"Ada apa denganmu?"
Kyuubi dengan wajah penasarannya memandang bingung Naruto yang duduk di depannya dengan wajah muram. Alih-alih menjawab pertanyaannya, Naruto hanya menggeleng pelan sembari menusuk-nusuk omeletnya dengan ujung garpu tanpa ada niat untuk memakannya. Dia sedang merasa galau hari ini. Galau berkepanjangan.
"Hei, jangan bilang kau masih marah padaku karena aku menyuruhmu bangun pagi-pagi buta untuk menjemputku di bandara ya?"
" Tidak." kata Naruto kemudian. Punggung kecilnya menyender di sandaran kursi dan memandang sarapanya tak berminat. Selera makannya menguap hilang entah kemana. Netra birunya bergulir memandang jam yang tergantung di dinding apartemen Naruto yang sudah menunjukan pukul 7 pagi.
Suara kursi digeser mengalihakan Kyuubi dari jus apelnya.
" Aku sudah selesai. Terima kasih untuk sarapannya."
"Oi, oi, kau mau pergi kemana?Temani aku!Oi!"
Kyuubi berteriak memanggil Naruto yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya.
Author proudly present
...
...
Kawaii No Okama
Chapter 4
NARUTO by Masashi Kishimoto
Story originally by Kuroi Sora18
.
.
.
Jauh dari kata 'biasanya', pagi ini Uzushio Gakuen nampak sedikit lebih heboh dengan sedikit bumbu-bumbu ricuh beberapa siswa-siswi yang datang. Mereka berkerumun bak semut di depan gerbang Uzushio Gakuen.
" Kyaaa...dia keren sekali!"
" Wajahnya menyebalkan. Apa dia orang kaya?"
"Wahh...tampan sekali!Apa dia sudah punya pacar?"
" Mobilnya mewah sekali! Apa dia anak gengster?"
Ribut-ribut disekitarnya membuat sosok bersurai raven itu mendengus sebal. Ya, dia adalah Sasuke Uchiha. Kehadirannya bersama mobil ferrari merahnya yang terparkir apik di depan gerbang besar Uzushio Gakuen membuat seisi sekolah mendadak heboh.
" Hei, hei coba lihat siapa ini?"
Nampak ada tiga orang siswa berseragam serba semrawut berjalan mendekat kearah Sasuke. Ketiganya kompak memasang mimik tidak sukanya saat melihat Sasuke.
" Kau anak St. Mangekyo kan? Ada angin apa kau datang kesini huh?" tanya Kiba. Siswa dengan tatoo segitiga merah di kedua pipinya itu, memandang Sasuke dari ujung kaki sampai ujung kepala. Yah, dilihat dari potongannya saja sudah ketahuan jika Sasuke itu bukanlah siswa biasa.
" Omae wa kankenai."(1) jawabnya cuek. Mata onyxnya masih tertuju kearah jalanan dan jam tangan secara bergantian. Bergulir gelisah saat orang yang akan ditemuinya belum juga menampakan batang hidungnya.
" Kemana sih anak itu?" gerutunya menghiraukan eksistensi ketiga siswa di dekatnya.
"Dia mencari masalah dengan kita." Sabaku Kankorou menunjuk Sasuke tak sopan. Sasuke tidak suka itu, tetapi dia memilih untuk diam. Dia sedang malas meladeni trio begundal Uzushio itu. Namun dengan watadosnya tiba-tiba datang remaja berambut model mangkuk ramen merangkulnya sok akrab.
" Beritahu kami sobat, siapakah gerangan yang mau kau temui?"
" Hei, Lee! Untuk apa kau bersikap ramah kepadanya?" ujar Kiba mengkomentari sikap siswa bernama Rock Lee itu. Si ketua klub karate itu memang terkenal friendly ke semua orang.
"Kenapa tidak kau hajar saja dia?"
Dahi Sasuke mengkerut dalam. Sepertinya memang penghuni sekolah ini senang cari masalah. Padahal dia hanya berdiri di depan sekolah dan tidak mengganggu siapapun tapi tiga orang itu seperti ingin mencari masalah dengannya dengan mengganggu nya. Dari pada menunggu tanpa kepastian seperti itu membuat Sasuke menurunkan sedikit rasa gengsinya dengan bertanya kepada mereka.
