Disclaimer : Seluruh cast merupakan milik diri mereka sendiri atau pihak yang mengikat mereka dalam kontrak kerja. Cerita ini milik daku yang terinspirasi dari banyak pengalaman orang lain dan diri sendiri.
Cast :
Choi Chan : 23 tahun
Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan : 49 tahun
Choi Junhwi, Choi Soonyoung, Choi Mingyu : 29 tahun
Choi Jihoon : 35 tahun
Xu Minghao : 28 tahun
Jeon Wonwoo : 31 tahun
Choi Myeongjun : 9 tahun, Choi Hojun : 4 tahun
Choi Jisoon : 9 tahun, Choi Jiyoung : 5 tahun
Choi Minwoo, Choi Wongyu : 9 tahun
Warning : AU, Typos, Gay/Yaoi, MPREG, DLDR, EYD yang kadang terlupakan, bahasa gak jelas yang sok puitis, OOC karena mengikuti alur (jadi disini, cast lah yang mengikuti cerita).
Cerita ini adalah remake dan perluasan habis-habisan dari ff aku dengan judul History yang sudah pernah diupload di akun Kellyn Damanic dengan cast KrisTao.
.
.
.
.
Damanic's present
-o0o-
With the world of imagination
"Back to The Place"
Letter Version
.
.
.
Pyats…
Sorot lampu, gemerlap lighting, lautan cahaya, dan dentuman keras musik mengalun dengan keras.
Sesosok pria dengan balutan jas putih muncul di tengah panggung, menggerakan teriakan lautan manusia yang memuja, mengumandangkan lagu dan rap dengan tarian yang memukau.
Lagu opening telah selesai dibawakan. Sang pemeran utama duduk di sebuah kursi ditemani seorang MC dengan perawakan nyentrik.
"Jadi Dino –ssi, malam ini adalah malam terakhir dari serangkaian Diamond 3 Carat : World Tour anda. Jika boleh aku bertanya, kenapa anda malah memilih China sebagai tempat akhir?" Sang MC bertanya dengan bahasa mandarinnya.
Dino langsung menjawab dengan bahasa mandarin pula. Oh, ia sudah berkali-kali mengunjungi China dan menetap beberapa kali untuk waktu yang lama. Dengan kecerdasannya, ia mampu memperlajari bahasa yang rumit ini dalam waktu singkat.
"Sejujurnya, dalam beberapa hari adalah tanggal kematian eommaku yang ke 10 tahun. Makamnya berada di daratan China, jadi aku memutuskan untuk beristirahat sambil mengunjungi makamnya. Dan yang seperti kalian tahu, bahwa rumah keluarga besarku ada di China." Jawab Dino dengan lugas.
Ia sedikit menerawang ke depan dan tersenyum kemudian.
Di tahun ketiga karirnya sebagai idol dari negeri Korea, ia sudah menjadi bintang besar dengan segala penghargaan dan jumlah fans yang membludak. Ia benar-benar mewujudkan cita-citanya dalam menari walau jalan yang ditempuh adalah sebagai idol.
Tak buruk. Karena bagaimana pun juga, ia adalah dosen muda sang pelatih dance di Pledis University of Seoul di Fakultas Seni dan koreografer untuk grup dance dunia The Kainjax.
"Kudengar bahwa keluargamu datang khusus ke konsermu kali ini?"
Dino tersenyum lebar.
"Seperti yang khalayak umum ketahui bahwa sosok Dino ini adalah Choi Chan yang punya banyak sekali catatan sejarah, hahaha. Aku memaksa appa dan eomma, para hyungku dan kakak ipar, juga seluruh keponakanku untuk datang di hari ini."
Suara ooo terdengar dari para fans yang kini menoleh kesana-sini untuk mencari keluarga sang idola.
"Mereka ada di kursi VIP, tepat di depanku dan duduk di bangku paling atas."
Bersamaan dengan Dino yang melambaikan tangan, sorot lampu kini menerangi beberapa orang dengan ekspresi yang beraneka ragam.
Ada yang membungkuk untuk memberi hormat, ada yang melambai dengan senang, atau ada yang hanya mengangguk kecil sambil menyeringai.
Wajah 14 orang terpangpang satu persatu di layar lebar. Membuat para fans menjerit karena wajah rupawan yang tersorot dengan sempurna.
Dino hanya bisa terkikik kecil kala melihat enam sosok anak menunjukan berbagai ekspresi ke arahnya.
Bukankah benar-benar imut, keponakannya itu?
.
.
.
.
.
.
Para anak sedang dalam libur semesteran sehingga mereka dapat berlibur bersama seperti ini. Lalu bagaimana sih mereka saat ini?
Seungcheol hanya berperan sebagai penasehat dari ketiga jenis perusahaan besar yang telah dipegang oleh anak-anaknya. Ia sedang menikmati hidupnya dengan travel yang sering dilakukannya bersama dengan Jeonghan. Jeonghan selain menemani Seungcheol juga mengurus sebuah cabang dari U-know Fond yang bergerak di bidang sosial, Seventeen House tempat para anak yatim piatu dirawat.
Junhwi tentu saja mengurus kerajaan bisnis U-know Fond. Kadang Junhwi menyesal menjadi yang ditunjuk untuk mewarisi U-know Fond karena kesibukannya luar biasa. Minghao kadang hanya memeluk Junhwi kalau ia sedang dalam mode murkanya. Minghao sendiri menjadi desainer pakaian anak muda dengan merk Xan (re:Cristhan).
Anak pertama Junhwi yang juga sulung di linenya yang berumur 9 tahun, Choi Myeongjun tengah menempuh pendidikan di kelas 4 sekolah dasar. Lalu anak bungsu dari Junhwi-Minghao yang juga bungsu dari seluruh linenya ini, Choi Hojun yang berumur 4 tahun masih berada di kindergarden.
Soonyoung menjalankan Hero Medical dengan senang hati dan lapang dada. Soonyoung paham betul obat-obatan bukanlah panggilannya maka dari itu ia tetap menjadi pengajar di Pledis University of Beijing sebagai dosen tari. Si mungil Jihoon juga ikut mengurus Seventeen House namun di cabang Beijing.
Anak pertama Soonyoung yang juga berumur 9 tahun berada pada kelas 3 sekolah dasar, Choi Jisoon namanya. Ada juga Choi Jiyoung yang kini berumur 5 tahun juga berada di kindergarden.
Mingyu kadang merasa ingin botak karena ternyata mengurus Pledis University dan 40 cabanganyatidak semudah yang ia banyangkan. Wonwoo membuka sebuah perpustakaan di tengah kota Seoul yang tepat berada di samping Seventeen House unit 1.
Si anak kembar Mingyu-Wonwoo bernama Choi Minwoo dan Choi Wongyu yang berusia 9 tahun. Mereka bersekolah di sekolah dasar yang sama dengan Myeongjun namun di kelas 3.
Oh iya, umur Myeongjun, Jisoon, juga si kembar Minwoo dan Wongyu memang sama yaitu 9 tahun. Myeongjun adalah yang tertua, ia lahir di bulan Februari. Sedangkan Jisoon lahir di bulan Juni. Nah kalau si kembar lahir di bulan Agustus. Myeongjun berada di kelas 4 karena ia masuk ke sekolah dasar terlebih dahulu dibanding Jisoon, Minwoo, dan Wongyu.
"Appa, Chanie samchon keren sekali!"
"Iya appa! Bahkan appa saja kalah kerennya dengan samchon!"
Soonyoung hanya bisa mengelus dada kala menyaksikan kedua anaknya memuji Chan dengan segitunya. Oh jangan anggap serius bagian mengeluas dada, karena dirinya sibuk menyupir.
"Jisoon hyung, benar kan samchon terlihat keren dan seksi!" Ucap si kecil Jiyoung.
Jisoon yang diajak berbicara mengangguk dengan antusias.
"Hei, darimana kau belajar kata itu Jiyoung?" Kata sosok sang eomma, Jihoon, yang kini mendelik kaget ke arah anak bungsunya. Ia bahkan memutar tubuhnya untuk melihat jok belakang yang berisi anak 9 dan 5 tahun itu.
Jisoon, sang kakak hanya terkikik geli sedangkan yang ditanya hanya mengerjap imut.
"Minwoo hyungie dan Wongyu hyungie." Jawab Jiyoung.
"Akan kuberi pelajaran si Mingyu sialan itu!" Kata Jihoon dengan nada kecil nan menusuk.
Soonyoung hanya terkekeh sambil tetap mengendarai mobilnya, menerobos malam di Beijing.
Mobil Soonyoung berada di depan diikuti oleh mobil Junhwi, mobil Seungcheol, dan mobil Mingyu. Mereka membawa anggota keluarga mereka masing-masing.
Beralih ke dalam mobil Junhwi. Di mobil ini tak banyak percakapan yang terjadi. Memang tidak seribut keluarga Soonyoung atau pun Mingyu.
Terlihat sang sulung yang berusia 9 tahun, Myeongjun, tengah sibuk dengan laptopnya. Ia mengetik rangkaian kata dalam bahasa inggris dan sesekali bertanya kepada appanya mengenai hal yang belum dimengertinya.
Si bungsu Hojun yang juga terkecil di antara linenya yang kini 4 tahun terlihat sibuk menonton acara bela diri yang ditampilkan dari mini tv di atas dash board. Matanya terlihat serius dan dahinya merengut.
Sang eomma, Minghao ikut menonton acara pertandingan bela diri itu sambil sesekali mendesis kala jagoannya terkena pukulan maupun tendangan.
Junhwi? Dengan wireless headset yang menempel di telinga kirinya, ia sibuk berdebat ringan dengan rekan bisnisnya dan sesekali menjawab pertanyaan Myeongjun sambil fokus menyetir.
Menuju mobil Mingyu, terdengar perdebatan sengit antar si kembar Minwoo dan Wongyu yang jelas enggan dilerai oleh kedua orang tuanya.
Kedua anak berumur 9 tahun itu terus berdebat mengenai 'siapa yang dilambaikan tangan oleh Chan samchon tadi'.
