"Benarkah anak yang kau kandung adalah anak dari Kim Namjoon? Atau mungkin—" ada jeda yang membuatnya merasa tidak nyaman, "Atau mungkin itu adalah anakku, Jimin?"
Yoongi menggertakkan giginya, menggeram. Tetapi kemudian ia berusaha menenangkan dirinya, berusaha untuk menjawab manyahut ucapan Alpha itu, "Rupanya ini kau, Park Chanyeol?" Yoongi hampir-hampir menahan napasnya saat ia menyebutkan nama itu. Di sebelahnya, Jimin menguatkan cengkeraman di lengannya, "Kau menelepon Jimin karena melihat berita itu, eo?"
Ia bisa melihat suara gemerisik di ujung saluran telepon. Yoongi bisa membayangkan Chanyeol terkaget-kaget begitu ia mendengar suaranya di ujung telepon, bukannya suara Jimin sendiri. "Ah, ternyata ada kau, Suga. Aku juga dengar katanya penjualan album—"
"Tidak usah berbasa basi lagi," Yoongi merendahkan suaranya, membuatnya terdengar seperti hendak menghardik Chanyeol, "Apa tujuanmu menelepon Jimin? Dan kenapa kau bilang—kalau mungkin Jimin mengandung anakmu?"
Chanyeol tertawa tawar dan dingin, "Kenapa? Jangan pura-pura kau tidak pernah berada di sana, Yoongi."
Yoongi langsung tahu apa yang dimaksud oleh Chanyeol. Hari ketika Jimin sedang heat, di mana ia terpaksa meninggalkan Omega itu karena harus mendengarkan hasil akhir dari rekaman mixtapenya. Di hari itu, ia melihat Chanyeol meninggalkan apartemen Jimin, dan Jimin tertangkup di atas tempat tidur dengan heat yang sudah berakhir—dan bau Alpha lain—bau Chanyeol—menguar dari tubuh Omega itu. Yoongi bisa merasakan darahnya masih mendidih.
"Kau bicara seterus terang itu," kata Yoongi masih menjaga ketenangan dirinya, "Tapi apa kau sadar bahwa mungkin saja bahwa percakapan ini direkam?"
"Kalaupun pembicaraan ini direkam, kau hanya akan menguak kebenaran seluruhnya," Chanyeol menyahut, "Berikan telepon ini pada Jimin. Aku butuh dia yang mengungkapkan semuanya."
"Tidak akan," Yoongi menggeram dan mengakhiri sambungan telepon.
Jimin menjatuhkan dirinya ke atas sofa, wajahnya terlihat begitu syok, sampai-sampai Yoongi mengira bahwa kekasihnya itu tidak akan bisa bicara selama beberapa lama. Yoongi kembali meletakkan ponsel Jimin ke atas meja setelah menekan tombol off dan setengah berlutut di hadapan Omega itu. Kedua tangannya tertangkup di kedua tangan mungil milik Jimin, "Dia hanya ingin mengancam. Kau tidak perlu takut."
"T-tapi—semua orang tahu—" Jimin mulai menangis, "Mereka tahu bahwa aku sedang hamil. Karirku pasti hancur—juga BTS… Tae dan Jungkookie—Namjoon-nim… mereka semua—k-karena aku—" matanya yang berkaca-kaca menatap Yoongi, "Hyung, apakah seharusnya aku…" tangannya bergerak ke permukaan perutnya yang masih datar—belum menampakkan kehamilannya.
"Tidak. Kau hanya kalut Jiminie. Kau tidak benar-benar menginginkan anak ini untuk mati," sergah Yoongi cepat. "Kau sudah mengutarakannya sendiri kalau tidak ingin menggugurkan anak ini."
"Aku mungkin saja membuat keputusan yang salah—" Jimin berusaha mengatur napasnya dan kembali menangis, "O-orang tuaku pasti akan tahu—aku akan mengecewakan mereka—"
Yoongi menggigit bibirnya, berusaha memikirkan suatu cara agar Omega di depannya dapat menenangkan diri. "Kalau begitu biar aku yang mengatakannya."
"Mengatakan apa?"
"Mengatakan pada semua orang, bahwa aku yang telah menghamilimu."
A GENIUS IN LOVE
Bagian 8
Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!
Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos (mungkin akan banyak di chapter ini), karakter boyband lainnya. Stalker! Chanyeol (OOC Chanyeol)
Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV
7 Juli 20xx, Seoul
01.22 p.m
"Lihat atas apa yang telah kau lakukan, Namjoon," kata Jackson sambil berjalan mengitari depan meja kerjanya, membuat kepala Namjoon yang sebelumnya selalu berdenyut perih akhir-akhir ini, semakin terasa sakit. "Kau menyelingkuhi istrimu sendiri dengan idola yang kau besarkan dengan namamu. Aku tidak menyangka kau bisa bersikap seteledor itu. Kukira kau ini seorang Alpha intelek. Kau kemanakan IQ-mu yang berjumlah 148 itu?"
"Aku tahu aku memang bertindak ceroboh. Tapi aku melakukannya karena saat itu Seokjin sama sekali tidak bisa memuaskan nafsuku secara rutin. Dan aku mencari pelarian ke Omega lain," kata Namjoon sambil memijat kepalanya.
"Dan sekarang lihat akibat dari apa yang telah kau lakukan," Jackson melempar berlembar-lembar amplop dan beberapa helai kertas secara acak ke atas meja, "Beberapa artis kita mengundurkan diri mereka dari perusahaan. Semuanya karena tindakan bodohmu itu." Beta yang akhir-akhir ini rambutnya baru saja dicat dengan warna putih tampak cemas dengan keadaan yang menimpa perusahaan yang dibangunnya bersama Namjoon selama 10 tahun. Sebuah rumor yang menyangkut CEO perusahaan tentu akan langsung menjatuhkan nama perusahaan itu sendiri. Hal ini bukanlah hal yang sepele, karena dengan banyaknya artis yang keluar dari perusahaan mereka, rating mereka akan turun, dan kemungkinan besar mereka tidak akan balik modal.
"Aku paham soal itu, Jackson," Namjoon menghela napas. "Dan aku benar-benar menyesalinya. Tapi apa yang sudah terjadi, aku harus berbuat apa untuk memperbaikinya? Bahkan istriku sudah mengajukan surat perceraian padaku."
Jackson memasang wajah terkejut, "Well, aku sudah menyangka pasti dia akan berbuat begitu. Tapi—dia benar-benar akan menceraikanmu? Dia sedang hamil, dan kalau kau berpisah terlalu lama dengannya, dia bisa—"
"Aku tahu itu," potong Namjoon, "Aku sedang memikirkan cara bagaimana meyakinkan Seokjin agar kami tidak memotong ikatan perkawinan—mating bond—yang sudah kami bentuk dari lama. Aku masih sangat mencintainya."
"Lebih dari Jimin?" Jackson menaikkan sebelah alisnya.
"Jimin adalah cerita lama. Karena sekarang aku sudah lama menyadari bahwa Seokjin adalah Omega yang seharusnya tidak pernah boleh aku sia-siakan. Aku terlalu dibutakan oleh dorongan seksual saat berhubungan dengan Jimin, bukannya malah membahagiakan Omega yang sudah aku janjikan untuk kubahagiakan sehidup semati," Alpha berambut coklat itu berdiri dari kursi kerjanya dan membalikkan tubuhnya menghadap jendela yang tertutup kerai. Ia mengingat-ngingat foto di mana ia sedang mencium Jimin kira-kira diambil. Siapa yang mengambil foto mereka? Apakah foto yang diperlihatkan oleh publik beberapa hari lalu adalah hasil jepretan salah musuhnya? Namjoon tidak bisa mengetahuinya secara langsung, ia hanya bisa berasumsi. "Saat Seokjin mengatakan padaku kalau ia ingin mencoba memiliki anak setelah kematian anak kami, aku langsung sadar bahwa aku terlalu jauh sudah diam-diam menyakitinya."
"Untung saja kau sudah sadar sekarang ini," Jackson mengusap tengkuk lehernya, "Tapi apa kau serius kalau anak yang dikandung oleh Jimin bukan anakmu? Lalu saat ini ia sedang mengandung anak dari siapa?"
"Aku tidak bisa mengatakan orang itu siapa."
"Tapi kalau kau mengatakannya, kau bisa menyelamatkan reputasimu!"
"Dan aku juga sudah mengatakan dengan jujur bahwa aku telah menyelingkuhi istriku dengan salah satu anggota boyband yang aku besarkan. Kau pikir publik akan langsung memaafkanku?"
"Setidaknya kau hanya perlu mengakui apa yang telah kau lakukan, dan mempertahankan dirimu jika rumor yang beredar di publik tidak benar," Jackson melipat kedua tangannya, terlihat seperti seorang yang bijaksana sedang memberikan petuah dengan postur tubuhnya tersebut.
"Aku tidak peduli dengan penilaian masyarakat terhadapku. Sejak dulu mereka selalu mencapku sebagai seorang Alpha yang berhati dingin dan hanya memanfaatkan artis-artis di bawahku untuk kepentingan pribadi. Yang aku inginkan sekarang, hanyalah bagaimana cara agar Seokjin mau memaafkanku."
Jackson tidak bisa menghentikan senyuman yang merekah di wajahnya, "You know what? Kurasa dia akan memaafkanmu. Kau adalah Alpha paling tulus yang pernah kutemui."
Namjoon hanya mendengus mendengar ucapan sahabatnya, "Aku meragukan hal itu."
"Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?"
Alpha berambut coklat itu bungkam untuk sesaat. "Aku akan mengikuti saranmu."
"Eo? Saranku?" Jackson tidak mengerti dengan maksud ucapan Namjoon. Beta itu mengernyitkan dahinya.
Namjoon pada akhirnya membalikkan tubuh menghadap sahabatnya, "Aku akan mengakui semuanya pada publik. Aku akan bilang yang sebenar-benarnya."
10 Juli 20xx, Seoul
10.22 a.m
Para netizen langsung membanjiri akun media sosial BTS dan akun resmi NJE-C dengan hujatan begitu berita tentang kehamilan Jimin dan kasus peselingkuhannya dengan CEO dari perusahaan tempatnya bekerja tersebut.
Tentu saja hal tersebut sudah pasti akan terjadi dan akan menjadi omongan banyak orang, dalam hal negatif. Jimin menjadi sedikit paranoid semenjak berita tentang kasus perselingkuhan dan kehamilannya menguar. Tidak banyak para fansnya yang awalnya sangat mendukung dan mengidolakan dirinya, kini berbalik menghujatnya. Jimin menjauhkan diri dari media sosial, sebaik yang ia bisa. Bahkan saat Taehyung ataupun Jungkook berusaha menghubunginya, Jimin buru-buru mematikan layar ponselnya.
Hal yang paling membuatnya panik adalah, ketika kedua orang tuanya menelepon dari Busan. Jimin tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya saat ia melihat nama salah satu orang tuanya tertera di layar ponsel. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya yang sudah mempercayakan dirinya ke Seoul sendirian untuk mengejar karir dan mimpinya, kini terbuang sia-sia karena kasus yang sedang dihadapinya saat ini.
"Kau tidak akan menjawab telepon dari orang tuamu?" tanya Yoongi pada Jimin yang sedang berdiri di atas lantai dapur sambil memandang layar ponselnya yang terletak di permukaan countertops. "Kau sudah mendiamkan mereka selama lebih dari 2 minggu, Jiminie. Setidaknya kau dapat menjelaskan keadaan yang sesungguhnya."
Jimin menggeleng kuat-kuat, "Mereka pasti akan kecewa padaku. Alasan mereka mengizinkanku ke Seoul adalah karena Namjoon-nim meyakinkan mereka bahwa aku akan berhasil menjadi idola di Korea."
"Justru karena kau mendiamkan mereka sekian lama tanpa penjelasan apapun, mereka akan membenarkan asumsi publik."
"Aku tetap tidak bisa."
"Tapi kau harus melakukannya."
Jimin mulai menitikkan air mata, "Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Kasus perselingkuhanku dengan Namjoon -sajangnim memang benar terjadi."
"Lalu katakan saja yang sejujurnya."
"Dan bayi ini? Apa aku harus juga menjelaskan bahwa aku tidak yakin siapa ayah dari bayi ini?"
"Katakan bahwa aku ayahnya," kata Yoongi tanpa termangu sedikit pun.
"Hyung—"
"Aku sudah bilang, aku tidak peduli sedikit pun jika anak ini anakku atau bukan. Aku akan membantumu membesarkannya." Jimin tampak bimbang sampai Yoongi kembali melanjutkan, "Atau kalau perlu, aku yang menjawab telepon dari orang tuamu?" Alpha itu menunjuk pada ponsel Jimin yang terletak di atas countertops.
"Jangan, Hyung—"
"Aku juga akan menghubungi Appaku kalau kau melakukannya sendiri," Yoongi tetap teguh pada posisinya. Alpha itu duduk dengan kaki menyilang di atas kursi meja island sambil melipat kedua tangannya, "Aku sudah menceritakan padamu sebelumnya, bukan?"
