4 September 20xx, Seoul
08.10 a.m
Yoongi mendudukkan diri di atas tempat tidurnya sewaktu ia mendengar suara Jimin memanggilnya dari dapur.
"Hyung, bisakah kau membukakan pintu? Sepertinya ada orang di luar!"
Dengan sebelah mata masih tertutup, Yoongi mengenakan kaus berwarna putih dan celana training hitam yang sengaja ia letakkan di atas kursi dan beranjak keluar dari kamar menuju pintu depan. Ia menguap lebar-lebar dan melakukan sedikit peregangan pada persendian yang terasa akan copot di antara sudut-sudut tubuhnya. Kemudian ia membungkuk untuk mengintip siapa yang mengirimkannya paket pada pagi hari itu. Melalui lubang pengintip, ia melihat seorang petugas pengantar paket berdiri di depan pintu.
"Annyeoung, Min Yoongi-ssi, ini ada beberapa paket untukmu hari ini," kata petugas pengantar paket tersebut, seorang Beta muda dengan senyum yang ramah. Bahkan senyuman di wajahnya sama sekali tidak luntur sewaktu ia melihat ekspresi Yoongi yang tampak memberengut tidak senang. "Silahkan tanda tangan di sini sebagai tanda buktinya."
Yoongi mengerutkan hidungnya sewaktu ia menandatangani bukti diterimanya barang kiriman. Dilihatnya di sebelah petugas pengantar paket terdapat dua kotak besar, satunya dilapisi kertas berwarna coklat, satunya lagi dilapisi oleh kertas berwarna warni.
Begitu ia menerima barang tersebut, Yoongi tanpa susah payah membawa kotak besar tersebut ke dalam apartemennya.
"Apa itu?" ia mendengar suara Jimin bertanya padanya dari dapur.
"Ada yang mengirimi kita paket." Yoongi beranjak menuju dapur, mengambil cutter dari laci terbawah. Tanpa ragu-ragu ia membuka satu kotak dengan lapisan kertas berwarna warni. Matanya membeliak sempurna begitu ia mendapati paket kiriman di depannya ternyata berisi pakaian bayi. "Oh, sepertinya ada yang mengirimi kita dengan pakaian bayi."
Jimin tampak tertarik dan langsung membungkuk untuk melihat ke dalam kotak yang sudah terbuka, "Siapa yang mengirimi kita dengan pakaian bayi?" ia kembali bertanya sambil mengelus perutnya secara spontan sewaktu melihat Yoongi menimang-nimang berbagai macam pakaian bayi.
Secarik kertas mencuat keluar dari dalam kotak. Yoongi membaca isi surat tersebut dan tersenyum, "Kurasa kita telah berhasil melunakkan hati banyak orang," katanya.
Jimin ikut mengintip isi surat tersebut. Surat tersebut ditujukan untuk Yoongi dan dirinya, dan dikirimkan oleh orang tua Yoongi di Daegu. Omega itu ikut tersenyum melihat isi surat, "Mungkin setelah ini kita juga harus menemui kedua orang tuamu, Hyung."
"Tentu," kata Yoongi menyanggupi keinginan Jimin.
Beberapa minggu yang lalu, di awal bulan Agustus, Yoongi dan Jimin berkunjung ke rumah orang tua Jimin di Busan. Awalnya ia tidak mengharapkan sambutan yang agak hangat dari kedua orang tua Jimin. Dua orang pasang Beta tersebut, setelah menonton pidato dari Yoongi di Korean Broadcasting Awards, langsung mempercayakan Jimin pada Alpha tersebut. Meski Yoongi harus tetap menerima semprotan amarah dari ayah Jimin, pada akhirnya kedua orang tua Omega itu mendukung keputusan Jimin untuk tinggal di apartemen Yoongi sampai anak mereka lahir. Mereka juga tampak antusias—meski diam-diam—dengan kelahiran cucu pertama mereka. Keduanya menawarkan diri untuk mengurus anak Yoongi dan Jimin jika mereka memutuskan untuk mengejar karir dan membutuhkan bantuan dalam mengurus anak. Sementara adik Jimin, seorang Beta bernama Jihyun, ternyata adalah penggemar Yoongi (juga Chanyeol, sayangnya) dan seharian ia berusaha menahan keinginan untuk meminta tanda tangan dari calon (ya, calon) kakak iparnya. Mereka pulang dengan perasaan lega hari itu.
Setelah pidatonya di Korean Broadcasting Awards disiarkan secara langsung di seluruh penjuru Korea, setelah ia membuat pengakuan bahwa ia adalah ayah dari anak yang dikandung Jimin—bukannya Namjoon—penggemar Yoongi justru semakin bertambah. Albumnya semakin meningkat dalam urusan penjualan, dan ia semakin sering diundang untuk menghadiri acara talkshow maupun variety show karena kepribadiannya yang blak-blakan. Nyatanya, semua orang benar-benar menyukai keberaniannya setelah ia mengakui bahwa ialah yang telah menghamili Jimin.
Sedangkan Jimin, semenjak para masyarakat maupun kalangan netizen tahu dia mengandung anak Yoongi, juga ikut membanjirinya dengan berbagai macam dukungan. Meski ada sedikit orang-orang (yang ia curigai sebagai sasaeng dari Yoongi) yang menghujatnya dan beberapa masyarakat yang mengkritik mereka teledor dalam berhubungan seks (wajar saja karena Jimin baru 19 tahun), justru dorongan dari para penggemar yang mendukung keputusan Jimin untuk vakum selama setahun sampai ia melahirkan membuat Omega itu semakin tidak sabaran menunggu kelahiran anak mereka. Ia semakin tidak sabaran untuk kembali menari dan bernyanyi di atas panggung bersama rekan-rekannya.
Beberapa kali Leeteuk meneleponnya, mengatakan bahwa perusahaan mereka sering dikirimkan paket berisi perlengkapan untuk calon bayi mereka yang akan lahir, dan kini para staff kebingungan harus mengirimkan barang-barang tersebut ke mana. Tetapi beberapa hari kemudian Jimin langsung mendapati barang-barang tersebut telah dikirimkan ke apartemen Yoongi. Kini apartemen Yoongi nyaris dipenuhi oleh perlengkapan bayi.
"Sepertinya setelah ini kita tidak perlu lagi mempersiapkan perlengkapan untuk bayi kita," kata Yoongi sambil menepuk pelan-pelan perut Jimin. Tangannya masih berusaha membiasakan diri merasakan denyutan aneh di perut Omega itu, merasakan anak mereka benar-benar hidup di dalam perut sang ibu.
Jimin hanya berdehum mendengar ucapannya, "Lalu kotak satu lagi dari siapa? Pengirimnya bukan orang tuamu juga, Hyung?"
Yoongi kembali teringat akan satu kotak yang belum ia buka. Ia mengambil cutter dan membuka isinya. "Wow," serunya agak takjub sewaktu ia melihat sang pengirim mengirimkannya sebuah baby seat siap pasang dan beberapa mainan anak-anak. "Ternyata isinya juga perlengkapan bayi." Ia mengambil-ngambil sesuatu di dasar kotak, berharap menemukan sesuatu yang dapat memberikan mereka penerangan akan siapa nama orang yang telah mengirimkan paket untuk calon bayi mereka. Tangannya meraih sesuatu yang dirasakannya adalah kertas. Yoongi mengambil kertas tersebut, memindai nama yang tertera di atas kertas.
"Dari siapa?"
Suara napas yang tercekat di tenggorokan Yoongi tidak dapat ia tahan-tahan lagi. Alpha itu meremas kertas kuat-kuat, "Kita harus membuang barang ini."
"Tapi kenapa?" tanya Jimin terkejut. "Memangnya siapa yang mengirimkan paket ini, hyung?" ia semakin kebingungan saat melihat Yoongi serta merta hendak membawa kotak tersebut keluar dari apartemen, "Hyung? Kenapa kau sama sekali tidak mau mengatakan—"
"Memangnya menurutmu dari siapa?"
Jimin terkesiap mendengar ucapan Yoongi. Omega itu merasakan bibirnya sedikit gemetar, membuatnya tergagap, "C-Chanyeol?"
Yoongi tidak perlu menjawab pertanyaan Omega itu dan langsung mengangkat kotak menuruni lift dengan langkah sedikit terburu-buru. Begitu ia mencapai lantai dasar, ia langsung meminta pada seorang petugas jaga untuk membawa kotak berisi perlengkapan bayi tersebut menuju tempat pembakaran sampah. Meski dengan wajah bertanya-tanya melihat isi kotak tersebut, sang petugas jaga mengikuti instruksi yang diberikan oleh Yoongi.
Yoongi menyeka keringat yang tanpa sadar telah membasahi sebagaian pelipisnya. Raut mukanya yang tadi terlihat setengah mengantuk dan memberengut muram, kini digantikan dengan ekspresi marah. Kedua alisnya nyaris tertaut saat ia memikirkan siapa yang mengirimkan paket tersebut ke apartemennya. Chanyeol sudah tahu bahwa kini Jimin tinggal bersamanya. Tidak ia duga bahwa Chanyeol masih berpikir bahwa anak yang dikandung oleh Jimin adalah anaknya.
Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika anak yang dikandung Jimin memang benar-benar anak Chanyeol? Dan kenapa pikiranku malah kembali kalut hanya karena hal ini?
A GENIUS IN LOVE
Bagian 9
Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!
Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, typos (mungkin akan banyak di chapter ini), karakter boyband lainnya. Stalker! Chanyeol (OOC Chanyeol)
Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV
4 September 20xx, Seoul
10.24 a.m
Pikiran bahwa Chanyeol tahu di mana Jimin tinggal, mengganggu pikiran Yoongi. Sewaktu ia meninggalkan Jimin di apartemennya sendirian, ia masih merasa waswas akan meninggalkan apartemen dalam keadaan tidak terkunci. Ia juga khawatir akan kembali pulang dan menemukan Jimin berada di dalam kamar apartemennya, bersama dengan Alpha lain—yang tidak lain adalah seorang Park Chanyeol. Tetapi pagi itu Jimin meyakinkannya, mengatakan jika apartemen Yoongi sudah dilengkapi dengan kamera CCTV, sehingga Alpha itu tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal selama ia pergi meninggalkan Jimin.
"Yeoboseyo, Yoongi-ah," suara Zhoumi yang menyapanya sedikit menyentakkan Yoongi dari pikirannya. "Bagaimana keadaan Jimin?"
"Baik," kata Yoongi merasa sedikit tidak bersemangat.
"Yeoboseyo," kali ini ia mendengar suara Jihoon menyapanya. Alpha itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam lemari arsip. "Wajar kalau kau merasa lelah pagi-pagi, istriku sewaktu masih hamil dengan anak pertama kami, seringkali membangunkanku karena merasa mual dan mengidamkan sesuatu yang tidak masuk akal menjelang pagi."
Yoongi hendak menyanggah ucapan Jihoon, tetapi kemudian ia mengingat beberapa hari lalu tiba-tiba saja Jimin membangunkannya. Alasannya? Karena mereka merasakan anak mereka bergerak untuk pertama kalinya di dalam perut Jimin.
"Bagaimana perasaanmu yang akan menjadi seorang ayah, Yoongi-ah?" tanya Zhoumi yang sama sekali tidak bisa diam. Beta itu, sejak ia tahu Jimin sedang mengandung anak Yoongi, tidak pernah bisa berhenti menanyakan kabar Jimin. Wajar saja karena semenjak Omega itu bekerja di NJE-C, Jimin menjadi orang terfavorit di perusahaan mereka. Yoongi adalah Alpha yang sangat beruntung karena ia berhasil mendapatkan Jimin dengan kemungkinan satu banding lebih dari sepuluh ribu Alpha lainnya.
"Sangat antusias," jawab Yoongi tidak berbohong. Ia memang sangat menantikan kehadiran anak di dalam perut Jimin, tidak sabaran untuk membesarkan anak tersebut dan mengajarinya dengan banyak hal. Tapi ingatan bahwa masih ada kemungkinan anak yang dikandung Jimin adalah anak dari Chanyeol, kembali mengusik pikirannya.
