengangguk lemah, matanya terpejam, "Bagian perutku sakit," ia meletakkan hidungnya ke leher Yoongi. "Hyuung, bisakah kita melakukannya sekarang?" pinta Jimin.

"Baik. Sekarang. Di mana kita melakukannya?"

"Di kamarku," Jimin pergi menuju kamarnya dengan agak terhyung-huyung.

Yoongi memasuki kamar Jimin dan mencium aroma Jimin semakin kuat di hidungnya. Tanpa sadar ia merasakan bagian dalam tubuuhnya mulai meregang. Ia memperhatikan Jimin mulai pelan-pelan melepaskan sweater putih dan pakaian dalam berwarna hitam yang dikenakannya, lalu diikuti dengan membuka celananya. Omega itu menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membuka kakinya lebar-lebar.

"Hyuung, bukankah kau menginginkan ini semua?" tanya Jimin dengan suara menggoda. Cairan membasahi bagian selangkangannya.

Yoongi menelan ludahnya dan membuka bajunya dengan cepat, sebelum ia nyaris kehilangan kesadaran. Ia berjalan ke tempat tidur Jimin dan mulai menciumi bagian leher dan dada Omega itu. Jimin mengerang ketika bibir Yoongi menyentuh leher dan putingnya. Yoongi tersenyum kecil ketika ia melihat reaksi Jimin. Ia beralih sebentar menuju lantai untuk mengambil sesuatu dari jaketnya, hampir lupa mengenakan kondom.

"Ini," kata Yoongi pelan sambil memegangi penisnya dan memasangkan kondom, "Pengaman."

Jimin mengerang, "Kau pikir aku tidak tahu itu apa?! Cepatlah, Hyung, sebelum heatku berakhir!"

"Bukankah heat selalu berakhir lama, huh?"

Jimin menarik tubuh Yoongi dengan melingkarkan pahanya di panggul Alpha itu, menyuruhnya untuk cepat bekerja dan memuaskan dirinya. Ia merangkul leher Yoongi dan berbisik di telinga Alpha itu, "Tidakkah kau menginginkan tubuh ini, secepatnya?"

Yoongi menelan ludahnya lagi. Ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan seorang Jimin jika mereka sudah bersatu di atas ranjang. "Aku kira justru kau yang tidak bisa sabaran." Ia menjilat leher Jimin, menggigitnya tetapi tidak meninggalkan bekas (ia tidak akan mengklaim Jimin, tidak untuk saat ini). Lalu mulutnya bergerak ke mulut Jimin, mengulum seperti permen.

"Hyung—"

"Kita mulai pelan-pelan, oke? Kita punya banyak waktu untuk heatmu."

Ia kembali menjilat dada Jimin, menciuminya, merasakan rasa cherry di setiap sentuhan. Tangan kirinya mengusap lubang kemaluan Jimin, mempersiapkannya. Tangannya disambut oleh cairan basah setiap kali tangannya menjawil bagian dalam kemaluan Omega itu. Ia tersenyum ketika Jimin memejamkan matanya dan menahan napas, menikmati sensasi ketika Yoongi menyentuhnya.

"Kau menyukainya, Jiminie?" tangannya mengusap wajah Jimin, menyisir rambut Jimin yang telah basah oleh keringat.

"H-Hyung—" Jimin memegang tangan Yoongi di wajahnya, dan mengarahkannya ke dalam mulut.

Yoongi merasakan napasnya tersegal saat Omega itu mulai menjilati jari jemarinya, dan mulai mengulumnya.

Astaga. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.

Jimin mendesah panjang, mengendus aroma tubuh Yoongi yang sangat disukainya. Ia terkesiap ketika merasakan penis Yoongi mulai memasuki lubang mulut kemaluannya, menggesek-gesek dinding di dalamnya. Jimin mempersiapkan dirinya. Tangannya yang merangkul leher Yoongi, kini memegang erat seprai putih tempat tidurnya. Yoongi mengangkat kedua kaki Jimin lebih tinggi, memposisikan diri mereka dengan lebih nyaman. Ia memegangi paha Jimin yang bundar sempurna dengan kedua tangannya.

"Uhn—uh—" Jimin merasakan dirinya sesaat kesakitan dan ia menggigigit bibirnya untuk menahannya.