Jimin tertegun. Omega itu ingat bahwa Yoongi pernah beberapa kali menceritakan tentang keluarganya. Pada awal hubungan mereka terjalin, Jimin sama sekali tidak pernah merasa penasaran tentang kehidupan keluarga Alpha itu. Sampai akhirnya, ketika di bulan ketiga hubungan mereka berlangsung, Jimin menyadari bahwa Alpha itu sama sekali tidak pernah terlihat menerima telepon dari keluarganya. Padahal ia sendiri setidaknya menerima telepon entah dari ayah, ibu, atau adik laki-lakinya 3 kali seminggu. Jimin tidak pernah menanyakan soal keluarga Yoongi, sampai akhirnya saat mereka pergi ke sebuah bar, saat Alpha itu setengah mabuk sambil mengendarai mobilnya, Yoongi mulai merancau tidak karuan. Alpha itu bercerita betapa ia merindukan keluarganya di Daegu, betapa ia ingin meminta maaf pada kedua orang tuanya karena telah mengecewakan mereka selama beberapa tahun terakhir, betapa ia ingin menemui kedua orang tua serta kakak laki-lakinya di sana.
Sejak saat itu, Jimin mulai secara pelan-pelan menanyakan tentang keluarga Alpha itu. Pelan-pelan pula, ia mulai mengetahui kalau Yoongi tetap berhubungan dengan keluarganya, meski hanya lewat kakak laki-lakinya. Setiap bulan pula ia mengirimkan uang ke rekening kakak laki-lakinya, untuk diberikan pada ayah mereka.
Dan mendengar Yoongi memberikan janji bahwa ia ingin menghubungi ayahnya dan keluarganya setelah sekian lama, membuat hati Jimin sedikit terenyuh dan melunak. Omega itu lebih sensitif daripada biasanya semenjak ia mengandung, tetapi Yoongi tidak pernah melihat Jimin menangis hanya karena ia menyebutkan nama keluarganya.
"K-kau serius mau menghubungi mereka lagi?" Jimin bertanya dengan mata dilapisi titik-titik air.
"Tentu saja aku serius," jawab Yoongi setengah tersenyum, "Aku—kurasa aku ingin kembali ke Daegu untuk meminta maaf dan memperkenalkan dirimu sebagai yah—kekasihku mungkin?"
"Lalu bagaimana dengan anak ini?" Jimin menunjuk pada perutnya. "Kau mau bilang bahwa kau menghamili seorang Omega, padahal kita masih belum tahu pasti ini anak siapa?"
"Shibal, Jiminie…" Yoongi mengerang, "Sudah kukatakan berkali-kali kalau aku ingin kau menganggap anak ini sebagai anak kita. Masa bodoh dengan si Park Chanyeol brengsek itu."
Jimin menjilat bibirnya dengan tampang agak bimbang. Ia memainkan bagian bawah T-shirt yang dikenakannya, "Tapi—tapi bagaimana kalau mereka semakin tidak mau menerimamu? Apalagi kalau mereka sudah melihat berita bahwa aku dan Namjoon-sajangnim…"
"Maka mereka akan menghilangkan kesempatan untuk menggendong cucu pertama mereka," kata Yoongi. "Atau mungkin cucu kedua mereka."
Ucapannya ini membuat Jimin menyipitkan matanya, menutup mulut, dan tertawa. Omega itu masih tertawa selama beberapa menit lalu menyeka matanya, "Ah, hyung! Aku masih 19 tahun, dan memiliki satu anak saja sudah cukup bagiku! Aku masih ingin menjadi seorang idol, atau jika sudah tidak mungkin jadi idol lagi, aku masih ingin menjadi seorang penari profesional."
Yoongi ikut tersenyum, "Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau siap. Aku sudah bilang bahwa aku akan terus menunggumu, asalkan kita bisa bersama selamanya."
"Baiklah, aku akan melakukannya," Omega itu mengambil ponselnya, wajahnya masih merengut dan terlihat sedikit cemas saat ia melihat nama ayahnya tertera di layar, "Tapi kau juga harus memenuhi janjimu."
"Kapan aku melanggar janjiku?" Yoongi terkekeh.
Mata Jimin masih menyipit oleh tawa yang ditularkan oleh Yoongi. Omega itu melemparkan kedua tangannya ke arah Alpha itu, "Tapi sebelum aku menelepon orang tuaku, bisakah kau memeluk dan menciumku? Kurasa aku butuh sedikit dorongan untuk melakukannya."
Setidaknya Yoongi harus mengakui, sisi positif dari kehamilan Jimin adalah, Omega itu semakin banyak membutuhkan keberadaan dirinya dan semakin banyak kontak fisik yang mereka lakukan. Terlebih lagi, lebih banyak waktu yang dihabiskan oleh Yoongi untuk menemani Jimin.
Saat Yoongi memeluk Jimin, ia merasakan tangan mungil Omega itu bergerak untuk merengkuh dang mengusap bagian punggungnya. Ia juga mendengar Omega itu berbisik pelan ke telinganya, "Tapi aku masih takut. Aku masih belum punya keberanian untuk memberitahu yang sesungguhnya pada V—Taehyung dan Jungkook."
"Aku akan membantumu menjelaskannya pada mereka," ucap Yoongi pelan. Ia menghirup lamat-lamat aroma cherry pada tubuh Omega itu, "Bahwa yang kau kandung itu adalah anak kita, bukan anakmu dengan Alpha lain."
Alpha itu membalas ciuman yang diberikan oleh Jimin di pipi kanannya dengan sebuah ciuman di bibir.
"Ngomong-ngomong, apakah aku sudah mengabarimu?" Yoongi bertanya saat mereka selesai berciuman, "Kalau aku diundang untuk menghadiri Korean Broadcasting Awards?"
Jimin menggeleng, "A-aku belum tahu. Kau benar-benar diundang ke sana?"
"Yah, kurasa aku sedang membuat terobosan baru."
Jimin memekik riuh padanya, "Hyung! Kenapa kau tidak mengabariku?! Omo—kau pergi menghadiri acara sebesar itu tapi tidak mengabariku sama sekali! Dan ini baru pertama kalinya mereka memberi penghargaan pada musisi sepertimu!"
"Karena aku ingin memberimu kejutan," sahut Yoongi, "Tapi rupanya aku harus memberitahumu lebih awal karena kau tampak tidak bersemangat akhir-akhir ini. Seharusnya kau tidak boleh sampai membuat dirimu merasa tertekan, Jiminie."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa."
Yoongi tahu bahwa berita tentang perselingkuhan dan kehamilan Jimin yang akhir-akhir mengudara sangat membuat Omega tersebut merasa begitu tertekan. Bahkan Yoongi masih harus menenangkan Omega itu dari mimpi buruk sewaktu Chanyeol memperkosanya dan meninggalkan Jimin begitu saja di kamar apartemen yang sama sekali tidak terkunci. Tentu saja Yoongi harus memikirkan cara bagaimana agar Omega itu dapat melepaskan pikiran-pikiran buruknya agar tidak mempengaruhi janin yang ia kandung. Janin yang akan bertumbuh kembang menjadi anak mereka.
Yoongi benar-benar merasa panik begitu ia memikirkan bahwa tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan harus bertanggung jawab terhadap satu orang manusia. Rasanya ia masih setengah bermimpi, dan rasa itu membuatnya bisa merasakan luapan perasaan ekstatik di dalam dirinya.
Ia tidak sabar untuk menjadi seorang ayah.
"Kau harus bisa, Jiminie. Kita berdua akan menjadi orang tua," hanya itu yang dapat Yoongi ungkapkan. Tetapi kemudian ia memutuskan untuk memperjelas alasannya, "Karena itu kau harus merasa bahagia. Jangan pedulikan apa pendapat orang terhadapmu, yang penting adalah kau bisa merasa bahagia karena sebentar lagi kita akan punya anak bersama. Kita akan bisa melihat wujudnya bukan melalui sonogram, tetapi secara langsung dan kita juga akan bisa menggendongnya!"
Mulut Jimin terbuka mendengar jawaban Yoongi, "Omo—kau benar, hyung—" ucap Jimin ikut panik, "Bahkan kita belum mempersiapkan apa-apa—tapi, tapi, aku tidak mungkin keluar tanpa ada yang mengenaliku—"
"Aku akan menemanimu," Yoongi meyakinkan Omega itu, "Masih belum banyak orang yang akan mengenalimu, aku yakin itu. Tapi kalau kau tidak merasa nyaman, aku akan menemanimu. Dan kalau kau masih merasa paranoid, kita bisa saja memesan online."
Jimin melingkarkan lengannya ke leher Alpha itu dan memberi kecupan singkat di bibir Yoongi, "Kau memang yang terbaik, Hyung. Aku harap, setelah ini aku tidak akan pernah membuatmu kecewa lagi."
"Kau tidak pernah membuatku kecewa, Jiminie. Kau hanya membuatku semakin jatuh cinta setiap harinya," balas Yoongi sambil bergurau, tapi ia serius terhadap ucapannya. Jimin tidak akan pernah membuatnya menyesal pernah mencintai Omega itu.
Tapi andai saja di tengah musim panas seperti ini, semua rumor dapat menguar dengan cepat seperti air yang dibiarkan tergenang di atas permukaan trotoar. Jika hal itu dapat terjadi, maka ia tidak perlu mengkhawatirkan kesehatan mental Jimin akan reaksi negatif dari masyarakat Korea maupun netizen lainnya.
Entah kenapa, Yoongi yakin sekali, bahwa ia mengenal siapa orang yang menyebar gossip kehamilan Jimin dan kasus perselingkuhan Omega itu dengan Namjoon.
12 Juli 20xx, Seoul
11.28 p.m
Namjoon mendapati rumah yang ditinggalinya bersama Seokjin kosong begitu ia kembali dari kantor dan studionya di malam hari. Hanya ada dua anjing mereka yang sibuk menyambutnya pulang begitu ia menjejakkan kaki di dalam rumah. Sang Alpha bersurai coklat tersebut harus mengadakan rapat darurat membicarakan tentang saham perusahaan mereka yang hampir ambruk akibat jumlah idola yang semakin menurun, sehingga mengurangi penjualan saham dan mengurangi jumlah investor berminat yang biasa menanamkan saham mereka di perusahaan yang telah dibangun oleh Namjoon selama lebih dari satu dekade dibantu oleh Jackson dan teman-teman mereka yang lain.
Sejak kemarin-kemarin—sejak berita perselingkuhannya telah tersebar, Seokjin semakin kehilangan minat untuk berbicara padanya. Bahkan Seokjin yang biasanya selalu rutin membuatkannya sarapan sejak mereka menikah, mulai berhenti membuatkannya sarapan sejak beberapa hari lalu. Namjoon terpaksa memakan sarapan di supermarket yang biasa ia lalui dengan mobil dan membelikan sarapan yang bahkan tidak cukup membuat perutnya terisi hingga waktu makan siang. Lalu malam harinya, ketika ia hendak tidur, istrinya akan sudah mematikan lampu tanpa mengajaknya bicara sedikitpun, meski terkadang ia sengaja cepat memulangkan diri agar bisa menjelaskan semuanya pada istrinya.
Namjoon bisa merasakan bahwa ia merindukan Seokjin. Ketika ia hendak menceritakan semuanya pada Seokjin, justru Omega berusaha sebisa mungkin menutup dirinya dengan kesibukan lain. Entah dengan menonton TV, merajut, ataupun pura-pura membaca buku yang Namjoon yakini adalah buku yang tidak akan pernah mungkin dibaca oleh dokter kardiolog muda tersebut. Jika Namjoon sudah mulai dengan pidato panjangnya yang menceritakan seluruh kronologis perselingkuhannya dengan Jimin, Omega itu akan pergi meninggalkan Namjoon ke kamar tidur mereka—meski harus kesulitan membawa perutnya yang semakin membesar setiap harinya.
Namjoon diliputi rasa bersalah. Ia bertanya-tanya, mengapa ia begitu terlena untuk menyelingkuhi Omega lain yang bukan istrinya. Kini ia harus kehilangan bukan hanya pekerjaannya, tetapi juga kehidupan rumah tangganya.
Sambil melempar kunci mobilnya ke atas nakas, Alpha itu langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur tanpa berganti baju maupun tanpa membuka kaus kaki yang ia kenakan. Biasanya, jika ia melakukan hal itu, Seokjin akan menceramahinya habis-habisan, menegur kebiasaan buruk Alpha itu setiap pulang kerja. Tapi ia tidak peduli, toh Seokjin tidak ada di sini. Sudah pasti istrinya itu pulang ke rumah mertuanya.
