30 Mei 20xx, Seoul

02.21 p.m

Yoongi dengan kekhawatiran meluap-luap di hatinya langsung menghampiri Jimin, mengangkat tubuh Omega itu ke atas pangkuannya. Hoseok yang menyadari hal serius sedang terjadi, langsung menghentikan latihan dan berlari ke tempat Jimin jatuh pingsan. Beberapa orang kru lainnya ikut mengerubungi Jimin, seorang di antaranya menelepon nomor panggilan darurat. Taehyung dan Jungkook—yang terlihat letih sehabis latihan, langsung berubah bugar saat keduanya melihat teman satu tim mereka terkapar di atas lantai dan kini tengah berada di pangkuan Yoongi.

"Apa yang terjadi?" Hoseok bertanya pada Yoongi dengan raut wajah kalap, "Kenapa dia pingsan?"

"Aku tidak tahu—ah, shibal," Yoongi meletakkan tangannya di salah satu pipi Jimin, menepuknya dengan pelan, "Jiminie? Kau bisa dengar aku?"

Jimin diam, tidak merespon, tetapi dari dadanya yang bergerak naik turun, Yoongi tahu bahwa Omega itu jatuh pingsan.

"Ambulans akan datang 10 menit lagi katanya," kata Leeteuk pada yang lain.

Yoongi mengerang, "Kalau begitu lebih baik aku segera membawanya ke rumah sakit—"

"Yoongi-ah," sebuah suara berat mengejutkan Yoongi. Ia menoleh ke belakang dan dilihatnya Namjoon berusaha menembus di antara kerumunan orang-orang. "Apa yang terjadi pada Jimin?"

"Tidak ada waktu," sergah Yoongi, "Dia pingsan. Aku harus membawanya ke rumah sakit. Wajahnya sudah berubah pucat." Ia menggendong tubuh Jimin dengan entengnya dan berjalan sambil berteriak jengkel, "Beri aku jalan!"

Namjoon menahannya, "Biar aku ikut—"

Yoongi tidak mencegahnya, "Kalau begitu, cepat ikuti aku."


A GENIUS IN LOVE

Bagian 7

Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!

Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos (mungkin akan banyak di chapter ini haha), karakter boyband lainnya. Stalker! Chanyeol (OOC Chanyeol mwaha)

Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV


Mereka segera membawa Jimin ke ruangan unit gawat darurat karena kekhawatiran akan situasi kritis yang mungkin dialami oleh Omega itu. Namjoon duduk di sebelahnya selama dokter dan beberapa orang suster sibuk menangani keadaan Jimin. Yoongi tidak bisa berhenti melemparkan pandangan khawatir dan cemas saat sebuah mesin aneh—yang ia tidak tahu persis mesin apa—digunakan untuk memeriksa permukaan perut Jimin.

Setelah Jimin diperiksa selama beberapa saat oleh dokter, mereka diminta untuk bertemu dengan dokter—Beta—yang merupakan seorang pria di pertengahan usia 40 tahunan.

Kedua Alpha tersebut dibawa ke sebuah ruangan berukuran 30 meter persegi yang dilingkupi warna putih sepanjang mata jauh memandang. Yoongi mengerutkan hidungnya—mengingat betapa ia membenci bau rumah sakit.

"Jadi, apa yang terjadi padanya?" Yoongi bertanya dengan tidak sabaran, kakinya mengetuk-ngetuk di atas permukaan lantai marmer.

Namjoon menepuk bahunya, menyuruh Alpha yang lebih muda darinya untuk mengontrol rasa tidak sabaran di dirinya. Yoongi melirik ke Namjoon, mengernyitkan dahi dengan sikap jengkel, tapi akhirnya menuruti permintaan Alpha berambut coklat tersebut.

"Dia hanya kekurangan zat besi dan anemia," kata dokter menjelaskan. "Sepertinya nutrisinya kurang terbutuhi. Apa saat ini dia sedang sibuk melakukan sesuatu yang mungkin dapat membuatnya kelelahan?"

Yoongi dan Namjoon saling berpandangan.

Namjoon berdeham sebelum menjawab, "Dia sedang latihan untuk koreografi untuk saat ini. Sepertinya ada beberapa saat dia merasa kelelahan karena latihan."

"Apa pekerjaan pasien, jika saya boleh tahu?"

"Mungkin namanya belum cukup terkenal, tapi saat ini dia adalah salah seorang dari anggota boyband BTS."

Dokter membelalakkan matanya secara komikal, "Oh! Kurasa aku pernah mendengar nama itu," lalu ia kembali meluruskan arah pembicaraan mereka, "Bila memang demikian pekerjaan pasien, mungkin lebih baik jika dia berhenti bekerja untuk beberapa waktu."

Yoongi tidak dapat menyembunyikan rasa panik dan tidak sabar di dalam dirinya, "Bisakah kau langsung mengatakan apa yang terjadi padanya?" ia nyaris meninju permukaan meja dengan jengkel. Dokter di hadapannya nyaris melompat kaget saat ia merasakan aura panas di sekitar Alpha muda tersebut.

"Yoongi-ah!" panggil Namjoon terkejut, ia berusaha menahan amarah Yoongi.

Dokter pura-pura terbatuk, "Menurut pemeriksaan, pasien saat ini sedang mengandung selama 7 minggu. Apa mungkin di antara kalian adalah Alpha darinya?"

Wajah Yoongi memucat mendengar ucapan dokter, sementara Namjoon membulatkan matanya dengan ekspresi tidak percaya. Alpha yang lebih tua tersebut berdiri hingga nyaris menjatuhkan kursi yang ia duduki, terbata-bata, "What the—apa-apaan, Yoongi-ah?!"

Yoongi menarik lengan Namjoon, berbisik pelan, "Aku akan menjelaskannya nanti."

Dokter yang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, kembali berucap, "Saya akan memberikan resep obat untuknya selama masa kehamilan berlangsung. Saya harap pula agar pasien tidak memaksakan diri sampai kelahiran nanti agar tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan."


Namjoon mengecak-ngecak dengan marah begitu mereka keluar dari ruang dokter.

"Aku tidak percaya—" ujarnya frustasi, "Aku sudah mempercayai dirimu dan mengizinkan kalian untuk berkencan, tapi ternyata—apa kau tidak mengerti fungsi dari kondom?"

Yoongi berusaha menelan ludahnya. Ia bisa merasakan sekujur tubuhnya berubah dingin. Heat yang dialami oleh Jimin beberapa minggu lalu, ternyata kini membuahkan sesuatu. Tetapi hal yang membuatnya semakin jatuh semangat adalah kemungkinan bahwa anak yang dikandung Jimin bukan anaknya, "Aku—aku memang menghabiskan heat bersamanya," Yoongi mengakui, "Tapi aku menggunakan kondom," ia tidak ingat betul apakah ia sudah membuang kondom yang ia kenakan sewaktu bercinta dengan Jimin.

Tetapi yang paling jelas di ingatannya adalah kejadian sesudahnya, ketika ia pulang dan menemukan Chanyeol—ya, Chanyeol—keluar dari apartemen Jimin, sementara Omega yang dicintainya dibiarkan terikat di atas tempat tidur. "Tidak mungkin untuknya bisa hamil."

"Lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan tadi? Tidak mungkin dia tiba-tiba hamil tanpa alasan!" seru Namjoon. "Bahkan aku terakhir bercinta dengannya sudah berbulan-bulan lalu! Tidak mungkin dia mengandung anakku," Alpha itu menyisir rambutnya dengan ekspresi wajah marah, "Dan tidak mungkin dia berhubungan dengan Alpha lain tanpa sepengetahuanku atau kau. Dia itu Omega yang baik-baik, kalau aku bisa mengakui—"

"Chanyeol."

Namjoon menelengkan kepalanya ke arah Yoongi, mengernyitkan dahi, "Apa?"

"Chanyeol, Park Chanyeol," Yoongi mengulang ucapannya. Ia menarik napas perlahan, "Hari terakhir aku menghabiskan heat bersamanya… Mungkin kau ingat dengan hari di mana kau menggelar preview untuk rekaman mixtapeku," ia melihat Namjoon menganggukkan kepalanya. "Ne, saat aku pulang dari studio, aku melihat Park Chanyeol. Dia keluar dari dalam apartemen Jimin—dan aku sudah menemukannya terikat di atas ranjang. Heatnya sudah berhenti."

Namjoon menyumpah secara terang-terangan di sebelahnya. Alpha itu terlihat kalut, "Yang benar saja? Park Chanyeol? Bukankah dia Alpha dari grup band EXO? Dari perusahaan SM? Kau serius mengatakannya?" ia menatap Yoongi dengan tatapan tidak percaya.