"Apa aku terlalu cepat memasukkannya?" Yoongi menyadari perubahan ekspresi di wajah Jimin. "Apa sebaiknya aku harus mempersiapkanmu lebih lama lagi?"

Jimin menggeleng, "A-Aniyo, hanya saja—ahh! Hyung!"

Bagian ujung barang milik Yoongi menyentuh mulut bagian dalam kemaluannya, dan Jimin mulai mengerang penuh kenikmatan.

Yoongi tidak ingat berapa kali ia berejakulasi di dalam tubuh Jimin, sementara Omega itu berorgasme di bawahnya. Ia menggerung ketika Jimin berorgasme, mulai merasakan puncak kenikmatan di dalam dirinya.

Tempat tidur Jimin berguncang mengikuti ritme Yoongi dan Jimin, dan Omega itu mulai khawatir sampai kapan tempat tidurnya akan bertahan untuk menahan beban badan mereka di atas sana. Yoongi menggigit pelan leher Jimin ketika ia menggesek-gesekkan barang miliknya berkali-kali ke antara selangkangan Jimin. Jimin mendesis kesakitan, tapi di saat bersamaan ia juga mengerang penuh kenikmatan, meneriakkan nama Yoongi berkali-kali, memintanya untuk pergi lebih dalam.

Udara dingin pagi itu semakin terasa hangat di kulit mereka, ketika seks mereka mencapai bagian puncaknya. Yoongi berejakulasi di dalam tubuh Jimin beberapa saat kemudian untuk terakhir kalinya (meski ia kurang puas karena saat ini ia mengenakan kondom), dan Alpha itu menjatuhkan dirinya di atas tubuh Jimin, barang miliknya masih tertanam sempurna di tubuh Omeganya.

Ia membalikkan tubuh pelan-pelan dan Jimin mengikutinya. Omega itu meringis sedikit ketika Yoongi mulai mengeluarkan penisnya yang sudah berkali-kali menggagahi Jimin. Tangannya merangkul tubuh Jimin dan merengkuhnya erat. Mereka saling berpandangan satu sama lain, saling mengagumi wajah satu sama lain. Meski rambut Jimin acak-acakan dan sebagian menempel di dahi karena keringat, pipinya merona merah dan bibirnya tidak pernah terlihat seranum saat ini.

"Kau cantik sekali, Jiminie. Jika saja aku tidak pakai kondom—"

Jimin tertawa geli, "Tapi yang kita lakukan tadi menyenangkan."

"Rasanya aku terlalu cepat berejakulasi tadi."

"Siapa yang peduli. Yang penting aku menikmatinya."

Yoongi menyentuh wajah Jimin, masih mengagumi wajah Omeganya. Dan Jimin memandangnya dengan tatapan yang sama.

"Hyung."

"Hmm?"

"Saengil chukhahamnida."

Yoongi menyeringai, "Ah, kau masih ingat rupanya."

Keduanya tertawa.

"Saranghae."

"Nado saranghae, Jiminie."


9 Maret 20xx, Seoul

11.02 a.m


Yoongi terbangun dengan tubuh Jimin berada di pelukannya, kepalanya menyandar di dada Alpha itu. Bibir ranumnya sedikit terbuka saat tidur dan pipinya masih memerah. Yoongi mengamati wajah Omega itu selama beberapa menit, berpikir bahwa ia telah mendapatkan Omega tercantik di dunia sebagai kekasihnya.

Ia melihat ke arah jam digital yang terletak di nakas tempat tidur Jimin dan membulatkan matanya dengan kaget.

"Aigoo! Sudah jam segini!" ucapnya jengkel. Ia berusaha keluar dari tempat tidur sehati-hati mungkin agar tidak membangunkan Jimin.

Jimin malah membuka matanya, "Uung—? Hyung? Kau mau ke mana?"

Yoongi segera cepat-cepat mengenakan bajunya, "Aku mau ke studio hari ini. Aku lupa kalau ada preview mixtape dengan Namjoon-nim dan yang lainnya."

"Kau akan ke sini lagi, kan?" tanya Jimin dengan nada penuh harap.