Ia mengambil ponsel dari kantung baju dan menyalakan layar. Ia kembali membuka aplikasi pesan, melihat bahwa sejak beberapa hari lalu Seokjin benar-benar tidak menggubris semua pesan yang telah ia kirimkan. Namjoon merasakan dirinya semakin tidak bersemangat sewaktu ia hendak menelepon nomor Seokjin, istrinya itu sama sekali tidak mengangkat telepon.
Saat Namjoon menelepon untuk ketiga kalinya, ia tidak menyangka bahwa ayah mertuanya yang menjawab. Alpha tua tersebut terdengar berang sewaktu ia menjawab, "Namjoon, kau masih berani menelepon putraku? Setelah kau menyakitinya seperti itu? Aku sudah mendengar semuanya."
Namjoon berusaha mengendalikan perasaan dan mengumpulkan keberanian untuk menjawab ayah mertuanya, "Jang-in, aku ingin berbicara dengan Soekjin. Aku harus—"
"Seokjin sudah tidur sejak jam 9 malam tadi. Dia terus menerus menangis sejak ia tiba ke sini. Aku tidak menyangka kau bisa menghancurkan kepercayaan yang telah kuberikan padamu setelah ini. Padahal kalian akan memiliki anak—"
"Aku mengerti, Jang-in, aku memang salah, tapi aku bisa jelaskan—"
"Jangan pernah menelepon Seokjin lagi. Kami tidak akan memaafkanmu bahkan meski kau berani menampakkan dirimu ke sini dan mengakui semua kesalahanmu." Alpha tua tersebut memutus sambungan telepon.
Namjoon berjengit kaget saat ia mendengar suara mertuanya seperti nyaris berteriak padanya. Ia langsung melempar ponselnya dengan putus asa ke atas sisi tempat tidur yang biasanya selalu diisi oleh tubuh istrinya. Ia membalikkan tubuh, memeluk bantal yang masih memiliki aroma pekat Seokjin. Namjoon berusaha memejamkan matanya, berpura-pura bahwa istrinya masih ada di sebelahnya. Berpura-pura bahwa bantal yang sedang ia peluk saat ini adalah tubuh istrinya.
15 Juli 20xx, Seoul
02.33 p.m
Yoongi sengaja datang lebih siang daripada biasanya karena ia tahu bahwa hari ini di studio hanya akan ada dirinya, Zhoumi dan Jihoon. Jieun sudah sejak beberapa hari lalu mengundurkan diri dan kini mulai berkarir sendiri. Yoongi paham bahwa Alpha sekaligus yeoja itu mengundurkan diri bukan karena rumor yang melingkupi perselingkuhan Jimin dengan atasan mereka, tetapi karena sejak beberapa bulan lalu Jieun sering mengungkapkan keinginannya untuk berkarir sendiri di bidang musik. Kini ruang kerja yang biasa ia tempati menjadi sedikit lebih tenang dari biasanya karena biasanya Jieun lah yang meramaikan suasana di studio rekaman.
Zhoumi, seperti biasanya menjadi orang pertama yang menyapa Yoongi. Beta tersebut terlihat ramah meski Yoongi memasang wajah muram dan tidak bersemangat sewaktu memasuki ruangan. Ia juga sama sekali tidak terlihat terpengaruh oleh rumor yang terjadi di antara Jimin dan Namjoon.
"Yoongi-ah, senang melihatmu masih bekerja di sini. Kantor kita semakin lama semakin sepi saja," kata Zhoumi sambil menawarkan senyuman gemilangnya pada Yoongi.
"Oh, Hyung. Senang juga masih melihatmu di sini. Siapa lagi yang keluar minggu ini?"
"Kurasa hanya staff biasa yang akhir-akhir ini baru keluar lagi," Zhoumi menjawab sambil membereskan tumpukan file yang berserakan di atas meja panjang di ruangan kerja mereka. "Aku tidak mengerti, kenapa berita perselingkuhan Jimin dan Kim Namjoon-sajangnim bisa seberpengaruh ini terhadap keingiann mereka untuk bekerja. Masih masuk akal jika yang merasa marah adalah para penggemar Jimin, tapi orang-orang yang bekerja di sini sampai mengundurkan diri karena berita itu? Terlalu berlebihan."
"Mereka hanya orang-orang bersumbu pendek. Merasa emosi atas kejadian yang sama sekali tidak perlu mereka urusi," sahut Yoongi sedikit apatis.
"Seandainya saja mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Yoongi bergeming di posisinya. Alpha itu mengurungkan niatan untuk membuka pintu ke bilik tempatnya bekerja dan menoleh pada Zhoumi, "Mwo?"
"Kau yang seharusnya berpacaran dengan Jimin, bukan?"
Pertanyaan itu membuat Yoongi terperangah. Ia merasakan mulutnya seperti tersimpul di ujung, membuatnya merasa gagu untuk kalimat jawaban yang hendak ia utarakan. "Apa menurutmu kami terlihat seperti berpacaran? Bahkan aku sama sekali tidak pernah muncul ke publik bersamanya."
"Apakah dengan kalian tidak muncul ke publik berduaan, maka sama artinya dengan kalian sama sekali tidak menjalin hubungan sama sekali?"
"Kalau kau membuat asumsi hanya karena dugaan-dugaan yang tidak terbukti, lebih baik kau jangan berasumsi sama sekali, Hyung."
"Aku tidak akan membuat rumor macam-macam, Yoongi-ah. Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya penasaran apakah kalian menjalin hubungan atau tidak. Bukankah dulu kau tampak tertarik padanya?"
"Hanya karena aku tertarik, bukan berarti aku harus mengencaninya," jawab Yoongi singkat.
"Tapi aku masih penasaran. Apakah Jimin benar-benar hamil?"
Yoongi kali ini nyaris bergerak maju ke hadapan Beta yang lebih tua darinya itu, memasang wajah marah. Zhoumi dapat merasakan perubahan aura di sekitar Yoongi, dan tanpa sadar Beta itu berjengit mundur dan menjatuhkan berkas-berkas rekaman lagu ke atas lantai. "Jangan pernah mencampuri apa yang bukan urusanmu, Hyung."
Zhoumi tampak merasa sedikit bersalah dan ketakutan saat aroma sitrus Yoongi berubah menjadi aroma yang meremangkan tengkuk di tubuhnya, "Um, Yoongi-ah, aku tidak bermaksud—kurasa aku terlalu kelewatan, eo? Aku benar-benar minta maaf. Mianhae."
Yoongi menatap berkas-berkas yang bertebaran di atas lantai, dan ia langsung menyadari perubahan sikapnya yang dirasanya tidak pantas. Ia hanya membungkukkan tubuh untuk mengambil berkas-berkas tersebut dan menaruhnya kembali di atas meja. Alpha itu memelankan suaranya, "Kau tidak perlu minta maaf, Hyung. Hanya saja… Kurasa kau tidak perlu melangkah lebih jauh untuk tahu tentang hubungan kami. Tapi aku akan mengakui satu hal, aku dan Jimin memang menjalin hubungan."
Wajah Zhoumi sama sekali tidak terkejut, tetapi justru ia tersenyum, "Chukhahamnida, kalau begitu. Akhirnya kau bisa mendapatkan Omega yang selama ini kau inginkan."
Yoongi mendengus, "Kuharap kau bisa menjaga rahasia ini, Hyung."
Zhoumi yang menjawab dengan anggukan masih terlihat hendak menanyakan pertanyaan lain pada Alpha itu, tapi kemudian ia mengurungkannya. Beta itu hanya tersenyum dan membereskan file di atas meja sambil berkata. "Apapun yang terjadi, semoga kalian berdua bahagia. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikirkan."
"Itulah yang hendak aku lakukan," kata Yoongi sambil beranjak menuju bilik tempatnya bekerja.
Begitu ia masuk ke dalam bilik, Alpha itu melemparkan tas selempang dan topinya ke atas sofa dan menjatuhkan diri di atas meja kerja. Setidaknya apa yang dikatakan Zhoumi benar. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikirkan jika hal tersebut membuatnya merasa bahagia. Tetapi ia tidak yakin Jimin akan merasa bahagia dengan keadaan mereka sekarang, dengan rumor yang masih terus menguar di jajaran media sosial.
Yoongi tanpa sadar tertidur di atas kursi kerjanya dengan posisi kepalanya terjuntai dari sandaran punggung, menyebabkan rasa nyeri di bagian lehernya. Sambil merenggangkan otot dan persendian tubuh, ia bangkit dari kursi dan melihat ke luar jendela. Langit di luar sudah hampir setengah gelap, dan Yoongi menyadari bahwa ia tertidur lebih panjang daripada yang ia harapkan. Sambil menghela napas jengkel, Alpha itu berjalan keluar dari bilik ruang kerjanya dan melihat area studio rekaman telah kosong seluruhnya. Zhoumi dan Jihoon telah pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka (atau mungkin mereka terlalu bosan dengan keadaan kantor perusahaan yang setiap harinya semakin sepi?).
Ia melihat ke arloji baru yang telah dibelinya beberapa minggu lalu dengan gaji baru, dan mencelos kaget setelah menyadari bahwa jam telah menunjukkan pukul 6 sore. Ah, sepertinya ia harus mengabari Jimin bahwa ia akan pulang larut karena masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan hari ini.
Yoongi setengah berlari menuju lantai 2 untuk membeli minuman di vending machine, saat ia berpapasan dengan Jungkook. Alpha muda itu terlihat sedikit kuyu akibat kekurangan tidur, tetapi bentuk tubuh atletisnya yang kencang oleh otot-otot, menandakan bahwa ia tidak pernah berhenti berlatih fisik. Begitu ia melihat Yoongi, Jungkook langsung berlari menghampirinya dan nyaris menabrakkan diri ke permukaan kaca vending machine.
"Suga-hyung—" ucap Jungkook dengan suara rendah, setengah menyapa dan menghardik Alpha itu, "Kau pasti tahu soal Jiminie-hyung…"
Yoongi sudah menduga Jungkook akan menanyai soal Jimin padanya. Sekali ia pernah menjemput Jimin saat Alpha itu berada di apartemen yang diinapi oleh Jimin bersama dengan Taehyung dan Jungkook, dan sekali sewaktu Yoongi tanpa sebab ikut makan bersama BTS di area foodcourt kantor. Ia langsung menebak bahwa Jungkook pasti mencurigai sesuatu di antara mereka, "Ne, aku sudah lihat beritanya."
"Itu bukan bayi dari Namjoon-nim 'kan?" tanya Jungkook dengan dahi berkernyit.
"Kurasa bukan," jawab Yoongi jujur. "Kau tahu, kan bagaimana media bisa dengan mudahnya memuntirkan berita saat ini."
"Terakhir aku melihatmu bersama Jiminie-hyung, kau mengantarnya dari rumah sakit," kata Jungkook. "Apa kau yang—"
Yoongi tidak mungkin menjawab pertanyaan satu ini, ia hanya mengatakan, "Aku mengantarnya bersama dengan Namjoon-nim pada saat itu."
"Kau pasti tahu apa yang terjadi padanya saat ini," Alpha muda itu langsung menyambut perkataannya, "Hobi-hyungie sama sekali tidak mau memberitahu kami apa yang terjadi. Aku tahu bahwa Jiminie-hyung tidak cedera. Pasti ada yang kalian sembunyikan. Aku dan Taehyungie-hyung harus tahu apa yang terjadi. Kami bertiga adalah satu tim." Matanya yang besar membulat, membuatnya tampak polos—tidak seperti Alpha pada umumnya.
Yoongi mengerti betul bahwa saat ini Jungkook sangat mengkhawatirkan Jimin. Omega itu sama sekali tidak mengucapkan perpisahan sewaktu Namjoon setuju dan memutuskan untuk merumahkan Jimin di apartemen Yoongi. Taehyung dan Jungkook hanya dikabari bahwa jadwal comeback kedua mereka akan diundur hingga tahun depan karena cedera yang diderita oleh Jimin, tanpa penjelasan langsung dan mempertemukan ketiga rekan yang sudah lama tinggal seatap tersebut di saat-saat sebelum Jimin mundur dari pandangan publik.
Setidaknya Taehyung dan Jungkook butuh penjelasan, bukan hanya diam dan termakan oleh rumor yang menggerayangi rekan satu tim mereka.
"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan dirinya," ucap Yoongi dengan hati-hati.
Wajah Jungkook sedikit berseri-seri dan menampakkan kelegaan mendengar ucapan Yoongi. "Lalu di mana dia sekarang? Aku sudah tahu apa yang terjadi di antara kalian," katanya dengan hati-hati.
"Memangnya apa yang terjadi di antara kami?"
"Kalian umm—pernah tidur bersama, kan?"
Yoongi menaikkan sebelah alisnya, "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Aku tahu karena aku pernah mencuri dengar sekali kalau kalian akan menghabiskan heat bersama-sama."
