"APAAA?!!"

Naruto menatap tidak percaya kearah kedua orang tuanya. Dia benar-benar kaget saat mendapati ayah beserta ibunya sudah ada di apartemennya. Mereka nampak sibuk mengepaki barang-barangnya kedalam kardus. Dia kaget bukan karena kehadiran kedua orang tuanya yang mendadak ini, melainkan karena dia baru saja mendengar fakta bahwa dia akan segera-

"-PINDAH KE KONOHA?"

Kushina berkacak pinggang . Balas menatap jengkel kearah putranya yang masih berdiam diri di ambang pintu dengan tampang kagetnya yang terlihat konyol.

"Iya! Kami berbaik hati membantumu mengepak barang-barangmu!"

"Kenapa begitu tiba-tiba?" Naruto berderap cepat mendekati ibunya yang sedang mengemasi baju-bajunya di lemari. "Kaa-san, jawab aku!"

Kushina menghela napas. Dia beralih menatap suaminya yang masih khusyuk menata buku-buku milik Naruto tanpa bersuara.

"Ayahmu mendapat investasi lumayan besar dari sahabatnya dan mereka berniat membangun perusahaan baru di Konoha."

"Kalian tidak pernah cerita sebelumnya!"

Minato yang sejak tadi diam pun menoleh dengan senyum meringis.

"Awalnya memang berencana membuat kejutan untukmu.Hehe..." ujar Minato sembari menggaruk pipinya canggung.

"Oh yeah... kejutanmu berhasil, Tou-san."

"Maa..maa... lagi pula bukankah lebih bagus? Kau tidak perlu sewa apartemen dan bisa berkumpul dengan kami. Kami pun sudah memilihkan sekolahan yang bagus untukmu. Apalagi pemiliknya memang keluarga sahabat ayahmu."

Netra biru Naruto memutar-jengah.Bagus, sepertinya memang orang tuanya sudah mempersiapkan ini dengan baik. Bahkan mereka sampai repot-repot memilihkan sekolah untuknya.

"Ahh...lalu kemana aku akan pindah? Kalian tahu, penyesuaian dengan lingkungan baru adalah hal yang merepotkan." ujar Naruto dengan wajah malasnya. Dia beranjak menuju Minato dan membantunya mengangkat kardus berisi buku-buku pelajaran miliknya.

"St. Mangekyo."

Selanjutnya bunyi debuman kardus bermuatan buku-buku itu pun terjatuh diiringi teriakan cetar membahana Naruto.

"APAAAAAA?!!!"

.

.

author proudly present...

Kawaii No Okama

NARUTO belongs to Masashi Kishimoto-sensei

Story by Kuroi Sora18

Chapter 5

.

.

.

Fugaku melirik Sasuke yang terus mengganti chanel televisi mereka setiap lima detik sekali. Wajah anak bungsunya itu terlihat lesu dan tidak bersemangat. Yah, meskipun sehari-hari wajahnya memang datar, tapi ini di luar kebiasaan anaknya berwajah sesuram ini. Tak pelak sikap kekanakan anak bungsunya yang satu itu membuatnya cukup terganggu juga.

"Hentikan Sasuke!" suara Fugaku mengintrupsi tepat saat chanel televisi berganti - menanyangkan sinetron favorit ibunya. Bak tersambar petir di siang bolong, Sasuke terpaku dan langsung menyembunyikan remot tv itu di bawah bantal sofa.

"Ada apa denganmu?"

Bahu Sasuke menengang. Mendadak dia gelisah saat ayahnya bicara.

"Aku ingin tanya..." jeda sejenak sebelum Sasuke menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya. "Tou-san, haruskah aku mengikuti tradisi itu?"

"Jika kau merasa menjadi bagian klan Uchiha, berarti kau harus melakukannya." jawab Fugaku dengan nada datar. Cukup jelas untuk membuat seorang Uchiha Sasuke tercekat seperti menelan biji alpukat.

"Lalu bagaimana jika aku belum menemukan pendamping-"

"Kau belum menemukannya?"

Sasuke bergidik ngeri saat netra ayahnya menyorot lurus kearahnya.

"B-bukan begitu!Aku sudah menemukannya."

"Lantas?"

