Di sebuah tepi jalan yang di penuhi oleh ilalang dan semak belukar nampaklah seonggok manusia dengan pakaian serba hitam yang sedang asyik mengamati sesuatu dari kejauhan dengan menggunakan teropongnya. Mari kita check segala atribut yang dipakainya!
Masker. Check!
Topi hitam. Check!
Jaket hitam. Check!
Lalu, teropong. Check!
Sebutlah seonggok manusia tadi itu adalah Sasuke. Dia berjalan mengendap-endap mendekati sebuah bangunan bernuansa merah hitam yang tak lain adalah kafe milik kakaknya - Akatsuki Cafe. Mata onyxnya dengan cermat mengamati figur sang kakak yang sedang melakukan rutinitasnya yaitu membantu melayani customer yang datang. Namun sekelebat sosok bersurai kuning menyita perhatiannya. Berdecih melihat sosok kuning yang bercosplayria menjadi sailor moon itu bukanlah si kuning yang menjadi target utamanya. Kemana perginya si okama cantik itu? Ah, jangan-jangan dia tidak masuk?
" Hah~" Sasuke menghela nafas lega. Sepertinya baka anikinya belum bertanya macam-macam kepada Naruto karena yang bersangkutan tidak masuk. Haha. Dia tertawa mengejek.
" Oi, apa yang sedang kau lakukan?"
Bahu Sasuke menengang mendengar suara cempreng di belakangnya. Dengan gerakan patah-patah dia bisa melihat sosok the real Namikaze Naruto dengan balutan seragam tunggu- UZUSHIO GAKUEN?! Sekolah yang penuh dengan preman itu? Bagaimana mungkin, anak dengan wajah seperti Naruto bersekolah di sekolah dengan predikat Super E itu?! Mubazir sekali itu namanya!
" K-kau..."
Ah iya, kenapa bertemu si pirang efeknya bisa sedahsyat ini? Bisa-bisanya dia tergagap hanya karena bertemu okama cantik yang telah menjerumuskannya ke jalur menyimpang begini?Hah...tenang. Dia lagi dalam mode menyamar kan? Jadi dia cukup pura-pura tidak kenal lalu pergi dan semuanya akan beres. Perfecto completo!Atau- dia buka saja penyamarannya dan bilang dia hanya sedang memata-matau Itachi untuk dijadikan kedok supaya dia tidak di sangka yang tidak-tidak? Duh, kokoro Sasuke jadi bimbang.
" Sasuke-san... aku tahu itu kau. Jadi begini... " ujar Naruto membuat Sasuke terperanjat kaget. Insting yang luar biasa. Sasuke pun melepaskan masker dan kacamata hitamnya. Menatap langsung sosok Namikaze Naruto yang sebenarnya.
'Dia ternyata memang seorang laki-laki.' batin Sasuke miris. Di saat dia menyukai seseorang kenapa malah kaumnya sendiri yang dia suka?Benar-benar Sasuke itu jomblo ngenes jika dipikir.
" Suke-san! SASUKE-SAN?!"
" AH! Ya?"
Naruto menghela nafas lelah melihat Sasuke yang terus melamun. Padahal dia kan ingin bicara padanya. Tapi dia malah dicuekin.
" Kau tidak mendengarkanku ya?" tanya Naruto sembari mempoutkan bibirnya.
" Hn...maafkan aku. Aku-" Sasuke tiba-tiba terfokus dengan bibir cherry yang dimonyong-monyongkan seolah menggodanya untuk segera dicium.
" Hah~ sudahlah!" Naruto mengibaskan tangannya diudara. Dia menatap khawatir Sasuke yang berdiri di depannya.
" Ngomong-ngomong... hidungmu bagaimana? Maaf meninggalkanmu di klinik itu. A-aku hanya merasa panik karena kau tiba-tiba pingsan dengan hidung berdarah begitu."
" Hn. Aku baik-baik saja."
" Benarkah?"
Sasuke menggangguk. Membuat Naruto bernafas lega. Keduanya saling berpandangan satu sama lain. Mencoba mengamati indahnya manik orang di depannya.