Sepele, namun bisa membuat kedua bocah ini berdebat hingga titik darah penghabisan.
Mingyu hanya sesekali tertawa akan omongan kedua anaknya yang tidak masuk akal untuk berdebat. Wonwoo sendiri juga hanya sweatdrop dan memilih membiarkan.
Baik Mingyu dan Wonwoo tahu bahwa kedua anaknya ini sangat saling menyayangi sehingga tak mungkin sampai ada peristiwa pertumpahan darah di antara mereka.
"Aku hyung! CHO-I-WON-GYU inilah yang menjadi perhatian utama Chan samchon!"
"Tidak bisa begitu! Hanya sang perkasa CHOI MINWOO ini yang medapat perhatian samchon!"
"Wongyu hyung tak tahu bahwa Chan samchon membelikanku buku resep dari italia langsung!"
"Kau juga tak tahu bahwa samchon membelikanku saham di permainan online!"
"Pokoknya aku, hyung jelek!"
"Dasar kau emo!"
"Hyung mata duitan!"
"Kau babi yang suka makan!"
"AKU MEMBENCIMU!" Teriakan mereka dengan kompak.
Setelah meneriakan dengan sepenuh tenaga, Minwoo dan Wongyu langsung menyilangkan tangan mereka dan saling melempar muka.
Mingyu benar-benar menahan tawa namun apa daya,
"HAHAHAHAHA…. Kalian lucu sekali sih." Ucap Mingyu dengan tawa lepas dan nada jahil.
"APPA!"
Bukannya menghentikan tawanya, Mingyu malah semakin menjadi-jadi.
Wonwoo makin sweatdrop menyaksikan ketiga pria di sekelilingnya kini. Dengan sekali delikan mata, ketiga laki-laki itu terdiam, kembali tenang. Tunduk di hadapan sang eomma dan istri.
Menuju mobil yang kini terisikan Seungcheol, Jeonghan, dan Chan.
Jeonghan tersenyum lembut kala melihat sang anak bungsu tertidur dengan wajah letihnya. Pasti berat menjadi seorang idola.
Atas negosiasi panjang dengan pihak perusahaan Chan, Chan kini mendapatkan waktu liburnya. Yah walau hanya 1 minggu, namun itu sudah lebih dari cukup.
"Seungcheolie, aku ingin tidur dengan Chan hari ini. Kau tidur sendiri ya." Kata Jeonghan dengan nada kecil, takut membangunkan Chan yang terlelap.
Seungcheol tersenyum sambil mengusap wajah Jeonghan yang mulai terlihat keriput tipis. Tentu saja, umur mereka telah 49 tahun. Bahkan Junhwi, Soonyoung, dan Mingyu telah menginjak 29 tahun.
Namun mungkin saja banyak yang mengira Seungcheol dan Jeonghan menginjak 30 akhir. Wajah mereka benar-benar terlalu muda, untuk seusianya.
"Aku juga akan tidur bersama kalian." Jawab Seungcheol.
Jeonghan mengangguk kecil lantas menengok kembali ke arah Chan.
"Mereka semua benar-benar sudah tumbuh." Kata Jeonghan.
"Tentu saja. Mereka tak mungkin akan menjadi anak-anak terus Hannie." Jawab Seungcheol.
Tak ada percakapan lagi. Jeonghan hanya menatap ke luar jendela dengan tatapan menerawang sedangkan Seungcheol kembali fokus menyetir.
"Tapi bagaimana pun, Seungcheolie…. Mereka berempat tetap bayi kita."
Dan senyuman penuh kebahagiaan menghiasi wajah Seungcheol.
.
.
.
.
.
"Channie samchon….." Suara serak khas bangun tidur itu terdengar di telinga Chan.
Chan lantas bangun dari tidurnya lalu menoleh kesisi-sisinya yang ternyata diisi oleh sang eomma dan appa yang masih terlelap.
Pandangan Chan lantas menuju ke arah si bungsu Hojun yang kini mengusap mata sambil membawa sebuah boneka Po si protagonis utama Kung Fu Panda di pelukannya.
"Hojun? Ada apa eoh?" Tanya Chan sambil menuruni ranjang.
"Temenin Hojunie tidur…" Ucap Hojun dengan nada manjanya.
Chan hanya tersenyum lantas membawa Hojun ke dalam gendongannya. Chan kini terlihat seperti membawa 2 bocah berumur 8 tahun karena boneka Po ini hampir setara dengan tinggi Hojun.
Rumah utama keluarga Choi di Korea kini diambil alih oleh Junhwi-Minghao bersama Myeongjun dan Hojun. Dimana Seungcheol dan Jeonghan masih tetap disana. Mingyu-Wonwoo, Minwoo beserta Wongyu kini memiliki rumah mereka sendiri yang tak jauh dari rumah utama.
Sedangkan rumah besar keluarga Choi di China ini ditempati oleh Soonyoung, Jihoon beserta Jisoon dan Jiyoung. Keputusan ini diambil karena Soonyoung menjalankan Hero Medical dimana China merupakan Negara dengan berbagai macam sumber obat tradisional. Maka dari itu merekalah yang mengelola rumah besar Choi sekarang.
Oh tentu saja mereka masih sering bola-balik ke Korea hanya untuk sekedar melepas rindu atau pun ada kunjungan bisnis.
Hal inilah yang mengakibatkan kamar utama ditempati juga oleh Soonyoung dan Jihoon.
Kamar Jisoon dan kamar Jiyoung ada di samping kanan dan kiri kamar utama, tempat mendiang Jonghyun dan Seungcheol remaja tempati.
Terdapat 4 kamar tamu di lantai bawah, dan 5 kamar tamu di lantai atas.
Kamar tamu di lantai bawah ditempati oleh Seungcheol-Jeonghan, Junhwi-Minghao, Mingyu-Wonwoo, dan Chan. Namun karena Jeonghan meminta tidur bersama malam ini, Chan jadi berpindah ke kamar Seungcheol-Jeonghan.
Untuk kamar atas masing-masing Myeongjun, Minwoo, Wongyu, dan Hojun mendapatkan kamar sendiri.
Keempat anak itu berdebat sengit untuk pembagian kamar dan jadilah si bungsu Hojun menempati kamar paling ujung yang dekat dengan balkon.
Chan dan Hojun baru saja keluar dari kamar Seungcheol-Jeonghan. Mereka harus melewati ruang keluarga untuk menuju anak tangga.
Di dinding ruang keluarga ini terpasang banyak sekali gapura foto.
Ada satu foto yang benar-benar Chan sukai untuk memandang. Foto eommanya. Eomma kandungnya.
Foto sang eomma dipasang dalam sebuah frame besar yang terbagi-bagi atas frame lainnya. Disitu ada foto ukuran A3 sang eomma, dengan segala kenangan mereka di frame yang lebih kecil.
Chan tersenyum kecil kala dirinya melewati frame itu.
"Kenapa tak mencari Myeongjun hyung, Hojunie?" Tanya Chan yang kini mulai menaiki anak tangga.
Hojung menggeleng.
"Myeongjun hyungie sudah sering menemani Hojunie di Korea. Hojunie ingin dengan samchon saat ini." Jawabnya.
"Hojunie sebenarnya udah mencari appa dan eomma. Namun kamar mereka terkunci. Yaudah Hojunie cari samchon saja."
Chan terkikik kecil lalu mencium pipi gempal Hojun.
Mereka telah sampai ke kamar Hojun.
Chan membaringkan Hojun dan ikut berbaring di sebelahnya. Ia juga menata agar tubuh mereka terbalut selimut dengan sempurna.
Dengan sayang, Chan menepuk surai hitam Hojun lalu mencium pipi itu sekali lagi.
"Selamat tidur, Hojunie…"
"Selamat tidur juga, samchon…."
.
.
.
.
.
Pagi hari ini sungguh cerah. Awan-awan putih terlihat cantik dengan perpaduan langit biru. Matahari hangat juga menambah keceriaan pagi ini.
Kita menuju meja makan yang ada di sebelah dapur rumah.
Meja makan ini berbentuk lingkaran. Bayangkan meja makan ini berisi 15 kursi yang 6 di antaranya adalah anak-anak. Sudah pasti keributan akan terjadi nantinya.
Di tengah meja terdapat sebuah vas dengan bunga lily yang baru dipetik dari taman. Masing-masing kursi telah tersedia piring yang ditemani oleh sendok, garpu, sumpit, dan pisau di sampingnya. Oh jangan lupakan serbet putih di atas piring.
Mari kita lihat kegiataan keluarga ini di pagi hari.
Seperti biasa bahwa Jihoonlah yang memasak di rumah ini yang kini dibantu dengan Mingyu. Mereka tengah menyelesaikan menu akhir. Jihoon tengah menunggu dim sum matang sambil menata piranti untuk membuat teh. Menu teh hari ini adalah krisan. Sedangkan Mingyu juga menunggu kukusan bakpao dan kini menggoreng cakwe.
Minghao fokus pada penataan meja makan, ia lah yang juga memetik bunga lili lalu menatanya di tengah meja.
Wonwoo mengurus bagian plating. Wonwoo lah yang mengantar banyak sekali makanan dari pantry dapur ke meja makan dengan troli makanan yang dibantu oleh beberapa maid.
Jeonghan sendiri membantu si kembar Minwoo dan Wongyu untuk mandi. Asal kalian tahu, si kembar ini takut terhadap sang eomma, Wonwoo, namun penuh penghormatan terhadap Jeonghan. Maka dari itu mereka terlihat jinak jika di sekeliling Jeonghan.
Jisoon telah usai mandi dan ia terlihat bermain catur dengan si sulung Myeongjun di teras belakang. Mereka berdua terlihat serius dengan gayanya masing-masing. Jisoon menumpukan kepalanya dengan sanggaan tangan kirinya pada sisi kursi. Sedangkan Myeongjung meletakan kedua tangannya di sisi kursi.
Si manis Jiyoung tengah memantapkan permainan piano yang ada di ruang keluarga dibantu dengan samchonnya, Junhwi. Jiyoung memang tertarik dengan musik. Karena ketertarikan inilah ia memiliki sebuah ruangan khusus, atau bisa dibilang studio musik di dekat teras belakang.