Keringat dingin mulai bercucuran di sekitar dahi Sasuke. Apalagi wajah ayahnya terlihat sangat menyeramkan saat ini. Dia mati-matian mengumpulkan kepercayaan dirinya untuk mengungkap kenyataan yang sebenarnya.

"Hanya saja, aku tidak tahu harus bagaimana caranya untuk menyakinkannya agar dia bersedia menjadi mateku." Sasuke mengumpat saat dia merasa berbicara terlalu panjang. "Dan lagi dia seorang laki-laki." tambahnya dengan wajah merona.

"APAAAAA?!"

Sepasang ayah dan anak itu kompak menoleh kearah ambang pintu dapur yang terbuka dan mendapati Mikoto sedang berdiri sambil membawa nabe berisi sup panas.

"Kaa-san!"

"Kau menyukai laki-laki?" Mikoto berderap secepat kilat menghampiri Sasuke. Sasuke sendiri sudah ketar-ketir takut disiram sup panas buatan ibunya. Dia melirik ayahnya yang tiba-tiba khusyuk memilah-milah saluran televisi yang menurutnya menarik -bersikap tidak peduli dengan kelangsungan hidup anak bungsunya.

"Jawab, SA.SU.KE!"

"H-ha'i."

"Kyaaaa!!!"

Sasuke terpaku setelah mendengar jeritan histeris ibunya. Bahkan dia tidak peduli tubuhnya digoncang-goncang oleh ibunya sendiri hingga kepalanya terlantuk-lantuk tidak jelas.

"Ne, beri tahu Kaa-san! Siapa orang yang beruntung itu?"

"Heh?"

Mikoto nampak cemberut saat Sasuke malah terdiam dan tak kunjung memberikan jawabannya. Dia sudah tidak sabar. Pasalnya, anaknya yang satu ini memang terkenal dengan ketidakpekaannya terhadap masalah romansa. Bahkan Mikoto sempat khawatir jika Sasuke akan menyandang predikat jones tahun ini.

"Tunggu dulu! Kaa-san tidak marah?"

"Bicara apa kau ini?!" tanya Mikoto sarkas. Dia lekas meletakan nabe berisi sup itu di meja. Dan berdiri berkacak pinggang dengan aura intimidasinya yang kuat.

"Kaa-san adalah seorang fujoshi !" ujarnya bangga.

"EHH?!"

Pecah sudah topeng cool seorang Uchiha Sasuke. Jujur saja, selama hidupnya dia tidak pernah tahu dengan fetish aneh ibunya yang satu itu.

"Jadi beri tahu Kaa-san! Siapakah orang itu?"

GLUP. Mendadak tenggorokannya sekering gurun hingga dia terpaksa menelan ludahnya sendiri.

"N-namikaze Naruto."

.

.

.

Waktu demi waktu Naruto rasa berlalu begitu cepat. Tak terasa hari ini adalah hari terakhirnya berada di Uzushio Gakuen. Dia pun merasa sangat berat hati meninggalkan sekolah itu meskipun sekolah itu terkenal dengan predikat buruknya sebagai sekolah preman. Namun, tak banyak orang yang tahu jika penghuni sekolah itu sangatlah hangat dan setia kawan. Bisa dilihat dengan barisan senpai dari tahun kedua dan ketiga yang mengantar kepergiannya dengan haru biru. Nampaknya mereka sangat sedih karena Naruto -yang mereka klaim sebagai kembang di sekolah itu pergi meninggalkan mereka dan pergi ke sekolah lain.

"Begitulah, mulai besok aku sudah tidak bersekolah disini lagi."

Naruto berdiri berhadapan dengan ketiga temannya, Kiba, Kankurou dan juga Lee -siswa blasteran Cina dan Jepang yang sibuk menangis tersedu-sedu mengantar kepergiannya.

"Kemana kau akan pindah? Rasanya ini terlalu mendadak, Naruto." tanya Kankurou. Sekarang jabatan kaichou Uzushio telah resmi berpindah ke tangannya.

"Iya! Sekolah ini akan terasa sepi tanpa dirimu, sobat!" ujar Lee sembari berulang kali menyusut ingusnya yang membuat orang di sekitarnya menyerngit jijik.

"St. Mangekyo."