Berusaha untuk menghindar dari pertanyaan Zhoumi selanjutnya tentang Jimin, Yoongi buru-buru melemparkan tasnya ke dalam ruangan kerjanya dan berlari kecil menuju lantai 2, pergi menuju mesin penjual minuman otomatis untuk membeli kopi yang sudah menjadi kebiasaannya di pagi hari. Selesai ia mengambil sekaleng kopi yang diinginkan, Yoongi berjalan melewati studio tari yang kini sudah terisi oleh artis dan backup dancer lainnya. Meski ruangan tersebut masih diisi oleh Taehyung, Jungkook dan Hoseok, tetapi sedikit janggal melihat di dalam ruangan tersebut tidak ada Jimin.
Ia kembali teringat akan ucapan Jimin yang mengucapkan bahwa Omega itu sangat merindukan studio tari, betapa ia ingin langsung kembali menari begitu melahirkan anak mereka. Yoongi membalas lambaian tangan Jungkook sewaktu Alpha muda itu mendapati Yoongi sedari tadi sedang memperhatikan latihan rutin mereka dari kejauhan.
Meski kini BTS sedang vakum untuk sementara waktu, Taehyung dan Jungkook sama sekali tidak pernah libur dari latihan karena kini mereka diikutkan dalam konser kecil-kecilan—membawakan lagu yang oleh Yoongi sempat ia produseri. Bahkan walau BTS meliburkan diri hingga bulan Mei tahun depan, kedua rekan Jimin yang lain tidak pernah berhenti mendapatkan kesempatan untuk mengisi acara ataupun konser-konser di luar. Satu hal yang setidaknya membuat Yoongi merasa lega.
Ia hendak berbelok menuju tangga sewaktu matanya bertatapan dengan Namjoon. Hampir saja ia menyemburkan isi kopi yang ia hirup jika ia tidak buru-buru menutup mulutnya.
Sejak pidatonya di hadapan publik dalam Korean Broadcasting Awards, Yoongi mulai menyangka bahwa cepat atau lambat Namjoon dan Jackson akan memanggilnya karena telah melanggar peraturan berbicara di depan umum yang sudah dicanangkan oleh NJE-C sejak pertama kali ia diterima bekerja. Tapi nyatanya ia tidak pernah menerima panggilan apapun, kecuali sekali dari Jackson yang ternyata mengomelinya karena sudah menghamili Jimin ("Kau mengerti kata kondom, tidak?! Jimin masih berusia 19 tahun, babo! Untung saja aku tidak memecatmu karena sudah melanggar kesepakatan bekerja!").
Berita tentang perselingkuhan Namjoon dan Jimin seperti telah tertelan perut bumi. Tidak ada satupun yang membicarakan perselingkuhan keduanya lagi. Justru kini berita tentang hubungannya dengan Jimin yang terus mencuat ke permukaan. Banyak sekali orang-orang yang justru penasaran dengan keberlangsungan hubungannya yang tidak terduga dengan Jimin. Tidak jarang pula begitu ia diundang dalam acara talkshow maupun variety show, Yoongi akan diminta untuk menceritakan sedikit tentang kehidupan pribadinya dengan Jimin ("Bagaimana perasaanmu yang akan menjadi seorang ayah?" "Bagaimana keadaan Jimin? Apa dia mulai mengidamkan makanan yang aneh-aneh?" "Kira-kira kau ingin punya anak Alpha, Beta, atau Omega? Laki-laki atau perempuan?" dan bla, bla, bla masih banyak lagi).
Kini kehidupan mereka berjalan seperti biasa, seperti dulu. Tidak ada rumor negatif yang beredar yang mengganggu kehidupan mereka. Semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya, dan Yoongi bersyukur akan hal itu.
"Oh, Namjoon-nim. Sudah lama sekali aku tidak berjumpa denganmu," kata Yoongi basa-basi.
"Nado, Yoongi-ah," Namjoon membalas sapaannya. Alpha itu tersenyum—menampakkan cekungan di kedua pipinya, "Bagaimana kabar Jimin?"
Yoongi setengah mencemooh pertanyaan Namjoon karena berulang kali semua orang menanyakan pertanyaan yang sama padanya, "Baik. Dia hampir memasuki bulan kelima sekarang."
"Baguslah kalau begitu. Kau sama sekali tidak tahu anak kalian laki-laki atau perempuan? Alpha, Beta atau Omega?"
"Kami ingin hal tersebut menjadi rahasia."
"Hmm," Namjoon menganggukkan kepalanya, "Sama seperti aku dan istriku kalau begitu."
Yoongi tiba-tiba terdengar tertarik sewaktu Namjoon menyebutkan istrinya, "Kau sendiri—bagaimana dengan kabar istrimu, Namjoon-nim? Apa dia—tidak terpengaruh sama sekali sewaktu mendengar berita perselingkuhanmu dengan Jimin?"
"Tentu saja ia begitu terpengaruh karena pada akhirnya aku harus membeberkan semuanya, sampai-sampai ia ingin kami bercerai," sahut Namjoon. "Dia juga pergi meninggalkanku untuk tinggal bersama orang tuanya sampai beberapa minggu lalu."
"Lalu sekarang bagaimana? Apa kalian benar-benar akan bercerai?"
Namjoon dengan sikap agak malu-malu mengusap bagian belakang kepalanya, "Sewaktu aku pergi ke rumah orang tuanya untuk menjemput istriku dan sekaligus memberi pembelaan pada keluarganya, kami rujuk—dan, yah… di kamar tidur istriku sewaktu muda, kami—begitulah," rona merah di wajah Alpha itu cukup memberikan informasi lebih pada Yoongi.
"Beruntunglah kalau begitu," kata Yoongi, "Bukankah sebentar lagi istrimu akan melahirkan? Kudengar tidak baik jika pasangan Alpha Omega yang sudah mengklaim satu sama lain berpisah terlalu lama."
"Begitulah. Untung saja aku cepat-cepat menjemputnya," Namjoon menghembuskan napasnya, menggambarkan kelegaannya yang tidak pernah terucapkan. Ia menepuk pundak Yoongi, "Kau juga, tolong jaga baik-baik Jimin. Karena sekarang aku sudah mempercayakan Jimin padamu, aku berharap kau bisa membahagiakannya—bukan untukku, tapi untuk kalian berdua. Jangan pernah berbuat kesalahan seperti yang pernah kami lakukan."
"Tentu saja," Yoongi menyeruput kembali kopinya.
"Lalu apa yang sedang kau sibuk kerjakan saat ini?" Namjoon bertanya padanya.
"Hmm, pertama adalah membuat aransemen lagu untuk soundtrack drama KBS yang akan datang," Yoongi menghitung dengan jari-jari tangannya yang tidak memegang kaleng berisi kopi, "Lalu menyusun susunan musik yang kau minta, dan mungkin aku akan mengadakan kolaborasi dengan artis baru dari JYP."
"Sepertinya karirmu lancar, eo?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kalau kau sedang membuat soundtrack drama KBS, mungkin aku bisa membantumu. Ada sampel musik yang kurasa akan menarik perhatianmu."
Yoongi mengangkat alisnya, "Ah, jjinja? Kalau begitu kirimkan saja padaku sampelnya."
"Kalau kau tertarik untuk mendengarkannya, kau bisa datang ke rumahku," Namjoon menawarkan, "Sepertinya aku harus menjamumu dan Jimin untuk makan malam. Pidatomu menyelamatkan reputasiku dan juga rumah tanggaku."
Yoongi tidak menduga dengan ajakan yang diberikan oleh Namjoon. Alpha itu mengerutkan hidungnya, terlihat sedikit heran, "Kau serius ingin mengundang kami untuk makan malam?" hening selama beberapa detik, "Kurasa Jimin akan menolak."
"Setidaknya datang saja malam ini. Kau juga bisa membawakan Jimin makanan hasil masakan istriku," ujar Namjoon, masih memaksa.
"Ada apa memangnya? Kenapa kau memaksaku untuk pergi ke rumahmu?"
Namjoon berdeham, "Istriku ingin memastikan kalau kau dan Jimin benar-benar masih berpacaran."
"Jadi, dia masih cemburu pada Jimin?"
Namjoon mengangkat bahu, "Kau bisa mengerti, kan, Omega yang sedang hamil bisa jadi jauh lebih sensitif."
Yoongi menghirup udara dengan lamat-lamat melalui hidungnya, dan menghembuskannya kembali melalui mulutnya. "Baiklah. Kapan kau ingin aku datang? Aku harus mengabari Jimin dulu jika aku pergi ke rumahmu."
"Kau yakin tidak akan mengajaknya?"
Yoongi menggeleng, "Dia pasti merasa enggan untuk bertemu dengan istrimu."
Namjoon seolah-olah mengerti akan ucapan Yoongi, "Okay. Hari ini, mungkin jam 6 kalau kau tidak keberatan."
"Tentu," ia berjalan meninggalkan Namjoon. "Akan aku kabari lagi begitu aku memberitahu Jimin."
Yoongi membuang kaleng kopi yang telah kosong ke dalam tempat sampah, dan berpikir, mungkin jika ia menceritakan soal Chanyeol lagi pada Namjoon, Alpha itu akan membantunya.
4 September 20xx, Seoul
06.12 p.m
Tempat tinggal yang didiami oleh Namjoon dan istrinya benar-benar mencengangkan Yoongi. Rumah tersebut bertingkat 3, dengan pekarangan cukup untuk ditanami berbagai macam bunga dan pepohonan rindang, dan digenangi oleh sebuah kolam kecil.
Benar-benar rumah yang pantas untuk ditinggali oleh seorang CEO, batin Yoongi takjub.
Begitu Namjoon memarkirkan mobil BMW i8nya di garasi, dua ekor anjing berjenis maltese dan American eskimo berlari untuk menyambutnya. Sesaat Yoongi tertegun melihat dua anjing tersebut, yang mengingatkannya akan anjing poodlenya, Holly, yang ia tinggalkan bersama keluarganya di Daegu.
Kedua anjing tersebut tidak berhenti menjulurkan lidah dan menggerak-gerakkan ekor mereka dengan senang sewaktu Namjoon berjalan menuju pintu depan rumahnya.
"Kalau istriku menawarimu macam-macam, tolak saja, oke? Seharusnya hari ini dia banyak beristirahat karena dia sudah lewat dari waktu prediksi kelahiran yang ditentukan," Namjoon mengingatkan sewaktu ia hendak membuka pintu depan rumahnya dengan mesin pemindai sidik jari, sementara kedua anjingnya masuk melalui lubang surat.
Ruang foyer Namjoon juga benar-benar berkesan mewah, dengan penerangan dari lampu chandelier, sebuah meja dekorasi yang menampilkan foto pernikahannya dengan istrinya, beberapa foto Namjoon sewaktu masih muda. Di dinding terdapat banyak lukisan dan beberapa buah foto yang Yoongi asumsikan sebagai foto keluarga dari entah Namjoon sendiri atau istrinya.
Yoongi menatap sebentar ke barisan foto-foto tersebut. Istri Namjoon—seperti yang dikatakan oleh banyak orang, memang memiliki fitur yang elok dan berwajah menarik. Omega itu berwajah sempurna, dengan bibir ranum, hidung yang tinggi, dan sepasang mata berwarna hitam. Yoongi sempat tertegun, memikirkan bagaimana mungkin Namjoon bisa menyelingkuhi istrinya yang secantik ini (dalam kasus lain, mungkin Yoongi juga bisa memaklumi kenapa Jimin bisa menarik perhatian Namjoon).
"Jin, jeowasseoyo," panggil Namjoon pada istrinya.
Kalau hanya dengan melihat lewat foto Yoongi sudah menganggap istri Namjoon cantik, maka begitu ia melihat Seokjin secara langsung, kecantikan Omega itu benar-benar sulit diterima oleh kedua mata Yoongi. Apalagi melihat senyuman ramah Omega itu sewaktu ia menyadari keberadaan tamu barunya di rumah.