Si bungsu Hojun bersama dengan sang samchon juga, Chan, tengah asik berlatih bela diri di taman belakang. Mereka tentu sudah mandi, maka dari itu lah mereka hanya mempraktikan bela diri yang halus agar tidak berkeringat berlebihan.
Seungcheol terlihat duduk manis di sofa ruang keluarga sambil membaca koran keluaran terbaru. Ia ditemani oleh dentingan permainan piano ganda dari Junhwi dan Jiyoung.
Terakhir adalah Soonyoung yang berada di dalam ruang kerjanya. Ia sibuk memarahi sang sekretaris karena menganggu hari liburnya lewat telepon.
Beberapa waktu terlewati dan kini seluruh anggota keluarga telah duduk di meja makan.
"Yak! Kenapa kau ambil dim sum udangku, Minwoo hyung?!" Teriak Wongyu kesal.
Minwoo yang diteriaki begitu hanya tak acuh sambil mengunyah dim sum yang dicurinya itu.
Tidak ada keheningan di tengah acara sarapan ini. Tidak ada pula suasana kematian atau pun aura kemarahan. Acara sarapan keluarga ini telah menjadi hangat.
Di meja makan telah tersaji masing-masing satu tempat kukus mini dimsum dan bakpao untuk per orang, bubur yang bisa diisi topping sesuai selera, semangkuk mie gandum, susu kedelai yang ditemani cakwe, dan teh krisan yang hangat.
Tempat duduk enam anak-anak itu diatur agar dalam satu tempat. Membuat sebuah keributan yang menyenangkan untuk dilihat.
"Wah kenyangnya…." Ucap Hojun dengan bahagia.
"Terima kasih atas makanannya." Kata Jiyoung setelahnya.
Para anak-anak turun dari meja makan dan mereka dengan kompak menuju kamar masing-masing.
"Ingat pakai baju yang cantik ya!" Kata Mingyu ketika melihat anak dan keponakannya melangkah.
"NE!" Ucap anak-anak itu dengan kompak.
Terlihat para maid yang mulai membereskan meja makan.
"Kita ke florist itu lagi ya hyung." Kata Chan yang kini berjalan beriringan dengan Junhwi.
Junhwi mengangguk kecil lalu menepuk puncak kepala Chan.
Tak berselang lama mereka semua telah siap dengan pakaian yang didominasi warna putih dan hitam.
"Aku mau sama samchon!" Ucap Wongyu sambil memeluk kaki Chan.
Chan hanya terkekeh kecil.
"Aku juga!" Kali ini suara Minwoo terdengar dan memeluk Chan juga.
"Hojun juga!"
"Kalau begitu Jiyoung juga mau!"
"Aish kalian ini." Kata Jisoon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jisoon melihat ke arah sang hyung tertua, Myeongjun yang menganggukan kepalanya.
"Baiklah. Ijin sama eomma appa kalian dulu." Kata Jisoon akhirnya.
Pada akhirnya, Chan mengendarai mobil milik Seungcheol yang kini penuh dengan keponakannya.
Seungcheol dan Jeonghan berpindah ke mobil Junhwi, sedangkan Mingyu dan Wonwoo ikut di mobil Soonyoung. Oh iya, dan satu mobil khusus para maid dan butler yang siap menemani mereka.
Mereka lantas memulai perjalanan dengan mobil yang dikendarai Chan melaju terlebih dahulu disusul oleh mobil Junhwi lalu mobil Soonyoung.
Seperti yang dikatakan Chan sebelumnya, mereka mampir ke florist yang telah menjadi langganan keluarga mereka.
"Baik dengarkan haraboeji. Kalian boleh memilih bunga apapun tapi hanya 5 tangkai. Mengerti?" Kata Seungcheol terhadap para cucunya.
Anak-anak itu mengangguk cepat sebelum berpencar ke segala penjuru.
Toko bunga ini memang besar, sekitar 20 x 20 meter. Terdapat banyak sekali pilihan bunga yang cantik dengan berbagai macam warna. Para karyawan toko juga terlihat di berbagai sudut untuk siap melayani pembeli.
"Bagaimana kalau kita beli per pasangan saja? Oh jangan tersinggung Chanie, ini agar tidak terlalu repot membawanya." Kata Soonyoung.
"Aish hyung." Kata Chan. Ia jadi merasa tertekan masih single.
Para orang tua itu mengangguk setuju sambil tertawa kecil.
"Jadi masing-masing 5 buket?" Tanya Minghao.
"Ne. Setidaknya kita tak terlalu kerepotan seperti tahun lalu." Kata Wonwoo yang dirangkul oleh Mingyu.
Para pasangan dan Chan berpencar kini. Mereka memilih bunga-bunga yang tentu saja memiliki makna yang indah pula.
Total ada 25 buket dan 30 tangkai bunga yang ada.
Bunga-bunga cantik itu di letakan di mobil para maid.
Tak terasa mereka kini telah sampai di area pemakaman. Mereka lantas langsung menuju ke area pemakaman keluarga Choi yang kini memiliki pagar khusus yang memisahkan area mereka.
"Pertama ke papa-mama dulu ya." Kata Minghao.
Minghao yang mengenggam tangan Junhwi sekarang berada di depan. Berjalan memimpin dengan sebuah buket di tangannya.
Minghao lantas membuka kunci gembok pagar makam lantas langsung membukanya dengan lebar.
Ia, Jihoon, Wonwoo, dan Jeonghan lantas langsung membantu menata persembahan yang telah dibawa oleh para maid.
Setelah usai, bunga-bunga cantik itu diletakan di altar makam.
Myeongjun menarik tangan Hojun untuk meletakan tangkai bunga yang dipilih oleh mereka lalu bergabung bersama Junhwi dan Minghao untuk berdoa.
"Sekarang ke eomma-appa." Kata Wonwoo.
Mereka lantas berpindah ke makam lainnya. Melakukan hal yang sama dan berdoa kepada yang telah meninggal.
Seungcheol tersenyum kecil kala menginjakan kakinya ke makam sang kakak. Jihoon juga langsung tersenyum lebar sambil mengusap batu marmer yang bertuliskan nama orang tua.
Tak berselang lama, mereka menuju ke makam utama.
"Harabeoji, halmeoni, apa kabar kalian?" Kata Mingyu yang kini tersenyum kecil di depan makam sang kakek dan nenek.
Junhwi ikut tersenyum sambil berdoa yang diikuti oleh Soonyoung dan Chan di samping Junhwi.
Anak-anak mereka juga terlihat serius untuk memanjatkan doa kepada sang buyut.
Langit sudah semakin siang, disaat itulah mereka menuju ke makam terakhir.
Kali ini Chan lah yang memimpin jalan. Di tangan kirinya terdapat satu buah buket bunga mawar putih yang dipadukan dengan bunga lily.
Sedangkan tangan kanan Chan bergandengan dengan lengan Hojun yang tak mau lepas darinya.
Setelah sampai di depan gerbang makam, Chan menarik kalung yang selalu ia gunakan. Kalung itu berbandul kunci makam ini.
"Eomma…" Kata Chan dengan berbisik.
Hojun menengok ke arah Chan yang kini tersenyum kecil.
Seungcheol dan Jeonghan berdiri di samping Chan kini. Seungcheol mengusap surai Chan yang berwarna biru tua, sedangkan Jeonghan mengecup pipi Chan dengan lembut.
Para kakak ipar Chan juga ikut menata persembahan dan meletakan buket bunga.
"Halmeoni, annyeonghaseyo. Maafkan Hojun karena tahun lalu belum mengerti apa. Sekarang Hojun sudah paham kalau halmeoni adalah halmeoni." Ucap Hojun sambil berdoa.
Chan yang mendengarnya tersenyum kembali.
Para keponakannya satu persatu memberikan tangkai bunga yang mereka pilih lantas berdoa dengan sepenuh hati.
.
.
.
.
.
"Sudah 10 tahun ne eomma… Ada banyak hal yang aku ingin bicarakan eomma... Tapi ada satu hal yang selalu aku ingin katakan ke eomma. Aku merindukanmu." Kata Chan.
Chan hanya sendiri kini di makam sang eomma.
Keluarga yang lainnya tengah berkumpul di makam utama milik mendiang Seungsoo dan Yoonhyun untuk makan siang.
Chan selalu berdiam diri dulu di makam ini sebelum bergabung dengan yang lainnya. Melepas kerinduan yang amat besar terhadap sosok yang sangat dicintainya ini.
"Dan berkali-kali aku akan katakan ke padamu eomma.. Terima kasih sudah melahirkanku… Aish… Aku benar-benar merindukanmu…" Ucap Chan lagi.
Chan kini termenung sambil menatap batu nisan yang terbuat dari marmer itu. Kenangan dengan sang eomma berlari kesana kemari dalam benaknya.
"Chan…"
Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Chan.
Chan menoleh ke sebelahnya dan terlihat sosok Seungcheol disana.
"Appa, kau mengagetkanku." Kata Chan sambil merengut.
Seungcheol terkekeh kecil.
"Ada yang ingin aku katakan kepadamu, Channie."
Chan kini menatap sang appa dengan tatapan bertanya.
"Karena ini sudah 10 tahun kepergian Jisoo, sudah saatnya aku memberikan titipan Jisoo kepadamu." Kata Seungcheol.
"Titipan? Bukannya segala hal milik eomma sudah diserahkan padaku?" Tanya Chan sambil menyeritkan dahinya.
"Ketika ia meninggal, sebuah surat teratas namaku ditemukan di samping jasadnya. Di suratku itu Jisoo mengatakan untuk memberikan sebuah surat untukmu ketika keadaan sudah normal dan kau sudah dewasa untuk menyimak."
Chan masih terdiam mendengar ucapan Seungcheol.
"Surat untukmu berada di dalam kamar Jisoo di apartemenmu. Di dalam laci paling bawah, di samping tempat tidur. Kau harus mengambilnya setelah ini, Chan." Kata Seungcheol sambil mengusap kepala Chan.