Yoongi menggigit bibirnya, tapi tak nampak wajahnya terlihat ragu, "Aku serius. Alpha brengsek itu—" tangannya terkepal, "Dia telah memperkosa Jimin sewaktu aku meninggalkannya sendirian di apartemen. Kemungkinan besar bayi yang dikandungnya adalah bayi Park Chanyeol."

Yoongi tidak menyangka Namjoon akan terlihat begitu marah di hadapannya. Ekspresinya yang dingin, dan mulutnya yang tertarik ke bawah, benar-benar terlihat seperti luapan marah yang besar. Ia sendiri bisa merasakan dadanya berdegup kencang. Ia bisa merasakan rasa kecewa yang begitu besar, kecewa bahwa anak yang dikandung Jimin bukanlah anaknya.

"Setidaknya kita menemui Jimin terlebih dahulu," ucap Namjooon dingin. "Leeteuk dan Hoseok akan datang ke sini sebentar lagi. Aku tidak ingin berita tentang kehamilannya diketahui orang lain sampai aku mengambil keputusan yang tepat."

"Kau tidak berpikir bahwa kau akan menggugurkan kandungannya, kan?" Yoongi membeliakkan matanya dengan kaget, "Kau tidak mungkin menentukan keputusan itu tanpa adanya dasar keinginan dari Jimin!"

"Lalu apa? Kau berharap Jimin kehilangan masa depannya lebih banyak lagi dari ini?" Namjoon mendengus, "Aku sudah berjuang untuk mengangkat namanya hingga seperti ini, dan seorang anak tidak akan menjadi penghalangnya untuk melangkah lebih jauh lagi. Aku dan Jimin sudah berbicara dari dulu, dan aku tahu pasti apa yang diinginkannya."

Yoongi menghentikan langkahnya, berputar menghadap Namjoon. Ekspresinya tidak kalah marah, "Aku menentangnya, bagaimanapun juga."

"Bahkan kau sudah yakin sepenuhnya bahwa anak yang dikandungnya bukanlah anakmu," Namjoon menggeram.

Yoongi balas menggertak, "Aku tidak peduli. Bagaimanapun juga, aku akan menunggunya membuat keputusan yang tepat. Tidak peduli itu anakku atau bukan, aku akan tetap mendukungnya."

Sepasang mata milik Namjoon menatap ekspresi serius di wajah Yoongi. Alpha itu menarik napas panjang, berusaha mengontrol luapan emosinya, "Terserah padamu. Kita membuang waktu berdebat seperti ini."

Yoongi tidak mau mengalah, "Kau yang memulainya."

Mereka tiba di ruangan tempat Jimin berada. Omega itu sedang terduduk di atas ranjang putih sendirian, sedang meminum air putih yang disediakan oleh perawat. Ia berusaha tersenyum saat melihat Yoongi, dan sedikit menundukkan kepalanya saat ia menyadari bahwa Namjoon mengikuti Alpha itu di belakang. Ketika mereka telah berkumpul bertiga di dalam ruangan, Yoongi menutup pintu dengan hati-hati, berharap tidak akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.

"Bagaimana keadaanmu?" Yoongi bertanya, wajahnya terlihat datar.

"Aku sudah merasa sedikit lebih baik. Hanya sedikit pusing," jawab Jimin.

"Kau terlalu keras berlatih," Namjoon berucap. "Lain kali, kau jangan memaksakan diri. Jika kau merasa lelah, kau boleh meminta izin pada Hoseok."

"Apa yang terjadi padaku?" Jimin mengerutkan dahinya, "Bukan sesuatu yang parah, kan?"

Namjoon melempar pandangan Yoongi sekilas, "Tidak parah," ia berhenti sejenak untuk melihat wajah Jimin berubah lega, "Tapi kau harus berhenti bekerja untuk beberapa bulan ke depan."

"Huh? T-tapi kenapa? Kau bilang tidak parah, sajangnim?" Jimin terlihat keheranan mendengar penjelasan Namjoon.

Yoongi tidak dapat diam di posisinya, matinya masih menatap Jimin dengan tatapan khawatir. Kini matanya menangkap mata Namjoon yang terlihat sama-sama enggan. Pada akhirnya Namjoon mengalah dan kembali menjawab untuknya, "Kau hamil, Jimin-ah."

Lengang untuk sejenak.

Lalu terdengar suara Jimin terkesiap, "Mwoya? Hamil? Apa aku salah dengar—"

Ekspresi kecewa di wajah Namjoon cukup menjawab pertanyaannya, "Kau benar-benar hamil, Jimin-ah," ia mengatupkan tangannya setelah mendudukkan diri di atas sebuah kursi di sebelah ranjang di mana Jimin berada, "Kalau kau bersedia untuk menggugurkannya, aku bisa saja membuat perencanaan tanggal kapan kau mau melakukannya."

Sebelum Jimin sempat menjawabnya, Yoongi menerjang maju untuk menarik kerah baju Alpha itu, "Kukira kita sudah berjanji untuk tidak membahas soal ini, Namjoon-nim."

Sorot mata Namjoon yang menatapnya dengan dingin membuat darah Yoongi semakin mendidih, "Aku ingin menanyakan satu pertanyaan, apakah kau yakin anak yang dikandungnya ini adalah anakmu?" saat ia melihat Yoongi menggigit bibirnya dengan sikap ragu-ragu, ia kembali menoleh pada Jimin. "Jimin-ah, aku ingin jujur padamu. Apa kau berhubungan seks dengan orang lain saat heat terakhirmu terjadi? Dengan Alpha selain Yoongi-ah?"

Jimin merasakan bibirnya gemetar. Matanya mulai dipenuhi oleh buliran air mata, "A-aku tidak—"

Yoongi menggertakkan giginya dengan marah, "NAMJOON-NIM! Kau tidak begitu saja bilang—"

"Tentu saja bisa. Jika anak ini adalah anak dari Park Chanyeol, kita tidak mungkin mempertahankannya. Hal ini akan menjadi skandal besar."

"Dan kau tidak mau mendengarkan penjelasan satu pun dari Jimin? Tidak bisakah kau mengerti kalau semua ini adalah keputusannya?"

"Satu keputusan salah saja, maka semua karir yang telah kurintis untuknya musnah semuanya."

"Apa yang kau pikirkan saat ini hanya tentang karir dan keberlangsungan perusahaan rekamanmu?"

"Jika aku tidak salah, seharusnya masalah ini juga berakar dari ketidakmampuanmu me—"

"Jebal hajima!" seru Jimin dengan nada tinggi, penuh dengan emosi. Kini matanya telah luruh oleh air mata. Seprai putih rumah sakit digenggamnya kuat-kuat. Ia menatap Yoongi dengan sorot mata bersalah, seperti terdakwa yang telah disebutkan seluruh kesalahannya dan siap-siap untuk divonis mati keesokan harinya. "Aku—aku benar-benar menyesal, hyung—ini semua kesalahanku—"

Yoongi merasakan perasaannya berubah gamang melihat kekalutan yang dirasakan oleh kekasihnya, "Ani, ani, ini semua bukan salahmu, Jiminie. Ini semua kesalahan si brengsek Park Chanyeol yang telah memperkosamu. Jika anak yang ada di perutmu memang anaknya, aku tidak akan memaksamu untuk menggugurkannya. Semuanya bergantung padamu."

"Aku ingin kau menggugurkannya," Namjoon setengah membentak, "Anak itu—dia adalah akhir dari karirmu."

Ucapan Namjoon membuat Omega itu terlihat ketakutan. Yoongi berteriak marah, "Tidak bisakah kau mengerti perasaannya saat ini?! Apa yang terjadi saat ini bukan kesalahannya!"

"Bagaimana jika berita bahwa dia hamil sampai ke publik?" Namjoon ikut meninggikan suaranya, "Kau pasti tahu betul bagaimana perusahaan SM. Mereka akan melindungi reputasi artis mereka sebaik mungkin. Mereka punya pengacara hebat yang tidak mungkin oleh pengacara yang kumiliki untuk dikalahkan dalam pengadilan. Justru jika skandal ini sampai ke publik, reputasi Jimin dan juga perusahaanku akan terpuruk!"

Kedua Alpha yang saling dominan tersebut melotot pada satu sama lainnya, membuat Jimin semakin tidak dapat menenangkan dirinya.

"Aku tidak akan menggugurkan bayi ini," Jimin berbisik lirih. Ucapannya itu membuat kedua Alpha yang saling berselisih menarik perhatian mereka kembali padanya, "Yoongi-hyung, kau berjanji padaku bahwa kau akan tetap mendukung keputusanku, kan?"

Yoongi mengangguk, tidak mempedulikan raut muka Namjoon yang berubah meluap marah, "Aku akan membantumu membesarkan anak itu. Aku bisa pindah ke studio rekaman yang lebih baik, jika Namjoon-nim tidak mau mendukung karirku lagi karena telah mendukung keputusanmu."