" Kalian kenal Namikaze Naruto?"
" HAH?!"
Ketiganya kompak menganga. Namun Kankorou lah yang pertama menyadari kebodohannya.
" Kau ada urusan apa dengan kaichou ?"
" Apa? Kaichou?"
Tiba-tiba saja melintas motor sport berwarna kuning yang melintas dan berhenti di depan mereka. Sasuke sedikit menahan nafas kala helm hitam yang dikenakan siswa itu dilepas. Surai kuning yang familiar di mata Sasuke tak luput dari penglihatannya.
" S-sasuke-san?"
" Naru?"
" Kalian saling kenal?" tanya Kiba sembari memandang Naruto dan Sasuke secara bergantian.
" Untuk apa kau datang kemari?" Naruto lekas turun dari motor untuk menghampiri Sasuke. Dia bahkan menghiraukan pertanyaan Kiba.
" Aku ingin bicara empat mata denganmu." jawab Sasuke. Kini dia percaya apa yang siswa bertatoo itu katakan padanya. Naruto adalah kaichou di Uzushio Gakuen. Netra onyxnya bisa melihat kain putih bertuliskan 'Kaichou' tertempel apik di lengan kanan gakurannya. Hebat sekali, ada kouhai anak kelas 1 berwajah barbie di sekolah preman seperti ini terpilih jadi ketua OSISnya.
"Maaf aku tidak bisa. Lebih baik kau kembali ke sekolahmu. Aku tidak ingin cari masalah denganmu."
Sasuke cepat-cepat menahan lengan si pirang yang akan pergi meninggalkannya.
" Hanya sebentar saja. Kumohon."
Seumur-umur Sasuke tidak pernah memohon apapun kepada orang lain. Apalagi pada orang lain yang baru kemarin dia kenal.
Trio Uzushio yang menyaksikan drama itu pun tidak tinggal diam saat Kaichou mereka terlibat masalah dengan salah satu siswa sekolah lain. Apalagi St. Mangekyo. Ibarat kata mereka adalah air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu. Rival abadi itulah kata yang tepat untuk menggambarkan St. Mangekyo dan juga Uzushio Gakuen.
" Sebaiknya kau turuti apa katanya jika kau ingin kembali dengan selamat."
Kankorou memasang badan di samping Naruto. Sementara Kiba sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Hei tolong digaris bawahi jika dia adalah pemenang pertandingan karate di RTnya.
" Yamete (2), Kankorou-san! " ujar Naruto dengan suara berbisik.
Keributan yang mereka buat memancing perhatian orang-orang yang lewat di depan sekolah untuk menoleh kearah mereka. Dan hal itu membuat Naruto merasa tidak enak.
" Tidak bisa, Kaichou. Orang seperti dia harus diberi pelajaran!"
Suasana makin bertambah ribut membuat Naruto tidak bisa mengambil keputusan lain lagi.
"Baiklah, kau ingin bicara apa?Aku akan dengarkan."
" Ikutlah bersamaku."
Naruto sedikit menarik tangannya. Namun Sasuke tidak juga melonggarkan pegangannya.
" A-apa? Ikut kemana? Kenapa tidak bicara disini saja?"
" Aku hanya ingin bicara berdua denganmu."
Kalimat Sasuke membuat pipi Naruto merona hebat. Kalau boleh jujur, dia sebenarnya agak trauma dengan insiden 'ciuman' waktu itu. Jujur saja, dia tidak bisa melupakan kejadian yang membuat jantungnya hampir copot itu. Namun melihat situasi saat ini, mungkin sebaiknya dia turuti saja kemauan adik pemilik kafe tempatnya bekerja itu dari pada halaman sekolah akan menjadi tempat pertumpahan darah nantinya.
" Ayolah, membolos sehari tidak akan membuatmu dikeluarkan dari sekolah!"
Dan dengan wajah terpaksa akhirnya Naruto ikut bersama Sasuke memasuki mobilnya.
" Kankorou-san, aku akan pergi sebentar bersama Sasuke. Tolong parkirkan motorku ya."
" Hei, kau tetap akan pergi bersamanya? "
" Aku akan baik-baik saja!"