"APA?!" seru ketiganya kaget. Terutama Kankurou. Diantara semuanya, dialah yang paling membenci sekolah itu. Kekalahannya oleh klub sepak bola St. Mangekyo di turnamen final sepak bola tahun lalu nampaknya masih menyisakan luka mendalam bagi dirinya. Apalagi karena kekalahannya melawan sekolah swasta itu membuat beasiswa non akademiknya dicabut oleh pihak yayasan karena dinilai dia sudah tidak mampu mempertahankan prestasinya. Naruto tentu saja merasa tidak enak hati dengan temannya yang satu itu.

"Aku juga merasa kaget saat tahu orang tuaku memindahkanku kesana. Tou-san akan membuka perusahaan baru di Konoha jadi aku diharuskan ikut bersama mereka di Konoha Residence. Maafkan aku jika selama ini aku telah berbuat banyak kesalahan kepada kalian."

Kiba maju selangkah dan menepuk bahu Naruto pelan. Dia tersenyum maklum.

"Hei, kau bicara seperti itu seolah kau mau pergi jauh saja! St. Mangekyo cuma terletak di distrik sebelah. Walaupun kau sekolah disana, kau tetap Naruto. Sahabat kami!"

"Kiba..." Air mata sukses menggenang di pelupuk mata Naruto. "Selama ini kau yang selalu berdebat denganku, pasti nanti aku akan kesepian."

Dengan secepat kilat, dia menghambur memeluk sahabat terdekatnya itu. "Aku pasti akan merindukan kalian. Kalian memang sahabat terbaikku, dattebayou!"

"O-oi! Lepaskan aku, baka! Kau membuatku sesak napas!"

"Persahabatan yang gemilang! Ijinkan aku bergabung, sobat!"

"HUWAAAA?!"

Kankurou hanya tersenyum tipis melihat ketiga sahabatnya berpelukan layaknya teletubies. Namun entah mengapa pikirannya melayang kepada sosok Uchiha Sasuke yang tempo hari datang. Apakah ini ada kaitannya dengan anak satu itu? Mendadak dirinya sangat penasaran dengan hubungan Naruto dan juga Sasuke.

.

.

.

.

Membuka pintu rumahnya dengan malas, Sasuke berjalan gontai memasuki rumahnya yang besar.

"Tadaima..." ujarnya.

Mikoto yang sedang memasak di dapur lewat untuk mengambil beberapa piring dari rak.

"Ah! Kau sudah pulang, Sasuke? Okaerinasai."

"Hn." Tubuhnya merosot di sandaran sofa. Dia sangat lelah sekali hari ini. Jabatannya sebagai ketua OSIS tak sedikit menyita tenaga dan waktunya. Tak heran jika setiap dia pulang ke rumah, ekspresi lelah tak lepas dari wajah rupawannya.

"Ano, Sasuke...Mikoto mendekat kearah putra bungsunya dengan tumpukan piring-piring mahal di kedua tangannya. "-akan ada teman lama Kaa-san yang akan datang dan makan malam bersama kita. Jadi Kaa-san harap kau akan menyapa mereka dengan baik, ne?"

"Aniki tidak pulang?"

"Hmm, Kaa-san sudah menghubunginya tapi sepertinya hari ini dia tidak bisa pulang karena Kyuu-chan sedang sakit. Jadi Kaa-san pikir tidak masalah jika Itachi tidak hadir karena kau sudah ada di rumah." jawab Mikoto dengan wajah riang. Ibu dua anak itu melenggang pergi menuju dapur dengan wajah cerahnya. Sasuke sedikit dibuat heran karenanya. Namun mengingat kalimat terakhir ibunya, mendadak wajahnya berubah kesal. Mentang-mentang sudah memiliki mate, anikinya malah membuatnya menghadapi kolega ayahnya seorang diri? Damn!

Sasuke mendesah lelah. Bilang saja jika 'teman lama' yang dimaksud ibunya adalah kolega ayahnya. Pertemuan semacam ini sudah sering dia lakukan, men! Kebanyakan dari mereka pasti akan membicarakan hal yang tidak jauh dari uang, bisnis dan makan malam yang membosankan pun dimulai. Dan bagian terburuk dari semuanya adalah tak jarang dari mereka akan mencoba menjodohkan putri-putrinya dengan Itachi atau dirinya. Namun orang tua mereka dengan bijak menolak dengan alasan anak-anaknya dibebaskan untuk memilih mate-nya sendiri. Dan baik Sasuke maupun Itachi lega karena itu. Memangnya ini kisah percintaan jaman baheula yang harus ada jodoh-menjodohkan seperti itu?