Jimin menangis mendengar jawaban tulus dari Alpha itu. Ia mengulurkan tangannya pada Yoongi, dan Yoongi membalasnya dengan pelukan yang lebih besar.

Namjoon berdecak jengkel di sebelah mereka. Ia mengusap wajahnya dengan letih, menghela napas panjang, "Terserah pada kalian saja," katanya dengan datar. "Aku—aku hanya bisa membantu merahasiakan tentang kehamilanmu hingga bulan depan. Setelah itu, aku berharap kalau kau tidak menjejakkan kaki untuk ikut dalam latihan ataupun konser yang akan datang."

"Sajangnim—a-aku benar-benar minta maaf—"

Namjoon mengangkat tangannya, "Semua ini sudah terjadi, dan kau sudah membuat keputusan. Aku hanya berharap bahwa kau bisa melakukan hal yang lebih baik. Keputusanmu ini akan melibatkan banyak orang Jimin-ah, bukan hanya teman satu grup, tapi juga kru dan manajermu."

Jimin hanya bisa menangis, merasa bahwa dirinya tidak berguna untuk saat ini. Tapi keinginannya untuk mempertahankan bayi yang baru sehari diketahuinya benar-benar telah tertanam dalam-dalam. Kemungkinan besar bayi yang dikandungnya adalah bayi Park Chanyeol, mantan Alphanya yang telah dicintainya bertahun-tahun lalu. Jimin mengutuki Alpha itu karena telah membuatnya hamil, tetapi di lain sisi ada perasaan yang tumbuh saat ia tahu bahwa ia tengah mengandung. Apabila ia memaksakan keinginan Namjoon untuk menggugurkan bayinya, Jimin seperti merasa bahwa sama saja dengan ia membunuh separuh dirinya.

Mungkin ia telah membuang jauh-jauh karirnya sendiri dan masa depan banyak orang yang telah dikenalnya hingga saat ini. Membuang investasi yang telah dipercayakan oleh Namjoon untuknya, membuang jauh-jauh harapannya untuk sukses di dunia hiburan. Padahal semua itu tidaklah sebanding dengan satu nyawa yang sekarang telah tertanam di dalam perutnya, tetapi Jimin lebih memilih bayi yang sangat mungkin merupakan Alpha yang telah memperkosanya beberapa minggu lalu.

Jimin ingin sekali menertawakan nasibnya saat ini, menertawakan keputusan yang telah ia pilih. Tetapi Yoongi menggenggam tangannya erat-erat, netra hitamnya menatap netra miliknya. Alpha itu tidak berkata satu patah katapun padanya, tapi sorot matanya memberi Jimin suatu ketenangan, kepercayaan.

"Setidaknya biarkan dia untuk mencoba menyelesaikan satu tugasnya sampai tuntas, setelah itu, biarkan dia melepaskan semuanya," kata Yoongi, membela dirinya.

Namjoon tertegun mendengar ucapannya, "Tidak mungkin. Media akan tahu bahwa dia hamil pada akhirnya, begitu anak itu lahir. Dan berita bahwa dia vakum saat konser, akan mengundang banyak perhatian."

"Makanya, aku bilang lebih baik izinkan dia untuk ikut sampai konser berikutnya selesai dilaksanakan. Setelah itu aku akan membantu Taehyung dan Jungkook meniti karir solo mereka, setidaknya sampai bayi ini lahir," Alpha itu menunjuk ke perut Jimin yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. "Kau pasti sudah lihat dengan keberhasilan mixtape yang telah kubuat, bukan? Kau bisa mempercayakannya padaku. Setidaknya BTS, sampai Jimin bisa kembali bergabung, tidak akan mati begitu saja. Masih banyak cara lain untuk menghidupkannya."

Namjoon menatap Yoongi seolah-olah Alpha muda itu adalah orang gila. Tetapi kemudian ia mendesah panjang, "Baiklah. Tentu kita bisa coba perkataanmu itu." Ia beralih ke pintu, "Sudah ada Leeteuk dan Hoseok di sini. Aku akan meninggalkan kalian sebentar untuk berbicara pada mereka."

Alpha itu menghilang di depan pintu.

Jimin tidak melepaskan tangan Yoongi, "Mianhae, aku benar-benar minta maaf jika anak ini bukan anakmu, hyung—"

"Tidak perlu minta maaf, semuanya terjadi karena bukan kesalahanmu," Yoongi menyimpulkan, meski jauh di lubuk hatinya, ada relung hitam yang belum siap terisi dengan kenyataan pahit yang menyakitkan, seperti saat ini. Dan Yoongi sudah memutuskan, dengan ketetapan hatinya, bahwa ia akan terus mendukung apapun keputusan yang diberikan oleh Jimin. "Apapun yang terjadi, aku akan tetap mendukungmu."

"Bayi ini—" Jimin masih berlinangan air mata, "Mungkin saja adalah anakmu."

Satu kalimat itu membuat Yoongi terkesiap, "Bagaimana mungkin? Aku menggunakan kondom—"

"Kondom yang kau gunakan sewaktu heatku tiba… Aku menemukannya hancur beberapa hari kemudian—setelah kejadian itu," ucap Jimin dengan bibir gemetar.

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"

"Karena aku takut—jika ternyata anak ini benar-benar bukan anakmu dan aku memberikan harapan yang salah—"

Ekspresi lega yang terpampang di wajah Yoongi tidak dapat digambarkan oleh Jimin, "Oh, j-jjinja? Kalau ini benar-benar anakku—" tangannya memegang perut Jimin, "Bahkan jika anak ini bukan anakku pun, asalkan dia memiliki ikatan darah denganmu, aku akan tetap menyayanginya seperti anakku sendiri."

Jimin menutup wajahnya dengan salah satu tangannya, menyembunyikan matanya yang kini beraliran airmata. Omega itu menangis, dan Yoongi bisa merasakan betapa terguncangnya Omega itu saat ini. Ia sendiri juga bisa merasakan dirinya masih seperti separuh bermimpi buruk, di mana ia tahu bahwa kekasihnya mengandung anak dari orang lain. Tapi sebenci apapun dirinya pada orang lain yang telah mengisi rahim Jimin dengan janin milik selain dirinya, Yoongi tetap tidak bisa memaksakan keinginan terdalamnya untuk menyuruh Omeganya melakukan aborsi. Bagaimanapun juga, kebahagiaan Jimin adalah kebahagiaannya juga untuk saat ini.

Yoongi kembali menarik tangan kekasihnya, "Kita akan melalui ini semua. Aku akan membantumu sebisa mungkin. Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, jebal, berhentilah menangis, oke?"

"A-aku sama sekali tidak pantas mendapatkan A-Alpha sepertimu—"

"Aku pun juga sama, aku tidak pantas mendapatkan Omega sepertimu."

Yoongi melingkarkan tangannya ke bahu mungil Jimin, menarik tubuh Omega itu ke hadapan tubuhnya, mendaratkan sebuah ciuman ke bibir ranum Jimin.

"H-Hyung—" Jimin berbisik pelan. "Ini semua salahku..."

Yoongi memotong ucapannya, "Tidak ada yang salah di sini, Jiminie."

Yoongi berdoa dalam hati, berharap jika anak yang di dalam perut Jimin adalah sebagian dari dirinya pula.


Namjoon berjalan menyusuri trotoar dengan raut muka pahit. Dahi Alpha itu berkerut-kerut, dan bibirnya terkatup tidak senang. Ia baru saja mempercayai Yoongi untuk menjadi Alpha dari Omega yang selama beberapa tahun ia kencani diam-diam tanpa sepengetahuan publik maupun istrinya sendiri. Alpha itu menggertakkan giginya dan memberi tatapan jengkel saat seorang pejalan kaki tanpa sengaja menabrak bahunya—membuat pejalan kaki yang tidak berdosa itu langsung meminta maaf saat ia merasakan kuaran aura yang tidak mengenakkan dari seorang Alpha yang sedang dibalut oleh perasaan marah. Namjoon mengacuhkan Beta itu dan melanjutkan langkahnya menuju kantornya—menolak untuk kembali ke sana dengan menaiki mobil Yoongi.

Ia berhenti saat ia hendak menyeberang jalan. Ia menengadahkan kepala ke langit, mendesah panjang. Mungkin ia baru saja bertindak bodoh tadi, dengan begitu saja kehilangan kendali akan emosinya. Ia tidak bisa membayangkan perasaan Jimin sewaktu ia memberi gagasan agar Omega itu mau melakukan aborsi—karena ia berpikir bahwa keputusan Jimin menggugurkan kandungan adalah pilihan yang tepat.