" Baiklah. Berhati-hatilah, Naruto! " seru Kiba lantang. Lalu dia pun mengajak kedua temannya memasuki sekolah.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, keduanya sama sekali tidak melakukan apapun kecuali diam. Sasuke yang niatnya ingin bicara banyak pun berakhir menjadi diam kaku tak bersuara. Setelah bertatap langsung dengan Naruto, entah mengapa rasa kepercayaan dirinya yang selangit itu menguap hilang tak tahu kemana. Itu sedikit mengganggunya tentu saja. Apalagi dialah yang berinisiatif menemui Naruto secara langsung.
"A-apa yang ingin kau bicarakan? Lima belas menit lagi, jam pelajaran pertamaku akan dimulai."
Naruto menyenderkan punggungnya dan menatap kearah luar melalui jendela mobil Sasuke.
"Pertama aku ingin meminta maaf kepadamu. Waktu itu aku dengan seenaknya menciummu."
" Sudahlah..." Naruto mengibaskan tangannya di dilihat lebih detail, rona merah nampak muncul sampai ke telingannya. Sebisa mungkin dia akan menghindari mata onyx itu." Aku yakin, waktu itu kau hanya bermain-main saja. Tenang saja aku tidak terlalu memikirkannya." Itu jelas saja bohong. Nyatanya setelah kejadian itu dia dilanda insomnia mendadak gara-gara otaknya terbayang wajah Sasuke yang hendak menciumnya.
"Bukan..."
"Eh?" Naruto menoleh cepat dengan wajah tak mengerti.
" I-itu tidak benar! Waktu itu boleh dibilang aku sengaja melakukannya kepadamu."
" Apa sebenarnya maksudmu?"
Sasuke mengacak-acak rambutnya-frustasi. Haruskah, Sasuke menembak Naruto sekali lagi? Apa dia akan terlihat terburu-buru? Bagaimana jika dia buang angin disela pernyataan cintanya? Wahai Kami-sama yang entah bagaimana wujudnya, tolong beri Sasuke kekuatan...
" Sasuke-san?"
" Bagaimana mengatakannya ya?Awalnya juga, aku merasa jika ini mungkin bagian dari fantasiku saja. Tapi semakin lama kau selalu saja terbayang di otakku."
Yah, fantasi yang menjadi obsesi.
Jeda sejenak. Sasuke tidak tahu harus melanjutkannya atau tidak. Meski wajahnya terlihat biasa saja, di dalam hatinya sebenarnya dia grogi setengah mati.
" Aku hanya siswa biasa. Di keluargaku, ada tradisi khusus bagi setiap anggota klannya. Kami harus memilih seseorang yang akan kami ikat sampai mati. Kami menyebutnya Mate. Itu dilakukan saat usia kami genap delapan belas tahun. Dan aku sudah semalaman memikirkannya..."
Naruto nampak masih menunggu kalimat Sasuke selanjutnya.
" Aku memilihmu. Aku menyukaimu, Namikaze Naruto."
" N-nani? Muri desu! (3) Aku laki-laki! Aku tidak mungkin bersama denganmu. Apalagi menjadi pasanganmu, Mate atau apapun itu."
" Ya aku tahu. Tapi aku dibebaskan untuk memilih pasanganku sendiri."
" Kau gila. Aku ingin keluar."
Naruto bergegas ingin keluar namun tangan Sasuke dengan kuat mencegahnya untuk membuka pintu mobil yang sebenarnya dia kunci secara diam-diam.
"Sasuke, lepaskan aku! Kau tahu, tindakanmu itu sudah keterlaluan!" Naruto meronta mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman Sasuke.
"Sasuke-san, lepaskan aku! S-sakit !"
Mendengar Naruto mengerang kesakitan, sontak saja pegangan tangannya terlepas hingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Sasuke menatap tangannya penuh penyesalan.
" Cih, apa yang kulakukan?"
Sasuke merempat surai ravennya begitu kuat. Cengkramannya di tangan Naruto sudah terlepas. Sementara Naruto memandang Sasuke kasihan. Bebannya mungkin sangat berat karena tradisi di keluarganya. Bagaimana pun menikah di usia belia seperti itu pasti membuat perasaannya tertekan.