"Hn." sahutnya singkat sebelum kaki-kaki jenjangnya membawanya menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Setibanya disana, Sasuke langsung saja melempar tasnya ke sembarang arah dan menghempaskan tubuhnya di kasur queen size miliknya. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading.

'Aku tidak mungkin bersamamu. Apalagi menjadi pasanganmu, mate atau apapun itu'

Sekelebat ingatannya tentang perkataan Naruto tempo hari membuat Sasuke mengerang frustasi.

Apakah kalimat itu pertanda dari akhir hidupnya? Jika klannya tahu dia belum mempunyai mate pastilah dia akan ditendang dari klan atau yang terburuk bisa saja dia dihukum gantung saat ulang tahunnya tiba.

Disaat seperti ini dia malah teringat dengan respon penolakan Naruto waktu itu. Netra onyxnya bergulir memandang kalender meja miliknya, hanya tinggal menghitung hari sampai acara ulang tahunnya tiba. Dan Naruto -calon mate potensialnya malah dengan tegas menolak lamarannya. Mencari sosok pengganti pun rasanya sudah terlambat. Hatinya sudah sepenuhnya milik si blonde sekarang.

"Arggghhh!!!"

-dan ancaman menjadi gila pun turut serta menghantuinya. Ck, ck, ck...

.

.

.

.

"Kita akan pergi kemana sih?"

Netra Naruto terus mengikuti gerakan ibunya yang mondar-mandir di depannya. Wanita bersurai merah itu sudah berganti pakaian dengan dress hitam selutut dan rambutnya disanggul rapih. Jika sudah seperti ini, Naruto yakin mereka akan pergi menemui orang yang sangat penting bagi keluarganya.

"Ke rumah teman lama ayahmu. Kita diundang makan malam disana. Aduh.. yang putih atau yang hitam ya?" ujar Kushina sambil menimang-nimang apakah Naruto harus memakai dasi warna hitam atau putih.

"Kenapa aku harus ikut?" Naruto memutar bola matanya. "Aku perlu bangun pagi besok. Dan berhentilah memilih-milih dasi, Kaa-san! Bagiku semuanya sama saja."

Melempar dasi warna hitam, Kushina bergerak maju memakaikan dasi warna putih ke leher Naruto.

"Kaukan sudah lama tidak makan malam bersama kami, Naru! Lagi pula apa salahnya berkumpul bersama teman lama ayahmu?" Dalam satu tarikan, dasi yang terlihat serasi dengan kemeja biru Naruto pun selesai dipasang. Membuat Kushina tersenyum senang dengan hasil karyanya.

"Terserah Kaa-san saja. Besok pokoknya aku tidak boleh telat di hari pertamaku di St. Mangekyo."

"Uhuu~ apa sekarang kau mencoba memberikan kesan baik? Padahal awalnya kau tidak setuju untuk sekolah disana."

Wajah Naruto memerah karena mendengar kalimat ibunya.

"Berhentilah menggodaku, Kaa-san!"

"Apa kalian sudah siap?"

Minato muncul dari balik pintu kamar Naruto dengan pakaian rapih.

"Ha'i!" Kushina mengangguk dan menggandeng Naruto yang masih mematung di sampingnya. "Ayo, Naruto! Tunjukan senyummu! Kau akan menakuti mereka dengan wajah menyeramkanmu ini."

Helaan napas kembali terdengar dari Naruto. Dengan ekspresi ogah-ogahan berjalan mengikuti ayahnya yang terlebih dahulu melangkah keluar.

Sementara itu...

Sky Apartement 19.32PM

Kyuubi terbangun saat dia mendengar suara ribut dari arah counter dapur. Begitu dilihatnya Itachi sedang berkutat dengan cangkir dan sendok.

"Ah, kau sudah bangun!"