Omega itu masih muda, usianya masih belum genap 20 tahun, dan ia memiliki masa depan yang sangat menjanjikan. Sewaktu mereka masih menjalin hubungan, Namjoon tidak pernah berhenti mendengarkan celotehan Omega itu—yang mengatakan bagaimana ia sangat bersemangat menyambut debut pertamanya, mendambakan respon positif dari masyarakat. Jimin sangat berbakat dalam hal menari (dan tentu saja Namjoon sangat mengetahui hal itu), bahkan ia memiliki antusiasme yang tinggi dalam membuat musik. Kehamilan Omega itu justru dapat menunda impian yang mungkin hanya berjarak beberapa meter di depan matanya, atau bahkan akan benar-benar menghentikan mimpinya.

Namjoon ingin sekali menyalahkan Yoongi, keteledoran Alpha itu yang tidak dapat melindungi Omega yang dicintainya. Padahal ia sudah begitu mempercayai sepenuhnya Yoongi, merelakan jalinan cinta Jimin dengannya yang sudah tertaut selama dua tahun lebih. Tapi begitu Namjoon memikirkannya, justru ia merasa bahwa ia tidak berhak menyalahkan Yoongi.

Chanyeol, rapper dan salah seorang anggota grup band terkenal; dan juga berasal dari perusahaan hiburan yang merupakan saingannya. Namjoon tidak menyangka bahwa Chanyeol dapat melakukan hal sekotor itu pada seorang idola di bawah naungannya—yang juga merupakan mantan kekasihnya. Ia juga tahu jika Chanyeol adalah salah seorang idola yang sangat diidolakan oleh banyak orang, memiliki banyak penggemar, dan saat ini nama Alpha itu sedang berada di atas awan. Tidak mungkin jika Namjoon menuntut Chanyeol atas tuduhan pemerkosaan terhadap salah seorang idola rookie dari perusahaannya tanpa ada bukti yang benar-benar mendukung pernyataan tersebut. Apalagi pasti akan banyak orang yang mendukung dan membela Alpha itu di pengadilan kelak—bila Namjoon benar-benar mengambil jalur hukum.

"Namjoon, you are an idiot," Alpha itu bergumam pada dirinya sendiri, dan menyeberangi zebra cross dengan langkah terburu-buru.


5 Juni 20xx, Seoul

Yang mengetahui berita kehamilan Jimin hanya ada empat orang; Yoongi, Namjoon, Hoseok, dan Leeteuk. Hoseok dan Leeteuk tahu kehamilan Jimin atas kehendak Namjoon sendiri. Mereka berunding di sebuah café pribadi milik keluarga Namjoon—berdiskusi agar sementara waktu konser comeback kedua BTS dapat diundur hingga tahun depan. Yoongi dapat mengingat ekspresi kaget di kedua wajah Beta itu saat Namjoon memberitakan kehamilan Jimin—Hoseok berulang kali meminta Namjoon untuk menjelaskan sementara Leeteuk membuka mulutnya lebar-lebar, seperti ingin berdebat dengan atasannya tersebut. Mereka tampak curiga saat melihat Yoongi menjadi salah satu orang yang tahu akan kehamilan Jimin, tetapi Namjoon meyakinkan mereka bahwa bayi yang dikandung oleh Jimin saat ini bukanlah anak dari Yoongi.

(Yoongi mendengus saat ia mendengar ucapan Namjoon, toh setidaknya hanya ia yang tahu jika ia masih punya kesempatan 50% untuk menjadi ayah dari bayi yang dikandung oleh Jimin).

"Lalu siapa ayah dari anak ini?" Tanya Hoseok masih tidak mau terima dengan keputusan Namjoon, "Setidaknya kau menuntut orang yang telah menghamili Jimin dengan jalan hukum!"

"Tidak semudah itu," jawab Namjoon dengan raut muka datar, "Karena aku yakin, jika kita sampai melakukan penuduhan padanya tanpa disertai barang bukti yang konkret, bukan hanya reputasi Jimin yang hancur, tapi juga perusahaan kita."

Hoseok masih terus memprotes, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti keputusan yang diberikan oleh Namjoon. Yoongi merasa bersyukur, karena Hoseok maupun Leeteuk sama sekali tidak menanyakan ataupun mengidekan Omega itu untuk melakukan aborsi.

Pada akhir pertemuan mereka di café, Namjoon memaparkan idenya agar mereka membuat kebohongan pada publik, yang berupa alasan kenapa BTS memundurkan waktu comeback kedua mereka hingga tahun depan. Setidaknya, dengan memberikan press release resmi, orang-orang tidak akan curiga dengan alasan mundurnya waktu comeback BTS ataupun mulai berasumsi yang aneh-aneh. Hoseok dan Leeteuk menyetujui keputusan Alpha itu, dan meninggalkan café begitu percakapan mereka selesai.

Di café itu kini hanya ada Yoongi dan Namjoon, serta beberapa orang pengunjung lainnya. Yoongi membulatkan matanya saat ia melihat Namjoon mulai mengeluarkan sekotak rokok Pall Hall dan menyalakan sebatang. Aroma kuat tembakau menguar saat Alpha itu menyesap rokoknya, dan menghembuskannya kembali dalam bentuk kepulan asap.

"Kau merokok?" Yoongi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

"Aku hanya melakukannya jika aku sedang merasa stress," sahut Namjoon, kembali mengulum batang rokoknya. "Masalah ini benar-benar membuatku pusing. Bahkan hampir sama pusingnya saat aku dan istriku kehilangan anak kami."

"Kau pernah punya anak, eo?"

"Hampir," kata Namjoon, "Mati dalam kandungan istriku. Saat baru menginjak usia 6 bulan."

Yoongi tidak tahu harus berkata apa.

"Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya agar Jimin dapat menghilangkan diri, setidaknya sampai bayi yang dikandungnya lahir," Namjoon melanjutkan perkataannya, "Tidak mungkin aku tetap menempatkannya di dalam apartemen bersama V dan Jungkook. Dan tidak mungkin pula aku memulangkan Jimin ke kampung halamannya. Orang tuanya pasti akan kecewa berat."

Yoongi memutar bola matanya dan menyilangkan kedua tangannya di dada, ia menunduk dalam-dalam sampai wajahnya terbenam dalam ujung pinggiran topi, "Mungkin," Alpha itu menjilat lidahnya, "Mungkin dia bisa tinggal bersamaku, untuk sementara waktu."

Namjoon sampai terbatuk-batuk mendengar ide Yoongi, "Kau gila?" Alpha itu menaikkan kedua alisnya dan memasang wajah terkejut, tidak memercayai apa yang telah diucapkan oleh sang Alpha yang lebih muda darinya, "Jika ada orang yang tahu kalian tinggal bersama, karirmu dan karir Jimin akan sama-sama hancur."

"Aku tidak peduli dengan karirku, karena aku membuat lagu untuk didengar orang, bukan agar mereka menilai bagaimana aku menjalani kehidupan secara mentah-mentah," ujar Yoongi sambil menyesap cairan kopi terakhirnya di cangkir. "Toh aku akan pindah bulan depan, ke apartemen yang punya keamanan lebih baik. Jadi kau tidak perlu khawatir akan ada paparazzi atau semacamnya mengintai kami."

Namjoon mengetuk-ngetukkan tangannya yang tidak memegang batang rokok, matanya menyipit seperti sedang seorang hakim yang sedang memperbandingkan dugaan-dugaan yang didakwakan terhadap Yoongi. "Kau serius mengatakannya?"

"Sebenarnya—" Yoongi membetulkan letak topinya, "Masih ada kemungkinan besar anak yang dikandung Jimin adalah anakku," ia berusaha untuk mengacuhkan mata Namjoon yang membulat cukup besar padanya, "Sewaktu kami menghabiskan heat Jimin, kondom yang kugunakan—Jimin bilang—kondom itu hancur. Dan dia menemukannya di lantai apartemen."

Sebuah senyuman tersungging di wajah Namjoon, tanpa ia sangka-sangka, "Heh, aku harap dia benar-benar mengandung anakmu. Kalau sampai Jimin memang hamil karena sperma milikmu, aku tidak perlu menuntut macam-macam si bajingan Chanyeol itu, dan justru aku akan berbalik menuntutmu."

"Kau bercanda, kan, sajangnim?"

"Menurutmu sendiri bagaimana?"

Yoongi mengerang keras-keras, "Intinya, kau setuju jika dia tinggal bersamaku atau tidak?"

Namjoon masih menatap tajam Yoongi. Ia mengembuskan asap rokok ke wajah Alpha itu, "Aku tidak bilang aku setuju, tapi setidaknya idemu itu cukup aman untuk dilakukan."

Kali ini Yoongi yang tersenyum, "Kalau begitu, bulan depan."

"Tapi kau serius mau melakukannya? Menawarkan tempat tinggal dan menukar karirmu untuk Jimin?"

"Tentu saja aku serius. Apalagi kemungkinan 50 persennya dia mengandung anakku."