"Aku akan datang lagi, tenang saja," kata Yoongi meyakinkan, merasa gemas dengan ekspresi Jimin yang menggemaskan seperti anjing kecil. "Pulang nanti kita akan habiskan heatmu lagi, oke?" ia membungkuk untuk mencium kening Jimin.

Jimin melenguh mendengar ucapan Yoongi dan kembali tidur.

Yoongi buru-buru keluar dari apartemen Jimin, hampir tidak sadar ketika kondom yang dikenakannya telah hancur sewaktu ia bercinta dengan Jimin semalam, dan kini cairan berwarna putih berceceran di karpet bulu berwarna abu-abu milik Omega itu. Bahkan Jimin tidak sadar, ketika ia terbangun siang itu, heatnya sudah tidak separah semalam sebelum Yoongi mendatanginya.


9 Maret 20xx, Seoul

3.21 p.m


Jimin kembali terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara pintu dibuka diikuti dengan suara langkah kaki. Ia mengerang, mengingat bahwa ia sama sekali tidak mengunci pintu. Suara langkah kaki itu terdengar semakin mendekat ke kamar tidurnya.

"Yoongi-hyung?" tanyanya setengah mengantuk.

Biasanya Yoongi akan pulang jam segini atau jam 7 malam jika ia tidak lembur di studio.

Sesosok manusia memasuki kamarnya, membuat Jimin menengadahkan kepalanya dan melihat sesosok pria bertubuh tinggi berdiri di pintu kamarnya. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam dengan kacamata dan topi snapback berwarna hitam pula. Jimin membelalakkan matanya dengan terkesiap, dan ia langsung melompat dari kasurnya. Ia berusaha menyelimuti dirinya dengan selimut putih, menutupi tubuhnya yang telanjang bulat.

"K-kau siapa?!"

Pria itu membuka masker dan topinya. Jimin terkesiap ketika ia melihat pria itu menampakkan diri sebagai Chanyeol.

"Oraenmanieyo, Jimin-ah."

"Yeollie—Chanyeol—kalau kau macam-macam aku bisa saja memanggil polisi—"

"Apa kau sedang heat, Jimin? Aku bisa mencium sedikit aroma tubuhmu," Chanyeol mendekati Jimin. Jimin merasakan dirinya semakin terdesak mundur ke dinding kamarnya.

Omega itu merogoh-rogoh sesuatu dari atas meja, tetapi dengan cepat Chanyeol menahan tangannya dan mendorong tubuh Jimin kembali ke tempat tidur. Jimin berteriak minta tolong, berharap mungkin ada orang yang mendengarnya, tetapi Alpha bertubuh lebih besar itu menyumpal mulut Jimin dengan kain yang secara acak ditemukannya di atas meja Jimin. Kedua tangan Jimin ia ikat ke kepala tempat tidur dengan sarung tangan yang dibawanya di saku.

Jimin meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

"Aku tidak menyangka bahwa kau akan jadi secantik ini, Jimin-ah. Padahal dulu kau adalah Omega yang gendut dan sama sekali tidak memiliki daya tarik," kata Chanyeol. Ia memegangi wajah Jimin dan Jimin menepis tangan Alpha itu dengan wajahnya. "Tapi kau tetap sama. Omega yang keras kepala."

Jimin mulai menangis saat Chanyeol membuka selimut dan memandang takjub tubuh Jimin yang telanjang di depannya, "Uwa, bahkan aku tidak ingat kau pernah memiliki tubuh seindah ini. Apa mungkin latihanmu di BTS mempengaruhi tubuhmu sampai sejauh ini?"

Ikatan yang berada di sekitar Jimin mulai longgar, dan Omega itu berbisik marah, "Kalau kau melakukannya, aku akan mengutukimu seumur hidup, Park Chanyeol."

Chanyeol kembali menyeringai dan membenarkan lagi ikatan di sekitar mulut Jimin. Ia mulai menurunkan risleting celananya, dan mengangkat kedua kaki Jimin di antara pinggul dan pahanya. "Setidaknya saat ini aku ingin menyicipimu setelah kau berhubungan seks dengan Alphamu. Apa rasanya masih enak, huh?"

Jimin menatap Chanyeol dengan tatapan marah dan jijik. Ia memejamkan matanya rapat-rapat ketika Chanyeol mulai menggagahinya.

Ia berusaha berontak, tetapi tidak ada yang bisa menolongnya.