" A-ano...bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
Suara Naruto membuat Sasuke kembali ke alam sadarnya. Dia menatap si pirang manis di depannya dengan alis saling bertaut.
" Y-ya?!" sahutnya singkat.
" Setelah tahu aku seorang laki-laki, menurutmu aku bagaimana?"
Eh? EEEEHHHH?! Batin Sasuke menjerit alay. Kenapa tiba-tiba Naruto bertanya seperti itu? Entah kenapa Sasuke mengartikannya pertanyaan itu jadi seperti , 'Aku seorang laki-laki. Apa kau masih suka padaku?' atau bisa juga ' Aku laki-laki. Aku cocok tidak jadi pacarmu?'. Jika saja Sasuke tidak punya akal sehat, sudah dipastikan dia akan berlari ke tengah jalan dan menabrakan diri ke mobil yang sedang lewat. Sayang seribu sayang, dia adalah Uchiha yang masih sehat otaknya dan jiwanya. Jadi dia tidak mungkin melakukan hal seidiot itu.
" Sasuke-san, kau melamun lagi ttebayo!"
" Maafkan aku."
Naruto menggembukan pipinya -sebal. Sedangkan Sasuke mulai bimbang dengan perasaannya ketika melihat wajah bulat di depannya.
" Kau pasti menganggapku aneh kan?" Naruto tersenyum lebar. Membuat Sasuke salah tingkah lagi. " Aku tidak heran jika kau menganggapku seperti itu."
" B-bukan begitu!" Sasuke menyela dengan cepat. Sikapnya yang terus menghindar itu malah jadi terlihat jika Sasuke memang menganggap Naruto itu aneh.
" Aku hanya tidak tahu harus berkata apa. Aku terpikat padamu sejak pandangan pertama."
Naruto tertawa ketika melihat wajah Sasuke memerah.
" Yah, kau jatuh cinta pada versi wanitaku. Nah, sekarang aku tahu betapa aneh dan menjijikannya diriku."
"..." Sasuke terdiam. Bukan seperti itu yang dia maksud. Bukan kata aneh, menjijikan atau kata-kata tidak pantas yang lainnya. Sasuke hanya bingung dan ingin memastikan perasaannya. Jika pun Naruto seorang laki-laki dan Sasuke mencintainya, apa salahnya? Toh, semua orang berhak merasakan cinta dan kasih sayang. Meski akan dianggap aneh atau jijik sekalipun, jika orang itu mampu membuatnya bahagia dan menjadi lebih baik, why not? Karena cinta tidak mengenal batasan. Sejauh itulah yang Sasuke tahu.
Angin sore berhembus mengisi keheningan diantara mereka berdua. Sampai akhirnya tiba- tiba Naruto memekik histeris ketika dia melihat jam di layar ponselnya.
" ASTAGA!"
" Ada apa?"
" Aku harus cepat-cepat pulang kerumah. Sasuke-san aku pe-"
Mata Naruto terbelalak ketika Sasuke tiba-tiba menarik tangannya dan menciumnya. Meski sangat singkat, namun itu mampu membuat pipi kedua belah pihak merona merah.
" A-apa yang kau lakukan?" tanya Naruto dengan nafas terputus-putus. Naruto memandang terkejut kearah Sasuke .
" Itu adalah- " BUAGH!
Sasuke jatuh menghantam tanah. Sebuah tonjokan super strong dari Naruto sukses membuat dia melongo seperti orang bodoh.
" Baka. BAKA TEME HENTAI!"
Naruto berlari kencang meninggalkan Sasuke yang masih belum tersadar dari keterkejutannya.
" Tadi itu..." Sasuke menyentuh bibirnya yang tadi dengan seenak jidat mencium Naruto. Begitu tersadar, dia langsung mengacak-acak rambutnya seperti orang gila sambil berteriak frustasi.
" ARGHHHH! APA YANG AKU LAKUKAN?!"
.
.
.
.
Mata onyx Itachi menelusuri penampilan adiknya yang 'tidak biasa' itu. Rambut awut- awutan , jaket kusut, kaca mata hitam yang hampir melorot dari hidung mancung , dan teropong mainan yang menggantung di leher. Nah, yang sekarang jadi pertanyaan adalah tentang 'biru-biru' mirip bekas tonjokan di pipi sang adik yang sekarang mulai membengkak itu, ulah siapakah?