Yoongi tidak bisa mengontrol rona merah muda di wajahnya. Bukan hanya Zhoumi, tapi Jungkook juga curiga akan hubungan yang terjadi antara dirinya dengan Jimin. Ia yakin, bahwa sebenarnya ada beberapa orang lain lagi yang sudah mengetahui hubungannya dengan Jimin (selain Namjoon dan si brengsek Chanyeol tentunya). "Itu—" Yoongi terbatuk pelan, berusaha untuk tidak membuat suasana di antara mereka menjadi canggung. Ia memang masih belum begitu mengenal Jungkook, tapi ia tahu bahwa anak di hadapannya ini adalah anak yang baik-baik dan tulus mencemaskan Jimin. "Sekarang ia tinggal di apartemenku. Aku akan mempertemukan kalian, jika kau mau."
Senyuman merekah di wajah Jungkook, "Bisakah aku mengajak Taehyungie-hyung?"
"Bisa, asalkan hanya kalian berdua yang datang ke apartemenku," Alpha itu berkata. "Besok, datanglah ke apartemenku pada malam hari, dan kalau bisa jaga identitas kalian sebaik mungkin. Mengerti?"
Jungkook mengangguk mantap dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak menawarkan high five pada Alpha yang lebih tua tersebut. Yoongi pada awalnya enggan untuk membalas tawaran high five Jungkook, tapi kemudian ia menepukkan telapak tangannya ke tangan Alpha muda itu.
"Aku akan datang jam 9 malam bersama Taehyungie-hyung. Dan aku berjanji tidak akan membocorkan tentang ini pada siapa-siapa," Jungkook berjanji. Ia menggaruk kepalanya dengan sikap agak malu-malu saat berkata, "Kurasa aku merasa sedikit lega dan senang karena kaulah kekasih dari Jimin-hyung. Gamsahamnida, karena kau telah menjaganya, hyung."
Yoongi tersenyum kecil, "Bukan masalah besar. Sudah merupakan kewajibanku."
Jungkook meninggalkannya untuk kembali ke ruang latihan, meski kini jadwal latihan mereka menjadi lebih longgar karena Jimin sudah tidak bergabung bersama mereka lagi.
Yoongi menyeruput kaleng berisi cairan kental kopi. Ia berkontemplasi selama beberapa menit, apakah ia harus mengabari Jimin atau tidak bahwa Jungkook dan Taehyung akan bertandang ke apartemennya untuk menemui Omega itu.
Beberapa hari lalu, sewaktu Jimin memutuskan untuk menelepon kedua orang tuanya, Yoongi sudah bisa menduga reaksi marah yang diberikan oleh kedua orang tua Jimin. Ia melihat Jimin berusaha menahan air matanya, sementara ayahnya tidak berhenti mengomelinya—menyuruhnya untuk kembali ke rumah. Tetapi kemudian, lewat pengeras suara ponsel, Yoongi langsung menyadari bahwa ayah Jimin juga ikut menangis di telepon. Ia mengerti betul bahwa pria Beta tersebut pasti merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi pada Jimin—mengetahui bahwa putranya hamil dan terlibat kasus perselingkuhan dengan Namjoon yang seharusnya bertindak sebagai wali dan atasan putranya, tetapi di lain sisi juga tidak memiliki perasaan tega untuk membuang anaknya dari daftar nama keluarga. Ketika Yoongi mengambil alih percakapan telepon, ia langsung memperkenalkan dirinya pada ayah Jimin; menjelaskan situasi yang sesungguhnya. Ia juga mengaku bahwa ialah ayah dari bayi yang dikandung oleh Jimin.
Ada jeda cukup lama di sana, dan Yoongi bisa merasakan pegangannya di ponsel Jimin mengeras akibat rasa tegang. Kemudian ia mendengar suara helaan napas yang pasti dikeluarkan oleh ayah Jimin yang bertanya padanya, "Jadi, apa kau akan bertanggung jawab dengan mengklaim dan menikahi putraku?"
Tanpa ragu sedikitpun, Yoongi menjawab mantap, "Aku akan melakukannya, cepat atau lambat. Karena aku mencintai putra Anda."
Kembali ada jeda di sana. Tetapi kemudian suara ayah Jimin kembali berkata, "Kalau kau benar-benar bersedia melakukannya, aku harap kau berani menampakkan dirimu ke rumah kami bersama Jimin dan bertanggung jawab atas semuanya."
"Aku akan melakukannya pada awal Agustus nanti," kata Yoongi meyakinkan.
Beta itu tidak kembali menyahut ucapan Yoongi dan justru mematikan sambungan telepon.
Yoongi kemudian bergerak untuk mencium dahi Jimin, mengabarkan bahwa mereka harus berangkat ke kampong halaman Jimin di Busan pada Agustus mendatang. Jimin tidak mengiyakan, tapi Yoongi tahu betul bahwa Jimin pasti akan menyetujui keputusannya.
Dan kini, begitu Taehyung dan Jungkook mendatangi Jimin di apartemennya, ia berharap bahwa kedua namja tersebut tidak akan membuat Jimin semakin tertekan dalam menghadapi situasi yang sedang dihadapi saat ini.
Setelah ia menghabiskan satu kaleng kopi,
16 Juli 20xx, Seoul
08.21 p.m
Jimin menghabiskan waktu seharian untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa ia lakukan di apartemen Yoongi. Apartemen itu berukuran jauh lebih besar daripada apartemen yang ditinggali oleh Yoongi sebelumnya karena berbentuk kondominium. Apartemennya terdiri dari beberapa unit dengan fasilitas lengkap mulai dari gym, kolam renang, pusat perbelanjaan, area olahraga, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk ruang apartemen yang kini menjadi hunian tetap Yoongi, terdiri dari satu ruangan besar yang terbagi menjadi ruang TV, ruang dapur dan ruang makan. Di dekat balkon, terdapat ruang laundry kecil dan sebuah gudang penyimpanan. Sebenarnya ada dua kamar tidur besar di dalam apartemen tersebut, tetapi Yoongi bersikeras agar Jimin selalu tidur bersamanya. Toh ruangan walk in closet di dalam kamar mereka terlalu besar untuk diisi oleh pakaian-pakaian yang dimiliki oleh Yoongi.
Setiap kali Yoongi pergi untuk bekerja, Jimin selalu menyibukkan diri dengan membersihkan sudut rumah, mengelap permukaan meja dan meja counter dapur hingga mengkilap, mencuci dan menjemur pakaian, membereskan tumpukan buku-buku yang tidak terbaca pada tempatnya, lalu memasakan masakan yang setidaknya dapat ia telan dengan mudah. Dengan menyibukkan diri, Omega itu tidak akan merasa bosan ataupun kesepian. Karena sudah hampir berminggu-minggu lamanya ia tidak menemui manusia-manusia selain Yoongi ataupun sekadar tukang pengirim paket dan petugas pengambil sampah.
Jika Omega itu merasa jenuh, ia akan membuatkan dirinya secangkir teh hangat yang juga dapat mengurangi rasa mualnya menjelang waktu makan, ataupun dengan membaca buku. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menjauhi media sosial, takut akan menemui hal-hal yang tidak diinginkannya. Adapun jika ia ingin menonton TV, ia hanya akan menonton saluran yang menayangkan film-film luar setiap jamnya. Terkadang ia hanya akan memilih bersantai-santai di atas sofa, memandang langit-langit ruang tengah sambil mengusap perutnya yang sudah lebih besar daripada yang dirasakannya berminggu-minggu lalu.
Bulan ini ia memasuki kandungannya yang ke 14 minggu. Seharusnya ia pergi untuk memeriksakan kandungannya ke dokter, tetapi ia masih merasa ketakutan untuk pergi dan bertemu dengan banyak orang. Sudah pasti akan ada beberapa orang yang mengenali dirinya sewaktu ia berjalan di tempat umum, dan melihat penampilannya, tentu akan membenarkan rumor bahwa dirinya sedang hamil. Jimin takut membayangkan bagaimana reaksi orang-orang saat mereka melihat dirinya memang tengah mengandung. Meski demikian, ia mulai merindukan Taehyung, Jungkook, Hoseok, manajer Leeteuk, dan semua staff yang bisa diingatnya.
Tangan Jimin bergerak untuk mengusap perutnya. Jika apa yang ia baca di internet benar, ia akan merasakan bayinya bergerak di antara minggu ke 16 minggu ke 24. Bayangan bahwa bayinya akan mulai benar-benar hidup di dalam tubuhnya, membuat Jimin tersenyum lembut. Ia tidak sabar untuk mengajak Yoongi merasakan bayi mereka—ya, bayi mereka; karena ia dan Yoongi benar-benar berharap bahwa bayi yang dikandungnya adalah memang benar bayi mereka—lalu menunggu sampai saat persalinan tiba. Memang tidak semudah itu karena ia mulai merasakan dampak negatif dari kehamilannya; mulai dari rasa mual yang tidak bisa diduga-duga, hormonnya yang mulai membludak tanpa sebab, punggung dan panggulnya yang selalu terasa berdenyut-denyut ngilu, ataupun rasa lelah yang semakin mudah menyerangnya. Jimin benci mengalami semua itu, tapi ia bisa merasakan dirinya bergejolak dengan rasa gembira bahwa sebentar lagi ia akan bisa menggendong bayinya dengan kedua tangannya sendiri.
Senyumannya semakin mengembang saat ia membayangkan Yoongi yang selalu terlihat antusias saat memegang perutnya yang mulai membesar. Juga reaksi ayahnya ketika Yoongi mengambil alih percakapan mereka. Setidaknya ia masih punya harapan untuk meluruskan dan memberi penjelasan pada keluarganya di Busan. Di perasaan terdalamnya, Jimin merasa bangga dapat memiliki Alpha yang begitu rela membela dan melindunginya sampai sejauh ini. Di matanya, Yoongi yang sangat protektif terlihat seksi.
Mungkin hormone yang membuatku berpikir begitu….
Suara bel membuyarkan Jimin dari lamunannya. Omega itu dengan agak susah payah bangkit dari sofa dan menuju pintu masuk.
Begitu pintu terbuka, Jimin tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat melihat di belakang Yoongi, kini berdiri Taehyung dan Jungkook. Keduanya mengenakan masker untuk menutupi identitas mereka.
"M-mwo—"
"Aku yang membawa mereka ke sini," kata Yoongi pendek.
Wajah Jimin berubah marah bercampur heran, merasa terkhianati begitu ia melihat kedua rekan-rekannya berdiri tepat di belakang Yoongi, "Kukira kita sudah berjanji—"
Taehyung langsung maju, menerobos Yoongi dan menyergap ke arah Jimin. Tidak tanggung-tanggung rekan Jimin yang juga merupakan sesama Omega sepertinya melemparkan pelukan hangat ke tubuh mungil Jimin. Rasa rindu tersiratkan di wajah Taehyung begitu ia memeluk tubuh Jimin.
"Jiminie—Chim! Kau ke mana saja?! Aku merindukanmu!" ia hampir menangis saat ia mendekap pinggul Jimin, "Kau sama sekali tidak bilang apa-apa pada kami! Dan tiba-tiba saja kau menghilang, dan media sudah memberitakan hal-hal yang buruk padamu!"
Mendengar suara sahabatnya bergetar karena isakan tangis yang tertahan, Jimin tidak dapat membendung airmatanya lagi.
"Kau benar-benar jahat pada kami, pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun," kata Taehyung lagi, "Kau tidak tahu betapa aku dan Jungkookie begitu panik sewaktu mendengar kalau kau cedera?"
Jimin menatap Taehyung dengan mata yang basah, "V—Tae—aku tidak ingin menyakiti perasaan kalian—"
Di seberang mereka, Yoongi dan Jungkook saling berpandangan, merasakan suasana berubah canggung di antara mereka. Suara dehaman dari Yoongi lah yang pada akhirnya menghentikan reuni singkat antara dua Omega yang saling menangisi satu sama lain, "Mungkin lebih baik kita bisa meluruskan semuanya di dalam. Orang-orang akan mulai curiga kalau kita saling bertangis-tangisan di luar sini."
Mereka masuk ke dalam apartemen Yoongi tanpa berbasa-basi lagi. Jimin mendudukkan diri di atas sofa, diikuti oleh Taehyung dan Jungkook. Sementara Yoongi bergerak ke dapur untuk menyiapkan minuman. Alpha itu memperhatikan kekasihnya dengan tatapan khawatir saat ia melihat wajah Jimin sudah dibanjiri oleh air mata dan hidungnya memerah karena cairan lendir yang memenuhi hidungnya.
Jungkook memecah keheningan sesaat di antara mereka sambil menunjuk pada perut Jimin, "Umm, jadi—kau memang hamil, Hyung."
Jimin mengambil tisu yang sengaja memang telah disediakan oleh Yoongi di atas meja sejak kepindahannya ke apartemen Alpha itu (karena ia sama sekali tidak dapat memprediksi kapan Jimin akan mulai menangis tiba-tiba) untuk menyeka air mata dan ingusnya. "Apa perutku sudah terlihat sebesar itu?"