Jimin menyerah pada keadaan.


9 Maret 20xx, Seoul

5.04 p.m


Yoongi mengutuki Namjoon dan Jackson yang menahannya di dalam ruang rapat hampir selama berjam-jam. Namjoon dan Jackson sama-sama menerima mixtape yang dibuat oleh Yoongi dengan reaksi yang positif dan bahkan memuji-muji bakat Yoongi dalam mengkomposisikan lagu. Sayangnya, karena mereka terlalu bersemangat dalam membahas soal peluncuran album mixtape Alpha muda itu, mereka jadi mengurung Yoongi bersama mereka lebih lama dari yang seharusnya. Yoongi tidak secara eksplisit mengutarakan kejengkelannya karena Namjoon dan Jackson menahannya dengan ide-ide mereka tentang promosi album, tetapi ia hanya perlu mengatakan:

"Hari ini aku ulang tahun, dan aku ada janji untuk menghabiskan waktu bersamanya."

Jackson langsung berdiri dari kursinya, "Huh? Hari ini kau ulang tahun? Wah, kebetulan—"

Namjoon menyelamatkannya dan langsung menghentikan rapat, "Ah, mianhamnida. Aku lupa bahwa kau berulang tahun hari ini. Kalau begitu kau bisa langsung pulang sekarang."

Yoongi tidak menyebutkan kata terima kasih kepada Alpha bertubuh tinggi itu, tetapi ia hanya membungkukkan tubuh untuk pamit dan langsung berlari keluar dari ruang rapat. Ia berlari cepat menuju tempat parkir mobil dan langsung melaju secepat yang ia bisa menuju apartemen Jimin. Ia berharap Taehyung ataupun Jungkook tidak akan ada yang telah tiba di sana sebelum dirinya, karena ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Jimin. Setidaknya selama heat Jimin masih berlangsung.

Ia menghentikan mobil di area parkir, melangkah keluar, dan hendak berlari kecil menuju ruang lobby ketika ia melihat seorang Alpha—dari baunya (Huh? Apakah ia mencium aroma tubuh Jimin di tubuh Alpha itu?)—berlari keluar dari apartemen, mengenakan pakaian mencurigakan dan sebuah masker di sekitar mulutnya. Alpha itu melihat ke arah Yoongi sesaat, kaget ketika melihat Yoongi, dan langsung mempercepat larinya.

"HEI! Kenapa kau—"

Alpha itu sudah menghilang di dalam mobil Mercedes Benz yang langsung melaju kencang dan menghilang di persimpangan jalan.

Kenapa dia memiliki aroma Jimin di tubuhnya?

Ia mendekati seorang penjaga, "Sillyehamnida, apa ada orang asing yang tidak dikenal baru saja masuk ke sini?"

Penjaga itu—Beta, menoleh, "Huh? Tidak ada kurasa. Tapi orang asing yang barusan berlari itu, dia pernah memperkenalkan dirinya sebagai teman Jimin-ssi dan bertanya di mana letak kamarnya."

"Lalu kenapa dia berlari tadi?"

"Huh? A-aku tidak tahu."

Yoongi berdecak marah dan mengagetkan Beta itu. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari menuju lift dan memencet tombol lantai teratas dengan panik. Ia merasakan tubuhnya menegang dengan rasa dingin. Alpha mencurigakan tadi, ia seperti pernah melihatnya. Tubuh tinggi dan matanya—Yoongi meludah.

Park Chanyeol.

Lift berdenting tepat di lantai 14 dan Yoongi melangkah keluar dari lift yang sepi, berlari sekuat tenaga ke depan pintu apartemen Jimin. Hatinya terasa hancur saat ia melihat pintu apartemen Jimin terbuka lebar. Ia melangkah ke kamar Jimin dan melihat Omega itu terikat di atas tempat tidurnya, masih dalam keadaan telanjang seperti saat ia tinggalkan tadi siang. Mulutnya disumpal rapat oleh sapu tangan.

Yoongi dengan jantung berdebar tidak karuan—perasaan marah, kecewa, semuanya menjadi satu—melepaskan Jimin dari tempat tidur. Dan Omega itu langsung menangis di pelukannya.