"Kalau kau melakukan tes darah dan ternyata kau adalah ayah dari bayi itu, aku akan merelakan anakku yang lahir nanti untuk berteman dengannya."

"Kenapa kau membenci seorang bayi yang bahkan belum lahir, sajangnim?"

"Aku tidak pernah mengatakan kalau aku membenci anak itu," Namjoon mematikan rokoknya ke atas permukaan kaca asbak. "Ngomong-ngomong, jika kau tidak keberatan, mau menemaniku minum-minum malam ini?"

"Tentu jika kau yang mentraktirku."

"Ah, jangan bicara seolah-olah kita ini sedang berkencan atau apalah."

Keduanya tertawa. Tertawa bukan karena paksaan, tetapi karena mereka benar-benar tertawa dari dalam hati mereka.


10 Juni 20xx, Seoul

02.01 p.m

Jimin berusaha mengatur napasnya dan meluruskan punggungnya yang terasa seperti berkedut-kedut nyeri. Baru saja ia melakukan dua rangkaian gerakan tari, ia sudah merasakan tubuhnya seperti dipaksa berlari berkilo-kilo jauhnya tanpa satupun istirahat. Omega itu memaksakan dirinya saat ia kembali mendengar suara tepukan aba-aba dari Hoseok—melihat kedua teman satu timnya yang lain sudah mulai masuk ke posisi mereka masing-masing untuk melakukan gerakan koreo selanjutnya. Tetapi Hoseok kemudian berjalan ke arahnya dan menarik lengan mungil Jimin, menyuruhnya agar ia mengikuti Beta itu.

"Lebih baik kau istirahat selama 10 menit, baru setelah itu kau boleh ikut bergabung bersama kami."

"Uh—tapi V dan Jungkook—"

"Kau tidak mungkin memaksakan dirimu dalam keadaan seperti ini, kau mengerti itu, 'kan?" Beta itu menekankan kalimatnya sambil memasang wajah serius.

Jimin mengerutkan keningnya, dan beberapa menit kemudian ia menyadari sesuatu. "Kau tahu—kalau aku—"

"Namjoon-sajangnim yang memberitahu kami. Untuk sementara waktu, kau hanya ikut latihan sampai konser minggu depan. Setelah itu kau akan diliburkan sampai bayi itu—" sang Beta melirik ke arah Taehyung dan Jungkook yang sedang mengamati mereka dengan tatapan menunggu, "Sampai bayi itu lahir."

"Lalu bagaimana dengan comeback kami bulan Juli nanti?!" tanpa ia sadari, Jimin meninggikan nada suaranya, "Aku tidak mungkin membiarkan V dan Jungkook melakukan comeback hanya berdua saja tanpaku! Kami adalah sebuah tim!"

"Diundur sampai dengan tahun depan, setidaknya sampai kau selesai bersalin," kata Hoseok. "Pokoknya, untuk saat ini kau jangan memaksakan dirimu, oke?" Beta itu menyisir rambutnya, wajahnya terlihat sama-sama menunjukkan rasa gamang yang dirasakan oleh Jimin. "Kau istirahat di sini selama 10 menit, lalu setelah itu kau boleh bergabung." Ia menunjuk pada Jimin yang hendak memprotes ucapannya, "Ah, andwae, kau duduk di sini—dan ikuti kata-kataku."

Jimin seperti ingin menangis dan berteriak marah, tetapi ia menuruti ucapan instruktor tarinya dan mendudukkan diri di pinggir ruang latihan. Ia menolak saat seorang staff menawarinya minuman dan hanya menggerutu sepanjang matanya sibuk mengamati Taehyung dan Jungkook yang sedang sibuk fokus pada gerakan mereka masing-masing. Ia berusaha balas tersenyum saat Taehyung memberinya senyuman berbentuk kotak dan melambai dengan malas. Tanpa ia sadari, tangannya bergerak memegangi perutnya.

Mungkin ia membuat keputusan yang salah.


12 Juni 20xx, Seoul

07.35 p.m

Jimin benar-benar tidak menduga bahwa Namjoon benar-benar mengajaknya berduaan di ruangan pribadi Alpha itu (ia ingat sewaktu dulu ia sering sekali menghabiskan percintaan mereka di dalam ruangan yang selalu berbau aroma sintetik kampfer) hanya untuk membicarakan tentang keputusan untuk memberhentikannya selama setahun penuh.

"Setahun penuh?!"

"Setahun setelah konser kalian minggu depan, jadi setidaknya kau masih bisa menari," kata Namjoon menjelaskan.

Ia sudah mendengar dari Hoseok sebelumnya bahwa kemungkinan besar ia akan diberhentikan selama beberapa saat sampai bayi yang dikandungnya lahir. Tapi setahun? Ia benar-benar tidak menyangka kalau ia harus menunggu selama itu sampai comeback keduanya. "Bukankah setahun terlalu lama? Aku sekarang sudah di minggu ke 9, setidaknya kau hanya perlu memberhentikanku selama 6 bulan ke depan!"

"Chim," panggil Namjoon dengan suara yang sudah lama Jimin tidak pernah dengar. Ia sedikit merindukan nama panggilan manis yang diberikan oleh Alpha itu padanya, "Kau harus mengerti, kau tidak mungkin pulih secepat itu setelah kau melahirkan. Seharusnya kau merasa beruntung aku tidak mengeluarkanmu dari BTS."

"Tapi… Tapi—Taehyung dan Jungkook—" Omega itu menangis, "Mereka pasti sangat menanti-nantikan comeback kami yang kedua ini… Kalau mereka sampai mendengar BTS harus mengadakan comeback tahun depan hanya karena aku—"

"Hei, hei," Alpha itu mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata Jimin, "Mereka pasti akan mengerti. Kalian sudah saling mengenal satu sama lain, dan sudah tinggal bersama selama 2 tahun lebih."

"Tetap saja—"

Namjoon memegang kedua tangan Jimin, menimang-nimang tangan mungil Omega itu yang begitu kontras di jari jemari panjangnya, "Yoongi menyarankan ini untukmu," ucapnya dengan nada yang masih lembut di telinga Jimin, "Dia ingin kau untuk tinggal bersamanya sampai kau melahirkan."

Jimin menarik tangannya, "Dia serius mengatakan itu?"

"Justru dia memaksaku untuk mengizinkan kalian tinggal bersama. Dia bilang dia tidak peduli bila reputasinya harus hancur sewaktu media tahu bahwa kalian tinggal bersama."

"Dia gila—"

"Kurasa dia gila hanya untukmu."

Wajah Jimin memerah, "Tapi aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak ingin karirnya hancur karena aku—"

"Aku dengar dia masih punya kemungkinan 50% telah mendonorkan spermanya dan membentuk bayi di dalam perutmu itu, kurasa pantas jika dia melakukannya."

"Dan 50% aku tidak mengandung bayinya," sahut Jimin, "Aku tidak mungkin menyeretnya dalam keputusan bodoh ini—"

"Dia tidak mungkin melakukannya jika dia tidak mencintaimu. Lagipula, aku berpikir mungkin idenya tidak terlalu buruk. Yoongi bilang dia ingin pindah ke apartemen dengan sistem keamanan yang lebih baik, jadi mungkin dia bisa menampungmu sampai bayi itu lahir," Namjoon menunjuk perut Jimin dengan ibu jarinya.

Alpha itu sengap untuk beberapa saat, memikirkan bahwa ia sama sekali tidak merasa hatinya berubah panas saat menyebutkan kata bahwa Jimin dan Yoongi akan tinggal bersama. Dan sama sekali tidak terbersit rasa rindu secara seksual terhadap Jimin. Hanya… Rasa kasihan pada Omega muda itu. Setidaknya ia merasa lega saat ini karena Yoongi telah menawarkan diri untuk menampung Jimin sampai bayi yang dikandungnya lahir.

"Bagaimana?" Namjoon kembali bertanya. "Karena tidak mungkin aku memulangkanmu pada kedua orang tuamu, apalagi aku sudah berjanji pada mereka bahwa aku akan mendidikmu menjadi idola yang hebat di Korea. Dan kau tidak mungkin tinggal bersama V dan Jungkook. Mereka pasti akan butuh penjelasan juga saat melihatmu menggembung karena mengandung."

Jimin terlihat bimbang, "Apa aku tidak punya pilihan lain?"

"Apa aku perlu memanggil Yoongi untuk meyakinkanmu?"

Tidak lama sampai Namjoon menyebutkan nama Yoongi, Alpha bersurai hitam yang dimaksudnya langsung berjalan masuk ke dalam ruangan. Jimin nyaris melompat kaget saat tiba-tiba saja Yoongi membuka pintu dan telah berdiri di belakangnya seolah tidak terjadi apa-apa.

"H-Hyung?"