" Ne, sekarang untuk apa kau datang kemari?"
Sasuke menghela nafas.
" Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Dan kini aku sudah paham."
" Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu, Sas."
Itachi menompang dagu sambil melihat Sasuke sedang mencoba meresap teh yang dia suguhkan.
" Ah, atsui!" (1) Sasuke mengumpat ketika lidahnya terasa di bakar ketika meresap teh yang ternyata sangat panas itu. Benar-benar kakaknya berniat untuk membunuhnya.
" Sudah tahu apa sekarang?"
" Aku jatuh cinta dengan Namikaze Naruto."
KLOMPRANG!
Suara jatuhnya nampan alumunium yang dipegang Deidara membuat Sasuke dan Itachi mengalihkan perhatiannya kepada makhluk kuning yang sedang menjadi sailor moon itu.
" Ahahaha.. gomenasai~ Ita-kun, Sas-kun aku tidak sengaja. Ahahaha." ujar Deidara membari menggosok tengkuknya -salah tingkah. Dia pun secepat kilat kabur menuju dapur agar tidak terkena sembur sang boss.
" Siapa makhluk kuning itu, baka aniki?"
" Deidara, temanku. Dia bekerja disini dari 5 bulan yang lalu."
" Pegawaimu aneh-aneh, baka aniki! Aku heran kenapa kau mau-maunya mengurusi kafe seperti ini. Padahal jika kau mau kau bisa saja-"
" Kita tidak sedang membahas itu, Sasuke."
Sasuke tiba-tiba terpaku mendengar suara sang kakak yang berubah dingin. Menelan ludah susah payah, akhirnya Sasuke kembali melanjutkan ceritanya.
" Menurutmu bagaimana?"
" Kenapa kau bertanya pendapatku?Kan kau sendiri yang merasakannya."
" Aku masih awam dengan yang seperti ini. Tidak pernah terpikir olehku jika aku akan jatuh cinta dengan err~ sesama jenismu."
Itachi menghela nafas membuat Sasuke memandang sang kakak heran.
" Waktumu hanya tinggal 2 minggu untuk memutuskannya Sasuke. Jika kau tidak yakin dengan dirimu sendiri, aniki yakin apa yang kau harapkan tidak akan berakhir dengan baik."
"..." Sasuke terdiam. Hanya tinggal 2 minggu sampai dia akan memutuskan siapa pendampingnya kelak.
" Apa kau sudah mengerti dengan apa yang sudah aku katakan padamu?"
" Hn. Lalu, bagaimana caramu meyakinkan dirimu saat kau memilih rubah bodoh itu untuk jadi pendampingmu?"
" Caraku?" beo Itachi sambil menyeringai. Hal itu membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Sasuke jadi meremang.
"HUACHIMMMM!"
Di tempat lain, di sebuah bandara yang terletak di New York seorang pria cantik berambut orange bersin dengan keras hingga mengagetkan orang-orang di sekitarnya. Dia mengumpat ketika hidungnya tiba-tiba terasa sangat gatal.
" Damn! Cuaca disini benar-benar buruk! Jadi ingin cepat-cepat sampai Jepang saja!"
Dan dia pun menarik kopernya pergi tidak peduli kepada orang- orang di sekitarnya yang menatapnya kagum.
" Japan, i'm coming~"
Balik kesisi meja nomor 7 dimana sepasang kakak beradik sedang berdiskusi.
" Sekarang biar aku yang bertanya."
Raut wajah bosan Sasuke berubah serius ketika mendengar kalimat kakaknya.
" Apa lagi? Aku sudah mengkuinya tadi." sembur Sasuke dengan wajah merah padam.
" Pipimu kenapa? Belum cukup pembuluh darah di hidungmu pecah, sekarang pipimu bengkak seperti itu."
" Naruto memukulku tadi." jawab Sasuke diikuti dengan helaan nafas.
" Sepertinya kau memulainya dengan buruk ya."
Itachi terkekeh geli ketika sang adik menatap tajam kearahnya.
.
" Dasar ayam mata sipit sialan!"