Alpha itu mendekap tubuh Jimin erat-erat, pikirannya kalut, "Jiiminie—shi-bal, apa Park Chanyeol yang melakukan ini semua?"

"Mianhae, mianhae," bisik Jimin dengan suara parau, "Aku berusaha menolaknya, tapi dia lebih kuat dan aku—"

"Ssh, sudah ada aku di sini," Yoongi mengusap-usap kepala Jimin dengan lembut, tapi ia bisa merasakan dirinya gemetar karena rasa marah oleh Alpha bajingan yang telah memperkosa kekasihnya. Ia bisa mencium aroma Alpha lain di tubuh Jimin, dan ia membencinya. Ia membiarkan Jimin menangis di pelukannya lebih lama dan beranjak dari tempat tidur Jimin.

"Kita harus melaporkannya, " kata Yoongi marah. "Kita memiliki bukti. Semuanya. Biar keparat itu berhadapan dengan hukum—"

Jimin menghentikannya, "Jebal!"

Yoongi menatap kekasihnya dengan tidak percaya, "Kau mau dia pergi melarikan diri setelah apa yang ia lakukan padamu?"

"A-aku takut, hyung," ujar Jimin dengan suara gemetar, "A-aku masih baru saja mulai debut. Dan dia berasal dari perusahaan yang lebih besar. Dia artis ternama... J-jika kau melaporkannya—" Omega itu kembali menangis memeluk dirinya dengan putus asa.

Yoongi mengerti maksud perkataan Jimin. Ia tahu bagaimana industri hiburan Korea bermain. Pelecehan seksual yang dilakukan oleh idol ataupun orang-orang pemilik saham di industri ini selalu dilindungi dari mata publik. Jimin tidak yakin jika Yoongi melaporkan Chanyeol ke polisi, karena Chanyeol pasti akan dilindungi oleh agensi yang menaunginya.

Menyadari hal itu, Yoongi berteriak marah dan meninju tembok kamar Jimin dengan frustasi bercampur putus asa. Jimin kembali menangis di pelukannya, tubuhnya gemetar hebat.

Kemudian Yoongi menyadari sesuatu yang lain.

"Jiminie...?"

Jimin mengangkat kepalanya.

"A-apa... Heatmu sudah berakhir?"

Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya ketika ia melihat ekspresi Jimin. Jimin membulatkan matanya dengan kaget mendengar ucapannya, dan warna wajahnya berubah pucat pasi. Air mata yang barusan terhenti sesaat, kini kembali berjatuhan. Jimin menggeleng keras-keras. "T-tidak mungkin... T-tidak mungkin—Hyung... kau tidak akan mengira kalau aku—"

Yoongi bisa merasakan perasaan Jimin berubah kacau balau (karena ia juga merasakan hal yang sama). Ia bisa merasakan dirinya berubah hampa, tapi dengan berat hati Alpha itu memaksakan dirinya untuk menyentuh Jimin, membelainya lembut-lembut, "Jika—jika kau ternyata—" ia tidak mampu mengucapkannya, "—berakhir dengan mengandung anaknya, aku—"

"Kau tidak akan meninggalkanku, kan?" tanya Jimin dengan suara parau.

"Aku tidak akan meninggalkanmu," Yoongi menelan ludahnya dengan susah payah, "Kita—kita akan berusaha menghadapinya bersama-sama. Jika kau ingin menggugurkannya, maka aku akan mendukungmu. Tetapi jika kau—" Mulutnya terasa pahit, "Jika kau ingin mempertahankannya, aku juga akan tetap mendukung keputusanmu."

Jimin kembali menjatuhkan kepalanya ke dada Yoongi, tubuhnya gemetar hebat.

Yoongi merasakan dirinya terpukul dan meluap-luap oleh rasa marah di saat yang bersamaan. Ia bersumpah di dalam dirinya bahwa ia akan menghajar Chanyeol jika ia punya kesempatan emas.


Maret 20xx, Seoul


Mereka berusaha menjalankan kehidupan seperti biasanya.

Setidaknya.

Ia dan Jimin tetap menjadi sepasang kekasih, karena Yoongi tidak akan pernah bisa berpisah dari Omega yang dicintainya sepenuh hati.