"Hei," Yoongi mengangkat tanggannya seolah-olah memberi salam pada Jimin.

Namjoon menunjuk ke arah Jimin, "Mungkin kau bisa meyakinkan anak ini agar dia mau tinggal bersamamu."

Yoongi menatap Jimin, "Yah, seperti yang kau dengar, aku tidak keberatan jika kau tinggal bersamaku. Toh sekitar tiga minggu lagi aku akan pindah ke apartemen baru, dan tidak akan banyak orang yang tahu di mana aku tinggal selama beberapa waktu. Kau tidak perlu khawatir."

"Hyuuung! Tidak mungkin—"

"Aku bisa memasak untukmu—"

"Bukan begitu maksudku! Kau punya reputasi sekarang ini, kau salah satu bintang teratas. Tidak mungkin kau menukar namamu hanya karena aku!"

Yoongi mengendikkan bahunya, "Mungkin jika aku menginginkannya."

"Lalu kau akan membiayai semua-muanya, keperluan selama aku hamil, sampai aku melahirkan? Kau gila—"

"Seperti kata Namjoon-sajangnim, aku gila untukmu. Pokoknya dengarkan aku, aku melakukan semuanya bukan hanya untukmu. Tapi juga untuk diriku. Karena bisa saja anak yang ada di perutmu itu juga anakku, dan aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian dalam hal ini."

"Tapi…"

Yoongi mendengus dan melenguh frustasi, "Apa kau benar-benar ingin aku mengatakannya sekali lagi, Jimin-ah?" Alpha itu memijat batang hidungnya, "Baiklah. Aku akan mengatakannya sekali lagi. Jiminie, maukah kau tinggal bersamaku?"

Namjoon mendengus menahan tawanya mendengar kalimat Alpha itu, "Memangnya ini lamaran?"

Yoongi mengangkat telunjuknya—menyuruh Alpha yang merupakan atasannya itu untuk tidak merusak momen mereka berdua saat ini, "Jiminie, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mencintaimu dan membahagiakanmu, bahkan lebih baik daripada Alpha ini dan daripada si brengsek Chanyeol. Karena itu, aku ingin sekali kau tinggal bersamaku. Maukah kau tinggal bersamaku?"

Mungkin airmata yang saat ini berjatuhan di wajah Omega itu adalah karena tingkat hormonnya yang meningkat selama kehamilan, tapi Yoongi berasumsi lain. Sepertinya ia berhasil mencairkan es di hati Jimin sewaktu Omega itu mengangguk, "T-tentu saja aku mau!"

Pekikan yang mengalir dari mulut Yoongi lebih menyerupai lengkingan anak-anak yang baru saja mendapatkan hadiah di hari ulang tahun sewaktu ia mendengar Jimin menerima tawarannya. Alpha itu tidak tanggung-tanggung untuk memeluk dan setengah menggendong Jimin dari posisinya berdiri. Ia langsung menciumi wajah Omega itu, "Bagus! Mulai saat ini kita akan tinggal bersama!"

"Hanya sementara," Namjoon membenahi ucapan Alpha itu, "Sampai bayi yang dikandungnya lahir. Dan kenapa kalian ini berbicara seolah-olah kalian baru saja resmi bertunangan?"

Yoongi menyeringai melihat raut muka Namjoon yang setengah geli dan setengahnya lagi seperti hendak menghentikan kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta itu dengan tangannya sendiri, "Kukira kau tidak akan cemburu melihat kami seperti ini, sajangnim."

"Aku tidak cemburu, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan," Alpha itu mendorong Jimin dan Yoongi keluar ruangannya. "Sekarang masalah sudah tuntas, dan kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian masing-masing." Ia menutup pintunya tanpa ada jeda sedikitpun.

Jimin dan Yoongi saling berpandangan, dan tersenyum pada satu sama lain sebelum akhirnya tawa mereka pecah.

"Mungkin lebih baik kita pergi dari sini sebelum ada orang lain yang melihat kita."

Jimin mengangguk pelan, "Ne."

"Malam ini bagaimana jika aku menjemputmu? Lalu kita makan malam di suatu tempat?" Yoongi menawarkan diri.

"Aku sedang ingin makan masakan Chinese."

"Hmm, baiklah, sesuai keinginanmu," Yoongi dengan cepat mencium bibir Jimin dan mengantarkan Omega itu ke ruangan latihan.


20 Juni 20xx, Seoul

08.17 p.m

Berita tentang Jimin yang menderita cedera langsung disampaikan oleh media sosial resmi BTS dan NJE-C. Media sosial menyatakan bahwa Jimin menderita luka di pergelangan kaki dan lehernya sehingga harus istirahat total selama 10 bulan total. Mendengar beritu tersebut, para fans yang telah mendukung boyband BTS sejak debut pertama langsung mengguyur akun media sosial twitter dengan komentar berisi dukungan dan ucapan doa agar Jimin cepat sembuh.

Yoongi menemukan Jimin duduk di kamar apartemennya pada kencan malam mereka—dengan tubuh terselimuti jaket hoodie dan wajah yang basah oleh airmata. Omega itu sibuk terpaku pada layar ponsel yang menampilkan tampilan media sosial.

"Jiminie?"

"Aku tidak mau berhenti," kata Jimin sedih, suaranya tercekat, "Aku tidak mau berhenti menari."

Yoongi langsung mendudukkan diri di sebelah Jimin, "Kau hanya berhenti untuk sementara. Bukan untuk selamanya."

"Kau tidak mengerti karena kau tidak mengalami," Omega itu mengeluh, "Aku ingin menari."

"Lalu kau menyesal dengan keputusanmu? Kau berniat menggugurkan anak ini?" Tanya Yoongi tanpa berbasa-basi—nada suaranya terdengar tawar dan apatis, membuat Jimin menyentakkan kepalanya dengan terkejut.

"Tentu tidak!" seru Omega itu kaget, "A-aku hanya ingin menari, tapi—" ia menundukkan kepalanya—menatap perutnya, "Ada anak ini di sini. Aku tidak mungkin memaksakan diriku untuk menari."

"Kalau begitu, berhentilah merajuk. Jangan membuat kehamilanmu sebagai kiamat."

"Padahal bisa saja kau yang membuatku begini," Jimin melempar ponselnya ke atas meja, bibirnya mengerucut tidak senang. "Jadi kau salah satu alasan yang membuatku merasa begini."

Yoongi kembali mengusap wajah Omega itu, kali ini dengan tisu yang terletak di atas meja, "Dan si brengsek Chanyeol," Alpha itu mengerutkan wajahnya, membuat hidungnya berkerut-kerut, "Mungkin sewaktu aku menghadiri acara penghargaan di KMA dan bertemu dengan orang itu, aku akan meninju wajahnya sekeras mungkin."

"Itu ide yang buruk, Hyung," Jimin menangkupkan tangannya ke punggung tangan Alpha itu, "Seberapa besarnya aku juga jengkel terhadapnya, dan juga ingin menghajar wajah tampannya itu—" Yoongi memberinya pandangan sebelah mata dan Jimin tertawa geli, "Kau juga tampan, lebih tampan daripada dia—tapi maksudku, aku tidak mungkin melakukannya. Karena pasti akan banyak orang yang membelanya."

"Aku tidak mengerti kenapa kau mengencani Alpha seperti dia."

"Mungkin karena dulu aku terlalu polos."

"Oh, ya? Sepolos apa?" Yoongi menyeringai jahil, dan Jimin menepuk lengan Alpha itu kuat-kuat.

"Hyung!"

Yoongi tertawa dan memegang perut Jimin. Ia menyandarkan kepalanya ke punggung sofa, "Tapi aku yakin—entah kenapa—kalau anak ini adalah anakku. Kalaupun dia terlahir dengan wajah seperti Chanyeol, aku akan membuatnya merasa seperti anakku sendiri. Anak ini tidak pantas—memiliki seorang ayah seperti si pengecut Park Chanyeol."

Jimin menidurkan kepalanya ke bahu Alpha yang dicintainya, "Kaulah yang pantas menjadi ayah dari anak ini," Omega itu menyetujui. Ia melihat siaran TV di depan mereka berubah menayangkan Chanyeol yang sedang mempromosikan lagu barunya, dan langsung saja Yoongi mematikan TV dengan sentakan kasar di remote.

"Kita tidak perlu melihat orang ini lagi," Yoongi mengusap kepala Jimin, dan mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya. Ia mencium lembut bibir merah Jimin.

Dan kekasihnya sama sekali tidak melawan ketika ia merasakan tangan Yoongi bergerak ke bagian dalam bajunya.