"Tapi appa, aku sudah pernah mencoba membukanya, dan laci itu terkunci." Ucap Chan kembali.
Seungcheol tersenyum kecil sambil menarik kalung yang dikenakan oleh Chan. Ia memegang kunci yang menjadi bandulnya.
"Kunci ini sebenarnya adalah kunci laci tersebut. Sewaktu aku membuat wasiat untuk memindahkan makam Jisoo kemari, aku membuat gembok yang berpasangan dengan kunci ini. Jadi itulah kunci laci di apartemenmu." Kata Seungcheol.
Chan terdiam sambil menatap kunci yang menjadi bandul kalungnya.
"Ne appa. Terima kasih." Ucap Chan sambil tersenyum.
Sesampainya Chan di Korea nanti, mungkin ia akan langsung menuju apartemennya. Ia akan membangkak karena di perjanjian dengan pihak agensinya, Chan harus menuju ke perusahaan itu terlebih dahulu.
Chan menatap makam sang eomma sekali lagi.
"Eomma….."
.
.
.
.
.
.
"Harus cepat." Ucap Chan yang melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa masuk ke dalam apartemennya.
Oh, apartemen ini adalah peninggalan mendiang sang eomma yang telah menjadi miliknya. Chan memutuskan tinggal disini setelah ia lulus dari sarjana seninya.
Tak memperdulikan kopernya, Chan langsung meninggalkan kopernya tergeletak begitu saja dan ia berlari menuju sebuah kamar. Kamar yang sejatinya milik sang eomma yang tak pernah ia rubah.
Kamar itu tak terkunci karena Chan selalu menuju kamar ini ketika ia gundah, bimbang, sedih, atau pun bahagia. Karena di kamar ini lah Chan mendapatkan ketenangan.
Dengan lari yang semakin cepat Chan langsung menuju ke laci di samping tempat tidur. Ia melepaskan kalung yang ia pakai lantas langsung memasukannya ke lubang kunci laci terbawah.
Cklek…
Chan sedikit terkejut kala kunci itu ternyata benar-benar pasangan dari laci ini.
Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari kecepatan normal kala tangannya menarik laci berwarna putih itu dengan perlahan.
Teruntuk malaikat kecilku, Chan~
Mata Chan terbelalak sedikit lalu ia tersenyum kecil. Tulisan tangan sang eomma masih tercetak jelas di amplop surat berwarna peach itu.
Amplop surat itu sedikit usang dan berdebu. Tentu saja karena surat ini surat terdiam selama 10 tahun.
Chan mengambil surat tersebut lantas langsung mengangkatnya. Menepuk-nepuk sedikit agar debu yang menempel dapat menghilang.
"Tebal juga." Kata Chan ketika ia memperhatikan amplop surat itu dengan lebih teliti.
Amplop itu agak –sangat- tebal dari amplop surat biasanya. Chan memilih duduk di ranjang sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Dengan hati-hati Chan merobek ujung amplop surat itu lantas langsung mengeluarkan isinya.
Beberapa lembar kertas putih terlipat menjadi empat bagian. Di ujung kertas terdapat clip berwarna peach yang menyatukan lembaran kertas tersebut.
Chan menghitung dengan teliti dan ada total 17 lembar. Tulisan tangan sang eomma berada pada seluruh permukaan kertas. Jadi Chan menghitung setidaknya ada 34 halaman yang mendiang sang eomma tuliskan.
Teruntuk malaikat kecilku, Chan…
Hai Choi Chan, malaikat kecil eomma… Berapakah usiamu ketika membaca surat ini? Sudah seberapa tinggimu saat ini? Apa kau menjadi pria yang tampan? Apa kau makan dengan baik? Bagaimana kehidupanmu saat ini? Eomma selalu berharap kau dapat tumbuh menjadi pria yang hebat dan hidup dengan limpahan kasih sayang…
Eomma akan merindukanmu, Chanie…
Mohon maafkan eomma yang melarikan diri… Maafkan eomma… Maafkan eomma yang tak akan ada di sampingmu untuk memelukmu, berbahagia bersamamu, menangis bersamamu… Eomma tak kuat chagi. Dengan segala kebencian yang ada para diri eomma dan orang lain, eomma tak sanggup… Maaf Chanie… Maaf…
Eomma akan menceritakan semuanya Chanie. Segala hal yang tak pernah engkau ketahui. Segala hal tentang eommamu ini. Seluruh perjalanan dari sosok Hong Jisoo.
Chan sudah berkaca-kaca walau baru halaman pertama yang ia baca.
Ia menghela nafasnya dengan berat lantas kembali menuju suratnya.
Ini kisah tentang seorang anak, yang hidup di sebuah panti asuhan…
.
.
.
.
.
"Apa kita bunuh mereka saja, halmeoni? Kita buat mereka sakit, atau mungkin racuni sedikit demi sedikit?"
"Cih. Kita harus melakukan itu secara berjangka agar kepolisian tak curiga. Apa ada cara lain untuk menghilangkan benalu ini lebih cepat? Anggaran pemerintah sangat minim dan aku tak bisa kabur begitu saja! Sialan!"
Deg…
Anak berumur 8 tahun itu terdiam di balik jendela. Ia menutup mulutnya dengan erat. Matanya bergeliat panik, tubuhnya bergetar hebat, dan keringat dingin menuruni pelipisnya.
Oh lihatlah pakaiannya yang amat sangat lusuh. Hanya sebuah kaos kebesaran berwarna abu-abu dan celana pendek yang juga berwarna abu-abu. Terdapat beberapa robekan yang tertambal dengan seadanya.
Lengan baju kaos yang lumayan panjang itu dapat menutupi luka-luka baru maupun yang sudah mengering di lengannya.
Para pengasuh di panti benar-benar titisan iblis. Salah sedikit, cambukan akan mereka dapatkan. Melawan, maka jatah makan dua hari tak akan diberikan. Menangis, maka kurungan di gudang bawah tanah menanti.
Bisa kau bayangkan hidup dengan manusia seperti mereka?
Para anak yatim piatu ini juga harus bekerja sebagai pengemis yang harus membawa hasil minimal 1000 won. Tak banyak bagi kalian penghuni keluarga hangat. Namun 1000 won inilah malapetaka lain dari panti ini.
Apa yang akan terjadi jika mereka tidak membawa uang itu? Sederhana. Pintu panti tak akan terbuka untukmu sebelum kau membawa uang yang diminta.
Sosok anak yang tengah menahan getaran tubuhnya ini pernah mencoba untuk mencopet karena tak mendapat hasil yang ditentukan. Karena tak berpengalaman, ia ketahuan. Ia mendapatkan tamparan dan pukulan di wajah dan tubuhnya oleh orang-orang yang mengejarnya.
Anak itu lalu diserahkan ke kantor polisi dan begitu para pengasuh panti mengetahuinya, ia langsung dibawa kembali ke panti dan menerima hukuman yang lebih menyakitkan.
Tolong jangan dibayangkan hukuman apa yang ia terima. Jangan. Karena itulah neraka dunia yang sesungguhnya.
Hanya satu hal yang anak itu bisa lakukan.
Lari.
Sang anak berlari dengan cepat. Ia tak acuhkan kakinya yang tak beralas. Yang ia pahami bahwa semakin lama ia berada disana, maka semakin cepat ia menemui ajalnya.
Telapak kakinya terluka. Mana ada kaki yang tak terbakar kala dipaksa berlari di atas aspal yang panas? Kulit luarmu akan terlepas dengan kasar menyisakan sebuah kesakitan disana.
Sang anak sampai pada sebuah kolong jembatan. Ia duduk disana sambil menangis keras. Meluapkan segala hal yang menyakiti jiwa dan raganya.
Kenapa ia memiliki nasib sesial ini? Kenapa orang tuanya tak menginginkan dirinya? Kenapa tak ada yang peduli padanya? Kenapa? Kenapa nasib begitu kejam?
.
.
.
.
Chan, eomma ingin kau tahu masa kecil anak itu. Eomma ingin menghilangkan diriku ini setiap mengingat anak itu di pikiranku.
Asal kau tahu, sosok anak yang menangis meratapi nasibnya itu telah berusia 26 tahun. Eomma mohon jangan bayangkan bagaimana anak itu menjalani kehidupannya. Ia menderita, sangat menderita. Selama 5 tahun ia meminta-minta, menjadi pengangtar koran, pengantar susu, menyemir sepatu, menjadi buruh, dan pekerjaan menyakitkan tulang lainnya.
Lalu pilihan terakhir yang kau tak akan mau memikirkannya.
Menjual diri.
Ya. Anak dengan derita itu memilih menjadi pelacur rendahan dengan harga diri yang terinjak-injak.
Selama 13 tahun kehidupannya setelah melarikan diri dari panti asuhan iblis itu, ia lah yang menjadi iblis.
Melacurkan dirinya, menjadi jalang dari wanita dan pria berduit. Oh tentu saja obat-obatan pencegah kehamilan menjadi makanan wajib sehari-harinya.
Jangan bayangkan ia akan dibayar dengan gaji besar sehingga hidupnya bisa lolos dari kemiskinan. Ia hanya dibayar dengan upah kecil, namun masih lebih besar dari pekerjaan lainnya. Anak itu juga harus memberikan 70% dari upahnya ke rumah bordil yang menampungnya.
Setiap pagi anak itu bangun dengan keadaan telanjang, berhiaskan bercak merah dan cairan lengket berwarna putih. Merasakan sakit di sekujur tubuh dan pegal yang menyeluruh.
Ada sebuah berita baik, namun eomma ragu hal itu adalah hal baik.
Sosok itu telah mengumpulkan uang melacurnya dalam 13 tahun untuk membebaskan dirinya dari rumah bordil. Ia lalu masuk ke dunia kelab malam sebagai waiter dan yeah… Tak jauh berbeda, namun dengan gaji yang tak perlu ia bagi dengan pihak manapun.
Ia tetap melayani para 'pelanggan' yang ingin tubuhnya dengan tarif sesuka sang pelanggan.