"Joon, siapa ini? Apa dia kolegamu?" tanya Seokjin ramah, bibirnya mengulas senyuman setelah menerima kecupan dari suaminya.
"Ini adalah Min Yoongi, alias Suga. Salah satu produser dan rapper di perusahaanku," kata Namjoon memberitahu.
Mata Seokjin agak membulat ketika ia mengenal nama Yoongi, "Oh, aku sudah melihat pidatomu di TV beberapa bulan lalu."
Yoongi buru-buru melangkah ke tempat Omega itu, mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri, "Min Yoongi imnida. Joesonghamnida, karena sudah merepotkan datang ke sini untuk malam ini." Mata Yoongi bergerak untuk melihat perut besar istri Namjoon, setengah terpukau dan setengahnya lagi tidak menduga ia akan melihat orang hamil sedekat ini (karena demi apapun, ia tidak pernah berhadapan dengan orang hamil secara langsung kecuali seorang bibinya di Daegu).
"Seokjin, panggil saja aku Jin," kata Seokjin masih mengulas senyum, ia meringis sambil memegangi bawah perut dan bagian belakang punggungnya, seolah-olah bagian perutnya akan jatuh jika ia tidak memeganginya. Omega itu menoleh pada Namjoon, "Apa—Omega bernama Jimin itu—" ia menjilati bibirnya dengan sikap agak enggan.
"Ah, dia tidak bisa datang. Ada urusan lain yang harus diselesaikan dengan orang tuanya di apartemenku," potong Yoongi cepat, berbohong. Ia tidak ingin Jimin terdengar seperti terang-terangan tidak ingin bertemu dengan Seokjin karena kasus perselingkuhannya dengan Namjoon.
Wajah Seokjin kembali melunak, "Kalau begitu, apa mungkin lebih baik aku segera memasakkan kalian makan malam?"
"Tidak perlu repot-repot memasak sekarang, Jinnie," kata Namjoon lembut pada istrinya, "Istirahatkan dirimu sebentar. Aku mau mengajak Yoongi ke studio dulu."
Seokjin mengangguk dan Namjoon memberi isyarat pada Yoongi untuk menunggunya sebentar, sementara ia mengantar istrinya untuk duduk di sofa mereka yang terletak di ruang tengah. Yoongi bisa memperhatikan bagaimana Namjoon benar-benar mencintai dan berusaha memberikan perhatian seutuhnya pada istrinya. Alpha itu bertukar beberapa patah kata pada Seokjin, memberi kecupan di perut Omega tersebut, sebelum akhirnya kembali untuk menemui Yoongi.
"Ah, mianhae kalau aku jadi meninggalkanmu sebentar. Istriku tampaknya sedang merasa tidak nyaman saat ini, jadi aku harus menemaninya sebentar," ucap Namjoon sewaktu ia membawa Yoongi menaiki tangga menuju ruang studio pribadinya.
"Aku mengerti," kata Yoongi. Ia membayangkan bulan-bulan ke depannya, saat Jimin hamil tua, ia tidak akan mungkin meninggalkan Omega itu sendirian di apartemen mereka. Mungkin juga ia akan memutuskan untuk cuti lebih lama sampai anak mereka lahir. Jimin, sebagaimana rajin dan professional Omega itu dapat mengurus dan mengatur kebutuhan hidupnya sendiri, tetap saja Yoongi mengkhawatirkan kesehatannya. Sejak kehamilannya, Jimin mulai sulit menjaga keseimbangan tubuhnya. Apalagi jika nanti kandungannya sebesar Seokjin (walau Yoongi yakin Jimin tidak akan pernah sebesar Seokjin suatu saat nanti)?
Selama Yoongi sibuk memikirkan masa depannya nanti bersama Jimin, ia sudah tiba di studio pribadi Namjoon. Studio pribadi atasannya itu sesuai dengan bayangannya, besar, berisi banyak perlengkapan layaknya studio professional. Di ruangan yang tertutup oleh pintu dari bahan kaca es, Yoongi dapat melihat sebuah MIDI controller, digital converters, meja kerja yang berisi audio interface, studio monitor, sebuah Mac, dan lain sebagainya.
Di dalam studio yang dilapisi oleh acoustic panel dan bass absorber tersebut, ternyata masih ada sebuah pintu yang mengantarkan Yoongi ke gudang arsip—atau lebih tepatnya tempat penyimpanan piringan hitam, CD, dan lain-lainnya.
Namjoon mengarahkannya pada sebuah sudut di mana terdapat banyak piringan hitam dan album-album tua dikumpulkan dalam suatu lemari kayu, "Kurasa lagu ini menarik untuk musik dari drama yang akan kau produseri," ujarnya.
"Hmm, gomawoyo," Yoongi menganggukkan kepalanya, berterima kasih. Ia mengikuti instruksi Namjoon untuk mendengarkan rekaman musik yang terbuat dari piringan bermaterial vinyl hitam tersebut. Di tengah-tengah mendengarkan jalinan alunan musik, Yoongi berkata, "Namjoon-nim, kurasa aku harus mengatakan sesuatu padamu."
Namjoon yang sedari tadi menunggu sambil menyandar pada dinding, mengangkat kedua alisnya, "Mengatakan apa?"
Yoongi mematikan pemutar musik piringan hitam, "Chanyeol—" Alpha itu menggigigit bibirnya, "Dia sudah tahu di mana Jimin tinggal."
"Mungkin dia sudah tahu sejak kau memberikan pidatomu itu," kata Namjoon. "Saat kau bilang kau dan Jimin sudah lama menjalin hubungan, mungkin dia langsung berasumsi bahwa Jimin sekarang tinggal bersamamu."
"Masalahnya, dia mengirimkan perlengkapan bayi ke apartemenku."
Namjoon hampir gelagapan mendengar ucapan Yoongi. Mulutnya membuka dan menutup secara bergantian, "Bahkan dia mengirimimu perlengkapan bayi? Apa jangan-jangan dia tahu kalau Jimin masih memiliki kemungkinan mengandung anaknya? Tapi bagaimana bisa?"
"Sudah pasti dia tahu," geram Yoongi, "Sewaktu berita kau dan Jimin menyebar, dia langsung menelepon ke nomor ponsel Jimin. Menanyakan apakah bayi yang dikandung Jimin adalah anaknya, atau anakmu."
"Ah, Alpha itu—dia benar-benar gila rupanya," Namjoon menyisir rambutnya ke belakang, mengaduh pelan, "Setelah kau mengakui bahwa Jimin mengandung anakmu pun, dia masih terus menerus mengejarnya?" Alpha itu berjalan bolak-balik, kemudian wajahnya teringat sesuatu, "Apa kau sama sekali tidak menyadap pembicaraan kalian? Bisa saja kita melaporkannya atas tuduhan blackmailing."
"Tidak akan semudah itu tentunya. Kau pasti tahu akan hal itu, sajangnim," sanggah Yoongi, menolak ide Namjoon. "Kalaupun aku menyerahkan rekaman ini ke pihak hokum, tanpa bukti lainnya, aku tidak bisa menuntut Chanyeol atas tuduhan pemerkosaan."
"Kau benar," sahut Namjoon jengkel.
"Sebenarnya, aku punya satu rencana untuk membuatnya mengaku pernah memperkosa Jimin," kata Yoongi lagi. "Tapi aku takut, justru aku akan mempermalukan nama Jimin. Ia akan dicap tidur dengan beberapa orang Alpha."
"Apa itu?" tanya Namjoon penasaran. "Mungkin aku bisa membantumu, kalau kau mau mengatakannya."
Yoongi tampak ragu.
4 September 20xx, Seoul
06.48 p.m
"Kebetulan sekali, makan malam sudah siap," kata Seokjin sewaktu Namjoon dan Yoongi berjalan menuju meja makan. Omega itu, meski dengan perutnya yang sudah sebesar itu, tampak aktif bergerak terus menerus dari dapur menuju ruang makan, sambil membawa beberapa piring berisi makanan. Yoongi mengernyitkan dahi, penasaran kenapa orang sekaya Namjoon tidak menyewa pembantu rumah tangga, apalagi di usia kandungan istrinya yang sudah setua ini.
Namjoon setengah berlari menuju istrinya, memapah Omega itu dan langsung membantu membawakan beberapa makanan lainnya ke meja makan, "Jin, sudah kukatakan biar aku saja yang membawakannya. Kau bilang punggungmu sakit, kan?"
"Sudah jauh lebih baik, makanya aku membiarkan diriku mengurus ini semua. Toh aku tidak bisa mempercayakanmu kalau menyangkut soal urusan dapur," debat istrinya dengan mulut setengah mengerucut. Ia kembali tersenyum sewaktu melihat Yoongi, "Yoongi-ah, boleh aku memanggilmu begitu? Kau duduk saja, aku akan menyiapkan semuanya."
"Tidak apa-apa, Jin—hyung," kata Yoongi, memilih nama panggilan yang setidaknya sopan untuk Seokjin.
Justru Yoongi merasa sungkan dan membantu Omega itu membawakan berbagai macam makanan yang belum dipindahkan ke meja makan. Ia masih belum terbiasa dijamu seperti ini di rumah atasannya sendiri.
Makan malam berlangsung begitu mereka selesai mempersiapkan semuanya. Namjoon dan istrinya terlihat seperti suami istri yang masih begitu kasmaran satu sama lain. Alpha itu tidak sedikit pun membiarkan istrinya untuk mengambil makanannya sendiri. Sedangkan Seokjin beberapa kali harus membereskan sisa-sisa makanan atau noda yang tidak sengaja disebabkan oleh suaminya (Yoongi tidak tahu kalau Namjoon bisa seteledor itu dalam soal makan). Melihat pemandangan tersebut, Yoongi seperti merasa terasingkan dari suatu keadaan di mana ia tidak boleh berada. Ia juga bertanya-tanya, apakah Seokjin membenci Jimin yang pernah menyelingkuhi suaminya?
"Ngomong-ngomong," kata Seokjin pada akhirnya, seolah-olah menyadari bahwa sedari tadi Yoongi merasa kikuk harus melihatnya bermesra-mesraan dengan suaminya di atas meja makan, "Apa tidak apa-apa kalau kau tidak mengajak Omegamu untuk makan malam di sini? Dia juga sedang mengandung, kan?"
"Tidak apa-apa, dia sudah biasa memasakkan masakan untuk kami. Toh sudah ada orang tuanya di apartemen kami," kali ini Yoongi merasa bersalah karena sudah berbohong. Tapi setidaknya ia jujur kalau Jimin pasti tidak akan menunggunya untuk makan malam setelah ia mengabari kekasihnya itu ia akan pergi ke rumah Namjoon.
"Mungkin kau bisa membawakan makanan untuknya. Aku membuatkan beberapa kudapan hari ini, kalau kau mau."
Yoongi hanya bisa tersenyum sungkan.
"Ah, gamsahamnida, mungkin lain kali saja."
"Aku memaksa. Lagipula…" Omega itu mengernyitkan dahi, seperti berusaha menahan rasa sakit, "Aku sebenarnya ingin bertemu dengan pacarmu itu, mungkin di lain waktu jika memungkinkan."
"Uh, untuk apa?"
"Hanya untuk memastikan sesuatu," kata Seokjin cepat. Di sebelahnya Namjoon tampak khawatir sewaktu istrinya meringis.
"Kau tidak apa-apa, Jin?"
Seokjin menggeleng, "Sepertinya anakmu ini baru saja bangun."
Namjoon mengelus perut istrinya, sementara Yoongi yang duduk di seberang mereka tampak kebingungan harus melakukan apa.
Makan malam mereka berakhir pukul setengah delapan malam. Yoongi dan Namjoon beringsut untuk membereskan makan malam mereka, sementara Seokjin masih mengeluh di atas kursi makan karena tidak diizinkan oleh suaminya untuk ikut membantu membereskan sisa-sisa peralatan makan.