Naruto mengumpat lirih di dalam bus yang dinaikinya. Punggung tangannya terus menutupi mulutnya yang baru saja kena civok bibir adorable Sasuke. Gezz, Naruto tidak sudi ciuman itu dihitung sebagai ciuman pertamanya. Meski secara logika dan realita itu memang ciuman pertamanya sih.
Pip...pip..pip..pip
Naruto merogoh saku celana gakurannya untuk mengambil ponsel miliknya.
" Ha'i moshi-moshi, Naruto desu."
" Oi, gaki!"
Ekspresi wajah Naruto berubah kusut ketika dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Nani? KYUUBI-ONISAMA? tanya Naruto dengan menekan kata panggilan kakak sepupunya.
" Besok aku pulang! Jemput aku di bandara jam 3 pagi. Jika kau telat~ bersiaplah untuk jadi budakku untuk satu bulan kedepan!"
" Hei, jangan seenaknya memerintah dan mengancam orang! Orang gila mana yang keluar jam 3 pagi untuk kebandara huh?!" Naruto berteriak - teriak di dalam bus. Wajahnya berubah kikuk sambil menggumam 'maaf' ketika belasan orang menatap tajam kearah dirinya.
" Kenapa mendadak sekali?" Tanyanya lirih.
" Suka- suka aku dong mau pulang kapan saja! Kalau kau tidak mau, aku bisa saja menyebar fotomu yang bercosplay jadi maid tersebar ke teman-temanmu di sekolah."
" HIIIEEE NANI?!"
" 2 menit lagi aku akan berangkat lho~"
" Ah mou! Oke aku jemput! Tapi jangan berani- berani sebar foto memalukan itu!"
Kyuubi menyeringai di seberang telepon.
" Itu bisa di atur. Kalau begitu sampai jumpa di Jepang, aho gaki!"
TUT. Sambungan terputus. Naruto menggenggam ponselnya sekuat tenaga seperti hendak menghancurkannya untuk melampiaskan kekesalannya. Kyuubi pulang ke Jepang itu sama saja mimpi buruk!
.
.
.
BRAK! Deidara mendobrak pintu dapur hingga mengagetkan Sasori yang sedang menggulung sushi.
" Bisa tidak jangan mengeluarkan tenaga monstermu di dapurku?! Kau bisa menerbangkan pintunya, idiot!"
Deidara mengacuhkan ocehan Sasori dan berjalan tergesa- gesa kearah Sasori dan mengalungkan lengannya di leher si koki.
" Lupakan soal pintunya! Aku punya berita fenomenal kali ini!"
Sasori menatap Deidara dengan wajah tak berminatnya.
" Seperti aku mau mendengarkanmu saja."
" Hoo~ benarkah? Kau itu tidak tau kejadian apa yang sudah terjadi di luar dapur panas dan pengapmu ini. "
Sasori memutar bola matanya - jengah. Si pirang bodoh sok akrab di sampingnya itu selalu saja membuatnya kesal.
" Lepaskan aku. Bau ketiakmu membuat polusi di hidungku. Terserah apa katamu, aku tidak peduli."
Setelah melepaskan rangkulan Deidara, Sasori beranjak membuka kulkas untuk mengambil soft drink.
" Sasuke-kun suka Naru-chan."
KLONTANG! Kaleng soft drink yang dipegang Sasori jatuh menggelinding dengan dramatisnya.
" Apa katamu?" tanya Sasori dengan wajah horornya.
" Y-yeah, tadi aku mendengarnya sendiri dari Sasuke-kun jika dia menyukai Naru-chan. Ngomong-ngomong apa dia tahu jika Naru-chan itu sebenarnya laki-laki?"
"Kau pasti salah dengar."
" Aku tahu aku bodoh tapi aku tidak tuli. Sangat jelas jika tadi Sasuke-kun bilang jika dia menyukai Naru-chan. Aku jadi penasaran, bagaimana si ayam adik bos kita itu menyukai Naru-chan?"
Sasori memungut kaleng soft drinknya dan menatapnya mengacuhkan segala ocehan rekannya.
' Naru..' gumam Sasori lirih.
...""
.
...
Tbc...
(1) Atsui : panas.