"Cukup besar daripada yang bisa kami ingat," kata Taehyung pelan. Ia melirik ke arah Yoongi secara sembunyi-sembunyi, "Kalau kau hamil, apa ayahnya adalah—" ia menunjuk pada Yoongi yang hendak mengantarkan satu nampan berisi cangkir-cangkir teh.
Yoongi berusaha terlihat acuh, tapi Taehyung dan Jungkook bisa melihat ujung telinga Alpha bersurai hitam itu memerah, "Ne, dia sedang mengandung anakku."
"Jadi kau tidak cedera, kan?" tanya Taehyung lagi, suaranya terdengar lega. "Kupikir kau tidak akan bisa menari lagi karena cedera. Hobi-hyung dan Leeteuk-hyungnim bilang kau cedera dan harus vakum sampai tahun depan. Tapi ternyata kau hanya—hamil."
Jimin meringis mendengar ucapan sahabatnya itu, "Tetap saja, dengan aku hamil, aku malah merusak karir kita dan menunda comeback kedua hingga tahun depan. Malah lebih baik aku cedera daripada aku harus membuang karirku karena aku tidak mungkin membiarkan anak ini dibesarkan oleh orang lain."
"Kalau kau berpikir begitu, kenapa kau tidak—" Jungkook menghentikan ucapannya dan terlihat enggan untuk mengucapkan kata-kata 'aborsi'.
Jimin mengerti apa yang dimaksud oleh maknae di grup mereka, dan cepat-cepat menyela, "Aku tidak ingin membunuh anak ini, padahal akulah yang membuat kesalahan. Anak ini…" tangannya mengusap perutnya, "Dia sama sekali tidak bersalah."
"Lalu rumor soal kau dan Namjoon-sajangnim! Kenapa kalian tidak membuat pernyataan yang sebenarnya saja? Masyarakat sekarang ini melihat perselingkuhan kalian berdua sebagai hal yang buruk!" seru Taehyung, "Sudah beberapa minggu ini banyak artis dan staff yang mengundurkan diri dari perusahaan karena rumor yang beredar tentang kalian berdua."
"Aku masih belum siap mengakui bahwa aku benar-benar hamil, Taetae," kata Jimin, meski wajahnya dirudung perasaan bersalah begitu Taehyung menyebutkan nama perusahaan NJE-C, tempatnya bekerja. "Sekarang saja aku masih takut untuk pergi keluar dan menemui orang lain. Bagaimana caranya aku menjelaskan pada mereka bahwa aku ini hamil?"
Jungkook menunjuk pada Yoongi, "Kenapa tidak katakan saja kalau kau dihamili oleh Suga-hyung, daripada membuat banyak orang kalau kau benar-benar dihamili oleh Namjoon-sajangnim? Setidaknya kau meluruskan satu hal."
"Mereka akan tetap membenciku," kata Jimin murung. "A-aku benar-benar minta maaf, karena gara-gara aku, kalian—"
Tangan Taehyung bergerak untuk mengusap tangan Jimin yang terkepal di atas pangkuannya, "Aku mengerti kalau kau sudah melanggar perjanjian untuk tidak berhubungan seks dan menjalin hubungan dengan Alpha lain selama kita masih menjadi satu grup. Kurasa aku juga bersalah karena aku sendiri dan Jungkookie—" Omega itu menoleh pada Jungkook yang menundukkan kepalanya dengan sikap agak malu, "—kami juga menjalin hubungan sejak lama. Tapi tetap saja kau harus meminta maaf karena kau pergi begitu saja tanpa menceritakan apapun pada kami."
Yoongi menatap Jungkook dan Taehyung secara bergantian, sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar, "Kalian—kalian berpacaran?" selama ini ia pasti akan mengira Taehyung setidaknya adalah seorang Beta atau setidaknya Alpha jika ia tidak mengenali aroma tubuh Omega itu. Dan mengetahui bahwa Jungkook yang lebih cenderung bersikap submisif dibandingkan dengan Taehyung yang seorang Omega, semakin mengejutkan Yoongi.
Jungkook hanya bisa tersenyum dengan sungkan, sementara Taehyung tersenyum bangga di sebelahnya, "Bahkan kami lebih baik daripada kalian dalam menyembunyikan hubungan!"
"Hyung, padahal kau sendiri yang mengingatkan kami untuk melakukan seks secara aman," kata Jungkook sambil bergurau, "Tapi lihatlah, sekarang kau yang malah hamil duluan dibanding Taehyungie-hyung. Apa kalian sama sekali tidak menggunakan pelindung apapun?"
Kali ini ucapan tersebut membuat Jimin dan Yoongi saling bertatap-tatapan, ada keraguan di balik wajah mereka.
Taehyung menyadari perubahan ekspresi di wajah mereka, "Eo? Kenapa wajah kalian terlihat tidak yakin begitu?"
Yoongi yang sejak beberapa menit lalu telah duduk di sebelah Jimin, memandangi kekasihnya yang terlihat bimbang apakah lebih baik ia menceritakan semuanya pada Taehyung dan Jungkook, atau merahasiakan semuanya. Yoongi memberikan gestur pada Jimin agar Omega itu yang memutuskan, dan dibalas oleh Jimin dengan tatapan tajam. Mereka berdebat lewat tatapan mata, sampai akhirnya Yoongi memutuskan untuk mengambil alih, "Sebenarnya, kami masih belum yakin siapa ayah yang dikandung oleh—Jimin."
Taehyung mengerutkan dahinya dengan bingung, sementara Jungkook membulatkan mata dan membuka rahangnya—hal yang biasa ia lakukan jika ia heran.
"Apa maksudmu kau tidak yakin?" tanya Taehyung. "Kau mau mengatakan bahwa Jimin ada kemungkinan mengandung anak Namjoon-sajangnim?"
"Jadi kalian memang berselingkuh?!" Jungkook menambahkan dengan tidak percaya.
Jimin menguatkan pegangan tangannya di punggung tangan Yoongi, "Aku memang pernah menjalin hubungan dengan Namjoon-sajangnim—"
"Jjinja?!" Taehyung dan Jungkook berseru di saat yang bersamaan, nyaris melompat dari sofa.
"—tapi kami sudah lama putus karena sudah pasti dia lebih memilih istrinya."
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?"
Jimin meringis kecil saat ia menjawab pertanyaan Taehyung, "Sejak kita baru saja terpilih di audisi."
"Jadi dia benar-benar mengimingimu untuk berhubungan seks dengannya karena—"
"Tentu saja tidak!" ucap Jimin memotong ucapan Taehyung, "A-aku memang jatuh cinta padanya dari awal. Dia punya aura—aura Alpha yang membuatnya tampak seratus kali lebih menarik ketimbang Alpha lainnya. Dia juga cerdas, ramah, hangat, begitu baik dan memikirkan banyak orang. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya?"
"Dia memang punya kepribadian yang menarik. Dan harus kuakui dia terlihat sangat seksi begitu kau mengenalinya secara dekat," Taehyung menyetujui ucapan Jimin tanpa memperhatikan bibir Jungkook yang tertarik ke bawah dengan tidak senang, "Tapi bagaimana kalian bisa—"
"Intinya adalah, hubungan mereka sudah berakhir," Yoongi menyela dengan gestur tangannya, "Kita tidak perlu membicarakannya sampai sejauh itu."
"Lalu kenapa wajah kalian tadi terlihat tidak yakin?" Taehyung menaikkan sebelah alisnya.
Jimin menarik napas dan menghembuskannya, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengaku, "Sewaktu heat terakhirku, aku dan Yoongi-hyung berhubungan seks—"
Jungkook menganggukkan kepalanya, "—lalu, boom! Kau hamil—"
"—dan muncul—Alpha lain," Yoongi melanjutkan ucapan Jimin. Ia bisa merasakan tangan Jimin gemetaran. Alpha itu mengusap lengan Jimin dengan lembut, berusaha untuk menenangkan Omega yang dicintainya. Bahkan hingga sekarang, jika Omega itu kembali mengingat kejadian di mana Chanyeol memperkosanya, Jimin akan tetap merasa terbayang-bayang oleh bayangan mengerikan tersebut.
Ekspresi Taehyung dan Jungkook benar-benar terlihat terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yoongi.
"S-siapa?" Taehyung melihat ke Jimin dan Yoongi secara bergantian, "Tapi kau bilang kau mengandung anak dari Yoongi-hyung—"
"A-aku tidak yakin seratus persen kalau aku mengandung anaknya—"
"Lalu siapa kemungkinan ayah lain dari anakmu itu?"
Jimin tidak yakin dapat menjawab pertanyaan Taehyung. Matanya menatap pada mata Yoongi, meminta agar kekasihnya yang menjawab untuknya. Yoongi menjilat bibirnya sekilas, "Park Chanyeol."
Wajah Taehyung memucat begitu ia mendengar nama Chanyeol. Di sebelahnya, Jungkook mengernyitkan dahi, "Huh? Bukannya Chanyeol-sunbaenim berpacaran dengan Baekhyun-sunbaenim? Kenapa dia—aku tidak mengerti—"
"Apa Chanyeol-hyung memper—" Taehyung tampak panik saat ia menyadari arti dari ucapan Yoongi. "Jadi, alasan dia dan Baekhyunnie-hyung putus karena dirimu?"
Yoongi kembali membela Jimin, "Alpha brengsek itu, sepertinya dia sudah lama menguntit Jimin," ia menjelaskan. "Saat kami menghabiskan heat bersama, tiba-tiba saja dia muncul entah dari mana, dan karena saat itu aku harus menghadiri preview dari rekaman mixtape, aku meninggalkan Jimin tanpa perlindungan."
Kali ini Jungkook yang menyumpah, "Kau serius mengatakannya?" matanya membulat karena kaget, "Seharusnya kalian melaporkannya ke polisi! Kalian tidak bisa membiarkannya begitu saja! Bagaimana kalau ternyata Jiminie-hyung benar-benar mengandung anaknya?! Kenapa harus Suga-hyung yang bertanggung jawab?!"
"Pertama karena aku memang yakin bahwa Jimin mengandung anakku, bukan anak si brengsek Chanyeol ini, karena itu akan mengakui anak ini sebagai anakku," jawab Yoongi, "Kedua, tidak semudah itu menuntut dan menyeret Chanyeol ke pihak hukum. Dia berada di bawah perlindungan perusahaan SM, yang merupakan saingan besar Namjoon-nim sejak dulu. Pasti pihak SM akan melindunginya mati-matian jika kita tidak punya bukti yang mendukung."
"Chim…" Taehyung berdiri dari sofa untuk memeluk sahabatnya, "Aku tidak menyangka bahwa masalahmu akan sesulit ini."
Tubuh Jimin gemetaran di rangkulannya, "A-aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa—"
"Kalau kau butuh bantuan, kami akan siap memberikannya sebaik yang kami bisa," kata Jungkook meyakinkan Jimin, "Tidak kusangka Chanyeol-sunbaenim bisa seberengsek itu," tangannya terkepal, menunjukkan guratan urat yang agak menakutkan di mata Yoongi.
"Aku harap kalian tidak akan mengatakan ini pada siapapun," kata Yoongi.
"Tentu saja tidak!" ujar Taehyung dengan nada tinggi, "Kami tidak akan mengatakan soal ini pada siapapun!"
Jimin mengusap wajahnya yang kembali berlumuran airmata, "Gomawoyo. Seharusnya sejak awal aku menceritakannya pada kalian."
"Kapan saja, Chim," kata Taehyung sambil tersenyum.
Taehyung dan Jungkook menghabiskan waktu lebih lama hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Mereka mengobrolkan banyak hal. Jimin merasa bebannya sedikit terangkat begitu ia kembali berkumpul bersama rekan-rekan satu timnya. Begitu Taehyung dan Jungkook pergi meninggalkan apartemen Yoongi, Yoongi langsung menggendong Jimin menuju kamar tidur. Jimin tidak memberontak saat Yoongi dengan dua gerakan mudah, mengangkat kedua kakinya dari atas lantai dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Hyung, aku sama sekali belum menyikat gigiku," keluh Jimin sambil tertawa geli sewaktu Yoongi ikut menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
"Aku tidak peduli," kata Yoongi, "Karena baumu tetap harum seperti biasanya."
Jimin mendorong tubuh Yoongi sambil kembali tertawa, lalu ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Yoongi tidak melepaskan matanya dari Jimin, menyadari jika perut Jimin sedikit lebih besar dari yang diingatnya kemarin hari. Jantung Yoongi kembali berdegup mengingat tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah.
Siap atau tidak siap, kau harus mulai terbiasa dengan panggilan Appa.
Lalu matanya melihat ke jam weker di nakas, yang menunjukkan pukul 12 lewat 5 dinihari. Sudah masuk ke tanggal 17 Juli. Artinya 13 hari lagi ia akan menghadiri acara Korean Broadcasting Awards seminggu lagi.
Yoongi menyiapkan rencana di dalam pikirannya.