Sewaktu Yoongi hendak membantu Namjoon memberikan istrinya segelas air putih, ia hampir tergelincir oleh sesuatu yang basah di atas lantai. Khawatir kalau ternyata ia mengambil air terlalu banyak sampai-sampai menumpah ruahkan isinya, Yoongi membungkukkan tubuhnya untuk memperhatikan bahwa ia memang baru saja menumpahkan air. Sewaktu ia berbalik, ia melihat perut besar Seokjin dan memperhatikan Omega itu yang ternyata berdiri di sebelahnya. Omega itu berdiri dengan sikap agak canggung sewaktu Yoongi menatapnya dengan tatapan bingung bercampur rasa bersalah.
"Oh, mianhae hyung, baru saja aku mau membawakan air putih, tapi malah tumpah—"
"Kau tidak menjatuhkan apapun, Yoongi-ah," sela Seokjin dengan rona merah di pipinya. Ia melihat ke bawah, ke celana yang ia kenakan. Yoongi bahkan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya sewaktu ia melihat celana yang dikenakan Omega itu sudah setengahnya basah. "Umm, air ketubanku pecah."
Setelah isi pikirannya berubah kosong selama beberapa saat dan langsung kembali panik, Yoongi sesegera mungkin memanggil-manggil nama Namjoon. Namjoon yang sedang sibuk mencuci di dapur kotor, langsung muncul di antara Yoongi dan Seokjin dengan tangan masih dipenuhi oleh busa sabun cuci.
"Wae yo? Apa ada sesuatu—" matanya melirik ke bawah lantai yang dipenuhi genangan air dan ke celana Seokjin yang sudah basah, "Oh, fuck."
"Cuci tanganmu sebelum kau memegangku, Joon," lirih istrinya pelan sewaktu Namjoon mengulurkan tangannya untuk membantu. "Bawakan aku celana yang baru dan tas persediaan yang sudah kusiapkan beberapa minggu lalu di kamar. Setelah itu antarkan aku ke rumah sakit," Namjoon langsung berlari menuju dapur kotor untuk mencuci tangannya dan melakukan instruksi yang diarahkan oleh sang istri. Sementara itu Seokjin mengalihkan wajahnya ke Yoongi, "Dan kau, Yoongi-ah, bisakah kau membantuku duduk di sofa?"
Yoongi kehilangan kata-kata, tetapi ia mematuhi Seokjin. Dengan hati-hati dan waswas, Alpha bersurai hitam itu membantu Seokjin ke ruang tengah, dan mendudukannya di sofa. Seokjin langsung mencengkeram lengannya sambil mengerang kesakitan. Yoongi bisa merasakan hatinya menciut mendengar Omega yang sama sekali bukan Omeganya sedang berjuang menahan rasa sakit untuk persiapan bersalin. Karena demi Tuhan, ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa!
Waktu seperti berjalan begitu lama sampai akhirnya Namjoon tiba di ruang tengah, dengan rambut agak acak-acakan. Sebuah tas terselempang di bahu kirinya, sementara tangan satunya membawa sebuah celana, dan satu tangannya yang lain membawa sebuah kamera. Yoongi mengernyitkan dahinya, tidak yakin bahwa Namjoon benar-benar hendak membawa kamera ke rumah sakit.
"Berikan celana itu padaku," kata Seokjin sambil setengah mengatur napas. Namjoon hampir terantuk karpet sewaktu ia hendak menyerahkan celana bersih pada istrinya.
Alpha itu bahkan terdengar kalang kabut sewaktu ia menyerahkan kamera pada Yoongi, "Bawa ini. Aku ingin mendokumentasikan kelahiran anakku hari ini!"
"Kau menyuruhku mendokumentasikan kelahiran anakmu?" tanya Yoongi kebingungan.
"Kau tunggu di luar sana, dan bawa kunci mobilku ini," kata Namjoon lagi, memberi perintah padanya. Yoongi hendak memprotes, karena seharusnya begitu makan malam, ia kembali ke apartemennya dan menghabiskan waktu bersama Jimin, bukannya malah menunggui Namjoon dan istrinya yang akan bersalin! "Kau yang mengendarai mobil, oke? Aku harus menemani istriku di belakang."
Berusaha menyembunyikan rasa frustasinya, Yoongi pergi keluar rumah Namjoon untuk mengemudikan mobil pria itu. Dua anjing peliharaan Alpha itu tidak berhenti menggonggong, sewaktu mereka mengendus perubahan aroma di sekitar tempat tinggal mereka. Samar-samar, Yoongi bisa mencium aroma lain di sekitar rumah itu. Ah, sepertinya aku harus minta izin pada Jimin kalau aku akan pulang lebih larut lagi.
Tidak lama kemudian, Namjoon sudah keluar dari rumahnya sambil memapah istrinya. Ekspresi Alpha itu terlihat lucu kalau Yoongi tidak menangkap rasa cemas di wajahnya.
"Ke mana kita pergi?" tanya Yoongi tepat sewaktu Namjoon membantu istrinya masuk ke dalam mobil.
"Rumah sakit Younsei," sahut Namjoon cepat. "Apakah sakit, Jin?"
Seokjin nyaris berteriak pada suaminya, "Tentu saja sakit!"
"Oke, oke, aku mengerti. Bernapaslah seperti biasa, seperti kata dokter—"
"Diamlah. Aku tahu bagaimana bernapas untuk saat ini, Joon."
Yoongi menelan ludahnya mendengar percakapan di belakang mereka. Baru beberapa saat lalu ia menyaksikan kemesraan di antara keduanya, tapi kini Seokjin sudah hampir meledak-ledak terhadap suaminya.
Perlu sepuluh menit untuk mendengarkan suara teriakan kesakitan yang berasal dari Namjoon ("Jin, tidak perlu mencakar tanganku, okay?"), dan gerungan rendah dari Seokjin, sampai akhirnya mereka tiba di pintu masuk rumah sakit. Namjoon langsung menyuruh Yoongi untuk ikut bersama mereka sambil membawakan kamera yang sedari tadi ia kalungkan.
Sepuluh menit lainnya Namjoon harus berdebat dengan perawat jaga karena ternyata ia tetap harus mengisi formulir pasien agar dapat menginap sampai beberapa hari ke depan. Sementara Namjoon sibuk menggerutu sambil mengisi formulir tersebut, Yoongi harus rela membiarkan tangannya diremas kuat-kuat oleh Seokjin.
"O-ooh," Seokjin memejamkan matanya sambil memegangi bawah perutnya, sementara satu tangannya memegang lengan Yoongi, "A-aku benar-benar minta maaf—sudah—hnggh, membuatmu jadi harus ikut menungguiku di sini."
Yoongi memaksa untuk tersenyum, "Eh, bukan apa-apa bagiku, hyung." Sebenarnya masalah, karena aku harus ikut menderita akibat Namjoon-nim.
Seorang perawat, Omega, muncul sambil mendorong sebuah kursi roda untuk Seokjin. Namjoon mengekor di belakang petugas, sementara Yoongi berlari dengan tampang sudah muak pada dunia mengikuti mereka dari belakang. Kini ia harus ikut menemani Namjoon dan istrinya di bangsal bersalin kelas satu—di mana hanya orang-orang yang berkepentingan dan memiliki hubungan dengan pasien diperbolehkan masuk (lagi-lagi, Yoongi hanya baru mengenal Seokjin beberapa saat lalu!).
Namjoon menyuruhnya untuk mulai merekam kondisi dan suasana sekitar sebelum anaknya lahir ke dunia, yang dipatuhi oleh Yoongi—meski Alpha itu terang-terangan memasang wajah memberengut tidak senang sewaktu tangannya memfungsikan mesin perekam. Ponselnya tiba-tiba bergetar setelah beberapa menit mulai merekam ekspresi Namjoon dan istrinya satu persatu, menampilkan nama Jimin di layar.
"Yeoboseyo, Jiminie?"
"Hyung, kenapa kau masih belum pulang? Aku menunggumu dari tadi."
Alpha itu tiba-tiba teringat bahwa ia belum mengabari Jimin tentang dirinya yang harus menunggui Namjoon dan istrinya yang akan bersalin. "Oh, ne, aku terjebak di rumah sakit karena tiba-tiba saja istri Omega Namjoon-nim akan melahirkan. Aku harus merekam peristiwa kelahiran anak mereka seperti orang bodoh di sini. Padahal bisa saja dia yang merekam kelahiran anak mereka, bukannya malah menyuruhku yang orang asing ini."
Ia bisa mendengar suara tawa cekikikan dari Jimin, "Begitu rupanya. Jadi, kapan kau akan pulang?"
"Aku akan pulang secepatnya. Bagaimana keadaan di apartemen? Aman? Kau sudah makan malam, kan?"
"Aku sudah makan sejak jam 6 sore tadi, dan kurasa anak kita sedang tertidur di perutku saat ini. Tidak perlu khawatir. Juga keadaan sejauh ini aman-aman saja. Tidak ada penguntit, tidak ada orang asing masuk ke apartemen."
Yoongi menghembuskan napas lega, merasa dadanya terasa lebih ringan, "Baguslah kalau begitu. Jangan menungguku, oke? Lebih baik kau tidur sekarang. Mungkin aku akan pulang besok pagi."
"Ne. aku mengerti. Sampaikan salam dan ucapan selamat dariku pada Namjoon-sajangnim—dan istrinya."
Seulas senyuman merekah di wajah Yoongi, "Tentu."
Tepat sewaktu ia mematikan telepon, Yoongi mendengar suara langkah kaki disertai bau maskulin seorang Alpha. Ia agak terkejut sewaktu tahu bahwa dokter yang menangani persalinan istri Namjoon adalah seorang Alpha. Namjoon tidak malu-malu untuk menunjukkan rasa cemburu dan keinginan untuk melindungi istrinya dari Alpha lain sewaktu dokter tersebut datang. Sambil duduk dengan sikap menunggu, Yoongi hanya bisa mendengar perdebatan singkat antara dokter, Namjoon, dan sang istri yang sedang meringkuk kesakitan di atas ranjang rumah sakit.
"Dia sudah pembukaan lima."
"Sudah sejauh itu?! Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah mengalami kontraksi sejak lama, Jin?!"
"Ahh, bagaimana aku tahu aku sudah mengalami kontraksi sejak kemarin kalau setiap hari aku merasa kesakitan?"
"Bagaimana kalau kau melahirkan di dapur?"
"Diamlah, Joon! Aku yang sedang kesakitan sekarang!"
"Tapi—"
"Kalau kau tidak diam, aku benar-benar akan melakukan kebiri padamu dengan tanganku sendiri."
Ucapan itu langsung mendiamkan Namjoon.
Yoongi hanya bisa meringis, merasa ngilu mendengar ucapan Seokjin.
Namjoon benar-benar tidak tidur semalaman itu. Setelah membantu istrinya melepaskan seluruh pakaiannya, ia benar-benar tidak berhenti memegangi tangan Omega itu, beberapa kali memekik kesakitan ketika istrinya menekan tangannya terlalu kuat, atau ikut berteriak sewaktu istrinya kembali merasakan kontraksi (Yoongi tidak tahu seberapa sakit tangan Alpha itu sewaktu istrinya meremukkan tulang tangannya). Yoongi sudah berada terlalu jauh bersama mereka karena kini ia tidak berani untuk pamit pulang. Namjoon beberapa saat lalu sudah menghubungi kedua orang tuanya dan orang tua Seokjin melalui video call, dan memberitahu Yoongi bahwa ia bisa pulang begitu salah satu dari orang tua mereka tiba di rumah sakit.
Yoongi bernapas lega, merasa tidak sabaran untuk pulang ke apartemennya dan pergi dari tempat yang asing bagi dirinya ini. Tetapi belum sampai jam 12 malam, Seokjin kembali mulai mengeluh tidak nyaman, dan kemudian Namjoon memanggil dokter melalui tombol panggilan.
"Yoongi-ah, aku benar-benar berhutang budi padamu karena kau bersedia menemani kami sampai sejauh ini," Yoongi bisa mendengar suara Namjoon seperti memohon padanya, "Tapi karena orang tua kami masih belum ada yang tiba, bisakah kau merekam semua ini? Sepertinya anak kami akan lahir sebelum jam 12 malam."