Pilihan buruk, ia tahu namun tetap melakukannya.
Menjijikan bukan?
.
.
.
.
"Jisoo –ssi, tolong antarkan ini ke ruang VIP 13." Ucap sang bartender sambil meletakan sebotol Spirytus Vodka di nampan perak.
Sosok yang dipanggil Jisoo itu tersenyum kecil lantas langsung mengantarkan lagi, minuman keras berakoloh 96% itu ke ruangan yang sama.
Oh jelas sudah bahwa orang-orang kaya di dalam ruangan itu akan mabuk berat. Ini sudah ketiga kalinya Jisoo mengantarkan minuman dengan kadar alkohon tinggi ke ruangan VIP 13.
Tok… tok…
"Permisi…"
Jisoo membuka pintu ruangan dan bau alkohol dan rokok menghiasi ruangan ini.
Dengan segera tanpa melihat kesana-sini ia meletakan botol minuman keras itu di meja.
"Ohh… Ka..u amat ca..ntik… hik.. hanie…" Sesosok pria dengan tampilan kemeja yang berantakan menerkam Jisoo dengan ciuman panas. Wajah pria itu memerah tanda ia mabuk berat.
Prank….
Nampan yang dibawa Jisoo lolos dari genggamannya.
Jisoo tak berkutik karena jujur saja, ia lemah akan alkohol, dan dengan saluran alkohon melalui ciuman saja sudah mempengaruhi Jisoo.
Tangan nakal sang pria mulai mengerayangi tubuh Jisoo dalam ciuman panasnya. Mengapit tubuh Jisoo di dinding dan menahan perlawanan yang Jisoo berikan.
"Kenapa me..lawan hik.. hik.. hanie? Ayo kita buat anak lagi…" Sang pria jelas meracau tak jelas.
Jisoo terbuai dalam suasana panas yang sedang ia lakukan. Merangsang seluruh indra dan raganya. Tanpa tahu bahwa sang pemenang sedang berlomba-lomba menuju garis akhir.
.
.
.
.
.
Apa lagi yang bisa menghancurkan hidup Jisoo? Cobaan macam apa lagi yang bisa mengahcurkan diri dan psikisnya lagi?
Ada satu hal.
Hal yang kini ada di depan matanya.
Ia terkejut bukan main menyaksikan tanda di alat tes kehamilan. Garis dua, positif.
Tangannya bergetar hebat sambil memegang alat itu. Nafasnya memburu tak karuan. Jisoo bahkan harus menopang dirinya pada wastafel karena kakinya lemas seketika.
Ia memang harus rutin mengecek dirinya karena bagaimana pun, ia hidup di dunia yang gelap dan penuh dengan nafsu hewani. Lalu inilah yang ia lakukan setelah tak berhubungan badan dan mengecek kondisinya 2 minggu.
Tanpa basa-basi Jisoo langsung menuju dokter dan memeriksakan dirinya.
Dengan cepar hasil check telah membuat pernyataan final tentang status kehamilannya yang positif.
Pada apartemen lusuhnya, Jisoo menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang tak pernah keluar semenjak ia berusia 8 tahun pecah sudah. Dengan keras ia memukul bagian perutnya yang masih terlihat rata.
Jisoo meraung meratapi nasib buruk yang kini menerpanya. Seolah dirinya memang ditakdirkan untuk terus menjalani kesialan.
Sedetik kemudian Jisoo tertawa. Katakan lah ia gila karena mungkin ia sudah sewajarnya gila.
Jisoo mengingat dengan jelas kini. Ia lupa meminum obat pencegah kehamilan setelah berhubungan terakhir kali dengan…
"Choi Seungcheol." Lirih Jisoo.
Jisoo menekan dadanya yang amat sakit.
Ia mengingatnya. Setelah pulang dari melayani pria tak dikenalnya selama 3 ronde, Jisoo memungut pakaiannya. Di samping pakaiannya lah ia melihat kartu nama dengan tulisan Choi Seungcheol disana. Tak tahu mengapa ia mengambil kartu itu dan bergegas keluar dari ruang VIP 13 menyisakan sang pelanggan yang tertidur dengan nyenyak.
Dengan langkah tergesa-gesa Jisoo berjalan menuruni anak tangga. Ia menyewa taxi lantas langsung menuju U-know Fond seperti yang ada pada kartu nama Choi Seungcheol.
Sesampainya ia di lobi lantai dasar, Jisoo langsung menemui operator yang sudah siap sedia melayani Jisoo.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Ucap sang operator wanita dengan senyuman di wajahnya.
"Aku ingin bertemu dengan Choi Seungcheol." Kata Jisoo sambil menunjukan kartu di tangannya.
"Oh Seungcheol sajangnim masih dalam perjalanan menuju kemari. Mungkin 30 menit lagi."
Jisoo mengigit bibirnya.
"Aku akan menunggu." Jawabnya.
15 menit lamanya Jisoo sudah menunggu.
Jisoo duduk di salah satu kursi sambil menatap ke arah luar gedung dengan gelisah. Gedung ini dilapisi kaca bening yang tembus pandang untuk orang di dalam gedung saja.
"APPAAAAA…" Sebuah teriakan khas anak kecil menggelegar dari lift.
Seluruh pandangan, termasuk Jisoo melihat ke satu titik kini.
Tiga sosok anak kecil berlari menuju ke atah pintu masuk. Di pintu masuk terlihat sesosok pria dewasa yang merentangkan tangannya bersiap untuk memeluk.
Deg…
Itu Choi Seungcheol.
'Jangan katakan….' Bathin Jisoo bergejolak.
Dan kala sosok dewasa yang terlihat cantik berjalan menghampiri Seungcheol beserta anak-anak itu dan mencium mesra sosok Seungcheol, Jisoo merasa ia telah jatuh ke jurang yang paling dalam.
'Ia telah berkeluarga… Tapi kenapa?' Jisoo tak bisa berpikir jernih lagi. Ia segera meninggalkan gedung besar itu.
.
.
.
.
.
Apa yang harus ia lakukan saat itu hm?
Sosok itu tak punya pilihan, Chanie. Jika ia ketahuan mengandung, maka tempat kerjanya akan mengusirnya. Jika ia tak memberitahukan sang appa dari bayi yang dikandungnya, maka ia harus menanggung semua beban sendirian. Namun di satu sisi, jika ia memberitahukan keberadaan sang janin, maka ada sebuah keluarga yang akan hancur akan kehadirannya.
Apa pilihan pertamanya? Tolong jangan membenci eomma karena pilihan pertama sosok itu.
Mengugurkan kandungannya.
Ketahuilan bahwa ia telah mencoba mengugurkan kandungannya. Jangan membencinya, Chanie. Sosok itu sangat menyayangi janin yang ada di kandungannya, namun apa yang bisa ia lakukan? Bahkan jika janin itu lahir, hanya derita yang akan ia rasakan memiliki ibu macam sosok itu dan kehidupan penuh nasib sial.
Dan kau tahu chagiya, Tuhan berkehendak lain. Janin itu sangat kuat.
Di tengah kebimbangan, tak ada cara lain selain memberitahukan sang ayah dari janin itu. Setidaknya sosok anak dalam kandungannya akan dapat hidup dengan baik walau pun ia tak mendampinginya. Sosok itu berniat meninggalkan anak yang telah di kandungnya setelah ia melahirkannya. Tak ada maksud lain, karena ia tak tega membawa anak itu di dalam hidupnya yang penuh penderitaan dan kesialan.
.
.
.
.
.
Sosok cantik Jisoo dengan perut yang terlihat menyembul mendatangi rumah besar milik Choi Seungcheol.
Berbekal ketegaran dan segala macam bukti, Jisoo memantapkan langkahnya.
"Anda mencari siapa, Tuan?" Tanya penjaga di pintu gerbang.
Tanpa senyuman Jisoo menjawab, "Choi Seungcheol. Hanya katakan bahwa waiter Bar Fatum ingin mengunjunginya."
Sang penjaga berbicara melalui wireless headset yang ia kenakan lalu tak berapa lama ia tersenyum.
"Anda dipersilakan untuk masuk, Tuan."
Jisoo tak ingin berbasa-basi lagi, maka ia melangkahkan kakinya masuk ke wilayah rumah besar ini.
Ia masuk dan disambut oleh pemandangan indah yang akan hancur sebentar lagi.
Sosok tiga anak tengah bermain di sekitar ruang tamu dengan anak lain yang mungkin berumur belasan awal. Sedangkan sosok cantik yang pernah ia lihat sewaktu di U-know Fond menghampiri dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan…"
"Hong Jisoo. Namaku Hong Jisoo." Kata Jisoo dengan cepat.
"Aku Yoon Jeonghan. Seungcheol sedang ada di ruang kerjanya. Mari duduk dulu."
Jisoo tak mengucapkan apa pun dan langsung mengikuti Jeonghan yang duduk di sofa.
Jeonghan menugaskan para pelayan untuk menyiapkan teh dan kue manis sambil tersenyum dengan lembut.
Bersamaan dengan itu, sosok Choi Seungcheol datang dengan setelan lengkap.
Seungcheol menyerit bingung kala melihat sosok Jisoo yang kini menunduk dalam. "Maaf jika menunggu lama." Ucapnya sambil ikut duduk di sofa.
"Perkenalkan, aku Hong Jisoo. Seorang waiter di Bar Fatum-" Jisoo menggantukan kalimatnya.
Sebuah helaan nafas ia keluarkan.
"-Mianheyo… tapi aku mengandung aegya Seungcheol."
Bagai terkena petir di siang bolong, Seungcheol, Jeonghan, dan seluruh pelayan diam terkaget.
Sosok tiga anak kecil itu menatap Jisoo dengan pandangan bingung.
"Jihoon, ajak Jun, Soon, Ming ke kamar mereka." Perintah Seungcheol ke anak remaja itu.
Dengan kikuk sosok yang dipanggil Jihoon itu mengenggam tangan anak-anak tersebut lalu berjalan beringinan menuju lantai atas.
"Bisa kau ulangi sekali lagi, Jisoo –ssi?" Tanya Jeonghan.