" Sas-"
" Keluarlah."
Kepala Sasuke tertunduk di kemudi mobil. Dengan ragu Naruto mencoba membuka pintu mobil Sasuke. Dan benar, Sasuke sudah membuka pintu itu.
" Hounto ni gomenasai!" (4)
Kaki Naruto langsung reflek berlari mejauh sesaat ketika dia keluar dari dalam mobil. Jantungnya berdetak tidak karuan. Perasaan apa itu sebenarnya?!
.
.
.
" Omurice spesial 2 dan Lemon Tea 2."
Kepala Deidara muncul dengan wajah malasnya dan bibir manyunnya tentunya. Kali ini temanya cocok sekali dengan suasana hatinya. Bercosplay menjadi gadis lolita dengan dress berenda super merepotkan. Sasori heran benar kenapa temannya satu itu mau repot-repot bercosplay hingga sampai seperti itu. Melihatnya saja sudah risih sekali. Untung, Itachi - sohibnya yang merupakan owner cafe ini tidak mengaharuskannya bercosplay seperti itu. Tentu saja setelah Sasori mengancam meracuninya dengan masakannya.
" Ada apa denganmu?"
Sasori keluar dari dapur menyerahkan pesanan customer kepada Deidara.
" Aku sedang kelelahan tahu. Karena Naru-chan tidak masuk beberapa hari membuat kerjaanku jadi semakin banyak. Belum lagi penggemar Naru-chan yang cerewet itu." ujar Deidara sambil menunjuk seorang pria berambut orange yang duduk di meja nomor 9 dengan gaya angkuh.
" Siapa?"
" Entahlah. Dia bilang dia ingin bertemu Naru-chan."
" Sudahlah, antar pesanan itu sekarang juga! Biar aku tangani customer satu itu."
" Berjuanglah, Bakasori!"
Sasori pun menghampiri customer itu yang ternyata adalah Kyuubi yang datang berkunjung ke kafe itu.
" Sumimasen(5) Adakah yang ingin anda pesan?"
Mata rubi Kyuubi menoleh kearah Sasori yang berdiri di sampingnya.
" S-sasori?"
" Kyuubi-san?"
Keduanya saling tunjuk satu sama lain. Lalu tidak lama Kyuubi pun meloncat memeluk Sasori erat-erat.
" Ohisashiburi.(6) Kemana saja kau ini?" tanya Sasori setelah dia berhasil menjauhkan Kyuubi dari badannya.
" Amerika. Tapi aku sudah pulang kesini. Lama tidak bertemu, ternyata kau jadi koki di cafe milik Keriput."
" Ahahaha... begitulah. Oh ya, kata temanku kau sedang mencari Naruto?"
" Um! Benar sekali! Di mana dia?"
" Loh dia tidak bilang padamu jika dia cuti untuk dua hari kedepan. Katanya sekolahnya sedang ada acara penting."
" Tidak. Ngomong-ngomong dimana keriput? Aku tidak melihatnya dimanapun."
" Dia sedang libur hari ini. Kenapa?"
" Ah, tidak! Aku hanya ingin memberi sedikit perhitungan dengannya. "
" Hmm... Kau mau pesan sesuatu? Mumpung kau ada disini kenapa kau tidak coba Akatsuki dessert?"
" Hmm.. kurasa-" kalimat Kyuubi terpaksa terpotong karena ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar.
" Chotto matte ne!"(7) Kyuubi tersenyum tidak enak kearah Sasori kemudian buru-buru beranjak keluar setelah dia melihat nama Naruto terpampang di layar ponselnya.
" Moshi-moshi?" (8)
" Nii-sama~"
Bulir keringat nampak menggantung di pelipis Kyuubi. Ada angin apa, Naruto jadi semanja ini?
" Doushita?" (9)
Sementara itu di atap sekolah bergengsi St. Mangkyo, Sasuke duduk tertunduk sendirian.
" Chikuso!" umpatnya kasar sambil meninju lantai di bawahnya hingga tangannya lecet. Dia sering menolak pernyataan cinta gadis-gadis di sekolahnya. Namun dia tidak tahu jika perasaan ditolak itu akan sesakit ini. Haruskah dia menyerah dan mencari calon mate yang lain? Tapi kokoronya sudah terlanjur kepincut dengan sosok Namikaze Naruto. Bahkan setelah dia mengetahui fakta bahwa Naruto itu sebenarnya seorang laki-laki yang hobi crossdresser.