Yoongi seperti ingin dirinya ditelan bumi, entah ke mana untuk saat itu. Ia tidak bisa membayangkan dirinya harus merekam semua peristiwa di hadapannya dan melihatnya menjadi sebuah pemandangan berdarah. Hanya memikirkannya saja sudah membuat Yoongi ngilu.
Ia bisa merasakan makanan yang baru beberapa jam lalu disantapnya di rumah Namjoon, perlahan mulai bergerak ke kerongkongannya. Kini dokter sudah memposisikan diri di antara selangkangan Seokjin (terlalu banyak informasi yang dilihat di sini, demi Tuhan!), sementara Namjoon terus setia menunggui istrinya. Alpha itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk membisikkan kata-kata berisi dukungan dan menyeka keringat yang mulai bermunculan di tengkuk sang istri. Sementara Seokjin hampir menangis sewaktu Omega itu mulai merasakan keinginan untuk mengejan dengan otot-oto perutnya sambil berpegangan kuat-kuat di lengan suaminya.
Mungkin pemandangan itu akan terlihat mengharukan bagi Yoongi, jika matanya tidak menangkap sesuatu yang menyembul keluar di antara selangkangan Seokjin (bagaimana caranya ia mengalihkan wajah dari pemandangan mengerikan ini sementara ia harus merekam semuanya sendirian? Ah, Yoongi ingin mati saja rasanya). Yoongi bisa mencium aroma pekat bayi, bercampur aroma manis milik Seokjin, dan juga aroma musk milik Namjoon, yang membuat kepalanya terasa pusing. Percampuran aroma tersebut membuatnya tiba-tiba saja ia merindukan aroma cherry milik Jimin.
Bayi Namjoon dan Seokjin terlahir ke dunia hanya dalam selang beberapa menit sejak sang ibu mulai mendorong keluar anak mereka. Namjoon langsung menangis sewaktu ia mendengar suara tangisan pertama anaknya—mencium istrinya yang juga sama-sama menangis di sebelahnya, dan Yoongi memanfaatkan momen tersebut untuk merekam ekspresi di wajah Alpha tersebut.
"Chukhahaeyo, agiga aleumdabneyo!" seru sang perawat sewaktu ia menawarkan Namjoon untuk memotong tali pusar anaknya. "Kalian memiliki seorang putri yang sehat!"
Wajah Namjoon terlihat lucu sewaktu Alpha itu menangis keras-keras, melihat putrinya bergerak-gerak di antara kedua tangan perawat. Setelah dibersihkan, ditimbang berat badan dan diukur panjang tubuhnya, sang bayi perempuan mereka langsung diletakkan di atas dada Seokjin. Namjoon dan istrinya langsung mengendus bayi mereka, yang merupakan suatu kebiasaan pasangan Alpha-Beta-Omega untuk memastikan gender kedua anak mereka.
"Alpha, sesuai dugaanku," bisik Namjoon bangga, wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang tidak terhingga.
Pada akhirnya Yoongi benar-benar menghembuskan napas lega, ikut senang atas kelahiran putri pasangan Alpha dan Omega di depannya. Dan lega karena setidaknya setelah ini ia akan membiarkan keluarga kecil tersebut menikmati momen-momen kebersamaan mereka.
Seokjin kembali mengaduh kesakitan saat anak mereka mulai menyusu di dadanya—mulai mengejan, dan Namjoon tampak cemas sambil memandangi sang dokter yang menangani kelahiran putri mereka.
"Tenang saja, dia masih berkontraksi untuk persiapan pengeluaran plasenta," sahut dokter menenangkan Namjoon.
"Apa benar itu plasenta? Sepertinya aku melihat kepala lain di antara sana," kata Yoongi tidak yakin di belakang dokter, masih mengarahkan kameranya ke antara dua kaki Seokjin yang kembali terbuka lebar. Setidaknya ia tahu mana yang plasenta dan mana yang merupakan kepala manusia.
Dokter buru-buru memeriksa ulang di antara selangkangan Omega tersebut. Alpha itu tertawa canggung, "Ne. Kau benar. Sepertinya masih ada satu lagi yang masih belum keluar."
BRUKK.
Kamera kini beralih ke arah Namjoon yang jatuh terkapar di atas lantai, sementara Seokjin memaki-maki suaminya. Omega tersebut tampak jengkel karena suaminya malah meninggalkannya diselimuti rasa sakit yang tak terhingga sendirian.
"Bangun, Namjoon! Atau aku akan—ooh—"
Sesuatu bergerak keluar di antara selangkangan Seokjin.
Yoongi benar-benar tidak bisa menahan ekspresi di wajahnya yang seperti antara ingin menahan mual dan ingin melarikan diri.
Mungkin untuk seminggu ke depan, Yoongi memutuskan untuk libur dari studio rekaman, agar ia bisa melupakan pemandangan mengerikan di hadapannya saat ini.
5 September 20xx, Seoul
08.22 a.m
Yoongi memutuskan pulang keesokan paginya karena ia tidak tega untuk membangunkan Jimin di tengah fajar. Setelah kelahiran tidak terduga anak kedua Namjoon—seorang putra, keluarga istrinya menampakkan diri dan Yoongi bisa segera pamit undur diri ke apartemennya. Tetapi ia memutuskan untuk tidur dengan posisi duduk di area tunggu rumah sakit, bersama keluarga pasien lain yang tengah menunggu kabar anggota keluarga mereka. Ia terbangun pada pukul 7 pagi oleh panggilan dari Namjoon. Penampilan Alpha itu terlihat benar-benar kusut dengan kantung mata yang menggantung di bawah matanya, serta pakaian yang sudah acak-acakan. Tetapi ekspresi bahagia di wajahnya benar-benar menghapuskan kesan lelah pada Alpha tersebut.
"Mian Yoongi-ah, karena aku benar-benar merepotkanmu hari ini. Biar aku yang akan mengantarkanmu pulang ke apartemenmu."
Masih setengah mengantuk, Yoongi menjawab, "Tidak perlu. Kau harus menemani istrimu dan kedua bayi kalian sekarang."
"Aku memaksa," sahut Namjoon lagi, "Lagipula sudah ada kedua orang tua Seokjin yang menemani."
"Kalian sudah menentukan nama untuk kedua bayi kalian?"
Senyuman di wajah Namjoon membuat pria tersebut terlihat konyol, "Jisoo—untuk putri kami, yang nanti akan tumbuh menjadi seorang Alpha. Lalu untuk putra kami, Omega, aku dan Seokjin sepakat untuk menamakannya Minhyun. Kurasa kami sudah merasa cukup dengan dua anak saja setelah ini. Seokjin sangat kelelahan setelah menyusui dua anak kami."
Yoongi hendak mengungkapkan Namjoon tidak perlu sampai panjang lebar menjelaskan tentang rencananya di masa depan, tetapi ia sangat mengapresiasi atasannya tersebut. Setidaknya Yoongi dengan tulus dan ikhlas ikut bahagia melihat kebahagiaan Namjoon. Ia semakin tidak sabaran menunggu kelahiran anaknya.
Begitu Namjoon tiba di depan apartemen Yoongi, Alpha itu berkata, "Kuharap kau mau berbagi kabar bahagia ini dengan Jimin."
"Pasti aku akan melakukannya," Yoongi menutup pintu mobil dan beranjak masuk ke dalam lobby apartemen.
Sewaktu ia mengetuk pintu, tidak butuh waktu lama untuk Jimin membukakan pintu untuknya. Ia langsung memeluk Jimin, mencium setiap detail di tubuh Omega itu, menghirup aroma manis sang kekasih sebanyak-banyaknya. Tidak lupa ia membungkuk untuk memberi kecupan selamat pagi pada bayi mereka di dalam perut Jimin.
"Hyung? Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau jadi begini?" tanya Jimin geli, memicingkan mata sewaktu Yoongi mencium lehernya seperti hendak melumat Omega itu bulat-bulat.
"Aku rindu padamu. Kau tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya terjebak di dalam rumah sakit dan menyaksikan benda seukuran bola basket keluar di antara selangkangan Omega yang sama sekali bukan Omegaku," kata Yoongi dengan suara setengah merengek dan mengeluh. "Aku benar-benar harus merekam semua kejadian di bangsal persalinan sampai orang tua istri Namjoon-nim tiba."
Jimin terkekeh pelan, "Sebentar lagi kau juga akan mengalami hal yang sama, Hyung."
"Tapi aku hanya rela melewatkan pengalaman tadi kalau kau yang melahirkan, bukan malah menyaksikan istri Omega orang lain."
"Lalu bagaimana dengan keadaan mereka?"
"Seokjin-hyung—istri Namjoon-nim, sehat-sehat saja sepertinya," jawab Yoongi, "Tapi kau tidak akan menyangka ternyata justru dia malah melahirkan dua anak."
Jimin membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya dengan ucapan Yoongi, "Jjinja?! Namjoon-sajangnim punya anak kembar?! Mereka pasti lucu sekali!"
"Kau menginginkan anak kembar juga, eo?"
Jimin menggembungkan pipinya dan menepuk kedua pundak Yoongi, "Tidak lucu, babo!"
Yoongi terkekeh, "Ne, ne, aku hanya bercanda!"
Kemudian wajah Jimin kembali berubah cemas, "Lalu—apakah—" ia tampak ragu-ragu, "—apakah istrinya menanyakan tentangku?"
"Dia bilang dia ingin sekali bertemu denganmu, tapi aku berbohong dengan mengatakan bahwa ada orang tuamu di sini."
Jimin menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Hei, Jiminie?"
"Ne?"
"Aku sudah minta izin untuk cuti selama minggu depan. Mungkin kalau kau tidak keberatan, kita bisa jalan-jalan untuk penyegaran? Sudah cukup lama kau tidak pernah keluar dari apartemenku, kan?"
Jimin memalingkan wajahnya, menggigit bagian bawah bibirnya dengan gerakan kikuk, seperti bimbang dengan ajakan Yoongi, "Tapi aku masih takut untuk bertemu dengan banyak orang di sana. Bagaimana kalau mereka—"
"Jangan pedulikan apa kata orang-orang," kata Yoongi sambil meraih tangan Jimin, meremasnya, suatu kebiasaan yang ia lakukan jika kekasihnya mulai merasa termangu-mangu, "Aku sudah pernah mengatakannya padamu, kalau kita melakukannya bersama-sama, tidak akan ada orang yang bisa mengganggu kita."
Sepertinya kalimat yang dikatakan oleh Yoongi membangkitkan kepercayaan diri di dalam raga Jimin, karena raut Omega itu berubah cerah. Ia memiringkan kepalanya dengan malu-malu saat mengatakan, "Bagaimana kalau kita pergi ke Seoul Land lagi? Atau mungkin belanja ke distrik Myeongdong?"
"Tentu," Yoongi mengangkat tangan Jimin untuk memberi ciuman di punggung tangan sang Omega, matanya menyipit oleh seulas senyuman, "Setelah itu kita makan malam di luar."
September 20xx, Seoul
Hari-hari berjalan dengan normal, seperti yang diharapkan oleh Yoongi jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah kencan mereka beberapa hari lalu di Seoul Land, Jimin mulai kehilangan akan rasa takutnya untuk berkeliaran di tempat umum. Sewaktu mereka pergi ke Seoul Land, beberapa orang penggemar menyadari identitas keduanya. Beberapa di antara mereka meminta foto, dan beberapa lagi memilih hanya menyapa dan membiarkan kedua pasangan kekasih tersebut menikmati waktu untuk berduaan. Meski kencan mereka berjalan dalam waktu singkat karena Jimin yang mudah merasa lelah akibat kehamilannya, Yoongi dan Jimin benar-benar menikmati waktu mereka berduaan menikmati wahana di Seoul Land setelah berbulan-bulan lamanya.