"Hmm..." sahut Kyuubi singkat. Kaki telanjangnya melangkah kearah sofa di tengah ruangan. Dia sedikit mendesis kala sakit di bagian belakangnya kembali menderanya. "Jam berapa ini?"

"Kurasa jam tujuh lebih. Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikannya."

Tak lama Itachi mengikuti Kyuubi duduk di sofa itu dan menyerahkan cangkir kepada Kyuubi.

"Ini minum dulu."

"Sankyu." Kyuubi menerima coklat panas itu dan meminumnya sedikit. Aroma coklat panas itu membuatnya sedikit rileks.

"Ngomong-ngomong, kau tidak ikut dalam pertemuan keluarga? Kau bilang tadi ibumu menelponmu agar kau bisa datang ke pertemuan itu."

Itachi melipat kedua tangannya dan menyenderkan punggungnya di senderan sofa. Dia sedikit menghela nafas berat.

"Hmm...memang sih. Tapi tidak apa-apa, ibuku mengijinkan aku untuk merawatmu hari ini. Lagi pula, aku takut membuatnya kaget jika aku datang."

Alis Kyuubi menukik heran. Tak paham dengan kata-kata Itachi.

"Memangnya siapa yang kaget?" tanya Kyuubi penasaran.

Alih-alih menjawab pertanyaan mate-nya, Itachi hanya mengangkat kedua bahunya sambil terkekeh.

.

.

.

.

.

Jika di rumahnya Sasuke bisa menggali lubang yang sangat dalam saat itu juga, ingin sekali dirinya bisa mengubur dalam-dalam dirinya menghiraukan kedua ibu-ibu fanatik yang saling bertegur sapa 'kyaa~ kyaa~' ala mereka.

Memalingkan wajah saat dirinya bertemu pandang dengan sosok yang selalu menghantui dirinya selama ini.

"K-kau?!"

Meski sosok di depannya menunjuknya dengan wajah shock, Sasuke tetap mencoba untuk bersikap tenang. Walaupun di dalam hati dia cukup terkejut saat Naruto -calon mate potensialnya tiba-tiba bertandang ke rumahnya. Apalagi dengan penampilan si blonde yang kini benar-benar -ugh, demi apa Sasuke berani bersumpah jika dia berusaha untuk menahan ciaran yang ingin melesak keluar dari hidungnya.

"Oh, ini yang namanya Naruto-kun?"

Perhatian Naruto yang terfokus ke Sasuke teralih kepada wanita cantik bersurai kelam yang tiba-tiba mendekatinya.

"Ah, Konbanwa onee-san." ujar Naruto sambil ber-ojigi.

Dia sedikit mendongkak saat seluruh ruangan tiba-tiba terdiam dan tak lama terdengar Mikoto yang sibuk menahan tawanya.

"Pffft! Ara! Aku ini ibu Sasuke."

"Eh?" Naruto berkedip polos beberapa kali sebelum dia menjerit shock. "Eeehhhh?!! Gomenasai, obasan!"

"Uwaah, kawaii~" Mikoto menjerit-jerit senang. Sementara kedua bapak-bapak disitu hanya melihatnya sambil tertawa canggung.

"Yang ini namanya Sasuke-kun ya?"

Secepat kilat Sasuke menoleh dan mendapati sosok wanita yang diyakini adalah calon mertua -potensialnya menatapnya dengan pandangan berbinar.

"Kakkoi."

"Doumo." tanggap Sasuke dengan menundukan kepalanya sedikit mencuri pandang kearah Naruto yang sedang dicubiti pipinya oleh ibunya karena gemas.

"Mari kita menuju meja makan! Aku sudah masak yang enak untuk merayakan reuni kita ini."

Mikoto memandu semua orang disitu untuk menuju meja makan besar yang terletak di ruang tengah.

Dari belakang, Sasuke bisa melihat ekspresi kebahagiaan ibunya saat melihat Naruto. Tapi bagaimana jika ibunya tahu jika Naruto sama sekali tidak mencintainya?

Berjalan mengekor di belakang ayahnya yang sedang mendengarkan celotehan dari Minato -ayah Naruto. Dia sebetulnya agak kaget juga saat tahu pria yang pernah dilihatnya di album pengikatan mate kakaknya adalah ayah Naruto yang artinya...

