*Unedited. Beware of typos!

.

.

.

#2. Rindu yang terlupa

Tokyo, Jepang.

27 November 20xx, 07.00 AM.

Hampir lima belas menit berlalu, tapi ia masih saja terpaku menatap layar laptopnya. Niatnya untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya di hari libur ini sirna sudah hanya karena sebuah email dari seseorang yang telah coba ia lupakan. Mata besarnya menelusuri setiap baris kalimat dalam email itu. Kalimat demi kalimat itu seakan menyeretnya jauh, pada pecahan-pecahan waktu yang ia biarkan terkunci di dalam kotak pandora miliknya. Pagi ini ia membuka kembali kotak itu dan menyusunnya satu-persatu. Pecahan-pecahan itu masih lengkap. Begitu juga dengan perasaan itu, yang diam-diam masih terjaga, tertidur dalam selimut waktu.

Ia, Park Chanyeol, menoleh memandang keluar jendela ruang kerjanya. Hujan baru saja mereda ketika semburat pelangi muncul di angkasa. Termenung menatap lukisan langit itu, ia mengucapkan sebuah nama dengan rindu,

"Baekhyunie..."

Byun Baekhyun. Nama itu pernah memiliki arti bagi Chanyeol. Seorang pecinta hujan dan kesendirian. Setiap hujan tiba pemuda manis akan duduk dengan tenang di dekat jendela, memandang butiran-butirannya. Lalu setelah reda, Baekhyun akan pindah ke atap untuk memandang langit, menunggu pelangi atau hanya sekedar mengaggumi kabut yang menyelimuti kota kecil mereka. Ya, ia masih hafal dengan kebiasaan itu.

Tiba-tiba saja Chanyeol merindukan semua hal itu. Semua hal yang ia lakukan bersama Baekhyun. Hujan-hujanan, menghitung bintang, menulis puisi, mendengarkan musik bersama. Semua hal itu rasanya menjadi begitu berarti pagi ini. Ia merindukan tawa dan senyum pemuda manis itu. Rindu, kata itu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Chanyeol masih memandang langit, menyadari bahwa ia masih mencintai orang itu meski musim terus berganti. Rasa takut merayap dalam pikirannya. Baekhyun telah memberinya semua cinta, dan yang ia berikan pada pemuda manis itu adalah ucapan selamat tinggal. Karena egonya yang menginginkan kesuksesan saat itu, ia memutuskan untuk meninggalkan sang terkasih ke kota lain. Saat kesuksesan telah ia raih, ia pun pindah ke Jepang dan menjalani takdir baru yang ditinggalkan oleh mendiang ayahnya, takdir yang begitu disayangi oleh ibunya yang mulai merapuh. Ia menarik napasnya dengan berat, mencoba melonggarkan sedikit rasa sesak yang seketika menyekap dadanya.

Jika saja ia bisa memutar waktu dan mengubahnya, menelan kesombongannya dan berdiri meminta maaf pada Baekhyun. Jika saja...

"Yeollie!"

Chanyeol terkejut dan segera menutup layar laptopnya saat sebuah suara halus memanggil namanya. Ia menoleh, melihat Kyungsoo berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Pemuda berwajah imut itu berjalan perlahan mendekati Chanyeol dengan membawa sebuah chocolate cake di tangannya. Api kecil membakar sumbu beberapa batang lilin yang menancap di atas chocolate cake itu. Dan sebuah lagu ulangtahun mengalun merdu dari mulutnya.

Chanyeol berdiri dari kursinya dan mengerjap, menatap kejutan kecil yang dibawa oleh Kyungsoo. Lalu mata cokelatnya beralih menatap perut Kyungsoo yang kian hari kian membesar itu, membuat sang pemuda imut harus berjalan perlahan dan hati-hati.

"Happy b'day my hubby, Chanyeol!" Kyungsoo berseru senang saat ia telah berdiri di depan Chanyeol dan menyodorkan kue di tangannya.

Tanpa menunggu lama Chanyeol segera meniup lilin-lilin itu hingga padam dan tersenyum. Lalu, ia mengambil kue dari tangan Kyungsoo, meletakkannya di atas meja kerjanya, dan merengkuh tubuh mungil Kyungsoo dalam pelukannya sejenak. Kyungsoo memberikan isyarat untuk Chanyeol menundukan wajahnya. Saat Chanyeol melakukannya, pemuda imut itu memberikan ciuman-ciuman lembut pada setiap wajahnya dan berakhir di bibirnya.