3 Juli 20xx, Seoul

02.53 p.m

Namjoon masih sibuk menatap ke layar I-pad di depan matanya. Alpha berambut coklat dan bertubuh jangkung tersebut duduk dengan tubuh sedikit membungkuk ke arah meja ruangan tengah. Tangannya bergerak untuk menggulirkan layar ke bawah, membaca satu persatu komentar netizen tentang berita BTS yang terpaksa harus mengundurkan comeback kedua mereka tahun depan, dan membaca komentar tentang penjualan album mixtape Yoongi yang masih terus menempati album music chart di posisi 10 besar selama 1 bulan lebih.

Tidak buruk. Setidaknya dengan pendapatannya saat ini, dia bisa membeli apartemen mewah, batin Alpha itu sedikit takjub.

Selama ini ia melihat Yoongi sebagai seorang jenius musik yang sangat berdedikasi terhadap kegemarannya memproduksi musik, dan juga sebagai seorang Alpha yang sangat bertanggung jawab terhadap terhadap apa yang menjadi miliknya. Jika pada awalnya ia melihat Yoongi sebagai orang yang sedikit acuh terhadap sekitarnya dan berhati dingin, kini Namjoon lebih menghargai Alpha itu karena keputusan bulatnya untuk menawarkan diri menampung Jimin yang sedang hamil. Padahal kemungkinan bahwa Jimin mengandung anaknya hanya sekitar lima puluh persen, sementara lima puluh lainnya adalah milik Chanyeol.

Namjoon berpikir, mungkin ia tidak akan merelakan Jimin pada Alpha lain selain Yoongi. Meski Alpha itu sedikit berbuat ceroboh dan gagal melindungi Omega yang dulu merupakan mantan selingkuhan Namjoon, setidaknya Namjoon sangat mengapresiasi tindakan berani yang dilakukan oleh Yoongi.

Sudah tiga hari Jimin tinggal bersama Yoongi, dan sejauh ini, tidak ada orang yang curiga dengan berita Jimin yang mengalami cedera. Hanya saja, Namjoon sekarang harus berpikir keras untuk memikirkan alasan yang masuk akal untuk diberitahukan pada orang tua Jimin yang telah mempercayakan anak mereka padanya.

Namjoon termenung beberapa saat sampai ia mendengar suara istrinya memanggil diikuti oleh sentuhan lembut di tengkuk lehernya. Alpha itu menoleh, "Jinnie."

"Kau diam seharian ini, sama sekali belum mengajakku berbicara panjang lebar. Padahal hari ini hari Minggu," Omega itu merajuk dengan bibirnya merengut ke depan, terlihat sedikit kesal karena suaminya selama seharian mengacuhkannya.

Namjoon melunak saat ia melihat perut Seokjin yang setiap harinya bertambah besar seiring mendekatnya waktu persalinan. Alpha itu membantu istrinya untuk duduk dan melepaskan kacamata bacanya, "Ada urusan kerja yang tidak bisa aku tinggalkan," sahut Namjoon sambil tersenyum. Ia memegangi perut istrinya dan menyentakkan tangannya saat ia merasakan anak mereka bergerak-gerak dari dalam, "Kurasa anak kita ini akan tumbuh menjadi seorang Alpha."

"Bagaimana kalau tebakanmu salah? Dan justru anak ini terlahir sebagai Omega?"

"Aku akan mencintai anak ini sama besarnya," Namjoon menjawab dengan lembut, sambil melingkarkan tangannya ke tubuh istrinya.

Seokjin menyalakan TV yang sedang menyiarkan berita tentang musik yang dibuat oleh Chanyeol—orang yang selama ini berusaha Namjoon hindari untuk didengarkan. Tetapi ia hanya diam, berusaha agar istrinya itu tidak akan menanyai macam-macam mengapa Namjoon begitu membenci Alpha yang namanya sedang berada di atas papan tersebut.

"Bukankah dia tampan, Joon?" Tanya Seokjin sambil mengelus bagian perutnya, "Kalau anak kita laki-laki, aku berharap dia akan setampan Park Chanyeol."

Namjoon bergidik, "Kenapa kau tidak berharap kalau anak kita akan mirip denganku? Apakah menurutmu aku ini tidak tampan?"

"Tentu saja kau tampan, kalau kau tidak tampan maka aku tidak akan mau menikahimu," Seokjin bergurau. "Tapi Alpha ini sangat tampan. Aku akan senang sekali kalau anak kita nanti mirip tampan seperti dia."

Namjoon mendengus kesal mendengar istrinya memuji Alpha lain selain dirinya di depan wajahnya sendiri. Setidaknya ia yakin anak yang dikandung Seokjin akan mirip dengannya seratus persen, entah bagaimana dengan anak Jimin nantinya. Ia berharap jika kalaupun anak itu adalah anak Chanyeol, Namjoon tidak akan bisa mengenali fitur yang dimiliki oleh Alpha itu pada wajah anak yang akan dilahirkan Jimin.

Saluran TV kemudian berubah menjadi berita gossip yang biasa ditayangkan pada pukul 3 siang menjelang sore. Namjoon hendak mengalihkan wajahnya kembali ke layar I-pad, saat tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Alpha itu beringsut berdiri dari sofa untuk mengangkat telepon, melihat layarnya menampilkan nama Jackson. Biasanya Beta itu tidak akan meneleponnya kecuali dalam keadaan darurat. Ia meninggalkan istrinya sendirian di atas sofa menonton TV sementara ia pergi ke area halaman belakang rumah yang dibatasi oleh pintu geser dari kaca.

"Hey, Jackson?"

"Fuck, Namjoon. Seriously, kau pernah berselingkuh dengan Park Jimin?"

Pertanyaan itu membekukan Namjoon dalam sekejap. Namjoon bisa merasakan bibirnya sedikit gemetar, dan lidahnya kelu, membuat apa yang hendak dikatakan oleh Alpha itu selanjutnya terdengar gagu. "A-apa maksudnya, Jackson? A-aku tidak mengerti—"

"Lihat berita di TV, saluran KBS 2."

"Tidak bisakah kau mengatakannya sekarang? A-aku masih belum paham—"

"Kau tidak memberitahuku sama sekali kalau Jimin hamil, bukannya cedera," Beta itu merendahkan suaranya, seperti hendak menjatuhkan atasan sekaligus sahabatnya tersebut. "Ada sumber yang mengatakan kalau kau pernah berhubungan dengan Jimin, dan sekarang kau telah menghamilinya."

"Listen, Jackson, sepertinya kau salah paham—Oh, fuck," Alpha itu menyadari sesuatu dan melihat ke arah istrinya yang masih terduduk di sofa. Layar TV mereka menayangkan tentang perselingkuhannya dengan Jimin. Tanpa sadar Namjoon menjatuhkan ponselnya ke lantai dan langsung berlari menuju sofa—wajahnya terlihat panik—sampai ia melihat Seokjin tidak melepaskan matanya dari layar TV. "Seokjin—"

Layar TV menayangkan foto-foto dirinya bersama Jimin—di balik sebuah jendela yang ia kenali sebagai jendela ruang kerjanya. Matanya membeliak sempurna—bagaimana mungkin ada orang yang bisa mengambil foto sejelas itu?—saat ia melihat sebuah foto ia tengah mencium Jimin di balik kerai jendela yang tidak tertutup rapat—ini foto yang diambil sebelum kami putus—dan foto-foto lainnya di mana ia melingkarkan tangannya di pinggul mungil Jimin—aku berani bersumpah kalau kami hanya tiga kali tidur di hotel.

Siapa yang telah mengambil fotonya?

Terdengar suara seorang pembawa acara yang memberitakan tentang kisah perselingkuhan mereka—yang telah terjalin selama dua tahun lebih—sampai akhirnya muncul desas desus bahwa Jimin mengandung hasil hubungan terlarang mereka. Pembawa acara ini kembali memanas-manasi bahwa Jimin diiming-imingi posisi utama di BTS oleh Namjoon dengan hubungan seksual sebagai penggantinya.

Namjoon teringat kembali saat-saat Jimin mulai mengkhawatirkan hubungan terlarang mereka.

Dan Namjoon yang dengan entengnya berusaha menampik kekhawatiran mantan kekasih gelapnya tersebut.

Seokjin tidak menoleh sama sekali padanya, "Joon, bisa kau jelaskan ini apa? Kenapa mereka memberitakanmu dengan salah seorang anggota grup boyband naunganmu?"

"Jinnie—"

"Apa kau benar-benar pernah tidur dengannya?"

Namjoon mematung di posisinya. Tangannya terkatup gugup, dan ia bisa merasakan sekujur tubuhnya menegang oleh sensasi dingin. Ia pernah bersumpah di pernikahan mereka, bahwa ia tidak akan pernah berbohong pada istrinya, bahwa ia akan selalu membahagiakannya, bahwa ia akan selalu setia pada Seokjin. Nyatanya kini, kisah perselingkuhannya terbongkar dengan cara yang sama sekali tidak diharapkannya.