Jisoo paham bahwa sosok di hadapannya ini mencoba untuk tetap tenang walau diterpa kepanikan yang luar biasa.
Jisoo menghela nafanya sekali lagi. Ia sudah pasrah akan segala hal yang terjadi setelah ini.
"Aku mengandung saat ini. Dan satu- satunya orang yang pernah bersetubuh denganku hanya Seungcheol –ssi."
Dusta.
Tentu saja Jisoo akan mengatakan bahwa satu-satunya yang bersetubuh dengannya adalah Seungcheol. Jisoo paham betul dirinya adalah mahluk yang kotor.
Jeonghan terdiam mendengar perkataan Jisoo.
"Tunggu dulu. Apa maksudmu, Jisoo –ssi? Bahkan aku yakini ini pertama kalinya kita bertemu?" Tanya Seungcheol.
Wajah tak menerima keadaan, kebingungan, dan tak masuk akal terpancar di wajah Seungcheol.
"Seungcheol –ssi. Perlukah aku membeberkan semua bukti? Kau mabuk saat itu. Dan semuanya terjadi… Apa yang harus aku lakukan, Seungcheol –ssi.. Apa…" Ucap Jisoo dengan putus asa. Biarkan ia membagi keputusasaannya dengan orang lain.
Jisoo mengambil berkas yang ia kumpulkan.
Mulai dari potongan gambar dari cctv di depan ruang VIP 13 yang sama sekali tak tertutup sehingga menampilkan siluet yang tertutup dengan asap rokok yang mengepul, diikuti dengan bill atas nama kartu kredit Choi Seungcheol, hingga kartu nama Seungcheol yang berbau asap rokok dan vodka.
"Kau bukan perokok, Seungcheolie…" Lirih sosok Jeonghan yang menatap kartu nama itu dengan sendu. Bau yang cocok dengan deretan pesanan di bill yang ada.
Jisoo kini memberikan smartphonenya yang menampilkan rekaman cctv di depan ruang VIP 13.
Terlihat Jeonghan yang memejamkan matanya lalu mengembalikan smartphone itu pada Jisoo.
"Mana mungkin?!" Ucap Seungcheol tak terima. Ia tak mengingat apa pun.
Jisoo paham kondisi sosok di hadapannya ini namun ia tak mau berbelas kasihan, "Jika kalian tak percaya, maka setelah anak ini lahir mari lakukan tes dna."
"Jisoo –ssi, apa sebenarnya yang kau inginkan? Uang? Atau sertifikat tanah? Emas? Aku bisa memberikannya." Ucap Seungcheol dengan keras.
Jisoo menatap Seungcheol dengan penuh kesakitan. Apa harta yang menjadi masalah kini? Oh tentu, namun bukan Jisoo yang membutuhkan semua itu. Anak dalam kandungannya lah yang memerlukannya untuk keberlangsungan hidupnya.
Plak…
Sebuah tamparan melayang ke pipi Seungcheol. Jisoo membulatkan matanya kala melihat Jeonghan yang berapi-api kini.
"Jaga ucapanmu, Tuan Choi yang terhormat. Ucapanmu tadi seolah membenarkan tindakanmu yang rendah itu! Jisoo –ssi, pulanglah. Berikan kami waktu. Tinggalkan kontak mu, aku akan menghubungimu."
Setelah berucap demikian, Jeonghan melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Seungcheol yang mematung.
"Kau bersalah, aku bersalah, namun tidak dengan bayi yang aku kandung. Selamat siang, Seungcheol –sii." Ucap Jisoo lalu undur diri.
Ia meninggalkan kediaman itu dengan tangis di wajahnya.
.
.
.
.
.
Tok… Tok…
Jisoo menyerit kala ada yang mengetuk pintu apartemen bobroknya ini.
Apa pemilik apartemen? Tapi bukannya ia sudah melunasi pembayaran apartemen ini untuk tiga bulan ke depan.
Mata Jisoo terbelalak sedikit kala menyaksikan sosok cantik Jeonghan berdiri di depan pintunya.
"Jeonghan –ssi?" Ucap Jeonghan dengan tatapan bingung.
Jeonghan tersenyum lembut lalu langsung memeluk sosok Jisoo. Sedangkan Jisoo yang mendapat pelukan tiba-tiba terdiam bingung.
Setelah Jeonghan melepas pelukannya, Jisoo mempersilakan masuk Jeonghan dan duduk di lantai tanpa alas dengan sebuah meja di tengah-tengahnya.
"Hanya ini yang tersedia, Jeonghan –ssi." Ucap Jisoo sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
"Tak masalah. Terima kasih, Jisoo –ya, boleh kupanggil begitu?"
Jisoo mengangguk lantas tersenyum kecil.
Pandangan mata Jeonghan jatuh pada perut Jisoo yang mungkin sebesar buah melon. "Bagaimana keadaannya?" Tanya Jeonghan setelahnya.
Jisoo meraba perutnya lalu tersenyum lembut.
"Ia sehat. Aku juga sudah dikeluarkan dari pekerjaanku karena ketahuan mengandung. Maka dari itu dengan uang tabungaku, yeah, aku bisa fokus terhadapnya kini." Ucap Jisoo.
Jeonghan ikut tersenyum, aura penuh kasih sayang milik Jisoo benar-benar kentara.
"Aku sudah mengirimkan uang untuk keperluanmu dan si bayi. Kuharap itu membantu." Kata Jeonghan.
Jisoo menyerit kaget.
"Harus kau terima. Kau sekarang mengandung anak dari suamiku, maka kau adalah tanggung jawabku juga." Ucap Jeonghan sebelum Jisoo sempat berkata.
"Sudah berapa umurnya?" Tanya Jeonghan lagi.
"9 minggu."
Tak ada yang berbicara setelahnya.
Sampai pada akhirnya Jeonghan kembali membuka mulutnya.
"Jisoo, ceritakan tentangmu. Aku ingin tahu semua tentangmu…"
Disaat itulah Jisoo paham bahwa Jeonghan sosok yang berhati malaikat. Setelah mengtahui kehidupan Jisoo yang kelam, Jeonghan malah semakin dekat kepadanya.
Berbelanja keperluan Jisoo, mengantarkan Jisoo untuk check up, bahkan membelikan sebuah apartemen baru yang sangat mewah pada Jisoo.
Jisoo amat sangat tersentuh bahwa masih ada orang yang perhatian padanya. Namun bagaimana pun, Jisoo merasa amat sangat bersalah pada Jeonghan.
Kehamilan Jisoo menginjak usia 5 bulan. Di saat inilah, jenis kelamin sang bayi dapat diketahui.
Dan kala sang dokter mengatakan bayinya adalah laki-laki, Jisoo tersenyum kecil begitu pula Jeonghan yang menemaninya ke dokter.
Sepulang dari check up, mereka kembali ke apartemen Jisoo.
"Jisoo –ya, aku ingin jujur padamu. Aku akan bercerai."
Jisoo kaget tentu saja.
"Kumohon jangan melarangku. Keputusanku sudah bulat. Esok adalah hari terakhir sidang dimana perceraianku akan diputuskan. Setelah itu, aku akan pergi dari Korea dan jangan tanyakan aku akan kemana."
"Jeong….han…" Ucap Jisoo parau.
"Kau harus hidup dengan baik. Jagalah dirimu dan jagalah anakmu. Aku pasti akan merindukanmu."
Jisoo menangis. Ia sudah menghancurkan pernikahan sesosok malaikat ini. Ia sudah menghancurkan keluarga bahagia itu.
"Maafkan aku Jeonghanie… hiks… Maafkan aku…."
Jeonghan langsung memeluk Jisoo sambil menepuk punggungnya. Tak terasa ia juga ikut menangis.
"Aku punya permintaan. Ini adalah pertemuan terakhir kita, Jisoo –ya. Tolong pertimbangkan permohonanku."
Jisoo masih menangis histeris di pelukan Jeonghan.
"Berdirilah di samping Seungcheol. Aku yang akan pergi."
.
.
.
.
.
Kau tahu rasanya chagi? Ia telah menghancurkan ikatan suci sesosok malaikat penolongnya, seorang sahabat baru yang diberkahi oleh kebaikan dan ketulusan. Ia benar-benar iblis.
Setelah kepergian sang malaikat, sosok itu mencoba hidup seperti biasa. Walau terkadang ia akan menangis kala mengingat sosok baik hati yang kini telah meninggalkannya. Ironi sekali bukan?
Beberapa minggu setelah Jeonghan menghilang, sosok appa dari kandungannya lah yang datang menghampiri apartemennya. Berlutut meminta maaf dengan deraian air mata. Dan seperti yang sosok Jeonghan minta, sosok itu berdiri di samping appamu.
Setiap pagi, sosok itu akan berangkat menuju kediaman keluarga Choi. Ia akan menyiapkan pakaian Seungcheol lalu membantunya menggunkan dasi. Ia akan mendampingi Seungcheol ketika menghadiri pertemuan-pertemuan penting perusahaan. Ia juga akan menenangkan Seungcheol jika pria itu berada di titik terendahnya karena merindukan Jeonghan.
Dan setiap hari pula ia akan menerima penolakan dari tiga anak yang telah ia hancurkan masa kecilnya. Anak-anak yang kehilangan sosok eommanya. Ia hanya bisa menangis dan terus menangis karena penolakan yang menyakitkan.
Namun kau tahu, ada seseorang yang benar-benar membuat sosok itu merasakan cinta untuk pertama kali seumur hidupnya.
.
.
.
.
.
Jisoo menangis kala menggendong sesosok bayi mungil yang telah lahir dengan selamat. Bayi sehat itu mengerjapkan matanya dengan pelan.
"Hei jangan menangis. Jisoo lihatlah bayi ini sangat tampan."
Sebuah usapan halus Jisoo terima di pipinya. Sesosok pria dengan setelah jasnya menghapus air mata yang keluar dari wajah Jisoo.
"Seungcheol sedang rapat di Amerika kini, maafkan dia ya."