Tetapi ada saat-saat di mana Yoongi tidak berhenti untuk menoleh ke belakang dengan sikap waspada, mengedarkan pandangannya, berhati-hati jika ada sosok orang lain yang mengikuti mereka. Entah kenapa, ia tetap merasa seperti mereka tengah diikuti dan dikuntit oleh orang lain.
Saat Yoongi berpikir ia merasa waspada terhadap sesuatu yang tidak perlu dicemaskan, tiba-tiba saja sebuah paket misterius berisi perlengkapan bayi kembali dikirimkan ke apartemennya. Di dalam paket tersebut disertakan sebuah surat dengan inisial nama P. Cy. Yoongi tidak menceritakan tentang kedatangan paket tersebut pada Jimin, dan memilih untuk langsung membuangnya sendiri ke tempat sampah terdekat di kondominium yang ia tinggali.
Lalu beberapa hari berikutnya, sewaktu Yoongi meninggalkan Jimin sendirian di apartemen seperti biasa untuk kembali mengkomposisikan lagu terbarunya, kembali datang paket berisi perlengkapan bayi yang berasal dari Chanyeol. Jimin langsung meneleponnya sewaktu Yoongi sedang di tengah-tengah merevisi bagian penting dari lagu yang akan ia luncurkan.
Omega itu tampak ketakutan, merasakan bahwa ada seseorang yang mengintai di depan apartemennya sewaktu menerima paket dari petugas pengantar paket. Siang itu juga, Yoongi langsung bergegas untuk pulang ke apartemennya, dengan perasaan panik bercampur waswas seperti membuncah di dalam dadanya. Ia tidak berharap akan menemukan Jimin sendirian di apartemennya, dengan pintu terbuka lebar, dan sosok Chanyeol yang menghilang di ujung lorong.
Sesampainya di apartemen, untung saja bayangan buruknya akan kejadian pemerkosaan Chanyeol terhadap Jimin tidak benar-benar terjadi. Pintu apartemennya masih terkunci rapat dari dalam, tapi sewaktu ia berjalan masuk ke lantai di mana ruangan apartemennya berada, ia melihat seorang pria—Alpha, yang samar-samar berbau seperti Chanyeol—berlari menjauh menuju tangga darurat. Yoongi tidak sempat mencegat orang misterius tersebut karena ia segera memencet bel apartemennya, memanggil Jimin.
Jimin membukakan pintu sedetik kemudian, matanya sudah sembab karena menangis ketakutan. Yoongi mencium dahi kekasihnya, membisikkan kata-kata yang dapat menenangkan Omega tersebut.
"Aku sudah berada di sini, tidak ada yang perlu kau takutkan."
Sore harinya, tepat setelah kejadian tersebut terjadi, Yoongi langsung memeriksa ruang kamera pengawas untuk memastikan bahwa ada orang yang benar-benar mengintai Jimin. Dugaannya benar, karena ia melihat dari beberapa sudut pandang, selama beberapa minggu terakhir, ada orang asing berpakaian hitam-hitam menguntit dari tangga darurat. Orang itu sesekali berkeliaran di depan pintu apartemennya, menunggu. Tetapi untung saja Jimin tidak barang sedetikpun berusaha membuka pintu.
Merasa geram, Yoongi akhirnya memutuskan untuk bertindak. Ia meminta Jimin untuk menghubungi Chanyeol secara langsung.
"A-ani, aku tidak mau melakukannya," tolak Jimin mentah-mentah, menggelengkan kepalanya keras-keras, "Aku terlalu takut mendengar suaranya—"
"Tapi kau harus melakukannya, Jiminie, hanya sekali ini saja."
"Bagaimana jika dia benar-benar ingin bertemu denganku? Lalu melakukan hal itu lagi padaku?"
"Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal itu lagi kepadamu," Yoongi berjanji, "Kau hanya perlu meneleponnya, membuat perjanjian akan bertemu di mana. Setelah itu kau bisa menyerahkan semuanya padaku."
Jimin seperti hampir menangis, "Aku tidak bisa bertemu dengannya, Hyung. Jebal, jangan paksa aku untuk melakukannya."
Yoongi merasa tidak tega sewaktu ia melihat air mata mengalir di pipi Omega yang dicintainya, hatinya terenyuh perih mendengar permohonan Omega berambut pirang itu. "Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya," ia mengelus permukaan perut kekasihnya dengan sentuhan lembut, sebelum menggenggam kedua tangan Jimin dengan erat, "Bisakah kau percaya padaku kali ini, Jiminie?"
Kini Jimin menatap Yoongi dengan tatapan penuh kepastian, "Aku tidak pernah sedikit pun berhenti mempercayaimu, Hyung."
30 September 20xx, Seoul
07.00 p.m
Semua mata memandangnya sewaktu ia berjalan memasuki sebuah restoran mewah di pinggiran distrik Cheongdam. Beberapa orang memintanya untuk mengambil foto bersama, tetapi olehnya dengan sopan ditolak, mengatakan bahwa ia memiliki urusan yang harus segera diselesaikan. Setibanya di dalam restoran yang dituju, ia duduk di sebuah meja yang dengan sengaja telah dipesankan untuk dua orang.
Satu orang yang ditunggu-tunggunya berjanji akan tiba sepuluh menit terlambat dalam pembicaraan mereka melalui telepon, masih menyisakan waktu untuknya minum wine. Ia memesan satu gelas red wine yang hanya cukup untuk dirinya mungkin baginya menawarkan minuman berakohol pada orang hamil, terutama jika orang tersebut adalah Omega yang saat ini kemungkinan sedang mengandung anaknya.
Chanyeol—nama Alpha itu—sibuk melihat ke layar ponselnya. Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga menit. Ada tujuh menit lainnya sampai Jimin tiba untuk makan malam bersamanya hari ini.
Agak mengejutkan memang, setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah bertemu dengan mantan kekasihnya tersebut, tiba-tiba saja Jimin mengajaknya untuk bertemu. Padahal selama ia yang memulai untuk mengajak Omega itu berkencan dengannya, Jimin tidak akan pernah meresponnya sama sekali. Mungkin saat ini Jimin sedang berkeinginan membuat kesepakatan yang tepat dengannya—misalnya meminta uang tunjangan untuk anak mereka yang akan lahir nanti. Chanyeol tersenyum, membayangkan sebentar lagi ia akan bisa bertemu dengan sosok yang telah lama menghilang dari kehidupannya setelah hubungan mereka retak akibat keputusan yang dipilih olehnya.
Jimin, mantan kekasihnya itu, dulu hanyalah seorang pemuda dan Omega biasa yang tinggal di Busan. Jimin sama sekali tidak menarik saat itu. Gembul, berambut hitam, dengan kacamata yang tebal. Justru yang pertama kali jatuh cinta adalah Jimin. Omega itu dengan malu-malu mengajak Chanyeol bertemu di belakang gedung sekolah yang mereka hadiri bersama (di mana Chanyeol adalah kakak tingkat yang popular, dan Jimin—yah Jimin saat itu hanyalah seorang anak biasa yang sama sekali tidak menyita perhatiannya). Chanyeol awalnya ingin menolak pernyataan cinta Omega itu, tetapi sewaktu ia melihat Jimin—dengan penampilannya yang memesona di gedung pertunjukkan sekolah mereka—telah merebut hati Chanyeol.
Jimin sama sekali tidak menarik di matanya, tetapi Omega itu memiliki tubuh yang montok, pemandangan yang cocok untuk dinikmati oleh Alpha manapun. Mereka berhubungan seks beberapa kali setelah beberapa bulan kemudian, dan Chanyeol harus mengakui Jimin benar-benar memuaskan gairahnya di ranjang, berbeda dengan Omega ataupun Beta wanita lainnya yang pernah ia tiduri. Tetapi diam-diam Chanyeol tetap tidur bersama Omega lain, di belakang Jimin, tanpa sepengetahuan Omega tersebut. Dan ketika muncul kesempatan untuk Chanyeol menjadi seorang idola di Korea, ia dengan mentah-mentah memutuskan hubungannya dengan Jimin.
Chanyeol sama sekali tidak bisa melupakan kekecewaan yang tercetak jelas di wajah Omega itu. Ia tidak peduli, karena ia berpikir ia akan bisa menemukan banyak Omega atau Beta wanita yang jauh lebih baik daripada Jimin. Tidak sampai setahun ia di Seoul, Chanyeol sudah dua kali menjalin hubungan dengan seorang Omega dan seorang Beta wanita. Hubungan mereka terjalin singkat karena ia merasa bosan dengan hubungan monoton mereka, ditambah lagi karena ia harus sibuk menjalani latihan rutin sebagai seorang idola.
Lalu muncul Baekhyun, Omega cantik yang sempat mengisi hatinya sampai dua tahun kemudian. Baekhyun jauh lebih cantik dari Jimin, ia harus mengakui, dan juga memiliki bentuk tubuh yang tidak kalah menarik. Chanyeol hampir yakin sepenuhnya kalau ia mencintai Baekhyun, sampai akhirnya muncul Jimin di berbagai macam media sebagai salah satu idola baru yang menjanjikan.
Chanyeol benar-benar pangling sewaktu ia melihat Jimin pertama kalinya di TV. Omega itu jadi jauh lebih cantik daripada yang bisa diingatnya. Pipinya yang gembul kini digantikan oleh pipi yang lebih tirus, menonjolkan lekukan wajah yang lebih menarik. Bibirnya yang dulu sudah ranum, kini terlihat semakin menarik dengan polesan warna alami. Sorot matanya juga lebih percaya diri daripada dulu, membuat Jimin berkesan seperti seorang Omega yang dewasa dan juga tentunya lebih menawan.
Chanyeol penasaran. Ia berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Jimin. Ia pergi berkunjung diam-diam ke perusahaan NJE-C yang sudah jelas-jelas adalah saingan perusahaan tempatnya bekerja. Tapi Chanyeol tidak peduli, ia ingin bertemu dengan Jimin, merindukan kekasihnya yang sudah lama ia tinggalkan. Sempat beberapa kali ia berpapasan dengan Jimin, tetapi Omega itu seperti tidak menyadari keberadaannya. Chanyeol semakin tidak berputus asa.
Obsesinya akan Jimin, semakin memuncak sewaktu ia melihat Jimin menari di atas panggung. Kemampuan Jimin menunjukkan semangatnya untuk menari dan keindahan di setiap lekukan tubuhnya telah sepenuhnya menjadi impian Chanyeol. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan kembali Jimin.
Tetapi kemudian, tanpa sengaja, saat ia menunggu Jimin keluar dari gedung tempatnya bekerja, ia menangkap Jimin sedang berhubungan seks di balik kerai jendela. Chanyeol tidak dapat melihatnya dengan jelas dengan matanya, tetapi dengan bantuan kamera lensa jauhnya, ia mengambil foto dan mempergoki Jimin sedang berhubungan dengan atasannya sendiri. Perasaan marah dan benci menyelimuti Chanyeol. Ia pergi dari tempat itu dengan hati yang telah tercampur aduk.
Ia membenci Namjoon kala itu, tetapi masih belum cukup berani untuk menyebarkan aib besar tersebut ke publik. Ia masih mencintai Jimin, ia menyadari. Maka Chanyeol hanya diam, berusaha menjauh dari Jimin. Sampai akhirnya Jimin kembali ke kehidupannya, sewaktu ia bertemu dengan Omega itu—sedang bersama dengan orang lain. Saking senangnya melihat Jimin, Chanyeol sampai melupakan kalau ia sedang bersama Baekhyun. Matanya hanya menangkap Jimin saat itu. Baginya, Jimin adalah dunianya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memiliki Jimin seutuhnya.