"A-aku—" Namjoon menarik napas. "Ne, aku pernah tidur dengannya. Tapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak mengha—"

"Berapa kali? Berapa kali kalian melakukannya?"

Berkali-kali. "Lebih dari dua kali," Namjoon mengakui. Ia berjalan mendekati istrinya, hendak mengelus bahu Omega yang ia kasihi, tetapi tangannya ditampik kasar oleh Seokjin. "Jinnie, aku bisa jelaskan—"

Kali ini Seokjin menoleh padanya. Matanya yang indah kini bertaburan air mata, dan melihat pemandangan itu seperti menyayat-nyayat hati Namjoon. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, Joon-ah." Omega itu berusaha bangkit dari sofa. Namjoon hendak membantunya, tapi Seokjin mendorong tubuhnya kuat-kuat, "Aku tidak perlu bantuanmu. Aku—aku bisa melakukannya sendiri."

"Seokjin—jagi—"

"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu," Seokjin menolak untuk menoleh padanya. Ia berjalan menuju kamar tidur mereka, "Kau sudah membohongiku… dengan Omega lain."

"Aku tidak pernah bermaksud—"

"Kalau kau tidak pernah bermaksud untuk melakukannya, kenapa kau bisa melakukannya hingga lebih dari dua kali?" Seokjin nyaris berteriak padanya, ia menghapus wajahnya yang basah oleh air mata cepat-cepat. Saat Namjoon menarik pergelangan tangannya, Seokjin berusaha melepaskan dengan sentakan yang lebih kuat, "Aku akan pulang ke rumah orang tuaku secepatnya. Kau bisa urus Omega barumu." Ia berusaha mempercepat langkahnya menuju kamar tidur mereka, menutup pintu, dan menguncinya dari dalam.

"Seokjin!" Namjoon berusaha membuka pintu kamar mereka yang terkunci rapat. "Dengarkan penjelasanku dulu! Seokjinnie!" ia memukul pintu kamar dan mengerang frustasi.

Alpha itu menjatuhkan dirinya di depan pintu ke atas lantai.

Dari luar, ia bisa mendengar suara tangisan istrinya.

Lalu suara dering telepon dari ponselnya yang tak kunjung berhenti.


3 Juli 20xx, Seoul

03.05 p.m

Yoongi sedang membuka satu persatu boks-boks yang berisi barang-barang pindahan milik Jimin. Sudah tiga hari Omega itu tinggal bersamanya. Dan dengan bantuan Namjoon, Jimin berhasil membawa barang-barang miliknya ke apartemen baru Yoongi tanpa ada kecurigaan sedikitpun dari Taehyung dan Jungkook, yang merupakan satu tim dengan Omega itu. Mereka memilih hari libur dan waktu pagi buta sebelum ada paparazzi yang mengintai kegiatan mereka—yang kemungkinan besar akan membuat gossip baru di mana rapper jenius dan terkenal Min Yoongi membiarkan anggota grup boyband rookie BTS untuk tinggal bersamanya.

Yoongi membiarkan dirinya tersenyum saat di salah satu boks, ia menemukan foto Jimin yang masih kecil dan berpipi tembam, sedang duduk di atas pantai bersama seorang anak kecil lainnya yang bertubuh lebih mungil—yang ia asumsikan sebagai adik laki-laki Jimin. Sementara itu di balik dinding, ia bisa mendengar suara siaran berita acara gossip dari saluran TV KBS 2 bergema hingga ke lorong kamar apartemennya. Yoongi bisa langsung membayangkan Jimin, sedang duduk di atas sofa dengan hoodie favoritnya, sementara di depannya siaran TV masih sibuk menyala memberitakan informasi tidak penting tentang kehidupan artis papan atas.

Sampai kemudian ia mendengar suara benda jatuh dengan bunyi 'gedebuk' keras disertai suara pekikan pelan dari Jimin. Yoongi tidak menyia-nyiakan waktunya untuk bangkit dari atas lantai dan berlari menuju ruang tengah.

"Jiminie? Kau tidak apa-apa? Apa terjadi sesuatu?" Yoongi merasakan dirinya berubah khawatir.

Ia melihat Jimin, berdiri dari atas sofa, dengan mulut terbuka lebar, sebelah tangannya menunjuk ke layar TV. Gestur tersebut langsung menunjukkan bahwa Omega di depannya sedang merasa begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Yoongi mengarahkan kedua matanya ke layar TV, saat ia melihat judul yang tertera di bawah layar:

PARK JIMIN DARI BTS TIDAK CEDERA, TAPI VAKUM UNTUK SEMENTARA KARENA HAMIL?

'Sumber informasi terkait menyatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah bayi dari Kim Namjoon, CEO dari NJE-C, perusahaan hiburan yang menaungi BTS selama 2 tahun lebih—'

Yoongi bisa melihat sekelebatan foto-foto yang diambil secara amatir ke jendela kantor pribadi Namjoon, menampilkan Jimin dan Namjoon yang sedang berciuman sementara sebagian tubuh mereka ditutupi oleh kerai jendela. Foto berikutnya menampilkan Jimin sedang keluar dari sebuah rumah sakit (Bukankah itu sewaktu aku mengantarkan Jimin pulang dari rumah sakit?).

Tanpa pikir panjang, Yoongi langsung mengambil remot dan mematikan TV. Alpha itu langsung merengkuh tubuh Jimin dan berbisik pelan, "Tenangkan dirimu, Jiminie—"

"Mereka tahu," kata Jimin gelisah. Yoongi bisa merasakan bagian bahunya mulai basah karena air mata, "Mereka tahu kalau aku dan Namjoon-nim —tapi… tapi ini bukan bayinya—aku berani bersumpah, Hyung—"

"Aku tahu, Jiminie," Yoongi mengusap pelan bahu Omega itu. Aroma cherry dari tubuh Jimin tergantikan oleh aroma yang menandakan kekalutan yang sedang dihadapi olehnya, "Ada seseorangyang menebar berita bohong ini."

"T-tapi aku dan Namjoon-nim—kami memang pernah—"

"Kau tidak mengandung anaknya, oke? Tenanglah…"

Ia bisa mendengar suara dering ponsel Jimin. Jimin berjengit kaget, tetapi hanya diam mematung, sehingga Yoongi lah yang bergerak untuk mengambil ponselnya.

"S-siapa yang menelepon?" tanya Jimin cemas, "Pasti orang-orang yang melihat berita ini, m-mereka—"

Yoongi kembali ke sisi Jimin dan memeluk tubuh mungil Omega itu, memperhatikan nomor tidak dikenal pada layar ponsel. Sejenak ia ragu untuk mengangkat, tapi dalam situasi seperti ini, jika Jimin tidak menjawab telepon, orang-orang akan semakin curiga. Dan bila Yoongi yang menjawab telepon di ponsel Jimin, akan muncul kecurigaan lain.

"Biar aku yang menjawab, Hyung—"

"Tidak, biar aku yang menjawabnya," kata Yoongi tegas. Ia mengangkat panggilan dari ponsel, dan mendengar suara berat seorang Alpha yang pernah ditemuinya pada suatu waktu. Yoongi merasakan darahnya mendidih.

"Yeoboseyo, Jimin? Apa kau sudah melihat berita di TV? Apa benar kau berselingkuh dengan Kim Namjoon, eo?" ia bisa mendengar suara tawa renyah—yang memuakkan. Tetapi Yoongi tidak langsung menjawab, matanya sibuk menatap sepasang manik hitam milik Jimin yang berubah nanar saat mendengar siapa yang menelepon. "Dan apa benar kau vakum karena sedang hamil, bukan karena kau sedang mengalami cedera?"

Park Chanyeol, rasanya Yoongi ingin meremukkan Alpha ini sekarang juga.

"Benarkah anak yang kau kandung adalah anak dari Kim Namjoon? Atau mungkin—" ada jeda yang membuatnya merasa tidak nyaman, "Atau mungkin itu adalah anakku, Jimin?"


TBC

Catatan penulis: Sebulan tidak update, jadi lupa fanfic ini kelanjutannya gimana haha. Kemungkinan besar akan banyak typo di chapter ini (yasudahlahya). Tinggal sedikit lagi fanfic ini akan tamat, yeah!

Btw, untuk chapter sebelumnya dan chapter selanjutnya:

No pain no gain, guys.

Sampai jumpa di bagian berikutnya kawan-kawan!

Yang telah mereview di chapter sebelumnya: melyauyut575, gglorrsp, Gasuga, MinPark, BAI, YMlove, DaisyUchiha, jmpnuna, ChiminsCake, fckbyeolous, LittleOoh, Hanami96, YOONMINs, GeniusMYG, honeymon, virgiawan738, itsathenazi, shoukenreiko, Linkz account, Hanachanoke, Anik0405