24 Juli 20xx, Seoul
05.06 p.m
"Hyung, kurasa kau akan jauh lebih baik jika mengenakan jas hitam ini," Yoongi bisa mendengar suara Jimin berkata padanya dari ruangan walk in closet. Yoongi berjalan menuju ruangan tersebut dan menemukan Omega yang telah tinggal bersamanya selama hampir sebulan itu sedang menyandingkan dua buah jas berwarna hitam di depan wajahnya. Begitu ia mendengar suara langkah kaki Yoongi berjalan ke arahnya, Jimin menoleh dan menawarkan jas hitam dengan kerah berwarna putih pada Alpha tersebut. "Kurasa warna putih ini bagus jika dikenakan bersama dengan baju kerah turtleneck."
Yoongi mengecup bibir Jimin dan mengambil jas hitam yang telah dipilihkan untuknya dari tangan Omega itu, "Ah, gomawoyo, yeobo."
Bibir Jimin terbuka sedikit saat ia mendengar Yoongi memanggilnya dengan nama sebutan baru, "Umm, hyung? Barusan kau memanggilku apa?"
Wajah Yoongi yang terlihat datar menampakkan bahwa ia tidak menangkap maksud dari pertanyaan Jimin, "Eo? Yeobo?"
Rona merah yang menghiasi wajah Omega bersurai pirang tersebut menyiratkan rasa tersipu dan sedikit kikuk ketika Yoongi memanggilnya dengan sebutan baru yang tidak biasa ia dengar. Yoongi hanya terkekeh mendengar reaksi menggemaskan dari Jimin, "Kurasa kita harus segera membiasakan diri memanggil satu sama lain dengan panggilan yang lebih intim," ia meletakkan salah satu tangannya di atas perut Jimin, "Saat anak ini lahir, aku tidak ingin dia memanggil kau dan aku dengan nama panggilan kita."
Jimin tersenyum dengan kedua matanya, "Bagaimana kalau ternyata dia juga memanggilku dengan sebutan 'yeobo'?"
"Kau mau aku memanggilmu dengan sebutan Eomma?" Yoongi menaikkan sebelah alisnya.
Tawa yang terdengar dari mulut Jimin membuat Yoongi ikut tertawa, "Ah, hyung, cepatlah kenakan jasmu! Kau bilang kalau Heechul-hyung akan menjemputmu jam setengah enam, kan!"
Yoongi melihat arlojinya yang telah ia pasang sejak beberapa saat yang lalu, "Masih ada sekitar dua puluh menit lagi sebelum ia tiba di sini," kata Alpha itu tanpa terpengaruh sedikitpun. Hingga saat ini, ia masih belum menceritakan sama sekali pada Heechul kalau Jimin tinggal satu apartemen dengannya. "Kalau kau mendengar suara bel, lebih baik aku yang membukakan pintu."
Jimin mengangguk dan berjalan keluar dari ruang walk in closet, sementara Yoongi mencoba mengenakan jas yang telah dipilihkan oleh Jimin. Begitu ia selesai merapikan diri dan resmi berpakaian lengkap, ia pergi menuju ruang tengah dan menemukan Jimin sedang menyeduh teh untuknya. Senyuman Jimin mengembang begitu ia melihat Yoongi telah selesai berpakaian. Omega itu langsung menghampiri Yoongi dan memberi kecupan di pipinya, berjengit senang saat ia menginspeksi penampilan Yoongi dari bawah hingga ke atas.
"Kau tampan sekali, Hyung. Untung saja aku yang memilihkan jas itu untukmu," katanya bangga sambil merapikan kembali kerah jas yang dikenakan oleh Yoongi.
"Jadi, kalau kau tidak memilihkan jas ini untukku, kau akan bilang aku jelek, eo?" tanya Yoongi sambil setengah bergurau.
Jimin menepuk lengannya, "Kau selalu terlihat sempurna."
"Tidak sesempurna dirimu," balas Yoongi. Ia memberi ciuman di bibir Jimin saat suara bel berdering dari pintu masuk. Yoongi langsung buru-buru mengambil dompet dan mengenakan sepatu. "Aku harus jalan sekarang. Jangan lupa untuk makan malam dan menontonku malam ini, oke?"
Jimin setengah mendorong bahu Yoongi, "Tentu aku akan menontonmu, babo! Balle, jangan membuat orang lain menunggu!"
Yoongi bergegas keluar dari apartemennya dan menemukan Heechul telah berpakaian resmi sama seperti dirinya. Beta tersebut memberikan tatapan yang menyiratkan rasa apresiasi terhadap penampilan Yoongi. "Jasmu boleh juga, Yoongi-ah."
Alpha itu hanya mendengus.
Keduanya pergi menuju tempat parkir di mana supir pribadi Heechul beserta manajer yang telah disiapkan oleh Namjoon untuk Yoongi telah siap untuk membawa mereka ke acara besar Korean Broadcasting Awards. Mereka tiba hanya dalam waktu 15 menit perjalanan.
Meski sebelumnya Yoongi telah pergi ke acara peluncuran album barunya, acara sebesar ini sama sekali bukan apa-apa. Ia bisa merasakan tangannya mulai berkeringat dingin. Di sebelahnya, Heechul memberinya dukungan moral, memberinya semangat. Sewaktu hampir tiba gilirannya, Yoongi bisa merasakan mulutnya berubah kelu. Cahaya yang dihasilkan oleh jepretan kamera membuatnya sedikit pusing, dicampur bau bermacam-macam Alpha, Beta, Omega, dan parfum lainnya yang membaur jadi satu.
Selesai ia menghadiri wawancara dan interview singkat dengan berbagai macam media reporter—yang kebanyakan adalah menanyakan penjualan albumnya yang terbilang sangat besar dan rumor perselingkuhan Jimin dengan Namjoon (Yoongi yakin bahwa para reporter dan pewawancara tersebut sama sekali tidak bisa memikirkan pertanyaan lain selain dua pertanyaan itu), manajer baru yang dipilih oleh Namjoon untuknya mengantarnya ke tempat duduk yang telah disiapkan oleh panitia acara. Yoongi hampir menghela napas lega sewaktu ia tahu bahwa ia duduk bersebelahan dengan Heechul, dan hampir kecewa karena Heechul sama sekali tidak berhenti menyapa para Beta wanita dan Omega yang ditemuinya.
Saat ia hampir mencapai tempat duduknya, ia melihat Chanyeol—berjalan berlawanan arah dengannya. Alih-alih mencari kursi seperti dirinya, Chanyeol justru menarik perhatian semua orang karena reputasinya saat ini sebagai seorang rapper sekaligus aktor terkenal. Hidung Yoongi mengerut saat ia mencium aroma metalik kuat dari Alpha itu—aroma yang selama ini membuatnya ingin muntah begitu ia membayangkan bahwa kekasihnya telah diperkosa oleh Alpha tersebut.
Chanyeol menyadari keberadaan Yoongi begitu ia mengalihkan wajahnya ke depan. Yoongi tidak dapat menahan geraman yang keluar dari tenggorokannya begitu Chanyeol menawarinya dengan senyuman berkesan angguh. Sewaktu mereka tepat berpapasan, ia bisa mendengar suara Chanyeol berkata padanya, "Chukhahamnida atas penjualan album mixtapemu. Kudengar penjualan albummu mengalahkan albumku."
Yoongi menjawab dengan nada datar dan pelan, "Gamsahamnida."
Chanyeol meletakkan tangannya ke bahu Yoongi, berbisik pelan ke telinganya, "Kuharap kau masih tetap bersama dengan Jimin, setelah tahu bahwa mungkin saja Jimin tidak mengandung anakmu." Yoongi dapat mendengar jelas bisikan rendah Alpha itu meski suara teriakan riuh bergema di mana-mana, "Tapi bukankah menjijikkan, mendengar bahwa Omegamu itu pernah berhubungan dengan atasanmu sendiri karena iming-iming akan diterima sebagai anggota BTS?"
Geraman kembali meluncur dari mulut Yoongi sewaktu ia menepis tangan Chanyeol. Matanya menatap Chanyeol dengan tatapan mengancam, dan melihat sorot mata Chanyeol yang sedikit terintimidasi, Yoongi yakin bahwa aroma sitrus dari tubuhnya kini lebih pekat daripada biasanya akibat emosi yang membludak di dadanya. "Aku bisa saja menghancurkan wajahmu begitu aku keluar dari tempat ini."
Chanyeol tertawa canggung, ia mengangkat kedua tangannya dan buru-buru meminta manajer dan bodyguard yang telah ia sewa untuk mencarikan tempat duduk untuknya. Alpha itu beringsut meninggalkan Yoongi dengan langkah kikuk.
Yoongi tidak melepaskan tatapan marahnya ke arah Chanyeol, sampai Alpha bersurai hitam itu menghilang di antara kerumunan para artis yang baru datang. Heechul bertanya padanya dengan penasaran, "Sepertinya kau sudah kenal cukup jauh dengan Park Chanyeol, eo?"
"Hmm, tidak juga," sahut Yoongi agak ketus.
"Pasti hari ini dia juga akan dihadiahi penghargaan," kata Heechul seperti tidak menangkap nada ketus di ucapan Yoongi. "Kudengar drama yang ia bintangi mendapatkan rating tertinggi si ejak satu dekade terakhir."
Yoongi tidak peduli. Ia menghadiri penghargaan ini bukan untuk bertemu dengan Chanyeol. Ia melihat ke sekelilingnya, satu auditorium umum telah penuh dengan tamu undangan dan orang-orang yang dengan sengaja membeli tiket untuk melihat artis-artis favorit mereka mendapatkan penghargaan. Yoongi sedikit tertegun sewaktu matanya menangkap sebuah banner yang bertuliskan namanya serta beberapa orang penonton di tribun membawa foto-fotonya yang beredar di internet.
Apakah setelah ini, kalian masih tetap akan mendukungku?
Akhirnya tiba saat pengumuman pemenang dan penerima penghargaan. Yoongi bisa merasakan tangannya semakin berkeringat sewaktu satu persatu artis maju ke depan panggung untuk menerima penghargaan.
Kemudian sepasang aktor dan aktris—kedua-duanya adalah Alpha yang diingatnya pernah bermain dalam suatu laga film, mulai menyebutkan penghargaan untuk kategori penghargaan artis musik terbaik, kategori yang baru pertama kali dibuka tahun ini. Satu persatu nama artis disebutkan, dan begitu namanya disebutkan, Yoongi nyaris menjatuhkan botol minuman yang ia pegang. Ia belum pernah merasa setegang ini. Di sebelahnya, Heechul berseru riuh sewaktu namanya disebutkan.
"Dan pemenang kategori baru ini jatuh kepada…" ada jeda sebentar, "Min Suga aka Agust D!"
Tepukan riuh memenuhi satu gelanggang auditorium. Yoongi nyaris tidak bisa berdiri sewaktu namanya langsung disebutkan karena kakinya yang gemetar hebat. Heechul menepuk bahu Alpha itu, tersenyum lebar, "Cepat ambil hadiahmu, sebelum diambil oleh orang lain."
Yoongi memaksakan dirinya untuk tersenyum—yang justru membuatnya terlihat semakin grogi. Ia berjalan melewati barisan tamu undangan dan berjalan menaiki undakan tangga. Dua orang artis penyiar yang menyebutkan namanya langsung menyalami tangan Yoongi yang sudah terasa dingin oleh rasa gugup. Penghargaan berupa piala seberat 800 gram tersebut terasa ringan sekaligus berat di tangannya. Sewaktu ia bergerak maju ke atas podium, Yoongi bisa merasakan seluruh mata memandangnya—termasuk Chanyeol yang tetap tidak bisa menghapuskan senyum angkuh di wajahnya. Begitu tepukan tangan mulai mereda, Yoongi mendekatkan mulutnya ke mic, untuk mulai membacakan pidato singkat yang telah disiapkannya sejak beberapa minggu lalu.
"Gamsahamnida, untuk semua orang yang telah membantuku untuk memproduksi musik ini," kata Yoongi memulai, "Terutama untuk tim produser, staff, Heechul-hyung yang sudah banyak mengomeliku, dan segala rekan-rekan yang telah terlibat di dalamnya. Juga Namjoon-sajangnim yang telah mempercayakanku untuk bekerja di label perusahaan yang telah dirintisnya," ia bisa merasakan auditorium berubah hening begitu ia menyebutkan nama Namjoon dan perusahaan tempatnya bekerja. Sejenak ia ingin berceramah tentang para tamu undangan yang terlalu termakan oleh media. "Juga untuk keluargaku di Daegu yang sudah lama kutinggalkan. Aku harap kalian sedang menontonku di rumah saat ini. Aku benar-benar ingin meminta maaf, tidak pernah menjadi anak laki-laki dan seorang Alpha yang kalian harapkan." Ia mendengar kali ini suara tepukan tangan mulai ditujukan padanya. Tapi Yoongi tidak berhenti sampai di situ. Ia kembali melanjutkan, "Aku tidak lupa ingin berterima kasih pada Omega yang selama beberapa bulan ini sudah mengisi hidupku. Dalam beberapa bulan lagi, aku dan partnerku, akan memiliki seorang bayi."