"Maaf aku tidak sempat membelikan hadiah untukmu, Sayang. Hanya kue sederhana dan ciuman yang bisa kuberikan padamu tahun ini," kata Kyungsoo dengan sedikit menyesal.

"Tidak masalah. Ada kau dan calon anak kita bersamaku, itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih, Kyungsooku, Sayang," ujar Chanyeol, mengusap perut besar Kyungsoo dan tersenyum senang. "Bagaimana kabar suamiku pagi ini? Apakah baby nakal lagi?"

Kyungsoo tersenyum lebar dan menyentuh tangan Chanyeol yang berada di atas perut besarnya. "Baby terus menendang perutku. Sepertinya dia sedang senang, karena ini adalah hari ulang tahun Appa-nya," sahutnya.

Chanyeol terkekeh mendengarnya. "Masih dua bulan lagi ya, hingga dia lahir nanti. Rasanya tidak sabar," ucapnya. Lalu ia berjongkok di depan perut besar sang suami dan mengusapnya dengan lembut. "Tumbuh dengan baik di dalam dan bersabarlah sedikit lagi, baby. Jangan menendang perut Eomma-mu terus. Kasihan dia kesakitan. Kami menunggumu."

Kyungsoo hanya tersenyum saat Chanyeol mengecup perut besarnya. "Apa kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" tanyanya kemudian.

"Ah," Pertanyaan itu mengingatkan Chanyeol kembali pada laporan email-email pekerjaannya, dan juga email tak terduga dari Baekhyun. Ia berdiri seraya menjawab, "Belum. Masih ada beberapa email laporan yang belum kubalas."

"Aku akan menyiapkan sarapan. Kuharap aku akan melihatmu di meja makan nanti, okay?"

"Tentu, Sayang. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Hanya sepuluh menit, tidak akan lebih."

Chanyeol mencium bibir Kyungso sejenak, sebelum kemudian pemuda imut itu beranjak pergi dengan langkah perlahan sambil membawa kembali choholate cake—untuk di nikmati seusai sarapan nanti, katanya. Ia hanya tersenyum memandangnya, hingga sosok Kyungsoo menghilang dibalik pintu. Lalu ia kembali duduk dibalik meja kerjanya dan membuka layar laptopnya. Email dari Baekhyun yang masih terpampang di layar itu membuat senyum Chanyeol perlahan memudar.

Menghela napas dengan berat, ia menoleh ke jendela. Kembali memandang langit pagi yang cerah dengan perasaan yang tiba-tiba berubah sesak. Ia merindukan Baekhyun, itu jelas. Masih ada cinta yang diam-diam terjaga untuk si pemuda manis, itu benar. Tetapi meski rasanya ia ingin sekali kembali ke Korea Selatan untuk bertemu dengan Baekhyun, berlutut di depannya dan memulai cerita yang baru dengannya...ia tidak bisa.

Kini ada Kyungsoo dan calon anak mereka dalam hidup Chanyeol. Meski mereka menikah karena perjodohan—amanat terakhir dan keinginan terbesar sebelum sang ayah menyerah dengan penyakitnya—ia tidak bisa menelantarkan keluarga barunya. Ia cukup mencintai Kyungsoo, meski perasaan cintanya tidak sebesar cinta untuk Baekhyun. Terlebih, Kyungsoo adalah menantu kesayangan ibunya. Ia tidak bisa membuat wanita yang paling ia sayang di dunia merasa kecewa padanya.

Ia mengetikkan sesuatu di laptopnya sejenak, sebelum kemudian mematikannya dan berdiri. Namun ia kembali memandang keluar jendela, pada langit yang cerah. Tangannya terulur, membuka jendela dan membiarkan udara pagi yang sejuk memasuki ruangan kerjanya. Semilir angin bertiup, membuat tirai-tirai jendela menari. Ia masih memandang langit selama beberapa lama, hingga suara Kyungsoo terdengar memanggilnya dari luar ruangan, menandakan ia harus memulai aktivitasnya hari ini. Dimulai dengan sarapan bersama sang suami.

Senyum kecil kembali menghiasi sudut bibirnya. Dalam diam, ia menitipkan pesan pada langit biru dan semilir angin, untuknya yang jauh di sana. Untuknya yang selalu menjadikan dirinya sebagai tokoh utama dalam setiap ceritanya pada hujan.

.

.

.

Wahai langit biru dan angin yang bertiup, maukah kalian sambungkan telepati kami?

Perdengarkan suaranya padaku, meski hanya sekedar bisikan.

I miss him too...

~Fin~