Langkah pertama yang ia ambil adalah memutuskan hubungan dengan Baekhyun. Baekhyun menangis meminta-minta padanya agar terus mempertahankan hubungan mereka, tetapi Chanyeol sudah tidak peduli dengan Omega itu. Tentu saja rumor tentang hubungannya yang sudah terputus dengan Baekhyun langsung menjadi bahan pembicaraan. Chanyeol tidak peduli, karena saat itu di pikirannya hanya ada Jimin. Beberapa kali ia mengirimkan Jimin karangan bunga, atau dengan sengaja menghubungi nomor Jimin yang diketahuinya dari Leeteuk. Jimin tidak pernah merespon—yang kemudian Chanyeol ketahui karena Omega itu menjalin hubungan dengan Alpha lain—seorang Alpha yang selalu tampak tidak ramah dan tidak bersemangat.
Alpha itu—Min Yoongi alias Suga—sepertinya menyadari kalau Chanyeol mengincar kekasihnya. Hampir setiap saat Jimin selalu bersama Yoongi, tidak memberi sedikitpun celah bagi Chanyeol untuk berinteraksi dengan Omega itu. Bahkan mulut tajam dan tangan ringan Yoongi benar-benar menyiutkan nyalinya untuk mendekati Jimin. Sampai suatu hari, ketika ia menguntit Jimin di apartemen pribadi Omega itu yang ditinggali bersama dengan dua orang rekannya yang lain, ia mencium aroma cherry—aroma khas Jimin—menguar di balik pintu. Chanyeol menyadari bahwa Omega itu sedang heat, dan ia tidak menyia-nyiakan barang semenit pun untuk beranjak dari apartemen.
Tepat begitu Yoongi pergi meninggalkan apartemen Jimin, keberuntungan seperti berada di tangan Chanyeol. Pintu apartemen tidak terkunci. Dan seperti kehilangan akal pikirannya, Chanyeol menerjang masuk ke dalam apartemen Jimin, menemukan Omega itu dalam keadaan tidak mengenakan pakaian. Chanyeol ingat bagaimana ia langsung memuaskan nafsu dan gairahnya yang membludak begitu ia melihat tubuh indah Jimin menyelinap di dalam pikirannya.
Ia tidak berhenti sedikit pun. Tangannya sibuk menggerayangi setiap inci di tubuh Jimin, dan mulutnya mengeksplorasi semua permukaan kulit yang dapat ia rasakan. Jimin berontak, tapi Chanyeol adalah seorang Alpha dengan tubuh dan kekuatan yang lebih besar. Omega itu bukan apa-apa baginya, apalagi aroma pekat cherry yang menyesaki hidungnya benar-benar membuat Chanyeol kehilangan akal pikirannya.
Sewaktu ia memasukkan barang kejantanannya ke lubang kemaluan Jimin, ia hampir-hampir tidak peduli dengan cairan sperma Alpha lain yang membasahi selangkangan Omega itu. Justru ia semakin bersemangat untuk kembali merasakan sensasi sewaktu barang miliknya memasuki lubang kemaluan mantan kekasihnya—yang entah bagaimana masih hangat dan ketat, seperti sewaktu pertama kali mereka berhubungan intim.
Chanyeol yakin Jimin langsung mengandung anaknya saat itu dan beringsut keluar dari apartemen sebelum ada orang lain yang mempergokinya. Tapi ternyata ia malah bertatap muka dengan Yoongi. Ia bisa melihat sebersit rasa marah yang memuncak sewaktu matanya menangkap mata Yoongi. Alpha itu seperti hendak menghajarnya, tapi justru Yoongi berlari ke arah lain untuk memeriksa keadaan kekasihnya.
Seharusnya ia merasa jijik pada dirinya sendiri, telah memperkosa Jimin—meski berulang kali Jimin berusaha menghentikannya. Justru ia merasa puas telah mencicipi Omega itu di tengah heatnya tiba.
Tepat beberapa minggu kemudian, ia melihat Jimin dibawa oleh Yoongi dan Namjoon ke sebuah rumah sakit sewaktu menemani rekan satu band untuk melakukan pemeriksaan rutin. Dugaannya tepat, Jimin hamil—karena ia melihat Yoongi dan Namjoon keluar dari ruangan spesialis OBGYN. Tentu saja Chanyeol merasa senang—pada akhirnya ia punya kesempatan untuk mendapatkan Jimin—meski dengan cara yang salah.
Tetap saja ia tidak punya celah untuk mendekati Jimin karena kekasih barunya itu—Yoongi, selalu terus bersamanya. Chanyeol harus menemukan cara untuk menjauhkan keduanya, bagaimanapun caranya. Maka hal pertama yang dipikirkannya adalah menyebarluaskan foto Jimin dan Namjoon. Chanyeol berpikir, jika Yoongi tahu Jimin pernah menjalin hubungan dengan atasannya sendiri, Alpha bersurai hitam itu pasti akan langsung meninggalkan Jimin—atau setidaknya dapat merenggangkan hubungan mereka. Dan bukti bahwa hasil dari perselingkuhan mereka yang menyebabkan Jimin langsung hamil, tidak mungkin akan membuat Alpha sesetia apapun merasa sakit hati. Mendapati idenya begitu brilian, Chanyeol langsung menyuruh seseorang untuk menjual foto tersebut ke sebuah media mainstream yang juga sudah terkenal, dan memberitakan hal tersebut secara luas.
Begitu berita perselingkuhan Jimin dan Namjoon tentunya mengundang perhatian banyak orang. Banyak yang mengira Jimin mengandung anak Namjoon, tapi Chanyeol memiliki kepercayaan bahwa justru Jimin mengandung anaknya. Ia merasa puas dengan rencana yang telah dijalankannya. Lalu malam berita tersebut menguar, Chanyeol langsung menghubungi Jimin, pura-pura menjadi tolol dengan menanyakan apakah Jimin mengandung anak Namjoon atau justru mengandung anaknya. Ia tahu Jimin pasti menjawab kalau ia mengandung anaknya. Tak disangkanya yang justru menjawab adalah Yoongi yang langsung memutuskan sambungan telepon.
Chanyeol merasakan amarahnya telah mencapai ubun-ubun. Ia melampiaskan kemarahannya di apartemen mewah yang ia tinggali. Bahkan ia mencerca Baekhyun yang sengaja mendatangi apartemennya untuk mengecek keadaan mantan kekasihnya itu. Chanyeol benar-benar marah, tidak mengerti bagaimana Yoongi masih terus bersama Jimin. Hari-hari berikutnya ia berusaha untuk melupakan sebagian dari rencananya yang gagal. Tetapi dalam pikirannya ia masih memikirkan Jimin dan juga anak yang ada di dalam kandungannya.
Itu adalah anakku, pasti anakku.
Lalu beberapa minggu kemudian, menjelang akhir bulan Juli, pikirannya semakin kalut saat ia mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Yoongi. Tidak terpikirkan olehnya bahwa ada kemungkinan lain Jimin justru mengandung anak dari Yoongi sendiri. Pidato tersebut seperti menghantam wajahnya keras-keras, dan Chanyeol meninggalkan acara penghargaan malam itu kembali dengan perasaan yang berkecamuk.
Tetap saja ia tidak peduli. Ia harus mendapatkan Jimin dan mendapatkan anaknya pula. Masalahnya, bagaimana ia memastikan kalau Jimin benar-benar mengandung anaknya?
Dan beberapa hari lalu, telepon itu datang.
Telepon dari Jimin.
Saking terlalu senangnya menerima telepon dari Jimin, setelah beberapa lama kemudian, ia sampai-sampai tidak menangkap nada ketakutan dari Omega itu. Karena pada akhirnya, Jimin memutuskan untuk bersedia bertemu dengannya.
Sekarang, hanya ada beberapa detik lagi sebelum Jimin tiba di sini untuk berbicara padanya. Chanyeol merasa tidak sabaran, karena pada akhirnya ia bisa melihat Jimin dari dekat, bisa melihat anak mereka tumbuh di tubuh Omega yang kini telah memenuhi kepalanya.
Tepat ia berpikir begitu, di pintu restoran muncul seseorang bertubuh pendek—mengenakan masker dan kacamata hitam. Kepala orang tersebut ditutupi oleh sebuah beanie berwarna biru tua. Sewaktu Chanyeol samar-samar mencium bau cherry dari orang tersebut, senyumannya langsung merekah. Jimin sudah berada di satu tempat yang sama dengannya.
"Jimin-ah," panggil Chanyeol senang. Di sekitar mereka sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di sekitar mereka. "Kau benar-benar datang."
Jimin tidak menyahut, hanya menunjuk pada kursi, seolah-olah bertanya apakah ia boleh duduk di hadapan Chanyeol. Chanyeol buru-buru menarik kursi untuk Omega itu. Meski menurut perhitungannya Jimin seharusnya sudah memasuki bulan ke enam, tetapi Chanyeol tidak bisa melihat jelas perubahan di perut Omega itu. Mungkin karena perutnya tertutup oleh jaket tebal yang seharusnya terasa terlalu hangat untuk dikenakan di musim gugur.
"Apa alasanmu ingin bertemu denganku tiba-tiba? Selama ini kau selalu menghindariku," kata Chanyeol menginisiasi percakapan di antara mereka.
"Karena aku ingin bertemu dengan Alpha yang memiliki kemungkinan besar adalah ayah dari bayi yang aku kandung," jawab Jimin, suaranya terdengar parau dan serak di balik maskernya.
"Tidak bisakah kau mencopot masker dan kacamata hitammu? Aku merasa janggal kalau tidak bisa melihat wajah cantikmu itu secara lebih jelas."
Jimin menggeram pelan, "Aniyo. Aku tidak ingin pertemuan kita diketahui oleh siapapun."
Chanyeol mendecakkan lidah, "Baiklah kalau begitu. Jadi, kau sudah pasti menerima bingkisan berisi perlengkapan bayi dariku, eo?"
Jimin mengangguk pelan, "Ne. Dari mana kau tahu aku tinggal di apartemen Min Yoongi?"
"Mendengar pidato singkat dari kekasihmu itu, aku langsung berasumsi kalian tinggal bersama, tentunya. Tapi aku masih penasaran, Jimin-ah. Sebenarnya kau mengandung anak dari siapa? Anak dariku, Kim Namjoon, atau dari kekasih barumu itu?" tanya Chanyeol dengan senyuman yang terlihat picik di wajahnya, "Apa kau tidak ingin mencari tahu siapa ayah dari bayimu itu?"
"Kau berbicara seolah-olah aku ini Omega jalang, murahan, yang bahkan tidak tahu dengan siapa aku tidur," sahut Jimin ketus, "Lebih kau yang mulai duluan. Aku ingin tahu apakah kau yang benar-benar telah menyebar berita kalau aku berselingkuh dengan Kim Namjoon-nim?"
Senyuman terulas di wajah Chanyeol, "Mmm, menurutmu sendiri bagaimana? Kalau seandainya mataku bisa berbicara, mungkin dia akan mengatakan yang sejujurnya."
Jimin kembali menggeram, "Aku dan Namjoon-nim adalah cerita lama. Dia sudah bahagia bersama istrinya yang sekarang. Dan aku juga sudah menemukan Alpha baru yang bisa membahagiakanku."
"Jadi, kau berpikir kalau aku tidak bisa membahagiakanmu?"
"Setelah kau memperkosaku? Tentu tidak."
"Aku tidak memperkosamu. Hanya saja baumu itu yang memaksaku untuk melakukannya."
"Bauku? Memangnya apa yang sedang kau lakukan sampai kau bisa mencium bauku yang sedang heat?"
"Apa yang kulakukan? Tentu saja saat itu aku kebetulan sedang berada di dekat apartemenmu."
"Bukan kebetulan," suara Jimin terdengar marah, "Karena kau sedang menguntitku saat itu. Benar begitu, kan?"
"Aku hanya kebetulan lewat saja, ingin melihat di mana kau tinggal," Chanyeol membela diri, "Tapi rupanya saat itu kau sedang menghabiskan heat bersama kekasih barumu."
"Lalu saat dia pergi, kau menerobos masuk ke dalam apartemenku," kali ini suara Jimin berubah rendah dan semakin terdengar parau, "Dan kau mengikatku ke kepala tempat tidur. Aku memberi perlawanan, tapi kau sama sekali tidak mengelak. Kau justru semakin bersemangat untuk menyetubuhiku."