Suara napas yang tercekat dari audiens membuat Yoongi tersenyum menyeringai. Kini seisi auditorium memandangi Yoongi dengan wajah terkejut, sama sekali tidak menantikan pernyataan tersebut akan meluncur dari mulut Alpha tersebut. Mungkin saat ini mereka bertanya-tanya, Omega mana yang saat ini tengah mengandung anaknya. "Aku hanya ingin mengklarifikasi lagi, bahwa aku dan Park Jimin—" seisi auditorium kembali hening, "Telah menjalin hubungan sejak Oktober yang lalu." Ia ingat Oktober adalah bulan di mana ia jatuh cinta pada Omega itu, dan memaksa Jimin untuk mengencaninya meski Omega itu masih berstatus selingkuhan Namjoon. "Bayi yang dikandungnya saat ini adalah buah cinta kami, dan kami akan membesarkannya bersama-sama. Aku berharap kalian semua akan tetap mendukung kami setelah mendengar berita ini. Bahkan jika kalian justru balik membenciku karena hal ini, aku akan tetap membuat musik yang kuinginkan."
Ia berjalan meninggalkan podium, merasa masih gugup karena auditorium benar-benar hening. Tetapi entah kenapa, Yoongi merasakan dirinya bisa bernapas dengan lega begitu ia menyampaikan pidato singkatnya. Mungkin setelah ini Namjoon akan memecatnya karena mengeluarkan pernyataan tanpa persetujuan sama sekali darinya. Tapi Yoongi tidak peduli.
Begitu ia hampir mencapai tempat duduknya, suara tepukan tangan langsung kembali riuh. Ia bisa mendengar suara teriakan para penggemarnya dari barisan kursi audiens memanggil-manggil namanya. Semua mata kini balik memandanginya—bukan dengan pandangan yang merendahkan, tetapi dengan sikap antusias yang sama sekali tidak ia duga. Beberapa orang artis berdiri untuk memberinya ucapan selamat—selamat karena penghargaan yang diterimanya, dan ucapan selamat karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
Heechul berdiri dari kursi saat ia melihat Yoongi tiba di mejanya. Wajah Beta itu sama sekali sulit untuk dideskripsikan, entah raut wajah terkejut atau raut wajah senang.
"Ah, jjinja! Kau sama sekali tidak bilang padaku bahwa ternyata kaulah ayah dari anak yang dikandung Jimin, eo?! Padahal bisa saja kau meluruskan berita perselingkuhan Namjoon-nim dengan Jimin!" serunya takjub, "Dan kau gila sekali mengumumkan berita tersebut di atas podium! Besok pidatomu akan menjadi berita besar di media!"
Yoongi hanya diam mendengar perkataan Heechul. Tetapi kemudian ia melanjutkan, "Sesungguhnya aku masih khawatir, apa mungkin penggemar BTS akan tetap menerima Jimin setelah pidatoku tadi?"
"Kalaupun ada fans yang marah karena mendengar kabar kalian menjalin hubungan pun, mereka pasti akan lebih marah lagi dengan kasus perselingkuhannya dengan Namjoon-nimi," Beta itu melipat kedua tangannya di atas meja. "Jadi, gossip kalau Namjoon-nim berselingkuh dengan Jimin itu adalah sebuah berita bohong? Seharusnya media yang menyebarkan gossip bohong seperti itu bisa kalian tuntut ke pengadilan atas pencemaran nama baik!"
Lagi-lagi, Yoongi tidak menjawab. Ia memilih untuk mendengarkan pembacaan pengumuman nominasi pemenang selanjutnya. Sebentar ia melihat ke tempat Chanyeol duduk. Alpha berambut hitam tersebut menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang terlihat merah entah karena rasa marah atau apa.
Sesaat Yoongi merasakan dirinya seperti memenangkan suatu perlombaan.
25 Juli 20xx, Seoul
02.06 a.m
Jimin menungguinya hingga Omega itu jatuh tertidur di atas sofa. Tubuh mungil Jimin melingkar dengan setengah tubuhnya tertutup oleh selimut. Di atas meja depan TV, cangkir beserta poci teh dan toples berisi camilan makanan berserakan. Tangan Yoongi bergerak untuk mengusap wajah Jimin, tidak bermaksud untuk membangunkan Omeganya tersebut. Menyadari bahwa kekasihnya sudah lama terlelap, Yoongi membawa tubuh Jimin ke tempat tidur mereka.
Tepat ia berdiri di depan pintu, Jimin membuka matanya, "Hyung?" tanya Jimin setengah sadar.
"Tidurlah, Jiminie," bisik Yoongi lembut.
Jimin seperti tidak mendengar ucapannya, justru melingkarkan tangannya ke leher Yoongi, "Aku sudah menonton semuanya," suara Omega itu masih terdengar berat di telinganya karena rasa kantuk, "Kenapa kau memutuskan untuk mengatakan semuanya di depan banyak orang?"
"Karena kita punya kabar bahagia yang harus disampaikan," jawab Yoongi, dengan hati-hati menjatuhkan tubuh Jimin di atas tempat tidur. "Dan juga suatu kesalahpahaman yang harus diluruskan."
"Pidatomu itu—menerima banyak respon positif. Kali ini media sosial—sewaktu aku memberanikan diri untuk membukanya—banyak yang membanjiri akun resmiku dengan ucapan selamat," kata Jimin memberitahu, matanya masih setengah tertutup, "Tapi mereka jadi beranggapan kalau kita sudah menjalin hubungan sejak lama."
"Lebih baik begitu daripada berita tentangmu dengan Namjoon-nim yang terus mengambang di permukaan."
Senyuman di wajah Jimin membuat Yoongi merasakan hatinya berdesir oleh rasa cinta. "Cium aku."
Yoongi menurut. Ia membungkuk untuk mendaratkan sebuah ciuman di bibir Jimin. Tangannya bergerak turun dari dada Omega itu ke atas perutnya, mengusap lembut perut Jimin yang sudah semakin menampakkan wujud aslinya.
Pagi harinya, Yoongi terbangun oleh suara deringan telepon. Tempat tidur di sebelahnya sudah kosong, tetapi samar-samar ia bisa mencium aroma harum roti panggang dan kopi. Menyadari bahwa Jimin sudah bangun lebih dulu darinya untuk memasakkan sarapan, buru-buru Yoongi meraih ponselnya. Matanya terbelalak sempurna saat ia melihat nama yang terpampang di layar ponsel merupakan nama yang selama bertahun-tahun tidak berani ia hubungi.
Yoongi menarik napas, berusaha mengumpulkan keberanian yang ia miliki untuk menjawab telepon. Bahkan suaranya bergetar sewaktu ia menjawab, "Y-yeoboseyo? Appa?"
"Kau memang putraku yang bodoh, Yoongi-ya. Aku akan menjadi seorang harabeoji tapi kau sama sekali tidak mengatakan apa-apa padaku. Selama ini kau juga yang mengirimkan uang untuk kami, kan? Kenapa kau tidak menampakkan dirimu sekali saja ke rumah?"
Jimin masuk ke dalam ruang tidur dengan niatan untuk membangunkannya dari tidur, tapi ia terkejut sewaktu menemukan Yoongi sedang menangis di atas tempat tidur—dengan sebelah tangannya memegang ponsel dan tangan satunya menyeka air matanya yang berjatuhan.
29 Juli 20xx, Gwacheon
10.24 a.m
Cuaca panas hari itu sama sekali tidak menyurutkan niatan Namjoon untuk pergi ke rumah mertuanya. Hari ini ia dengan sengaja meninggalkan pekerjaannya di kantor hanya untuk menjemput Seokjin, walau ia yakin bahwa ayah mertuanya pasti akan mencaci dan mengusirnya habis-habisan. Tetapi Namjoon tidak peduli, karena di dalam hatinya ia sudah menetapkan bahwa ia harus membawa pulang istrinya bagaimanapun caranya.
Keluarga Seokjin adalah salah satu keluarga terkaya dan terkemuka di Korea. Butuh waktu lama bagi Namjoon untuk meyakinkan pihak keluarga istrinya agar ia dapat menikahi putra bungsu mereka. Seokjin memiliki seorang kakak laki-laki, Alpha, yang saat ini meneruskan perusahaan keluarga mereka. Meski Seokjung—nama kakak laki-laki Seokjin, sangat overprotektif terhadap adiknya yang merupakan seorang Omega, berkat bantuan Seokjung lah Namjoon dapat memperistri Seokjin.
Perasaan bersalah menyelimuti dirinya karena kali ini ia harus bertamu ke rumah keluarga Seokjin untuk menjemput istrinya karena masalah perselingkuhan yang telah ia lakukan. Namjoon tidak dapat membayangkan perasaan kecewa Seokjung begitu mengetahui adik iparnya ternyata menyelingkuhi adiknya sendiri, termasuk wajah marah ayah mertuanya.
Ia tiba di depan kediaman Kim. Rumah besar tersebut dikelilingi oleh pepohonan hijau dan dinding bata setinggi hampir dua kali ukuran tubuh manusia dewasa. Rumah tersebut selalu terlihat sunyi, tetapi Namjoon tahu kalau begitu ia masuk ke dalam sana, pasti ia bisa mendengar suara ribut hewan peliharaan yang dikoleksi oleh Seokjung serta suara aliran air pancur kolam. Namjoon sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari kediaman keluarga Seokjin, karena sudah pasti keluarga istrinya tidak akan membiarkannya berlama-lama di sana.
Namjoon memencet bel rumah, dan mendengar suara menyahut dari mesin interkom.
"Namjoon-ah?" ia mendengar suara ibu mertuanya menyahut dari dalam rumah.
"Annyeong haseoyo, mannasuh bangapseumnida, Jangmo-nim," ucap Namjoon dengan sopan.
Pintu depan rumah bergeser terbuka, dan Alpha itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk masuk ke dalam. Ia harus berjalan melewati taman yang setiap harinya dirawat oleh tukang kebun kepercayaan keluarga Kim untuk mencapai pintu utama. Di depan, ia disambut oleh seorang pengurus rumah, seorang Beta wanita yang cukup tua dan telah mengabdi selama bertahun-tahun di rumah keluarga Kim.
Pengurus rumah tersebut membukakan pintu dan Namjoon langsung bertatap muka dengan ibu mertuanya, seorang Omega pria berusia lebih dari lima puluh tahunan. Meski sudah tua, Omega tersebut tetap cantik—bahkan masih secantik putranya yang juga seorang Omega, dan memiliki sikap tubuh yang begitu anggun dan menawan. Namjoon bisa membayangkan bagaimana ibu mertuanya dulu semasa masih muda dan bisa langsung menyimpulkan fitur wajah Seokjin yang kebanyakan ia warisi dari sang ibu.
Omega tersebut memasang wajah sendu begitu ia melihat Namjoon—yang mungkin bisa Namjoon ungkapkan sebagai rasa kecewa terhadap menantunya. "Aku sudah dengar semuanya, Namjoon-ah."
Namjoon membungkukkan tubuhnya dengan rasa bersalah, "Aku benar-benar menyesal, Jangmo-nim. Tapi izinkanlah aku memberikan pembelaan."
"Pembelaan untuk apa?" ia mendengar suara ayah mertuanya menyahut di belakang sang istri. Buru-buru Namjoon kembali menegakkan tubuhnya untuk melihat wajah ayah mertuanya berkerut tidak senang. Alpha tersebut mendelik secara terang-terangan pada Namjoon dengan sikap menghakimi, "Kau sudah menyakiti putraku yang saat ini sedang mengandung anak kalian. Kau kemanakan otakmu itu, Namjoon?"
"Yeobo," panggil sang istri pelan pada suaminya, "Mungkin lebih baik pergi ke ruang tamu agar Namjoon-ah dapat menjelaskan semuanya pada kita. Bisa saja ada hal lain yang sama sekali belum kita ketahui saat ini. Toh baru-baru ini ada berita kalau ternyata Omega yang diselingkuhinya ternyata sedang hamil anak dari Alpha lain."
Ayah mertuanya hanya mendengus, "Tapi kita sudah mendengarnya sendiri bahwa ia diam-diam berselingkuh dengan Omega muda tersebut tanpa sepengetahuan Seokjin selama dua tahun!"
"Yeobo," panggil sang istri lagi. Kali ini suaminya menurut dan berjalan duluan ke ruang tengah. Namjoon membungkukkan tubuhnya pada ibu mertuanya dengan penuh rasa hormat dan rasa terima kasih.
Ternyata di dalam sana sudah ada kakak iparnya sedang duduk dengan sikap menunggu. Wajahnya sama masamnya dengan sang ayah. Alpha yang merupakan pewaris perusahaan ayahnya tersebut langsung memasang wajah serius begitu Namjoon ikut duduk bersama mereka di ruang tengah.