" Kau sedang patah hati ya?"
Mata onyx Sasuke bergulir memandang sosok temanya yang bernama Shikamaru Nara sedang tiduran di balik tempat penampungan air. Oh ternyata rumor yang mengatakan ada hantu penunggu penampungan air benar adanya. Shikamaru lah hantunya.
" Troublesome, umpatanmu berisik sekali."
" Bukan urusanmu."
" Hoamm... jika sudah mengganggu kualitas tidurku tentu saja akan jadi urusanku." ujar Shikamaru sembari menghapus air mata yang menggenang di sudut matanya. Anak yang satu kelas dengannya itu memang terkenal suka membolos untuk mencari tempat yang enak untuk tidur. Namun herannya, dia bisa menjadi peraih nilai tertinggi seangkatan.
" Sesukamu sajalah! Aku sedang malas meladenimu!"
" Nande? (10)Kau sedang stres soal perjodohanmu?"
Sekilas Sasuke menatap tajam Shikamaru yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. Meski mereka berdua terlihat tidak akrab satu sama lain, tetapi mereka adalah teman sepermainan sewaktu kecil. Meskipun sebagian besar waktu bermain mereka hanya diisi dengan Sasuke yang sibuk belajar dan Shikamaru yang berakhir tidur.
"Hei, apa kau pernah merasa tidak yakin dengan dirimu sendiri?" Sasuke menoleh kearah Shikamaru yang sudah merem melek mencoba untuk tertidur lagi.
" Terkadang. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya !"
Shikamaru bersender santai di pagar pembatas. Matanya akhirnya terpejam menikmati semilir angin yang menerpanya.
" Andai saja pikiranku sesimple dirimu."
Sasuke menghela nafas. Dia ikutan bersandar di samping Shikamaru.
" Apa kau sebegitu stressnya sampai kau bermuram durja di atap sekolah seperti ini?Kurasa ini sama sekali bukanlah gayamu, Sas."
"Aku memang sudah gila!" ujar Sasuke pelan.
Dia meremat surai pantat ayamnya lalu mengacak - acaknya tidak karuan. Mungkin itu pelampiasan rasa stressnya karena telah ditolak oleh pujaan hatinya. Sekarang mungkin tidak akan ada harapan lagi untuk masa depan ke-Uchiha-annya. Oh, dia sudah bisa menebak ejekan seperti apa yang akan keluar dari mulut anikinya yang menyebalkan itu. Predikat 'Jones Abadi ' sepertinya akan tersempil di namanya. Ngenes sekali nasibnya.
.
.
.
Kiba menatap heran sahabatnya yang sedang berurai air mata. Entah apa penyebab si pirang jadi begitu yang jelas wajah dengan rambut pantat ayamlah yang terlintas di kepalanya. Dia berkelahi dengan anak itu kah? Ah, Naruto itu jago karate, ingat? Pasti akan ada yang berakhir penyok sana sini di kedua pihak.
" Huwaaaa..." tangisan Naruto makin keras .Air matanya saja sudah berubah dari anak sungai menjadi air terjun Niagara. Kiba kalang kabut sendiri saat semua penghuni kelas menatap kearah bangkunya.
" Yamete, Kaichou! Semuanya melihat kearah kita."
" Aku merasa bersalah Kiba~."
Mata-mata Naruto FC mendadak tajam seperti menusuk ke arah Kiba. Keringat dingin meluncur dengan bebas menuruni pelipis Kiba saat Kankorou nampak menatap tajam kearahnya. Tega sekali sohibnya satu itu memang.
" Jangan bilang kau habis menghajar si pantat ayam itu ya? Dan kau menyesal?" ujar Kiba dengan suara seperti desiran angin di telinga Naruto.
" Apa yang kau bicarakan? Aku telah menolak lamarannya."
Kiba terbengong dengan mulut terbuka. Kemudian dia cengengesan tidak jelas sambil menepuk kepala Naruto keras sekali.