Tetapi, meski ia tahu bahwa Jimin seperti berusaha melupakan kejadian yang telah menimpanya, Omega itu terlihat lebih tertekan dibanding biasanya. Pernah sekali saat ia dan Jimin menonton siaran acara di apartemennya, Omega itu akan memekik histeris saat melihat Chanyeol muncul di layar TV. Yoongi harus memeluknya, dan membisikkannya hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian Jimin, setidaknya sampai Omega itu kembali tenang.

Bahkan ia tidak bisa melewatkan seks dengan Jimin tanpa melihat kekasihnya hampir beberapa saat sekali menangis tanpa sebab. Omega itu menangis ketakutan, menutupi wajahnya—berkata bahwa ia berharap Yoongi tidak akan menatapnya dengan cara yang sama.

"A-aku tidak ingin kau melihatku seperti itu..." Omega itu berucap, "Aku tidak ingin kau menatapku seolah-olah kau masih mencintaiku—"

Hati Yoongi seperti hancur berkeping-keping setiap kali ia mendengarnya. Tetapi ia akan memaksa dirinya berkata, "Aku akan terus menatapmu seperti ini karena aku selalu mencintaimu. Setiap harinya. Untuk seterusnya."

Lalu Jimin akan kembali menangis dan mereka akan berhenti sejenak.

Hal itu akan terus berulang-ulang setiap kali mereka berhubungan seks.

Yoongi tahu bahwa Jimin masih sangat terguncang dengan kejadian pemerkosaannya oleh Chanyeol. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya membuat Jimin melupakan hal itu. Terkadang hati kecilnya ingin menyerah pada Jimin, tetapi hati besarnya akan berkata bahwa ia tidak akan sanggup meninggalkan Omega itu.

Maka pada suatu malam, ketika Yoongi menghadiri peluncuran album barunya (ya, pada akhirnya), ketika ia dimintakan oleh sang pembawa acara untuk membicarakan sedikit soal albumnya, ia berkata:

"Aku mendedikasikan album ini untuk Omega yang aku cintai. Bahwa apapun yang terjadi di dalam hidup kalian, aku berharap bahwa kalian akan mempercayakan semua hal pada pasangan kalian, dan selalu mengingat bahwa kalian tidak perlu menjalankan semuanya sendirian."

Ia tidak yakin jika Jimin akan mendengar ucapannya, tetapi ia tulus mengatakannya. Dan berharap jika Jimin tidak mendengarnya pun, ia akan langsung mengatakannya pada kekasihnya itu.

Nyatanya ia pulang ke apartemen dan mendapati Jimin meneleponnya dan berkata, "Gomawoyo, hyung, atas segalanya. Maafkan aku belum pernah secara resmi memberikanmu hadiah untuk ulang tahun. Jika kau keberatan, bisakah kita bertemu besok?"


30 Mei 20xx, Seoul


Musim semi sudah tiba, dan Yoongi tetap tidak bisa berhenti beristirahat pada bulan Mei. Setelah albumnya berhasil terjual sebanyak 750,000 kopi hanya dalam waktu sebulan, namanya kembali melonjak di publik. Ponselnya selalu berdering dari artis-artis lain, memintanya untuk berkolaborasi dengan mereka ataupun membantu menuliskan lagu.

Ia akan selalu mengeluh pada Namjoon, dan Alpha itu (yang sudah menjadi teman dekatnya, dengan anehnya.) hanya tertawa dan menawarkan untuk mencarikan manager untuk Yoongi jika ia mau. Yoongi akan mengerang jengkel dan berkata bahwa lebih baik ia menolak semua tawaran itu agar bisa kembali tidur tepat jam 10 malam dan bangun jam 7 pagi harinya.

Zhoumi juga tidak berhenti merancau di ruangannya setiap hari, berdecak kagum membicarakan namanya yang semakin sering disebutkan di sosial media. Bahkan ia tidak percaya bahwa Yoongi yang dikenalnya pemalas, sarkastik, dan tidak asyik untuk diajak bermain, justru mulai memiliki banyak fans dari kalangan Omega dan Beta wanita. Yoongi yakin bahwa Zhoumi sedikit iri padanya, tapi ia juga tahu bahwa temannya yang lebih senior itu memang mengagumi bakat alaminya.