Jisoo menggeleng pelan. Ia tersenyum manis lantas menatap sosok pria tampan itu. "Kehadiranmu sudah cukup untuku."
Pria itu tertegun kala menyaksikan senyuman penuh kelembutan dari Jisoo. Benar-benar membuatnya merasakan kasih sayang.
"Sudah memikirkan nama?"
"Belum. Aku bingung untuk memilihkannya nama. Dan aku masih ragu untuk menamainya menjadi seorang Choi."
Usapan lembut diterima Jisoo di kepalanya.
"Bagaimana dengan Lee saja? Hahahaha…"
Jisoo paham itu adalah sebuah candaan yang tersirat. Dan candaan itu berhasil membuat hati Jisoo menghangat.
"Jangan memasang wajah kaget begitu, Jisoo. Kau memang harus menamainya dengan Choi karena Seungcheol memang memintanya. Dan tes dna membuktikan bahwa bayi ini memang anak Seungcheol. Kau hanya tinggal memberi nama belakangnya saja."
Jisoo menggeleng pelan.
"Choi akan menjadi nama depannya tapi aku akan memasukannya dalam kartu keluargaku sendiri. Bisa kau lakukan itu untukku?" Pinta Jisoo dengan tatapan memohon.
Sosok di hadapannya menaikan satu alisnya.
"Aku bukan keluarga mereka dan tak akan pernah menjadi bagian dari mereka." Lirih Jisoo.
"Bukankah lebih baik kau mulai memikirkan nama saja?" Ucap pria itu sambil tersenyum kembali.
Jisoo masih terdiam sambil berpikir.
"Bagaimana dengan Chan? Artinya adalah bercahaya biru."
Jisoo mengerjap kecil kala pria itu mengatakan sebuah nama yang indah.
"Chan ya…" Jisoo menatap bayi mungilnya kini.
Bayi itu tertidur dengan nyenyak dalam dekapan sang eomma.
"Baiklah, Choi Chan." Kata Jisoo dengan senang.
.
.
.
.
.
"Aku harus berdiri di samping Seungcheol." Kata Jisoo sambil memukul dadanya dengan keras.
Sakit, sesak.
Perlakuan ketiga anak Seungcheol terhadapnya benar-benar kejam dan Jisoo merasa dirinya memang pantas menerima hal itu.
Ia telah membuat anak-anak itu kehilangan sosok eomma mereka. Kehadirannya lah yang menyebabkan kehancurkan pada keluarga Choi kini.
"Jisoo –sii, mohon maafkan ketiga Tuan Muda." Sosok remaja berumur 16 tahun membungkuk dengan segala maaf di hadapan Jisoo.
"Jihoon –ah, ini bukan salahmu atau salah mereka. Ini salahku." Ucap Jisoo dengan suara bergetar.
Chan yang telah berumur 3 tahun terisak takut di dekapan Jisoo.
Bagaimana tidak, ketiga Choi muda itu histeris dan melempar segala benda untuk mengusirnya dari rumah ini.
"Aku akan pulang Jihoon –ah. Maafkan kekacauan yang telah aku perbuat." Kata Jisoo.
Ini sudah kesekian kali ia mencoba untuk dekat dengan ketiga Choi muda. Ia ingin membalas jasa Jeonghan melalui merawat anak-anak Jeonghan. Namun apa daya, mereka memiliki jalan pikiran yang berbeda.
Jisoo mau tak mau tersenyum kala melihat sesosok pria yang telah duduk di sofa dalam apartemennya.
"Sehabis berperang lagi, Jisoo –ya?"
Jisoo hanya menghela nafas lalu menyerahkan Chan ke pangkuan sang pria.
Jisoo lantas pergi menuju kamarnya untuk berganti baju dan langsung berdiam diri di sofa, duduk di samping si pria dan anaknya yang sedang bercanda.
Dan tahu apa yang menyebabkan hidup Jisoo semakin lengkap?
"Jisoo, mohon maafkan aku. Mungin ini saat terakhir aku akan ada di sisimu." Ucap sang pria setelah menidurkan Chan di kamarnya.
Ya, semakin lengkap dengan rasa sakit.
Jisoo menyeritkan dahinya. Jantungnya sudah mulai memompa dengan kecepatan tinggi.
"Apa maksudmu?"
Sosok pria itu tersenyum pahit. Tak ada lagi senyuman secerah matahari yang menghiasi wajahnya.
"Aku akan menikah."
Jisoo mematung di tempat. Bibirnya terasa kelu untuk terbuka.
"A..ah.. Kau akan menikah. Ne, selamat atas pernikahanmu." Ucap Jisoo sambil memaksakan senyum.
"Terima kasih, Jisoo. Aku pamit undur diri. Selamat tinggal."
Sang pria berdiri dari duduknya dan menuju ke pintu keluar.
Dan sebelum punggung pria itu menghilang dari hadapannya, ia mendengar sebuah suara yang terdengar lirih.
"Kau harus ada di samping Seungcheol. Aku mengalah."
Jisoo mematung kembali.
Air matanya tumpah untuk kesekian kali.
Seluruh orang baik meninggalkannya. Jeonghan dan kini pria itu. Apa keputusan Jisoo salah? Kenapa ia selalu salah langkah?
.
.
.
.
.
Kau tahu Chanie… Hari ini, hari dimana eomma harus mengakhiri semuanya, eomma tersenyum bahagia. Kau tahu mengapa? Karena eomma tak akan merasa sakit lagi. Tak akan ada lagi permintaan yang harus eomma tepati. Tak ada lagi ucapan dan tindakan penuh kebencian terhadap eomma. Tak ada lagi sakit yang harus kutanggung karena cinta eomma yang telah pergi. Tak ada lagi pemaksaan bahwa aku harus berdiri di samping pria yang tak eomma cintai. Tak akan ada penyiksaan psikis yang eomma alami.
Hanya satu penyesalanku, chagiya… Eomma harus meninggalkanmu. Meninggalkan malaikat kecil eomma di tengah-tengah kekacauan. Maafkan eomma. Eomma mencintaimu chagiya. Maafkan eomma yang terlalu takut dan memilih jalan ini untuk kabur.
Eomma meletakan surat untuk appamu tepat di samping jasad eomma nantinya. Di surat itu tertulis segala permohonan maafku dan permintaan eomma untuk memberitahumu letak surat yang sedang kau baca ini. Dan dengan surat ini, eomma meminta bantuanmu. Ada sebuah surat yang eomma buat untuk pria yang eomma cintai. Tolong berikan padanya, Chanie.
Surat itu ada di laci kedua dengan kunci yang sama dengan laci terbawah. Tolong sampaikan bahwa aku benar-benar mencintainya. Sampaikan pada Jeonghan permohonan maafku. Sampaikan pada Seungcheol, Junhwi, Soonyoung, dan Mingyu karena keberadaanku membuat kehidupan mereka sengsara.
Chagiya, jangan menangis karena eomma lagi. Eomma sudah pergi dan siap untuk mendekam di siksa api neraka karena dosa-dosa yang bertentangan dengan Tuhan ini. Kuserahkan padamu siapa sosok bersalah dalam kehidupan kita.
Ini sudah saatnya. Selamat tinggal Choi Chan. Eomma mencintaimu.
Dengan kebahagiaan, Hong Jisoo…
.
.
.
.
Air mata Chan berkali-kali tumpah. Ia telah mencoba menghentikan tangisannya namun tangisan itu akan muncul kembali.
"Eomma sangat menderita ne…"
Chan menangkup surat itu di dadanya. Mencoba menarik nafas sebanyak mungkin. Sesak. Amat sangat sesak dadanya kini.
"Eomma…" Lirih Chan.
Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, Chan melipat surat itu dan memasukannya kembali ke dalam amplop. Ia meletakan surat itu di atas laci.
Tak berlangsung lama Chan kembali mengambil kalungnya dan membuka laci kedua. Terdapat sebuah amplop disana dan sebuah album foto.
Chan mengambilnya dan meniup beberapa debu yang menempel.
'Untukmu yang Secerah Matahari'
Itu adalah judul dari album foto dan surat tersebut.
Chan mulai membuka album foto yang telah usang.
Di halaman pertama terdapat foto bayi kecil tengah berada pada gendongan sesosok pria. Mereka difoto dari belakang sehingga wajah mereka tak terlihat.
Chan kembali membalik ke halaman berikutnya dan matanya melebar kala memandang sebuah foto.
Air matanya berhenti begitu saja karena keterkejutannya.
Foto itu menangkup sebuah gambaran sesosok pria tampan yang mengenakan setelah jas dan terlihat tersenyum cerah.
Dengan segera Chan meraih smartphonenya lalu mendial nomor 1. Menuggu beberapa detik sampai,
"Yeoboseyo …. Ne appa. Boleh aku meminta sebuah alamat?"
.
.
.
.
.
.
Chan bergegas berlari keluar apartemennya. Ia menggunakan lift untuk naik menuju lantai 17. Di otak Chan terus berulang-ulang menyebutkan deretan angka 1717.
Ia belari di koridor lantai 17 dan terlihat nomor apartemen yang menunjukan nomor 1717 di hadapan Chan kini.
Ting… tong…
Ting... tong…
Ting… tong…
Sambil mengatur nafasnya, Chan menekan bel dengan tidak sabaran.
'Cepatlah…' bathin Chan menjerit kesal.
Cklek…
"Chan –ah?"
Chan menghembuskan nafasnya lega lantas langsung memeluk sosok pria yang seumuran appanya.
"Hei, Chan –ah. Ada apa ini?" Tanya sang pria.
"Terima kasih, Seokmin ajushi. Terima kasih sudah membuat eomma merasakan kebahagiaan."
Lee Seokmin, namja itu terdiam mendengar apa yang Chan bisikan kepadanya.
"Kau sudah mengetahuinya, ne?"
Chan mengangguk dengan mantap disertai senyuman, well mungkin Seokmin tak akan bisa melihat senyumannya karena posisi berpelukan ini.
Sosok pengacara Choi Seungcheol, Lee Seokmin inilah yang telah membuat eommanya jatuh cinta.