" Kau pasti bercanda? Bukan lamaran, yang kau maksud mungkin pernyataan cin- EHHHHHHHH?!" Kiba berteriak keras dengan telapak tangan di kedua pipi - sok mendramatisir keadaan. Dia baru berhenti setelah seluruh penghuni kelas kompak melemparinya dengan gumpalan kertas. Dia shock sekali mendapati sahabatnya mendapat pernyataan cinta dari seorang laki-laki. Terlebih dia adalah siswa St. Mangekyo. Tolong siapapun jewer telinganya siapa tahu ada saraf pendengarannya yang terjepit tadi.
" Kau shockkan? Dia bahkan bilang akan mejadikanku pasangan sehidup sematinya. Dan aku menolaknya. Huwaaaa! "
Kiba sweatdrop melihat kelakuan teman sebangkunya. Jadi, Naruto menyesal karena dia telah menolak anak itu?
" Kau t-tadi apa? Dilamar? Apa anak itu sudah gila? Kau lulus SMA saja belum! Terlebih, kalian berdua kan sama-sama laki-laki!"
Naruto memandang Kiba dengan air mata menggenang di kedua pelupuk matanya.
" Kau saja sampai shock begitu, apalagi aku! "
" Tapi tunggu dulu." Kiba cepat-cepat menyela Naruto yang akan mewek lagi. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya sedari tadi. " Bagaimana anak yang kau panggil Sasuke itu bisa menyukaimu?Setauku kau tidak punya kenalan di sekolah itu."
" Dia adik pemilik usaha tempatku bekerja."
" Lalu?"
Kini giliran Naruto yang dibanjiri keringat dingin di wajahnya. Haruskah dia melanjutkan kisah seorang crossdresser dan Sasuke jatuh cinta pada sosok 'jelmaannya'. Naruto tidak mungkin mengatakan itu semua kan? Bisa hancur seketika image kerennya di sekolah.
" L-Lalu ? Akh... entahlah! Aku sendiri bingung! " ujar Naruto sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
.
.
.
Kyuubi menggumam kekesalannya sambil membuka pintu apartemen. Setelah pintu terbuka dia berjalan dengan tergesa-gesa memasuki apartemennya yang dia sewa bersama mate-nya yaitu Itachi. Namun saat dia membuka pintu kamar, dia terlonjak kaget saat mata rubynya mendapati Itachi sedang topless dengan selembar handuk yang menutupi bagian bawahnya.
" Oh, Kyuu. Okaeri. ujarnya dengan senyum mengembang. Rambut sebahunya nampak basah oleh air. Nampaknya Itachi baru saja menyelesaikan ritual mandi sorenya.
" Tadaima." jawab Kyuubi singkat dengan wajah memerah.
" Sepertinya moodmu sedang kurang baik." tanya Itachi sambil memakai bajunya.
" Ini karena Naruto cu- Hei pakai celanamu di kamar mandi, Baka!" Kyuubi menjerit histeris saat Itachi hendak memakai celananya di depan Kyuubi. Wajahnya semerah tomat melihatnya. Hal itu tentu saja membuat Itachi tersenyum miring dengan wajah mesumnya.
" Kenapa? Lagi pula kaukan sudah pernah melihatnya. Aku juga sudah pernah melihat punyamu. Jangankan melihat, menjilat, menghi-"
" HENTIKAN! Jangan diteruskan!"
Kyuubi menggeleng-gelangkan kepalanya sembari menutupi kedua telinganya. Bisa-bisanya Itachi berbicara vulgar di saat dirinya dalam keadaan bad mood seperti ini. " Dasar hentai!" umpatnya saat Itachi malah tersenyum miring -mengejeknya.
" Tingkahmu seperti gadis perawan sa-"
BUAGH! Sebuah guling melesat mengenai wajah Itachi.
"Coba bilang sekali lagi jika kau ingin 'burungmu' habis di tanganku."
Ha'i~"
Mengalah memang jalan terbaik saat ini. Selama mereka berdua jadi mate, Itachi telah belajar satu hal. Kyuubi tidak pernah main-main dengan ucapannya.
" Jadi, apa yang membuatmu bad mood?" tanya Itachi.