Hubungannya dengan Jimin juga telah mulai membaik seperti sedia kala (jika memang benar adanya). Jimin sudah mulai kembali berhubungan seks dengannya tanpa harus menangis setiap saat, meski terkadang ia masih takut jika Yoongi menatapnya dalam-dalam (lagipula, bagaimana mungkin ia berhenti memandangi kekasihnya itu? Wajahnya terlalu sempurna untuk ia acuhkan!) dan menutup matanya rapat-rapat ketika Alpha itu memandanginya.

"Kau cantik, Jiminie. Aku ingin terus melihatmu."

"Tapi aku tidak bisa—"

"Jangan tutup matamu juga. Aku ingin melihat matamu yang indah."

"Ahh! Hyung!"

Dan setelah mereka bercinta, Yoongi akan melebarkan tangannya ke bahu mungil Jimin, merangkul Omega itu di kehangatan tubuhnya.

Jimin sudah tidak mengalami heat lagi setelah heat terakhirnya di bulan Maret. Awalnya Yoongi khawatir jika Jimin benar-benar mengandung. Tapi Omega itu akan berkata bahwa ia sudah kembali rutin meminum pil penahan heatnya, membuat Yoongi menghela napas lega.

Dan mendekati akhir bulan Mei, ketika Yoongi sibuk memperhatikan BTS latihan di ruang studio dengan Hoseok sebagai instruktor koreografi, ia menyadari bahwa Jimin berbeda dari biasanya. Jika Omega itu selalu terlihat paling bersemangat dan lincah dibandingkan yang lain, justru gerakannya selalu tertinggal dibandingkan Jungkook dan bahkan Taehyung. Ia akan meminta Hoseok untuk mengizinkannya meregangkan otot-ototnya ataupun mengistirahatkan dirinya sejenak.

"Kau serius? Kita baru saja mulai ke koregrafi bagian ketiga!" seru Hoseok sedikit kesal mendengar Jimin meminta waktu istirahat untuk ke sekian kalinya.

"Maafkan aku, hyung, tapi kurasa hari ini aku kurang enak badan," jawab Jimin sambil terengah-engah memegangi perutnya.

Hoseok memperhatikan Jimin dengan seksama, "Kau memang pucat. Apa kau sudah sarapan hari ini?"

"Aku sudah makan tadi pagi. Tapi akhir-akhir ini aku tidak bisa menelan makanan tanpa memuntahkannya."

Beta itu memegangi dahi Jimin, "Kau memang sedikit hangat," katanya. "Baiklah. Kau boleh beristirahat sebentar. Jungkook-ah, Tae, kalian tetap harus latihan!"

Jungkook dan Taehyung mengerang kecewa, merasa diperlakukan tidak adil.

Jimin hendak duduk di pinggir studio ketika ia melihat Yoongi berdiri di depan pintu studio. Dengan wajah berubah senang, Omega itu berjalan ke arah Alphanya.

"Hyung—"

"Kau sakit?" tanya Yoongi khawatir pada kekasihnya, "Kenapa kau malah memaksakan diri jika kau tidak kuat untuk latihan?" ia melihat ke arah Hoseok, Taehyung, dan Jungkook yang sibuk latihan, dan para staff yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Merasa keadaan sudah aman, ia menyisir rambut Jimin yang basah oleh keringat.

Jimin menggeleng mendengar ucapan Alpha itu, "Tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya hari ini. Aku hanya sedikit kurang enak badan," Omega itu membuka tutup botol berisi air minum dan meneguknya.

"Jangan memaksakan dirimu sampai ambruk, oke?"

Jimin mengangguk, "Ne, aku tahu."

Ia kembali ke tempat latihan dan Yoongi mulai berbalik pergi, sampai Yoongi mendengar bunyi benturan di atas lantai parquet. Alpha itu menoleh dan melihat Jimin terjatuh pingsan di atas lantai.

"JIMIN!"


TBC


Catatan penulis:

Terimakasih untuk yang telah mereview di chapter sebelumnya: MinPark, melyauyut575, honeymon, virgiawan738, ChiminsCake, LittleOoh, tong, Genius MYG, itsathenazi! You guys infire me! :D

Terimakasih juga yang sudah menambahkan fanfic ini ke favorites ataupun followed stories.

Sampai jumpa di chapter 7!