"Kau tidak mengunci apartemenmu. Itu kesalahanmu sendiri."
"Dan kau dengan sengaja berada di sana."
"Lalu apa kau mau bersikeras kalau anak yang kau kandung itu adalah anakku?" Chanyeol setengah mengejek, "Tentu, aku akan bertanggung jawab. Aku sudah lama ingin bersamamu."
"Kau dulu meninggalkanku, tanpa penjelasan apapun. Sekarang kau malah berbalik mengejarku. Memalukan."
Wajah Chanyeol memerah mendengar ucapan Omega itu, "Jangan bicara seperti itu padaku, Jimin-ah. Aku bisa saja membuatmu menyesal telah berkata begitu."
"Justru kau yang harusnya menyesal, telah melakukan pemerkosaan terhadap Omega yang sedang heat, dengan cara menguntitnya seharian."
"Untuk apa aku menyesal kalau aku sudah bisa mencicipi tubuhmu yang indah itu? Apalagi aku tahu anak yang kau kandung itu adalah anakku?"
"Aku tidak ingin anak ini tahu kalau ayahnya adalah orang yang telah memperkosa ibunya sendiri."
"Kalau kau tahu aku sudah memperkosamu, kenapa kau tidak melaporkanku saja, Jimin?"
"Karena aku tidak punya alasan yang kuat untuk melakukannya."
"Aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab. Kau harus membiarkan aku melihat anak itu, setidaknya biarkan aku menjadi ayah dari anak yang merupakan darah dagingku sendiri. Jimin, jebal."
Jimin tertawa nyaring, kali ini suaranya terdengar benar-benar berbeda dari suara tawa Jimin yang ia kenal. Tawa yang mengejek dan merendahkan, "Siapa bilang aku akan membiarkanmu menjadi ayah dari anak ini? Ayah anak ini hanya ada satu, Min Yoongi. Ialah yang berhak menentukan apakah kau boleh ikut ambil bagian dalam kehidupan anak ini." Omega itu berdiri dari kursinya, hendak pergi. Tetapi Chanyeol menahannya. "Lepaskan aku."
Chanyeol menguatkan cengkeramannya di lengan Jimin, "Aku tidak akan membiarkanmu pergi, sebelum kau mengakui bahwa aku adalah ayah dari anak itu."
Alpha itu tidak menyangka justru Jimin menyentakkan tangannya dengan kuat hingga lepas dari genggaman Chanyeol, "Kau benar-benar tolol, Park Chanyeol. Apa kau masih belum sadar juga?"
Wajah Chanyeol terlihat kebingungan, "Mwo? Mwo ya? Apa maksudmu aku belum sadar?"
Jimin menarik beanie dari kepalanya dan menampakkan rambut hitamnya. Tidak tanggung-tanggung, ia melepaskan kacamata dan masker yang menutupi wajahnya. Mulut dan mata Chanyeol terbuka lebar-lebar. Alpha itu nyaris berjengit ke belakang kursi sewaktu ia menyadari bahwa di depannya bukanlah seorang Park Jimin, melainkan seorang Alpha seperti dirinya.
Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Min Yoongi.
"M-Min Y-Yoongi?!" serak Chanyeol tergagap-gagap. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa sosok yang dalam beberapa menit telah ia ajak bicara sebelumnya bukanlah seorang Park Jimin, tetapi seorang Min Yoongi. Pantas saja Jimin terlihat begitu berbeda dari biasanya, terlihat begitu berani dan lebih serampangan daripada Jimin yang ia kenal. Untuk aroma tubuhnya yang tidak bisa ia bedakan dari aroma tubuh Jimin, kemungkinan besar Yoongi memanfaatkan pakaian Jimin untuk menutupi aroma tubuhnya sendiri.
Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah, melihat wajah Yoongi seolah-olah Alpha itu adalah presentasi dari mimpi terburuknya seumur hidup. "K-kenapa kau—"
Pengunjung yang dari tadi duduk di sebelah mereka, kini mengalihkan perhatian mereka pada Yoongi dan Chanyeol. Salah seorang pengunjung berdiri untuk menampilkan wujud aslinya, yang ternyata adalah Kim Namjoon. Seorang lagi maju dan mengambil gambar ekspresi terkejut dan panik di wajah Chanyeol dengan camcorder dari atas ke bawah—dan Chanyeol mengenalnya sebagai Jeon Jungkook.
"Aku hanya perlu bukti yang bisa membuatmu diseret ke ranah hukum, Park Chanyeol. Agar kau bisa berhenti mengganggu Jimin," kata Yoongi dengan nada datar, sarat akan emosi. "Kau pasti tidak akan mengakui perbuatanmu jika sampai aku yang langsung menanyaimu soal ini."
"K-kalian merekamku?!" tanya Chanyeol tidak percaya bercampur berang, "Tidak seharusnya kalian menginvansi urusan pribadi—"
"Tentu bisa jika memang diperlukan," ucap Yoongi lagi, menyahut. "Kau pikir dengan bodohnya aku akan membiarkan Jimin menemui orang sepertimu tanpa sepengetahuanku? Pikiranmu terlalu sempit rupanya."
"Kalian tidak bisa melakukan ini!" seru Chanyeol dengan napas pendek, "Bagaimanapun juga, Jimin yang sudah membuatku melakukan ini semua!"
"Kenapa tiba-tiba kau menyalahkan Jimin?" sela Namjoon. Alpha itu menaruh kedua tangannya ke dalam saku mantel yang ia kenakan, "Kau yang memperkosanya, dan kau sudah mengakui itu."
Chanyeol menunjuk marah pada Namjoon, "Kau juga, kau dulu berselingkuh dengan Omega itu—"
"Aku mengaku aku memang telah berselingkuh dengannya. Tapi kini kami bahagia dengan masing-masing pasangan kami."
"Umm, mungkin kita bisa bicara dengan baik-baik," kata Jungkook menengahi sambil masih menggunakan camcorder di tangannya, "Banyak orang di sekitar yang memperhatikan kita."
Warna pucat memenuhi wajah Chanyeol begitu ia menyadari orang-orang kini mengalihkan perhatian mereka padanya. Ia bisa mendengar restoran yang awalnya sepi, mulai dipenuhi orang-orang yang sedang berbisik tentangnya. Chanyeol menatap Yoongi dengan mata yang nanar. Kedua tangannya menyentuh lengan Yoongi.
"Jebal, Min Yoongi, jangan sebarkan tentang percakapan kita tadi—"
"Sudah terlambat, kau sudah mengatakan semuanya dengan jelas. Tidak ada yang perlu kau sesali lagi. Seharusnya kau menyesal dari awal."
Namjoon membantu Yoongi, "Kalau kau ingin mencari bantuan, mintalah dari perusahaan kau bekerja."
Chanyeol masih belum menyerah, ia meminta-minta pada Yoongi dan Namjoon, tapi keduanya bersama Jungkook, telah pergi meninggalkan restoran, meninggalkan Chanyeol yang terduduk tak berdaya di atas lantai.
Yoongi menyisir rambutnya yang sedikit berantakan sambil menepi di trotoar. Di belakangnya, Namjoon dan Jungkook mengikuti. Kedua-duanya tersenyum setelah melakukan apa yang telah direncanakan oleh Yoongi.
"Tidak kusangka rencanamu berhasil, Yoongi-ah," kata Namjoon pada Yoongi.
"Tentu saja berhasil. Mana mungkin aku membiarkan Jimin sendirian ke restoran bersama Alpha brengsek sepertinya."
"Kita akan kemanakan rekaman video pengakuan Chanyeol setelah ini?" tanya Jungkook sambil menimang-nimang camcorder di tangannya.
"Kirim saja ke perusahaan SM," ujar Yoongi, "Dan sisanya ke kepolisian. Biar mereka yang mengurus."
"Kau tidak akan menyebarkannya ke publik?" tanya Namjoon penasaran. "Setidaknya publik butuh tahu yang sesungguhnya. Apalagi Jimin butuh keadilan."
Yoongi mengendikkan bahu, "Tidak perlu. Toh aku ingin tetap menjaga privasi Jimin." Alpha itu kemudian berbalik menghadap Namjoon dan Jungkook, "Aku benar-benar berterima kasih pada kalian, sudah membantu dalam menjalankan rencana barusan. Tanpa kalian, sepertinya akan sulit melakukan ini semua."
Namjoon menepuk bahu Yoongi, "Tidak masalah. Aku banyak berhutang budi padamu."
Sementara Jungkook hanya bisa tertawa mendengar ucapan terimakasih dari Yoongi.
Mereka berpisah di perempatan; Namjoon kembali pada keluarga kecilnya, Jungkook kembali ke apartemen sekaligus menghabiskan waktu bersama Taehyung dan teman-teman mereka, dan Yoongi—tentu kembali pada Jimin untuk mengabarkan tentang kejadian hari ini.
Ia tidak sabar untuk pulang ke rumah, untuk kembali bertemu Jimin dan mengatakan bahwa sekarang keadaan akan baik-baik saja, bahwa tidak akan ada lagi yang dapat mengganggu mereka. Juga ia tidak sabaran untuk berkasih-kasihan dengan Omega itu, sambil berbicara dengan anak mereka yang dalam beberapa bulan ke depan akan terlahir ke dunia.
Yoongi mengambil ponsel dari saku bajunya, mengetik nama Jimin, dan mulai menelepon. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa binar di hatinya sewaktu ia mendengar suara kekasihnya.
"Yeoboseyo, Jiminie. Bagaimana kalau hari ini kita pergi keluar untuk melakukan sesuatu? Aku punya kabar baik untukmu."
TBC
Catatan penulis:
Saya bohong kok kalau di bagian sebelumnya saya baru akan update kalau sudah 120 review, soalnya sebenernya bagian 9 udah kelar dari awal haha. Bagian 10 dan satu epilog juga sebenernya sudah selesai, tinggal mau nentuin saya publishnya kapan.
Kalian tahu tidak, kalau sebenarnya saya udah merencanakan dari awal mula fanfic ini anak NamJin bakalan kembar. Bermula dari saya sekadar iseng mencari nama Jin, lalu malah muncul Minhyun Wanna One - N'uest dan Jisoo BlackPink—yang kata netizen mirip sama Jin. Mereka memang tidak pernah berinteraksi sih, tapi sepertinya lucu kalau saya membuat mereka jadi anak Jin haha. Bayangkan saya harus menunggu 9 bagian sampai bisa merealisasikan hal itu :"D
Juga untuk anak dari Jimin, saya juga sudah menentukan dari awal anaknya dia itu siapa. Ada yang bisa tebak? Yang membaca Love Makes Us Begin Again mungkin udah bisa nebak (promosi terselubung haha)…
Dan akhirnya… Tinggal satu bagian lagi. Kenapa cuma 10 bagian? Karena saya ga sabaran, jadi kalau udah kepanjangan pasti saya akan malas melanjutkan. Plus saya kurang suka fanfic yang bertele-tele—(apalagi pas baca fanfic sendiri bikinan jaman baheula rasanya pengen mati aja), makanya kalau saya update cerita series pasti biasanya di atas 3000 words (bohong deh, saya emang suka nulis aja haha). Yang menebak Chanyeol pelakunya, kalian benar. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya Chanyeol tuh stalker (saya tahu dia sebenarnya orang yang baik-baik kok )
Semoga yang membaca fanfic ini; yang sedang menyelesaikan skripsi, yang sedang UAS, yang sedang UN, semua urusannya dilancarkan yah. Saya tahu bagaimana penderitaan menjalani itu semua, apalagi sambil menunggu update konser fanmeet BTS di Jepun, plus Vlive Jungkook hueee :"(
Makasih banyak yang udah mereview, memfavorite, dan memfollow fanfic ini! You guys are the best!
Yang telah mereview di bagian cerita sebelumnya:jinkim499, nicelline, ChientzNimea2Wind, Euphoria, YMlove, M2M, KIMkimmi00, itsathenazi, ChiminsCake, Linkz account, LittleOoh, Minimini SyugaMin, noSugaFree, MinPark