Sasuke lekas menatap Naruto yang nampak kikuk saat ibunya menyodorkan banyak makanan kepadanya.

'apakah dia sebenarnya sudah mengetahui tentang tradisi itu?'

.

.

.

.

.

Sasori berulang kali melihat ponsel miliknya. Memastikan apakah ada pesan singkat yang masuk ke dalam nomernya.

"Kenapa tidak dibalas?"

Deidara melongok dari balik pintu loker ruang ganti keryawan Akatsuki Cafe dengan alis bertaut karena heran. Tak seperti biasanya pemuda dengan surai merah itu terlihat misuh-misuh sendiri seperti itu.

"Kenapa? Ada masalah?" tanyanya saat koki itu terlihat memasukam ponselnya ke dalam tas dengan terburu-buru.

Sasori menghela napas. Dia menyenderkan badannya di loker sambil menerawang.

"Sudah empat hari ini Naruto sama sekali tidak membalas e-mail dariku. Dia juga tidak berangkat hari ini padahal cutinya hanya tiga hari."

"Mungkin dia sedang sibuk. Kau tahu, dia seorang ketua OSIS." jawab Deidara sekenanya. Pria dengan surai pirang cerahnya itu mulai membereskan perlengkapannya.

"Yah, mengabaikan orang selama hampir seminggu itu aneh namanya. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku dengan anak satu itu." ujarnya diselingi dengusan di akhir kalimatnya.

Deidara terdiam. Netra birunya memandang Sasori yang sibuk mondar-mandir tidak jelas sembali menggigiti kuku jempolnya. Nampaknya dia tidak berbohong dengan ucapannya.

"Ano ne, Sasori..."

Dengan wajah gusarnya, Sasori menoleh.

"Huh? Apa? Kau ingin mengajakku karaoke seperti kemarin? Tapi maaf saja hari ini aku tidak ada waktu untuk itu." sahutnya sembari mengangkat kedua tangannya.

"Apa kau menyukai, Naru-chan?"

"Ya... itu sudah jelas ka- eh, APAA?!"

Melihat respon berlebihan rekannya, Deidara hanya merotasi bola matanya.

"Aku kan hanya bertanya, kenapa rekasimu begitu?!"

Sasori gelagapan sendiri. Apakah ekspresinya terbaca dengan jelas? Atau jangan-jangan ada seseorang yang menulis di jidatnya jika dia menyukai Naruto.

"I-itu..." jeda cukup panjang hingga membuat Deidara mendengus jengah dan langsung melenggang pergi menghiraukan sosok Sasori yang mengejarnya sembari berteriak bahwa dia hanya menganggap Naruto seperti adiknya sendiri.

.

.

.

.

.

TBC

Yuhuu...author kembali! Tak terasa saya sudah menelantarkan fic ini dan fic yang lain terlalu lama. Hounto ni gomenasai... T_T

Btw, ada yang nanya ini fic judulnya artinya apa sih? Haha, kurasa (bagi yang mengikuti) dari ceritanya sudah kelihatan ya? Tapi... Biarlah author yang murah hati ini memberikan pencerahan kepada kalian yang masih bingung ini... *digamparmassa*.

Kawaii no Okama itu artinya Banci yang manis. Awalnya saya ingin menjadikannya dalam setting Omegaverse tapi berhubung nggak ada pengetahuan secuil pun tentang omegaverse itu, jadi author jadikan ini semacam tradisi aneh dari klan Uchiha. Aneh ya? *emang*

Sekali lagi maaf untuk keterlambatannya. Saya usahakan untuk chapter selanjutnya akan saya publish dengan segera tergantung *sitkon* tentunya. Hehe...

Ditambah author yg sedang cidera tangan kanan ini akibat nyungsep di semak-semak gara-gara jatoh dari motor membuat author Hiatus untuk beberapa fic tertentu. Tapi membaca review dari reader semua membuat author bersemangat untuk melanjutkannya. Saya rasa cukup sekian curcol kali ini, semoga chapter ini bisa menghibur kalian. Terakhir...

SPECIAL THANK'S FOR :

Semua reviewer yang nggak bisa kusebutin semuanya *hugs* , reader and silent reader, yang berbaik hati memfavorite dan memfollow fic gaje ini, arigatou gozaimasu minna~