"Eomma punya surat untukmu, ajushi." Ucap Chan yang akhirnya melepaskan pelukannya.
Sambil menyerahkan dua buah benda ke tangan Seokmin, Chan berkata, "Ini dari eomma."
Seokmin menerima kedua benda itu dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
"Yeobo, kenapa tak ajak tamu mu masuk?" Sebuah suara halus terdengar di pendengaran mereka.
Chan menolehkan kepalanya dan matanya terbelalak seketika.
"Siapkan orange juice ya yeobo." Kata Seokmin sambil menarik tangan Chan menuju sofa.
Sosok itu tersenyum lembut lantas langsung menuju dapur.
"Dia istriku, Joshua." Kata Seokmin kala melihat ekspresi Chan yang masih kaget.
"Seleramu benar-benar eomma ne, ajushi." Ucap Chan sambil terkekeh.
Seokmin tersenyum kecil. "Sepertinya."
Mata Chan beralih ke dinding di apartemen ini. Ada beberapa bingkai foto yang menunjukan Seokmin dan istrinya serta seorang namja lainnya.
"Oh itu putraku. Kau pasti terkejut mendengar namanya."
Chan mengangkat sebelas alisnya.
"Lee Chan. Hahahaha."
Chan bersweatdrop ria lantas ikut tertawa.
"Ya bahkan namaku ini juga darimu kan ajushi." Kata Chan setelahnya.
"Yeobo, ini minumannya." Istri Seokmin datang sambil meletakan dua gelas orange juice segar di meja.
"Gomawo. Oh iya, Shua perkenalkan ini Chan. Choi Chan." Ucap Seokmin sambil menarik halus lengan sang istri untuk duduk di sampingnya.
Joshua tersenyum lembut.
"Tentu saja aku mengenalmu Chan –ah. Seokmin banyak bercerita tentangmu dan siapa yang tak kenal anak Choi Seungcheol yang juga idol Dino ini." Kata Joshua.
Chan tersenyum sampai memperlihatkan gigi putihnya.
"Senang bertemu denganmu, Shua ajumma." Kata Chan dengan riang.
"Kami akan berbicara di ruang kerjaku. Siapkan makan siang untuk Chan juga oke."
Seokmin mengecup pelipis istirnya lalu menarik Chan sambil membawa album foto dan surat di tangan satunya.
"Orange juice!" Ucap Chan histeris kala dirinya ditarik semakin menjauh dari minuman yang belum tersentuh sama sekali itu.
Mereka sampai di ruang kerja Seokmin. Dari yang Chan lihat, terdapat berjilid-jilid buku undang-undang dan benar-benar tak ada buku yang jauh dari yang namanya hukum.
"Ajushi, kenapa kau tak menikahi eomma saja? Jangan mendelik seperti itu, aku hanya bertanya." Ucap Chan yang kini melihat-lihat buku di rak dinding.
Seokmin membuka album foto tersebut dan tersenyum kecil kala melihat berbagai macam memori ada disana.
"Bukannya aku tak mau. Tapi eommamu tak pernah mengatakan ia mencintaiku, yeah walau aku juga tak mengatakannya. Dan alasan sebenarnya karena ia memegang teguh permintaan Jeonghan untuk tetap berdiri di samping Seungcheol." Jelas Seokmin.
Senyumnya berubah sendu kala melihat foto Jisoo yang tersenyum manis.
"Disaat itu, appaku menjalankan perjodohan dan begitulah. Aku bertemu Joshua dan menikahinya. Menjauh dari kehidupan kalian dan…. Menyesal saat Jisoo memutuskan bunuh diri."
Sosok Seokmin masih tetap seperti terakhir kali Chan melihatnya. Tubuh tegap dengan wajah penuh kepercayaan diri. Hanya keriput halus yang mulai muncul di wajahnya.
"Terima kasih sudah mengurusku ajushi. Aku tahu sekarang kenapa kau sangat baik terhadapku, hahahaha…"
Seokmin bekerja di balik layar atas segala hal yang Chan jalani. Ia mengurus administrasi Chan saat masuk ke kartu keluarga Choi, mengurus administrasinya kala masuk ke sekolah, mengurus pelanggaran yang Chan perbuat, menghukum orang-orang jahat dan sasaeng fans yang berhubungan dengan Chan, dan bahkan sosok pertama yang datang ke kelulusannya walau disusul oleh keluarga Choi yang lain.
Semua itu dilakukan oleh Seokmin.
"Beri aku waktu. Aku akan membaca surat dari eommamu dahulu." Dengan ucapan itu, Seokmin duduk di kursi kerjanya lalu memutar kursi itu sehingga memunggungi Chan.
Chan mengangguk pelan lantas mengambil sebuah buku undang-undang dan membacanya.
'Untukmu yang Secerah Matahari'
Seokmin tersenyum kecil kala melihat tulisan Jisoo di amplop.
Aku tak akan merangkai kata membentuk tulisan dengan makna penuh kesedihan. Kau tahu alasannya?
Sederhana. Karena kau adalah matahari penyemangatku yang mana matahari tak pantas untuk kesedihan. Aku pun tak ingin menghancurkan kebahagiaanmu jika aku bercerita hal menyesakan hati di surat ini.
Wahai kau yang tertawa dengan segala kebahagiaan, aku mencintaimu.
Entah berapa kali aku ingin mengucapkan kata itu… Kita paham bahwa aku harus menepati sebuah permintaan. Tapi kau belum paham bahwa aku mencintaimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu.
Apa kau sudah bahagia dengan keluarga barumu? Aku tahu kau sudah bahagia, maka aku minta kau untuk semakin bahagia dan selalu bahagia. Karena sekali lagi, senyumanmu benar-benar indah dan menghangatkan.
Terima kasih atas setitik waktu yang telah kita lewati. Kau benar-benar membuat sebuah udara sejuk dalam kehidupanku. Kau mengajarkan aku sebuah cinta yang tak pernah aku pikirkan di lembar hidupku. Terima kasih.
Hanya kata ini yang akan terus aku ingat sampai detik akhir detak jantungku. Aku mencintaimu.
Dariku yang mencintaimu, Hong Jisoo…
Hanya surat singkat yang kini menjawab semua pertanyaan Seokmin. Mau tak mau setitik air mata jatuh dan mengenai surat itu.
Seokmin tersenyum cerah lantas meletakan surat itu di dalam laci terbawahnya. Menguncinya dengan pengamanan ekstra bersamaan dengan album foto juga.
.
.
.
.
.
"Sebentar la..gi.."
Sosok itu terbaring dengan nadi kiri yang terbuka dan darah yang mengalir deras.
Oh detak jantungnya mulai melemah.
Ia memejamkan matanya perlahan dan tersenyum penuh ketulusan.
"Aku mencintaimu… Lee Seokmin…"
.
.
.
.
.
Chan tersenyum penuh kelegaan kala ia keluar dari apartemen Seokmin.
Tak ada lagi yang mendiang sang eomma sembunyikan dan Chan sudah paham dengan betul kehidupan yang dijalani eommanya.
Dalam perjalanan menuju rumah utama keluarga Choi, Chan terus tersenyum. Ia sudah berjanji tak akan lagi bersedih karena sang eomma.
Tak berselang lama, Chan sampai pada rumahnya dan memarkir mobilnya dengan rapi tentunya.
Begitu masuk ke area ruang keluarga sudah terlihat sang appa dan sang eomma yang bercanda sambil bermesraan. Benar-benar lupa umur.
Terlihat pula si sulung Myeongjun yang berdebat kecil dengan sang appa, Junhwi, mengenai ruang lingkup yang sama sekali Chan tak mengerti.
Si bungsu Hojun juga terlihat menonton Kung Fu Panda di depan tv ditemani oleh Wongyu.
Si sulung kembar, Minwoo, terlihat bervideo call dengan Jisoon dan Jiyoung yang berada di negeri tirai bambu. Terlihat bahwa Jihoon tengah mempersiapkan makan malam mereka dan mereka memamerkannya ke Minwoo.
Wonwoo terlihat membaca sebuah novel dengan wajah datarnya yang di sampingnya ada Mingyu yang mengotak-atik sebuah laporan berjilid tebal sambil sesekali membalas ucapan Soonyoung melalui handphonenya.
Di ujung sofa yang juga diduduki oleh Seungcheol, Jeonghan, Junhwi, Myeongjun, Wonwoo, dan Mingyu, ada Minghao yang mendesain sebuah pakaian dengan pensil di buku sketsanya.
"Aku pulang…" Ucap Chan memberi sapaan.
Seluruh pandangan beralih kepadanya kini.
"Selamat datang, Chanie…" Jawab Jeonghan mendahului yang lain.
Chan langsung duduk di antara Seungcheol dan Jeonghan lalu memeluk mereka dengan erat.
"Hei ada apa, chagi?" Tanya Seungcheol heran.
Hanya dengan sebuah gelengan Chan menjawab pertanyaan Seungcheol.
"Aku sudah tahu semuanya appa, eomma. Terima kasih." Ucap Chan.
Seungcheol dan Jeonghan tersenyum penuh kehangatan.
"Aku mencintaimu, Chanie… Kami semua…" Bisik Jeonghan di telinga Chan.
Chan tersenyum lebar dan mencium pipi sang eomma.
"Terima kasih eomma… Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Jadi apa yang bisa kalian simpulkan?
Dimana letak kesalahan dalam kehidupan keluarga ini? Siapa yang bersalah? Siapa yang pantas disebut sebagai tersangka dan siapa yang pantas disebut korban?
Apakah pantas seseorang menjudge orang-orang itu tanpa mengetahui dari point of view mereka? Namun apa daya kala sebuah ego membutakan hati?
Jadi… Siapa yang bersalah?
Keluarga itu telah bahagia. Mari biarkan mereka dalam kebahagiaan dan biarkan takdir membawa mereka dalam lika-liku dunia.
Sampai kapan?
Hingga ajal menjelang.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
Terima kasih susah menyempatkan diri untuk membaca fic ini.
Semoga terhibur dan aku berharap ada pesan yang dapat dipetik melalui tulisan ini.
Salam, Damanic.