"Hyung-nim," sapa Namjoon sedikit canggung.
"Aku sudah mempercayakanmu dengan adikku, berharap kalau kau akan membahagiakannya. Tapi begitu dia sudah mengandung anak kalian, kau malah menyelingkuhinya dengan Omega lain. Apa yang kau pikirkan, Namjoon-ah?"
"Aku dan Jimin, aku mengakui bahwa aku memang pernah berselingkuh dengannya."
"Lalu apa tujuanmu datang ke sini kalau memang kenyataannya kau pernah berselingkuh dengan Omega itu?"
"Karena aku masih mencintai Seokjin."
"Kalau kau memang mencintainya, kau tidak akan pernah berselingkuh dengan Omega lain," kali ini ayah mertuanya menyahut dengan ketus.
"Aku mengaku aku salah, Jangin-nim," kata Namjoon, "Semuanya itu aku lakukan karena hubunganku dengan Seokjin sedang agak renggang saat itu. Sewaktu Seokjin keguguran, ia menolak berhubungan denganku selama beberapa tahun," ia melihat perubahan ekspresi di wajah keluarga istrinya, "Dia bilang dia belum siap untuk melakukannya lagi. Dan selama beberapa tahun kemudian, ia memutuskan untuk meminum pil penunda heat dan kami pasti selalu tidur tanpa melakukan satu pun hubungan intim."
"Tetap saja kau tidak bisa begitu saja menyelingkuhi putra kami!" seru ayah Seokjin ketus, "Kau sudah bersumpah di hari sebelum pernikahan kalian bahwa kau akan membahagiakan putra kami!" tangan sang istri mengelus lembut lengan ayah mertua Namjoon, "Tapi ternyata kau malah bercinta dengan Omega lain."
"Aku akui kalau aku dulu dibutakan oleh keegoisanku sendiri. Seharusnya aku menenangkan Seokjin, menghabiskan waktu bersamanya dan memberikan dukungan sebanyak yang aku bisa sampai ia siap. Tapi kemudian muncul Jimin, dan dia dapat memberiku kepuasan seksual yang selama ini tidak bisa aku dapatkan dari Seokjin."
"Lalu, apa kau mencintai Omega itu?" tanya Seokjung pada Namjoon dengan raut muka serius.
"Tidak akan pernah bisa sebesar aku mencintai Seokjin," kata Namjoon. "Aku menyadari kalau aku lebih mencintai Seokjin sewaktu ia mengatakan ia ingin memiliki anak. Aku menyadari bahwa aku telah mengecewakan Seokjin cukup lama, belum pantas menjadi Alpha yang seutuhnya bagi dia."
Raut marah di wajah ayah mertua dan kakak iparnya melunak.
"Kurasa memang lebih baik jika kita mempertemukan Namjoon dengan Seokjin," kata sang ibu mertua dengan lembut, berwelas asih pada sang menantu. "Bagaimanapun juga, Seokjin terpisah terlalu lama dari Namjoon. Tidak baik jika mereka berdua terus terpisah dalam waktu lama, malah akan memberatkan kehamilan Seokjin sendiri nantinya."
Kali ini Seokjung berdiri dari kursi sofa, "Aku akan mengantarmu ke kamar Seokjin. Tapi ini terakhir kalinya aku membiarkanmu menebus semua kesalahanmu, Namjoon-ah."
"Gamsahamnida, Hyung-nim," kata Namjoon dengan tulus.
Ia mempersiapkan dirinya sebelum bertemu dengan Seokjin, mengumpulkan luapan rasa rindunya pada sang istri. Begitu Seokjung membukakan pintu kamar, ia melihat Seokjin sedang terduduk di atas tempat tidur. Omega itu menoleh sewaktu ia mendengar pintu dibuka.
"Hyung—" ia berhenti di tengah-tengah ketika melihat Namjoon berdiri di depan kamarnya. Seokjin berusaha menutup pintu, tetapi Seokjung dengan cepat menahan daun pintu dengan tubuhnya. "Hyung, sudah kubilang aku tidak ingin bertemu dengannya—"
"Seokjinnie," panggil Seokjung dengan hati-hati, "Aku sudah mendengar semuanya. Setidaknya Namjoon juga berhak menjelaskan semuanya dan meminta maaf padamu."
"Seokjin—"
"Andwae!" bentak Seokjin keras sambil memegangi perutnya, "Kau sudah tidak mencintaiku lagi, kan? Kenapa kau masih datang ke sini? Memangnya apalagi yang ingin kau jelaskan?"
"Banyak hal," jawab Namjoon singkat. Ia membantu Seokjin menyeimbangkan posisinya, tetapi dengan sentakan keras Omega itu berusaha menjauh darinya. Namjoon menghela napas panjang, menoleh pada kakak iparnya, "Hyung-nim, untuk sementara, bisakah kau meninggalkan kami berdua?"
Seokjung terlihat ragu, "Ne. Apapun yang hendak kau bicarakan, jangan sampai membuatnya merasa tertekan," bisik Alpha itu.
Namjoon mengiyakan ucapan Seokjung. Pintu di belakangnya tertutup, meninggalkan dirinya bersama dengan Seokjin di dalam ruangan tersebut. Kamar ini dulunya adalah kamar tidur Seokjin, sebelum ia menikahi Namjoon. Namjoon sendiri pernah beberapa kali mendatangi kamar ini diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua Seokjin sendiri dan para pembantu keluarga Kim. Di dalam ruangan ini, Namjoon melakukan seks pertamanya dengan Omega itu.
Kini ia berdiri di dalam ruangan bernuansa hangat dengan campuran warna pink, krem, dan putih tersebut dengan tujuan lain.
"Jin, jagiya," panggil Namjoon lembut pada istrinya.
Seokjin berusaha untuk tidak menoleh. Tangannya bergerak naik turun mengusap perutnya yang sudah lebih besar dari terakhir kali Namjoon melihat sang istri.
"Joeseonghamnida, jagiya, karena aku telah menyakitimu. Aku memang telah menyelingkuhi dengan Omega lain karena aku benar-benar merindukan dirimu. Dan akhirnya aku malah salah melangkah karena malah mencari kepuasan dengan Omega lain," kata Namjoon memulai.
"Apa kau masih mencintai Omega itu?"
Pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan oleh Seokjung.
"Tidak. Kalaupun dulu aku mencintainya, itupun karena aku melihatnya sebagai pengganti dirimu, Jin," Namjoon mengaku, "Tapi aku tidak pernah bisa melihatnya sebagai dirimu. Aku tidak akan pernah bisa mencintai dirinya seperti aku mencintaimu. Mungkin aku sudah tidur berkali-kali dengannya, tetapi rasanya hampa dan kosong. Berbeda seperti sewaktu aku tidur denganmu."
Alpha itu beranjak dari posisinya berdiri untuk mendekati istrinya ke atas tempat tidur, "Sewaktu kau bilang kau ingin mencoba bercinta denganku setelah bertahun-tahun lamanya, kau tidak tahu betapa bahagianya aku. Kupikir, mungkin kau sudah lelah denganku, dan sudah tidak mungkin bagi kita melanjutkan kehidupan rumah tangga. Tapi kemudian kau bilang kau ingin punya anak, dan aku merasakan hatiku berubah begitu lega. Aku berpikir, mungkin ini satu-satunya kesempatan untukku memperbaiki hubungan kita dan membuktikan bahwa aku dapat memperbaiki keputusanku yang salah."
Ia melihat Seokjin berusaha susah payah menahan air matanya. Namjoon merasakan hatinya terenyuh perih melihat Omega yang dikasihinya menangis. Ia benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya yang sudah mengkhianati janji setianya dengan istrinya. Pelan-pelan, Namjoon mengulurkan tangannya, merangkul tubuh Seokjin. Seokjin tidak menepisnya dan justru menjatuhkan kepalanya ke atas bahu Namjoon.
"Aku benar-benar menyesal, Jin. Aku juga ingin meminta maaf padamu, telah berbuat tidak pantas. Seharusnya aku tidak pernah menyelingkuhimu dengan Omega lain," kali ini Namjoon merasakan airmatanya mulai tumpah. "Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanmu. Aku hanya ingin kau mengerti kalau aku masih mencintaimu. Aku ingin melakukannya untuk anak kita," tangannya bergerak mengusap perut Seokjin.
"Katakan kalau kau memang mencintaiku," kata Seokjin padanya.
"Saranghae, Seokjinnie," bisik Namjoon lembut, "Jeongmal saranghae. Katakan apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanmu."
Seokjin mendorong tubuh Namjoon ke atas tempat tidur. "Buktikan kalau kau mencintaiku sekarang." Namjoon mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud ucapan Seokjin. Tetapi kemudian ia melihat wajah istrinya memerah sewaktu ia kembali melanjutkan, "Buktikan kalau aku lebih membuatmu merasa bergairah."
Mungkin saat ini Namjoon tersenyum seperti seorang idiot, karena Seokjin langsung memalingkan wajahnya dengan rasa malu. Air mata Omega itu kini telah mongering, tergantikan dengan rona merah di kedua pipinya. Namjoon tidak pernah melihat istrinya secantik ini di dalam bayangannya. Betapa beruntungnya ia memiliki istri seperti Seokjin.
Dengan hati-hati, Namjoon memposisikan dirinya di bawah Seokjin, sementara Seokjin—dengan bantuannya, duduk di antara kedua paha dan selangkangannya. Perut istrinya yang besar semakin membuat pemandangan di depannya terlihat eksotis. Tangannya menahan di antara sisi-sisi panggul Seokjin, memberi bantuan agar Omega itu tetap pada posisinya.
"Kau benar-benar ingin kita melakukannya?" tanya Namjoon dengan hati-hati, merasakan dirinya sendiri mulai tidak sabaran. "Aku khawatir kalau—"
Seokjin yang telah mulai membuka kancing bajunya satu persatu, berhenti untuk memegang perutnya, "Aku tidak peduli. Anak ini—" ia memicingkan mata sewaktu perutnya bergejolak karena gerakan bayi mereka, "Dia sama sekali tidak berhenti bergerak di dalam sini selama aku pergi dari rumah. Kurasa anak ini juga sangat merindukanmu."
Tangan besar Namjoon bergerak untuk memegang perut istrinya. Sesuai dugaannya, anak di dalam perutnya memberi sebuah tendangan yang cukup kuat untuk dirasakan oleh Namjoon. "Dia akan menjadi seorang Alpha, aku yakin itu." Ia menarik baju Seokjin ke atas, yang semakin memperjelas gerakan di dalam perut Omega tersebut. "Hi there, baby, ini Appamu. Jangan merepotkan Eomma karena sekarang Appa sudah di sini bersama dengan kalian, oke?"
"Dia benar-benar menyukai suaramu, Joonie," ucap Seokjin pelan, saat merasakan anak di dalam perutnya mulai tenang.
Namjoon menahan tubuhnya dengan kedua sikunya, kepalanya bergerak untuk menjangkau bibir istrinya. Tanpa berlama-lama, Seokjin ikut menjulurkan tubuhnya, dan menangkap bibir Namjoon dengan bibir miliknya. Mulut mereka saling bersentuhan, dan Namjoon memperdalam ciuman mereka dengan meletakkan tangannya di belakang leher Omega itu.
"Jangan pernah lagi—" desah Seokjin menahan napasnya, "Berhubungan dengan Omega lain selain diriku. Kau selamanya adalah milikku, dan kau tidak boleh lagi berkhianat di belakangku."
Namjoon menempelkan dahinya di dahi Seokjin, berbisik lirih, "Aku berjanji, Jin."
Dan ia benar-benar menepati janjinya.
TBC
Catatan penulis:
Bagian 8 ini sengaja saya panjangin biar saya bisa liburan dulu. Niatnya mau update sehabis saya sidang, tapi kemudian ternyata bagian 8 udah keburu selesai duluan, presentasi sidang belum kelar (Yolo yolo is my motto). Bagian kali ini juga diperuntukkan bagi kalian yang suka fluff. Pasti kalian capek saya sakitin mulu dari bagian lalu. Tuh 'kan, saya orang baik :D (HAHA).
Jadi... siapakah yang menyebarkan berita perselingkuhan Jimin? Pasti mudah ketebak sih...
2 bagian lagi, jadi bersabarlah kawan-kawan pembaca sekalian! Bagian selanjutnya akan diupdate kalau reviewnya mencapai 120, biar sekalian bisa santai santai dulu yang lama lah ya sampai dapat 120 review ( iya saya tahu kok kalau saya picik orangnya :( )
Ditunggu reviewnya kawan-kawan!
Yang telah mereview di bagian cerita sebelumnya: Gasusga, melyauyut575, itsathenazi, HanaChanOke, LittleOoh, MinPark, yoonminable, YOONMINs, Guest, nicelline, ChiminsCake, Kimkimmi00, noSugaFree, YMlove, Jeon miina, jinkim499