Memalingkan wajah kearah lain dengan wajah merona. Kyuubi mencoba untuk tidak melihat Itachi yang masih 'ngeyel' memakai celananya di dalam kamar.
" Ini karena adikmu."
" Sasuke?"
" Kenapa dari sekian banyak orang di dunia ini, dia harus jatuh cinta dengan Naruto?"
Merasa tertarik dengan perbincangan mereka kali ini, Itachi memilih mendekat kearah Kyuubi yang sedang duduk di kasur.
" Oh, kau tahu dari mana?"
" Tentu saja Naruto sendiri yang bilang kepadaku jika dia baru saja 'dilamar' oleh anak ayam itu."
Saking shocknya, Itachi sampai lupa bernafas. Dia sungguh tidak terpikir jika Sasuke benar-benar berniat menjadikan Naruto menjadi pasangannya. Memang klan Uchiha membebaskan setiap anggota keluarganya untuk menentukan pasanganya, dengan catatan klan yang akan menjadi pasangannya harus menyetujuinya juga. Apalagi Sasuke dan Naruto sama-sama laki-laki. Ini sama saja mengulang kejadian seperti Itachi. Ini akan jauh lebih repot jika Naruto itu seorang straight. Homoseksual meski sudah lama diterima di masyarakat, namun bagi mereka yang masih menjunjung kuat nilai budaya lama, hubungan yang seperti itu pasti dianggap menyeleweng dari norma-norma.
" Ah, benarkah?"
" KENAPA REAKSIMU BIASA SEKALI?!"
" Sepertinya aku perlu bicara dengan Sasuke."
" ITU SUDAH SEHARUSNYA KAN?!"
Kyuubi menghela nafas sambil memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
" Apa dia sudah gila? Dia baru saja mengenal keponakanku! Wajar saja Naruto jadi shock."
" Tapi tidak mudah bagi seorang Uchiha menentukan pasangannya. Jika sudah tertarik pada seseorang, seorang Uchiha tidak akan mudah menyerah untuk mendapatkannya. Karena Uchiha itu mutlak."
Kyuubi sweatdrop mendengar penjabaran dari matenya itu.
" Apa kalian keturunan seorang Hitler atau apa? Konyol sekali pedoman kalian itu."
" Apa wajahku terlihat sedang bercanda?"
Kyuubi pun menatap wajah Itachi yang terpampang di putih mulus namun berkeriput. Kyuubi jadi tidak yakin apa benar Itachi itu berusia 21 tahun?
" Akh.. baiklah, baiklah! Aku percaya padamu."
" Ya kau memang seharusnya percaya padaku karena aku adalah matemu." ujar Itachi sambil meniup lubang telinga Kyuubi dengan lembut. Hal itu sukses membuat wajah Kyuubi memerah sampai ke telinga. Dan mereka pun melanjutkannya ke tahap berikutnya .*you know what i mean*
.
.
TBC.
Author's Note :
(1) Bukan urusanmu.
(2) Berhenti
(3) Mustakhil/ tidak mungkin
(4) Benar-benar minta maaf
(5) Permisi/maaf
(6) Lama tidak bertemu
(7) Tunggu sebentar ya
(8) Halo (dalam percakapan telepon)
(9) Ada apa
(10) Kenapa
*Maaf kesalahan pengetikan dan pengartiannya. Itu karena semata-mata saya modal ngarang nulisnya. Silahkan di benarkan jika terdapat kesalahan *dilemparsendal*
.
.
Hola minna~ ketemu lagi dengan saya ? *kedipkedip*. Lama tidak ukh...update?Semoga masih ada yang menanti fic gaje dari saya? Banyak PM maupun review yang masuk seperti "kapan lanjut?" / "update ASAP ya?/"Next..." Huwah, sungguh saya amat sangat terharu *lebay* saat membaca review/ PM kalian. Sayangnya saya tidak bisa membalasnya satu persatu karena saya nggak sempet. *halah* Yang jelas sih saya sangat berterima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak di fic gaje saya. Kritik dan saran dengan senang hati saya terima asal dengan bahasa indonesia yang baik dan sopan . Pake bahasa planet Nebula juga nggak papa kalo kalian ngerti.
So, Arigatou and See You...
Kuroi Sora18
